Selasa, 22 Juli 2014

Article#321 - Planets Unite


That picture depicted above represents all the 9 planets of the Solar System, painted as one unity on a single canvas, scanned into a .JPG file, and rotated clockwise 90°. Wait, wait, some of you may have been ready to launch your objections. Before you lot have the opportunity to do so, I have to stress that the picture is completed back in the 1990s (as theweathernetwork.com wrote), well before the dreadful resolution of IAU General Assembly in Praha, 2006, on which Pluto's status as a planet was demoted. The lil' icy world has been since called "dwarf planet", and many seem to be against that idea.

Let's forget all the fuss over Pluto's status for now. About the artist, Steve Gildea, he teaches digital design (or so we are told by io9.com) in Massachussetts, United States of 'Murica. He is quite into painting, which would seem to be an understatement once you go through his galleries here.
I don't make it to find out more about him, but looks like our fellow artist is old enough to have one of his son posting about his painting in Reddit.

What, still arguing about Pluto? Case closed. It's his defeat. Just accept it like a man, please.
But I'm a woman!
Look... um, well, whatever. As I mentioned above, the case is closed. Pluto is no longer classified as the significant figurines of the Solar System, which are the planets. Therefore, we need a newer insight regarding this Solar System depiction.

There are some versions of this, which – beats me – is made from combining photographs. And while there are some of them in pandawhale.com, my favorite is this one below.

Eight planets as one. Created by Redditor Jupiter-x; sources are mentioned
in the link.
One more, the original style of Steve Gildea's painting. At least, as it appears on his website.

"Planetary Suite", as painted by Steve Gildea.
An oil painting on canvas, composed of 9 panels which
comprises 6'x13'3" (182.88 cm x 403.86 cm) in total.
(Collection of Merrimack College)
Eventually, I might have to emphasize that the planets' depiction in a single canvas is meant to unite those planet as one body. Be it with or without the poor Pluto, a depiction of the planets combined will be likely to "suite" for the time being.
As for Pluto, you can keep on going, regaining your mighty planetary status back. But be very well aware, or your supporters might lose faith in you.

Planets, Unite!

Here in my mind
You know you might find
Something that you
You thought you once knew
But now it's all gone
And you know it's no fun
Baca selengkapnya disini..

Sabtu, 19 Juli 2014

Article#320 - Ayo Pulang Kampung!

Akhir Ramadhan semakin mendekat.

Hal ini biasa berarti meningkatnya antusiasme masyarakat menyambut datangnya Idul Fitri, atau meningkatnya rasa takut kehilangan Ramadhan yang sedang bersiap berangkat. Bagi para penyedia jasa moda transportasi, mendekatnya akhir Ramadhan berarti bersiapnya mereka menuju salah satu masa tersibuk dalam dunia transportasi tiap tahunnya. Entah memanfaatkan jalan raya, rel, gelombang laut, atau aliran udara, armada transportasi akan dikerahkan dalam mengangkut jutaan orang yang hendak pulang ke kampung halaman, berbaur kembali dengan keluarganya dalam suasana hari raya. Bagi mereka yang menempuh debu panas di jalan raya, ribuan armada transportasi pribadi juga akan ikut meramaikan keadaan, bersatu sebagai satu arus mudik yang berpencar menuju tiap-tiap tujuan.

Arus mudik yang debitnya senantiasa bertumbuh tiap tahun ini pun kerap menimbulkan berita duka dari mereka yang tak berhasil mencapai tujuan. Jumlahnya yang cukup mencolok, terutama dalam jangka waktu pendek arus mudik dan balik, mungkin mengilhami Kementerian Pekerjaan Umum (KemenPU) Republik Indonesia untuk menelurkan iklan layanan masyarakat terbarunya. Iklan yang ditelurkan ini, berjudul "Ayo Mudik - Selamat Pulang Kampung" tidak sekadar menyampaikan pesan dalam nada datar, tetapi menyampaikan pesan dalam kemasan animasi dan musik yang asyik dinikmati.
Bagi yang sudah penasaran, silakan menyimak lewat jendela di bawah.

