Sabtu, 04 Juli 2015

Article#436 - Benderang


Tiga senja terhaturkan.
Tiga perjalanan terlaksana.
Tiga kesempatan terdayaguna.
Tiada sesal menebar lara.
Tiada gelap bersemat nyala.

Sendai, 2-4 Juli 2015.
Selepas terbenamnya surya dari cakrawala.
Lanjutkan baca »

Selasa, 30 Juni 2015

Article#435 - Tenggat


Sudah berpekan-pekan waktu termakan oleh penulis yang memutuskan kembali berkalang di satu sudut kota.
Pekan-pekan yang tiap-tiapnya diliputi ragam rona kegiatan, lembar kerja kesibukan, hingga cengkerama tawa yang bergantian.

Sudah lama penulis tak lagi menjumpa luang dalam berakhirnya pekan. Ketika-ketika pertemuan antara cerita demi cerita diutamakan dari pergelungan, waktu luang yang dikhawatirkan tak sempat berisikan sembarang makna bisa disulap menjadi bermandikan jiwa.

Sudah lama tak bertegur sapa dengan kenyataan. Mungkin waktu yang tepat untuknya adalah pada yang akan datang. Tetapi akan menarik jika ia ditarik kepada yang beredar sekarang.

Kini
Di sanubari Bumi yang tersinari mentari sore hari
Ada sebagian kita yang membicarakan kenyataan dalam sunyi
Dan kini
Di serambi Bumi yang terbasuh hujan tanpa henti
Ada sebagian kita menerka pengharapan di masa kini dan nanti
Lanjutkan baca »

Minggu, 28 Juni 2015

Article#434 - Kala Pendar Melanda

25 Juni 2015, 16:34 UT. 
Semua berawal dari pelaporan berita akan "cuaca angkasa". 
Cuaca Bumi, barangkali berkaitan dengan topografi lokal, sirkulasi udara dalam lingkup regional, atau seterusnya. Tetapi, ketika yang dibahas adalah "cuaca angkasa", maka seantero pengamat langit di lingkup boreal (utara) maupun austral (selatan) segera beranjak. Mengusir awan, memintas malam untuk menjumpa tarian cahaya menghias angkasa.

Dalam lingkup skala yang berbeda, "cuaca angkasa" sama "cuaca"-nya dengan "cuaca Bumi"—memusatkan perhatian pada apa yang sedang terjadi pada satu waktu, dalam suatu lingkup kecil dari keseluruhan isi. Sebagaimana "cuaca Bumi" digunakan untuk merujuk pada pergolakan langit pada satu wilayah tertentu di muka Bumi, "cuaca angkasa" adalah istilah mesra yang disematkan bagi pergolakan angkasa pada satu wilayah tertentu di semesta, yang adalah sekitar Matahari.

Matahari yang senantiasa kita rasai sinarnya, panasnya dan segala konsekuensinya, mungkin tampak sebagai cakram terang yang setia mengikuti alur rotasi Bumi. Bahkan teramat setia, hingga kita-kita yang menjejaki Bumi sempat terkibuli oleh rotasi, menyangka Bumi adalah pusat dari segala-gala semesta. Meski ketika cakrawala kita mulai membuka diri terhadap kefanaan manusia di butir debu semesta, kita memahami semesta sebagai ruang waktu yang demikian luasnya, dengan keluarga keplanetan tak lagi tampak signifikan.

Matahari yang kita kenali sebagai cakram putih tenang itu, kemudian bergolak dan meletupkan isinya ke angkasa sekitar. Lontaran sebagian surya yang terburai ke angkasa ini adalah lontaran massa yang berisikan partikel bermuatan. Muatan yang mungkin lebih dari cukup untuk lebih dari sekadar "menyetrum" manusia dengan ketakjuban kelak.
Muatan ini berkendara mengikuti laju awalnya meninggalkan surya, dan kemudian disitir oleh medan magnet yang tak mengizinkannya lewat. Ada yang bergeming, ada yang berputar tanpa akhir. Dan ada pula yang memilih mencari jalan untuk melanjutkan perjalanan, mengikuti medan magnet memasuki atmosfer Bumi di utara dan selatan.

