Senin, 31 Desember 2012

Article#125 - Mengamati Putaran Roda Waktu

Angin malam yang tak dingin seperti yang biasa dikenal, menyapa di permulaan malam yang nampak akan berlangsung panjang ini. Malam yang terasa sejuk, bukan dingin sebagaimana malam-malam yang saya lalui sebelumnya. Dan sejuknya malam seolah menggiring lembaran-lembaran arsip ingatan yang telah sekian lama terpatri dalam kepala, untuk kembali membayangi seisi kepala.
Sementara mereka yang di dunia nyata dan dunia maya bersama-sama membicarakan datangnya kalender baru, saya masih duduk dengan santainya disini, di tengah malam yang menderu.
Sementara mereka entah dimana di berbagai tempat menyiapkan perayaan, saya justru terbuai dalam perenungan.
Sementara mereka ramai membuat resolusi, saya disini bahkan belum bisa mewujudkan sebuah solusi.
Sementara mereka berpesta pora semalaman, saya hanya mengenang cerita dan pengalaman.
Tidak, tentu saja saya tak menyesal, kawan. Mana mungkin menyesal, hanya untuk semua ini, semua ilusi ini?

Tahun lalu saya berkoar dengan gaya yang lebih tajam dan keras daripada yang saya hadirkan disini. Mereka di luar sana di seluruh dunia, berpesta pora, membakar uang-uang yang jika dihitung, bahkan mungkin bsa dibelikan es cendol untuk orang se-Indonesia. Mungkin memang erat kaitannya dengan anggapan bahwa manusia rela membayar mahal demi kesenangan.

Namun apakah kesenangan itu adalah kesenangan yang tepat untuk dijadikan pesta pora?
Apakah mereka memang sudah cukup membuat berbagai pencapaian bagi diri mereka selama setahun ke belakang, sehingga mereka merasa layak mengganjar diri mereka dengan itu semua?
Atau justru mereka merayakannya karena mereka bangga bisa mendapat alasan untuk sebuah kalender selanjutnya?
Meskipun pesta tahun baruan diturunkan dari budaya Barat, tetap saja budaya yang abstrak itu menjalar kemana-mana, termasuk di bumi pertiwi yang bertaburan di khatulistiwa.

Tetapi saya memutuskan, saya lebih suka merenung di tengah gelapnya malam hari.
Tentang bagaimana sebuah periode yang cukup lama, setahun, terasa berlalu dengat cepat.
Anehnya, waktu yang terasa singkat itu menyimpan memori yang luar biasa banyak. Meskipun sebenarnya tak begitu aneh, tetap tersirat senyuman ketika membayangkannya.

Setahun lalu, di dalam rumah yang nyaman, saya tak pernah banyak terpikir mengenai apa saja yang akan terbentang selama setahun yang akan segera berlalu ini. Yang saya tahu hanyalah persiapan untuk kembali memasuki dunia sekolah esok harinya. Dan saya kini disini, di pinggir jalanan kota, sementara ini hanya menerawang, apa saja yang akan saya lalui setahun ke depan.
Berbeda dengan tahun lalu, kali ini, saya hanya ingin mengatakan supaya kita semua senantiasa memperbaiki diri dan terus belajar untuk menjadi diri yang lebih baik. Semoga kelak kita bisa mengubah tradisi penuh kesia-siaan yang biasa disemarakkan pada setiap momen semacam ini, menjadi sebuah peringatan yang berisi makna. Toh ini hanya hasil dari sistem penanggalan buatan manusia kan? Tak perlu diagung-agungkan.
Mari berjuang bersama, demi kebaikan bersama!

35°43'15.19"N, 139°48'05.94"E, 31 Desember 2012, 22.34 (UT+9). Di latar belakang bisa terlihat Tokyo Skytree berpendar dengan cahaya biru.

Hari 6475, ditemani sunyinya udara metropolitan malam.
Senin, 31 Desember 2012, 23:37 (UT+9)
35°43'18.51"N, 139°48'05.43"E
Lanjutkan baca »

Article#124 - Kutipan Hari Ini

"Keharmonisan tak akan tercapai jika masing-masing pihak hanya mengurusi haknya. Dengan membuat tiap pihak mengurusi kewajibannya lah, setiap pihak akan menerima haknya, dan harmoni akan terjaga."
 ~dikutip dari Annie Werr, pada 25 Desember 2012, 20:17 (UT+9)


Lanjutkan baca »

Selasa, 25 Desember 2012

Article#123 - Sekeping Kecil Yang Terpinggirkan

Kau lihat dia, mengambang di angkasa
Seolah mengajak tanganmu untuk meraihnya
Dengan anggunnya mengapung bahagia
Menuju haribaan dunia fana
Kepada jiwa-jiwa di bawah sana
Yang merangkaikan sejuta harapan
Apakah keping itu pernah tersadar?
Bagaimana ia nanti akan dimanfaatkan?
Apakah ia akan menjadi keping yang memunculkan bahagia,
Atau hanya memunculkan sengsara?
Apakah keping itu pernah memperhatikan dunia?
Tempat kemana ia dijatuhkan
Dengan berjuta drama dan balada penghias
Yang kadang diliputi jiwa yang ganas
Dan diorama yang bertutur balas
Seolah berseru, "Jangan pernah datang!"

Jika keping itu tahu kemana ia berkelana
Masihkah ia menanti dengan keingintahuan?
Masihkah ia bergumul dalam harapan?
Atau justru akan membuka tabir kegelapan
Dan menggantinya dengan keceriaan?

Dan kau lihat dia, keping yang terhempas
Yang dimana-mana layaknya debu dan ampas
Dari pucuk tajam bebatuan dan cadas
Yang tajam menusuk layaknya pecahan gelas
Hingga rerumputan yang meski tak keras,
Tetapi darinya ia tak bisa bebas
Banyak juga diantara mereka yang sampai di puncak teratas
Dan menyambut keping dengan antusias
Dan berseru, "Jadilah yang teratas!"
Tetapi lebih banyak lagi yang terserak terbias
Dan bahkan tak sempat menjadi penghias
Yang tersisihkan oleh mereka yang ganas
Yang menghilang tanpa pernah jelas
Yang hanya bisa mengharapkan keping yang sedang lemas
Yang masih melayang indah diatas
Jadilah keping yang kuat nan tegas,
Yang tak pernah bisa dilumpuhkan atau ditebas
Supaya keberadaan kami semua yang tertindas
Bisa terbayarkan dengan sempurna, lunas

And when you feel the world never gives the light, 
Say to yourself and proclaim, To live what is right, And not to leave them behind
Always be ready to face all battles of this life

And soon there will be light of the bright blue sky,
Which everyone were waiting, so live with your might, be cheerful of yourself
Never let that warm smile go

Get up and strive, for all the stories of the nice life that has waiting you forth
Never give up, the life will never wait, and don't you ever let it go



Hari 6469, di tengah alunan melodia dan kecamuk cuaca.
Rabu, 26 Desember 2012, 01:32 (UT+9)
38°16'40.69"N, 140°51'05.98"E
Lanjutkan baca »

Jumat, 21 Desember 2012

Article#122 - Kutipan Hari Ini

"Kalau mau diri berkembang, jangan diam di tempat, bergeraklah."
~dikutip dari Sam Werr, pada Selasa, 18 Desember 2012, 14.32 (UT+9)

Lanjutkan baca »

Sabtu, 15 Desember 2012

Article#121 - Indonesia dan Cerita Di Balik Layar: Sebuah Tulisan

Seiring berlalunya hingar-bingar konyol mengenai tanggal yang katanya 'cantik' dan (seperti tanggal lainnya) hanya terjadi sekali seumur hidup (sebagaimana saya pasang di tulisan sebelumnya), saya menemukan sebuah artikel dari pengurus akun Facebook milik Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang (PPI Jepang), tentang hari HAM internasional, yang dilangsungkan pada 10 Desember 2012.

Tambahan: antara malam 14 Desember 2012 dan siang 15 Desember 2012 bertepatan dengan 1 Shafar 1434 dalam penanggalan Hijriyah, yang dipersingkat menjadi 1/2/34. Silakan lihat sumber.

Dari Agama Hingga Sepakbola: Refleksi Hari HAM Sedunia

Sebagian dari kita mungkin sudah pernah menjelajah Indonesia, tapi saya yakin lebih banyak lagi yang belum pernah. Saya saja seumur hidup baru 3 kali pergi keluar pulau Jawa dan ke Jepang merupakan keempat kalinya saya keluar pulau Jawa. Entah kenapa, hari HAM se-dunia yang jatuh pada hari ini ingin sekali mengajak teman-teman untuk mengelilingi Indonesia.
Eits, nanti dulu kelilingnya bukan untuk melihat keindahan bukan pula untuk melihat keramahan, namun untuk melihat keprihatinan yang terjadi akibat pembiaran/pelanggaran HAM di negeri yang katanya bermoral ini. Kadang kita harus lihat yang seperti itu, bukan??
Kalau siap, mari ikut bersama saya!

Mari kita terbang ke ujung timur Indonesia, Propinsi Papua. Di tanah Papua yang elok ini, darah tidak berhenti mengalir. Saling bunuh antara aparat dengan kaum (katanya) pemberontak sudah membuat tanah-tanah di Papua berangsur memerah.
Belum lagi ancaman kelaparan di daerah terpencil, ingat kelaparan di Yahukimo? Atau perang suku yang seringkali terjadi dan seringkali menewaskan masyarakat. Ironi muncul ketika Papua, yang dahulu di zaman Soekarno begitu gencar propagandanya untuk bergabung dengan RI, kini menjadi sebuah ironi. Dengan tanah yang amat kaya dengan logam mulia, daerah yang baru bergabung dengan RI tahun 1961 ini kini menjadi salah satu daerah yang tertinggal secara infrastruktur di Indonesia. Kemana logam mulia itu pergi? Dibawa pergi ke Amerika sana. Lalu rakyat papua dapat apa? Hanya keributan dan gaji kecil.

Kejadian itu membuat saya seringkali bertanya dimana negara? Dimana realisasi isi pasal 33 ayat 3 dari UUD 1945? Sekali waktu pikiran semacam “Wajar Papua minta merdeka lah, jika negara membiarkan kejadian tersebut berlarut-larut” hadir di pikiran saya.
Yah kalaupun Papua merdeka, maka kita cuma bisa mengelus dada dan menyesal, “Seandainya dulu kami lebih menghargai mereka!”

(Permasalahan ini bukan hanya ada di Papua, tetapi juga sesekali merebak di daerah lain, terutama Kalimantan. Wikipedia bahasa Inggris bahkan telah memiliki laman berjudul 'Kalimantan Borneo', yang merujuk kepada 'persamaan nasib' antara Kalimantan Indonesia dan Kalimantan Malaysia sebagai daerah dengan pembangunan tertinggal.)

Kita lanjut lagi terbang ke Madura, kali ini mereka yang beragama yang melakukan perampasan terhadap hak hidup manusia dan sekali lagi negara abai terhadap ini semua. Kelompok agama sekte tertentu diserang oleh kelompok mayoritas, dan mengakibatkan enam orang tewas menurut catatan pers. Saya cukup tahu lah, permasalahan agama ini sensitif, tapi apakah harus membunuh jika ada yang berbeda dengan kita? Apakah kita dalam kondisi berperang sehingga bunuh membunuh menjadi wajar?
Saya harus mengatakan: Negara abai dalam kasus ini.

Saat terbang ke arah barat, pesawat saya tiba-tiba harus transit ke Solo. Di kota yang damai ini lagi saya mendengar berita tidak mengenakkan: Seorang pesepakbola tewas karena tidak mampu berobat akibat gajinya tidak dibayar. Duh! Apalagi ini? Ini pesepakbola loh! Sekali lagi PESEPAKBOLA yang katanya hidup berkecukupan. Nyatanya rumah sakit, yang di Jepang ini menjadi penolong ketika sakit, di Indonesia menjadi pembunuh paling kejam bahkan lebih kejam dari urband legend macem Jason X atau bahkan tukang jagal macam Rian.
Sekali lagi: Negara dan PSSI menganggap kejadian itu sebagai business as usual.

Lewat Banten, meskipun cuma lewat doang tapi lumayan saya melihat rumah-rumah terbakar akibat kejadian penyerbuan ke Cikeusik. Masih inget dalam pikiran saya ketika video di youtube menayangkan massa dengan beringas membunuh tiga orang yang (katanya) berafiliasi dengan kaum minoritas dengan sangat keji (bahkan saking kejinya saya tidak mau mendeskripsikannya).
Terus sekarang kasus ini kelanjutannya gimana ya?

Perjalanan saya harus berakhir di Lampung Selatan, saat saya bertemu dua kampong yang bertikai tanpa ampun menghajar satu dengan yang lain. Ratusan orang memegang golok, sebagian menenteng bambu runcing dan beberapa siap dengan batu dan bensin. Ratusan orang mengungsi kehilangan tempat tinggal. Belasan orang tewas beberapa diantara mereka yang tewas memiliki anak dan istri yang entah akan hidup seperti apa kelak.

