Jumat, 03 Juni 2016

Article#553 - Refleksi


Pantulan cahaya dari sebuah jendela mungkin adalah hal yang biasa. Tetapi, pantulan dari jendela tertentu? Bagi pengamat yang bertengger pada posisi tertentu?
Menilik posisi dan sudut pergerakan berkas cahaya, dapat dengan aman dikatakan bahwa pantulan ini, pantulan yang tepat sama dengan apa yang terekam di sensor kamera ini, adalah hak istimewa sang pemegang kamera di hari itu. Sedikit waktu bergeser, dan berkas cahaya hanya akan pergi menyasar jendela yang berbeda, menjadikan tiap-tiap momen pantulan darinya sebagai sebuah kekhasan.
Di hari yang berbeda, mendatangi lokasi pada waktu yang sama pun belum tentu akan mendatangkan pantulan yang sama, berkat posisi Matahari yang terus berubah menyitir musim bergolak. Bahkan, di tanggal yang sama pada tahun yang berbeda, siapa yang bisa menjamin bayang itu akan tetap sama?

Jumat, 3 Juni 2016, 17:26 (UT+9)
38°15'57.45"N, 140°52'16.41"E

Lanjutkan baca »

Selasa, 31 Mei 2016

Article#552 - Impresi


Di bawah curahan hangat mentari Mei, akhir semi tidak lagi bersemai.

Membicarakan akhir perjalanan musim semi ini berarti membicarakan segenap kekuatan menulis yang terus merosot seiring menanjaknya temperatur. Tentu saja saya tidak akan demikian terburu-buru mencari-cari keterkaitan antar keduanya. Kalian yang mengenal perbincangan di dunia ilmiah tentu paham betapa sebuah hubungan yang terindera antara dua variabel belum tentu terkait betulan.
Sebagaimana sinyal positif yang acap kali menjadi pendorong diri untuk bertindak, hanya untuk mendapati di kemudian hari bahwa semua itu hanyalah kepalsuan.

Mei mungkin adalah impresi nisbi.
Dari segala macam bualan soal semangat yang meningkat seiring naiknya mentari menyinari negeri, hal-hal yang penulis dapati dalam kenyataan tak berkisar jauh-jauh dari produktivitas yang menggelinding. Karya-karya yang jarang ditelurkan, kamera yang jarang diberdayakan, seolah ditertawakan oleh arakan awan yang dengan riang menari-nari menghiasi angkasa. Alih-alih tergerak untuk ikut berpacu meningkatkan kualitas dan kuantitas karya, yang ada produktivitas makin terjerembab dengan kontras yang terus melebar menganga antara proyeksi dan realiti.

Mei mungkin adalah curah hati yang belum sampai.
Di saat musim semi tidak lagi jelas bekas wujudnya, hari-hari yang bergulit masih belum jelas menampakkan identitas musim panas yang sesungguhnya. Semilir angin yang menyapa di pagi hari masih acapkali membangkitkan kuduk ketimbang membangkitkan keringat. Musim semi telah terasa demikian jauh di belakang, meskipun masa lalu memanglah yang terjauh dari apa yang bisa dibayangkan seorang anak manusia. Tetapi musim panas juga masih entah kapan tibanya, dan bersama itu pula segala kenyataan yang akan menyambut kita semua, di jelangnya dan di akhirnya.

Semua seolah menyindir saya untuk memfokuskan perhatian kepada urusan. Supaya apa yang ditetaskan senantiasa dapat diberdayakan. Supaya segala akhir segera tersampaikan.

Di bawah curah hujan dingin Mei, langit tidak bosan membasahi mimpi.

And I want you to know
I've got my mind made up now
But I need more time
































Lanjutkan baca »

