Kamis, 21 Mei 2015

Article#422 - Tiga Kebijakan

Ketika membicarakan kebijakan, pikiran kita umumnya akan terpaku pada dua sisi pemaknaan dari istilah yang diberikan.
Kita bisa saja berkutat pada kata dasarnya, "bijak"; sebuah kata yang biasa dipakai untuk melabeli mereka yang mendedikasikan diri sebagai lumbung petuah dan kutipan motivasi. Meskipun pada kenyataannya, "bijak" sendiri dapat dimaknai sebagai sifat "petah lidah": kepandaian dalam meracik kata-kata, membaurkan ragam dialektika—setidaknya demikianlah menurut KBBI. Atau "bijak" sebagai sifat orang yang senantiasa mendayagunakan akal budinya, sebagaimana mungkin sering kita temui dalam senarai cerita.
Kita pun bisa memaknai "kebijakan" sebagaimana penempatannya dalam tajuk berita, yang kerap kali diidentikkan dengan keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh para pemangku kekuasaan. Tidak jelas juga, bagi penulis, kapan pemaknaan "kebijakan" yang ini dipopulerkan; apakah ini usaha pemerintah dalam mencitrakan dirinya sebagai kumpulan orang "bijak" yang peduli nasib rakyat, saya pun tak tahu.

Apakah kebijakan ini, jika diniatkan dengan niatan bijak, berhasil membuat bijak apa-apa yang ditujukan padanya kebijakan, kita pun mungkin lebih tak tahu.

Ada kebijakan yang tak mendengar. Seolah tak bergeming di hadapan ribuan, jutaan orang yang bersatu menyuarakan teriak senada, jerit seirama. Ia dengan tenangnya membiarkan sekian banyak manusia saling tabrak, baku hantam, adu kericuhan, toh mereka dibebaskan untuk melakukan apa yang mereka suka. Silakan saja ricuh sekeras yang kau bisa, itu hakmu, mereka para "orang bijak" pun tak akan terganggu. Tak pula repot-repot mencari tahu.

Ada kebijakan yang tak melihat. Seolah tak kenal ampun, mendobrak pakem dan hegemoni yang bercokol demi kebaikan bersama. Terbutakan oleh imaji akan sebuah negara yang besar, ia terus mendorong dirinya sebagai pelopor dari beragam pergerakan, pusat dari tiap mata badai gejolak dunia; toh ialah yang memicu bermulanya segala. Silakan saja kau membunuh sekian banyak cita mulia yang digaungkan, ia pun akan tetap membawamu berjalan, melangkah demi kebesaran yang tercitakan. Tak menyadari sesiapa di belakang yang setia berkalang.

Ada kebijakan yang tak berbicara. Hadirnya bisu, perangainya pun tampak jemu, seolah bosan melihat canda tawamu. Pergerakannya dalam menduduki kursi tertinggi pun senyap; tanpa banyak rusuh, tanpa banyak basa-basi sebagaimana umumnya penduduk negeri. Tetapi, ketika ia mulai menancapkan jemari ke penjuru negeri, dibawanya seisi negeri untuk mengikuti: bicarakan yang baik-baik, atau mati. Silakan saja berseru sekeras mungkin di depan khalayak ramai, yang selanjutnya akan kausapa adalah jemari jeruji. Jeruji sunyi, sepi, memaksa penghuninya untuk berdiam diri sebagaimana penguasa negeri. Tak menggubris kebusukan di sana-sini.

sumber
Di masa kini, ketika sesiapa yang menutup mata, lidah, maupun telinganya tak jelas terbedakan lagi, kombinasi ketiganya bercampur di sana di mari. Kau akan amati orang meneriakkan kejelasan nisbi, mempertunjukkan kebrengsekan imaji, mempertanyakan pendapat pribadi. Barangkali semua tampak tak indah, di depan aparat dan pejabat yang tiada kentara peduli.
Ketika mereka yang bercokol di kursi mewah mengeluarkan kebijakan, kita yang berkemul seisi angkasa sontak memprotesi.
Ketika mereka yang berhiaskan jas almamater mengeluarkan kebijakan untuk menanggapi kebijakan, tak lagi jelas batas antara peduli dan ditunggangi.
Dan ketika mereka yang bernafaskan aroma pertiwi mempertanyakan kebijakan, semua sontak saling mengkritisi tanpa dasar berarti.

Kebijakan tak tampak bijak? Mungkin memang tidak. Mungkin, mereka dari awalnya memang tak pernah semakna.
Sajak Pertemuan Mahasiswa
(WS Rendra)

Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.

Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini
Memeriksa keadaan.

Kita bertanya:
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
Orang berkata, “Kami ada maksud baik“
Dan kita bertanya: “Maksud baik untuk siapa?”