Dan presiden masih saja menjaga rambut dan gaya berdirinya agar tidak berantakan.
Saya kadang menertawakan diri saya dan juga Indonesia. Kok negara saya kok masih seperti ini ya?! Ratusan orang bunuh-bunuhan dan mereka (masyarakat) masih menganggap hal tersebut biasa. Ratusan kasus dilaporkan namun tidak ada kejelasan?! Kadang saya ngejek: katanya mau jadi negara maju di 2030 tapi mentalnya tidak mendukung sama sekali. Sama sekali.

Saya tidak membayangkan kejadian tersebut terjadi lagi, tidak juga negara kita menjadi negara tanpa pelanggaran HAM, karena hal itu tidak mungkin. Tapi yang saya bayangkan, sekaligus saya prihatinkan, adalah sikap kita sebagai masyarakat dan negara ini yang menganggap remeh semua kejadian itu. Wajar ada skeptisisme di dalam masyarakat kita: “Ini kok negara lain yang lagi menderita cepet banget ngebantunya, giliran kemarin tragedi Lampung atau Madura boro-boro dibantu, dibaca aja kagak!”

Eits, saya bukan bermaksud “Jangan membantu yang jauh” tapi hendaknya kita prihatin juga dengan kasus-kasus di dalam negeri. Jangan sampai kita hanya melihat headline tanpa “membacanya”. Jangan sampai Papua lepas hanya karena merasa sendirian atau jangan sampai ada orang beranggapan “Indonesia sudah tidak aman bagi kami!”
Kalau sudah ada yang seperti itu, maka pemimpin kita sudah berdosa dan mungkin kita juga berdosa.

Saya berikan ilustrasi: kemarin bek MU, Rio Ferdinand dilempar koin oleh fans tim Manc. City sehingga mengakibatkan pelipisnya berdarah. Reaksi masyarakat? Ramai-ramai mengutuk kejadian tersebut, bahkan dengan cepat proses hukum dan sangsi administratif menghukum tim Manchester City. Saya yakin, kalau sampai ke telinga ratu Inggris, fans yang bersangkutan bakal dihukum tidak boleh masuk stadion seumur hidup. Itu di Inggris. Sekali lagi di Inggris, dimana mereka tidak mengaku negara pancasila nor agamis.

Saya berharap di hari HAM ini, kita semua betul-betul meresapi arti seorang manusia, sebagai seorang ayah, ibu, suami, istri, anak ataupun kerabat dari orang-orang di sekeliling mereka. Jangan-jangan pemerintah kita abai karena refleksi dari masyarakatnya yang abai. Masyarakat yang sensitive ketika tren di sosial media meningkat, atau dengan kata lain masyarakat yang hanya ikut-ikutan tren tanpa tahu esensi hari HAM ini. Saya berharap kita semua bahu-membahu dan belajar nilai sebuah HAM dari masyarakat di tempat kita tinggal sekarang ini. Masyarakat atheis yang pemerintahnya masih bisa memanusiakan manusia.
Selamat hari HAM bagi yang merayakan.
Salam
Tim Kastrat PPI Jepang

disadur dari catatan laman Facebook PPI Jepang pada Selasa, 11 Desember 2012, 20:19, dengan beberapa perubahan. Untuk tautan tambahan, mungkin perlu membaca link berikut: (1) (2) (3).
Mohon ketiga tautan tersebut ditanggapi dengan bijak, bagi kebaikan Indonesia bersama.
Lanjutkan baca »

Rabu, 12 Desember 2012

Article#120 - 12, dan kini pun jadi duabelas

Tulisan kali ini terinspirasi dari merebaknya virus 12-12-12 yang menunjukkan tanggal saat tulisan ini dipublikasikan (dan sedikit banyak pula melanjutkan postingan tahun lalu tentang fenomena yang mirip). Banyak orang bilang tanggal-tanggal 'langka' semacam ini adalah tanggal keberuntungan atau apalah, saya tidak ingat. Yang pasti, sudah cukup banyak kejadian yang terjadi pada tanggal ini, dan tidak semuanya menyenangkan, tentunya. Tidak akan dibahas disini, hal-hal semacam 'Saya nembak si dia :))', karena bukan itulah esensi dari dihadirkannya tulisan ini. Meskipun, saya cukup yakin, banyak yang melakukan hal sejenis itu. Berikut fakta (menurut sumber sejarah) mengenai tanggal 12 Desember:
  • Sejak 12 Desember, terdapat 19 hari menuju tahun berikutnya.
  • Pada 12 Desember 1098, di episode pertama Perang Salib (The Crusade), terjadi pembantaian di kota  Ma'arrat al Nu'man (35°38′N 36°40′E), dimana pasukan Salib membantai ribuan penduduk kota, dan melakukan kanibalisme akibat kekurangan makanan.
  • 12 Desember 1897 menjadi tanggal didirikannya kota Belo Horizonte, Brazil. Pada tanggal ini juga, tahun 1911, India meresmikan kota Delhi sebagai ibukotanya, menggantikan Kalkutta.
  • Tanggal 12 Desember 1915 adalah dimana Presiden China yang ssedang berkuasa, Yuan Shikai (袁世凱) mengutarakan niatnya untuk mengembalikan status monarki China, yang diresmikan 10 hari kemudian, dan luluh setelah 3 bulan bertahan.
  • 12 Desember 1941 menjadi tanggal dimana Adolf Hitler bertemu dengan petinggi Nazi dan membicarakan Holocaust dalam pertemuan Reich Chancellery. Pertemuan ini disebut sebagai langkah realisasi Holocaust oleh Nazi.
  • SEA Games pertama tahun 1957 (waktu itu bernama Southeast Asian Peninsular Games) digelar pada 12 Desember di Bangkok, Thailand.
  • Kenya merdeka pada tanggal ini, tahun 1963, dari Kerajaan Inggris. Pada tahun 1979, negara Rhodesia Selatan, bekas jajahan Inggris kembali dalam kekuasaan Inggris hingga merdeka sebagai Zimbabwe, 4 bulan kemudian.
  • Pada tanggal itu pula tahun 1979, terjadi gempa berkekuatan 8,2 SR di dekat Tumaco, Kolombia, yang memicu tsunami yang pada akhirnya menewaskan hingga 600 orang.
  • Tanggal ini juga merupakan tanggal lahir Frank Sinatra (1915-1998), penyanyi sekaligus aktor AS, serta Daniel Agger (1984-..), pesepakbola Denmark.
  • Pada 12 Desember 1988, terjadi tabrakan antar kereta di Clapham, London. Tabrakan tersebut menewaskan 35 orang dan mencederai hingga 500 orang, dan dikenang sebagai salah satu tragedi kereta terburuk di Inggris.
  • Pelawak Indonesia, Basuki, wafat pada 12 Desember 2007.
  • Pada 12 Desember 1992, terjadi gempa berkekuatan 7,8 SR di dekat pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, yang memicu tsunami hingga setinggi 36 meter dan menewaskan hingga 2.100 orang.
Apa yang membuat saya selalu bingung adalah kenyataan bahwa selalu saja orang mengatakan anggal ini istimewa, cantik, dan terjadi sekali seumur hidup. Seperti yang dikatakan salah satu nama yang muncul di berada akun Twitter saya, tanggal lain juga hanya terjadi sekali. Dan yang mau jadian lah, menikah lah, jangan jadikan kepercayaan akan 'nilai keramat' tanggal tersebut sebagai dasar penentuan tanggal. Walaupun memang percuma sih, kalau bicara di harinya. Tapi kasihan para jomblo tuh. Kenapa harus ribut? Dan lagi, sistem tanggal ini sendiri kan disusun oleh manusia, maka amatlah mengherankan jika seorang mengharap keberuntungan yang bermula dari hasil 'rancangan' orang lain. Bagaimana menurut kalian?
(:g)
Lanjutkan baca »

Senin, 10 Desember 2012

Article#119 - Kutipan Hari Ini

The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong. — Orang lemah tak bisa memaafkan. Memberi maaf adalah ciri orang yang kuat.” 

~dikutip dari kata-kata Mohandas Karamchand 'Mahatma' Gandhi, pada Senin, 3 Desember 2012, 23.28 (UT+9)


Lanjutkan baca »

Minggu, 09 Desember 2012

Article#118 - Sebuah Keisengan: Sajak Cinta Secara Ilmiah

Wah, mungkin judulnya memang sedikit 'merana', tetapi percayalah, tidak ada hubungannya dengan kegalauan. Paling tidak, tak ada hubungannya dengan penulis.
Berikut ini hanya kumpulan sajak bertema cinta, kumpulan dari dunia maya. Dibaca saja.

Sajak Cinta Matematika
Tiga minggu yang lalu…
Untuk pertama kalinya kulihat kau berdiri tegak lurus lantai
Kulihat alismu yang berbentuk setengah lingkaran dengan diameter 4 cm
Saat itulah kurasakan sesuatu yang lain dari padamu
Kurasakan cinta yang rumit bagaikan invers matriks berordo 5×5

Satu minggu kemudian aku bertemu kau kembali…
Kurasakan cintaku bertambah,
bagaikan deret divergen yang mendekati tak hingga
Limit cintaku bagaikan limit tak hingga
Dan aku semakin yakin,
hukum cinta kita bagaikan
hukum kekekalan trigonometri sin^2+cos^2 = 1

Kurasakan dunia yang bagaikan kubus ini menjadi milik kita berdua
Dari titik sudut yang berseberangan,
kau dan aku bertemu di perpotongan diagonal ruang

Semakin hari kurasakan cintaku padamu
bagaikan grafik fungsi selalu naik yang tidak memiliki nilai ekstrim.
Hanya ada titik belok horizontal yang akan selalu naik
Kurasakan pula kasihku padamu
bagaikan grafik tangen (90° < x < 270°)

Namun aku bimbang…
Kau bagaikan asimtot yang sulit bahkan tidak mungkin kucapai
Aku bingung bagaikan memecahkan soal sistem persamaan linear
yang mempunyai seribu variabel dan hanya ada 100 persamaan
Bahkan ekspansi baris kolom maupun Gauss Jordan pun tak dapat memecahkannya


Sajak Cinta Fisika
Archimedes dan Newton tak akan mengerti Medan magnet
yang berinduksi di antara kita
Einstein dan Edison tak sanggup merumuskan E=mc^2
Ah tak sebanding dengan momen cintaku

Pertama kali bayangmu jatuh tepat di fokus hatiku
Nyata, tegak, diperbesar dengan kekuatan lensa
maksimum
Bagai tetes minyak milikan jatuh di ruang hampa
Cintaku lebih besar dari bilangan avogadro…

Walau jarak kita bagai matahari dan Pluto saat
aphelium
Amplitudo gelombang hatimu berinterfensi dengan hatiku
Seindah gerak harmonik sempurna tanpa gaya pemulih
Bagai sepasang gaya dengan kecepatan angular yang tak
terbatas

Energi mekanik cintaku tak terbendung oleh friksi
Energi potensial cintaku tak terpengaruh oleh tetapan
gaya
Energi kinetik cintaku = -mv~
Bahkan hukum kekekalan energi tak dapat menandingi
hukum kekekalan di antara kita

Lihat hukum cinta kita
Momen cintaku tegak lurus dengan momen cintamu
Menjadikan cinta kita sebagai titik ekuilibrium yang
sempurna
Dengan inersia tak terhingga
Takkan tergoyahkan impuls atau momentum gaya

Inilah resultan momentum cinta kita…


Sajak Cinta Gombalan Kimia
Kamu mau ngajarin aku nggak ?
Aku gak ketemu nih nyari entalpi.
Kenapa ya rumus entalpi gak bisa buat nyari perubahan cintaku ke kamu ? *kalo rumus entalpi buat ngrubah ipeka kamu, bisa gak? :P

Kamu tahu kan kalau ikatan hidrogen itu kuat banget ?
Bahkan lebih kuat dari ikatan Van der Waals.
Tapi kenapa ya para ahli kimia belum tahu kalau ikatan kita jauh lebih kuat?

Tidak ada bilangan kuantum yang bisa mengukur cintaku padamu.

Aku tak peduli berapa atom yang dibutuhkan atom C dan atom H untuk berpasangan membentuk senyawa
Yang aku tahu,cukup 1 atom Me dan 1 atom U untuk membentuk senyawa Us.

Aku juga tak peduli berapa banyak elektron bebas yang dibutuhkan untuk H berikatan dengan O
Yang kutahu hanya elektron cinta yang membuatku berikatan denganmu.

Kalau ikatan cinta kita itu kovalen,
maka gak ada kalkulator yang sanggup menghitung energi ikatan untuk memutuskan cinta kita,
kecuali atom cinta kita sendiri yang memutuskannya.

