Senin, 28 Juli 2014

Article#323 - Cermatilah

Ada seorang saudagar di Baghdad yang mempunyai sebuah kolam yang airnya terkenal sangat dingin. Konon tidak seorangpun yang tahan berendam di dalamnya berlama-lama, apalagi hingga separuh malam.

Suatu hari, ketika sedang mengamati kolamnya itu, terlintas sebuah ide di benak si saudagar. Ide yang kemudian ia sampaikan lewat sebuah sayembara di depan istana baginda Sultan.
“Siapa yang berani berendam semalam di kolamku, aku beri hadiah sepuluh dirham,” kata saudagar itu. Ajakan tersebut mengundang banyak orang untuk mencobanya. Namun tidak ada yang tahan semalam, paling lama hanya mampu sampai sepertiga malam.

Pada suatu hari datang seorang pengemis kepadanya.
“Maukah kamu berendam di dalam kolamku ini semalam? Jika kamu tahan aku beri hadiah sepuluh dirham,” kata si saudagar.
“Baiklah akan kucoba,” jawab si pengemis. Kemudian dicelupkannya kedua tangan dan kakinya ke dalam kolam, memang air kolam itu dingin sekali. “Boleh juga,” katanya kemudian.
“Kalau begitu nanti malam kamu bisa berendam di situ,” kata si saudagar.

Menanti datangnya malam si pengemis pulang dulu ingin memberi tahu anak istrinya mengenai rencana berendam di kolam itu.

“Istriku,” kata si pengemis sesampainya di rumah. “Bagaimana pendapatmu bila aku berendam semalam di kolam saudagar itu untuk mendapat uang sepuluh dirham? Kalau kamu setuju aku akan mencobanya.”
“Setuju,” jawab si istri, “Moga-moga Tuhan menguatkan badanmu.”

Kemudian pengemis itu kembali ke rumah saudagar. “Nanti malam jam delapan kamu boleh masuk ke kolamku dan boleh keluar jam enam pagi,” kata si saudagar, “Jika tahan akan ku bayar upahmu.”

Setelah sampai waktunya masuklah si pengemis ke dalam kolam, hampir tengah malam ia kedinginan sampai tidak tahan lagi dan ingin keluar, tetapi karena mengharap uang upah sepuluh dirham, ditahannya maksud itu sekuat tenaga. Ia kemudian berdoa kepada Tuhan agar airnya tidak terlalu dingin lagi. Ternyata doanya dikabulkan, ia tidak merasa kedinginan lagi. Kira-kira jam dua pagi anaknya datang menyusul. Ia khawatir jangan-jangan bapaknya mati kedinginan. Hatinya sangat gembira ketika dilihat bapaknya masih hidup. Kemudian ia menyalakan api di tepi kolam dan menunggu sampai pagi.

Siang harinya pengemis itu bangkit dari kolam dan buru-buru menemui si saudagar untuk minta upahnya. Namun saudagar itu menolak membayar, “Aku tidak mau membayar, karena anakmu membuat api di tepi kolam, kamu pasti tidak kedinginan.”
Namun si pengemis tidak mau kalah, “Panas api itu tidak sampai ke badan saya, selain apinya jauh, saya kan berendam di air, masa' api bisa masuk ke dalam air?”
“Aku tetap tidak mau membayar upahmu,” kata saudagar itu ngotot. “Sekarang terserah kamu, mau melapor atau berkelahi denganku, aku tunggu.”

Dengan perasaan gondok pengemis itu pulang ke rumah, “Sudah kedinginan setengah mati, tidak dapat uang lagi,” pikirnya. Ia kemudian mengadukan penipuan itu kepada seorang hakim. Boro-boro pengaduannya didengar, Hakim itu malahan membenarkan sikap sang saudagar. Lantas ia berusaha menemui orang-orang besar lainnya untuk diajak bicara, namun ia tetap disalahkan juga.
“Kemana lagi aku akan mengadukan nasibku ini,” kata si pengemis dengan nada putus asa. “Ya Allah, engkau jugalah yang tahu nasib hamba-Mu ini, mudah-mudahan tiap-tipa orang yang benar engkau menangkan.” Doanya dalam hati.