Ya! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.

Dan kita di sini bertanya:
“Maksud baik saudara untuk siapa?
Saudara berdiri di pihak yang mana?”
Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.

Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
Hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
Tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.

Tentu kita bertanya:
“Lantas maksud baik saudara untuk siapa?”
Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.

Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan?

Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba.
Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
Akan hidup di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.

Dan esok hari
Matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai
Menjadi ombak di samudra.

Di bawah matahari ini kita bertanya:
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana!

Jakarta, 1 Desember 1977

Malam kini mungkin tampak beranjak. Atau tidak pernah bangkit dari keterasingannya yang ditelan siang.
Mungkin, bagi kita yang senantiasa menatap masa kini yang ada di masa depan, kita punya ketidaktahuan yang sama akan apa-apa yang kita inginkan. Atau apa-apa yang kita takutkan.

Maka, izinkanlah kami-kami yang tak tahu apa-apa, untuk mundur teratur dari barisan yang kata kalian peduli nasib ramai manusia. Peduli, meski dengan cara yang membuat kita bertanya-tanya: jangan-jangan kalian sibuk mempertengkarkan hal yang sia-sia. Hal yang memberi kami semua alasan logis untuk tetap curiga.

Naskah sajak disadur dari azharologia.com.
Lanjutkan baca »

Senin, 18 Mei 2015

Article#421 - Eksitasi


Eksitasi, bisa berarti terpapar keceriaan berlebih.
Bisa saja berlebih ketika dibandingkan dengan situasi, atau sekadar kentara dari wajah nyengir.
Eksitasi, bisa berarti menerima energi lebih.
Bisa berupa energi suntikan dari segala di sisi, atau dari seruan jauh dalam sanubari.

Eksitasi, menerima energi hingga senang sekali.
Menapak tingkat yang lebih tinggi, berpendar dalam sinar tersendiri. Menerangi sekitar diri.

*****

Entah apa sebenarnya motivasi saya dalam mengetikkan senarai pendek kata di atas. Karena post ini sendiri dibuat semata untuk memproklamirkan bergantinya tajuk blog yang telah sekian lama diwarnai sebagai sebuah kanvas, menjadi apa yang (konon katanya) adalah eksperimen yang kepikiran. Mungkin karena ada urusan eksperimen yang belum kelar? Mungkin saja. Atau tidak.

Mungkin juga post ini dibuat dengan tujuan lain dalam kepala. Yah, siapa tahu.
Mudah-mudahan dengan dilakukannya perubahan tampilan, nafas yang disajikan tulisan-tulisan berikutnya bisa lebih segar. Bergizi, dan cukup berenergi untuk menebar eksitasi.

...
Demikianlah kiranya. Sampai jumpa dalam kesempatan selanjutnya!

(Foto oleh Putra Powet, dipublikasikan dengan izin)
Lanjutkan baca »

Sabtu, 16 Mei 2015

Article#420 - Bebersih

“Clean Up Your Own Mess!”



Siang tadi kebetulan saya dan istri harus makan siang di Sevel (7-11) karena sedang buru2. Sesudah membayar, kamipun mencari tempat duduk. Seperti biasa, banyak meja yang kosong tapi kotor dengan sisa makanan dan minuman yang dibiarkan di meja. Kami pun hanya bisa menghela napas dengan sedikit jengkel. Budaya membersihkan sisa makanan sendiri di restoran cepat saji memang belum umum di negeri ini.

Dulu saya pun termasuk yang tidak mengerti soal ini, sampai suatu saat saya tinggal di Australia selama 2 tahun untuk kuliah postgraduate. Di sana saya baru tahu bahwa di fast food joints (seperti McDonalds, Burger King, dll), pengunjung membersihkan sendiri mejanya seusai makan. Minimal sekedar membuang semua bungkusan, gelas kertas, dan sampah lain ke dalam tempat sampah yang disediakan. Sesudah kembali ke tanah air, kebiasaan ini tidak bisa saya hentikan. Sampai sekarang jika makan di McDonald’s atau restoran fast food lain, pasti sisa makanan saya bawa dengan tray (baki) ke tempat sampah, dan traydiletakkan di tempatnya. Kalau kebetulan makan di Starbucks yang menggunakan piring kaca, ya sesudah makan piringnya dikembalikan ke barista.