Jalan-jalan pulang kampung
Bersama dengan keluarga
Waspada di jalan selalu
Agar sehat slamat ceria
Reff:
Ingatlah
Waspada s'lalu
Silahturahmi harus berlanjut
Selamat pulang kampung
Pulang kampung harus selamat
Mengemudi dengan hati-hati
Jauhkan alat komunikasi
Cek slalu segala kondisi
Barang bawaan dibatasi
Reff
Interlude:
Jalan raya harus dijaga
Karna milik bersama
Patuhi rambu lalu lintas
Jangan lewati batas
Pilih kendaraan yang aman
Nikmati perjalanan
Jangan lupa keluarga menunggu di rumah
Pelan-pelan asal selamat
Reff (2x)
Coda:
Selamat pulang kampung
Pulang kampung harus selamat
Sebagaimana tercantum di laman indonesiakreatif.net, ilustrasi dan desain pada video digarap oleh @gustopo, dengan @kennikoop dan @arifmad_ menggarap animasi video. Jingle disusun oleh RWEBHINDA.
Chord jingle
Verse
D D/C# D D/A (2x)
D D/C# Bm A
G A D
Reff
D D/C# Bm
A G D
Bm F#m G A
D A G A Bm
G A D
Interlude
Bm F#m G D (2x) D/C#
Bm F#m G D
Bm F#m G A
Coda
D D/C# Bm G A D
Dalam perkembangan publikasi iklan layanan masyarakat terkait, beberapa pihak menyadari kemiripan gaya animasi dan musik dalam iklan dengan sebuah iklan lain yang diunggah ke situs berbagi video, YouTube, pada November 2012 lalu. Iklan terkait, dijuduli "Dumb Ways To Die", adalah iklan layanan masyarakat yang dipublikasikan oleh Metro Trains Melbourne, pengelola jalur kereta untuk lingkup kota Melbourne, Victoria, Australia.
Perbandingan tampilan pada iklan dari KemenPU
(atas), dan iklan dari Metro Trains Melbourne (bawah)
Untuk mengawali episode kemiripan yang ada, kedua video sama-sama berfungsi sebagai iklan layanan masyarakat yang menyebarkan pesan keselamatan di lingkup transportasi publik. Gaya animasi kedua video pun terlihat mirip, walaupun seiring perjalanan mengarungi video, mungkin kemiripan itu tidak lagi terlalu kentara. Ohiya, musik pengiring kedua video pun terasa cukup mirip, terutama di bagian awal. Jika berminat menganalisa kedua video, penulis telah siapkan jendela kedua untuk menonton video versi Australia, di bawah ini. Selamat menikmati.


Tanggapan penulis
Terlepas dari kemiripan yang ada antara kedua foto, menurut penulis, pengembangan pada sisi animasi dan musik pada iklan KemenPU tersebut sudah cukup bagus. Sebagai iklan dari Kementerian, di iklan juga dimuat secara tersirat capaian KemenPU, dengan jembatan Suramadu dan jalur tol Bali Mandara cukup kentara ditampilkan.
Berbagai ide ekstra yang disertakan pada animasi dan musik pengiring membantu melepaskan iklan ini dari bayang-bayang iklan Dumb Ways To Die yang lebih dulu tersohor.

Bagi penulis, iklan KemenPU ini dapat dijadikan langkah awal yang bagus untuk pertumbuhan industri kreatif dalam negeri. Berbagai kejadian akhir-akhir ini telah membantu melejitkan perhatian masyarakat akan industri kreatif, juga akan potensi kreativitas besar yang tersimpan di generasi muda saat ini. Kalau diarahkan pada penerapan yang tepat guna, saya bisa melihat masa depan industri kreatif Indonesia yang demikian cerah.
....Mari kita saksikan beberapa tahun ke depan.

