Jumat, 24 Juli 2015

Article#445 - Paspor




PASSPORT



Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki paspor. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.
Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus paspor. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa paspor manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya paspor. Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa paspor ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.
“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”
Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.
Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.
Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya. Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.
Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.
The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ketiga dari Revolusi Industri. Dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.
cap-passport
Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki paspor. Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKn yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.
Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide-nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronunciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya paspor itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya dari mana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.
Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini di paspornya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.
Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.
Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki paspor. Paspor adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya paspor dari uang negara.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia

~disadur dari http://iskandarmuda.blog.uns.ac.id/2011/09/08/passport-by-rhenald-kasali/, dengan beberapa pengubahan.
sumber gambar
Lanjutkan baca »

Rabu, 22 Juli 2015

Article#444 - Konjungsi

Jika kalian bingung akan apa tujuan sebenarnya dari post ini, izinkan penulis untuk merangkumnya dalam ungkapan berikut: 10% rencana panjang, 62% pencomotan gambar, dan 68% pengalihan isu dari kegagalan rencana.
Selamat menikmati.

*****
Jupiter beserta keempat bulan Galilean (kiri bawah) beserta sabit Venus (kanan atas), sebagaimana
dipotret dari PoznaƄ, Polandia, 30 Juni 2015.
(APOD/Adam Tomaszewski)
Ketika penulis menapaki bumi di bawah langit senja cerah yang menghiasi seantero bulan Mei, sesekali pandang berjumpa dengan dua titik cahaya yang berkilau benderang di langit barat. Kedua titik ini, yang belakangan terbongkar identitasnya sebagai dua planet (Venus dan Jupiter), tampak bergerak pelan bersama mengarungi langit sejak bulan April; pada Mei, mereka terus mendekat menuju "pertemuan" terdekat mereka (dilihat dari Bumi) setidaknya dalam 15 tahun terakhir.

Rencana pun kemudian disusun, untuk mengabadikan pergerakan kedua planet sepanjang bulan-bulan tengah tahun 2015. Apa daya, kemalasan penulis yang bersatu dengan cuaca labil awal musim hujan membuat rencana tersebut luntur begitu saja.
Alhasil, yang penulis bisa lakukan kini hanyalah mengamatinya melalui piranti lunak. Atau melalui kamera mereka yang berhasil mengabadikan momen demi momen "bertemunya" kedua planet.

Kompilasi foto Venus-Jupiter antara 27 Juni - 1 Juli 2015, sebagaimana dipotret
dari Melaka, Malaysia.
(FalakOnline/Fadzli Razi)
Animasi pergerakan Jupiter (redup) dan Venus (terang) dengan pandang horizontal
pada 9 Juni - 10 Juli 2015. Waktu pada kolom bawah dinyatakan dalam WIB (UT+7),
Gambar diperoleh dari simulasi oleh piranti lunak Stellarium 0.12.0.
Animasi pergerakan Jupiter (tengah) beserta keempat bulan Galilean, dan Venus (terang, bergerak) dengan
pandang ekuatorial 
pada 29 Juni - 1 Juli 2015. Karena sudut pandang dipusatkan pada Jupiter, bintangdi latar belakang terlihat bergerak ke arah kanan atas.
Gambar diperoleh dari simulasi oleh piranti lunak Stellarium 0.12.0.
Akhir kata, berhubung sebagian besar isi post ini adalah hasil simulasi, maka penulis akan menutupnya dengan hasil simulasi pula.
Tepatnya, citraan Venus, Jupiter, serta keempat bulan Galilean pada kondisi (kurang lebih) terdekat antar kedua planet. Tentunya, memanfaatkan piranti lunak Stellarium 0.12.0.