Tahu gak kenapa senyawa cinta kita gak bisa jadi ikatan ion ? baik (+) maupun (-)
Karena aku nggak ingin melepas elektron cintamu maupun menyerap elektron cinta atom lain.
Aku ingin menjadikan cinta kita sebagai ikatan kovalen,
Ingin kita berbagi elektron cinta, dan saling melengkapi.


Sajak Cinta Biologi (1)
Untuk dirimu yang ternyatakan dalam disurat ini
Pantas rasanya jika ku ibaratkan bagai plasma darah
Yang membasahi seluruh komponen tubuhku

Rasa ini terus berdenyut
Bersama jantung yang tak hentinya memompakan darah bersama hemogoblin cinta
Yang aliran darahnya menyeruak diseluruh tubuhku
Derasnya tak terbendung
Dan meluap disetiap bilik dan serambi

Untuk dirimu yang ternyatakan dalam disurat ini
Entah kode genitik apa yang tersimpan ditubuhku
Tapi saraf sensorikku merangsang indra penghilat untuk menatapmu

Menangkap bahasa tubuhmu
Membisikan ditelinga samudera bahwa aku menyukaimu
Membisikan ditelinga dunia bahwa aku mengagumimu
Membisikan ditelinga semesta bahwa aku membentangkan cinta untukmu


Sajak Cinta Biologi (2)
Kebersahajaanmu menetralkan setiap racun ditubuhku
Memusnakan sel kanker di otakku
Ketika sinar dirimu tertangkap jelas oleh retinaku
Tak mapu aku ingkari bahwa indah kepribadianmu mengacak susunan DNAku

Memperbaharui rangkaian kromosomku
Sulit bagiku untuk mendiagnosa fenomena yang menggelegar dihati
Dahsyatnya tak terungkap
Teori Darwin dan Mendel pun tak mampu menjabarkannya

Untuk dirimu yang ternyatakan dalam disurat ini
Aku mencintaimu dengan kokoh
Sekokoh akar menopang pepohonan
Aku mencintaimu dengan peka
Sepeka saraf menerima rangsang
Aku mencintaimu dengan pasti
Sepasti detak jantung yang mengisyaratkan usiaku

Inilah oksidasi cintaku untukmu
Semoga bisa ku hirup kembali oksigen kebahagian untuk saat ini, esok dan selanjutnya
Bersamamu…….


Sajak Cinta Programmer
Entah darimana harus ku mulai, yang jelas kau harus tau, inilah source code sesungguhnya dari program hatiku saat ini.
Sebuah program yang telah terinfeksi virus baru dari sebuah software ayu.

Serat-serat optik jiwaku telah membaca satu alur algoritma indah dalam hidup. Sebuah pancaran gelombang I/O dari dirimu telah meng-hack setiap track disk kepalaku...
Menginfeksi setiap folder dan file yang ada diotakku... Merubah dan mengunci setting bios diriku...
Dan menampilkan satu screen saver terindah dalam hidupku. Dan kau harus tau, screen saver itu ternyata adalah dirimu...

Kabel-kabel data sukmaku terus mengalirkan gelombang itu, gelombang yang setiap hari kian menguat... Yang aku sendiri tak tau gelombang apa itu... Yang aku tahu, gelombang itu memang terpancar dari dirimu... Dan kini telah terbentuk satu alur data yang jelas berbeda...

Aku masih bingung apa artinya ini semua, entah hacker seperti apa dirimu yang telah berhasil menembus sistem pertahanan operating system diriku dengan sedemikian
mudahnya...
Atau hanya aku saja yang terlalu bodoh?

Entah kau sadar atau tidak, kau yang telah menciptakan software baru itu! Aku tahu itu!
Dan akupun tahu, aku takkan pernah dapat membuktikan semua itu, tapi aku dapat membuktikan jika aku memang telah benar-benar terinfeksi oleh software itu!
Terus terang aku tersiksa! Setiap hyperlink yang aku klik, semuanya tertuju padamu, setiap tombol yang aku tekan, selalu memunculkan namamu, setiap executable yang aku eksekusi hanya membuat setiap side memoryku terpenuhi oleh byte-byte gelombangmu!
Tak mampu aku menembus password yang kau buat...
Ah, mungkin ini hanya akan menjadi satu bahan tertawaanmu bersama kawan-kawanmu, lalu tak lama memenuhi recycle bin-mu.
Namun, aku harap, kau mau mengerti ini semua, dan bersedia memberikan password itu untukku...
Karena aku tahu, tak mungkin aku dapat mencuri password itu, kecuali kau sendiri yang mau memberikannya untukku...
Ya, hanya untukku...

Sajak Cinta versi resmi (kata sumber ini anak IPS punya, tapi tidak juga ah)
Hal : Penawaran Kesepakatan

Saya sangat gembira memberitahukan Anda bahwa saya telah jatuh cinta kepada Anda terhitung tanggal 4 Desember 2012.
Berdasarkan rapat keluarga kami kemarin pukul 19.00 WIB, saya berketetapan hati untuk
menawarkan diri sebagai kekasih Anda yang prospektif.
Hubungan cinta kita akan menjalin masa percobaan minimal 3 bulan sebelum memasuki tahap permanen.
Tentu saja, setelah masa percobaan usai, akan diadakan terlebih dahulu on the job training secara intensif
dan berkelanjutan. Dan kemudian, setiap tiga bulan selanjutnya akan diadakan juga evaluasi performa kerja
yang bisa menuju pada pemberian kenaikan status dari kekasih menjadi pasangan hidup.
Biaya yang dikeluarkan untuk kerumah makan dan belanja akan dibagi 2 sama rata antara kedua belah
pihak. Selanjutnya didasarkan pada performa dan kinerja Anda, tidak tertutup kemungkinan bahwa saya
akan menanggung bagian yang lebih besar pengeluaran total.
Akan tetapi, saya cukup bijaksana dan mampu menilai, jumlah dan bentuk pengeluaran yang Anda keluarkan
nantinya.
Saya dengan segala kerendahan hati meminta Anda untuk menjawab penawaran ini dalam waktu 30 hari
terhitung tanggal penerimaan surat . Lewat dari tanggal tersebut, penawaran ini akan dibatalkan tanpa
pemberitahuan lebih lanjut, dan tentu saja saya akan beralih dan mempertimbangkan kandidat lain.
Saya akan sangat berterima kasih apabila Anda berkenan untuk meneruskan surat ini kepada adik
perempuan, sepupu bahkan teman dekat anda, apabila Anda menolak penawaran ini.

Demikian penawaran yang dapat saya ajukan dan sebelumnya terima kasih atas perhatiannya.

Hormat saya,
Bakal calon pasanganmu


Bonus: Surat antara Tukang Buah dan pacarnya, tukang sayur
'wajahmu memang manggis,
watakmu juga melon-kolis,
tapi hatiku nanas karena cemburu,
sirsak napasku,
hatiku anggur lebur,
ini delima dalam hidupku,
memang ini juga salakku,
jarang apel malam minggu,
ya tuhan,
mohon belimbing-mu,
kalo memang perpisangan ini yg terbaik untukku,
semangka kau bahagia dgn pria lain...
Sawonara....'
dari: durianto

surat balasan dari pacarnya, sang tukang sayur:

'membalas kentang suratmu itu,
brokoli sudah kubilang,
jangan tiap dateng rambutmu selalu kucai,
jagungmu gak pernah di cukur.
Disuruh dateng malam minggu, ehh nongolnya hari labu.
Ditambah kondisi keuanganmu makin hari makin pare,
kalo mo nelpon aku aja mesti ke wortel .
Terus terong aja,
cintaku padamu sudah lama tomat...
Jangan kangkung aku lagi,
cabee deeehhhh!!!

Jika kalian punya sajak cinta untuk versi disiplin ilmu lain, silakan hubungi penulis.
Lanjutkan baca »

Sabtu, 08 Desember 2012

Article#117 - Balada Akhir Tahun: Kosongnya Jiwa, Kosongnya Dompet

Apa benar saatnya telah tiba?
Ketika ember-ember bertebaran di kalender,
Dan ujian-ujian pun datang berjejer
Membuat saya senantiasa minder
Dan selalu merasa masih kuper

Ya Tuhan, jika tahun baru benar-benar akan mampir
Dan saya tak bisa sedikitpun mangkir
Maka di tahun ini, yang hampir berakhir
Uang saya, izinkanlah ia mampir
Karena tanpanya, saya layaknya butiran pasir
Yang meskipun nampak berdesir, hanya bisa minggir.

Jadi kini, telah sampai pada bulan Desember 2012. Bulan terakhir dari rangkaian bulan dalam satu tahun kalender Masehi. Bulan yang, dahulu kala, ketika dinosaurus masih berkuasa (weits, nggak se-jadul itu juga), diprediksi menjadi bulan dimana kiamat terjadi. Macam-macam lah, kata orang. Pada sampai berbusa gitu ngomongnya. Kadang kasian juga, soalnya rasanya saya kagak pernah perhatikan mereka waktu mereka berkoar-koar tentang semua itu. Tanggal cantik lah, kiamat lah, bosan nian euy. Jangan harap saya bakal dengerin kalian dengan muka sok imut kayak Mr. Bean hampir kesedak ikan dan jawab, "Wah, bener juga ya!". Mimpi itu. Boleh sih bermimpi, kayak kata pepatah, 'Bermimpi setinggi mungkin', meskipun saya sendiri nggak pernah bener-bener tahu musti setinggi apa. Apa harus setinggi Monas, setinggi pohon tauge, entahlah. Tapi bukan mimpikan saya juga lah. Apalagi kite kan sesama cowok. Nggak sudi lah eyke.. eh?! Wahduh.

Lagipula, saya tak sempat pikir hal semacam itu.. Boro-boro mikir masalah kiamat, masalah tanggal cantik, tanggal ganteng rupawan.... mikir besok makan apa aja, masih bingung setengah idup. Rasanya sedikit kesal. Diamlah kalian yang sibuk membicarakan kiamat; untuk itu saya bisa dengan mudah berteriak: Lupakan, semua itu bohong belaka! Tetapi bagi yang mengelu-elukan tanggal cantik, entah 12-12-12, 20-12-2012, atau apalah itu, saya tak sanggup berkata apa-apa lagi. banyak orang di berbagai tempat di seluruh dunia telah menyiapkan tanggal yang disebut 'cantik' tadi, untuk melangsungkan berbagai hal istimewa. Entah pembukaan rumah sakit, entah pernikahan, macam-macam lah.
Kalau ente gimane, mungkin ada yang nanya ke saya.
Hah? Mana ada. Mending ada calonnya.
Apalagi sekarang ini, sementara saya mengetik tulisan aneh ini, adalah saat-saat dimana para jomblowan-jomblowati kelas akut mengalami gejala alergi cinta mendadak: pusing dan mual ketika berkelana di dunia maya, mandi kembang dua rupa, berbaring menggigil di tempat tidur, atau hanya merenung memandangi langit malam sembari meratapi nasib, yang dingin kesepian di tengah malam. Saya sih mana mungkin begitu. Tentu saja, mana mungkin... tunggu, saya permisi sebentar. Saya sedikit pusing.

Eh, bukan bukan, saya nggak kena gejala alergi cinta akut yang tadi. Nggak... nggak salah juga sih. Lagipula mana ada yang semacam itu. Lupakan lah, saya pengen bahas balada yang lain. Pengennya sih sambal balada, lumayan buat dimakan mentah gitu malem-malem gini, biar hangat dikit tubuh. Tapi lagi habis stoknya (kayak pernah ada aja).

Oke, kembali ke topik awal.

Ya, sebagai bulan penutup tahun Masehi, Desember, termasuk yang satu ini, menjadi pojok refleksi bagi manusia-manusia yang setahun lalu dengan penuh semangat (atau, mungkin untuk beberapa yang tertipu, rasa takut kiamat) yang membentuk berbagai resolusi untuk tahun 2012. Dan, entah terasa atau tidak, 2012 akan segea pergi, membuka lembaran baru bagi 2013 untuk memunculkan diri secara nyata, untuk pertama kalinya di muka bumi, diiringi tangisan dan ucapan syukur penuh rasa bahagia dari orangtuanya.. (emangnya bayi..?). Dan seperti 'tradisi' yang tetap terjaga dari tahun ke tahun, orang-orang mulai beramai-ramai membuat harapan, resolusi, dan segala macam atribut lainnya dalam menyambut lembaran kalender baru, yang juga berarti tagihan baru untuk beberapa pihak.