Partikel bermuatan yang berbondong datang ini agaknya tak disambut dengan ramah oleh atom oksigen dan molekul nitrogen pengisi atmosfer atas. Sehingga, ketika mereka dipertemukan dalam satu wacana, peperanganlah yang kemudian mengejawantah. Ada tabrakan, ada loncatan, ada haru-biru tinggi di atas sana. Dan kilasnya memunculkan urai warna demi warna.
Ada pendar hijau, merah, hingga terkadang ungu membentang menjadi tirai, jauh dari jangkauan sebagian besar manusia fana. Menjejak ketinggian sekitar seratus kilometer dari muka dunia, tirai ini berkibar bangga, sebagai hasil dari perkelahian sengit antara partikel asing dari Matahari, dengan partikel pribumi yang biasa mendiami Bumi.
Peperangan di angkasa terus bergolak, memamerkan kilasan cahayanya. Sementara kita-kita yang menatapi di muka dunia, terus menatapi angkasa hingga fajar kembali menjelang.

Satu hal yang menarik mengenai kejadian aurora adalah kekerapannya yang tak tentu. Meski ada masa-masa di mana Matahari lebih jamak meletupkan sebagian dirinya, hanya yang langsung mengarah ke Bumi lah yang akan menyalakan pertunjukkan aurora bagi mereka di dekat kedua kutub magnetik Bumi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Matahari kembali memasuki masa keaktifan dalam siklus 11-tahunan nya. Meski demikian, setelah beberapa tahun berlangsung, belum tampak tanda-tanda Matahari akan segera menyelesaikan keaktifannya untuk kembali beredar dengan tenang.
Alhasil, aurora masih jamak dijumpai, bahkan hingga saat ini.

Sekitar 22-23 Juni 2015, sebuah lontaran massa dari Matahari kembali terlontar hingga menggapai Bumi. Sebagai hasilnya, ribuan warga Amerika Serikat, Kanada dan Eropa di utara, dan warga Australia di selatan, melaporkan kenampakan aurora di wilayah masing-masing. Tentunya dilengkapi perlengkapan fotografi.

Berikut, penulis telah menyuguhkan foto-foto aurora hasil jepretan berbagai orang dari wilayah-wilayah yang berkesempatan menyaksikannya kali ini. Selamat menikmati!

Tambahan: Bagi pembaca yang berdomisili di Indonesia, agaknya harus bersabar dalam menantikan kesempatan melihat aurora secara langsung.
Kecuali sebuah letupan luar biasa besar melontarkan sebagian massa Matahari ke arah Bumi, atau kutub magnet Bumi berpindah mendekati ekuator geografis, kepulauan Indonesia yang menatahi ekuator tidak akan mendapat kesempatan menyaksikan pertunjukan langit yang satu ini.
Jika ingin menyaksikan aurora secara langsung, ada baiknya berkunjung ke daerah utara Amerika atau Eurasia untuk peluang melihat aurora yang lebih besar.
Tetap semangat.

Rocky Mountains National Park, Colorado, AS. (Rick Martinez/Aurora Borealis Notifications)
Gig Harbor, Washington, AS. (Doug Munday/Aurora Borealis Notifications)
Moab Desert, Utah, AS. (Helen A'Court/Aurora Borealis Notifications)
Traralgon, Victoria, Australia. (Caitlin Gordon/ABCNews)
Bend, Oregon, AS. (Rebecca Oprish/Aurora Borealis Notifications)
Winthrop, Maine, AS. (Amy Durocher/Aurora Borealis Notifications)
Llandudno, Wales. (CJ Barr/Mashable)
Poo Poo Point, Washington, AS. (Ariel Bravy/Aurora Borealis Notifications)
Estes Park, Colorado. (Chelsea Leigh Stockton/Aurora Borealis Notifications)
Bozeman, Montana, AS. (John Morris/Aurora Borealis Notifications)

North Dakota, AS. (Russell Hons/Aurora Borealis Notifications)
Blanc-Sablon, Quebec, Kanada. (Paulo Daniel Rocha/Aurora Borealis Notifications)
Baie-Comeau, Quebec, Kanada. (Sébastien Vallée/Aurora Borealis Notifications)

Burlington Junction, Missouri, AS. (Laura Davenport/Aurora Borealis Notifications)
Omaha, Nebraska, AS. (Chris Wildrick/Aurora Borealis Notifications)






































































































