Kamis, 30 Oktober 2014

Article#358 - Pinang Dibelah Dua

Hampir empat bulan lalu, saya menuangkan segenap karya pada tulisan yang (hingga saat ini) paling gamblang mewakili preferensi saya dalam membahas dunia politik. Di tulisan tersebut, saya juga sempat menjentikkan angan, dengan harapan mereka yang sibuk bertarung beberapa bulan ke belakang, segera menghentikan pertarungan pada waktu pelantikan. Kemudian, sekitar sembilan hari yang lalu, saya juga telah merekam kisah perjumpaan dua calon yang sebelumnya bersaing.
Walaupun mungkin banyak orang yang pesimistis akan ide tersebut, mengingat bagaimana sengit pertarungan telah berlangsung, beberapa tetap membiarkan api harapan menyala.

Sayangnya, tak butuh waktu lama untuk membuyarkan itu semua. Sepertinya mereka akan terus bertarung tanpa bosan, mengingat keberingasan mereka dihidupi oleh hasrat. Bukankah utusan-Nya pernah menyiratkan, bagaimana manusia tak akan pernah puas?

Sempat terpikir dengan naifnya
Mereka yang berdebat tanpa arah
Hanya karena kubu yang terpisah
Akan segera menggencat senjata
Melempar bedil media sosial
Menyarungkan kembali pedang hujatan
Tatkala keputusan telah dibacakan

Tentu tidak demikian mudahnya
Menyatukan mereka yang berbulan beradu tengkar
Apalagi jika mereka merasa membongkar
Keburukan kubu seberang, kubu orang mungkar

Maka kembalilah ia dalam negeri jungkat-jungkit
Dengan sekelompok besar yang menghamba
Memanjatkan segala puji puja
Menafikan segala macam janggal
Memaafkan segala ragam alpa
Mengiyakan segala luap ucapan
Mematikan segala percik nalar
Menabikan ia yang tak pernah salah

Namanya juga negeri jungkat-jungkit
Tentu ada pula yang terkobar angkara
Mencurahkan segala lapis hujat
Menelisik segala macam janggal
Memindai segala ragam alpa
Menyerang segala luap ucapan
Mematikan segala percik nalar
Menafikan ia yang senantiasa salah



Pertarungan sengit tanpa tedeng aling-aling agaknya akan menjadi bahan santapan kita semua, setidaknya dalam lima tahun ke depan. Pertarungan antar mereka yang gelap mata, dibuat mencandu oleh sosok, kelompok, maupun kubu yang mereka puja-puja. Pertarungan dengan gaya berpikir yang sama, cara menyerang yang sama, metode pengkultusan yang sama. Hanya apa yang mereka pujalah yang membedakan antar semuanya.
Pada akhir kata, mungkin contoh terburuk dari semuanya adalah mereka yang dengan tenang menguliti wajah mereka, sebagai individu yang bersih tanpa kesalahan.

Berikut penutup tulisan. Selamat menikmati.

sumber gambar
Lanjutkan baca »

Selasa, 28 Oktober 2014

Article#357 - Sumpah Pemuka

Kita (mungkin) diizinkan untuk bingung membedakan penggunaan istilah "menteri", terutama ketika kau terbiasa bergelut di atas papan catur. Siapa sih yang tak ingat motif hitam putihnya yang melegenda itu?
Tetapi, di dunia yang makin banyak merambah dunia digital, perjalanan kebanyakan dari kita akan membawa diri beranjak meninggalkan banyak permainan serupa. Termasuk papan catur lipat, dengan tigapuluh dua bidaknya yang mungkin saja teronggok di bawah lapis debu, di sudut lemari rumahmu.

Mungkin, dari sederet kalimat di awal, ada dari pembaca yang membiarkan pikirannya berkelana. Apa jadinya jika dalam puluhan tahun ke depan, generasi muda bangsa yang baru berkenalan dengan kosakata "menteri" tidak melayangkan ingatannya pada bidak yang meluncur miring sesukanya itu. Alih-alih membuka kenangan lama, dengan bidak yang kalah berjatuhan sebagai atribut, yang terlintas justru sederetan nama kosong tanpa warna sinestesia.
Deretan nama, di mana beberapa darinya pernah terucap dari entah penyiar mana di stasiun televisi. Atau mungkin terpercik dari sekian banyak interaksi yang dengan hangat membicarakan mereka, bertengger nyaman pada bangku penabuh kebijakan.

Di sisi lain, mendengar kosakata "catur", belum tentu generasi muda nanti akan segera mengingat papan bercorak hitam-putih yang melekat pada ingatan para generasi tua. Mungkin akan ada yang memamerkan kebolehannya, berdialektika dengan gaya yang diulang berkali-kali di bangku sekolah.
Bahasa Sanskerta, huruf Pallawa. Dengan pemaknaan demikian, maka "catur" akan dimaknai "empat". (Sangat sedikit mungkin generasi muda saat ini, yang pernah merasakan sistem "caturwulan" alih-alih "semester" dalam menempuh bangku pendidikannya.)
Para penerus, generasi harapan, generasi muda itu mungkin pula mengaitkan kata "catur" dengan sepupunya yang bertatahkan himpunan, "percaturan". Mengutip berbagai ragam media yang masih setia menggunakan kata tersebut di tengah gempuran kosakata serapan.

Pada akhirnya, ketika kita membahas "menteri" di masa-masa seperti ini, tentu isi kepala orang-orang tak akan beramai membahas cara si menteri menaklukkan bidak ratu lawan yang demikian trengginas.
Menteri-menteri yang baru saja dilantik, tentu tak akan diarahkan untuk menggempur bidak lawan begitu saja. Apalagi dengan pergerakan yang luwes nan riskan.  Tetapi, berjuta pasang mata hanya bisa mengangguk saat keputusan ditetapkan, dan merekalah nama-nama yang akan menghiasi papan percaturan politik lima tahun ke depan.

