Senin, 23 Februari 2015

Article#391 - Transisi

Agaknya, kali ini musim semi lebih dini menghampiri, menilik dari perginya dingin yang menghuni sanubari. Karenanya, izinkan diri ini berpartisipasi. Mencerahkan hari-hari, mengembangkan senyum di hati.

(tulisan ini mungkin akan diapdet suatu hari nanti)




Baca lebih lanjut..

Sabtu, 21 Februari 2015

Article#390 - Ephemeri


Sebut saja benar adanya
Seorang petualang
Dalam kelambu berkalang
Dalam buana melanglang
Kemudian ia pergi
Menghembusi detik
Menafasi menit
Mengilhami hari

Sebut saja ia berkoar
Terucapkan petuah
Menyerukan ketinggian
Tanpa peduli sasaran
Ia mendatangi sanubari
Persemayaman nurani
Yang meminta diisi
Dengan ragam uji

Sebut sajalah ia
Kabur bersama awan
Memahami kefanaan
Menyintas kenyataan
Ajaklah ia pergi
Menghadap matahari
Melepas jiwa lari
Membayang dalam nisbi

Maka sebut namanya saja
Yang tiada terkenang
Menderas rerumputan
Menguap hilang
Bersama derai angin
Menggapai langit tinggi
Tanpa sejati diri
Berburu sunyi

Selintas mengawasi
Sepintas ilusi
Seutas menghubungi
Dan tak terdengar lagi


Hari 7257, disinari pantul putih sesalju.
Sabtu, 21 Februari 2015, 12:59 (UT+9)
37°30'31.47"N, 139°55'48.51"E
Baca lebih lanjut..

Rabu, 18 Februari 2015

Article#389 - Manipulasi

Sejak lama, manusia sudah terbiasa membayangkan keberadaan kehidupan manusia dalam skala yang belum pernah mereka jumpa sebelumnya.
Di satu sisi, skala yang diberikan adalah skala besar, di mana manusia menjadi sosok-sosok raksasa yang menjulang dengan langkah-langkah yang berdebam, menggetarkan bumi di sekitarnya.
Di satu sisi, skala yang diberikan adalah skala kecil, di mana manusia menjadi sosok-sosok kerdil yang berlarian ke sana kemari layaknya semut, menyelusupi celah-celah yang tak mungkin dijamah manusia biasa.

Beratus-ratus tahun peradaban manusia bergulir, dan cerita-cerita serupa berhenti sampai di tahap cerita. Hingga kemampuan artistik manusia meningkat, dan naskah-naskah yang terserak itu berhasil diejawantahkan dalam bentuk visual.

Beberapa orang lain tak puas hanya dengan perwujudan lewat naskah lama, dan memutuskan untuk merekam dunia untuk 'dipermainkan'. Dengan trik tertentu, dunia sebagaimana adanya dapat ditampilkan sebagai dunia mini.

Berminat mengunjungi dunia mini? Silakan berkelana.

Foto oleh Vincent Laforet
Foto oleh Arnar Birgisson
Foto oleh Carmel Kozlov
Foto oleh Claudio SepĂșlveda Geoffroy
Foto oleh Lachlan Sear
Foto oleh Karl Randay
Foto oleh Marisa Geraghty
Foto oleh House Photography
Foto oleh Sippanont Samchai
Foto oleh Lorenzo Baldini
Foto oleh Reven Sanchez

Kepo akan teknik menunculkan miniatur dunia? Sila cek laman ini
Kepo akan penerapan teknik tersebut? Sila cek laman ini atau laman ini
Baca lebih lanjut..

Minggu, 15 Februari 2015

Article#388 - Kontemplasi


Barangkali aku tak banyak tahu akan kenyataan.
Karena ketika aku menilik seisi kota yang membuatku bosan, aku terkungkung ketidaktahuan untuk melangkah. Terjerat kejenuhan akan sudut-sudut yang sama, bangun-bangun yang senada, bayang-bayang yang seirama. Ingin melangkah, tapi aku masih tersangkut pada suaka jiwa, dalam usaha menjaga kewarasan yang makin tak jelas gunanya.

Barangkali aku tak banyak tahu akan kenyataan.
Karena ketika aku berpindah dari kenyataan raga ke kenyataan yang mengisi jiwa, mereka tampak sebagai dua keadaan yag demikian berbeda. Sedemikian berbeda, hingga pikiran yang tak nyaman membaca keduanya sebagai lembar buku yang berbeda. Hanya sampulnya yang sama, seperti sederetan buku tulis di masa sekolahan.

Barangkali aku tak banyak tahu akan kenyataan.
Karena ketika aku melihat gemerlap angkasa, aku tak paham upaya menggapainya. Aku mungkin sadar bahwa sampai kapapnpun aku harus tetap berpijak, tetapi dalam diam, jiwa terus memberontak. Terbersit pikiran supaya kami berpisah jalan dalam sesaat dua saat, hingga kenyataan yang menautkan keduanya memaksa diri terus menapak.

Barangkali aku tak banyak tahu akan kenyataan.
Karena ketika aku masih sibuk megaruk liang, aku tidak menyadari kekeringan yang melanda permukaan. Dengan raga yang bugar menaungi jiwa yang pudar, pikiran jarang dibersihkan dengan cukup untuk mengamati dunia sekitar. Impian yang diumbar-umbar itu pun terserak entah sembarang, dipungut orang untuk disuguhkan kepadaku dengan beragam alasan.

