Sabtu, 16 Agustus 2014

Article#330 - Here About To Leave

A short trip with nothing to see
A loner's story left behind the scene
The next stop out of what is here
Longing to back where I have been
Let the wind blow now, by the fiery sunlight
Let my eyes to see now
If ever we conspire for all this time?

Sometimes we struggle in disguise
The way of which we will despise
Scolding the rest of our regret
As if we're always there to start
Looming deep over the horizon
Trying so hard to move this on
You dreamt and thought that you were home
But you're here, never to belong

Here about to leave
Is the one to watch the wrong way
Withdraw, waiting for long to bring it back
I can't stand only watching
When I have nothing to stand

Sometimes we struggle in disguise
The way of which we will despise
Foresee the height of our demise
Still not a thing to underline
Looking at the edge of the riddle
Exposed by the tragedy in sight
There, not to be one thing to hide
Till it's burnt from where it rise

Here about to leave
Won't stop only for something
Inside, let alone to be there
I can't be right here
The rail is burnt and longing
Embrace, the benign heart is crumbling
Something to get back
By the morning
I'll be done with this long journey
Light years back
Will be a lot to walk
With these drowsy talk

The pantographs are waiting still for you
Ravaging the heat as the trains go
Won't be sure you're the only one to hold
Clouds stand still, the sand is scorching
Where will we depart?
Acting to knew how to get apart
And nowhere we flow
Loving the spring but this one is not
Way to go, dear pal

Here about to leave
Won't stop only for something
Inside, let alone to be there
I can't be right here
The life is blunt and tearing
Apart, this iron snake is fading
Nothing to get back
By the morning
I'll be done with this long journey
Light years fast
And I ain't gonna be back
Say goodbye to all

Here about to leave
Won't stop only for something
Inside, let alone to be there
I can't be right here
The life is blunt and tearing
Apart, this iron snake is fading
Nothing to get back
By the morning
I'll be done with this long journey
Light years back
Will be a lot to walk
As if I'm getting that



Day 7064, as journey takes its spite.
Retold by the humid sunshine,
Tuesday, 12th August, 2014, 14:41 (UT+9)
6°19'38.23"S, 106°40'54.47"E
Baca selengkapnya disini..

Kamis, 14 Agustus 2014

Article#329 - Kutipan Hari Ini

“Don't waste your time with explanations: people only hear what they want to hear.”

~a quote attributed to Paulo Coelho (b. 1947), Brazilian lyricist and novelist. Quoted on Monday, 11th August, 2014, 13:53 (UT+7)

photo credit

Baca selengkapnya disini..

Senin, 11 Agustus 2014

Article#328 - Segenggam Cokelat


Segenggam coklat itu mengalir di sela jemariku. Lumer oleh tanganku, juga oleh terik siang hari itu.
Kucoba mengumpulkan segenap lelehan cokelat itu. Aku mencoba mengembalikan lelehan tersebut kembali ke rumahnya semula, saat ia masih berupa batang cokelat yang kokoh. Semua usaha itu hanya untuk membuatku celingukan seperti orang bodoh. Cokelat cair telah tercecer ke segala arah, seolah bersama meneriakkan betapa tanganku ceroboh.

Ada tawa berkumandang. Rupanya dari sudut seberang ia datang. Juga bergema dari berbagai arah di sekitar. Entah sesiapa yang menjadi tertawaan, suara-suara tersebut bergiliran datang tanpa lekang. Seolah tak membiarkan telingaku sedetikpun lengang. Meskipun ternyata bukan kepadaku suara tawa itu datang menyerang.
Aku mengamati sekitar, berlagak tenang. Mereka yang tertawa adalah mereka yang dengan kawan saling pandang. Seakan memanfaatkan kesempatan sebelum ekspresi keceriaan dilarang.
Ya, tawa itu masih berkumandang. Memekakkan telinga. Memekikkan kelakar.

Kuperhatikan kembali wilayah kekuasaanku. Daerah di sekitar yang kini ditotoli bercak cokelat bertumpuk. Alih-alih membagi pemikiran dengan kilat cahaya yang ia pantulkan, bercak-bercak tersebut justru memandangiku dalam tatapan kelam. Seolah menggurui seorang pemuda bodoh yang dengan bodohnya membiarkan sebatang cokelat lumer di tangan.
Dikepung ceramah tanpa kesimpulan, pikiranku justru kembali berjalan-jalan. Kutelusuri dengan takzim, kedalaman cerita dari seorang anak bodoh dengan batang cokelat di tangan. Kususuri dengan teliti, ceruk-ceruk memori beriak, yang dengan bodohnya kutelisik dari pola percik cokelat. Seolah aliran yang menerabas memberi kejelasan akan detail dalam ingatan. Seolah bungkus yang terkoyak mewakili semangat yang sebelum waktunya telah terserak.