Generasi mendatang mungkin tak akan semudah kita di generasi sekarang, dalam merangkai menteri dan catur dalam berbagai kombinasi makna. Tetapi, mungkin perlu diingat, bahwa hal yang kita tak sepenuhnya ketahui, tak baik jika sesukanya kita nilai. Bahkan ketika kita bersumpah dalam hati, tanpa banyak menyadari.
Kami para pemangku reka cipta, mengaku bertumpah ruah yang satu, terbanjir pada manusia.

Kami para pencari mula hikayat, mengaku berdialektika yang satu, niat yang rahasia.

Kami para pemuja kerja fasia, menjunjung citarasa persatuan, rasa tua berusia.
sumber
Pada akhirnya, tersirat sudut pandang yang menusuk kuat, ada terawang yang mengguncang jiwa dalam gigilan. Tak berkesinambungan, namun senantiasa hadir ketika stimulasi diberikan.
Semoga mereka mengemban harapan dan impian dalam keselarasan.
Lanjutkan baca »

Jumat, 24 Oktober 2014

Article#356 - Bangkitlah


Champion of Life

oleh MUHAMMAD AINUN NADJIB

MUNGKIN HANYA BEBERAPA
 orang yang sibuk mencemaskan bahwa bangsa Indonesia sedang nyenyak tidur, sehingga berpikir ‘Bangsa Indonesia harus bangkit’. Para pemimpin yang sedang asyik-asyiknya ‘bertugas membangun Indonesia’ mungkin berpikir sebaliknya: ‘Kita sudah dan sedang bangkit’, bahkan sedang menikmati ninabobo dunia internasional yang menganugerahinya ‘
Award of Kebangkitan’.

Adapun rakyat: bangkit dari tidurnya pagi-pagi buta, pukul 02.00 dinihari sebelum ke pasar atau sawah. Rakyat yang berposisi juragan dan mengupah, sudah bangun ketika yang diupah, misalnya Presiden, masih tidur. Sampai ada yang bikin filosofi : rakyat yang baik adalah yang rajin shalat Subuh. Untuk kasus Indonesia di tengah dunia, jangan sampai Presiden rajin shalat Subuh. Jangan biarkan Presiden ‘berwarna terlalu hijau’. Itu mengganggu komposisi warna global permukaan Bumi, sebagai Soeharto di ujung kekuasaannya.

Tapi pasti: Rakyat Indonesia tiap hari bangkit, karena tiap hari jatuh. Kejatuhan adalah parameter utama rakyat dalam mengukur setiap pemerintahan yang menimpanya. Seberapa kadar kejatuhan rakyat pada penguasa yang ini, yang itu, di zaman Kerajaan maupun Republik. Rakyat Indonesia adalah pakar kejatuhan, dan itu mendidik mereka untuk menjadi tangguh sebagai Pendekar Kebangkitan.

Apakah karena itu bangsa Indonesia layak disebut sebagai Bangsa Garuda? Dan jangan diremehkan sebagai bangsa ‘Emprit’? Silahkan. Yang jelas burung Emprit sampai hari ini masih terus bercicit-cicit di hutan, kebun, sawah, sementara Garuda sudah tidak ada, atau tidak pernah dijelaskan kapan pernah ada. Jangan-jangan yang kecil sesungguhnya lebih sigap dan terampil untuk bangkit dibanding yang besar.

Memang sih Garuda memperoleh kelahiran kedua pada usia sekitar 40 tahun dengan terlebih dulu mengalami penghancuran atas paruh dan kuku-kukunya, yang kemudian, bagi yang lulus: tumbuh paruh sejati dan kuku sejati. Sebagaimana Garuda yang terbang ke gunung-gunung batu untuk mematuki dan mencengkeram batu-batu itu sampai paruh dan kukunya tanggal — bangsa Indonesia hari ini juga sedang riang-riangnya menghancurkan paruh dan kukunya sendiri.

Itu kalau Garuda. Emprit lain soal. Atau bangsa Indonesia bukanlah Garuda maupun Emprit. Mereka adalah manusia yang berlaga di bumi langit kemungkinan, bukan makhluk yang menyempitkan diri ke dalam kepastian hakekat Garuda atau Emprit. Bangsa Indonesia berdaulat untuk menjadi satu dari keduanya, atau menjadi gabungan antara keduanya sekaligus. Toh Garuda tidak pernah benar-benar diwacanakan oleh perjalanan Negara Republik Indonesia. Ia hanya diperlukan gambarnya untuk meletakkan lambang-lambang Panca Sila di dadanya, dengan 17 helai sayap dan 8 helai ekor, melambangkan hari kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Untung Indonesia tidak merdeka pada tanggal 1 Januari. Bayangkanlah karakter Garuda bersayap sehelai dan berekor sehelai.

Kemudian ketika kabarnya ada ‘desain global’ yang menggerakkan keyakinan penduduk dunia bahwa “peradaban berasal dari Barat menyebar ke Timur”, saya menengok ke arah Barat yang berada di Timur. Ketemu penjaga pintu ilmu (babul ‘ilmi) Sayyid Ali bin Abi Thalib dan ia menyampaikan titipan: “Wahai bangsa Indonesia, katakan kepada Tuhan bahwa kalian punya masalah. Dan wahai kamu, nyatakan kepada masalah bahwa kamu punya Tuhan”.

Tuhan sendiri menuturkan: “Wahai kalian yang (tidur membeku di) dalam selimut, bangunlah dan sampaikan peringatan…” — kepada diri kalian sendiri. Pastilah Tuhan Maha Tahu bahwa yang dikejar-kejar oleh bangsa Indonesia justru adalah selimut. Terutama para pemimpin dan Kelas Menengah yang tak percaya diri, atau tak punya diri, sehingga berebut selimut untuk di-display sebagai dirinya.

Tuhan sudah menggertak bangsa yang makin memuncak penyakit buta tulinya ini untuk bangkit: dengan bencana alam, kehancuran harga diri dan martabat kebudayaan, atau dengan istidraj kepada kepemimpinan para pemimpin yang Fir’aun pun tak sebejat dan semunafik itu, membiarkan tipu daya politik, mempersilahkan perampokan-perampokan harta terdahsyat sepanjang kurun ummat manusia hidup di muka bumi.

