Kamis, 24 April 2014

Article#288 - Superposisi

Sebuah malam di sudut taman.
Sesosok jiwa tanpa tujuan.
Dan ia terus berjalan.

Langit biru terus berkumandang di atas kepala, dengan pijar biru benderang yang perlahan meredup mengantar mentari ke haribaan ufuk barat. Tak hanya matahari yang beranjak turun, banyak yang lain. Seperti pemimpin orkestra tunggal keseharian, Matahari perlahan menggiring segenap aktivitas di muka Bumi menuju masa istirahat. Mulai dari suhu udara yang terus menukik. Dilanjutkan oleh keaktifan hewan-hewan yang hentikan ringkik. Kecuali mungkin, manusia-manusia yang seolah tak kenal gelap malam, dan meneruskan keasyikan mereka yang seolah tanpa akhir. Seolah mencoba menandingi dingin malam dengan hawa hangat pergerakan tanpa henti.

sumber
Di setiap perkumpulan yang banyak, akan ditemukan pencilan yang melenggang keluar kumpulan. Alih-alih ikut menyemarakkan kegiatan malam manusia yang membebani produsen fasilitas listrik sedemikian rupa, mereka memilih untuk tidak berpartisipasi di dalamnya. Boleh jadi mereka bosan akan keseharian, sehingga keputusan yang diambil adalah untuk menjauhkan diri, sejenak dari keramaian. Boleh jadi mereka hanya terlalu malas, boro-boro mau ikut beramai-ramai disana, tidur lebih enak. Banyak hal bisa mendasari kesemuanya.

Pihak-pihak yang memutuskan untuk meninggalkan kerumunan yang banyak itu pun, bisa mengambil keputusan dengan gaya yang berbeda. Ada yang secara alami terpencilkan oleh sejarak perbedaan antara apa yang ada dalam dirinya, dengan apa yang ada dalam kerumunan. Ada yang sengaja memutuskan untuk menjadi sebuah pembeda untuk memberi warna pada kerumunan yang dirasa membosankan. Ada pula yang berusaha mempertahankan kesamaan warna, di tengah mereka yang menuntut hak untuk mendeklarasikan sebuah identitas.
Meskipun begitu, ketika kita sudah memasuki lingkup gaya-gaya tersendiri itu, tak banyak perbedaan yang kentara antar satu contoh dengan contoh lain. Hanya beda kasus, beda pelaku, beda topik. Lainnya sama, selayaknya upacara bendera yang nyaris identik gayanya antar sekolah, atau antar daerah.

Kau bisa mencoba dengan mengunjungi kerumunan orang pendamba ketenangan. Hembuskan saja ide untuk memunculkan keramaian, dengarkan penolakan dan persetujuan mereka dalam diam. Hingga satu saat, ketika seseorang menyuarakan secara langsung di tengah kerumunan, bersiaplah menerima rentetan kejadian mengikuti. Mungkin yang memilih ketenangan akan mendominasi, tetapi seiring waktu, suara mereka yang menuntut keramaian akan makin jelas terdengar. Pada akhirnya, bisa saja para pendamba ketenangan justru menambah keramaian dalam kerumunan dengan menyerang opini mereka yang beradu suara. Melanggar apa yang mereka dambakan? Mungkin saja menurut mereka itulah cara terbaik untuk merebut ketenangan mereka kembali. Dan ternyata ia bisa sangat mudah. Cukup dengan seruan lantang memprotes keramaian, mereka yang lain bisa seketika terdiam.

Suara semacam itu berada dimana-mana, tersebar dan saling menguatkan sesuka diri mereka. Banyak pula dari mereka yang bercampur demikian kuatnya, seorang pengamat akan kesulitan membedakan antar satu sama lain dengan mudah. Pengamat yang cermat dan cerdas pun belum tentu selamat, jika ia tak berhasil lolos dari suara yang mempengaruhinya.

***
Masih ingat akan jiwa yang tadi?
Jiwa yang disapa di pembuka tulisan.
Ia masih tak acuh dengan tujuan.
Ia tak peduli dengan seruan orang-orang yang mengajaknya menentukan tujuan, karena menurutnya dengan ajakan itu, ia akan digiring untuk menentukan tujuan yang serupa dengan mereka yang mengajak.
Ia teringat, betapa mudahnya sebuah pengaruh yang muncul, bergerak menyebar mempengaruhi keadaan.

