Rabu, 14 Januari 2015

Article#379 - Kutipan Hari Ini

"Bahwa sejatinya "Apa kabar?" adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, kecuali jawabanmu cuma untuk berbasa basi juga."

~dikutip dari kata-kata Agus Hadi Sujiwo alias "Sujiwo Tejo" (b. 1962), seniman dan budayawan Indonesia. Dikutip pada 20 November 2014, 06:18 (UT+9), dengan sedikit pengubahan.

sumber gambar


...
Jadi, apa kabar?
Baca lebih lanjut..

Minggu, 11 Januari 2015

Article#378 - Days of Past Future



This kind of topic will probably make for a nice little chat in a tranquil night. A sip of warm tea, nightly breeze, stars' twinkles. Exchanging ideas, sharing memories, forgetting about no tomorrow. All that kind of details.
.....
.....
On the side note, I proudly claim that I have done all the mentioned stuffs within the post.  Except, maybe, that last question.
What exactly were we thinking? Did we even think of anything, back in the days?

This post ain't gonna be one for remorse, so leave the answer still in your mind.

I wanna talk tonight
Until the mornin' light
'Bout how you saved my life

You and me see how we are

(image source)
Baca lebih lanjut..

Rabu, 07 Januari 2015

Article#377 - Seniman Kecil




Ada waktu-waktu di mana seorang anak manusia mulai menumpahkan kreativitasnya pada ragam media di sekitar.
Bagi anak yang satu ini, ragam kendaraan sudah sejak dini diminatinya. Maka kreasi yang pertama-tama ia tumpahkan tidak jauh menyimpang dari ketertarikannya. Bukan pakem dua gunung yang membosankan, dengan matahari di tengahnya itu.

Sebuah syukur, karena memulai dengan pembaruan. 
Sebuah doa, supaya dikembangkan secara berkesinambungan.

Baca lebih lanjut..

Minggu, 04 Januari 2015

Article#376 - Crescents


Let's just say that our eyes are used to see crescents. Either the one hovering near the dangling sunlight, or the one looming near the glowing horizon.
Now, let's just say that we already had enough of seeing a crescent at a time. In that case, our Hungarian fella Pál Váradi Nagy is more than ready to present you an image of one. Um, no, two crescents in one image. (It's a montage — click this link for more explanation)

In the image, the big crescent is evidently our good ol' Moon in its waxing crescent stage. How about that small crescent on the lower right corner? It's the dear "morning star" Venus – magnified good enough to present its appearance of a crescent, instead of a bright star as we used to see (in case you ever saw it, of course).
If you look back to the study of planets somewhere in the ol' school times, you might recall that this Venus is the very one called "Earth's twin" in several occasions within your textbooks. While that term is relatively true if you compare the two planets' mass and size, the resemblance stops there, as we got to know more about the presumably "loving" planet, as the name portrays. (Ever since, the term "Earth's twin" is preferably used in articles referring to potentially habitable "exoplanets" — namely, planets orbiting a star aside of our own Sun.)

Recall once more, that the dear Venus is similar in size and mass to our mighty Earth. That translates to about four times as big as the good ol' Moon.
Yet, in the photograph, the dear Venus is strikingly smaller than the Moon.
It means, we're seeing a crescent Moon, and a crescent of a planet, much farther out than the Moon; that should suffice of an explanation.

Yeah, it's good to know some clump of rocks here and there. But why so far out? What will we discover as we go straight out to those clumps?
Well, let me tell you. It's... virtually nothing. Like, just "empty".
You might have guessed if that is the reason we call it "outer space" — it is mostly just space.
But... so does the atoms composing everything we see. Mostly empty space.
.....
or, is it?
Well, that is technically correct from a perspective of the ol' school physicist. This perspective provided by From Quarks and Quasars may beg to differ.
Okay, enough with the quantum physics stuff. Most of us will probably not going to find "gluon" useful in any extent whatsoever. What the heck is "gluon" anyway, a brand new glue?

...
...
From our simple perspective, it should suffice to say that, conceptually, we're just empty spaces. Living among the empties, trying to establish our own way to connect the voids.

We, conveyed by the emptiness, may just be a never-ending fluctuations cancelling out of each other.
And we, condescend to the emptiness, may just burst the interactions we supposedly maintain.


Baca lebih lanjut..

Rabu, 31 Desember 2014

Article#375 - Merangkai Warna, Mengurai Makna

Malam ini, aku masih melihat tirai malam berselimutkan beludru yang biasa. Sepoi angin yang menyusup ke dalam raga yang biasa. Derum-derum yang berlomba, mendecitkan teriakan malam yang biasa. Jiwa-raga yang berkalang kebisingan, mencandu sorak bising yang biasa. Sinar bangga sang Bulan, yang menderu menyimpulkan segala bayang yang biasa.
Sekilas tiada beda! Langit yang kering, bersih dari jajahan arak awan. Angin malam meraja, menggetarkan bangunan beserta nyali penghuninya. Kendaraan yang berlomba, berpencar dalam sigap pada tiap-tiap tujuan. Kerumunan yang bergembira, mengulang rutinitas tanpa kenal bosan. Rembulan yang tegas, menantang cerlang lampu metropolitan.