Tetapi tatkala memuncak kelalaian yang dihiasi oleh gaya modernism dan profesionalisme; kebodohan yang ditopengi oleh mitos kepandaian, gelar-gelar inferior dan khayalan untuk bertaraf internasional; juga kesombongan hedonistik yang semata-mata merupakan ekspressi kerendah-dirian — Allah dan Muhammad kekasih-Nya berjalan melintasi katulistiwa. Menoleh kepada bangsa Indonesia sambil tersenyum. Allah berkata “Fantadhiris-sa’ah”. Tunggu waktunya. Dan Muhammad menyindir “Antum a’lami biumuri dunyakum”. Kalian lebih tahu urusan dunia kalian.

Padahal tak tahu. Dan tidak mau tahu. Para pemimpin banyak yang “tidak tahu dan tidak tahu bahwa mereka tidak tahu”. Lebih dari itu, “tidak tahu tapi merasa sangat tahu”. Bahkan mereka yang ambil bagian untuk kasih tahu ini itu kepada bangsanya, yang seharusnya “tahu banyak tentang banyak hal”, semakin merosot untuk “tahu sangat sedikit tentang sedikit hal”.

Selimut sangat dibutuhkan oleh mereka yang bertugas mempertimbangkan, melaksanakan, serta mengawasi, sebab merekalah segmen yang termiskin dan kelaparan. Pengetahuan mereka terbatas pada upaya mendayagunakan alam bumi tanah air, Negara dan pemerintahan, untuk menumpuk makanan bagi jiwa mereka yang miskin, mental mereka yang inferior, krisis ketidak-berakaran sosial, serta kondisi ketidak-berbudayaan dan ketidak-berwajahan mereka.

Kini para penjajah global sudah menyiapkan selimut-selimut untuk agen-agen mereka, yakni para pemimpin Indonesia 2014. Dan rakyat Indonesia sudah menyiapkan ketidak-mengertian untuk mengabsahkan desain tahap berikut penjajahan atas diri mereka sendiri.
Sementara rakyat Indonesia sendiri tidak memerlukan selimut apapun, karena mereka sangat tangguh bertelanjang bulat di atas bumi di bawah langit. Rakyat Indonesia adalah kumpulan manusia-manusia istimewa di hamparan Nusantara yang pekerjaan utamanya adalah bersedekah selimut kepada para pemimpin dan pemerintahnya.

Tidak perduli apakah bangsa Indonesia berasal usul dari Negeri Atlantis, Sunda Land, atau turunan Nabi Nuh ketika darah istrinya dirasuki Iblis. Tidak urusan apakah sejarah manusia Nusantara lebih tua dibanding Yunani kuno, Mesir kuno, Inka Maya, Mesopotamia, sehingga juga jauh lebih tua dari Ibrahim yang menurunkan Yahudi dan Arab yang kini sedang menguasai dunia.

Tak perduli apakah benar atau tidak benar ‘kasepuhan’ nenek moyang Nusantara ini sengaja dikubur disembunyikan oleh pemenang sejarah dunia karena dahulu kala sudah merupakan perintis ’10 pilar peradaban’: dari mbah-buyut-nya pertanian bumi dan kemaritiman laut, bikin password pemindah hujan, penyusun awan dan penolak rudal, import logam dari Mars dan Neptunus untuk bikin keris, teknologi penerbangan frontal anti-gravitasi, penemu bahan adiksi-adiksi dari antara gunung berapi dengan laut selatan, 41 level santet, anak cucunya rindu trap-trap sawah pegunungan hingga bikin pyramid, atau apapun saja.

Juga biarkan saja apakah Maha (Perdana) Menteri Gadjah Mada dengan ideologi ‘ambeng’nya jauh lebih demokratis dibanding ‘tumpeng’ NKRI yang berlagak demokrasi. Pun tak usah disesali kenapa Majapahit bikin bangunan keraton dari kayu, sehingga hancur luluh tenggelam oleh luapan lumpur Canggu.

Yang penting, yang nyata hari ini bangsa Indonesia adalah ‘Champion of Life’. Jagoan dalam mengalahkan keadaan-keadaan hidup. Juara penderitaan. Sanggup membangun kegembiraan dalam kesengsaraan. Petarung kesulitan. Pendobrak kemustahilan. Tertawa dalam kehancuran. Pandai dalam kebodohan. Tidak mengenal lelah untuk terus menerus ditipu, dibohongi, diperdaya dan ditindas.

Di berbagai kegiatan hidup, dari keagamaan, politik dan budaya, rakyat Indonesia sangat eksploitatif kepada berhala-berhala. Sangat gemar bermain berhala, mengambil apa dan siapa saja sekenanya untuk diberhalakan. Esok paginya berhala itu dibuang, ganti berhala baru. Bukan karena manusia Indonesia suka menuhankan apa-apa yang bukan Tuhan. Dalam kandungan kejiwaannya justru terdapat kecenderungan untuk menuhankan dirinya sendiri, sehingga mereka ambil berhala, pura-pura menyembahnya, mengaturnya, mempergilirkannya semau-mau mereka.

Rakyat Indonesia tidak menuntut kepemimpinan kepada para pemimpin. Tidak menuntut komitmen kerakyatan kepada petugas pemerintahan yang mereka upah. Tidak menagih kesejahteraan kepada pengelola tanah airnya, bahkan mensedekahkan kekayaan kepada Kepala Negara Kepala Pemerintahan dan seluruh jajarannya. Tidak mempersyaratkan keterwakilan kepada para wakilnya. Lahap mengunyah disinformasi yang dipasok oleh para petugas informasi.