Ia pun berjalan mengikuti langkah kakinya dengan perasaan yang semakin dongkol. Dengan takdir Allah ia bertemu dengan Abu Nawas di sudut jalan.
“Hai, hamba Allah,” Tanya Abu Nawas, ketika melihat pengemis itu tampak sangat sedih. “mengapa anda kelihatan murung sekali? Padahal udara sedemikian cerah.”
“Memang benar hamba sedang dirundung malang,” kata si pengemis, lantas diceritakan musibah yang menimpa si pengemis sambil mengadukan nasibnya.
“Jangan sedih lagi,” kata Abu Nawas ringan. “Insyaallah aku dapat membantu menyelesaikan masalahmu. Besok datanglah ke rumahku dan lihatlah caraku, niscaya kamu menang dengan izin Allah.”
“Terima kasih banyak, anda bersedia menolongku,” kata si pengemis.

Lantas keduanya berpisah. Abu Nawas tidak pulang ke rumah, melainkan menghadap Baginda Sultan di Istana. “Apa kabar, hai Abu Nawas?” sapa Baginda Sultan begitu melihat batang hidung Abu Nawas. “Ada masalah apa gerangan hari ini?”

“Kabar baik, ya Tuanku Syah Alam,” jawab Abu Nawas. “jika tidak keberatan patik silahkan baginda datang kerumah patik, sebab patik punya hajat.”
“Kapan aku mesti datang ke rumahmu?” tanya baginda Sultan.
“Hari Senin jam tujuh pagi, tuanku,” jawa Abu Nawas.
“Baiklah,” kata Sultan, aku pasti datang ke rumahmu.”
Keluar dari Istana, Abu Nawas segera mendatangi rumah saudagar yang punya kolam, kemudian ke rumah tuan hakim dan pembesar-pembesar lainnya yang pernah dihubungi oleh si pengemis. Kepada mereka Abu Nawas menyampaikan undangan untuk datang kerumahnya Senin depan.

Hari Senin yang ditunggu, sejak jam tujuh pagi rumah Abu Nawas telah penuh dengan tamu yang diundang, termasuk baginda Sultan. Mereka duduk di permadani yang sebelumnya telah digelar oleh tuan rumah sesuai dengan pangkat dan kedudukan masing-masing. Setelah semuanya terkumpul, Abu Nawas mohon kepada sultan untuk pergi kebelakang rumah, ia kemudian menggantung sebuah periuk besar pada sebuah pohon, menjerangnya – menaruh di atas api.

Tunggu punya tunggu, Abu Nawas tidak tampak batang hidungnya, maka Sultan pun memanggil Abu Nawas, “kemana gerangan si Abu Nawas, sudah masakkah nasinya atau belum?” gerutu Sultan.
Rupanya gerutuan Sultan di dengar oleh Abu Nawas, ia pun menjawab, “Tunggulah sebentar lagi, tuanku Syah Alam.”

Baginda pun diam, dan duduk kembali. Namun ketika matahari telah sampai ke ubun-ubun, ternyata Abu Nawas tak juga muncul di hadapan para tamu. Perut baginda yang buncit itu telah keroncongan. “Hai Abu Nawas, bagaimana dengan masakanmu itu? Aku sudah lapar, kata Baginda.
“Sebentar lagi, ya Syah Alam,” sahut tuan rumah.

Baginda masih sabar, ia kemudian duduk kembali, tetapi ketika waktu dzuhur sudah hampir habis tak juga ada hidangan yang keluar. Baginda tak sabar lagi, ia pun menyusul Abu Nawas ke halaman belakang rumah, diikuti tamu-tamu lainnya. Mereka mau tahu apa sesungguhnya yang dikerjakan tuan rumah, ternyata Abu Nawas sedang mengipa-ngipas api di tungkunya.
“Hai Abu Nawas, mengapa kamu membuat api di bawah pohon seperti itu? Tanga baginda Sultan.
Abu Nawas pun bangkit, demi mendengar pernyataan baginda. “Ya tuanku Syah Alam, hamba sedang memasak nasi, sebentar lagi juga masak,” jawabnya.
“Menanak nasi?” tanya baginda, “Mana periuknya?”
“Ada, tuanku,” jawab Abu Nawas sambil mengangkat mukanya ke atas.