Tetapi, nasib bocah-bocah tengil sedikit berbeda. Di tanah tempat si samurai terkenal itu—Date Masamune—dahulu membentuk sebuah perkampungan, Desember berarti mulai berdatangannya si putih yang indah dan membuat menggigil. Salju. Seiring 'bergeser'nya Matahari ke arah selatan, berkurangnya kuantitas energi dari matahari (entah akibat lama penyinaran ataupun 'ketinggian' matahari yang rendah) terus menurunkan suhu, dan membuat para bocah tengil makin terbenam dalam penggigilan berkepanjangan. Dan suhu dingin berkepanjangan akan 'memaksa' tubuh untuk memperbanyak debit aliran bahan baku energi terbarukan (baca: makanan).

Sebagai bocah-bocah tengil yang berjuang dalam ketidakpastian hidup, tentunya uluran dana dari ormas kemanusiaan siapapun yang rela dan tulus memberikan sebagian rezekinya merupakan anugerah yang tak terkira. Rasanya mungkin melebih bahagianya orang yang dapat nilai seratus di ujian, atau yang menang kompetisi olahraga tingkat nasional. Atau mungkin tidak seperti keduanya.
Tetapi, sedikit mirip dengan cerita bulan lalu, dengan 'ketergantungan' yang sedikit tinggi terhadap donatur, sayang sekali para bocah tengil musti nunggu si emak mengucurkan duitnya. Entah kenapa sekarang sedikit tersendat. Mungkin membeku akibat datangnya musim dingin, entahlah.

Kadang-kadang, si emak ini jadi tukang PHP sejati. Kepada bocah-bocah tengil, dijanjikan bahwa mereka akan kembali bisa menikmati gemerlap hidup dunia tiap beberapa taggal tertentu. Dan mereka akan memastikan tiket menuju kegemerlapan yang melenakan itu, supaya tepat waktu. Tetapi, seperti yang beberapa sudah menduga sebelumnya, tiket belum mengalir. Beberapa dari bocah tengil tersebut merasa seperti gadis-gadis yang terjerat daya pikat seorang playboy, yang membuat para gadis 'melayang' dengan janji-janji mereka (meskipun, tentu saja, tidak akan ada diantara bocah tengil yang terpikat secara romantis dengan si emak). Atau measa seperti warga yang termakan janji-janji seorang caleg dalam kampanyenya, meskipun mereka semua ragu si emak akan mau jadi caleg.

Pada akhirnya, di tengah malam yang sunyi dan bertabur si putih, bocah-bocah tengil mulai berusaha menghidupkan kembali malam-malam dingin yang kadangkala terasa hampa. Dengan jiwa yang hampa, akibat dingin yang membuat jiwa berkelana memfantasikan dunia kampung halaman yang hangat dan asri. Dan dengan dompet yang hampa, akibat terlalu dinginnya uang yang belum cair-cair juga, meskipun kami para bocah tengil masih berusaha meniup-niup si emak supaya menyalakan pemanas dan mencairkan uangnya.

Sudahlah, daripada meratapi nasib layaknya jomblo yang kesepian di malam minggu, saya persembahkan sedikit dokumentasi si putih yang mulai unjuk kristal secara sedikit terlalu cepat tahun ini. Semoga kalian tetap mensyukuri semua yang ada dan tak ada, dimanapun kalian berada!
 8 Desember 2012, 23:50 (UT+9). Credit to Fuad Ikhwanda
Lokasi yang sama seperti gambar sebelumnya, 24 menit kemudian.  Credit to Fuad Ikhwanda
Perumahan sekitar kompleks asrama. Credit to Fuad Ikhwanda
Sisi lain dari kamar penulis. Maaf jika kualitas gambar tak sebagus yang sebelumnya.

(atas dan bawah) Perbandingan jumlah salju dalam selang waktu 1 jam 44 menit.

Sudut pandang lain.

Kemungkinan ini yuki daruma—boneka salju—yang dibuat oleh orang dalam gambar sebelumnya.

Wah, apa main ke luar ya? Suhu udara 0°C sih, tapi lupakan dah. Sampai jumpa!
Lanjutkan baca »

Minggu, 02 Desember 2012

Article#116 - Belajar Sekaligus Mengajar, Sebuah Siklus Tanpa Akhir?

"Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat."
(Pepatah, sumber tak diketahui)
tetapi...
"Berhentilah menuntut ilmu, karena sesungguhnya ilmu tak bersalah."
(sumber tak diketahui)
gambar ini diambil dari artikel 42
Dua kutipan yang sekilas saling kontraproduktif diatas diputuskan dan disahkan untuk mengawali artikel kali ini. Untuk mengawali sebuah tulisan, yang bahkan si penulis sendiri tak yakin kemana juntrungannya. Tulisan yang penulisannya diniatkan untuk mengajak para pembaca berkelana melintasi dunia yang pernah/sedang dilalui, dunia pendidikan. Dunia pendidikan, yang meskipun seringkali dibenci, memberi banyak hikmah dan pengetahuan baru, di samping rekam jejak kehidupan yang menjadi berkilau dan keren, berkat polesan pendidikan. Pendidikan juga ditengarai sebagai salah satu faktor utama di balik sukses dan makmurnya sebuah komunitas, atau sebuah negara.
Tetapi, disini saya hanya akan bahas hal yang sederhana mengenai pendidikan.

Bicara soal pendidikan, tentu tak akan lepas dari yang namanya belajar-mengajar. Kegiatan ini sebenarnya memiliki banyak bentuk, dan banyak dipraktekkan oleh miliaran orang di seluruh penjuru bumi, kadang tanpa mereka sendiri sadar bahwa tindakannya itu adalah bentuk mengajar ataupun bentuk belajar. Lalu, mengapa banyak orang yang tak menyadari ketika ia sedang belajar, ataupun mengajar? Hal ini, berdasarkan pengamatan beberapa pengamat, dikarenakan dogma yang terbentuk dalam kebanyakan interaksi sosial warga Indonesia, secara tak langsung mendikte warga, bahwa belajar dan mengajar identik dengan ruang kelas. Tentu saja, sebenarnya maknanya lebih luas dari itu.
Tetapi, sebelum itu, apa sebenarnya belajar/mengajar itu? Berikut definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) akan keduanya:

belajar /bel·a·jar /v 1 berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu: adik ~ membacaberlatih: ia sedang ~ mengetik; murid-murid itu sedang ~ karate; 3 berubah tingkah laku atau tanggapan yg disebabkan oleh pengalaman;~ jarak jauh Dikcara belajar-mengajar yg menggunakan media televisi, radio, kaset, modul, dsb, pengajar dan pelajar tidak bertatap muka langsung; ~ tuntas Dik pendidikan (pengajaran) yg dilakukan secara menyeluruh hingga siswa berhasil;
mengajar /meng·a·jar/ v memberi pelajaran: guru ~ murid matematika2 melatih: ia ~ berenang; Kakak ~ menari; 3memarahi (memukuli, menghukum, dsb) supaya jera; 

Oke, kalau itu definisi belajar dan mengajar menurut KBBI. Dari definisinya saja jelas, bahwa belajar bukan hanya sebatas mendengarkan penjelasan guru di kelas. Jauh, jauh lebih luas dari itu.
Ambillah sebuah langkah keluar di pagi hari, perhatikan berjalannya roda kehidupan sosial di masyarakat. Hanya dengan mengamati, kau bisa belajar banyak hal.

Kau bisa belajar konsistensi, keteguhan dan kesabaran dari pedagang, yang selalu siap datang pagi-pagi ke lokasi dagangnya, dan bersiap menyambut rezeki baru yang diberikan padanya hari itu, melalui konsumen yang senantiasa membutuhkan kehadirannya untuk menunjang sebagian kebutuhan hidup mereka. Kau bisa belajar bagaimana semangat yang sama, walaupun sedikit berbeda penerapannya, disandang oleh para karyawan dan pelajar yang sejak pagi buta telah sampai di lokasi perhentian angkutan umum, yang akan membawa mereka menuju tempat perjuangan mereka untuk meneruskan hidup.

Kau bisa belajar dari sebuah pohon besar di pinggir jalan, tentang membentuk akar kehidupan yang kuat supaya bisa tetap bertahan di tengah derasnya hujan badai dan teriknya sinar matahari. Bahkan dengan semua terjangan itu, sang pohon besar masih mampu memberikan kesejukan dan tempat berteduh bagi orang-orang yang berada di dekatnya, yang tenggelam dalam rutinitasnya di tengah kerasnya dunia jalanan. Meskipun sang pohon hanya mendapat asap knalpot dan debu, atau bahkan paku-paku untuk memasang iklan liar yang merusak keindahannya. Dan bahkan kau juga bisa belajar dari awan, yang berarak di angkasa. Pernahkah kau perhatikan, bagaimana awan tak pernah berkelana sendirian? Selalu ada paling tidak beberapa awan, entah besar atau kecil, yang menemani sebuah awan dalam mengarungi langit. Kebersamaan membuat kelompok awan itu tetap ada, tak kalah oleh deru angin atau sinar matahari. Bahkan dengan itu, mereka bisa 'mengumpulkan' awan-awan lain, dan menghimpun kekuatan untuk membangun awan yang besar, yang pada gilirannya mencurahkan hujan atau salju di berbagai daerah di muka bumi.

Haissh, malah jadi melantur. Tapi tetap nyambung, mudah-mudahan. Intinya, belajar bisa dimana saja, kapan saja, dari mana saja. Kalau dia mendapat lebih banyak ilmu dari sekolah yang relatif 'sebentar' dibanding di luar sekolah, artinya waktunya di luar sekolah kurang dimanfaatkan, atau dia terlalu sibuk belajar (dengan gaya konvensional) di kelas.

Lalu, mengajar? Mungkin di hati kecil sebagian dari kalian sejenak terbersit, Apa asiknya mengajar? Saya pernah menghadapi beberapa saat semacam ini, terutama ketika guru (biasanya wali kelas) saya menanyakan cita-cita. Komentar mereka, yang paling ingat sampai sekarang, adalah sebaris kalimat singkat ini: "Tidak ada yang mau menjadi guru?". Bagi beberapa siswa, sepertinya tidak salah kalau tidak mau menjadi guru. Toh, cita-cita mereka sudah diatur begitu tinggi, mengapa harus menjadi guru? Tetapi ketika membayangkan alasan tersebut (dan alasan lainnya, misalkan 'capek', 'sibuk'), lalu mengingat mimik sang guru ketika bertanya tadi, dan mengingat bagaimana mereka mengajar selama ini di kelas, rasanya jadi muncul sedikit ironi.

Bukan karena mereka tak ingin menjadi guru, tetapi karena alasan di baliknya. Terkadang, dengan banyaknya profesi yang terlihat 'menjanjikan' ataupun 'keren', ada saat-saat dimana guru kurang mendapat tempat di hati para siswa. Padahal guru itu sebuah pekerjaan yang mulia. Yang membantu ketika dengan memberi pengetahuan tentang dunia di sekitar, yang mungkin belum tentu bisa diberikan orangtua karena perbedaan bidang keilmuan. Yang membantu mayoritas anak-anak muda dalam membentuk interaksi sosial yang seimbang dengan sesamanya, yang lebih tua ataupun yang lebih muda. Tak heran, topik guru sering diangkat dalam lagu hasil bentukan para penulis lagu Indonesia, khususnya lagu untuk pendidikan, disamping tema pemandangan alam atau keluarga. Bahkan, tanpa menjadi guru secara 'resmi' (yaitu tanpa mengajar di kelas, sebagaimana definisi yang umum dipahami masyarakat), banyak manfaat yang bisa diperoleh dari mengajar. Bahkan mengajar yang tak langsung, lewat nasihat atau bahkan sindiran, juga memberi manfaat, entah ke pengajar atau orang yang diajar Salah satu contohnya dulu pernah saya pasang di artikel 10.

Untuk bagian terakhir dari artikel ini, saya hanya ingin berbagi sedikit cerita. Saya sendiri, dulu, juga memandang dunia mengajar sebagai dunia yang 'tidak seru' dan 'membosankan'. Padahal, tanpa saya sadari pula, saya terkadang sedikit-banyak 'mengajar': biasanya ketika ada yang menanyakan solusi sebuah soal, atau mengenai hal lain yang berkaitan dengan pengetahuan.

Bahkan, baru di masa MAN lah saya menyadari bahwa semua itu sebenarnya adalah contoh kecil dari sebuah mengajar. Selain itu, karena berkecimpungnya saya di dunia olimpiade, khususnya astronomi, saya mulai sering ditanyai oleh beberapa 'adik kelas' yang ingin mengenal lebih jauh tentang astronomi, baik dalam lingkup sekolah ataupun di media sosial. Meskipun memang, yang terakhir ini baru banyak dilakukan setelah saya menjejak tingkat terakhir di MAN, dan juga setelah kelulusan.