Tetapi sekumpulan suara itu sudah mendengking di telinganya. Seperti orkestra, mereka bersatu sebagai sebuah susunan notasi. Dengan susunan notasi tersendiri, ia dibuat lari mengejar ilusi.

Please save me 
This time I cannot run
And I'll see you when this is done


~bersambung
Baca selengkapnya disini..

Minggu, 20 April 2014

Article#287 - Astronom Tanpa Batas

Semburat sinar matahari yang mulai jarang menyapa isi kamar seolah memberitahu penulis bahwa Matahari telah menempuh perjalanannya mengarungi daerah langit utara. Ia pun akan terus begitu dalam empat-lima bulan ke depan.
Ya, sekarang sudah bulan April 2014. Sudah jauh melewati bulan tersebut, malah.
Dari sudut pandang seorang pelajar yang sudah telanjur lengket pada liburan, kenyataan kembali menampar. Tidak ada liburan yang abadi. Semoga tidak apa-apa, ya. (?)
Ada juga yang baru menjalani masa-masa menegangkan bersama ujian nasional, mengambil rehat setelah menghadapi soal yang konon kalibernya lebih sulit dari soal tahun sebelumnya.

Tetapi, bagi mereka yang berjiwa astronomis, April membawa sesuatu yang lain.
Saya perkenalkan, Global Astronomy Month 2014.

Poster versi penulis. Tidak ada kesalahan ketik yang tak disengaja di poster ini.
Kisah munculnya program tahunan ini bermula dari diselenggarakannya kegiatan tahunan berjudul "National Dark Sky Week". Kegiatan ini diinisiasi oleh seorang pelajar asal Virginia, AS, bernama Jennifer Barlow, yang menilai kegiatan tersebut sebagai sebuah ajang untuk mengajak orang-orang kembali menautkan diri mereka pada langit malam. (baca juga tulisan ini) Menurut laman Wikipedia, setidaknya ada tiga tujuan awal dari diselenggarakannya kegiatan ini:
  1. Mengurangi polusi cahaya, serta menumbuhkan kesadaran masyarakat akan dampak polusi cahaya,
  2. Mendorong diberlakukannya sistem pencahayaan luar-ruang yang tidak menyoroti langit, dan
  3. Mempromosikan pembelajaran astronomi.
Dimulai pada tahun 2003, lingkup dari kegiatan ini terus membesar, hingga sayapnya pun melebar melintasi sekat negara. Kini, kegiatan terkait lebih dikenal sebagai "International Dark Sky Week" dan menjadi satu bagian inti dari paket Global Astronomy Month secara keseluruhan.

Berikut kutipan terjemahan dari laman Global Astronomy Month. Semoga terjemah di bawah tidak mencurigakan. (?)

Tiada batas, ketika kita melihat ke atas

One People, One Sky

Kita semua bernaung di bawah langit yang sama, dan Astronomers Without Borders mengajak warga dunia untuk bersama-sama berbagi semangat dalam mempelajari astronomi dan kebesaran Semesta.

Berbagai proyek pengamatan langit menyatukan orang-orang, bersama-sama beraktivitas.

Proyek sokongan ikut memudahkan warga negara berkembang untuk ikut berperan, memberikan kesempatan pada orang-orang untuk mengagumi keindahan langit malam.

Program online mengajak orang-orang bekerjasama dalam pengamatan tak langusng.

Dan, dalam proses mengamati langit bersama, kita saling mempelajari antar satu sama lain, menjalin ikatan silaturahim yang kokoh, tak kenal sekat budaya ataupun bangsa.

