Kamis, 19 Maret 2015

Article#401 - Komparasi


Pada kenyataannya, semata mendapatkan gelar memang tidak akan mengubah apa-apa selain yang berkaitan dengan kehidupan pribadi. Ya, mungkin sebuah kelulusan secara tak langsung memberikan pernyataan terbuka pada dunia, akan apa yang telah dilalui, apa yang telah dicapai. Tetapi, dari sanalah babak baru dimulai.

Akhir kata, tidak ada dendam di antara kita ya, hai kalian para mahasiswa pascasarjana.
Semoga semua usaha sampai pada tiap-tiap manfaatnya.

sumber gambar
Baca lebih lanjut..

Selasa, 17 Maret 2015

Article#400 - Empat Ratus Citarasa, Empati Salah Arah

sumber
Tapak kembali menggelegar dalam alam bawah sadar.
Membangunkan jiwa dan raga yang belum bugar.
Agaknya, perlu sedikit percik kenyataan pada muka saya yang setengah terpejam untuk menyeret saya kembali siaga. Di hadapan layar kaca berhiaskan sekian banyak dioda, setidaknya ada dua pilihan yang telah terbukti ampuh menjerumuskan sekian banyak penggunanya. Baik ia berupa kesilauan atas derai cahaya yang menghujani retina, atau ketidakmampuan kita menjaga tujuan atas apa yang hendak dilakukan. Atau gelegar genderang perang yang ditabuh organ-organ tubuh yang merasa kehilangan perhatian. Atau teriakan yang bergema dari tumpukan pertanggungjawaban yang belum terselesaikan. Atau tarikan gravitasi dunia maya, yang konon mengerdilkan tempat tidur akibat besarnya massa keributan yang bercokol di dalamnya. Atau fakta bahwa daftar yang baru saja saya lampirkan telah membengkak menjadi enam. Atau...

...sudah, hentikan saja ini, ya.
Sebagai salah satu orang iseng yang mengaku suka menuangkan sedemikian ragam kenyataan dalam bentuk tulisan, agaknya saya telah terbuai candu untuk menjaga keberlangsungan aliran tulisan. Mereka biasa bilang, cerita terbaik adalah cerita yang paling mampu menggambarkan kenyataan, maka saya menempuh jalan tersebut dalam usaha mengasah ketajaman jemari saya dalam menyiksa papan ketik perlahan-lahan memoles kejadian dalam bentuk alinea dan barisan.

Kau boleh saja menyebut saya sebagai orang yang fleksibel, yang bisa mulur bagai karet menyesuaikan diri dalam ragam situasi, yang bisa berubah wujud menjadi beragam kebodohan merasakan jengkal demi jengkal keadaan. Atau kau boleh saja menyebut saya sebagai orang yang terlalu santai, terbiasa menghabiskan waktunya berbual. Terbiasa mengumbar omong kosong yang bisa disejajarkan dengan novel bestseller nasional naskah koran yang menjadi bungkus gorengan. Terbiasa mengesampingkan kesibukan utamanya demi sedikit intip dan intip pada segala keanehan yang pernah ia utarakan.
Terbilang empat ratus citarasa, segala keanehan yang tercampuradukkan hingga ramai rasanya.
Terbilang empati salah arah, segala penyesuaian yang menyimpang dari apa yang diniatkan.

Ketika saya berbicara soal empati, saya harus tahu terlebih dahulu, apa itu empati. Hal yang selanjutnya akan saya lakukan, biasanya, adalah membuka entah KBBI atau Wikipedia, dan menggunakan definisi yang tercantum di sana untuk memperjelas duduk perkara. Walaupun perkara mungkin sedang berdiri, atau bahkan meloncat.

Baik, KBBI bilang, empati adalah "keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain".
Entah apa artinya itu. Terjemah kasar saya, maksudnya adalah menempatkan diri dalam posisi orang lain. Misalnya, ketika teman kita membuka kotak bekal untuk memakan kotaknya bekalnya, kita berempati padanya, dengan cara menempatkan diri kita dalam posisinya. Dengan kata lain, menggantikan posisinya memakan bekal tersebut.
....Atau demikiankah? Yah, mungkin.

Bagi kasus saya yang berkecimpung dalam dunia tulis-menulis, saya amati banyak tulisan dari entah sesiapa yang kerap kali mengaku gagal menjaga konsistensinya dalam penuangan tulisan demi tulisan. Maka kemudian saya kembali berempati pada mereka; dengan kata lain, saya menempatkan diri saya pada posisi orang yang gagal menjaga konsistensinya dalam memperbarui isi laman belog aneh ini.
Alhasil, saya kini kewalahan menjaga kinerja saya tetap pada jalurnya.