“Ada?” tanya beginda keheranan. “Mana?” ia mendongakkan mukanya ke atas mengikuti gerak Abu Nawas, tampak di atas sana sebuah periuk besar bergantung jauh dari tanah.

“Hai, Abu Nawas, sudah gilakah kamu?” tanya Sultan. “Memasak nasi bukan begitu caranya, periuk di atas pohon, apinya di bawah, kamu tunggu sepuluh hari pun beras itu tidak bakalan jadi nasi.”

“Begini, Baginda,” Abu Nawas berusaha menjelaskan perbuatannya. “Ada seorang pengemis berjanji dengan seorang saudagar, pengemis itu disuruh berendam dalam kolam yang airnya sangat dingin dan akan diupah sepuluh dirham jika mampu bertahan satu malam. Si pengemis setuju karena mengharap upah sepuluh dirham dan berhasil melaksanakan janjinya. Tapi si saudagar tidak mau membayar, dengan alasan anak si pengemis membuat api di pinggir kolam.” Lalu semuanya diceritakan kepada Sultan lengkap dengan sikap tuan hakim dan para pembesar yang membenarkan sikap si saudagar. “Itulah sebabnya patik berbuat seperti ini.”

“Boro-boro nasi itu akan matang,” kata Sultan, “Airnya saja tidak bakal panas, karena apinya terlalu jauh.”
“Demikian pula halnya si pengemis,” kata Abu Nawas lagi. “Ia di dalam air dan anaknya membuat api di tanah jauh dari pinggir kolam. Tetapi saudagar itu mengatakan bahwa si pengemis tidak berendam di air karena ada api di pinggir kolam, sehingga air kolam jadi hangat.”

Saudagar itu pucat mukanya. Ia tidak dapat membantah kata-kata Abu Nawas. Begitu pula para pembesar itu, karena memang demikian halnya.

“Sekarang aku ambil keputusan begini,” kata Sultan. “Saudagar itu harus membayar si pengemis seratus dirham dan dihukum selama satu bulan karena telah berbuat salah kepada orang miskin. Hakim dan orang-orang pembesar dihukum empat hari karena berbuat tidak adil dan menyalahkan orang yang benar.”

Saat itu juga si pengemis memperoleh uangnya dari si saudagar. Setelah menyampaikan hormat kepada Sultan dan memberi salam kepada Abu Nawas, ia pun pulang dengan riangnya. Sultan kemudian memerintah mentrinya untuk memenjarakan saudagar dan para pembesar sebelum akhirnya kembali ke Istana dalam keadaan lapar dan dahaga.

Akan halnya Abu Nawas, ia pun sebenarnya perutnya keroncongan dan kehausan.

Sebuah catatan bagi penulis sendiri pada khususnya, dan bagi kita semua pada umumnya. 
~disadur dan diterjemahkan pada Senin, 28 Juli 2014/1 Syawal 1435 H, 06:47 (UT+9), mengisi momen Idul Fitri 1435 H.
Disadur dari salah satu bagian kisah Abu Nawas.

sumber

Baca selengkapnya disini..

Minggu, 27 Juli 2014

Article#322 - Bulan Yang (Terlihat) Besar

12 Juli 2014, 18:27 WIB (UT+7).
Pada waktu ini, Bulan mencapai posisi terjauh dari Matahari, dilihat dari Bumi. Sebuah momen yang biasa kita kenal dengan istilah "Bulan purnama". Di sekitar momen tersebut, Bulan bersinar dengan porsi wajahnya yang paling mendekati bulat sempurna, dalam cerlang yang paling paripurna.
Purnama kali ini, selain menandai pengingat berlalunya tengah bulan bagi umat Islam yang sedang menjalankan ibadah Ramadhan, juga dinikmati oleh banyak orang di penjuru dunia karena posisi Bulan yang tergolong cukup dekat ke Bumi di masa purnamanya. Bulan pada posisi ini, yang kemudian populer dengan julukan
supermoon, berhasil menarik perhatian ekstra bagi peinta angkasa untuk sejenak menyintas cakrawala petang, berusaha menangkap citraan Bulan yang tampak (sedikit) lebih cerlang dari biasanya. Sayangnya, tentu saja, julukan 'super' bagi Bulan di saat tersebut tidak se-'super' kedengarannya, terlepas apakah para astronom akan cukup tega untuk membuyarkan animo masyarakat dalam mengamati Bulan. Bagi penulis, menilik istilah supermoon yang memperdayakan dan sekaligus memberi harapan palsu (?) istilah "purnama perigee" yang lebih ilmiah akan dipakai di tulisan ini.
(Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai seluk beluk purnama 
perigeesila kunjungi laman ini)