Beramai orang pernah mengomentari gayaku dalam menghabiskan sebatang cokelat. Perlahan, dengan deretan gigit yang berkesinambungan. Semua komentar hanya kujawab sekenanya, sementara kepalaku sendiri bertanya-tanya. Mugnkin karena sebatang cokelat terlalu manis dan indah untuk dibiarkan berlalu saja. Mungkin hanya karena segenap jiwaku ikut larut ketika mengunyahnya. Atau mungkin aku demikian penasaran akan keseluruhan keping ceramah. Walaupun akal sehat menamparku, mengingatkan akan tiadanya cokelat yang menggurui para pemakannya. Apalagi hingga terpercik ke segala arah. Iya, sebagaimana aku mengoyak bungkus cokelat dengan tidak sabaran sebelumnya, kini percik-percik cokelat itu menyerangku dengan tak sabar.
Di akhir kalimat, kesemuanya tetap menjadi alasan.

Pikiranku yang kosong mendadak tersadar. Alasan dari semua kekacauan yang kuracik di sekitar diriku sedari semula, kembali kudapti ada di seberang sana. Perhatianku kembali teralihkan.
Hampir saja aku diseret pikiranku untuk kembali berkelana. Tetes cokelat yang terbercak. Kesadaran yang berteriak. Semua seolah disuarakan kompak. Cokelat yang sebelumnya kugenggam, menjadi saksi atas kekonyolan diriku menghadapi kegilaan di sekitar. Menghujam dalam sekejap akibat ketepatan kalimat-kalimat itu menyasar tujuan. Kelebat orang-orang di sekitarku dalam rona warna, seolah mewakili dunia yang menertawakanku bersama kenyataan.
Aku kalah. Pikiranku berlutut kaku. Melihat kenyataan itu.
Sosok itu.
Tindak itu.
Derai tawa itu.
Kelebat pikiran itu.

Kuraih selembar tisu, menghilangkan segala kekacauan karyaku di tempat itu. Mengenyahkan segala ceramah yang memenuhi kepalaku. Yang kubiarkan menceramahi tanpa putus, meski hanya dari jauh. Bersama sedikit tetesan yang tak beruntung untuk ikut terangkut. Sementara aku menatap mereka kelu.
Adalah sebuah kepastian bagi segenggam cokelat untuk meleleh, ketika ia ada di tanganmu. Kecuali tanganmu lebih beku dari deru angin musim gugur.
Meskipun kemudian aku menyalahkan pengalih perhatianku, atas hangat yang melelehkan cokelat itu.
Telingaku masih menangkap seruan yang melemah itu. Kata orang, uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Tetapi, dengan uang, aku bisa membeli cokelat. Dan bagiku, cokelat sama saja dengan kebahagiaan.

Kulirik lagi pengalih perhatian, dengan tawa kecil sekilas. Kita pernah duduk berseberangan, dan nyaris menjadi kenalan. Tetapi, kemudian kuputuskan untuk menjadikannya sekadar orang asing lama. Yang pernah kebetulan berpapasan.
Telingaku tertawa kalah, dan kubiarkan derai sore itu memanggilku. Menyelusup benakku tanpa keluh.



sumber gambar 1
Baca selengkapnya disini..

Sabtu, 09 Agustus 2014

Article#327 - Menata Kenangan

Deretan lemari antik itu masih berjajar. Menderit lesu, mengintip dari balik lapis debu. Sebagai pemanis yang terpinggirkan dari jurai cerita, mereka terduduk di tepi barisan. Meminta tatap barang sejenak, dalam persepsi atas segala yang tersimpan nyaman.
Sementara aku menyelipkan semu dalam ingatan.

Tumpukan sepatu tua itu tampak gentar. Menatap nanar, pada langit-langit yang mulai pudar. Sebagai penjejak yang mematrikan langkah demi langkah, mereka menonton dari balik rak. Menyintas tanah, sepintas menjejak, dengan atensi atas tiap kontur yang terpetakan.
Sementara aku menapak lantun dalam ketukan.

Barisan buku-buku lusuh itu tersusun rata. Tegak berdiri, menyokong kawan di sisi. Sebagai perekam atas segala gesek pensil dan gurat pena, mereka menyediakan naskah tanpa alur cerita. Mendaras nama-nama lama, dari deskripsi pada kerutan zaman.
Sementara aku menyigi adanya rancu dari susunan.

