Minggu, 16 November 2014

Article#363 - Welcome To Planet... Ziemia



These illustrations from James Chapman manage to combine some of the things I've been quite fond of to during the latter years. Art, astronomy, and language, all combined to provide rich insight of differing culture's view to the heavens, while portraying it in a funnily interesting manner.
As rich as our culture might evolve to be, it will be likely to stay encapsulated within the only single planet capable of supporting life as we know it. Or, as Carl Sagan famously dubbed it, The Pale Blue Dot.
Therefore, it might seem appropriate to welcome our travelling minds back to reality.

Selamat datang di Bumi!
Welcome to the Earth!
ようこそ、地球へ!

You can find the original pictures here and here.
Chapman's site is focusing on expressions in various languages, from onomatopoeia to popular cultures. Be sure to take a look!
Baca selengkapnya disini..

Rabu, 12 November 2014

Article#362 - Reinkarnasi


Boleh jadi saya tak paham apa-apa.
Sebagai orang luar yang jarang mendapatkan kesempatan berinteraksi dengan orang dalam, dulu saya bukanlah orang yang akan mampu memahami berbagai terminologi yang dipakai komunitas lain. Lebih-lebih untuk memakainya dalam kehidupan sehari-hari, melebihi profisiensi pencetusnya sendiri.

Karena saya acapkali menemui berbagai terminologi yang terasa asing, maka satu dari sedikit hal yang dapat saya lakukan untuk mengakalinya adalah dengan memeriksa penerapannya dalam keseharian. Mereka memakainya dalam kondisi ini, menerapkannya dengan cara begini, mengartikannya dengan cara tersendiri.
Awalnya iseng-iseng, sesuka hati. Sekadar mereguk dahaga kekepoan yang mendadak merasuki sanubari. Akhirnya terlalu asyik, sulit berhenti.

Berbagai terminologi yang saya temui ini, kemudian terangkum begitu saja dalam glosari. Senarai glosari di dalam memori, yang bahkan jarang aktif ketika benak sedang asyik menyigi terminologi. Aktivasi glosari dalam memori ini sendiri tak jarang terjadi tanpa disadari, ketika impuls sengaja dipancing untuk mencari karya yang bergizi. Makin rajin keisengan menyuplai memori dengan gizi, berbuah khazanah kosakata beragam versi. Khazanah yang kerap berarti di kala jiwa sedang membutuhkan sesuap alterkasi, untuk membenarkan tindakan diri.

Agaknya, beragam kebiasaan yang kita bentuk akan menimbun tanpa pernah digali.
Dari potensi yang luar biasa, untuk kemudian meredup, dan kemudian merekah secara bombastis.
Dari sesuatu yang dipandang remeh, ia tenggelam, dan menjelma sebagai perubahan yang tak pernah terbayangkan.

Ada potensi tak terkira, menanti di luar sana.
Dan boleh jadi saya memang tak paham apa-apa.

Take me away, 'cause I just don't wanna stay
And the lies you make me say are getting deeper every day
These are crazy days but they make me shine
Time keeps rolling by

Keterangan gambar: 

(kiri) Siklon tropis Nuri, 3 November 2014. Gambar diambil dari lance-modis.eosdis.nasa.gov
(kanan) Siklon ekstratropis "ex-Nuri", 9 November 2014. Gambar diambil dari earthdata.nasa.gov 
Kedua gambar dipadukan memanfaatkan situs fotor.com
Baca selengkapnya disini..

Senin, 10 November 2014

Article#361 - Kutipan Hari Ini

The truth is not always beautiful, nor beautiful words the truth.”
- Kenyataan tak selalu indah, sebagaimana indah tak selalu nyata.
~dikutip dari kata-kata Laozi (Lao Tzu) (604-531 STU*), filsuf dan penulis puisi Cina Kuno. Versi asli kutipan dalam bahasa Mandarin. Dikutip pada 9 November 2014, 19:38 (UT+9).
*STU = Sebelum Tarikh Umum

sumber

(Bonus: Sedikit tulisan terkait 10 November, Hari Pahlawan)
Baca selengkapnya disini..