Dari semua adik kelas itu, ada seorang, yang sudah begitu rajin bertanya-tanya mengenai astronomi, bahkan ketika saya baru kelas sebelas. Frekuensi bertanyanya, yang saya yakini bertaraf 'Lebih dari sekadar menyebalkan' bagi sebagian besar orang, apalagi bagi seekor beruang yang sudah ingin segera berhibernasi seorang siswa yang ingin segera bergegas ke kantin dan tidak mau waktu makannya terpotong.
Tak tahan, akhirnya saya mulai meladeni sedikit demi sedikit pertanyaannya, yang berlimpah, entah darimana ditambang. Mungkin nyolong sedikit dari Grasberg. Yang mengherankan, seiring berjalannya waktu, saya makin terbiasa meladeni pertanyaan adik kelas yang ingin bertanya, berdiskusi, atau sekadar menanyakan sudut pandang saya dalam menyikapi sebuah fenomena sosial. Saya bisa menghabiskan waktu sejam hanya untuk berbual tanpa juntrungan, yang tadinya saya maksudkan sebagai ucapan motivasi.

Dari mengajar, kita bisa belajar banyak hal. Belajar mendengarkan pendapat orang lain, karena tidak selama pendapatmu benar. Belajar menyikapi dengan kesabaran, karena mereka datang dengan semangat mendapat ilmu. Belajar menyampaikan, supaya maksud ucapanmu bisa ditanggapi dengan baik. Dan banyak lagi yang lain.

Dan seperti sebelumnya dicatat, belajar bisa dari mana saja, termasuk dari mengajar. Dan dari pelajaran tersebut, kau bisa menerapkannya untuk mengajarkan kepada orang yang belum tahu, sambil kemudian mempelajari bagaimana cara pandang seseorang, dan juga cara yang baik untuk menanggapinya.

Teruslah belajar, tetapi jangan lupa untuk mengajarkan ilmu yang kau dapat. Supaya ilmu tersebut tak diam di tempat. Sebuah sumber pernah mengatakan, celakalah orang berilmu, yang ilmunya tak bermanfaat bagi orang di sekitarnya. Memang ini adalah siklus yang tiada berakhir. Tetapi karena siklus tersebut bergelimang manfaat, apakah pantas untuk ditinggalkan?
(:g)
Lanjutkan baca »

Minggu, 25 November 2012

Article#115 - Kutipan Hari Ini

"Jangan menunggu menjadi pribadi yang sempurna untuk menebar kebaikan, karena tiada manusia yang sempurna. Alih-alih mengejar kesempurnaan, lebih baik kalau membiasakan penyempurnaan. Karena yang pertama mengisyaratkan akhir, dan yang kedua mengisyaratkan proses. Nah sekarang, mana yang akan kau utamakan, akhir atau proses?"
dikutip dari Saw Werr, pada 25 November 2012, 23:23 (UT+9).


Lanjutkan baca »

Sabtu, 24 November 2012

Article#114 - What Kind of Contest is This?

Not sure if it's a stupid contest, or just smart. Just, have a nice time reading.

Lanjutkan baca »

Selasa, 20 November 2012

Article#113 - What A Small Act Can Do

After all those 'heavy' yet 'silly' stories I've input this crazy blog with, I decided to 'put up' some 'new color' here with this story below. I won't talk type much, maybe, just go straight to the story.
(Click here to visit the source)
Lanjutkan baca »

Minggu, 18 November 2012

Article#112 - Idealisme Seorang Mahasiswa Rusak

Tulisan kali ini adalah hasil pergulatan pikiran saya yang beberapa hari ini terus dipaksa bergulat hingga akhirnya kelelahan dan beristirahat. Dan, juga dikombinasikan oleh jiwa yang dirusak oleh kebebalan pikiran, dan menuntut sebuah perbaikan. Tulisan ini, diketikkan oleh sebuah jiwa kacau yang berkeliling dunia maya untuk mencari kebenaran, bukan pembenaran, meski pikiran dan emosinya terkadang masih sibuk berusaha membenarkan atau menyalahkan hal yang ia terima melalui panca inderanya.
Sudahlah.

Beberapa pekan terakhir, saya sering mendapati berita-berita yang beredar di dunia maya, yang terkadang seolah mengetuk-ngetuk pintu idealisme saya yang kadang begitu sensitif, tetapi di waktu lain begitu pekak. Berdasar berita-berita yang sering saya jelajahi (khusunya di bagian komentarnya, karena disanalah suara rakyat sesungguhnya berada), terpampang nyata bagaimana dunia ini dipenuhi konflik yang seolah tiada berujung. Berita mengenai pemerintahan yang korup, kemiskinan yang ironisnya melingkupi kantong-kantong kekayaan, adu ego dalam ideologi, politik, bahkan yang paling baru, agresi Israel atas Gaza yang kembali diluncurkan dalam label Operation Pillar of Defense (Pilar Pertahanan). Selain waktu pelaksanaan agresi yang—anehnya—hampir tepat 4 tahun setelah operasi agresi Israel, "Operation Cast Lead" pada era pergantian tahun 2008-2009, keduanya sama-sama ditengarai ada hubungannya dengan pemilu parlemen Israel, yang dulu berlangsung di Februari 2009 dan akan diadakan lagi di akhir Januari 2013. Terlepas dari semua kontroversi yang ada, Israel terus berlindung di balik alibi 'membalas serangan' dari Gaza, memposisikan Hamas sebagai teroris yang mengganggu keamanan warga Israel selatan, sementara fakta menyatakan sebaliknya.

Dimana-mana muncul berbagai reaksi sehubungan serangan ini. Banyak mengutuk agresi tersebut, yang 'tidak berperikemanusiaan', sementara yang mendukung 'upaya pertahanan diri' Israel pun tak kalah banyaknya. Banyak orang di seluruh dunia berdemo, beramai-ramai menyatakan kebencian mereka atas serangan tersebut, di seluruh dunia.

Lalu saya berpikir. Apakah bisa, memberi kontribusi lebih untuk menghentikan sebuah kejahatan kemanusiaan? Apakah menyatakan bahwa 'saya tidak setuju' benar-benar akan membuat pengaruh?
Kemudian saya lihat para pemimpin, yang kebanyakan mereka terbuai dalam gelimang kekuasaan dan harta. Apa yang mereka lakukan? Kebanyakan, sama saja, hanya 'menyesalkan terjadinya hal tersebut', dan lalu selesai. Mereka memiliki kuasa untuk mengambil sikap tegas, tetapi mereka hanya duduk diam dan menonton, seolah itu bukanlah urusan dan kepentingan mereka. Atau ada pemimpin yang ingin bertindak, tetapi tangan-tangan kekuasaan bayangan mencegahnya dari melakukan hal tersebut.
Dan di saat tertentu, diamnya mereka membuat saya sungguh heran.

Tetapi buat apa memperhatikan para pemimpin itu, yang kadang nampak seperti 'boneka' pemerintahannya sendiri? Mari perhatikan diri sendiri dahulu dan lingkungan.

Ada yang merasa benci karena merasa dia tak bisa melakukan apa-apa. Yang ia mampu lakukan hanya duduk dan berdoa. Ingin rasanya melakukan apapun yang baik untuk dilakukan, asalkan agresi tersebut bisa berakhir dan rasa kemanusiaan di sanubari tak lagi terusik. Tetapi rasanya tiada daya untuk berbuat. Ingin rasanya bisa mempengaruhi dunia, dan seperti idealnya seorang idealis, menjadikan semua keadaan baik, makmur dan sentosa. Apakah itu akan terwujud, entahlah.

Namun, di sekitar, generasi muda terbuai oleh ilusi dunia, yang sebagaimana pernah penulis sebutkan di beberapa edisi artikel sebelumnya. Sering didapati, di jejaring sosial mikroblogging Twitter, topik populer berupa fanatisme atas sebuah figur, yang bahkan sebenarnya tak cocok jadi panutan. Mereka jumlahnya begitu banyak, namun alih-alih menjadi 'pohon-pohon kehidupan' yang memberikan nafas segar menuju masa depan yang sehat, mereka justru menjadi buih-buih lautan yang tiada orang peduli, apakah ia menghilang, apakah ia pergi, apakah ia kembali. Hanya terombang-ambing di tengah lautan. Memang ada yang menyiapkan petisi untuk menyurati para petinggi-petinggi di bumi ini untuk menghentikan agresi tersebut. Namun, selama itu pula, yang lain hanya bermalas-malasan, berleha-leha.

Terkadang tak habis pikir, memikirkan bagaimana sebagian generasi muda masih sibuk atas penghambaan mereka atas figur-figur yang tidak memberi manfaat apapun. Ketika ada saudaranya yang butuh bantuan, bahkan mereka belum tentu mendengarkan.
Ayo, ada saudara kita yang lagi berjuang.
Meskipun kau memiliki kewajiban untuk tetap menuntut ilmu di tempat perjuangan masing-masing, mari sempatkan untuk melakukan apa yang bisa dilakukan. Walaupun terasa kecil dan tak berarti, minimal kau sudah berkontribusi. Berdoalah untuk kebaikan dan keamanan bagi mereka yang tertindas. Beritakanlah kebenaran pada dunia.

~satu lagi tulisan dari seorang pemikir rusak tanpa jiwa yang bersuara sumbang. Yang mendambakan kebaikan tanpa yakin cara mewujudkannya.
Lanjutkan baca »

Sabtu, 17 November 2012

Article#111 - Kutipan Hari Ini

"Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: 'dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan'. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Karena itulah yang membuat kita masih menjadi manusia sesungguhnya."
~dikutip dari kutipan milik Soe Hok Gie (1942-1969), seorang aktivis mahasiswa Indonesia, dengan sedikit perubahan.

Lanjutkan baca »

Jumat, 16 November 2012

Article#110 - Wawancara Yang Tak Terlupakan

Seorang manajer mengaku, dari sekian banyak pengalamannya mewawancarai calon karyawan, dia mendapati kebanyakan calon karyawan tersebut mau enaknya saja. Kalau istilahnya, usaha minimal dan hasil maksimal. Tetapi, ia mengakui, dari seluruh pengalamannya itu, ada seorang karyawan yang menjawab pertanyaannya sedemikian rupa. Perusahaan tersebut (perusahaan jasa konsultasi pendidikan) menerapkan wawancara berupa tes skolastik lisan, berisi soal-soal pengetahuan umum. Penasaran bagaimana akhirnya kisah sang calon karyawan? Berikut isi wawancara tersebut.

***

Manajer: Silakan duduk, mohon perkenalkan dulu siapa nama Anda.
Calon karyawan: Nama saya Sugeng Albertus Rajiman Ahmad Purwanto.
Manajer: Wah, panjang sekali. Nama panggilan?
Calon karyawan: Dari dulu teman saya manggil saya 'Sarap'. Inisial saya.
Manajer: (sedikit terkejut) ...Wah, benar juga. Jadi, saudara Sarap, siap untuk tes wawancara?
Calon karyawan: Tentu saja pak.

Manajer: Oke, pertanyaan pertama. Pada perang yang mana Kapten Pattimura wafat?
Calon karyawan: Perang terakhirnya, pak.

Manajer: Baiklah. Pertanyaan kedua, dimanakah naskah Proklamasi RI ditandatangani?
Calon karyawan: Di bagian bawah, pak.

Manajer: Baiklah. Pertanyaan ketiga, penyebab utama kematian itu apa?
Calon karyawan: Jantung berhenti berdenyut, pak.

Manajer: Hmm. Lalu, pertanyaan keempat, kalau begitu, apa penyebab utama perceraian?
Calon karyawan: Pernikahan, pak.

Manajer: Oke. Pertanyaan kelima, apa yang menyebabkan terjadinya kegagalan?
Calon karyawan: Ujian, pak.

Manajer: Hmm. Pertanyaan keenam, makanan apa yang tak boleh dimakan sebagai sarapan?
Calon karyawan: Makan siang dan makan malam, pak.

Manajer: Hhh, oke. Pertanyaan ketujuh, apa yang akan terjadi jika sebuah batu merah dilempar ke laut yang berwarna biru?
Calon karyawan: Jadi basah, pak.

Manajer: Baiklah. Pertanyaan ketujuh, bagaimana cara menghentikan seekor anjing supaya tidak kencing di jok belakang?
Calon karyawan: Taruh di jok depan, pak.

Manajer: Oke... Lalu, pertanyaan kedelapan. Benda apakah yang terlihat seperti separo apel?
Calon karyawan: Paroan lainnya, pak.

Manajer: Hah, oke. Pertanyaan kesembilan, bagaimana cara seseorang bisa tidak tidur dalam 8 hari?
Calon karyawan: Dia tidur malam, pak.

Manajer: Haahh.. oke. Pertanyaan kesepuluh, bagaimana cara mengangkat gajah dengan satu tangan?
Calon karyawan: Gajah tidak punya tangan, pak.

Manajer: Hmmm... Pertanyaan kesebelas, jika Anda memiliki 3 jeruk dan 4 apel di tangan kiri, serta 3 apel dan 4 jeruk di tangan kanan, apa yang Anda dapat?
Calon karyawan: Tangan yang sangat besar, pak.