Ikatan semacam inilah yang ingin dipacu oleh Astronomers Without Borders. Sebuah pesan singkat, atau hadiah berupa sebuah teleskop kecil, bisa menjadi awal dari tali silaturahim yang kokoh, atau semangat persehabatan yang menjangkau seantero dunia. Pemahaman menyingkirkan sikap tak acuh dan saling curiga. Pencitraan oleh media dikaburkan oleh wajah-wajah nyata. Relasi, dukungan, serta koneksi pribadi meluluhkan stigma.
Sila kunjungi  Proyek kami, yang sekarang maupun yang telah lewat, untuk mengenal lebih jauh apa yang kita lakukan.
Sila kunjungi  Kampanye kami untuk mengenal lebih jauh apa yang kita bagikan.
Sila kunjungi Kegiatan kami untuk mempelajari apa yang sedang terjadi.
Jika masih betah berkelana, penulis menyarankan untuk berkunjung ke laman iniini, atau ini.

Logo resmi International Dark Sky Week. sumber
Bicara mengenai program pengamatan langit, tentu tak cukup jika belum membicarakan objek yang bisa diamati. Jadi, apa saja yang bisa diamati?
Pada dasarnya, dalam jangka waktu setahun, selalu ada berbagai kenampakan astronomi yang bisa diamati. Dimulai dari bintang, yang secara bergiliran mengisi langit malam dari hari ke hari. Sesekali, planet ikut bergerak bersama bintang. Jika tersedia teleskop atau binokular, objek yang lebih redup macam nebula bisa diamatti juga. Jika beruntung, sesekali kau bisa menemukan seberkas cahaya melaju cepat, mewujud sebagai apa yang biasa disebut meteor.

Khusus untuk bulan April 2014, setidaknya ada empat kenampakan yang cukup layak diperhitungkan.
Berikut daftarnya:
Mars, dipotret menggunakan teleskop berdiameter 16 inci
yang disambungkan ke kamera. Dipotret oleh Fabio Carvalho
di Assis, Brazil, pada 3 April 2014. Foto disadur oleh APOD
dari sini.

  • Oposisi Mars, 8-9 April 2014

Sebagaimana pihak oposisi yang selalu mengambil posisi berseberangan dengan pemangku kekuasaan utama, oposisi Mars terjadi ketika posisi Mars bersebrangan dengan pemangku kekuasaan Tata Surya, dalam hal ini, Matahari.
Meskipun begitu, Mars tidak benar-benar berseberangan dengan Matahari pada oposisi, sebagaimana oposisi dalam dunia politik yang sebagiannya masih membelok ke sana-sini.

Acuan bagi sebuah planet untuk dianggap berada pada oposisi, adalah ketika nilai bujur ekliptika dari planet terpaut tepat 180° dari Matahari. Bujur ekliptika sendiri adalah bagian dari sistem koordinat ekliptika, sebuah sistem pemetaan bola langit dengan bidang orbit bumi (ekliptika) sebagai fondasi utama.

Mars mencapai oposisi pada 8 April, pada 20:57 UT (9 April, 03:57 WIB; tanggal yang tertera setelah ini adalah dalam UT). Secara logis, kita akan membayangkan bahwa pada saat itu Mars mencapai posisi terdekatnya dengan Bumi. Tetapi, tidak demikian bagi Mars. Garis Bumi-Mars mencapai jarak terpendek untuk tahun 2014, pada malam hari 14 April lalu. Saat itu, jarak Bumi-Mars "hanya" 92 juta kilometer.
Bagaimana bisa? Orbit Bumi sedikit lonjong, dan orbit Mars lebih lonjong dari orbit Bumi. Konsekuensi dari kelonjongan orbit ini adalah bervariasinya jarak Bumi-Mars pada posisi terdekatnya, mencakup rentang 54-103 juta kilometer.

Oposisi Mars sendiri terjadi rata-rata tiap 780 hari, meskipun selang waktu ini pun bisa bervariasi antara 764 hingga 812 hari, berdasarkan tabel waktu oposisi Mars berikut.

  • Gerhana Bulan Total (15 April 2014) & Gerhana Matahari Cincin (29 April 2014)

Bulan dalam masa gerhana, beserta Spica (kiri; biru) dan
Mars. Dipotret oleh Damien Peach dari Barbados, pada
dini hari 15 April 2014. sumber
Kedua kenampakan ini sengaja dikelompokkan dalam satu pembahasan bersama, karena aktor utama dalam kedua jenis gerhana ini adalah benda langit yang sama, Bulan.