Mungkin demikianlah berpatah-patah kata dari penulis.
Akhir kata; selamat pulang kampung, pulang kampung harus selamat~
(:g)
Baca selengkapnya disini..

Kamis, 17 Juli 2014

Article#319 - Kutipan Hari Ini

Air berkumpul dengan air.
Minyak berkumpul dengan minyak.
Setiap orang berkumpul dengan jenis & wataknya.
~kutipan yang menurut sumber berasal dari Tan Malaka, salah satu tokoh di masa pergerakan kemerdekaan Indonesia, sekaligus Pahlawan Nasional. Dikutip pada Sabtu, 12 Juli 2014, 23:13 (UT+9).

sumber

Baca selengkapnya disini..

Senin, 14 Juli 2014

Article#318 - Ramadhan Mubarak!

Ramadhan sudah setengah jalan!

Kenyataan yang cukup menyentak kesadaran, mungkin? Apalagi, bagi sebagian dari kita, bulan Ramadhan adalam momen yang senantiasa dinanti-nantikan setiap tahunnya. Mulai dari mahasiswa yang bahagia dengan "kewajiban" untuk mengurangi pengeluaran harian, mahasiswa yang menanti-nantikan undangan berbuka puasa dari teman-teman lama, mahasiswa yang kekurangan motivasi dalam usahanya menurunkan berat badan, atau mahasiswa yang merasa kurang bersemangat dalam beribadah kepada Tuhannya.
Kenapa mahasiswa semua contohnya? Waduh, maaf, mungkin karena saya mengetik isi tulisan ini dari sudut pandang seorang mahasiswa. Meskipun saya harap situasi yang saya jelaskan dalam tiap kasus di atas dapat dianalogikan dalam kasus-kasus lain yang mungkin kalian temukan.

Bagi lebih dari satu miliar Muslim di seluruh penjuru dunia, Ramadhan menjadi momen yang paling dinanti-nantikan, juga momen yang paling diperbincangkan. Hal ini terutama terjadi ketika orang-orang sedang menentukan awal bulan Ramadhan, yang menurut dasar hukum terkuat ditandai dengan terlihatnya bulan sabit tipis (hilal) di ufuk barat tepat setelah Matahari terbenam. (klik di sini untuk info lebih lanjut.)
Tetapi, tentu saja Ramadhan tidak terbatas di sekitar penentuan hilal. Hilal kan susah dilihat. Mungkin karena dia malu-malu melihat semut merah di dinding. Sebagaimana penulis sedikit gambarkan di atas, banyak citarasa kehidupan sosial yang bisa dicecap dengan lebih segar dan membahagiakan ketika dilangsungkan di tengah bulan Ramadhan. Tentu saja, selama semua itu dicecap setelah masuk waktu Maghrib. Kalau sebelum itu, batal atuh puasanya.

Untuk mengentalkan citarasa menarik dari bulan Ramadhan, berikut penulis persembahkan sebuah cerita, diikuti beberapa lembar meme. Selamat menikmati.

***
There were two white christian men, Adam and Jack, whose plane crashed into a desert. Luckily they survived unharmed. As they traveled through the hot desert looking for food and water, they gave up and sat down, thinking of what to do.
As the dust in the air settled, they suddenly could view a mosque ahead. They became very hopeful. But then Adam said ''Muslims are there. They might help us if we say we are muslim.'' Then Jack said ''No way, I won't say I'm muslim, I'm gonna be honest''.
So Adam and Jack went to the Mosque ahead and were greeted by an Arab Muslim, who asked what their names were.
Adam thought of a Muslim name and said, 'My name is Muhammed'. And Jack said 'My name is Jack'.
The Arab man said 'Hello Jack.' And told these other men to take Jack and give him food and drink.
Then he turned to Adam and said, 'Salaam Muhammed. Ramadan Mubarak!
(source)
sumber
Balada tarawih. sumber
Observasi ekstra. sumber
sumber
Hayoh ngapain kamuh. sumber