Kamis, 06 November 2014

Article#360 - Hayate

早手
Pikiran yang melayang terbang.
Berkelebatlah seisi kepala, akan mereka yang terbiasa mengarungi keseharian dalam lampias. Mereka yang dengan mudahnya bergegas, menjemput segala kesempatan tanpa harap lepas. Dalam kecekatan mereka lepas landas, jauh meninggalkan sesiapa berbekas. Mereka yang kemudian dikenal sebagai sosok cerdas, sosok tangkas, membiarkan deretan capaian menikas. Mereka yang beraksi dalam lekas, yang sanggup tuntas sebelum aku sempat meringkas. Hingga aku tak kunjung tancap gas, hanya memandangi tanpa pungkas, atas mereka yang menggapai langit luas.

疾風
Angin kencang kembali menerjang.
Kini pikiranku gagal terbang, kembali menjatuhi raga yang kedinginan. Pandanganku kini menelaah langit kebiruan, yang menghampar sejauh tujuan. Tujuan yang hingga saat ini belum jelas juntrungannya. Bahkan arakan awan yang tampak di kejauhan, tak terkesan akan memberiku jawaban. Tentu saja, kan?
Kembali kupandangi langit, dengan berusaha menghindari sinar surya yang menyilaukan. Silau yang kukira bisa mengangkat sedikit hangat, ternyata kalah telak oleh deru angin petang. Menggilas kesadaran perlahan, aku beranjak menyiapkan kedatangan. Kedatangan ia yang menghembus kencang tanpa kenal lelah.


Kembali ia, datang menjelang.
Boleh jadi, karakter besar yang terukir di raganya itu hanyalah nama. Sebagaimana entah berapa banyak individu lain yang juga menyandang nama senada. Tak pernah kudengar, atau kubaca, ada orang yang menyelipkannya dalam keseharian. Begitu pula ia yang melaju dengan kencangnya, tak pernah bergeming untuk mengutarakan makna.
Sedikit yang kutahu saat itu, bahwa dalam karakter terkandung harapan. Harapan yang mengajak seluruh bangsa dari pedihnya kekalahan dan keterpurukan. Dengan pemaknaanya sebagai kelajuan dan kekuatan, diajaknya segenap warga untuk menyuarakan kebangkitan. Bagai sepoi angin yang mengawali topan, ajakan kecil-kecilan itu diejawantahkan sebagai sebuah pencapaian. Maka dunia hanya bisa menatap tercengang, ketika mereka menyerukan sebuah kemajuan. Sebuah pencapaian. Saat itu, harapan yang ternyatakan itu menjelma sebagai senjata, membungkam orang yang sempat memandangnya sebelah mata.
Dan saat ini, wujud harapan itu terpatri pada apa yang menjadikannya nyata, melewatiku tanpa tanda tanya.

早く来てはやくき
Mungkin sudah waktunya datang.
Entah apakah waktu malam yang segera menerjang, yang membuat ragaku mulai bergetar. Keras, tampak tak terpengaruh oleh jiwa yang telah berusaha memberi kehangatan. Angin kencang yang tetap trengginas, mega merah yang mulai meluas, menahanku memandangi rona senja yang seolah bersinar tanpa batas. Arakan awan cerah kini berubah menjadi bayang kelam, entah karena kalah berkilau dari langit yang temaram, atau karena ditinggal mentari yang hendak tenggelam.
Hembus angin kembali menyelusup ke badan. Kali ini, ragaku sudah lebih siap menghadangnya. Raga yang kini tak beringsut walau sejenak, merasa sudah siap untuk menantang keadaan. Ia pandang langit, ekspresinya seolah pongah. Sementara jiwa memandangnya cemas, seolah ia akan kembali melampaui batas. Menyusun makna dari istilah, dalam urutan yang dipaksakan.

Asahidake (2.291 m), Taman Nasional Daisetsuzan, Hokkaido.
Dipotret pada 19 September 2013.

Niseko-Hirafu (~260 m), Kutchan, Hokkaido.
Dipotret pada 28 Oktober 2014.
Fujisan (3.776 m), Prefektur Yamanashi & Shizuoka.
Dipotret dalam kondisi sedikit berawan (16 Oktober 2014), tanpa awan (19 Oktober 2014),
dan kondisi ditudungi awan lentikular (21 Oktober 2014).
Disusun memanfaatkan situs GIFMaker.me.
Pada akhirnya, aku batal mempertunjukkannya. Yang bisa kulakukan hanya mengemasi barang, kembali ke peraduan. Aku berpaling dari temaram senja, dengan gaya yang mengesankan sebuah tekad. Tekad tanpa rencana, kemauan tanpa tindakan.
Cepatlah datang, kenyataan. Sudah lama kita tak bersua.
Baca selengkapnya disini..