Gerhana Bulan total kali ini menjadi istimewa karena menjadi gerhana pertama dari seri empat gerhana total, atau disebut juga tetrad. Gerhana Bulan total berikutnya secara berurutan akan terjadi pada 8 Oktober 2014, 4 April 2015 dan 28 September 2015.

Konfigurasi orbit Bulan-Bumi yang sedang kondusif ini, pada gilirannya juga memungkinkan terjadinya gerhana Matahari sekitar dua pekan setelah gerhana Bulan total (untuk tahun 2014) atau dua pekan sebelumnya (untuk tahun 2015). Secara berurutan, akan ada gerhana Matahari cincin pada 29 April 2014, gerhana sebagian pada 23 Oktober 2014, gerhana total pada 20 Maret 2015, dan gerhana sebagian pada 13 September 2015. Secara keseluruhan ada 8 gerhana terjadi dalam masa dua tahun 2014-2015.

Khusus membicarakan gerhana pada April 2014, pemirsa di Indonesia untuk sementara harus bersabar. Gerhana Bulan total pada tengah bulan ini terjadi ketika Matahari belum terbenam bagi pengamat di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga Bulan tak teramati. (BMKG berhasil menjepret Bulan dalam masa gerhana sebagian dari Jayapura; lengkapnya sila cek tautan ini)
Simulasi gerhana Matahari sebagian pada 29 April 2014,
dengan posisi kota Kupang, NTT. Simulasi dibuat
dengan memanfaatkan piranti lunak Stellarium 0.12.0.
Sedangkan, untuk gerhana cincin di akhir bulan, meskipun secara matematis beberapa daerah di selatan Indonesia mendapat jatah mengamati gerhana Matahari sebagian, pada kenyataannya daerah yang tertutupi Bulan demikian sedikit. (Menurut laman berikut, Bulan hanya terlihat menutupi hingga 7% wajah Matahari dari Indonesia terutama Nusa Tenggara Timur.) Tanpa pengamatan langsung menggunakan instrumen pengamat Matahari, lewatnya gerhana mungkin tak akan terasa oleh penduduk setempat.
Berdasarkan alat peraga Stellarium, secara matematis, Matahari hanya akan mengalami peredupan sebesar 0,02 magnitudo tanpa efek atmosfer ketika diamati di Kupang. Peredupan sekecil ini tak mudah dideteksi oleh mata manusia.

Mempertimbangkan berbagai hal terkait, sepertinya penduduk Indonesia perlu sedikit bersabar hingga awal Oktober nanti untuk mengamati gerhana. Khususnya, gerhana Bulan. Untuk gerhana Matahari, kalkulasi menyatakan bahwa dalam tahun 2014-2015 tak ada gerhana Matahari yang dapat dilihat dengan mudah dan nyaman dari Indonesia. Gerhana Matahari terdekat dan terbaik untuk diamati dari Indonesia adalah pada 9 Maret 2016, ketika gerhana total akan bisa diamati dari sebagian Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.

Maka, kalian, harap bersabar ya.
  • Hujan Meteor Lyrid (sekitar 19-25 April 2014)
Hujan meteor sendiri sebenarnya adalah kejadian tahunan, dan bagi tiap-tiap kloter hujan meteor, ada waktu tersendiri dimana mereka akan berdatangan menerangi langit malam Bumi. Ini dikarenakan material yang menjatuhi Bumi dalam tiap kloter hujan meteor berasal dari satu sumber tertentu—misalnya komet. Maka, yang sebenarnya terjadi dalam sebuah hujan meteor adalah Bumi melewati orbit suatu komet.

Hasil foto bukaan lama atas hujan meteor Lyrids.
sumber
Jika kalian pernah membaca ulasan penulis mengenai komet ISON akhir tahun lalu, disana dijelaskan jika komet adalah benda langit yang senang meletup-letupkan isinya ke sekitar. Kebanyakan hasil letupan ini tetap berada tak jauh dari orbit si komet, bagaikan perintang tak terlihat di orbit Bumi. Dan setiap kali Bumi menerobos "perintang" ini, sebagian dari jejak komet ini tertarik gravitasi Bumi, dan terbakar di atmosfer dalam wujud meteor.