Sabtu, 28 Mei 2016

Article#551 - Sedikit Serba-Serbi PKI

Beberapa waktu lalu saya membaca berita berbagai penangkapan orang-orang yang menggunakan atribut Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu ada informasi yang boleh jadi dihembus-hembuskan intelijen kita yang hobinya menakut-nakuti rakyat sendiri ketimbang melakukan pekerjaannya: Katanya ada acara bagi-bagi kaos berlogo PKI dalam rangka hari ulang tahun PKI tanggal 9 Mei 2016. Jumlahnya kaosnya tak tanggung-tanggung: 102 ribu kaus, supaya pas dengan usia PKI yang 102 tahun katanya.
Bagaimana kita mengkonfirmasi kebenaran desas-desus ini, ketika anggota-anggota PKI sudah banyak dibantai dan organisasi ini sudah dibubarkan paksa? Semenjak peristiwa 30 September 1965, sudah banyak sekali anggota PKI yang sudah mati karena dibantai tanpa pengadilan (termasuk pimpinannya), di ruang-ruang interogasi, atau di pengasingan. Beberapa anggota yang masih hidup pun sulit diajak bicara terbuka karena dua alasan: trauma masa lalu (menjadi penyintas dan menyaksikan teman-temannya dibunuhi atau hilang bukanlah pengalaman enteng) dan selama setengah abad organisasi ini sudah disamakan dengan setan–sebuah stigma yang sangat sulit dilawan serta bikin orang takut bicara. Saya kenal dengan beberapa orang-orang penyintas yang bisa diajak bicara mengenai hal ini, tapi saya penasaran ingin tahu langsung dari mereka yang menjadi korban. Apa boleh buat, saya harus mencari dukun yang bisa membantu saya mencari arwah-arwah anggota PKI supaya saya bisa langsung bertanya.
Untungnya saya tahu orang yang bisa mencarikan saya dukun (saya selalu punya “orang” untuk segala hal), dan dukun ini bisa membantu saya berkontak dengan “alam sana” untuk berbincang-bincang dengan hantu-hantu anggota PKI. Ah, ternyata dalam konteks Indonesia masa kini, kata pembuka dalam Manifesto Komunis itu menjadi benar secara harafiah dan horor: “Ada hantu bergentayangan di Indonesia… hantu komunisme” hehehe…
Dukun yang saya kontak bersedia membantu saya berkontak dengan hantu-hantu komunis Indonesia, asalkan bayarannya cukup dan tempat praktiknya tidak diinteli. Saya setuju dan berangkat ke tempat mbah dukun dengan mengambil rute berliku, berusaha menghilangkan jejak dari agen-agen intelijen. Mbah dukun sudah menunggu, dan saya siap berkontak batin dengan mbah-mbah komunis almarhum dan almarhumah. Mbah dukun lalu bekerja merapal jampi-jampi untuk menghubungkan saya dengan alam “dunia sana”…
Alhasil, di “dunia sana” saya berhasil menemui beberapa anggota PKI. Tak perlulah saya sebutkan nama-namanya, cukup saya sampaikan saja hasil-hasil perbincangannya. Demikianlah hasilnya.
HUT PKI
Pembukaan AD/ART PKI hasil Kongres Nasional (luar biasa) VII tahun 1962 menyebutkan bahwa tanggal pendirian PKI adalah 23 Mei 1920. Klik pada gambar untuk memperbesar.
Pertama-tama memang benar akan ada perayaan ulang tahun PKI pada bulan Mei ini, tapi bukan pada tanggal 9 Mei dan bukan pula di Gelora Bung Karno (GBK) atau tempat-tempat yang bisa dijangkau manusia. Lokasi perayaannya ada di alam baka karena memang hampir semua anggota PKI sudah habis dibantai dengan tragis, dan organisasi ini juga praktis sudah mati. Tanggalnya memang bukan 9 Mei tapi 23 Mei, karena yang dianggap sebagai hari ulang tahun PKI adalah tanggal tersebut. Ini mengacu pada dokumen Kongres Nasional (luar biasa) VII PKI tahun 1962. Di dalam dokumen ini tercantum AD/ART PKI, dan pada pembukaan AD/ART tertulis bahwa PKI didirikan pada tanggal 23 Mei 1920 (halaman 318 dokumen ini. Ngomong-ngomong, sebagaimana bisa dibaca pada kata pengantar dokumen tersebut, Kongres VII ini dulu terbuka untuk umum loh), artinya di tahun 2016 usia PKI bukanlah 102 tahun tetapi 96 tahun. Yah, membuat 96 ribu kaus tetaplah pekerjaan besar. Sedikit catatan, 23 Mei 1920 adalah kongres ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, Persatuan Sosialis-Demokrat Hindia), di mana mereka mengubah namanya menjadi PKH yaitu Perserikatan Komunis di Hindia. Perubahan nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI), nama yang kita ketahui bersama dan disamakan dengan sebangsa dedemit ini, baru terjadi pada kongres tahun 1924. Barangkali ini sudah banyak diketahui tapi perlu juga disebut lagi di sini: PKI adalah organisasi politik pertama yang menggunakan kata “Indonesia” di dalam namanya. Ah oke lah, jadi hari ulang tahun PKI bukan 9 Mei, tapi 23 Mei. Ini menurut dokumen Kongres VII PKI lho, barangkali mas/mbak intel bisa baca dulu biar menyebarkan isu bisa lebih akurat sedikit.