Rakyat Indonesia tidak mengenal kehancuran. Karena tidak berjarak dari kehancuran. Juga karena antara kehancuran dan kejayaan, antara riang dengan sedih, antara maju dengan mundur, hebat dengan konyol, mulia dengan hina, pandai dengan bodoh, sorga dan neraka, pada alam mental rakyat Indonesia: itu bukan polarisasi. tidak bersifat dikhotomis, tak berhulu-hilir: hulunya adalah juga hilirnya, hilirnya adalah juga hulunya.
Tak ada garis lurus interval. Kedua dimensi nilai-nilai itu berada dalam bulatan yang bersambung, yang kalau dipandang dari jarak tertentu: ia adalah sebuah titik. Rakyat Indonesia tidak tertindas oleh ketidakmenentuan dalam kehidupan bernegara. Republik ayo, Kerajaan monggo. Presidentiil silahkan, Parlementer tak apa. Kalau Pengurus Negerinya mengabdi kepada mereka ya tidak dipuji, kalau mengabdinya kepada diri penguasa sendiri ya dibiarkan, kalau tidak mengabdi malah menganiaya ya mengutuknya beberapa saat saja.

Bahkan manusia Indonesia lebih memilih lupa daripada ingat, lebih cenderung kepada tidak mengerti daripada mengerti. Sebab akurasi energinya mengarah ke kebahagiaan diri: ingat dan mengerti adalah tembok penghalang utama yang membuat mereka tidak mencapai kebahagiaan secara pragmatis dan permisif. Bahkan antara ingat dengan lupa juga diracik oleh jiwa manusia Indonesia menjadi sebuah kesatuan yang dibikin relatif. Kapan butuh ingat, dia ingat. Kalau yang menguntungkan adalah lupa, maka mereka lupa. Bahkan kalau melihat susunan saraf-saraf nilai dalam kejiwaan bangsa Indonesia, yang terindikasi pada pola perilaku budayanya: sebenarnya terhadap sorga mereka tidak rindu-rindu amat, dan terhadap neraka mereka tidak benar-benar ngeri.

Jadi, rakyat Indonesia tidak memerlukan selimut. Justru mereka adalah selimut bagi para pemimpinnya. Kalau pemimpinnya membutuhkan gagasan dan spirit bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, maka rakyat Indonesia juga turut mengucapkannya demi membesarkan hati para pemimpinnya. Kalau ada yang memerlukan keyakinan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kerdil, rakyat Indonesia malah menunjukkan kebesarannya dengan merelakan dirinya dikerdil-kerdilkan. Namanya juga selimut, silahkan digelar selebar-lebarnya, atau dilipat menjadi sekecil-kecilnya.

Dengan kata lain, kalau tidak ada arus sejarah yang mengajak mereka menyelenggarakan kebangkitan, atau membiarkan keadaan negeri ini terus begini-begini saja, tak ada soal bagi rakyat Indonesia. Sebab toh mereka punya kebangkitannya sendiri. Bahkan sudah menjadi naturnya manusia, bahwa dalam tidur itulah justru bangkit vitalitas perangkatnya.

Sebuah catatan bagi penulis sendiri pada khususnya, dan bagi kita semua pada umumnya. 
~disadur dan diterjemahkan pada Jumat, 24 Oktober 2014/1 Muharram 1436 H, 20:23 (UT+9), mengisi momen Tahun Baru Islam 1436 H.
Disadur dari kolom Emha di situs Kenduri Cinta.

sumber gambar
Lanjutkan baca »

Selasa, 21 Oktober 2014

Article#355 - Manusia Setengah Harapan

Saya tak persis ingat, kapan saya pertama kali mendengar nama oom Joko di lintas media massa. Mungkin ketika mobil Esemka (yang konon disokong oleh beliau saat menjabat sebagai walikota Solo) digadang-gadang demikian luas di berbagai wilayah. Saat itu, sudah demikian santer berita akan berbagai kekaguman yang diluapkan masyarakat akan sosok tersebut. Konon 90% pemilih Solo memilihnya sebagai walikota untuk periode kedua tahun 2010 lalu - sekitar 2 tahun sebelum sebuah manuver politik mengantarnya menjadi walikota di Ibukota. Dan, hanya butuh 2 tahun tambahan untuk memunculkan manuver politik lain, mengantarkan oom Joko pada pucuk kepemimpinan eksekutif Nusantara.

'Persaingan' menuju pucuk eksekutif ini pun telah menyisakan banyak cerita di kalangan mereka yang setia bersua dengan media massa, setahun ke belakang. Sebuah persaingan yang mencapai puncaknya ketika telah jelas, siapa melawan siapa, siapa mendukung siapa, siapa menghujat siapa. 'Pesta' di tengah tahun ini menjadi titik kulminasi persaingan antar kedua kubu, ketika mereka-mereka yang terpanggil, mereka yang merasa dipanggil, atau mereka memanggil-manggil, semua jelas terbagi. Mereka beramai merapatkan barisan, menyuarakan dukungan dengan lantang dari balik kerumunan.

Maka terjadilah 'pesta' itu. Atau persaingan. Atau apapun itu namanya.
Terjadi pulalah konflik. Atau intrik. Atau polemik. Entah apa lagi nama yang ciamik.
Konon ada cinlok. Juga ada yang sembarang main pilok.
Tentu saja, akhirnya tetap akan ada epilog.

Setelah berbagai cerita yang menarik dan penuh polemik, pada akhirnya oom Joko muncul sebagai pemenang dari 'pesta persaingan'.
Tak ayal, berbagai kalangan menyambutnya dengan gegap gempita, mulai dari mereka yang merelakan surat suara demi sebuah harapan, hingga pengamat luar yang merasakan aroma perubahan. Kalangan lain pun ada yang mencoba menerima kenyataan, bagai menghadapi undian yang gagal dimenangkan. Ada yang dengan lantang menyuarakan dukungan, kawalan, dan ada yang menyimpan kesumat dalam angan.

Ada pula yang menyebarkan lawakan.

Meme dari sampul majalah TIME (foto oom Joko, kiri), dengan
tema trilogi pertama Star Wars.
sumber gambar
Meme serupa, kali ini menyertakan kedua edisi trilogi Star Wars.
sumber gambar
Bagaimanapun dahsyatnya 'persaingan' yang telah terjadi dalam beberapa bulan ke belakang, pada akhirnya tokoh pucuk dari kedua kubu yang 'bersaing' menyempatkan diri bertemu, mengguyur bara menuju abu.

sumber
sumber

sumber
Kedua pucuk pimpinan dari tiap kubu sudah menunjukkan sikap berdamai. Semoga kalangan akar rumput segera menyusul.