Di negeri ini perilaku ini memang belum dibiasakan. Mungkin banyak dari kita yang masih menyamaratakan perilaku di restoran biasa, di mana makanan diantarkan dan dibersihkan olehwaiter/waitress, dan restoran fast food, di mana kita mengambil sendiri makanan dan (seharusnya) membersihkan sendiri juga untuk pengguna meja berikutnya. Saya membaca tentang bagaimana pengunjung IKEA di Tangerang meninggalkan begitu saja sisa makanan mereka, sementara di semua IKEA di negara lain pengunjung sudah biasa membersihkan sisa makanannya sendiri (dengan mengembalikantray kotor ke lemari yang disediakan). Sevel sendiri tampak berusaha mengedukasi hal ini dengan menempelkan tulisan di setiap meja untuk membersihkan sendiri kotoran/sisa makanan kita. Mari kita lihat berapa lama dibutuhkan sampai orang-orang mulai terbiasa melakukannya.

Sebenarnya fenomena “meninggalkan sampah sendiri” bisa dimengerti secara kultural. Kita mungkin memang belum terbiasa saja dengan kebiasaan ini (walaupun restoran fast-food sudah ada di Indonesia selama puluhan tahun), dan juga karena tidak ada edukasi serius dari pihak pengelola restoran. Tetapi ada faktor2 lain yang mungkin menghambat bangsa kita untuk mau memulai kebiasaan membersihkan meja sendiri.

Waktu saya mengangkat isu ini di platform ask.fm, ada beberapa suara sumbang yang berkata “Ngapain sih dibersihin sendiri? Nanti keenakan dong para karyawannya, digaji tapi nggak kerja”. Beberapa follower lain juga menimpali dengan cerita ketika mereka hendak membersihkan sendiri sisa makanan mereka, mereka dicemooh oleh teman-teman dan bahkan ibu mereka sendiri.

Saya menyebut hal ini sebagai “mental majikan”. Sepanjang ada orang lain yang menurut kita sudah dibayar untuk membersihkan, kita merasa tidak berkewajiban membersihkan piring/meja kita sendiri. Bahkan kita merasa “rugi” jika harus melakukan itu, karena sudah orang lain yang diupah untuk melakukannya. Typicalkelas menengah/atas yang terbiasa memiliki Asisten Rumah Tangga. “Saya kan sudah bayar, jadi saya majikan. Masak saya juga yang membersihkan?!”

Padahal sebenarnya kalau kita perhatikan, restoran fast food memiliki jumlah staf yang sangat terbatas, dan hampir semuanya dialokasikan di belakang konter atau dapur, tidak seperti restoran “biasa” yang memang ada waiter/waitress yang kerjanya menunggui meja. Membersihkan piring sendiri tidak hanya soal membantu staf yang terbatas, tetapi juga perilaku memikirkan orang lain (being considerate) yang hendak menggunakan meja sesudah kita.

Saya jadi terpikir apakah “mental majikan” ini juga ada di aspek hidup lain kita, tidak hanya di restoran siap saji. Dari hal sesepele membuang sampah sembarangan dari mobil/motor kita, karena merasa toh ada “tukang sapu jalan”, sampai hal-hal serius seperti politik dan pemerintahan. Kita selalu merasa bahwa harus ada orang lain yang membersihkan kotoran dan sampah kita, always someone else to clean up our mess. Kita paling cepat mencerca presiden, menteri, gubernur, guru jika kita merasa mereka tidak mengerjakan pekerjaan mereka, karena kita merasa sebagai “majikan”. Korupsi, Rupiah melemah, banjir, macet – oh itu salah pejabat! Anak sekolah berkelahi, mengakses pornografi, menggunakan narkoba – oh itu salah guru!Majikan tidak pernah salah.“Tapi kan gw udah bayar pajak nyet! Ya udah sepantasnya mereka kerja yang bener dong!” Yah, argumen ini memang ada benarnya. Pejabat publik dibayar dari pajak kita. Guru digaji dengan uang sekolah kita. Tetapi “mental majikan” juga tidak membantu sama sekali. Sama seperti tamu restoran fast food yang tidak membersihkan sendiri sisa makanannya akhirnya membuat restoran tersebut menjadi kotor dan tidak nyaman bagi semua orang.

Kita bisa sangat membantu layanan pejabat publik jika kita pun clean up our own mess. Banyak hal-hal “sampah” yang kita lakukan yang seharusnya bisa kita bersihkan sendiri. Dari literally “sampah” di sungai yang menyebabkan banjir, sampai masalah disiplin seperti tidak mengendarai motor melawan arah, berhenti dengan tertib di lampu merah, mengantri dengan tertib, hemat bahan bakar, mengajar anak moral yang baik, dan banyak sekali hal-hal yang bisa kita lakukan untuk membersihkan “sampah” kita sendiri.