Hujan meteor Lyrid juga berasal dari mekanisme tersebut. Setiap kira-kira 415 tahun sekali, komet Thatcher (C/1861 G1) datang mendekati Matahari, meninggalkan jejak berupa batu-batuan dan es di sepanjang orbit. Bumi melintasi orbit komet Thatcher tiap awal paro kedua April, dan secara bersamaan "menyapu" batu-batuan tersebut ke dalam atmosfer Bumi.
Bagi pengamat di Bumi, meteor-meteor ini tampak datang dari arah dekat rasi Lyra, dengan bintang utamanya Vega, bintang tercerah di langit utara. Karena hal itulah, hujan meteor kali ini dinamai "Lyrid".

Hujan meteor Lyrid termasuk hujan meteor yang tak begitu "deras"; jika beruntung, paling tidak belasan meteor bisa diamati per jam pada puncak hujan meteor, sekitar 22 April. Jumlah ini masih kalah dengan hujan meteor yang lebih 'deras' macam Perseid (puncak ~12 Agustus) atau Leonid (puncak ~17 November), dengan frekuensi meteor hingga satu meteor per menit, terkadang lebih.
Bagaimanapun juga, hujan meteor Lyrid datang kira-kira tiga bulan setelah hujan meteor Quadrantids (awal Januari). Setidaknya cukup untuk melepas dahaga para pengamat hujan meteor, selama mereka tidak meminum meteornya.

Terkait hujan meteor Lyrids, rekan kita di Rusia mendapatkan sedikit kejutan dari meteor yang datang. Kamera yang dipasang warga Murmansk, Rusia barat laut, di mobil merekam kenampakan meteor terang pada dinihari 19 April waktu setempat. Beberapa pihak mungkin terkenang akan meledaknya meteor terang di Chelyabinsk, Rusia tengah pada Februari 2013 lalu. Apalagi, meteor yang menerobos langit dekat Murmansk ini berpijar cukup terang. Meskipun demikian, sejauh ini belum ada laporan kerusakan dari lokasi.
Di bawah tersuguh rekaman meteor terang terkait. Selamat menikmati.

Demikianlah kiranya sedikit coretan dari penulis tersampaikan. Selamat menikmati waktu kalian dengan mengamati langit dan merasakan betapa dekatnya angkasa. (?)
There are many languages, cultures, and traditions.
But there's only one sky
And that's how astronomy connects us.
(kutipan dari Forum Pelajar Astronomi)
Jika kalian berencana menyiapkan diri untuk kenampakan langit selanjutnya, cermati infografik berikut dan tandai tanggalnya. Banyak yang bisa diamati dalam 2-3 bulan ke depan, maka bersiaplah! (sila kunjungi juga daftar berikut)
sumber dari laman I fucking love science
Terakhir, mungkin ada yang penasaran akan judul post kali ini. Sederhana saja, judul tersebut diambil dari terjemah Astronomers Without Borders, pihak yang mengelola program tahunan Global Astronomy Month ini. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya! (:g)
Baca selengkapnya disini..

Rabu, 16 April 2014

Article#286 - Famous Failures


Failure Is an Option

Where would we be without it?