Manajer: Bah. Ya sudahlah, pertanyaan keduabelas, jika diperlukan 16 orang untuk membangun rumah dalam 12 hari, berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh 6 orang untuk membangun rumah tersebut?
Calon karyawan: Tidak ada, rumahnya sudah jadi, pak.

Manajer: Hahh... sudahlah. Pertanyaan ketigabelas, bagaimana cara menjatuhkan telur ke atas lantai beton tanpa pecah?
Calon karyawan: Lantai beton susah pecah, pak.

Manajer: Oke, pertanyaan keempatbelas. Bagaimana bisa 5 orang berdiri di bawah sebuah payung, tetapi tidak ada yang kehujanan?
Calon karyawan: Saat itu tidak hujan, pak.

Manajer: Oke, baiklah. Sepertinya saya akan memberi satu pertanyaan lagi. Mana yang lebih dahulu ada, siang atau malam?
Calon karyawan: Tentu saja siang, pak!
Manajer: Mengapa begitu?
Calon karyawan: Wah tak bisa pak, tadi bapak bilang hanya satu pertanyaan. Saya tak mau bekerja di bawah pimpinan yang tak konsisten.

Manajer: (terkejut) T-t-t-tunggu dulu..!
(Apa daya, sang calon karyawan segera meninggalkan ruang wawancara.)
Lanjutkan baca »

Rabu, 14 November 2012

Article#109 - Permohonan Kepada Jin

Suatu hari yang berawan di kota Sukasuka. Sebuah rombongan berisi seorang pengusaha, penjudi, pencuri, karyawan, kyai dan kolektor seni sedang bersama-sama mendengarkan ocehan sang pemandu wisata mengunjungi lokasi wisata, sebuah gua di arah barat kota Sukasuka. Mendadak, tanpa permisi (jelaslah..), salah satu bagian dinding gua runtuh, menutupi pintu keluar gua.
Panik, rombongan itu segera berlarian pontang-panting ke sana kemari, tetapi karena mereka sedang berada di dalam gua yang gelap, pada akhirnya mereka hanya tergelincir dan bertabrakan ke sana kemari. Dan, lagi-lagi tanpa permisi, muncul segulung awan diatas mereka, yang kemudian mewujud sebagai jin, layaknya jin-nya Alladin.
Jin langsung tertawa, "HOHOHOHO!! Kalian baru sa.." namun dipotong.
Rupanya sang kyai protes, "Oi jin, kalau mau mampir izin dulu kek, ucapin salam kek! Main serobot aja!"
Si jin jadi kesal dan berseru, "DIAM LU KAKEK TUA! Tenang, hari ini saya lagi baik, soalnya saya baru nikahan. (Orang-orang hanya saling pandang) Kalian minta apa, saya kasih! Tapi masing-masing hanya bisa minta sekali."

Pengusaha pun langsung maju dengan bersemangat, "Saya minta modal buat usaha baru saya, siomay goreng tepung... 200 juta doang. Nanti abah jin saya traktir deh."
Si penjudi tak kalah semangat, "Lebih baik uangnya buat saya aja, saya bakal menang 3 kali lipat dari itu! Nanti uangnya bisa buat abah jin pokoknya, sip kaan?"
Karyawan pun ikut bersemangat, "Saya pengen jadi direktur! Supaya saya nggak dihujat terus!"
Kyai yang daritadi hanya diam pun ikut berseru, "Sudah jin! Mereka pasti bakal korupsi! Saya pengen minta modal 5 milyar! Saya bakalan buat pesantren, supaya anak-anak kota Sukasuka suka beribadah dan beramal!"
Sekarang sang kolektor seni berseru, "Bawakan pada saya koleksi seni terhebat di dunia, abah jin! Dari lukisan Leonardo hingga pahatan prasasti raj Syailendra! Saya akan kaya raya, hahahaha!!!"

Tapi sang pencuri diam saja, duduk memandangi yang lain. Setelah beberapa saat, sang jin pun baru tersadar bahwa sang pencuri belum mengajukan apapun. Maka jin mendekati sang pencuri dan bertanya, "Apakah kau tidak menginginkan sesuatu, pencuri?"

Pencuri hanya menjawab sederhana, "Saya tak butuh harta. Yang saya butuhkan hanya alamat mereka semua."

Lanjutkan baca »

Minggu, 11 November 2012

Article#108 - Belajar Agama dari Seorang Atheis

Atheis. Julukan yang disematkan untuk mereka yang menafikan keberadaan Tuhan maupun pengaruh-Nya di alam semesta. Jangan disamakan dengan agnostik (mempercayai bahwa bukti objektif keberadaan Tuhan tidak dan tak akan mencukupi), atau deisme (mempercayai bahwa Tuhan sebagai pencipta, tetapi tidak percaya wahyu dan mukjizat, sekaligus pula tak percaya agama). Walaupun atheis cenderung tak mendapat tempat di Indonesia, tetapi mereka tetap ada, sekelompok orang yang mempertanyakan dengan pemikiran yang kadang dalam, tetapi kadang konyol, tentang eksistensi Tuhan, dan keberadaan-Nya di alam semesta.

Santai saja, saya (sebenarnya) tak berniat membahas hal 'kontroversial' semacam ini disini. Kontroversial? Yah, pada nyatanya, pengakuan atas atheisme memang tidak ada dalam undang-undang, karena memang Indonesia mendasarkan kenegaraannya pada ketuhanan, yang pernah disebut oleh pembicara dalam salah satu acara debat terbuka di televisi sebagai 'satu-satunya di dunia selain Israel'. Kalau Anda adalah warga Indonesia yang baik budiman, pastilah   kalimat sila pertama masih bisa terngiang di kepala, "Ketuhanan yang Maha Esa". Tentu saja, sebagai sebuah negara dengan berbagai komunitas yang teguh menjalankan ajaran agama, atheisme terdengar janggal dan tak masuk nalar. Selain 'kejanggalan' itu sendiri, atheis identik dengan komunisme, sebuah paham yang pernah mewarnai kancah politik Indonesia sekian lama dan menyisakan bekas negatif, terutama dari pemberontakan di Madiun tahun 1948, dan kudeta yang jauh lebih terkenal 17 tahun setelahnya, yang mengawali runtuhnya rezim Soekarno yang telah memimpin lebih dari 2 dekade. Dan di beberapa tempat, bahkan mereka membentuk komunitas orang atheis Indonesia, yang beberapa diantaranya pernah dilaporkan karena menyalahi undang-undang tentang larangan menyebarkan atheisme di Indonesia. Apalagi beberapa pihak mengkhawatirkan munculnya provokasi dan lalu perpecahan akibat keberadaan para atheis, yang dinilai masyarakat sebagai sesuatu yang meresahkan.

Sudah jelas, membahas topik yang berkaitan dengan atheisme di Indonesia—misalkan, mempertanyakan eksistensi Tuhan— masih cenderung dianggap tabu, karena budaya agama yang berakar amat kuat di Indonesia. (Bukan bermaksud pro-atheis, tetapi memang begitu kenyataan umumnya) Tetapi, di negara Eropa dan Amerika sana, yang memang cenderung lebih 'liberal', topik semacam ini bisa terjadi di mana saja, bahkan di forum sosial. Melalui liburan panjang saya yang menjadi ajang pelampiasan melalui banyaknya artikel yang saya sumbangkan untuk blog aneh ini, saya juga mendalami berbagai pelosok dunia internet (tepatnya hanya 9GAG), dan menyelidiki komentar-komentar yang terkadang 'sensitif', dan biasanya disanalah terjadi debat panjang. Bisa tentang berbagai hal, sebagaimana yang pernah saya bahas sedikit dulu di artikel 63, tetapi karena ini artikel tentang atheisme (meskipun disini saya tak akan mengkritisinya secara langsung, mungkin di lain kesempatan), yang akan dibahas tentunya debat bertema eksistensi Tuhan.

Disana, cukup menarik menyaksikan bagaimana perseteruan yang seolah tanpa akhir antara para theis (orang yang memercayai adanya Tuhan) dengan atheis, mengamati bagaimana ada atheis yang menyusun argumen yang menunjukkan perenungan mereka atas makna hidup dan eksistensi Tuhan selama ini, dan ditanggapi oleh theis yang kebanyakan hanya berlindung di balik keimanannya, tak bisa memberikan argumen yang lebih masuk akal dan bisa membantah omongan sang atheis (karena, meskipun indah dan ilmiah, seringkali argumentasi atheis itu lemah. Tetapi saya memutuskan hanya menonton). Dan akhirnya mereka, para atheis, memnuculkan kalimat pusaka mereka, yang kira-kira berbicara tentang 'bagaimana para agamis dibutakan oleh fanatisme mereka, sehingga menolak untuk berpikir'.

Disini saya tak akan mengomentari argumen-argumen tersebut. Tidak juga menyatakan siapa yang benar dan siapa yang salah di antara mereka. Yang ingin saya tekankan adalah keadaan ketika si theis terpojok dan berlindung di balik alibi keimanan-nya, yang sama lemahnya (atau bahkan lebih lemah) dari argumen sang atheis, karena ia hanya bisa berkata 'Tuhan melarang ini', 'Tuhan menyuruh itu'. Ketika ditanya mengapa, mereka justru berkelit.
Pemahaman agama mereka terbatas pada 'tahu', belum 'paham'. Dan, karena sebagian besar penganut agama 'mendapatkan' agama tersebut dari warisan orangtuanya, kebanyakan hanya manggut-manggut, menjalankannya begitu saja. Mungkin pula, sebagian besar umat beragama mengerjakan ibadah rutin, menjalankannya tanpa pemahaman. Tanpa dasar. Tanpa jiwa. Sekadar menggugurkan kewajiban. Padahal, dalam hadits sendiri diungkapkan sebuah kalimat yang terkenal, "Sesungguhnya, amal itu berasal dari niat." Tanpa pemahaman yang baik terhadap apa yang dijalani, tentu tidak akan pernah dilakukan secara maksimal. Prinsipnya akan memakai 'Yang penting jadi'.

Pikiran saya selalu terngiang hal tersebut tiap kali saya melihat debat antara theis-atheis. Betapa banyak orang beragama yang menjalankan ibadah setiap hari, tanpa pernah tahu untuk apa mereka melakukannya. Banyak yang memberi larangan atas sesuatu, tetapi mereka tidak paham mengapa itu dilarang.
Mari ingat-ingat lagi, apakah selama ini kita telah melaksanakan ajaran agama dengan sebaik-baiknya? Memahami segala sesuatunya? Ketika kau berbuat baik, meninggalkan suatu hal, dan beribadah, sudahkah kalian memahami esensi dari semuanya? Mengapa kau harus melakukan kebaikan itu? Mengapa kau harus tinggalkan hal buruk itu? Mengapa ibadah itu harus kau lakukan dalam tata cara itu dan frekuensi tertentu? Perkuat dasarnya, karena jika tidak, sesungguhnya keyakinan tanpa pemahaman itu layaknya bangunan tanpa fondasi. Mungkin iman adalah dasar agama, tetapi jika kau beriman tanpa dasar yang memadai, layakkah ia disebut 'iman'?

Sepertinya saya juga jadi sedikit memojokkan para atheis, entahlah. Tetapi, tujuan tulisan ini hanya untuk mengingatkan supaya, ketika kau menganut suatu prinsip, pahamilah dengan baik dan jiwailah dengan sepenuh hati. Banyak mantan mahasiswa yang bersuara idealisme di masa kuliah, tetapi kemudian terlena oleh gelimang harta. Banyak orang yang berjuang demi kebaikan, setelah berhasil justru kemudian besar kepala. Banyak orang yang memperbanyak ibadah ketika dirundung lara nestapa, namun ketika rejeki mengucur deras, ia langsung mengesampingkan ibadahnya. Dan ada pula orang yang mengaku agamis tulen, tetapi sekali atheis bertanya, ketidakmampuan ia menjawab mengantarkannya pada atheisme sendiri.
Dan pada akhirnya, belajar bisa dari banyak hal, bahkan dari para pembenci pelajaran itu sendiri. Yang terpenting adalah bagaimana pelajaran itu diterapkan. (:g)

Sebagai penutup, saya akan tampilkan gambar berikut:
Lanjutkan baca »

Selasa, 06 November 2012

Article#107 - Kutipan Hari Ini

"Masa kini merupakan resolusi dari apa yang kita lakukan pada masa lalu. Bagaimana cara kita menanggapi masa kini, akan kau dapati nanti sebagai masa depanmu. Jika ingin menjadi orang yang luar biasa, hiduplah secara luar biasa. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, masa depan sebagai tujuan, dan masa kini sebagai perjuangan."

~disarikan dari berbagai kutipan dunia oleh penulis, pada Selasa, 6 November 2012, 20:07 (UT+9)


Lanjutkan baca »

Senin, 05 November 2012

Article#106 - Catatan Seorang Pujangga Sumbang

Kawan, apa kalian pernah tahu tentang pujangga sumbang?
Kadang mereka memukaumu dengan pengetahuan yang dalam dan tak terduga,
Kadang mereka jemawa dan merasa tahu segalanya.