Berhubung satu lapak ini tidak akan cukup menampung keseluruhan galeri yang ada (dan bahkan tidak sanggup menampung tautan menuju seluruh galeri yang beredar), silakan kunjungi tautn berijut untuk melihat lebih lanjut.
http://mashable.com/2015/06/23/northern-lights-solar-storm/?utm_cid=mash-com-Tw-main-link
http://mashable.com/2015/06/23/aurora-australis-photos/?utm_cid=mash-com-Tw-main-link
http://www.bbc.com/news/world-asia-33265865
http://www.theage.com.au/victoria/skywatchers-on-the-lookout-for-aurora-australis-in-victoria-20150624-ghvlit
http://blog.metoffice.gov.uk/2015/06/23/large-solar-storm-brings-spectacular-views-of-the-aurora/
http://www.space.com/28857-aurora-photos-northern-lights-2015.html?cmpid=514648_20150624_48041766&adbid=613519461023248384&adbpl=tw&adbpr=15431856
https://www.facebook.com/TheEarthStory/posts/893540714040307
http://www.bbc.co.uk/weather/feeds/31933945?ns_mchannel=social&ns_campaign=bbc_weather&ns_source=twitter&ns_linkname=news_central
https://500px.com/photo/112697771/kinbane-aurora-by-stephen-emerson?from=popular&only=Landscapes&utm_content=buffer8081d&utm_medium=social&utm_source=twitter.com&utm_campaign=buffer

Sampai jumpa dalam tulisan selanjutnya, nanti!
Lanjutkan baca »

Jumat, 26 Juni 2015

Article#433 - Overcast


This is map of cloudy Earth speaking. And this map will give you an information, on how cloudy (white) or clear (dark blue) the sky of a particular point on Earth's surface in average, between July 2002 and April 2015, as observed by MODIS Aqua satellite.

With that being said, it's evident that the map will not take differences of seasons into account, since some weather patterns persist only during some particular time of the year.
The Sahel semi-arid region, within the light blue tint on African landmass near the middle of the map, proves to be a great portrayal of this averaging effect – while it does experience a short rainy season, it is renowned for its abundant sunlight.

The first notable features to be recognized, however, will probably be that dark blue patches starting just north of Sahel. There, the world-renowned Sahara boasts their scorching, barren landscapes. Just on the other side of Red Sea, Arabian Desert steals the spotlight, with the dark blue tint comparable to that of Sahara's – if not darker.

Taking a path through the historic Silk Road will bring you away from Thar of South Asia, but will introduce the likes of Kyzyl Kum, Taklamakan and Gobi. Stretching from the land of Kazakhs in the west to the land of Han people to the east, these desert areas offer the images of cold, freezing winters—in contrast to the stereotypical image of a scorchingly hot desert, as depicted by the likes of Dasht-e-Kavir and Dasht-e-Lut in Iran—where sand grains may be heated up to 70°C.
Well, they are obviously dry; that's why we call them "deserts" in the first place. But when it is said that they are cold in winters, scientists really mean it – it's not uncommon for temperatures to dip as low as -30°C in this part of the world within winter months.

There's a completely legit reason of mentioning cold and dry deserts. Because, when we talk about the true biggest desert in the world, the answer might not be what you intuitively expect. No, not that famous Sahara; even though it is arguably one of the biggest.
See that vast dark blue area, down to the south side of the map? There is Antarctica, a continent mostly known for its frigid climate and icy nature. It may sound mind-boggling, that this land of ice is where the precipitation falls for the slightest, even in some marks beating the Atacama of South America, where extreme aridity has attracted astronomers to build telescopes all over the mountains.

.....
Hey hey, wait right there.
The image is depicting the cloudiness of Earth, so how come we have been conversing about deserts all over..?!

It's time to put our sights away from the stark blue patches, and look at the mire commonly scattered white patches. (Sorry Mojave-Sonora of North America, Namib-Kalahari of southern Africa, or Great Victoria-Gibson of Australia—this really is not the time for you guys to shine.)
And there's this white bang stretching over the equator; an area known as Inter-Tropical Convergence Zone (ICTZ). This zone contributes to the abundant cloud within the tropics, tapering the heat while drenching the lands with rain at the same time.
A look further north or south may reveal other belts of white clouds within the high-latitude areas. And a bluer area in between is what called the "desert belt" – a collection of area with less clouds, thus less precipitation, and in turn more prevalence of deserts.