Perayaan ulang-tahun ke-45 PKI di Senayan, 23 Mei 1965. Acara ini dihadiri oleh Presiden Sukarno yang tampak akrab dengan ketua Central Comite (CC) PKI, D.N. Aidit. Bagaimanakah nasib jutaan anggota PKI dan simpatisannya, yang menghadiri acara ini? Foto oleh fotografer AP Howard Sochurek, sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Komunis_Indonesia
Logo PKI
Logo PKI menurut Kongres Nasional (luar biasa) VII tahun 1962.

Persoalan lain yang disinggung mbah-mbah komunis ini adalah soal logo. Di pemberitaan-pemberitaan selalu dikatakan bahwa logo yang ada di kaus-kaus itu adalah logo PKI, padahal bukan. Palu-arit memang adalah simbol pergerakan komunis, dan digunakan di mana-mana oleh organisasi-organisasi yang berideologi komunis. Palu adalah simbol buruh, arit adalah simbol petani. Persilangan keduanya menyimbolkan persatuan buruh dan tani, kelas yang diperjuangkan kelompok-kelompok komunis di dunia. Palu-arit, sebagaimana kita lihat pada gambar di samping, hanyalah satu komponen saja dari logo PKI secara keseluruhan. Komponen-komponen lain antara lain bintang merah yang melatari palu-arit, padi dan kapas mengapit bintang berpalu-arit tersebut, dan jeng jeng jeenggg… bendera merah putih di atas bintang tersebut. Ini semua juga dicantumkan dalam AD/ART PKI mengenai lambang partai, yaitu Pasal 3 ART.



ART PKI
Pasal 1-3 ART PKI mengenai bendera, lagu, dan lambang PKI. Klik pada gambar untuk memperbesar.
Yang cukup menarik buat saya, PKI adalah partai yang cukup nasionalis. Saya tidak tahu banyak mengenai partai-partai politik Indonesia di jaman masa kini, namun kita bisa lihat pada gambar di samping bahwa pasal 1 dan 2 ART PKI mencantum sang merah putih sebagai bendera nasional mereka, selain bendera partai sebagaimana digambarkan oleh pasal 1. Lagu nasional PKI adalah lagu Indonesia Raya, sementara Internasionale—lagu perjuangan kelas buruh sedunia—adalah lagu PKI. Sedikit tambahan informasi, lagu Internasionale yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia ini pertama kali diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ki Hadjar Dewantara.
Saya lalu berpisah dengan mbah-mbah komunis di alam sana, karena dukun mengingatkan saya untuk membayar ekstra apabila ingin terus berkomunikasi dengan dunia lain. Interlokal saja kita harus bayar, apalagi ini. Berhubung uang saya tinggal cukup untuk naik bis, maka saya sudahi percakapan, seraya berharap ada keadilan bagi mbah-mbah komunis yang dibantai tanpa proses peradilan ini. Sebagai negara yang telah mensponsori terjadinya kejahatan kemanusiaan, saya pikir permintaan maaf bukanlah inti dan penyelesaian persoalan (walapun akan sangat membantu). Negara kita harus dicari kembali jati dirinya, sebagaimana Jerman mengubah citranya pasca Perang Dunia II. Ini diskusi panjang untuk lain waktu.

Sekelompok pendukung PKI, dengan sang saka merah-putih didampingi bendera palu-arit di depan barisan. Sebuah foto dari masa lalu, tak bertanggal.

Lanjutkan baca »

Selasa, 24 Mei 2016

Article#550 - Kutipan Hari Ini

“You don't have to burn books to destroy a culture. Just get people to stop reading them.”