Hayoh. sumber
Eh ketelen. sumber
"Date", sure. sumber
Dari tolok ukur masing-masing kita, mungkin ada yang merasa Ramadhan ini telah ia lewati dengan luar biasa, dengan maksimal. Mungkin ada juga yang merasa pencapaian dalam Ramadhan ini masih sangat kurang dari apa yang ia targetkan. Yah, separuh Ramadhan di tahun 1435 Hijriah ini sudah berlalu, tetapi masih ada separuh Ramadhan lagi untuk dioptimalkan. (Re: penulis sedang menyindir diri sendiri.)
Untuk sedikit menggugah keceriaan dalam beramal dan/atau berkarya, berikut dua komik strip dari komikus Prancis, The Muslim Show. Selamat menikmati (lagi).

sumber
sumber
Di sisi lain, bulan Ramadhan kali ini juga menyimpan berbagai cerita dari sudut pandang ilmu astronomi.
Mengesampingkan segala hal yang default terkait Ramadhan, seperti fase Bulan dan hilal, mungkin penulis perlu memberitahukan bahwa sepanjang pekan ini, kita bisa memanfaatkan posisi Matahari sekitar pukul 16:18 WIB tiap sore untuk menentukan arah kiblat. Ketepatan cara ini pun cukup memadai. Sekitar tanggal 16 Juli, 16:18 WIB, Matahari akan terletak pada posisi paling baik dalam menentukan arah kiblat, karena pada saat itu, bagi pengamat di daerah Ka'bah, Matahari terlihat berada tepat di atas kepala. Sehingga posisi matahari pada waktu tersebut (dan kurang lebih 2 hari sebelum dan sesudahnya) dapat dijadikan patokan yang akurat untuk meluruskan arah kiblat kita semua. (Lebih lanjut mengenai hal ini dapat dibaca di laman berikut.)
Juga, bulan purnama Ramadhan yang (kurang lebih) menandai berlalunya setengah bulan Ramadhan beberapa waktu lalu, dilabeli sebagai purnama perigee (atau dengan istilah lebih populer, supermoon) pertama dalam tahun 2014. Pemakaian nama "purnama perigee" sendiri dimaksudkan sebagai upaya meluruskan kesalahan pemahaman masyarakat yang sering muncul ketika mendengar istilah "supermoon", berkat adanya awalan super-. (Ulasan lengkap mengenai purnama perigee bisa dibaca di laman berikut.)

Akhir kata, kita mungkin melewati hari-hari Ramadhan dengan tenang tanpa kurang suatu apa. Tetapi tidak semua orang seberuntung kita. Terutama rekan-rekan kita di Gaza, Suriah, Mesir, Afrika Tengah, Sudan dan banyak daerah lain yang terus dilanda konflik berkepanjangan. Penulis tidak akan banyak berkata-kata mengenai masalah ini, cukup diwakilkan oleh kedua gambar berikut.

sumber
sumber
Dengan demikian, usailah sudah kerjaan penulis dalam post kali ini.
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!

(:g)
Baca selengkapnya disini..

Jumat, 11 Juli 2014

Article#317 - Setangkup Es Krim


Setangkup es krim itu bergetar lembut di tanganku. Sejuk, gemetar, setengah beku.
Kuciduk perlahan tiap gumpal es krim dalam kalem. Sesekali sedikit, sesekali banyak hingga kepala pusing akibat perubahan suhu yang jauh. Ada sensasi yang membuatku mencandu, pada getar dinginnya yang bertalu-talu. Ada rasa yang terus berseru, seolah menyuarakan diri lewat tiap ucapku.