Setidaknya, dalam dua bulan terakhir ini, saya terus memulurkan jadwal publikasi tulisan saya, yang telah sedemikian banyaknya berkerak di kolom draft. Tulisan ini pun mulur lebih dari sebulan dari waktu yang sebelumnya telah saya jadwalkan. Mohon maaf ya, handai taulan sekalian.

Maka baiklah, akhir kata, semoga laman laman yang nampak terkapar ini, meski sering mulur, bisa terus menebarkan citarasa yang memperkaya khazanah kehidupan kita semua. Terlepas dari apa sebenarnya "khazanah kehidupan" tersebut.
Semoga tetap waras, meskipun tulisan yang ada di hadapan kalian tidak.
(:g)
Baca lebih lanjut..

Minggu, 15 Maret 2015

Article#399 - Proklamasi

Kita tak perlu membebek pada sekian banyak figur pujaan, karena jiwa dan raga tiap-tiap kita berhak untuk menjadi diri yang sebenar-benarnya. Biarkan ramai manusia berujar akan pencarian identitas, dan teruslah membangun sendiri jati diri dari bawah. Tetapkanlah apa-apa yang akan menjadi landasannya, dan bangunlah wujud yang kokoh dari sana. Jadikan ia tegak, tak bergeming di hadapan aral.

Kita tak perlu membuktikan segala hal pada segala orang, karena kehidupan bukanlah untuk menjilati wajah riang mereka. Biarkan ramai manusia berceloteh mempertanyakan adanya perkembangan, dan teruslah berjuang tanpa perlu harap sesiapa tersadar. Tengadahkan wajah yang berlindung pada nama-Nya, yang tak perlu sesuap bukti dari kita yang fana. Tetaplah berjalan, atas dasar yang tak kita pertanyakan.

Kita tak perlu menyibukkan diri memikirkan tujuan utama, karena bentuknya sudah demikian jelas tergambar bagi tiap-tiap kita. Biarkan ramai manusia berkalang dalam sekian banyak batu loncatan, yang mereka kejar sebagai akhir perjalanan panjang. Langkahkan kaki yang menyadari adanya kelanjutan, dan ajak raga terus bergerak. Syukuri tiap nafas dan langkah, jejaki awal mula pada setiap perhentian.

Kita tak perlu menghabiskan waktu berkubang dalam angan, karena kenyataan yang tergelar luas telah mencukupi segala yang kita butuhkan. Biarkan ramai manusia berkabung menghitungi sekian skenario yang tak pernah lari dari kepala-kepala mereka. Kepalkan tekad, lambaikan salam pada yang terlewat, dan bersungguh dalam apa yang bisa diusahakan. Menjabat erat kenyataan selayaknya sahabat lama.

Kita tidaklah mengejar kebesaran, tak pula meratapinya. Kita tak mendamba kepalsuan, yang digenggam angkasa fana. Kita berjuang tanpa kecewa, memberangus sesal tiada guna.
Kita menutup lembar pada tujuan, dan menjadikannya nyata.

Sannomiya, 12 Maret 2015.
Akhir dari sebuah perjalanan, awal dari perjalanan selanjutnya.



Baca lebih lanjut..

Jumat, 13 Maret 2015

Article#398 - Sembilan Bangsa

[apdet terakhir pada 12 April 2015, 10:54 (UT+9)]

Dua puluh delapan provinsi.
Dua belas hari.
Dua sisi negeri.
Satu imajinasi.


....Mohon maaf atas penggunaan istilah "provinsi" yang saya pakai di atas. Saya melakukan pemaksaan itu demi rima semata. Karena bagaimanapun juga, warga Jepang sendiri menyebut "provinsi" mereka, 県 "ken", sebagai "prefecture" dalam bahasa Inggris. Meskipun pada hakikatnya, "prefektur" milik Jepang sebagaimana yang berlaku saat ini sama saja dengan "provinsi" yang biasa kita kenal sebagai pembagian terbesar dari wilayah negara.

Sebenarnya, dulu tidak demikian, karena setidaknya hingga restorasi Meiji, satuan yurisdiksi terbesar dari wilayah Jepang adalah "provinsi". Dilangsungkannya restorasi Meiji antara 1867 dan 1871, yang memberangus segala macam kekuasaan para tuan tanah (大名, "daimyō") era Jepang feodal, ikut menenggelamkan provinsi-provinsi yang membagi wilayah Jepang saat itu. Mereka semua dirombak menjadi unit-unit yurisdiksi yang kemudian dikenal sebagai "prefektur". Istilah yang digunakan juga mengalami perubahan, karena batas-batas wilayah prefektur baru dengan provinsi lama tidak sepenuhnya sama, sekaligus mengubah sistem provinsial yang lebih "demokratis" ke sistem prefektural yang lebih "terpusat". ('Prefek' atau pemimpin suatu prefektur ditunjuk oleh pemerintah pusat.)

