Rabu, 02 Maret 2016

Article#521 - Abrasi


Bagi mereka yang terbiasa menghadang serentang luas lautan di hadapan, terjang ombak telah menjadi makanan keseharian. Menjorok memamerkan keperkasaannya jauh ke arah lautan, jauh menginggalkan rekan-rekan lemah di sampingnya yang telah lebih dahulu bertekuk lutut pada keganasan samudera.
Bagi mereka yang terbiasa menjalankan perjalanan menantang menuju ujung pemberhentian, tajam batu karang bisa saja menjadi hidangan harian. Rasa jemawa yang telah terkikis nyata, memberi mereka pandang luas memintas cakrawala. Suara ombak yang berdebum boleh jadi kalah ramai yang ditiupkan angin laut kepada telinga.
Sementara semua menatap pada bergulirnya jalan cerita.

Selasa, 27 Februari 2016, 17:02 (UT+7)
8°06'32.84"S, 110°28'08.52"E
Lanjutkan baca »

Senin, 29 Februari 2016

Article#520 - Pemuluran


Agaknya memang tidak perlu menjadi sejenius Einstein untuk bisa memahami berbagai pernak-pernik warna hidup.
Iya, Einstein yang itu. Einstein yang biasa diidentikkan dengan kecerdasan di atas rata-rata, kejeniusan, keenceran otak. Einstein yang paling gamblang mewakili gambaran umum akan orang pintar yang urakan. Einstein yang namanya sering dicatut dalam berbagai kutipan yang entah pernah dia tuturkan atau tidak.
Tak perlu kita piawai memahami teori-teorinya yang terkenal. Membedakan relativitas umum dan khusus. Menjelaskan betapa E = mc2 tiada sangkutpautnya dengan relativitas. (re: persamaan tersebut terkait hubungan massa-energi). Menceritakan betapa hadiah nobel yang diterimanya bukanlah tentang teori relativitas.

Tiga contoh yang membahas relativitas di atas seakan menguatkan praduga bahwa relativitas lah yang demikian marak diidentikkan dengan figur seorang Einstein. Nama relativitas demikian memikat bagi beragam kalangan, terutama mereka yang percaya kemutlakan tiada berkecambah di seantero dunia. Meskipun pada gilirannya teori relativitas itu sendiri memberikan sebuah standar yang diyakini mutlak dalam kerangka pemikiran relativitas: tentang betapa kecepatan cahaya konstan dalam ruang hampa. Bahkan kecepatan cahaya disinyalir berada di mahligai tertinggi, melampaui konsep dasar gerak sebagai sesuatu yang relatif terhadap acuan.
Entah apakah mereka menyadarinya. Bahkan, entah mereka pernah menyelami makna relativitas barang sejenak.

Faktanya, berapa banyak sih dari kita yang merasa perlu mempelajari ketiga contoh yang tersebut di atas? Apalagi dengan penuturan akan betapa ketiganya mungkin tidak signifikan bagi seseorang yang sedang menjalani perjuangan hidup. Meskipun, tentu saja, itu bergantung apa yang kau perjuangkan dalam hidup. Jika kau sedang memperjuangkan seseorang yang ingin kaubuat menemanimu sepanjang sisa hidupmu, agaknya manifestasi relativitas yang akan terpakai dalam usahamu menggapai impian itu hanyalah relativitas persepsi antar sekian banyak pihak. Sekian banyak pihak yang terbenam dalam urusan tiap-tiapnya. Jika kau adalah seorang ilmuwan yang berkutat dengan permainan khas partikel partikel eksotis berukuran ultramini, atau benda-benda langit eksotis yang tak jua bisa dimengerti, mungkin pemahaman akan sederetan teori penuh kalkulasi pembuat pusing itu menjadi demikian berarti.