Berminat mengunjungi galeri Venus dan Jupiter? Silakan mulai dari laman berikut:
http://earthsky.org/todays-image/venus-and-jupiter-west-after-sunset-june-2015
http://news.nationalgeographic.com/2015/07/2015701-venus-jupiter-pictures-around-world/

Sampai jumpa dalam serapah selanjutnya!
Lanjutkan baca »

Senin, 20 Juli 2015

Article#443 - Destinasi


Mahligai tak bergeming
Terik mendesir sunyi
Di hadapan bingar mentari pagi
Arakan awan berbaris
Kelambu mengurai hari
Sepanjang lintas tinggi di langit

Kita hidup bukan untuk menggugu
Segenap label-label nisbi
Yang oleh orang digilai
Kita hidup bukan untuk terpaku
Menjadi raga tanpa isi
Yang jiwanya tergadai

Maka di awal hari
Di mana sejuk sepi menghampiri
Ada jiwa yang bersiap menguasai hari
Dan pada akhir petang
Di mana bayang nyata menjelang
Ada jiwa yang mengucap tenang
Untuk melangkah kembali pulang












Hari 7404, mendaras pergerakan awan.
Ahad, 19 Juli 2015, 17:44 (UT+7)
6°18'13.77"S, 106°50'36.29"E
Lanjutkan baca »

Sabtu, 18 Juli 2015

Article#442 - Semburat

Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar tentang senja yang lebih merona merah dari fajar. Entah apakah benar demikian adanya—agaknya sebagian besar dari kita bukanlah manusia yang senantiasa berkesempatan meluangkan waktunya untuk memintas datang fajar atau lepas senja. Kita pun tak tahu pula, apakah mereka yang pertama mencetuskan falsafah tersebut adalah mereka yang senantiasa menyerta senja dan fajar. Bisa saja mereka sembarang berfalsafah, atau sekadar menyampaikan faedah. Bisa saja mereka seperti kita, terkagum-kagum akan pengetahuan baru dan bersemangat menyebarkannya.

Barangkali, membuktikan kebenarannya dengan menilas senja demi senja, atau fajar demi fajar, bukanlah opsi yang cukup mnguntungkan bagi sebagian besar kita.
Maka kemudian tercetuslah tanya: Kalau senja benar lebih merah adanya dari fajar, apa gerangan penyebabnya?
Apa ada kaitannya dengan perputaran Bumi? Memang, perputaran Bumi yang cenderung ajek dalam satu arah membuat kita menyambut mentari dalam naungan fajar, untuk kemudian meninggalkannya dalam naungan senja.
Tetapi, ketika ditelisik pun, laju perputaran Bumi yang tak sampai setengah kilometer per detiknya ini justru tampak kerdil ketika bersanding dengan kecepatan cahaya. Mungkinkan laju yang kerdil ini mempengaruhi kenampakan cahaya mentari yang tiba, membuatnya sedikit memerah? Agaknya tidak.

Maka kita mengalihkan dugaan pada tabir udara Bumi kita.
Adakah kemungkinan beda kualitas tabir udara pada pagi dan sore hari mempengaruhi perbedaan pada warna fajar dan senja? Kita pun belum tentu yakin pula akannya.
Mungkinkah warna senja adalah warna fajar yang dikotori ragam sisa kesibukan manusia? Dari debu, asap pabrik, bau knalpot, bahkan hingga peluh kita yang mengejar tujuan hidup.
Atau mungkin, senja adalah warna mentari yang meredup, terkesiap dalam sekilas sigi atas penduduk Bumi.


Apapun maknanya, sepertinya kita tak akan mengarah pada pemahaman akan senja yang memerah sebagai perpisahan pada dunia fana. Karena kita belum tentu memahami, apa yang hendak disampaikan dengan warna sedemikian.
Tempat kita, agaknya, adalah untuk menikmati pandangnya. Memahami prosesnya. Dan tidak kehilangan takjub atasnya.