Perubahan ini agaknya juga dimanfaatkan untuk menegaskan peralihan sistem lama yang feodal ke sistem baru yang terpusat, dengan harapan bibit-bibit feodalisme yang telah ditumpas tidak kembali bertumbuh menjadi duri dalam daging pemerintahan Jepang baru di era Meiji. (Lebih lanjut bisa baca isi laman ini.)

Maka, sejak 1871, Jepang kembali menjadi negara kekaisaran de facto, setelah berabad-abad dikendalikan oleh keluarga shōgun. Di bawah pimpinan Kaisar Meiji, yang saat itu berusia 19 tahun, pemerintahan negara dipusatkan pada ibukota baru di timur (kini dikenal sebagai Tokyo), dan Jepang bersiap membangun diri menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia di awal abad ke-20.

.....
"Sembilan Bangsa" sendiri merujuk pada Kyushu (九州), nama yang merujuk pada sembilan provinsi pada pulau utama paling selatan Jepang. (Kini kesembilan provinsi tersebut telah dirombak menjadi tujuh prefektur.)
Boleh saja protes, dengan melampirkan informasi tentang bagaimana shū 州 biasa diterjemahkan sebagai "provinsi"; sayangnya, provinsi-provinsi Jepang di masa lalu dilabeli sebagai 国 "koku", yang kini secara harfiah bermakna "negara".
Akhirnya saya memutuskan untuk memakai istilah "bangsa"; selain definisi "bangsa" yang terkadang kabur dalam bahasa Indonesia, tentu saja karena alasan rima.

Sembilan bangsa
Tinggalah tujuh tersisa
Dijumpa dua di luarnya
Tinggalah menjelma nyata


*****

Berbaris-baris abstraksi sejarah mungkin membuat sebagian dari kita pusing, tetapi agaknya ragam kontur muka Bumi tak pernah lekang dari keingintahuan manusia yang menjejakinya. Pun jua diri saya, yang memutuskan untuk membelanjakan dana, tenaga dan cita untuk kembali melanglang buana. Salah satu program perjalanan yang paling lama, juga (agaknya) paling ambisius, lebih dari empat ribu kilometer saya habiskan dalam perjalanan selama dua belas hari, semua mengandalkan moda transportasi umum.

Akhir kata, berhubung satu gambar mewakili (dan lebih enak dipandang dari) deretan kata, maka saya akan menyudahi segala ocehan saya, dan segera memamerkan hasil jepretan dalam galeri di bawah.
Selamat menikmati.

Belasan jam, ratusan kilometer, sekian senti tumpuk salju
Saya akan sebut ini.... Persiapan yang matang. YEEEEAAAAAAAAHH
Sungai Shinano, terpanjang se-Jepun
Matahari terbenam dari wilayah Toyama-ken
Suatu pagi di Okayama
Beppu dari kompleks APU
Pinggir kaldera Aso

Musim semi telah tiba... di Kumamoto
Sakurajima dari Kagoshima
Gelegak abu letusan
Yunohira, Sakurajima
Sebuah senja di pantai Sakurajima
Bebungaan dan perkotaan
Shirakawa, Kumamoto
Matahari senja, Unzen, Ariake, burung camar
Hiroshima, sisi barat
2015, rusa pun ikutan narsis
Genbaku Dome dalam masa pemeliharaan berkala
Matahari terbit dari daerah Kanto utara
Matahari, pepohonan, langit Fukushima-ken
Baca lebih lanjut..

Selasa, 10 Maret 2015

Article#397 - Remedi

Cold and frosty morning, there's not a lot to say
About the things caught in my mind


Selembar kertas di tangannya itu memandanginya bisu.
Tidak banyak memang, tinta yang tertera padanya. Hanya corak-corak kecil di sana sini, yang bersatu memberitahukan sang pembaca akan informasi yang diperlukan bagi keberangkatan. Waktu, pintu keberangkatan, tempat duduk, dan lainnya. Tetapi di benak penggenggam lembaran kertas tersebut saat itu, lembar kertas itu mewakili salah satu keputusan terpenting yang pernah ia buat.

Faira menghela nafas. Tiga puluh menit menjelang.

Bandar pada fajar hari itu tetap ramai, disesaki beragam rupa manusia dari beragam penjuru dunia. Salah satu pojok kota yang tak pernah terlelap, bandar tersebut telah demikian terbiasa mendengarkan celoteh yang bergaung di tiap selasarnya sejak ia berdiri, lebih dari tiga puluh tahun yang lalu. Dari terpaan hujan badai, luapan air banjir, hingga udara beku musim dingin, bandar yang satu ini telah menjadi rumah sementara bagi demikian banyak orang yang tersandera oleh beragam hal, mulai dari bencana alam hingga gagal mendapat kloter transportasi terakhir. Ada beberapa orang yang mencoba menyelinap di balik keleluasaan yang diberikan pengelola bandar, dan menjadikan karpet bandar yang nyaman sebagai tempat tinggal mereka dalam beberapa masa.
Salah satunya sedang bersitegang dengan satuan pengamanan bandar, dengan hiruk-pikuk yang cukup untuk menggetarkan timpani telinga mereka yang masih terkantuk-kantuk pagi itu.
Hingga suara keributan itu, bersama bersit pertama sinar matahari pagi itu, menerpa Faira.