Pada akhirnya, kita-kita rakyat biasa dengan cita-cita sederhana tak butuh segala macam omong pusing yang terukir dalam tiap ejawantah aljabar dalam persamaan. Kita hanya butuh cita-cita yang sesuai realita dan terjangkau indera untuk melanjutkan segenap kehidupan.
Kita tidak butuh segala macam ocehan soal massa yang mendistorsi fabrik ruang-waktu di sekitarnya sebagai perwujudan relativitas, ketika hal sepele macam lambatnya waktu ketika menunggu dapat memberikan contoh yang lebih nyata. Kita tidak butuh segala macam postulat soal cahaya sebagai kecepatan tercepat di alam semesta dengan kelajuan konstan di ruang hampa, manakala momen-momen krusial dan kenyataan yang tak terkira dapat menjumpa nyata kita dalam sepersekian kejap mata.

Kita wajah-wajah sederhana, bisa saja hanya mendamba bahagia tanpa banyak syarat. Dan kita tak butuh kerumitan kosakata untuk merasakan baranya di dalam jiwa.
Lanjutkan baca »

Kamis, 25 Februari 2016

Article#519 - Free Speech?

I'm not an endorser of the so-called free speech, freedom of speech or whatever, but at times people can be way overboard in trying to allegedly protect their freedom of speech. You tell them how bad their opinion is, and they frame you of limiting their freedom of speech. You can tell them how their rants are out of topic, are offensive and insensitive, are utter nonsense, and they will still be hiding in their own justification: the so-called freedom of speech.
Like, if you really hate the idea of your opinion being questioned, why even put them into spotlight in the first place?

In that way, this xkcd comic really puts it into perspective.


Of course, as a good and civil person, I will also give way to let you see how people responded to Randall's opinion on free speech.

See you around!
Lanjutkan baca »

Minggu, 21 Februari 2016

Article#518 - Residu


Ketika euforia jauh berakhir. Ketika canda tawa permainan telah lama bergulir. Ketika yang terjatuh tak lagi hadir.
Ketika residu yang menggunduk berserak bisu. Ketika lidahnya kelu oleh beku. Ketika sosoknya diam membatu.
Pada gunduk jenazah sesalju yang sudah kehilangan pesonanya itu, debu menemukan tempat bernaung. Terhempas dari sekian banyak kendaraan yang melaju di jalan itu. Tak bosannya mereka berkumpul berkalang menjadi satu dengan daun-daun.

Kelak, ketika residu beku itu telah laju ke hadiratmu, ia tak akan meninggalkan air hasil lelehannya di hadapmu. Akan tertinggal tepat di tempat itu, selapis debu dan hampar daun yang pernah mendapat tempat di sisi residu itu. Yang akan memberi testimoni akan perjuangannya menghadapi terik di sudut kota itu. Terus hingga adanya ia dientaskan oleh entah apapun pengganggu.

Ketika tiba saat itu.
Ketika itu.

Lanjutkan baca »

Kamis, 18 Februari 2016

Article#517 - Melepas Dingin

Ketika takdir telah jelas menggariskan bagi saya bahwa musim dingin kali ini akan menjadi musim dingin terakhir saya di Jepang, saya suda memutuskan untuk mencoba memaksimalkan tiap detik sesapnya. Meskipun pada prakteknya saya cukup rajin mendokumentasikan berbagai maam kenyataan di sekitar saya sejak datang ke Jepang, jarang saya temukan ketertarikan untuk memotret suasana musim dingin selain.... tentu saja salju. (Mungkin beberapa dari kalian pembaca yang taat mungkin mulai jengah mendengar topik ini berkali-kali.)

Kemungkinan besar saya tidak akan menjumpa musim dingin tahun depan. Maka, sebagai salam perpisahan, saya haturkan dokumentasi dari keadian salju paling signifikan yang menghujani kota Sendai sepanjang musim dingin ini—yang ketiganya terjadi di bulan Januari. (Mungkin saja ada kejadian selanjutnya selama saya bercokol di tanah air, tapi tentu saja ia tidak akan saya sertakan di sini).

Sampai jumpa dengan musim dingin berikutnya. Jika saya masih tersampaikan kepadanya.

18 Januari 2016





















24-25 Januari 2016








30 Januari 2016













Lanjutkan baca »