~quoted from Ray Douglas Bradbury (1920 - 2012), American fantasy, science fiction, horror and mystery fiction author. Quoted at 21st May, 2016, 12:32 (UT+9)

image source

Lanjutkan baca »

Rabu, 18 Mei 2016

Article#549 - Tuhan Sudah Sangat Populer

Satu
Tuhan sudah sangat populer
Nama-Nya dihafal luar kepala
Sehingga amat jarang ada
Orang yang sungguh-sungguh mengingat-Nya

Tuhan sudah sangat populer
Seperti matahari tak pernah tak bercahaya
Sehingga hanya kadang-kadang saja
Orang menyadari ada dan peran-Nya

Tuhan sudah sangat populer
Baik di kota maupun di desa
Kalau terasa tak ada, orang menanyakan-Nya
Ketika jelas ada, ada orang melupakan-Nya

Dua
Di kalangan kaum beragama
Juga pada orang yang mengakui-Nya
Tuhan dilibatkan dengan amat riuhnya
Untuk dirindukan maupun untuk dihina

Tuhan menandakan diri di jalanan
Memasuki rumah-rumah
Bahkan memasuki setiap jiwa
Menyemayami hati dan bawah sadar manusia

Tiga
Tuhan yang sebenar-benarnya Ia
Disebut Allah subhanahuwata’ala
Maha dzat tak terumuskan segala kata
Luput dari setiap genggaman makna

Tetapi Tuhan yang diikir-pikirkan orang
Yang diomongkan dan diteriakkan
Bermacam-macam bentuknya
Membuat para Ulama ngambek di antara mereka

Demikian itu karena orang terbiasa malas
Menempuh perjalanan sejati
Mengasuh mutiara ruhani
Merdeka dari ego kecil diri pribadi

Empat
Terkadang orang pikir Tuhan adalah pegawai
Disuruh-suruh mengabulkan doa-doa pamrih pribadi
Yang diucapkan dengan mulut pedagang menagih janji
Saat dan bentuk kabulnya dibatasi

Tuhan diberhalakan
Digambar dengan gagasan-gagasan
Kalau tetangganya membuat patung Tuhan yang berlainan
Bertengkar mereka dan saling mengkafirkan

Orang bikin tuhan-tuhanan
Bagai robot digerakkan ke kiri ke kanan
Tombol dtekan, program harus dilaksanakan
Kalau robot macet, ia tak dipercaya dan dicampakkan

Lima
Orang dungu dan orang pandai
Mengarang tuhannya sendiri-sendiri
Diramu berdasar sangkaan dan keinginan
Yang tak diuji dan tak dijernihkan

Ramuan tuhan-tuhanan dijadikan gincu
Dioleskan di bibir
Dijajakan ke sana ke mari
Agar laris dagangan duniawi


Tuhan dijadikan suku cadang
Untuk membuat peluru dan senapan
Dibubuhkan namanya di surat-surat keputusan
Dikurung dalam kandang kambing-kambing hitam

Enam
Orang lain bertekun-tekun sembahyang
Sambil merendahkan orang lain dan menajiskan
Tuhan dimonopoli
Diakui sebagai miliknya sendiri

Orang yang sembahyangnya gagal sembahyang
Tak menemu kesejatian
Orang yang sembahyangnya berhala
Syari’at-lah tuhannya

Tujuh
Yang bukan tuhan dituhankan
Yang tuhan tak dijadikan sesembahan
Orang mabuk di putaran gelombang
Terseret dari salah paham ke salah paham

Kekuasaan dan kemegahan
Uang dan segala bentuk kekerdilan
Berfungsi tuhan
Karena dinomorsatukan

Delapan
Tuhan disederhanakan
Menjadi kayu pagar berbaris
Terbuntu jalanan ke cakrawala
Langit ditutupi awan jelaga

Jiwa lapar umat
Dicekoki penafsiran dusta
Hati mereka yang dahaga
Dijawab dengan paham syari’at yang buta

Sampai tiba suatu hari
Engkau ditanya oleh dirimu sendiri
Siapakah Tuhan hidupmu, ya shahibi?
Kau jawab: Umara dan Ulama, tak ragu lagi.

Sembilan
Tuhan sudah sangat populer
Sudah dijadikan komoditas yang amat sekuler
Diiklankan dengan indahnya
Disebut dan dimanfaatkan di mana-mana

Allah yang sebenarnya
Mahasuci Ia
Dari ludah segala jenis Fir’aun
Yang merasuki tulang sumsum

***
Nadjib, Muhammad Ainun. 1987. Seribu Masjid, Satu Jumlahnya: 105-109.
Lanjutkan baca »