Minggu, 02 November 2014

Article#359 - Gradasi


Syahdan, Nyonya Roosevelt pernah mengkotakkan tiga kategori pemikiran. Ada pemikiran yang besar, karena ia sibuk membicarakan terobosan. Ada pemikiran rerata, yang biasa memperbincangkan kejadian. Ada pemikiran kecil, yang senangnya mempergunjingkan. Meskipun demikian, adakah sebuah pemikiran, entah di kepala siapa, yang benar-benar murni "besar", "rerata", atau "kecil"?

Rasanya, kita punya berbagai kombinasi dari ketiga jenis pemikiran yang dimaksud. Kombinasi yang mungkin saja sangat berbeda dalam waktu yang berbeda.
Ketika berada dekat orang tertentu yang kita anggap spesial, kita cenderung mempertunjukkan "besarnya" pemikiran yang berkecamuk dalam kepala. Meskipun dalam beberapa kondisi, keinginan yang demikian kuat mempersulit pita suara menggetarkan pemikiran besar yang hendak dsampaikan. Kita menemui kondisi ini pada seorang yang tercekat oleh usahanya membuat kagum lawan jenis bicara.
Ketika berada dekat orang yang posisinya biasa saja di pikiran, kita cenderung tidak banyak berusaha untuk mempertunjukkan kehebatan pemikiran. Mungkin saja karena situasi yang dirasa tidak pas, atau karena memperdengarkan sebuah tutur tentang peristiwa lebih mudah untuk diusahakan. Maka mengucurlah pemikiran yang tidak istimewa, tetapi lebih dari cukup untuk menjaga interaksi terus berjalan. Meski pada kenyataannya, banyak yang memanfaatkan trik ini untuk menjaga pembicaraan dengan orang yang dianggap spesial berjalan lancar.

Pengkotakkan yang terakhir mungkin tidak punya kecenderungan khusus, sebagaimana dua kotak sebelumnya. Kita sangat mungkin membicarakan suatu sosok tertentu dengan orang yang dianggap spesial, yang dianggap dekat, yang sekadar kenal, bahkan yang belum pernah bertukar identitas. Mungkin ada kaitannya dengan usaha yang lebih kecil dalam mengekstrak ide yang tercetus menjadi sebuah gosip hangat. Dari sudut pandang lain, sebuah produk yang dibentuk dengan usaha kecil mungkin dianggap efisien. Dari sisi lain, ia bisa dianggap tidak berguna.

Seperti telah dijabarkan, warna pemikiran yang tersurat akan sangat berbeda dalam situasi yang berbeda. Ketika orang yang kauhadapi berbeda, ketika waktu pembicaraan berbeda.
Maka, apa ini berarti setiap orang punya kesempatan yang sama untuk menjadi seseorang dengan "pemikiran besar"? Mungkin ada kaitannya dengan pemikiran model mana yang lebih rajin ia kembangkan, juga tujuan sesungguhnya dalam mengembangkan sebuah model pemikiran.

Seperti gradasi, campur warna di sana-sini. Mencampurkan dalam komposisi tersendiri, dalam situasi di mana ia akan terlihat menarik. Tentunya, keahlian datang dari seberapa rajin kau berlatih.


*****

Lini masa terlampau bising, lagi.
Mungkin saatnya beristirahat sejenak, meninggalkan hingar-bingar kerusuhan yang bergema di segala arah.
Mari lupakan lagak bijak, sementara ketika kita berpijak, tak sadar ada banyak yang terinjak. Mari kesampingkan apa-apa yang tersurat, ketika yang tersirat tak mendapat perhatian.
Semoga nalar kita tetap menyala.

Step outside, summertime's in bloom
Stand up beside the fireplace
Take that look from off your face
'Cause you ain't ever gonna burn my heart out


sumber gambar awal
Baca selengkapnya disini..