Selasa, 24 Februari 2015

Article#392 - Fluktuasi Nukleasi


Sejenak langit terpaku mimpi
Bersama gemintang mengibar benderang
Angkasa yang terbentang sunyi
Merdeka dari kekangan awan
Bersama gemeretak deru angin
Menyelusup dalam dingin malam
Langit tak perlu basa-basi
Untuk menaungi mereka yang lelah
Karena dengan datangnya pagi
Mereka akan berbaris minggat
Memberi jalan bagi gemerlap fajar
Untuk membuka lembar selanjutnya

Sejenak pikir telah tergariskan
Bersama meningginya mentari
Akan melelehkan kristal beku yang mengangkasa
Juga yang bertumpuk bersama tapak kaki
Meski ada masa di mana mentari tak berdaya
Meski terkadang dingin pun tak berkuasa

Sekarang pagi yang meraja
Mempersembahkan cerah mentari nisbi
Dengan suhu yang tetap tak meninggi
Dan manusia yang tak juga lebih peduli
Sibuk dalam keasyikan sendiri
Barangkali dinding mereka berderak
Oleh angin yang datang bertubi-tubi
Tetapi bagi mereka yang lupa kenyataan
Deru angin pun tak digubris
Terbiar berteriak tanpa hasil


Sesekali justru awan yang meraja
Memberi semu monoton pada angkasa
Menjatuhi Bumi dengan berjuta kristal
Menyelimuti pandang segala arah
Tak peduli akan mereka yang menyalahkan keadaan
Tak bergeming pada segala macam keluhan

Seakan membalas perlakuan manusia
Kita saksikan alam sedang berjaya
Dalam menyelisihi harapan demi harapan
Seakan ada yang menertawakan
Menyindir raut-raut wajah yang kentara kesal
Mengharap cuaca akan patuh begitu saja
Wajah yang menuai perbuatannya sendiri
Mengganggu tatanan yang lama terpatri
Membuat kenyataan tak terkendali
Menghujani wajah mereka sendiri
Yang merasa memegang kemudi
Menjadi wajah pucat pasi

Sesekali kita menerawang kenyataan
Yang bersamanya kita berjalan
Mengakrabi dunia yang berubah
Dengan atau tanpa perselisihan
Mungkin malah dengan canda tawa
Berdampingan menatap kehidupan
Menyaksikan salju yang berjatuhan
Menggemeretukkan salju yang terinjak
Segera sebelum ia kalah oleh terik panas
Dan melambaikan lengan lemahnya
Untuk berpisah jalan



Hari 7260, dalam kerontang hangat berkepanjangan.
Selasa, 24 Februari 2015, 16:37 (UT+9)
38°15'09.69"N, 140°52'28.92"E
Baca lebih lanjut..

Senin, 23 Februari 2015

Article#391 - Transisi

Agaknya, kali ini musim semi lebih dini menghampiri, menilik dari perginya dingin yang menghuni sanubari. Karenanya, izinkan diri ini berpartisipasi. Mencerahkan hari-hari, mengembangkan senyum di hati.

(tulisan ini mungkin akan diapdet suatu hari nanti)




Baca lebih lanjut..

Sabtu, 21 Februari 2015

Article#390 - Ephemeri


Sebut saja benar adanya
Seorang petualang
Dalam kelambu berkalang
Dalam buana melanglang
Kemudian ia pergi
Menghembusi detik
Menafasi menit
Mengilhami hari

Sebut saja ia berkoar
Terucapkan petuah
Menyerukan ketinggian
Tanpa peduli sasaran
Ia mendatangi sanubari
Persemayaman nurani
Yang meminta diisi
Dengan ragam uji

Sebut sajalah ia
Kabur bersama awan
Memahami kefanaan
Menyintas kenyataan
Ajaklah ia pergi
Menghadap matahari
Melepas jiwa lari
Membayang dalam nisbi

Maka sebut namanya saja
Yang tiada terkenang
Menderas rerumputan
Menguap hilang
Bersama derai angin
Menggapai langit tinggi
Tanpa sejati diri
Berburu sunyi

Selintas mengawasi
Sepintas ilusi
Seutas menghubungi
Dan tak terdengar lagi


Hari 7257, disinari pantul putih sesalju.
Sabtu, 21 Februari 2015, 12:59 (UT+9)
37°30'31.47"N, 139°55'48.51"E
Baca lebih lanjut..