Dan, berhubung oom Joko sekarang telah didaulat sebagai pemegang tampuk eksekutif negeri, saya harus memanggilnya Pak Joko, mulai sekarang.
Terkait hal tersebut, saya punya pesan untuk dititipkan.
Pak Joko, ada banyak hal yang bekerjasama, melanggengkan roda takdir, sehingga Anda bisa sampai ke posisi Anda saat ini. Mungkin ada media yang membantu melambungkan nama Anda, proyek-proyek yang Anda kerjakan, serta hasil yang banyak dibicarakan.
Tetapi, dari sudut pandang saya, hal yang menggerakkan orang-orang untuk memilih nama Anda di surat suara, adalah harapan mereka. Harapan akan pemimpin ideal yang lama dinanti, harapan akan negeri yang lebih bersih. Dari jiwa yang bersih, pikiran yang bersih, tindakan yang bersih, hingga masyarakat yang bersih, luar dalam.

Setengah karir Anda di kancah politik Nusantara, dari telah ditopang oleh harapan berjuta rakyat. Mulai sekarang, hingga lima tahun ke depan, akan menjadi saksi nyata, akan cara Anda membalas kepercayaan dan harapan mereka semua. Melengkapi setengah karir politik Anda selanjutnya.

Mari bersama menunaikan amanah, Pak! Mohon maaf jika banyak dari kami yang masih manja. Semoga kita bisa memperbaiki diri, juga negeri, bersama-sama.
Akhir kata, ucapan terimakasih perlu juga disampaikan kepada presiden sebelumnya. Terimakasih atas sepuluh tahun bersama kita semua, Pak Beye! Maafkan keisengan kami yang kurang memahami.

Catatan: Penulis ingin menekankan bahwa penulis tidak berpihak pada salah satu dari kedua kubu yang 'bersaing' pada 9 Juli lalu. Lebih lanjut bisa dibaca pada tautan berikut: http://goo.gl/dpXhl3
Lanjutkan baca »

Sabtu, 18 Oktober 2014

Article#354 - Kala Candra Merona

8 Oktober 2014, 19:24 JST (UT+9). 
Dalam tiga lunasi terakhir, para pecinta langit malam telah dimanjakan oleh tiga kesempatan Bulan purnama yang paling dekat ke Bumi dari seluruh purnama dalam tahun 2014. Dengan terang yang lebih dari biasanya, dalam tiga kesempatan itu Bulan menunjukkan parasnya yang paing cerah, yang oleh khalayak ramai disebut sebagai "supermoon", dan oleh kalangan tertentu disebut "purnama perigee".
Tetapi, situasi pada 10 malam yang lalu berbeda. Alih-alih bersinar terang, kali ini paras Bulan justru tampak menghilang bagian demi bagian, seolah ada yang menggerogotinya. Inilah yang disebut gerhana bulan, sebuah kejadian di mana paras Bulan perlahan tampak meredup akibat perjalanannya memasuki bayangan Bumi. Meskipun kecerlangan Bulan tampak jauh meredup, paras Bulan tetap dapat terlihat, dengan rona kemerahan yang khas. Pada saat ini, cahaya dari Matahari yang tampak terbenam di seluruh penjuru Bumi, diteruskan hingga menerangi paras Bulan dalam cahaya redup berwarna kemerahan.
Bulan pada posisi ini, meskipun tak sedekat posisinya pada momen purnama perigee, berhasil menarik perhatian ekstra para pecinta angkasa untuk sejenak menyintas langit petang, hingga malam meraja.

Gerhana bulan yang terjadi kali ini dapat disaksikan oleh mereka yang berdomisili di pinggir Pasifik, mulai dari Selandia baru, Australia, Indonesia, Asia Timur hingga segenap benua Amerika Utara. Gerhana bulan kali ini adalah gerhana bulan total kedua dari seri tetrad (empat gerhana bulan total dalam interval 6 bulan) yang berlangsung dalam tahun 2014 dan 2015 ini. Setelah gerhana total pada 15 April lalu, beserta gerhana total yang dibahas di laman ini, gerhana total berikutnya secara berurutan akan terjadi pada 4 April 2015 dan 28 September 2015.

Berikut, penulis telah menyuguhkan foto-foto gerhana bulan total hasil jepretan berbagai orang dari wilayah-wilayah yang berkesempatan menyaksikan gerhana total kali ini. Selamat menikmati!

Tambahan: Melewatkan gerhana bulan yang ini? Bersabarlah untuk sekitar 6 bulan ke depan. Gerhana pada tanggal 4 April dapat diamati dari wilayah Indonesia dan sekitarnya, walaupun fase total secara teoretis hanya akan berlangsung selama 5 menit. Bersiaplah!

Kolase foto gerhana bulan, mencakup fase gerhana penumbra, sebagian, dan total.
Seluruh citraan Bulan dipotret dari Queensland, Australia.
(Some Guy with a Camera/EarthSky)
Bulan pada fase gerhana total, dipotret dari San Diego, AS.
(Maxwell Palau/StarDude Astronomy)
Kolase foto gerhana bulan, mencakup Bulan pada fase gerhana sebagian dan total.
Seluruh citraan Bulan dipotret dari Manila, Filipina.
(Ritchie B. Tongo/EPA)
Bulan dalam fase gerhana total, dipotret dari Nanchang, Jiangxi, Cina.
(© Rex features)
Kolase foto gerhana bulan. Tiap citra di sisi kanan adalah citra asli,
sementara citra di sisi kiri adalah hasil perlakuan flip horizontal
dari gambar di sisi kanan.
Seluruh citraan Bulan dipotret dari Oshkosh, Wisconsin, AS.
(Connor Madison/SPACE.com)
Bulan pada fase gerhana sebagian, dipotret dari dekat Kathmandu, Nepal.
(Narendra Shreshta/EPA)
Bulan pada fase gerhana total, bersama planet Uranus (titik cahaya kebiruan, kiri).
Foto dipotret dari wilayah California, AS.
(Thomas Warloe/SPACE.com)
Bulan pada fase gerhana total, dipotret menjelang titik tengah gerhana total.
(Fred Locklear/Universe Today)
Bulan pada fase gerhana total, dipotret dari wilayah Nebraska, AS.
(John W. Johnson/The Virtual Telescope Project)