Barangkali aku tak banyak tahu akan kenyataan.
Karena, dengan disibukkannya diri kita dalam beragam kegiatan, ada bagian-bagian pikiran yang senantiasa luput dari perhatian. Kesibukan yang berbeda, diakrabi sedemikian rupa dengan jiwa yang melayang terbang entah ke mana. Petik saja kesibukan itu ketika ia terlanjur mengakar, maka tinggalah jiwa tua yang hampa, dalam raga yang tak tahu harus berbuat apa.

Bukan barangkali, aku memang tak paham kenyataan.
Karena, aku tidak mengetahui betapa kehampaan menyiratkan adanya wadah untuk tampungan. Tampungan yang biasa kupenuhi dengan senarai cerita ragam perjalanan. Dan fakta bahwa aku sudah mengalaminya berulang, menyiratkan betapa aku demikian mudah terlarut dalam pembaruan demi pembaruan.
Aku hilang, dan aku datang tanpa terjatuhkan.

Benar, aku memang tak paham kenyataan. Dan karenanyalah aku sangat menikmati saat-saat mempelajarinya.

Springbed, Pulau Kapuk. 12 Februari 2015.

Baca lebih lanjut..

Minggu, 08 Februari 2015

Article#387 - Kulminasi

Kita acapkali menafsirkan atas sebagai sesuatu yang baik. Hal ini diejawantahkan dalam berbagai sisi dalam bahasa yang biasa kita gunakan tiap hari. Istilah "naik kelas", "lebih", "peningkatan", "mengangkasa", juga beragam istilah lainnya yang menyiratkan "perbaikan" sembari menyuratkan "kenaikan", barangkali jamak kita gunakan dalam percakapan. Tentunya dengan lawan kata yang mengisyaratkan "pemburukan" dalam bungkus "penurunan".

Saya tak yakin bagaimana konsep "atas adalah baik" yang tersirat dari contoh di atas pertama kali dikembangkan. Barangkali ada kaitannya dengan fakta bahwa kita lebih mudah meluncur ke bawah dari pada mendaki ke atas. Atau berkaitan dengan fakta bahwa raga kita senantiasa tertahan pada arah bawah, menghimpun demikian banyak kenampakan di daerah "atas".
Kedua hal ini mungkin bisa ditelusuri akarnya dari keberadaan gaya gravitasi yang menjaga raga tetap berpijak di muka Bumi; mengingat pendefinisian kita akan "atas" dan "bawah" sendiri berakar dari konsep gravitasi.
Bergerak ke arah bawah, artinya bekerjasama dengan gaya gravitasi Bumi, yang berarti kita tak perlu repot-repot berusaha. Sebaliknya, usaha bergerak ke atas berarti melawan gaya gravitasi Bumi, yang berarti kita perlu mengerahkan usaha ekstra.
Tambahkan kecenderungan manusia yang lebih mendambakan sesuatu yang tidak dapat begitu saja didapatkan, maka rasanya wajar-wajar saja jika konsep "atas" dinilai lebih berharga bagi para manusia.

Maka manusia mulai berusaha menggapai pijakan yang lebih tinggi.
Mereka yang iri dengan kemerdekaan bangsa burung di udara, mungkin mencoba mengakui betapa raga fana mereka tak dirancang untuk memerdekakan raga jauh ke atas. Kalau kata orang bijak, "emosi adalah sumber energi", sehingga rasa iri tersebut kemudian berkecambah menjadi upaya mewujudkan mimpi manusia memerdekakan raga mereka. Atau, setidak-tidaknya, menggapai titik paling "atas" yang mereka bisa capai.
Di satu sisi, berkembang serangkaian peralatan yang dirancang menyangga beban raga manusia untuk tetap melayang di udara. Penyangga ini terus berkembang menjadi kendaraan, yang membawa manusia menjelajahi udara tipis negeri di balik awan.
Di sisi yang lain, berkembang serangkaian peralatan yang membantu manusia menjaga kondisi raga fana mereka tetap prima, sementara mereka menggapai puncak-puncak tertinggi yang dijumpa.

Perlahan, puncak-puncak yang menatahi penjuru dunia mulai ditaklukkan, dengan kepongahan manusia yang menancapkan jejak mereka di bebatuannya. Dunia penerbangan pun membawa manusia melampaui udara tipis di puncak-puncak pegunungan. Terus hingga manusia tak lagi mendapati cukup udara untuk nafas mereka.
Ketika selapis udara tipis bernama atmosfer mulai ditinggalkan, dan manusia berkenalan dengan cakrawala angkasa, mereka barangkali terheran mendapati kaburnya definisi atas-bawah yang biasa mereka kumandangkan sebelum menyapu debu antariksa.

Maka mereka terus melaju, merengkuh semesta lebih jauh.

Mungkin kauamati, para manusia melihat lebih jauh meninggalkan Bumi yang biasa mereka pijak ini mendapati langit seolah tanpa batas. Makin jauh melihat, makin samar ia, makin tak tergambarkan.
Mungkin, bagi manusia yang memaknai perjalanan "naik" mereka tersebut, akan ada satu posisi di mana mereka menengadah. Akan jalan demikian panjang ke "atas" yang masih tampak tak tergapai impian.
Tetapi mereka memang tidak berniat menggambarkan seisi semesta.

Titik puncak, di mana mereka akan menyudahi perjalanan ke "atas" untuk seterusnya, mungkin tidak akan pernah ada. Syukurlah, mereka bahkan tak acuh akan keberadaannya.
Mereka hanya terus melaju ke atas.
Sejauh yang mereka bisa.
Menggapai angkasa.






Tentunya, tak hanya sudut pandang seorang.

Foto oleh Koichi Shimano
Foto oleh Akihiro Shibata

Foto oleh Mitsui Masayaki

Baca lebih lanjut..