Rabu, 18 Februari 2015

Article#389 - Manipulasi

Sejak lama, manusia sudah terbiasa membayangkan keberadaan kehidupan manusia dalam skala yang belum pernah mereka jumpa sebelumnya.
Di satu sisi, skala yang diberikan adalah skala besar, di mana manusia menjadi sosok-sosok raksasa yang menjulang dengan langkah-langkah yang berdebam, menggetarkan bumi di sekitarnya.
Di satu sisi, skala yang diberikan adalah skala kecil, di mana manusia menjadi sosok-sosok kerdil yang berlarian ke sana kemari layaknya semut, menyelusupi celah-celah yang tak mungkin dijamah manusia biasa.

Beratus-ratus tahun peradaban manusia bergulir, dan cerita-cerita serupa berhenti sampai di tahap cerita. Hingga kemampuan artistik manusia meningkat, dan naskah-naskah yang terserak itu berhasil diejawantahkan dalam bentuk visual.

Beberapa orang lain tak puas hanya dengan perwujudan lewat naskah lama, dan memutuskan untuk merekam dunia untuk 'dipermainkan'. Dengan trik tertentu, dunia sebagaimana adanya dapat ditampilkan sebagai dunia mini.

Berminat mengunjungi dunia mini? Silakan berkelana.

Foto oleh Vincent Laforet
Foto oleh Arnar Birgisson
Foto oleh Carmel Kozlov
Foto oleh Claudio SepĂșlveda Geoffroy
Foto oleh Lachlan Sear
Foto oleh Karl Randay
Foto oleh Marisa Geraghty
Foto oleh House Photography
Foto oleh Sippanont Samchai
Foto oleh Lorenzo Baldini
Foto oleh Reven Sanchez

Kepo akan teknik menunculkan miniatur dunia? Sila cek laman ini
Kepo akan penerapan teknik tersebut? Sila cek laman ini atau laman ini
Baca lebih lanjut..

Minggu, 15 Februari 2015

Article#388 - Kontemplasi


Barangkali aku tak banyak tahu akan kenyataan.
Karena ketika aku menilik seisi kota yang membuatku bosan, aku terkungkung ketidaktahuan untuk melangkah. Terjerat kejenuhan akan sudut-sudut yang sama, bangun-bangun yang senada, bayang-bayang yang seirama. Ingin melangkah, tapi aku masih tersangkut pada suaka jiwa, dalam usaha menjaga kewarasan yang makin tak jelas gunanya.

Barangkali aku tak banyak tahu akan kenyataan.
Karena ketika aku berpindah dari kenyataan raga ke kenyataan yang mengisi jiwa, mereka tampak sebagai dua keadaan yag demikian berbeda. Sedemikian berbeda, hingga pikiran yang tak nyaman membaca keduanya sebagai lembar buku yang berbeda. Hanya sampulnya yang sama, seperti sederetan buku tulis di masa sekolahan.

Barangkali aku tak banyak tahu akan kenyataan.
Karena ketika aku melihat gemerlap angkasa, aku tak paham upaya menggapainya. Aku mungkin sadar bahwa sampai kapapnpun aku harus tetap berpijak, tetapi dalam diam, jiwa terus memberontak. Terbersit pikiran supaya kami berpisah jalan dalam sesaat dua saat, hingga kenyataan yang menautkan keduanya memaksa diri terus menapak.

Barangkali aku tak banyak tahu akan kenyataan.
Karena ketika aku masih sibuk megaruk liang, aku tidak menyadari kekeringan yang melanda permukaan. Dengan raga yang bugar menaungi jiwa yang pudar, pikiran jarang dibersihkan dengan cukup untuk mengamati dunia sekitar. Impian yang diumbar-umbar itu pun terserak entah sembarang, dipungut orang untuk disuguhkan kepadaku dengan beragam alasan.

Barangkali aku tak banyak tahu akan kenyataan.
Karena, dengan disibukkannya diri kita dalam beragam kegiatan, ada bagian-bagian pikiran yang senantiasa luput dari perhatian. Kesibukan yang berbeda, diakrabi sedemikian rupa dengan jiwa yang melayang terbang entah ke mana. Petik saja kesibukan itu ketika ia terlanjur mengakar, maka tinggalah jiwa tua yang hampa, dalam raga yang tak tahu harus berbuat apa.

Bukan barangkali, aku memang tak paham kenyataan.
Karena, aku tidak mengetahui betapa kehampaan menyiratkan adanya wadah untuk tampungan. Tampungan yang biasa kupenuhi dengan senarai cerita ragam perjalanan. Dan fakta bahwa aku sudah mengalaminya berulang, menyiratkan betapa aku demikian mudah terlarut dalam pembaruan demi pembaruan.
Aku hilang, dan aku datang tanpa terjatuhkan.

Benar, aku memang tak paham kenyataan. Dan karenanyalah aku sangat menikmati saat-saat mempelajarinya.

Springbed, Pulau Kapuk. 12 Februari 2015.

Baca lebih lanjut..