This alternating "belts" of cloudy skies and clear skies may be somewhat reminiscent to the bands observed on the likes of Jupiter, where its gaseous nature and abundant moons, among others, make for a pronounced dark and bright bands of ammonia clouds.
But, in contrast to Jovian bands, these Earthly cloud belts are more closely related to the result of convection process occuring within the atmosphere. ICTZ and the so-called "desert belt" are connected with a circulation cell called Hadley cell, whereas the high-latitude belts are associated with the so-called Ferrel cell and polar cell.

.....
At the end of the post, let's take look at the more subtle feature. Let's take a look at how apparent the geographical features are in the image. You can easily distinguish the coastal lines, islands, mountain ranges, lakes, or even rivers. All of the details, on a map solely depicting the overall cloudiness of the whole Earth.

Does that tell you something?

More reading:
http://earthobservatory.nasa.gov/IOTD/view.php?id=85843
http://www.nasa.gov/image-feature/cloudy-earth
http://www.slate.com/blogs/bad_astronomy/2015/05/09/cloudy_earth_map_of_cloud_coverage.html
Lanjutkan baca »

Senin, 22 Juni 2015

Article#432 - Senja Dua Dunia


Kita yang terbiasa bersemayam di haribaan Bumi, mungkin tak asing lagi dengan semburat jingga yang biasa menaungi kilau senja maupun fajar. Sehingga, ketika salah satu robot penjelajah yang sedang menyintas permukaan "planet merah" beristirahat sejenak dan mengabadikan citraan senja, kita yang mengoperasikannya dibuat terpana oleh perbedaan.

Tentu saja, ketika fokus kita membicarakan senja, maka yang segera diamati adalah mentari yang beranjak meninggalkan jangkau pandang kita. Kita dapati mentari yang meninggalkan pandang makhluk Bumi tampak melonjong, sebagai hasil dari pembiasan oleh atmosfer Bumi di arah dekat cakrawala. Sementara, mentari dari sudut pandang robot penjelajah Mars adalah mentari yang relatif tampak bundar, dan juga tampak lebih kecil dari apa yang kita lihat.
Tipisnya atmosfer Mars (yang pada permukaan bertekanan hanya 0,6% tekanan atmosfer di muka laut Bumi) serta jarak Mars-Matahari yang sekitar 50% lebih jauh dari jarak Bumi-Matahari menjadi faktor utama di balik kenampakan mentari bundar kecil dari Mars.

Segera setelah pandangan mata memintas mentari, pandangan akan beranjak pada semburat senja yang menaunginya. Semburat kejinggaan yang jamak kita jumpa di Bumi, adalah sisa cahaya yang tidak disebarkan oleh molekul nitrogen dan oksigen melalui persebaran Rayleigh (yang lengkapnya pernah saya bahas pada tulisan ini).
Sementara...
.....
.....semburat kebiruan? Benar ia semburat kebiruan?
Iya, semburat kebiruan. Fenomena khas atmosfer Mars ini diyakini terjadi berkat partikel debu yang melayang-layang di permukaan Mars. Partikel-partikel debu yang terus beterbangan ini menyerap sebagian porsi cahaya biru yang ia terima dari Matahari, sementara cahaya lainnya (yang secara total menyatu sebagai warna kuning kecokelatan) disebarkan oleh partikel debu melalui persebaran Mie. Persebaran Mie ini, pada gilirannya, ikut menyebarkan berkas cahaya searah dengan arah berkas cahaya sebelumnya, memberikan warna biru untuk dinikmati di kala fajar dan senja. Kedua kala ini menjadi saat di mana cahaya Matahari menempuh jarak terjauh melintasi atmosfer Mars, yang ikut mempengaruhi semburat kebiruan yang melingkupi mentari dekat cakrawala.

Kita, yang konon menghuni "planet biru", ternaungi langit kebiruan yang bersemu kemerahan di waktu senja.
Sementara mereka para robot yang menjelajah "planet merah", ternaungi langit kemerahan yang bersemu kebiruan di waktu senja.
Segala kontras ini menyapa, di kala menatap mentari yang sama.

Foto kiri oleh Damia Bouic.
Foto kanan oleh NASA, JPL-Caltech, MSSS; diproses oleh Damia Bouic.

Gambar diolah dari citra asli di laman APOD.
Lanjutkan baca »