Ada tawa menyeruak dari kawan di sebelahku. Tawa pengisi senja hari itu, tawa ceria mereka yang bercengkrama di balik ragam sibuk. Mungkin hanya perbedaan dalam bahasa, busana dan bergaya yang mencirikan mereka sebagai anak rantau. Para pembeda yang tengah memeras prestasi lewat giling waktu.
Ya, ada tawa. Di mana-mana. Entah sebanyak apa yang tak kuhiraukan.

Beberapa cuplik cerita nampak berkilat dari gumpal es krim yang kuciduk. Seolah ingin menceritakan seisi wujudnya dalam sungguh. Tempo dunia bagai melambat, sementara aku terduduk. Bagai penonton yang setia, menyaksikan tiap keping drama mengalir sebelum tersantap.
Kusaksikan dengan takzim, kilatan kisah seorang anak bodoh dengan es krimnya, menetes ke sana kemari. Kusaksikan dengan teliti, gurat-gurat cerita lama, yang dengan bodoh kutelisik dari tekstur es krim dalam genggaman. Seolah buih-buih yang menyeruak memutar ulang percakapan yang pernah terlintas. Seolah aliran krim yang telah melemas mewakili nyali yang sebelum waktunya telah terempas.

Beramai orang pernah mengomentari kebiasaanku dalam menciduk es krim. Perlahan, tenang, hingga terlalu santai. Semua komentar hanya kujawab sekenanya, sementara kepalaku sendiri bertanya-tanya. Mungkin aku terlalu menghayati setiap cidukan. Mungkin aku jadi terlampau santai akibat terbawa aliran. Atau mungkin aku demikian antusias mendengarkan bait-bait cerita. Walaupun akal sehat menamparku, mengingatkan bahwa tidak ada es krim yang bercerita kepada pembelinya. Apalagi hingga berderai canda tawa. Iya, sepertinya seseorang terlalu sibuk memperhatikan pantulan dari apa yang telah lewat. Hingga dilihatnya pantulan dari segala arah. Tetapi, tidak juga. Pantulan dari aliran krim itu tetap menempati posisi spesial.
Di akhir kalimat, kesemuanya tetap menjadi alasan.

Aku sempat tak sadar kalau aku tak lagi memperhatikan es krim. Sibuk menyelusup bait cerita yang sibuk bercerita dalam kepala. Hingga setetes es krim yang hampir menetes membawaku kembali ke alam nyata. Tersadar. Berpaling.
Hampir saja aku diseret pikiranku untuk kembali berkelana. Tetes es krim yang tumpah. Kenaifan yang membuncah. Semua seolah disuarakan kompak. Es krim yang sedari tadi kugenggam, kini menyisakan krim yang telah cair. Menghangat dalam sekejap akibat hangatnya cerita yang datang. Krim yang bercampur aduk dalam ragam warna. Seolah mewakili dunia yang menertawakanku bersama kenyataan.
Aku kalah. Pikiranku diseret pergi. Kembali ke masa itu.
Tempat itu.
Sosok itu.
Canda tawa itu.
Kerjap sore itu.

Ketika berhasil kembali ke dunia nyata, kuputuskan menenggak seisi krim cair itu. Bersama segenap cerita yang kubiarkan menceramahi kerongkongan dan lambungku. Gelas dan sendok plastik itu duduk membisu. Dan di hadapan mereka, sorot mataku tertawa parau.
Adalah sebuah kepastian bagi setangkup es krim untuk meleleh, ketika ia ada di tanganmu. Kecuali tanganmu lebih beku dari keping salju.
Maka ia melelehlah. Lelehan berisi kerjap, yang terasa meneriakiku.
Kucoba menyimak lagi bagai orang sakit. Katanya, uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Tetapi, dengan uang, aku bisa membeli es krim. Dan bagiku, es krim sama saja dengan kebahagiaan.
Telingaku tertawa renyah, dan kubiarkan ceramah es krim sore itu. Menampung, menggelembung dalam teduh.

sumber gambar
Baca selengkapnya disini..