Gedung-gedung gaek itu melirik samar. Kokoh menaungi, mempelajari diri tanpa henti. Sebagai penyedia latar bagi entah berjuta kisah, mereka mendominasi cakrawala. Menyibak rona pada bercak, dari remedi yang tertawan kenyataan.
Sementara aku mengupas keping lama dari khayalan.

Sosok-sosok canggung di sana menatap nanar. Berkelit kelu, membawakan sepintas deru. Sebagai penerus, pengisi pori pada fondasi, mereka menerawang halimun pagi hari. Menelisik sesekali, diguncang gentar, sembari meniti tangga sejarah yang kokoh berakar.
Sementara aku menabuh kebisingan dalam senyap canda.

Langkah-langkahku menggiring diri dari utopia. Menderap laju, mengaku sedikit tahu. Sebagai penggerak utama bagi jiwa-jiwa fana, mereka mendorong kami terus berjalan. Mengerjap cuplik memori lama, dengan tiap susunannya hadir bersama.
Dan aku terus melangkahkan pandangan. Mengayun hingga sosoknya samar menghilang.


Bayangkan derap-derap bodoh itu mengganggu benakmu. Dengan bunyinya yang bertalu-talu monoton, kau mungkin akan mudah merasa bisa mengabaikannya barang sejenak, seolah ia hanya desir angin dalam telinga. Dengan kekerapan yang mudah dilacak, dan susunan irama yang mudah ditebak, mungkin bagimu hanya butuh sedikit usaha untuk menghapusnya perlahan. Menanggapinya sebagai latar belakang yang sekadar menjadi pemanis buatan. Sedikit penyuntingan, dan hilanglah ia, menyisakan apa-apa yang senantiasa ingin kaudengarkan.

Bagi sebagian orang, menyingkirkan latar belakang hanya butuh sedikit pengalihan.
Bagi sebagian yang lain, butuh ragam makna kesibukan.
Bagi sebagian yang lain, hanya bisa disingkirkan lewat pertemuan.
Bagi para pencilan, justru latar belakang inilah yang mereka kumandangkan.

I've spent all of my nights wide awake
Wishing for some kind of poison to take
So that my conscience would just take a break
I am so tired of the noise that it makes
I'm guilty enough without hearing it twice
Please don't hate me



Beberapa orang yang beruntung, termasuk aku, telah menyigi berbagai lansekap kehidupan yang beraneka warna. Menyaksikan, merasakan, menyebarkan, bagaimana perjalanan kehidupan memberikan corak-corak warna, secara niscaya, perlahan. Dan ketika masing-masing kita melihat diri sebagai hasil berbagai motif dan corak, kita membaca ulang naskah perjalanan kita. Beberapa bagian akan dipindai, bagian lain dikilas, dan dirajut paksa supaya terhubungkan.
Tiap helainya bernama kenangan, dan segala jenis kenangan terhampar di sana.

Sudah demikian banyak kenangan yang terpatri di benak masing-masing kita. Dari yang paling berkilauan, sampai yang paling gulita. Dari yang paling mulia, sampai yang paling hina dina. Dari yang paling tulus demi kebaikan, sampai yang paling kelam demi kebusukan. Dan semuanya berpilin menjadi sebuah kesatuan. Kesatuan yang menyusun corak bagi diri kita sekarang.
Ada juga berbagai warna yang telah kuterima, dan mungkin pula telah kutorehkan pada benang-benang kenangan milik yang lain. Yang tanpa sadar ikut kusulam dengan serampangan tanpa izin. Tanah impian ini mungkin menjadi saksi bisu bagi kita semua, merekam segala hal di atas butir debunya. Ada berbagai kebaikan tanpa sadar yang begitu saja terhaturkan, ada berbagai keburukan tanpa sadar yang begitu juga tersemburkan.

Atas semua kenangan yang ada, izinkan diri kita untuk sesekali menatanya. Merapikannya pada tempatnya yang pantas. Meski mungkin ada maaf yang perlu lebih dahulu dihaturkan. Juga ucap terima kasih atas kebaikan yang sempat diabaikan. Dan permintaan tolong supaya semuanya berjalan lancar.
Walaupun mungkin tak banyak yang ambil pusing untuk singgah ketika ia tertata.
Tuhan itu baik, ya. Bahkan pertanyaan sederhana dan gurauan sekalipun turut dijawab-Nya. Ribuan malam berlalu, dan akhirnya jawaban atas pertanyaanku kini jelas.