27 Juli 2014, 05:43 WIB (UT+7).
Pada waktu ini, Bulan mencapai posisi terdekat dari Matahari, dilihat dari Bumi. Sebuah momen yang disebut juga sebagai konjungsi/
ijtima'. Tepat pada momen ini, Bulan berada pada fase "Bulan baru", yang berarti kepastian pergantian bulan menurut kalender Islam akan ditetapkan pada sore harinya, pertama kali Matahari terbenam sejak konjungsi terjadi.
Ini artinya, bulan Ramadhan yang telah sedemikian digandrungi dalam 29 hari terakhir ini, akan segera beranjak pergi. Karena ia tak selamanya bergulir di sini. Banyak dari kita yang bersukacita menyambut Idul Fitri, banyak yang bersuka-duka memenuhi jalur mudik, namun tetap banyak ang bersedih, mengharap sepenuh hati, menanti Ramadhan untuk datang lagi.


Bulan Ramadhan senantiasa menjadi bulan terbesar bagi umat Islam setiap tahunnya. Seakan menekankan pada segenap umat manusia, salah satu kenampakan Bulan paling besar dan terang pun tersuguh di tengah bulan Ramadhan kali ini. penulis pun tak mau kalah, dan menyuguhkan foto-foto hasil jepretan orang di berbagai daerah dunia dalam mengabadikan momen purnama perigee. Meskipun, mungkin penulis perlu mengingatkan kepada para pembaca sekalian, bahwa kenampakan Bulan di foto-foto di bawah terlihat besar hanya karena teknik fotografi yang digunakan dalam memotret citra Bulan. Bukan Bulan yang terlihat sedemikian besar; justru objek di sekitar Bulan lah yang terlihat demikian kecil-kecil.
(Jika tertarik dengan koleksi foto-foto Bulan, sila kunjungi juga laman ini)
Tambahan: Melewatkan momen purnama perigee tersebut? Purnama perigee untuk tahun 2014 masih bisa kausaksikan pada 10 Agustus dan 9 September mendatang. Jangan lupa tandai di kalendar!

Purnama perigee yang terbit di sebalik rumah-rumah di Olvera, Provinsi
Cadiz, Spanyol. (Jon Nazca/Reuters)
Purnama perigee, sebagaimana dipotret dari Olathe, Kansas, AS.
(John Sleezer/Kansas City Star/MCT)
Purnama perigee di balik Seattle Municipal Tower, Seattle,
Washington, AS. (Chuck Hilliard)
Purnama perigee dengan pesawat di latar depan, dipotret dari Rideau Canal,
Ottawa, Kanada. (Blair Gable/Reuters)

































Jika mata telah sampai pada bagian ini, artinya tulisan ini siap undur diri. Pergi meninggalkan tatap yang menari, mengiringi bulan Ramadhan yang akan pergi. Mungkin ada bahagia yang terbebas dari dahaga. Ada gumam yang kurang lama terasa. Ada sesal yang tak sanggup terkata. Ada hati yang sesak oleh perpisahan. Tapi di atas itu semua, mungkin kita akan terus mendoa, supaya berjumpa kembali dengan Ramadhan berikutnya.

sumber

Mengikuti post yang siap beranjak, penulis pun hendak pamit kepada kalian yang masih setia membaca.
Semoga segala yang terusahakan adalah hal yang berguna.
(:g)
Baca selengkapnya disini..