Bulan pada fase gerhana total, dipotret dari Albany, AS.
(Matt Pollock/SPACE.com)
Bulan pada fase gerhana total, dipotret dari wilayah Tokyo, Jepang.
(Yoshikazu Tsuno/AFP/Getty Images) 
Bulan pada fase gerhana sebagian, dipotret dari balik salah satu kabin
sebuah kincir ria di Tokyo, Jepang.
(Toru Hanai/REUTERS)
Bulan pada fase gerhana total, dipotret dari City Park di Casper, AS.
(The Casper Star-Tribune/AP Photo)
Bulan pada fase gerhana total, dipotret dari wilayah Gold Coast, Australia.
(Sam Ryan/theguardian)
Tak hanya dari luar negeri, para pecinta langit malam di berbagai daerah di Indonesia pun tak ketinggalan mengabadikan momen gerhana bulan total ini. Berhubung sebagian wilayah Indonesia ditutupi awan sejak Matahari terbenam, beberapa orang terpaksa mengurungkan niatnya memotret Bulan yang sedang menikmati masa gerhana.

Bulan pada fase gerhana total. Dipotret oleh Joshua Anderson
Kolase foto Bulan sejak berakhirnya gerhana total (U3hingga keluarnya 
Bulan dari bayangan umbra Bumi (U4). 
Diunggah oleh Satrio Hapsoro. Foto oleh Fikri Adin.
Bulan pada fase gerhana total. Dipotret oleh Teguh Supriyanto
Bulan pada fase gerhana sebagian. Dipotret oleh Juan De Marco
Bulan pada fase gerhana sebagian, dengan sedikit tutupan awan.
Dipotret oleh Adyn Azzah
Bulan pada fase gerhana sebagian.
Dipotret oleh Ma'rufin Effendy
Bulan pada fase gerhana sebagian. Dipotret oleh Mizar Soleh
Bulan pada fase gerhana sebagian. Dipotret oleh Ibnu
Bulan pada fase gerhana sebagian. Dipotret oleh Mustofa Ahyar
Bulan pada fase gerhana sebagian. Dipotret oleh Najib Mubaraq Al-Amri
Bulan pada fase gerhana total, dengan candi-candi pada kompleks Candi Plaosan di latar depan.
 Dipotret oleh pak Yudhiakto Pramudya
Bulan pada fase gerhana total. Dipotret oleh Dewi Sabiku
Tak hanya foto, rekan kita Fanzi Kobandaha bahkan membuat video. Selamat menyaksikan.


Di sisi lain, di jejaring sosial Twitter juga bertebaran foto gerhana bulan terkait. Penulis telah mencomot beberapa foto yang penulis nilai cukup menarik di bawah ini.
























Jika mata kalian telah berkelana sampai ke kalimat ini, berarti sudah waktunya tulisan ini undur diri. Gerhana total kali ini adalah gerhana pertama dari tetrad yang berhasil penulis amati secara langsung, secara utuh dari awal hingga akhir. Maka tentu saja, sebagai penutup yang legit, penulis akan memberikan foto gerhana bulan total jepretan penulis sendiri.

Citra Bulan pada gerhana total, dipotret memanfaatkan  finderscope pada
teleskop Vixen. Garis hitam yang melintang di depan paras Bulan adalah
garis bidikan pada finderscope.
Mungkin cukuplah demikian dari penulis. Sampai jumpa di lain kesempatan!

Jika ingin melihat koleksi gambar-gambar gerhana total lebih lanjut, sila kunjungi laman berikut.
http://www.space.com/27380-blood-moon-eclipse-photos-october-2014.html
http://earthsky.org/todays-image/see-it-best-photos-of-october-8-total-lunar-eclipse
http://metro.co.uk/2014/10/08/total-lunar-blood-moon-eclipse-across-the-globe-in-pictures-4898163/
http://www.independent.co.uk/news/science/total-lunar-eclipse-october-2014-the-best-pictures-of-the-blood-moon-9782082.html
http://www.theguardian.com/science/gallery/2014/oct/09/blood-moon-total-lunar-eclipse-photos
http://www.cleveland.com/weather/blog/index.ssf/2014/10/blood_moon_lunar_eclipse_pictu.html
http://heavy.com/news/2014/10/lunar-eclipse-october-8-2014-blood-moon-photos-pictures/
http://www.universetoday.com/115105/stunning-photos-of-the-hunters-moon-lunar-eclipse/
Lanjutkan baca »

Selasa, 14 Oktober 2014

Article#353 - The Obstinate Lighthouse


You guys might have heard about this short joke somewhere.
The topic covered is mainly revolving around an allegedly huge naval ship, whose commander is berating over someone at the other end of the line, about which side to divert its path in order to avoid collision. The commander even spent time to boast the mightiness of the squad under his command, hoping the other guy to shiver in fear and goes about his chores, only to realize that the guy at the end of the line is inside a lighthouse. An obstinate one, apparently.

Whatever is true out of the story plot, let these guys from snopes.com debunk it for you. Have a nice sip of reading.

Claim:   Aircraft carrier attempts to bully a lighthouse into moving out of its way. 

FALSE

Example:   [Collected on the Internet, 1998] 

ACTUAL transcript of a US naval ship with Canadian authorities off the coast of Newfoundland in October, 1995. This radio conversation was released by the Chief of Naval Operations on 10-10-95.

Americans: "Please divert your course 15 degrees to the North to avoid a collision."