Faira terjaga, tiada tampak kantuk di raut wajahnya.
Malam sebelumnya telah menjadi malam yang panjang. Persiapan disertasi telah lama terbiar berlarut, dan ketika Faira pulang dari kampus sepuluh jam sebelumnya, sang profesor yang memberinya izin pulang sejenak, tidak menyiratkan apa-apa. Dua jam selanjutnya terpakai untuk mengepak barang bawaan, dan ketika Faira telah merasa cukup senggang, kedua jarum hampir bersatu menunjuk langit. Tetapi larutnya waktu tidak menghentikan datangnya email dari sang profesor, yang meminta hasil revisi disertasi terkirim sebelum tengah hari berikutnya menjelang.

Jam-jam berikutnya adalah pertarungan sengit Faira, mengatasi kantuk dan kepala yang teraduk-aduk oleh segala macam pernak-pernik penelitiannya. Disusul pertarungan sengit dengan waktu yang terus berjalan, juga transportasi pagi buta yang demikian langka, tidak ada rayuan pulau kapuk yang tergubris di malam itu.
Maka, ketika tiba waktunya bagi Faira untuk bertolak, wajar untuk berpikir ia akan berjalan dengan rasa kantuk tak tertahankan.
Tetapi tiada tampak isyarat kantuk dari raut wajahnya.

Dengan langkah-langkah yang terdengar mantap, Faira berjalan menuju pemberangkatan.

And as the day was dawning, my plane flew away
With all the things caught in my mind



Garbarata yang mengulur menghubungkan penumpang menuju keberangkatan, agaknya tak mampu membendung serbuan angin membeku yang berhembus dari balik dindingnya. Sesekali, layar monitor yang terpasang di tiap persimpangan garbarata ikut menyertakan informasi akan kondisi dunia di luar sana. Pagi itu, ia menyebutkan temperatur udara sebesar minus dua belas derajat; suhu yang dapat menjelaskan dengan baik lansekap bersaput putih yang terhampar sejauh mata memandang dari dalam garbarata.
Angin yang berhembus membuat beberapa bagian garbarata menderukan lolongan pagi harinya. Lolongan membekukan yang tak digubris oleh langkah-langkah cepat mereka yang bergagas, menuju tiap-tiap wahana pemberangkatan.

Faira yang lebih sigap berjalan menuju wahana, segera melaju ke arah tempat duduknya. Setelah menjejalkan tas punggung ke dalam ruang bagasi, Faira menduduki bangkunya dengan helaan nafas berat.
Ia mencoba memejamkan mata, memaklumi kondisinya yang sudah lelah. Tetapi tubuhnya tak jua mau mengalah. Tidak juga segala panduan yang disalurkan speaker membuat usahanya sedikitpun lebih mudah.

Dalam persiapan lepas landas, Faira membuka buku agendanya. Masih tertera jadwal yang dicanangkan untuk hari itu pada kalender buku agendanya, deretan kata yang kemudian menerima sebuah coretan tegas dan panjang. Setiap dari mereka.
Perjalanannya pagi itu, perjalanan yang diputuskan hanya sepekan sebelumnya, terbukti telah menggusur banyak urusan yang makin memadat di bulan-bulan terakhir masa studinya. Tetapi, tidak ada pilihan lain selain pulang saat ini juga.

Faira menutup buku agenda tersebut. Buku agenda tersebut, yang sampulnya sudah mulai lusuh dimakan usia, berhiaskan sebuah foto yang dijahit padanya. Foto seorang wanita muda, menggendong anak gadis kecil yang tampak tersenyum bangga. Wanita yang permintaannya ia tolak beberapa bulan sebelumnya karena kesibukan bulan-bulan terakhirnya yang luar biasa, kini menjadi satu-satunya alasan akan kepulangan yang mendadak ini. Seorang wanita kuat, yang wajah tegarnya mendadak melemah dan mengabur dalam pandangan Faira.

"Maafkan aku, Bu.."

Isak tangis Faira di pagi itu tenggelam oleh deru mesin yang mulai membawanya melaju. Meninggalkan kota yang bersaput salju dalam bebayang putih dan kelabu.

Pesawat itu terus melaju, menggetarkan setiap kalbu.
Menjalin tenggat akan masa depan yang tak menahu.

Me and you - what's going on?
All we seem to know is how to show
The feelings that are wrong


sumber gambar
Baca lebih lanjut..