Pada nyatanya, memang tiada beda! Segala suara yang terdengar jelas berkumandang dalam segala terjemah pada detik-detik tertulisnya untai kata ini, memang sudah biasa dikumandangkan. Berkumandang entah sembarang saat, menyigi telinga-telinga yang tak sudi menepi barang sejenak Berkumandang dalam bentuk bait-bait yang menjelma, menutupi cakrawala dengan bayang kokohnya. Berkumandang dalam larik-larik yang terlepas dari dahan, berayun bertumpuk di dasar sebelum ada yang menyapu bersih semuanya. Berkumandang dalam segala serapah, celetukan yang terpercikkan tanpa pernah terayak.
Pada kenyataannya, di antara kita memang masih ada yang bergelut gamang, untuk sejenak bertegur sapa dengan kenyataan. Kenyataan yang berbicara dalam bahasa yang kita terjemahkan. Bahasa yang senantiasa terlantunkan tanpa rajin diperdengarkan. Lantunan yang mengubah derap zaman tanpa banyak diperhatikan.

Maka, sebagian dari kita mengambil keputusan untuk kembali bersahabat dengan realita. Menepuk bahu yang terhuyung dalam tenaga yang nyaris tiada, menyapa wajah ceria yang tampak hampir kehilangan rona bahagia. Menyalami hidup yang menyesap udara lamat-lamat, untuk menyerukan seruan lirih yang menggetarkan. Menggetarkan relung hati, nyaris tanpa menggetar timpani.

Malam ini, aku mendengar suara di kepala bercerita. Dongeng asing akan mereka yang merana dalam bahasa yang paling kudamba. Celoteh asing akan mereka yang mengiba dalam nada yang paling setia. Enkripsi asing akan mereka yang meminta dalam harap yang paling tersimpan. Masing-masing dan kesemuanya bercokol sebagai sederetan istilah yang dikesampingkan oleh pikiran, membiasakan keasingan istilah supaya tak diperhitungkan. Semua sebelum jiwa tersadar, bahwa dunia ini luas. Luasnya lingkup bagi kebrengsekan yang trengginas, memoles cerita yang tak rela dibalas.

Maka malam ini, aku sejenak menembus derak angin yang membekukan, mencoba mengurai makna yang tak kulihat.
Merangkai kenyataan, akan kita yang terlahir dari warna sama. Akan kita yang bernafas dalam pendar rona yang beraneka. Akan kita yang berkembang dari arah yang sama, menyesap butir-butir gizi penguat jiwa raga. Akan kita yang menyerap nilai dari berbagai arah, mewujud sebagai ciri tiap kita. Akan kita yang mengecat dunia sekitar dalam pekat corak yang berbeda. Akan kita yang tumbuh dalam semangat yang sama, dalam corak motif yang mewarnai dunia. Akan kita yang kemudian tumbuh besar dalam pengkotakkan atas remah kecil perbedaan. Akan kita yang bertindak, menjadikan kita semua nyata dalam kontras. Akan kita yang bersiap bangun, meniti jalan yang terlimpas.

Malam ini, kulihat kita berdiri di persimpangan. Derap angin mungkin akan menggeser sebagian kita ke satu jalan. Deraknya mungkin akan mengusir sebagian yang lain menuju satu jalan. Berbagai ragam kita, yang tampak dalam bungkus citra yang senada, kini menjelmakan diri sebagai apa-apa yang berbeda corak noda. Corak noda yang telah disandikan oleh larik-larik yang tak kita pedulikan. Larik yang disusun dari senarai kata tanpa suara. Yang tanpanya kita mulai meniti jalan.
Satu-dua jalan yang membawa pengikutnya menuju beragam tujuan.
Satu-dua jalan yang tersajikan, yang dari sini mungkin akan menyulam segala macam perbedaan.

Pada akhirnya, memang tiada beda. Kita hanya jarang rela untuk peka.
Semoga kita senantiasa berbahagia, walaupun bahagia adalah pilihan.

35°42'38.11"N, 139°45'36.47"E, 31 Desember 2014, 20:36 (UT+9).
Todaiakamonmae (東大赤門前), Bunkyo-ku, Tokyo.

Hari 7205, ditemani derak angin metropolitan malam.
Kamis, 1 Januari 2015, 00:59 (UT+9)
35°43'18.51"N, 139°48'05.43"E
Baca lebih lanjut..