Kawan, apa kalian pernah mendengar tentang pujangga sumbang?
Meskipun nada lantunan mereka merdu dan menyejukkan hati,
Mereka semua tak pernah ada yang menyadari.

Kawan, apa kalian pernah melihat bagaimana pujangga sumbang bertutur kata?
Kata-kata gubahan mereka seolah mampu mewarnai langit,
Sementara jiwa mereka sendiri lupa mereka warnai.

Kawan, apa kalian pernah mengagumi seorang pujangga sumbang?
Padahal, meskipun mereka sering dipuji orang-orang,
Jarang sekali mereka bisa memuji diri sendiri.

Kawan, apa kalian pernah tahu cita-cita seorang pujangga sumbang?
Mereka seringkali bercita demikian tinggi menembus langit,
Sementara kaki mereka lupa untuk tetap berpijak di bumi.

Kawan, apa kalian pernah mencoba menyelidiki seorang pujangga sumbang?
Ia mungkin bisa melantunkan kepada orang-orang ratusan nasihat,
Namun pengaruh semua itu ke dalam dirinya, tiada terlihat.

Apa kalian pernah ingin menjadi seorang pujangga sumbang?
Tak perlu takut meskipun kau merasa suaramu tak menarik,
Yang penting kau menyampaikan dengan maksud baik.

Tahukah kalian, siapa gerangan sang pujangga sumbang itu?
Walaupun kau selama ini tak pernah sadari,
Ia ada dalam dirimu masing-masing.

Terkadang dalam jiwamu sendiri, ada sekelumit jiwa 'pujangga sumbang' tersebut. Jiwa yang berusaha berkontribusi dengan memberi kata-kata nasihat, kata-kata bijak, atau motivasi kepada orang-orang yang terhadapnya kau peduli. Jiwa yang kau sendiri merasakan ia terlalu rusak, terlalu hina, padahal di luar sana, banyak orang yang menuai berbagai manfaat dari berbagai kata-kata yang pernah kau tabur. Meskipun kau sendiri bahkan mungkin belum terlalu meresapi kata-kata yang kau tulis sendiri.
Tidak perlu merasa hina, meskipun kau belum banyak mengoptimalkan untaian kata yang selama ini kau taburkan ke orang di sekitarmu. Kau bisa melakukan keduanya bersama-sama, terus menebar kata-kata untuk kebaikan, seraya terus mengevaluasi diri atas semua yang telah kau katakan.
Jangan menunggu menjadi pribadi yang sempurna untuk menebar kebaikan, karena tiada manusia yang sempurna. Mungkin kata 'sempurna' terdengar indah, tetapi 'penyempurnaan' jauh lebih baik. Karena yang pertama mengisyaratkan akhir, dan yang kedua mengisyaratkan proses. Nah sekarang, mana yang akan kau utamakan, akhir atau proses?

Yah, lagi-lagi 'pujangga sumbang' yang satu ini mengalirkan kata-kata dengan mudahnya. Sdahlah, ambil sisi positifnya saja. (:g)

Hari 6419, di tengah alunan melodia dan keramaian dunia maya.
Dimulai pada Senin, 5 November 2012, 12:52 (UT+9)
38°15'36.21"N, 140°50'58.31"E

Catatan: Tulisan ini bukan merupakan refleksi langsung akan diri penulis yang mengaku di bio-nya sebagai 'pujangga sumbang'. Tetapi tulisan ini (saya harap) dapat menjadi refleksi jiwa kita semua. (tsaah gayanya)
Lanjutkan baca »

Minggu, 04 November 2012

Article#105 - The Fear of God

Once upon a time, in a far, far away land.. [scratching record noise]. Okay, enough with this nonsense. In a Renaissance era village, there were these two brothers, who were always up to some mischief. If somebody had been locked up in his house or if somebody's dog had been painted green, one always knew who the culprits were — the brothers.
Tired of these two brothers' mischievous actions over time, one day the villagers went to the boys' house. They urged the boys' mother to get rid of those detrimental act of the boys'. Agreed, the next day, the boys' mother asked a priest to talk to her sons and put the fear of God in them so that they would mend their ways. The priest asked her to send her sons to him one at a time.
When the younger boy, a lad of thirteen, came, he made him sit and asked him:
"Where is God?"
The boy had no idea what to answer, so he was just remained there in silence.
The priest asked again, in a louder voice: "Where is God?"
The boy remained silent. This time, got impatient enough, the prist asked (almost yelled) the same question: "WHERE IS GOD?"
In a sudden, the boy jumped up and ran away. The priest could do nothing, since the boy ran a tremendous speed.
He went straight to his brother.
"We're in big trouble!" he gasped.
"What's wrong?" asked the older boy, warily, wondering which of their sins had caught up with them.
"God is missing," said the youngster, "and they think we have something to do with it!"
Lanjutkan baca »

Sabtu, 03 November 2012

Article#104 - Ayam Berkaki Tiga

Sepasang suami istri tengah berkendara melintasi jalanan desa. Dengan udara yang sejuk tanpa asap knalpot dan derum kemacetan, memang jalan di pedesaan merupakan salah satu penyegaran diri terbaik. Tetapi semua penyegaran itu hilang mendadak, ketika mereka mendapati seekor ayam berkaki tiga menyeberang jalan. Saking cepatnya, hingga selama si suami berkata 'Wow!', si ayam sudah melesat menyeberangi jalan. Tenang, tidak akan ada berbagai macam jawaban untuk pertanyaan klasik 'Mengapa ayam menyeberang jalan?' disini.

"Wow!", kata si suami sekali lagi. "Kamu lihat kan, betapa cepatnya lari ayam tadi!". Istrinya hanya menggeleng dengan muka teler, rupanya dia baru saja bangun. Tetapi, tak lama kemudian, seekor ayam berkaki tiga lain melesat menyeberangi jalan dengan kecepatan yang sama dahsyatnya. Sang istri, terkejut, langsung berseru, "Cepat sekali ayam itu! Dan, suamiku, dia punya tiga kaki!"

Semua kejadian itu membuat mereka penasaran, dan segeralah mereka berkendara mengikuti jalan yang dilalui ayam berkaki tiga tadi. Ada beberapa ayam berkaki tiga lagi yang mereka temui, sampai mereka tiba di sebuah kompleks peternakan. Pasangan itu terkejut melihat betapa banyaknya ayam berkaki tiga di kompleks tersebut. Mereka berlarian ke sana kemari, memperebutkan pakan yang diberikan oleh si pemilik peternakan. Tak lama, sang pemilik peternakan tersenyum dan mendatangi pasangan muda yang masih menyimpan keheranan akan semua ayam tersebut.
Sang suami bertanya, "Bagaimana bisa ayam-ayam itu memiliki tiga kaki semuanya?"

Dengan terkekeh, si pemilik peternakan menjelaskan, "Begini, di keluarga saya ada tiga orang, saya, istri saya dan anak kami. Dan setiap kali kami ingin makan ayam, kami semua berebut paha ayam. Akhirnya kami memutuskan untuk mengembangkan jenis ayam berkaki tiga, supaya ketika kami makan ayam, masing-masing bisa makan paha ayam!"

Sang istri berujar, "Wah, hebat! Pasti sudah lama ya anda beternak semua ayam berkaki tiga ini?"
"Begitulah, sekita 2 tahun." jawab sang peternak.
"Lalu bagaimana rasanya? Apakah sama enaknya dengan ayam pasaran?" selidik si suami yang penasaran.

"Yah", sang peternak menghela nafas, "masih ada masalah - kami belum pernah bisa menangkap satupun!"
Lanjutkan baca »

Kamis, 01 November 2012

Article#103 - Emak, Minta Uang: Refleksi di Awal Bulan

Setelah saya menghabiskan berbagai waktu saya berkutat dengan mengulas berbagai macam artikel dan fenonema sosial dari sudut pandang satirikal, gramatikal ataupun konikal, saya harus sedikit ganti gaya. Mengapa? Tanya kenapa? Sudahlah, untuk apa dipikirkan. Mulai saja yah...
***

Hari ini adalah 1 November. Awal bulan yang baru, yang menandai telah berlalunya lima per enam dari tahun 2012. Dan juga hari yang ditandainya dengan terbitnya matahari dari ufuk timur (iya lah, emangnya mau kiamat, terbit di barat). Tentunya sebagai bocah-bocah perusak kesenangan orang lain dengan iler yang membanjir ke kamar tetangga, bulan November akan dimaknai sebagai bulan yang baru datang (jangan disalahartikan dengan datang bulan), yang menawarkan sejuta kesempatan, sejuta harapan, meski sayangnya nggak termasuk sejuta piring cantik. Serasa undian di suatu mall terkenal di daerah metropolitan Ibukota. padahal lumayan kan kalau dapat piring cantik, selain bisa dipake makan dengan tenang dan damai, juga bisa dipeluk-peluk dengan kasih sayang, terutama buat para jomblowan... Eh salah. Tetap saja, sebagaimanapun berjuta-juta barang tak jelas tadi ditawarkan dan dipajang layaknya koleksi hewan piaraan Pak Bonar, rupanya bocah-bocah perusak kesenangan itu harus segera bangun, mengelapi ilernya yang berleleran dan segera bersiap. Tetap ada kuliah, walaupun mata kebanyakan mahasiwa telah terbuai dengan iming-iming harapan libur. Emang sial yah si universitas, masa' kagak boleh libur sedikit sih para mahasiswa, kan capek dari Senin ampe Jum'at kuliah mulu. Pengen istirahat, maen atau tidur gituh. Ironisnya, ucapan tadi dikoarkan oleh salah satu mahasiswa bernama Bam*ang (nama disamarkan), yang selama kuliah pun yang disumbangnya bukan pertanyaan atau duit (mimpi kali ya, berharap mahasiswa menyumbang ke universitas), tapi hanya air dan nada-nada melodia. Tepatnya, air liur dan melodia dengkuran. Pengen juga sih rasanya memukuli itu anak biar sadar dikit ama hidupnya, tapi memukuli diri sendiri susah ternyata.

Selain iming-iming harapan, rupanya bulan baru juga menawarkan yang lain. Mahasiswa, apalagi yang jauh dari rumah dan keluarga tercinta yang selalu setia dan penuh kasih sayang, hingga saking rindunya tiap pagi selalu tereak-tereak dengan nada alaynya, "BABEEEH!! NYAAAKEEH!! HUWEEE!! CIYUS NIH NACINYE BELON JADI NYAAK?", biasanya mendasarkan fondasi keuangan dan gizinya kepada warung nasi uduk sebelah yang rajin nyiapin uang sedekahan, ekstra seporsi nasi telor ayam (bukan nasi ditambah telor ama ayam, cukup nasi dan telornya ayam) yang entah kapan dimasaknya. Kadang telornya udah dapet ekstra protein dan serat dari zygospora. Lumayan lah, mahasiswa kan emang butuh gizi ekstra. Tapi kebanyakan mahasiswa justru beranggapan, masakan yang jelas-jelas ekstra gizi ini nggak baik bagi kesehatan. Mereka malah nyari makanan yang, udah bayar, mahal, dikit, nggak enak pula. Otomatis, mahasiswa yang belum/nggak mau kerja harus menerima anggaran keuangan hidup mereka dari ATM (Awak Tanggungan Mamak).

Disinilah masalah bermula. Demi menghindari jadwal padat sinetron yang biasanya berlangsung pada tengah-akhir bulan, atau promo minyak telon bayi yang kadang-kadang datang bersamaan dengan nikahan anaknya Pak Ajis, biasanya para sumber modal ATM mengirimkan uang yang ditujukan pada entah siapa, saudara, keponakan, atau anaknya tercinta yang sedang menempuh kuliah nan jauah di mato~ (maaf jadi nyanyi). Dan sayang sekali, di beberapa kampus, jadwal pengiriman uang untuk si bocah tengil tersayang ini bertepatan dengan pelaksanaan ujian tengah semester, yang keberadaannya saja kadang membuat mahasiswa panas dingin. Mungkin ujian nya mengandung virus flu, entahlah. Bayangkan posisi anda sebagai seorang mahasiswa yang dituntut untuk performa maksimal dengan pelumas top pertama.. sementara bahan bakar untuk memacu performa itu dihambat konsumsinya akibat kanker yang paling miris, kantong kering, atau dalam dialek Indonesia selatan, sering juga digunakan istilah 'kanker dompet'. Terkadang memang posisi ini menimbulkan dilema yang berkecamuk layaknya hurikan di hati beberapa mahasiswa. Ada yang menanti di gerai ATM, antri sejak sebelum Shubuh. Dengar-dengar juga beberapa dicegat sama orang siskamling, mungkin karena dandanan yang menor, tapi berpakaian necis dan makan buncis. Untungnya, sampai sekarang, belum ada laporan mengenai mahasiswa yang cukup setres sampai harus dibawa ke kliniknya Pak Ajis. Meskipun memang ada sih beberapa laporan mengenai mahasiswa yang bela-belain pergi ke luar kota untuk nonton konser girlband. Tapi sepertinya tujuannya minta dibikinin pe-er deh.