Selasa, 22 Juli 2014

Article#321 - Planets Unite


That picture depicted above represents all the 9 planets of the Solar System, painted as one unity on a single canvas, scanned into a .JPG file, and rotated clockwise 90°. Wait, wait, some of you may have been ready to launch your objections. Before you lot have the opportunity to do so, I have to stress that the picture is completed back in the 1990s (as theweathernetwork.com wrote), well before the dreadful resolution of IAU General Assembly in Praha, 2006, on which Pluto's status as a planet was demoted. The lil' icy world has been since called "dwarf planet", and many seem to be against that idea.

Let's forget all the fuss over Pluto's status for now. About the artist, Steve Gildea, he teaches digital design (or so we are told by io9.com) in Massachussetts, United States of 'Murica. He is quite into painting, which would seem to be an understatement once you go through his galleries here.
I don't make it to find out more about him, but looks like our fellow artist is old enough to have one of his son posting about his painting in Reddit.

What, still arguing about Pluto? Case closed. It's his defeat. Just accept it like a man, please.
But I'm a woman!
Look... um, well, whatever. As I mentioned above, the case is closed. Pluto is no longer classified as the significant figurines of the Solar System, which are the planets. Therefore, we need a newer insight regarding this Solar System depiction.

There are some versions of this, which – beats me – is made from combining photographs. And while there are some of them in pandawhale.com, my favorite is this one below.

Eight planets as one. Created by Redditor Jupiter-x; sources are mentioned
in the link.
One more, the original style of Steve Gildea's painting. At least, as it appears on his website.

"Planetary Suite", as painted by Steve Gildea.
An oil painting on canvas, composed of 9 panels which
comprises 6'x13'3" (182.88 cm x 403.86 cm) in total.
(Collection of Merrimack College)
Eventually, I might have to emphasize that the planets' depiction in a single canvas is meant to unite those planet as one body. Be it with or without the poor Pluto, a depiction of the planets combined will be likely to "suite" for the time being.
As for Pluto, you can keep on going, regaining your mighty planetary status back. But be very well aware, or your supporters might lose faith in you.

Planets, Unite!

Here in my mind
You know you might find
Something that you
You thought you once knew
But now it's all gone
And you know it's no fun
Baca selengkapnya disini..

Sabtu, 19 Juli 2014

Article#320 - Ayo Pulang Kampung!

Akhir Ramadhan semakin mendekat.

Hal ini biasa berarti meningkatnya antusiasme masyarakat menyambut datangnya Idul Fitri, atau meningkatnya rasa takut kehilangan Ramadhan yang sedang bersiap berangkat. Bagi para penyedia jasa moda transportasi, mendekatnya akhir Ramadhan berarti bersiapnya mereka menuju salah satu masa tersibuk dalam dunia transportasi tiap tahunnya. Entah memanfaatkan jalan raya, rel, gelombang laut, atau aliran udara, armada transportasi akan dikerahkan dalam mengangkut jutaan orang yang hendak pulang ke kampung halaman, berbaur kembali dengan keluarganya dalam suasana hari raya. Bagi mereka yang menempuh debu panas di jalan raya, ribuan armada transportasi pribadi juga akan ikut meramaikan keadaan, bersatu sebagai satu arus mudik yang berpencar menuju tiap-tiap tujuan.

Arus mudik yang debitnya senantiasa bertumbuh tiap tahun ini pun kerap menimbulkan berita duka dari mereka yang tak berhasil mencapai tujuan. Jumlahnya yang cukup mencolok, terutama dalam jangka waktu pendek arus mudik dan balik, mungkin mengilhami Kementerian Pekerjaan Umum (KemenPU) Republik Indonesia untuk menelurkan iklan layanan masyarakat terbarunya. Iklan yang ditelurkan ini, berjudul "Ayo Mudik - Selamat Pulang Kampung" tidak sekadar menyampaikan pesan dalam nada datar, tetapi menyampaikan pesan dalam kemasan animasi dan musik yang asyik dinikmati.
Bagi yang sudah penasaran, silakan menyimak lewat jendela di bawah.