Canadians: "Recommend you divert YOUR course 15 degrees to the South to avoid a collision."

Americans: "This is the captain of a US Navy ship. I say again, divert YOUR course."

Canadians: "No, I say again, you divert YOUR course."

Americans: "THIS IS THE AIRCRAFT CARRIER USS ABRAHAM LINCOLN, THE SECOND LARGEST SHIP IN THE UNITED STATES' ATLANTIC FLEET. WE ARE ACCOMPANIED BY THREE DESTROYERS, THREE CRUISERS AND NUMEROUS SUPPORT VESSELS. I DEMAND THAT YOU CHANGE YOUR COURSE15 DEGREES NORTH. THAT'S ONE-FIVE DEGREES NORTH, OR COUNTER MEASURES WILL BE UNDERTAKEN TO ENSURE THE SAFETY OF THIS SHIP."

Canadians: "This is a lighthouse. Your call."

Origins:   The tale of the self-important aircraft carrier captain getting his well-earned comeuppance at the hands of a plain-speaking lighthouse has been making the rounds on the Internet since early 1996. Most write-ups purport to be transcripts of a 1995 conversation between a ship and a lighthouse as documented by Chief of Naval Operations. 

It ain't true. Not only does the Navy disclaim it, the anecdote appears in a 1992 collection of jokes and tall tales. Worse, it appears in Stephen Covey's 1989 The Seven Habits of Highly Effective People, and he got it from a 1987 issue of Proceedings, a publication of the U.S. Naval Institute. 

It's far older than that, as this excerpt from a 1939 book shows:
The fog was very thick, and the Chief Officer of the tramp steamer was peering over the side of the bridge. Suddenly, to his intense surprise, he saw a man leaning over a rail, only a few yards away.

"You confounded fool!" he roared. "Where the devil do you think your ship's going? Don't you know I've got the right of way?"

Out of the gloom came a sardonic voice:

"This ain't no blinkin' ship, guv'nor. This 'ere's a light'ouse!"
Even older, a one-panel 1931 cartoon that appeared in the Canadian newspaper The Drumheller Review (but listing The Humorist of London, England as its source) displayed two men arguing through megaphones, one standing on the bridge of a ship, the other on the exterior walkway of a lighthouse, above this bit of dialogue:
Skipper: Where are you going with your blinking ship?

The Other: "This isn't a blinking ship. It's a lighthouse!"
Slightly different versions of the e-mailed account name different ships as the one which unwillingly gained a lesson in the unimportance of self importance. Having debunked this tale a few times themselves, the U.S. Navy has a web page about this legend, one that answers what three of the commonly cited ships were doing at the time this supposedly occurred. 

The Navy's take on this crazy bit of faxlore is contained in the following 1996 newspaper article:
The source of that story, which the Navy swears is untrue, is not known. It's a joke that has been floating around for at least 10 years, and maybe 30 to 40 years. Some think it originated in a humor column in Reader's Digest. Nobody knows for sure.

But for the past four months the story of the ship and the lighthouse has been passed along, as gospel, by comedy talk-show hosts, lazy newspaper columnists and clueless cyberspace jockies until it has taken on an air of the apocryphal. It clings to Navy lore like that old captain from "The Rime of the Ancient Mariner." And, like Coleridge's haunted captain, the Navy is having a real tough time getting this albatross off its neck.

This week the story was repeated by The New York Times News Service, quoting a Canadian newspaper. Last week it was read to a global radio audience on Michael Feldman's popular Whad'ya Know? program on Public Radio International. Earlier, the same network's Car Talk program aired the tale.

In the story's current form, the ship is identified as the carrier Enterprise. In the past it involved a battleship. A version that arrived via e-mail in Norfolk
from the U.S. Air Force Academy identified it as the "aircraft carrier Missouri." There is no such carrier. The Missouri is a retired battleship.

Various versions carry little embellishments. An amateur-radio buff communicating via the Internet said it happened in Puget Sound. A columnist in the Montreal Gazette said it happened last fall off the coast of Newfoundland. A columnist in North Carolina quoted a local man as saying it happened off the Carolinas.

"It's a totally bogus story, but over the last four months we've gotten at least 12, maybe 18 calls from different media sources trying to confirm that," said Cmdr. Kevin Wensing, an Atlantic Fleet spokesman in Norfolk. "Unfortunately, some of them don't check it out. They just repeat it.

"The first time I heard of it was — oh, let's see, how long — about 10 years ago or so, I think. "That story's so old," Wensing said, "it probably started out back in the galleon days, or back when there was a big lighthouse at Alexandria, Egypt."

Dutifully, when all those reports about the carrier Enterprise began to surface, the Navy had to follow procedures and check it out.

"Yes, we talked to the Enterprise," Wensing said. "It was like, "We've heard this story and we're pretty sure that it's without basis ... And their reaction was, 'What? You can't be serious.'"

For the record, Adm. Mike Boorda, the chief of naval operations, released no such transcript on Oct. 10. Or any other time, said Cmdr. John Carman, a spokesman for the admiral. "It's a joke," Carman said, chuckling in disbelief. "And not only that, I've been told it's a real old joke. Like 30 to 40 years ago, that old."

Of the many flaws in the recent version, the most glaring is that there is no longer a radio crew — or any crew, for that matter — on any lighthouse on the U.S. coastline. The last one was automated 10 years ago, said Lt. j.g. Ed Westfall, the lighthouse program manager for the U.S. Coast Guard's Fifth District, based in Portsmouth.

Westfall said he, too, had heard the story for years, but he had a different understanding of its origin.

"I always thought," he said, "it was just something one of us Coasties had made up to poke fun at the Navy."
In March 2008, Mike McConnell, the Director of National Intelligence in the U.S., opened his remarks to The Johns Hopkins University's Foreign Affairs Symposium with the lighthouse story, claiming, "Now this is ... true. I was in the signals intelligence business where you listen to the people talk and so on. This is true. It's an actual recording." 