Nasib anak beasiswa juga nggak jauh beda. Digantung ama si emak empunya ATM, gara-gara uang nggak bisa ngalir. Iya lah, elu kira bandrek..? Terlepas dari apapun isi lirik lagu gantung-nya Melly Guslow, si bocah tengil yang tadinya berlagak selow ini cuman bisa jerit-jerit layaknya kuda terjepit, "Emaaak!! Minta uang emaak!". Saya pikir si emak akan langsung mendendangkan cuplikan lirik lagu Mawar Bodas, "Hoream teu sudi teuing..", lalu saya tersadar jika dia bukan orang Sunda. Sayangnya, dia ternyata berasal dari daerah lain yang terkenal dengan tradisi misuhnya yang luar biasa, yaitu kantor pemerintah. Tepatnya kantor camat, depan loket pengurusan KTP. Dan, akhirnya para bocah tengil kesal dan menimpuki si emak dengan surat, tentunya bukan surat cinta. Mata asli dan mata batin mereka masih cukup peka. Bahkan, setelah dipingpong dengan labilnya kiriman uang yang minta disetelin rekaman lagu Carly Rae Jepsen, baru saja malam ini bocah-bocah tengil yang bangun dengan iler berleleran tadi ditimpuki hujan es. Kecil sih memang, sebesar kacang hijau doang. Tapi namanya diberondong kan tetep aja sakit. (pukpuk sabar yaa bocah tengil)..

Dan sekarang para bocah tengil telah kembali di depan komputer mereka, menatap dunia maya. Meskipun banyak waktu kalian, termasuk pula saya, banyak dihabiskan di depan dunia maya, saya harap bulan ini tidak menjadi sesuatu yang maya, tegak, apalagi diperbesar. Berhasil dimanfaatkan dengan optimal saja sudah cukup. Semoga bulan ini tidak hanya datang dan pergi layaknya promo gelas cantik.

Sudah dulu mungkin, sampai jumpa lain waktu! Ini hadiah penutupnya:
ceritanya piring cantik...
Hati-hati di jalan, kalian semua!
Lanjutkan baca »

Selasa, 30 Oktober 2012

Article#102 - Kutipan Hari Ini

"Sometimes you have to go up really high to see how small you are—Terkadang kau harus pergi begitu jauh ke atas untuk menyadari betapa kecil dirimu."
~dikutip dari kata-kata Felix Baumgartner, pemegang rekor dunia untuk terjun jatuh bebas tertinggi (39.045 m) asal Austria, pada 29 Oktober 2012, 20:47 (UT+9)


Lanjutkan baca »

Senin, 29 Oktober 2012

Article#101 - Idola, Dari Panutan Hingga Fanatisme

Siapa dari kalian yang punya idola?
Yah, pertanyaan saya nampaknya agak retoris. Mungkin bisa dibilang semua orang di dunia ini punya idolanya masing-masing, siapapun mereka. Ada yang menjadikan orangtuanya sebagai idola, ada yang menjadikan seorang tokoh tertentu, baik tokoh sosial, agama, olahraga atau dunia hiburan sebagai idola, ada yang menjadikan sebuah komunitas sebagai idola, bermacam-macam lah. Kata 'idola' telah menempati posisi yang nyaman didengar dan wajar digunakan dalam kehidupan bermasyarakat (khususnya di Indonesia) saat ini.

Tetapi, apakah kalian tahu apa arti dari kata 'idola' itu sendiri?
Kata 'idola', atau 'idol', secara linguistik berasal dari kata Yunani είδωλο ('eído̱lo'), " yang berarti 'gambar' atau 'bentuk', lalu diserap menjadi kosakata Latin Baru idolum, lalu menjadi kosakata Anglo French idle, sebelum akhirnya diserap ke bahasa Inggris menjadi kata yang resmi dikenal sejak abad ke-13 Masehi, 'idol' atau 'idola'. Kamus Merriam-Webster mendefiniskan kata 'idola', atau 'idol', dalam berbagai makna berikut:

  1. a representation or symbol of an object of worship; broadly : a false god; 
  2. a: a likeness of something    b: obsolete : pretenderimpostor
  3. a form or appearance visible but without substance 
  4. an object of extreme devotion ; also : ideal 2
  5. a false conception : fallacy

Nampak citra istilah 'idola' yang cukup miring disini. Dan seiring berlalunya waktu, kata ini mengalami ameliorasi (penghalusan makna). Meskipun makna substantifnya sebenarnya tak berubah, tetapi masyarakat sosial melunak terhadap penggunaan kata ini, dan saat ini kebanyakan orang memaknai kata idola sebagai 'tokoh yang dikagumi', 'panutan' atau 'pujaan'. Padahal dahulu, orang Inggris sana menggunakan kata 'idol' untuk merujuk pada patung.

Saya tidak akan bahas mengenai konspirasi paganisme disini. Tetapi, nyatanya, banyak sekali orang di dunia ini (termasuk Indonesia) yang memuja-memuji tokoh idolanya sedemikian rupa, sudah mirip dengan tradisi pagan dimana orang-orang memuja smbol-simbol dan 'idol' yang mereka yakini dapat memberi kebaikan kepada diri mereka. Persis seperti definisi nomor 4 di atas.
Kalau kata orang banyak jalan menuju Roma, karena saya bukan pengurus biro perjalanan ataupun duta negara, saya akan cukup bilang saja, banyak jalan menuju idola. Yang paling umum, dari kemampuannya di suatu/berbagai bidang tertentu, yang biasanya ditandai dengan kata-kata 'keren', 'menakjubkan' atau  sejenisnya. Jalan lain menuju idola, bisa melalui kepribadian yang spesial, meskipun umumnya lebih sulit bagi golongan ini untuk menggapai status 'idola', itupun jika mereka memang mengincarnya. Dan yang paling mudah, dan sekaligus pula paling mudah membuat orang geleng-geleng rambut, jalan menuju idola dengan hanya mengandalkan atribut dirinya. Entah atribut dari penampilan, atribut dari darah, dan lainnya.

Ketika seseorang dikategorikan sebagai idola, banyak orang berbondong-bondong ikut mengidolakannya, terkadang dengan alasan yang benar-benar sepele atau bahkan tanpa alasan sama sekali. Ada yang rela menyaksikan pertandingan sepakbola berjam-jam dan belajar memahami dunia sepakbola dengan diawali dari kekaguman akan salah satu pemainnya (yang biasanya dibarengi mengidolakan klub bernaungnya si pemain, atau lainnya). Ada yang rela mempelajari dunia musik lebih jauh dari hasil kekagumannya terhadap seorang pemusik atau penyanyi, dan banyak lagi. Sampai saat ini, meskipun terkadang terasa sedikit mengganggu (khususnya jika dia mengelu-elukan tokoh tersebut di hadapanmu), selama semua itu mengarah ke tindakan yang positif, saya rasa masih tidak masalah.
Masalah bermula ketika pengidolaan sudah mengarah ke fanatisme. Untuk konteks pengidolaan, titik fanatisme dimulai ketika seseorang mengidolakan sesuatu sedemikan rupa, hingga muncul pembenaran dalam penyikapan atas sang tokoh idola. Tak jarang, gaya hidup sang idola yang biasanya muda, kaya dan cantik atau tampan serta terkenal ini menjadi idaman bagi para penggilanya. Para pemuja idola sering membayangkan dirinya sebagai sang tokoh dan berlaku meniru sosok idolanya. Penampilan dan gaya hidup mulai dari model rambut, cara berdandan dan bahkan perilakunya dijiplak dan diikuti. Ketika sang idola melakukan kesalahan fatal dalam bersikap, seribu alasan dan pembenaran justru bukan datang dari mulut idola, tetapi dari para pendukung setianya, yang seolah telah dibutakan dari kenyataan. Seperti yang pernah dikatakan salah satu rekan saya, "Saya membenci fanatisme, karena ia membuat orang mengesampingkan logikanya." Saya pikir cukup mudah juga membayangkan para remaja labil yang rela mengantri dan menunggu berjam-jam hanya demi bertemu, menonton aksi sang idola, atau sekadar melihatnya dari kejauhan. Beberapa bahkan rela tak makan, rela berkelahi, rela merusak nama baiknya sendiri, rela 'menggadaikan' nyawa mereka demi sebuah label idola yang bahkan belum tentu peduli akan nasib para penggemarnya. Sekali lagi, sebagaimana pernah penulis bahas, ilusi memang paling andal dalam membuai dan membutakan manusia.
"That idol, which you love so much, may be not love you back,"

Dan yang parah, fanatisme semacam ini tak hanya ditujukan kepada 'idola' berupa orang. Karena aslinya kata 'idola' atau 'idol' sendiri memang ditujukan untuk sesembahan, terutama patung, maka benda yang dijadikan 'sesembahan' oleh manusia masa kini sendiri banyak pula yang berupa benda tak hidup, meskipun memang secara konotatif. Jutaan orang sekarang 'menghamba' kepada uang, yaitu mereka yang menghabiskan segala usaha mereka, dan menghalalkan segala cara demi uang, yang tak lama kemudian menguap juga dari tangan mereka, pergi ke kantong para pedagang dan pengusaha. Banyak juga yang lain 'mengabdikan diri' pada kekuasaan, dan berbagai gemerlap harta dunia lainnya. Sekali lagi, ilusi paling andal dalam mempengaruhi manusia sehingga ia mementingkan suatu hal yang (sebenarnya) tak penting baginya.

Dan, setelah segala macam ocehan tentang idola, mungkin pada akhirnya saya harus menjawab pertanyaan 'sakral': 'Siapa idola saya?'. Tetapi, mungkin juga tidak. Sejak dulu saya tidak suka dilekatkan dengan sebuah identitas khusus, dan mengidolakan satu figur tertentu tentu memberi saya identitas khusus itu secara otomatis. Saya tak pernah peduli akan identitas khusus, apapun itu, jika ia melekat begitu saja dan tak bisa saya otak-atik sesuai degan porsi yang tepat. Boleh saja kalau anda menyebutnya 'sok ekslusif', saya sendiri kadang merasa begitu. Tetapi tidak juga, lagipula, apa pentingnya sebuah identitas khusus jika ia melekat begitu saja tanpa usahamu untuk meraihnya, atau usahamu untuk membuatnya wajar? Apa gunanya kau mengaku-ngaku mengidolakan seorang tokoh yang terkenal bijak, jika sifatmu sama saja? Kembali ke topik, dengan sikap saya yang netral (kadang mungkin terlalu dipaksakan netral), kecuali untuk fenomena sosial semacam ini, meskipun saya bisa menonton dan mengevaluasi kelebihan dan kekurangan dari suatu figur tanpa emosi berarti, saya cukup kelabakan ketika menjelaskannya ke orang lain, jika ada yang mau repot-repot bertanya.

Tetapi, jika pada akhirnya saya ditanyai mengenai idola ideal, inilah jawaban saya. Bagi saya kriteria seorang idola yang ideal tidak banyak, cukup tiga saja (banyak?). Ia haruslah sesosok figur yang tak membuat saya malu membicarakannya, atau bahkan membuat bangga, karena kontribusinya dalam kebaikan bersama dan kepribadiannya yang luar biasa. Ia juga haruslah sesosok figur yang mampu menginspirasi orang, baik lewat kata-kata maupun dengan tindakan, meskipun harus saya akui bahwa menginspirasi melalui tindakan nyata terbukti jauh lebih ampuh daripada sekadar berlalu-lalang di layar kaca, meskipun memang tak kalah mulia tujuannya. Dan yang saya rasa paling penting, ia juga haruslah sesosok figur yang membantu munculnya perkembangan positif dalam diri pengagumnya. Sebagaimana kita ketahui bersama, seseorang secara tak langsung akan menyerap nilai-nilai yang dia temui pada sosok yang ia kagumi. Tentu dengan ini, baik-buruknya nilai-nilai tersebut, secara mentah, bergantung kepada si figur idola. Kalau kata pepatah, orang yang berteman dengan penjual parfum, pasti akan terkena harumnya parfum jua. Singkatnya, saya lebih menyukai makna 'idola' ketika ia layak dikategorikan sebagai 'panutan', bukan sekadar 'cerdas' atau 'tampan'.

Bagaimana dengan anda? Ingat, tetap jaga akal sehat supaya tak dibutakan ilusi, apalagi hawa nafsu. Jangan sampai kau tak bisa mengendalikan diri sendiri karena terjajah oleh keduanya..! (:g)
Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...