Jalan-jalan pulang kampung
Bersama dengan keluarga
Waspada di jalan selalu
Agar sehat slamat ceria
Reff:
Ingatlah
Waspada s'lalu
Silahturahmi harus berlanjut
Selamat pulang kampung
Pulang kampung harus selamat
Mengemudi dengan hati-hati
Jauhkan alat komunikasi
Cek slalu segala kondisi
Barang bawaan dibatasi
Reff
Interlude:
Jalan raya harus dijaga
Karna milik bersama
Patuhi rambu lalu lintas
Jangan lewati batas
Pilih kendaraan yang aman
Nikmati perjalanan
Jangan lupa keluarga menunggu di rumah
Pelan-pelan asal selamat
Reff (2x)
Coda:
Selamat pulang kampung
Pulang kampung harus selamat
Sebagaimana tercantum di laman indonesiakreatif.net, ilustrasi dan desain pada video digarap oleh @gustopo, dengan @kennikoop dan @arifmad_ menggarap animasi video. Jingle disusun oleh RWEBHINDA.
Chord jingle
Verse
D D/C# D D/A (2x)
D D/C# Bm A
G A D
Reff
D D/C# Bm
A G D
Bm F#m G A
D A G A Bm
G A D
Interlude
Bm F#m G D (2x) D/C#
Bm F#m G D
Bm F#m G A
Coda
D D/C# Bm G A D
Dalam perkembangan publikasi iklan layanan masyarakat terkait, beberapa pihak menyadari kemiripan gaya animasi dan musik dalam iklan dengan sebuah iklan lain yang diunggah ke situs berbagi video, YouTube, pada November 2012 lalu. Iklan terkait, dijuduli "Dumb Ways To Die", adalah iklan layanan masyarakat yang dipublikasikan oleh Metro Trains Melbourne, pengelola jalur kereta untuk lingkup kota Melbourne, Victoria, Australia.
Perbandingan tampilan pada iklan dari KemenPU
(atas), dan iklan dari Metro Trains Melbourne (bawah)
Untuk mengawali episode kemiripan yang ada, kedua video sama-sama berfungsi sebagai iklan layanan masyarakat yang menyebarkan pesan keselamatan di lingkup transportasi publik. Gaya animasi kedua video pun terlihat mirip, walaupun seiring perjalanan mengarungi video, mungkin kemiripan itu tidak lagi terlalu kentara. Ohiya, musik pengiring kedua video pun terasa cukup mirip, terutama di bagian awal. Jika berminat menganalisa kedua video, penulis telah siapkan jendela kedua untuk menonton video versi Australia, di bawah ini. Selamat menikmati.


Tanggapan penulis
Terlepas dari kemiripan yang ada antara kedua foto, menurut penulis, pengembangan pada sisi animasi dan musik pada iklan KemenPU tersebut sudah cukup bagus. Sebagai iklan dari Kementerian, di iklan juga dimuat secara tersirat capaian KemenPU, dengan jembatan Suramadu dan jalur tol Bali Mandara cukup kentara ditampilkan.
Berbagai ide ekstra yang disertakan pada animasi dan musik pengiring membantu melepaskan iklan ini dari bayang-bayang iklan Dumb Ways To Die yang lebih dulu tersohor.

Bagi penulis, iklan KemenPU ini dapat dijadikan langkah awal yang bagus untuk pertumbuhan industri kreatif dalam negeri. Berbagai kejadian akhir-akhir ini telah membantu melejitkan perhatian masyarakat akan industri kreatif, juga akan potensi kreativitas besar yang tersimpan di generasi muda saat ini. Kalau diarahkan pada penerapan yang tepat guna, saya bisa melihat masa depan industri kreatif Indonesia yang demikian cerah.
....Mari kita saksikan beberapa tahun ke depan.

Mungkin demikianlah berpatah-patah kata dari penulis.
Akhir kata; selamat pulang kampung, pulang kampung harus selamat~
(:g)
Baca selengkapnya disini..

Kamis, 17 Juli 2014

Article#319 - Kutipan Hari Ini

Air berkumpul dengan air.
Minyak berkumpul dengan minyak.
Setiap orang berkumpul dengan jenis & wataknya.
~kutipan yang menurut sumber berasal dari Tan Malaka, salah satu tokoh di masa pergerakan kemerdekaan Indonesia, sekaligus Pahlawan Nasional. Dikutip pada Sabtu, 12 Juli 2014, 23:13 (UT+9).

sumber

Baca selengkapnya disini..