Aku sendiri yakin, sekarang kita tidak sedang mencoba menyesali dan berandai-andai menciptakan dunia kita sendiri. Karena dunia yang Tuhan ciptakan buat kita sudah mencukupi segalanya. Apa yang sudah Ia gariskan, yakini itu indah. Dia tidak kusut dan lusuh, dia hanya sedang dalam proses menuju sebuah gambar yg cantik.
...
Kenangan adalah cara Tuhan menyampaikan kepada kita bahwa ada senja yg tidak habis ditelan malam.
Jika kita mau menyimpannya, jauh sampai ke akar terdalam hati, dia akan tetap ada di sana. Itulah dia, yg tidak akan habis dalam hitungan hari, bulan, bahkan tahun.
...
Jika kita mau menyimpannya.


Meresapkan kenyataan dalam repertori. Tak tentu arah, berkelana di sepanjang malam, mencari jalan kembali.
Menata kenangan dalam memori. Tak tentu tertata, sesekali tertipu nyata, sebelum tersadar dari buai mimpi.

Hari 7061, bersama arakan awan petang.
Dicantumkan dalam sunyi keramaian,
Sabtu, 9 Agustus 2014, 21:12 (UT+7)
6°19'34.33"S, 106°40'50.67"E
Baca selengkapnya disini..

Rabu, 06 Agustus 2014

Article#326 - Skyprints


Ever since Wilbur and Orville Wright launch the first flight ever near Kitty Hawk at late 1903, aviation world has grown to be one of the integral parts of modern society. Millions of people travel across countries everyday, each of them indulge themselves in each of their own business. And in accomplishing that, they spent some hours of their lives sitting on a seat among hundreds, which collectively travel above the abode of clouds.
It has been more than a hundred years of aviation history, there are only tiny fraction of people who keep themselves feel amazed to the sense of flying. Most of the other guy might have forgotten the dreams of their ancestors, who looked in jealousy upon the free, roaming birds and insects. And then they take the flight for granted: to take off, to fall asleep, to land on each of their own destination. And to immediately catch up on their phones once they acquire their touchdown on the land once more.

For that tiny fraction of people, travelling in the thin air is indeed a product of wonder. Some of people might not be able to stand the lingering sense of insecure, being thousands of meters above the ground with nothing to hold onto - especially when the parts of the plane itself are not reliable anymore. Others might feel a bit disturbed with turbulence coming once in a while. But not few hath spoken about the tingling sense of wonder when they realized; they are actually flying within the clouds, among the birds, drawing themselves ever nearer to the glaring sunshine.

The flying sense one experienced from a flight might be regarded as one of the greatest freedom of the Modern Age, as human beings are now able to set their feet free. Free to release the bond that ties our puny figures to the earth, to lean your back off and wander through the thin air.
Science, freedom, beauty, adventure: what more could you ask of life? Aviation combined all the elements I loved. There was science in each curve of an airfoil, in each angle between strut and wire, in the gap of a spark plug or the color of the exhaust flame. There was freedom in the unlimited horizon, on the open fields where one landed. A pilot was surrounded by beauty of earth and sky. He brushed treetops with the birds, leapt valleys and rivers, explored the cloud canyons he had gazed at as a child. Adventure lay in each puff of wind.

I began to feel that I lived on a higher plane than the skeptics of the ground; one that was richer because of its very association with the element of danger they dreaded, because it was freer of the earth to which they were bound. In flying, I tasted a wine of the gods of which they could know nothing. Who valued life more highly, the aviators who spent it on the art they loved, or these misers who doled it out like pennies through their antlike days? I decided that if I could fly for ten years before I was killed in a crash, it would be a worthwhile trade for an ordinary life time.

— Charles A. Lindbergh, The Spirit of St. Louis
These tiny fraction of people are always aware that they put their life at stake when deciding to take a flight. Not to mention that their lives are actually always at stake — a thought that rarely crosses the mind of the likes who take things for granted.
But why worry? After all, the air up there in the clouds is very pure and fine, bracing and delicious, as Mark Twain narrated. And why shouldn't it be? —it is the same the angels breathe. The same angels as yours and mine. The same angels residing within our disclosed territories.


Henceforth, those puny humans set their foot again on the lovely earth. The sky looks down upon the bright-looking minds, while sunshine pours its might to the glaring sights.
And I haven't been more relieved than ever, this time.

photo credit 1
photo credit 2
Baca selengkapnya disini..