By Hannah Bloch
Photograph courtesy Robert E. Peary, National Geographic Creative
At the end of the 19th century a middle-aged Swedish engineer, a patent officer captivated by the promise and possibilities of technology, came up with a radical idea: Why not fly in a hydrogen balloon to become the first to discover the North Pole, then as mysterious and unknown as Mars? For years explorers had attempted to reach the Pole overland; many died trying. An air expedition, Salomon August Andrée reasoned, would eliminate much of the risk. And so, on a windy day in July 1897, with support from Alfred Nobel and Sweden’s king, Andrée and two younger colleagues climbed into the basket of a 67-foot-diameter balloon on Danes Island in the Svalbard archipelago. The team packed wooden sledges, food for several months, carrier pigeons to relay messages, even a tuxedo Andrée hoped to wear at the end of the journey. As journalists and well-wishers cheered and waved, they soared into the air, aiming to float to a place no human had seen.
As soon as they lifted off, wind battered the balloon. Fog froze on it, weighing it down. For 65 and a half hours the Eagle skittered along, sometimes grazing the Arctic Ocean. Thirty-three years later, sealers stumbled across the frozen corpses of Andrée and his crew—along with their cameras and diaries, which revealed that they’d been forced to land on pack ice 298 miles from the North Pole. The three had perished during a grueling three-month trek south.
Failure—never sought, always dreaded, impossible to ignore—is the specter that hovers over every attempt at exploration. Yet without the sting of failure to spur us to reassess and rethink, progress would be impossible. (“Try again. Fail again,” wrote Samuel Beckett. “Fail better.”) Today there is growing recognition of the importance of failure. Educators ponder how to make kids more comfortable with it. Business schools teach its lessons. Psychologists study how we cope with it, usually with an eye toward improving the chance of success. Indeed, the very word “success” is derived from the Latin succedere, “to come after”—and what it comes after, yes, is failure. One cannot exist without the other. Oceanographer Robert Ballard, a veteran of 130 undersea expeditions and discoverer of the Titanic, calls this interplay the yin yang of success and failure.
Even at their most miserable, failures provide information to help us do things differently next time. “I learned how not to climb the first four times I tried to summit Everest,” says alpinist Pete Athans, who’s reached the world’s highest peak seven times. “Failure gives you a chance to refine your approach. You’re taking risks more and more intelligently.” In his case this meant streamlining his team and choosing less challenging routes for his first successful ascent, in 1990.
Failure is also a reminder that luck plays a role in any endeavor. Climber Alan Hinkes, a member of the small club of mountaineers who’ve summited the world’s highest peaks, has had his share of misfortunes: broken his arm, impaled his leg on a tree branch “like a medieval spear,” sneezed so violently near the top of Pakistan’s 26,660-foot Nanga Parbat that he slipped a disk and had to abort the climb. “I probably should be dead,” he admits. But “I haven’t had any failures. I have had near misses and close shaves.”
For most explorers, only one failure really matters: not coming back alive. For the rest of us, such tragic ends can capture the imagination more than success. Robert Falcon Scott, who died with his team after reaching the South Pole in 1912, is hailed as a hero in Britain. Australians are moved by a disastrous 19th-century south-to-north expedition that ended in death for its team leaders. These tales stick with us for the same reason our own failures do: “We remember our failures because we’re still analyzing them,” Ballard says. Success, on the other hand, “is quickly passed.” And too much success can lead to overconfidence—which in turn can lead to failure. During the 1996 Everest season, in which 12 climbers perished, mountaineering experts wrongly “felt they had the mountain wired and pretty well sorted out,” says Athans, who helped head up rescue operations. “In truth, the formulas get you into trouble.” Failure keeps you on your toes.
Scientific researchers are reluctant to own up publicly to flops. Reputations and future funding depend on perceptions of success. But in the past decade, at least half a dozen journals—mostly in medicine and conservation—have solicited reports of failed experiments, studies, and clinical trials. The rationale: “Negative” results can eventually give rise to positive outcomes.
The business world, especially the high-tech realm with its rapid-fire start-ups and burnouts, already understands the value of negative results, if they are low-cost and noncatastrophic. To encourage entrepreneurship, the Netherlands-based ABN AMRO Bank started an Institute of Brilliant Failures. Eli Lilly and Company, the pharmaceutical giant, began throwing “R&D-focused outcome celebrations”—failure parties—two decades ago to honor data gleaned from trials for drugs that didn’t work. (Some 90 percent of all such trials fail.) Some foundations have even begun requiring grantees to report failures as well as successes.
Business leaders often seek nuts-and-bolts lessons from failures, but they benefit from bigger-picture truths as well. A Harvard Business School professor was so struck by an iconic, century-old exploration failure that she authored a case study about it—to teach her M.B.A. students about leadership. Historian Nancy Koehn reckons she’s taught the story of Irish-born polar explorer Ernest Shackleton at least a hundred times. His 1914-16 expedition to cross Antarctica was doomed when his ship, the Endurance, became trapped in the ice. Shackleton’s goal quickly shifted from exploration to ensuring a safe return home for himself and his crew.
“It’s a huge failure from the perspective of exploration, right?” Koehn says. “But it’s inspiring partly because it’s a failure. We’re in an age of corporate malfeasance and companies being called to account and saying, It’s not my fault. But he said, By God, I’m going to clean it up. He owned responsibility for the mess.” Shackleton brought the 27 men on his team safely home. “He was a great crisis manager,” says Koehn. Through him, her students “learn about persistence and resilience, and a lot about small gestures.” Shackleton made sure to give all of his men cups of hot milk if he noticed that even one was flagging.
Persistence. Resilience. Adaptability and crisis management. All are key themes in exploration, as in ordinary life. Keeping things in perspective helps too: Explorers tend to take the long view, recognizing the illusory nature of failure and success. “Treat those two impostors just the same,” Kipling advised in his poem If. “That’s how I feel about it,” says cave explorer Kenny Broad. Many of his colleagues have perished in deep scuba dives in darkness through mazes of caverns. “You can get lucky in a dive. You get lucky a few times and start to think that’s skill. Success and failure in cutting-edge exploration is a very fine line.”
S. A. Andrée’s balloon expedition was cutting-edge for its day, and fail it did, but “you don’t know until you try in aviation,” Urban Wråkberg, a historian of science at Norway’s University of Tromsø, points out. Improved technology ultimately helped solve the problems of Arctic aviation (the first successful flight to the North Pole took place three decades after Andrée’s attempt) and has opened countless other doors. Satellite uplinks, reliable communication, and advances in meteorology and robotic assistance are just a few innovations that have pushed the limits of exploration. But even Ballard, whose major discoveries were aided by robots, notes that technology “doesn’t make everything possible.”
And that’s a good thing. “If you take away uncertainty, you take away motivation,” says Athans. “Wanting to exceed your grasp is the nature of the human condition. There’s no magic to getting where we already know we can get.”