“Mental majikan” adalah egois dan kekanakan. Seperti anak manja menjengkelkan yang selalu menyuruh-nyuruh Asisten Rumah Tangganya seperti raja kecil. Sepanjang bangsa kita masih penuh orang-orang bermental ini, niscaya banyak masalah sosial yang akan lambat sekali bisa diselesaikan. Lawan dari mental majikan ini adalah “mental independen”. Apa yang bisa saya kerjakan sendiri, kenapa menunggu orang lain? Ini bukan soal berharap orang lain yang toh sudah digaji untuk mengerjakan tugasnya. Ini soal membantu rumah besar yang bernama Indonesia ini “bersih” lebih cepat, untuk kenyamanan kita bersama.

Indonesia masih jauh dari ideal, masih banyak “sampah” masalah di masyarakat dan pemerintahan kita. Tetapi jika setiap kita mulai sedikit membantu dengan clean up our own mess, mungkin bisa membantu. Mungkin.

In the mean time, kita bisa mulai dengan sesederhana membersihkan sisa makanan kita di Sevel dan McDonald….
:)
Disadur dari https://manampiring17.wordpress.com/2015/05/02/clean-up-your-own-mess/.

sumber gambar
Lanjutkan baca »

Rabu, 13 Mei 2015

Article#419 - Tirai


Dulu, saya pernah membuat keputusan yang salah dengan tetap bergelung di kamar setelah sebuah taifun berpisah jalan. Meski sang taifun telah menyapukan langit dan memberi jalan pada sinar mentari, saya justru memilih tak bergeming dari lokasi.
Maka pagi ini, berbekal jiwa yang lapar, saya memintas jalan menuju ruang terbuka. Di mana saya bisa kembali bertegur sapa dengan angkasa.
Dan inilah hasilnya.
(silakan klik foto untuk memperbesarnya)

(foto tidak diambil pagi ini)
(foto tidak diambil pagi ini)


(foto ini telah mengalami olah citra otomatis oleh Gugel)

Ada yang berkibar benderang pagi ini. Mengatur kembali ritme supaya tetap mengalir.
Menyusur diri dengan teliti, mengguncang sanubari.

Some might say, we will find a brighter day.
Lanjutkan baca »

Selasa, 12 Mei 2015

Article#418 - Kelambu

Mereka bilang, mega merah akan menjelang. Menyambut bayang yang memanjang untuk kemudian menyatu dalam satuan malam. Koor angin yang makin menggelora pun terus bersahutan, menderak jendela, menderui tiap telinga. Dari telinga mereka yang bergegas pulang menyudahi lelah bekerja, hingga peminat bingar yang dalam temaram meraja, bisikan itu bergemuruh menggetar kepala mereka. Seolah mengajak untuk sejenak menatap angkasa, menyaksikan sang mega merah perlahan merambati cakrawala.
Meski mereka tahu, langit sudah kelam sejak lama.

Mereka bilang, mega merah akan menjelang. Menyambut aliran yang mendorongnya bergerak, mengibaskan sisa-sisa dari masa emasnya yang bergelora. Seruan manusia yang bergiliran mencelotehi pemirsa perlahan beranjak menyeragamkan nada, meresapi kejayaan yang telah lewat di negeri seberang. Mega merah yang menjelang adalah yang terluka, terseret ujung daratan dan melemah sebelum waktunya. Sehingga ketika kita membuka pintu dan membiarkan mata menatap cakrawala, yang akan kita saksikan adalah mega merah yang kehilangan jati dirinya.
Hanyut terbawa awan yang tak sudi menceritakan kehebatannya.

Mereka bilang, mega merah akan menjelang. Jangan tanya mega merah bagi siapa, karena bagi mereka yang konon berlandaskan pengetahuan, kita semua adalah satu sesiapa. Mengecap nadi yang sama, menyesap pandir yang seirama. Seberingas apapun jua kau bersikeras, pada akhirnya kenyataan akan berbicara: manusia hanya pernah berkesempatan menderas kilau mega merah. Entah ia milik fajar, atau milik senja. Belum berkesempatan melihat mega dengan warna lainnya, yang mungkin hanya akan dijumpa di dunia lainnya dalam belantara antariksa.

Mereka bilang, mega merah akan menjelang. Tetapi di masa senja, yang kujumpa justru arakan awan yang berkemul menutupi kita dan seisinya. Tak menutup peluang, seperti itulah wujud rupa sang mega merah sebenarnya; ia tidak menjelma merah karena semangatnya memblokir sinar surya.
Mega yang tak lagi merah itu pun terus merambati langit.
Dan ketika sinar mentari kembali mendatangi di pagi hari, ia telah pergi, menyapukan arak awan untuk mewarnai langit. Bukan warna merah yang namanya ia kumandangkan. Melainkan warna langit biru, cahaya yang kehilangan jati diri merahnya.


Mereka tetap bilang, mega merah akan menjelang.
Entah kapan tepatnya ia datang.
Entah kapan pula ia kembali menerjang.
Lanjutkan baca »