Semburat fajar beranjak
Membukakan hari pada jiwa yang terlambat bertindak
Sementara semburat senja menjumpa
Merampungkan hari bagi jiwa pendekap nelangsa
Lanjutkan baca »

Kamis, 16 Juli 2015

Article#441 - Menjumpa Raja Kegelapan

Animasi kenampakan Pluto sejak pertama ditemukan pada Februari 1930, hingga melintasnya wahana
New Horizons pada Juli 2015.
sumber gambar

Ada perjalanan panjang yang harus ditempuh untuk sebuah pencapaian.
Ketika kita memutar jarum tahun kembali menuju angka 1930, dunia ilmiah baru saja mendapatkan berita akan ditemukannya planet baru, belakangan dinamai Pluto. Didaulat sebagai planet kesembilan, penelitian lebih lanjut perlahan mengungkap jati diri Pluto sebagai benda langit yang lain dari apa yang telah dikenal umat manusia. Baik itu planet kebumian, planet gas, atau benda-benda kecil macam asteroid dan komet.

Status keplanetan Pluto yang masih dipertahankan ini perlahan mulai luntur sejak beragam benda langit ditemukan di luar orbit Neptunus. Penemuan Eris pada 2005, yang didapati berbobot melebihi Pluto pun "memaksa" komunitas astronomi untuk mendefinisikan istilah "planet" untuk pertama kalinya pada 2006.

Sebelum Pluto "dipecat" dari perbendaharaan keplanetan, sebuah wahana antariksa telah diluncurkan untuk melintasi sistem Pluto. Dengan lima bulannya–di mana salah satu demikian besar hingga menggiring Pluto berdansa dalam putaran gravitasi–Pluto tetap menjanjikan kejutan yang dinanti oleh khalayak astronom di seantero Bumi.

Ia berawal sebagai titik cahaya, yang kecilnya nyaris tak terindera. Dan kini, ia perlahan tumbuh menjadi cakram dengan segala fiturnya, menyuguhi keingintahuan penduduk Bumi yang setia menyaksikan.

Mari menilas sudut pandang akan Pluto, menyimak pertumbuhan pengetahuan kita akannya seiring berhembus zaman.

Pluto (ditunjuk oleh panah), sebagaimana teramati pada
pelat fotografi yang digunakan oleh Clyde Tombaugh pada
23 dan 29 Januari 1930.
sumber gambar
Sistem Pluto, sebagaimana teramati pada 22 Juli 1978 oleh James Christy.
Pluto adalah noktah hitam di tengah tiap gambar. Noktah ini teramati
berubah bentuk secara teratur setiap kira-kira 6,4 hari, yang kemudian
berbuah ditemukannya Charon.
sumber gambar
Pluto (kiri bawah) dan Charon, sebagaimana diamati melalui Faint Object Camera
pada teleskop antariksa Hubble, 1994.
sumber gambar
Sistem Pluto, dengan Pluto-Charon di tengah, dan dua satelit yang baru ditemukan
(Nix dan Hydra) pada 2006. Dipotret oleh teleskop antariksa Hubble.
sumber gambar
Pluto, sebagaimana teramati oleh wahana New Horizons
pada 21 dan 24 September 2006.
sumber gambar
Peta kecerlangan global Pluto, sebagaimana direkam oleh
teleskop antariksa Hubble pada 2010.
sumber gambar
Sistem Pluto-Charon, sebagaimana teramati oleh wahana New Horizons
antara 25 hingga 31 Januari 2015.
sumber gambar
Sistem Pluto-Charon, sebagaimana teramati oleh wahana New Horizons
antara 12 hingga 18 April 2015.
sumber gambar
Sistem Pluto (P), beserta kelima bulannya: Charon (C), Nix (N), Hydra (H),
Styx (S), Kerberos (K). Foto diambil pada 1 Juli 2015.
sumber gambar


Sekarang, waktunya untuk menggabungkan Pluto bersama rekan-rekannya sesama non-planet. Semoga Pluto berbahagia, ya. (?)

Galeri "benda non-planet" Tata Surya.
sumber gambar
Lanjutkan baca »