For our closure, it would be nice to present a short clip regarding this. Have another nice sip of entertainment!
More stuff to read here

photo credit
Lanjutkan baca »

Senin, 06 Oktober 2014

Article#352 - Overtone

Japan had just bid Phanfone farewell.
As the pictures or videos of headbanging trees, flying rooftops and hurling waves continue to circle the realm of the local (or regional) news, some of the people residing in the affected area had their sky cleared of any typhoon influence. In the matter of an hour or two after the rain stopped, clouds recede out of the city's sky, revealing the afternoon sky as it supposed to be.

These are the time, when people rushed their way outside to appreciate the clear sky — even though it seems akin to celebrating at times. As if they were all driven by the similar penchant, they would all gaze over the skies, now only dotted by clouds here and there. Some will then grab their gadgets, capture the clear sky moments, while some other will quietly record every gentle curves of the clouds that afternoon.

They will seem to contemplate over the entire time of their time being outside. The depth of the sky' bluish hue, in itself, is more than enough to drive those minds towards each of their own wonderlands. In such a stance, the clouds' curves lit by the afternoon sun, or any kind of rainbow arc formed, will just add the awe in the gazing eyes.

Many had spoken of rainbows coming after storms. Some of them will proclaim it in a way how their so-called motivators spout upon the ears of their loyal fans. Loud, sometimes jarring, and redundant; as if their very tones are the one which will bring encouragement, to every bit of dust the sound wave flows past. Some other will whisper it as a consolation, spewed upon those broken souls craving for a glimpse of affection; offering heartfelt wishes to walk past the despair and embrace the colorful life. In common, what they are trying to spread is usually the same optimistic insight, that there await moments of cheers after moments of hardships.

Yet again, people will likely continue to speak about rainbows coming after storms, up till the moment where both will no longer take place.
But maybe, the most important aspect about the two counterparts, are the contrast. That might explain how people easily enjoy the clear sky right after the typhoon fades.
The presence of storms is what makes clear skies more appreciable.


Photo uploader: Nur'aini Yuwanita Wakan
Photographer: Almadina Tri Wahyu
Courtesy of Muhamad Shoufie Ukhtary
Courtesy of Muhamad Shoufie Ukhtary
Courtesy of Stevanus Kristianto Nugroho
Courtesy of Stevanus Kristianto Nugroho
Entitled "Sendai Uyuni" (仙台ウユニ湖), refering to the large salt flat,
Salar de Uyuni in Bolivia, due to the similar mirror-like feature
while a thin layer of water is present.
Courtesy of Takahiro Morishita
On the side note, the decision of staying in my room after Phanfone's passage might be the worst decision of the day.
Lanjutkan baca »

Sabtu, 04 Oktober 2014

Article#351 - Tetapkanlah


Ini adalah salah satu kisah yang cukup terkenal, diceritakan di berbagai tempat sebagai salah satu episode kehidupan Luqman al Hakim, seorang bijak yang namanya diabadikan sebagai salah satu surat dalam Al Quran. Luqman al Hakim terkadang diceritakan berinteraksi dengan anaknya, yang utamanya berisi petuah yang diberikan Luqman al Hakim kepada sang anak.

Tersebutlah suatu ketika, di mana Luqman al Hakim dan anaknya membawa seekor keledai dalam perjalanan mereka. Mereka kemudian berembuk, memutuskan bagaimana formasi mereka dalam menempuh perjalanan hari itu.
“Biarkan aku berjalan, Ayah. Ayah duduklah di atas keledai ini,” sang anak memutuskan.
Syahdan, mereka berjalanlah. Sang anak berjalan kaki, di sisi keledai yang menanggung beban Luqman. Mereka kemudian berpapasan dengan rombongan lain di jalan. Lamat-lamat telinga Luqman dan anaknya menangkap bisik-bisik dari rombongan tersebut,
“Lihatlah orang tua itu, tidak punya perasaan. Ia menaiki keledai, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki.”

Luqman dan anaknya saling pandang. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengubah formasi. “Hai nak, kalau kamu dengar kata orang tadi, naikilah keledai ini! Ayah akan turun,” Luqman berseru sembari bersiap turun dari pelana keledai.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama, ada rombongan lain yang mereka jumpai. Lagi-lagi mereka saling berbicara, cukup keras sehingga terdengar oleh Luqman dan anaknya,
“Lihatlah anak itu, kurang ajar sekali. Ia enak-enak naik keledai, sedangkan bapaknya dibiarkan berjalan kaki.”

Luqman kembali menatap anaknya yang terlihat bingung.
“Bagaimana menurutmu, nak?”
Sang anak hanya menggeleng, raut mukanya tak tentu.
“Jika demikian, mari naiki keledai ini bersama Ayah.”
Sang anak menaiki keledai, dan bersama mereka melanjutkan perjalanan dengan menunggangi keledai. Mereka kembali berpapasan dengan rombongan lain. Dan mereka juga berkomentar,
“Kejam sekali mereka, keledai sekecil itu dinaiki oleh dua orang.”

Kini raut muka si anak mulai terlihat kesal. Tetapi Luqman tetap tenang.
“Sudahlah, nak. Kita turun saja, kemudian berjalan di sisi keledai,” jelas Luqman. Sang anak mengangguk dan mereka turun dari keledai, menggiringnya di kedua sisi. Setelah beberapa saat, mereka kembali bertemu seseorang. Orang yang juga tak sungkan berkomentar,
“Betapa bodohnya mereka, punya keledai, tapi tidak dinaiki.”

Sebelum sang anak sempat meluapkan emosinya, Luqman segera menepuk pundak anaknya. Segera ia berikan petuah yang bunyinya terus membahana sepanjang zaman.
“Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah S.W.T semata. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi satu-satunya pertimbangannya.”

Sebuah catatan bagi penulis sendiri pada khususnya, dan bagi kita semua pada umumnya. 
~disadur dan diterjemahkan pada Ahad, 5 Oktober 2014/10 Dzulhijjah 1435 H, 00:53 (UT+9), mengisi momen Idul Adha 1435 H.
Disadur dari salah satu bagian kisah Luqman al Hakim.

sumber gambar
Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...