Article and photo taken from here. This blog had posted one of the featured quotes earlier on.
Be sure to make more mistakes and failures, and learn from them!
Baca selengkapnya disini..

Jumat, 11 April 2014

Article#285 - When You Think About It.. - 4

To be frank, I have no idea what to write in this section. What I can recall is that.... um, nothing.
Anyway, a comic post might be good in relieving your eyes after series of much reading, in case you're suffering from one.
Enjoy,
Notice: Some readers has stated that the picture is not big enough, and a click on the picture is needed to view it in adequate zoom. In that case, you might like to visit the original site as well.
This issue had been resolved as of 11th April 2012, 17:32 UT.

Courtesy to zenpencils.com.
Quotes by Bill Watterson (b. 1958), an artist mostly noted for the famous comic strip, Calvin and Hobbes. The quote utself is taken from a graduation speech Watterson gave at his alma mater, Kenyon College, in 1990. Brain Pickings has a nice article about it.

In case you haven't noticed, this comic strip was made by Gavin Aung Than, the founder of zenpencils.com. Be sure to pass by!
Baca selengkapnya disini..

Rabu, 09 April 2014

Article#284 - Tomorrow

Tear the truth
And be gone
Embrace the wind of springtime
Bring the clue
And be done
Replace all these plastic lines
As no brains will blast lights
And no cries will remain alive
Let the stars strike shy
Tomorrow with brand new sight

Call the lost wanderers
For they are deep in dreams
Bury these fake smiles
Deep with their stitched jeers
That when they woke up
Found flowers hanging around
For tomorrow will they wrap
And no need for any doubt

Put your emotions apart
And let the fact soars afar
Read the plot for the just
Part of this freaking clash
No rush
Would have come at last
As tomorrow comes
And no feelings be hard



Too much lies drain people's energy. Mine as well.
Too much clichés slain people's intelligence. Mine as hell.
Rest assured, time will bring us the complete story.
Just be sure, not to drown yourself in atrophy.

Time to take a rest, avoid the press, look at the reality ablaze. As tomorrow yields the rest, of this history to attest. That is, when you are able to break the crest, free your mind off the pest.

Or, at least that's what I surmise.
Baca selengkapnya disini..