Sabtu, 28 Februari 2015

Article#393 - Progresi

[apdet terakhir pada 5 April 2015, 21:54 (UT+9)]

.....
.....
"Zaman berubah.
Tak peduli apakah manusia-manusia yang dilingkupinya berjalan mengikutinya, melampauinya, atau tertinggal di belakangnya.
"
Agaknya, saya tak perlu lagi menahbiskan diri saya sebagai seorang yang gemar menghabiskan waktu untuk merenungkan dan membicarakan waktu. Selayang pandang yang kalian langsungkan ketika menelusuri laman blog ini (kalau kalian melakukannya, tentu) pun sudah lebih dari cukup menjadi saksi akan segala keisengan yang tertuang padanya. Di sisi lain, tentunya kita yang terbiasa membicarakan waktu tentu sadar, bahwa tidak sebaiknya waktu yang berharga dibuang-buang hanya untuk mengulang-ngulang betapa dirimu memperhatikan waktu. Hipokrit, kalau kata orang. Lagipula, mau saya menahbiskan diri sendiri, mengkultuskan diri sendiri di laman ini, tentu tak akan ada yang ambil pusing—bukan urusan saya, kalau mengutip kata-kata Pak Presiden.  (ups)

Tuh kan, saya sudah menghabiskan waktu lebih jauh lagi.


...Baiklah.
Keisengan yang saya jalankan sebagai bahan dasar dari tulisan ini bermula dari kilas balik saya sekitar tiga bulan yang lalu, dalam merenungi lewatnya setengah waktu saya berkalang di negeri samurai ini. Saat-saat itu adalah masa di mana filmInterstellar sedang ngehitz-ngehitznya, dan perbincangan terkait isi film (yang banyak berkutat seputar salah satu topik fiksi ilmiah yang populer: perjalanan melalui ruang dan waktu) ikut menghiasi kepala saya akan beragam macam keingintahuan.
Gabungkan kilas balik kehidupan, perjalanan waktu, dan kekepoan luar biasa, maka hasilnya adalah saya yang memutuskan untuk mengisengi beberapa kenalan. Melalui salah satu kanal media sosial, saya mengajukan sebuah pertanyaan panjang yang (sepertinya) sederhana:
Dalam sebuah skenario di mana kau berhadapan dengan dirimu 3-5 tahun lalu dan bisa berbincang dengannya, apa yang akan kau katakan pada dirimu yang lalu itu?

Yah, intinya, saya hanya ingin tahu bagaimana sebagian rekan saya memandang sebagian masa lalu mereka.
Walaupun kemudian terbersit keingintahuan akan beberapa sampel yang menyiratkan niat yang ia ikrarkan. Mengungkapkan semangat yang ia perjuangkan. Menceritakan impian yang ia dambakan. Mensyukuri nikmat yang ia dapatkan. Mempelajari masa lalu yang ia lewatkan.
Di luar segala "walau" yang tertera, tidak ada niatan ekstra yang istimewa.
Demikianlah adanya, tidak kurang, tidak lebih.

Tidak ingin mengasah kemampuan mengajukan pertanyaan dalam survei, tidak pula mengasah kemampuan menganalisis jawaban dari pertanyaan yang diberikan.
Sudahlah, tak perlu lebih lama berbasa-basi.
Selamat menikmati.

(tulisan tebal cetak miring adalah tanggapan penulis)

*****

Eii putas, jgn cuma baca manga ama nonton anime kerjamu yaaa..
Ingat Bapak ama Mamak di rumah..
Jgn jgn trlalu bikin stres Mamak itu nnti kambuh sakitnya..
Trus aku kasitau skor2 hasil pertandingan sepakbola, biar menang parley, masa kalah mulu wkwkwk
(SSB - Sebut Saja Bunga)

Nama boleh Bunga, main tetep parley. #prinsip

3-5 tahun lalu berarti sekitar tahun 2010-2012 ya?
Lebih sabar, jangan gegabah ngambil keputusan dan harus fokus pada apa yang diiinginkan. Lebih komitmen pada apa yang diucapkan :))
(AF)

Semoga berkomitmen pula pada jawaban ini (jika perlu).

hai, jadi anak baik ya…
(MIF)

"aku harap aku lebih baik dari kamu"
(AKZ)

(Aamiin)

Mulailah menghafal quran, Nda. Itu bakal jd modalmu bahagia. Baca banyak buku juga. Jangan pacaran nanti nyesel. Belajar yg lebih rajin karena potensi kamu lebih besar dr yg kamu tahu. Cobalah lebih dewasa dan sedikit mau diatur.
Dan, terimakasih sudah menjadi Nda yg tidak pernah berbohong pada diri sendiri. Terimaksih telah mulai melakukan banyak travelling. Terimakasih telah belajar banyak hal dan banyak skill. Terimakasih telah berteman dengan banyak orang. Karena hal trsbt memudahkan hidup yg sekarang.
(NKN)

Padat, tidak singkat, dan jelas. Menarik bahwa jawaban berisikan sisi introspeksi diri, juga aspek syukur.

5 tahun lalu berarti pas masih di ic yah.
- Kelas 3 coba pindah jadi osis atau rpj
- Tahun ini snmptn lo bakalan gagal. don't even bother
- Jauhi beberapa orang ini *ngasih daftar
(ARS)

"Jangan kebanyakan main game, serius lah belajar atau bermain ama temen2 lo, is. Bukan dengan benda mati bernama komputer"
(IZ)

"You don't know me, but you will" belagak kayak jason statam ke vin disel
(IGR)

Untungnya bukan "You know me so well" ya

"Jangan ke luar negeri! Belajar buat jadi dokter aja udah, peduli setan sama idealisme dan cita-cita lu! Uang dan gengsi masih lebih penting dari itu!" gitu.
(XX - nama disamarkan)

Abandon your do*a. You can't imagine how much destruction that thing could bought you later.
Keep dreaming. It's your biggest hell of an energy that could brought you to the sky. It's beautiful up here. Wanna take a peek?
Call your mom often. Pray for her harder. Make her smile shine brighter. Do something to make her proud. You don't know how much time left you have to pay her goodness back. Srsly.
..
I hope you don't ask for more spoiler about the future. Believe me it's enough. It's often your stupidity the reason that made my day and made me introspect harder as a man. Keep living your moment.
(MDAS)

(Agaknya doa yang dimaksud berisikan keinginan lubuk hati yang dalam, ya.)

3-5 tahun yang lalu.... berarti pas masih di IC ya?
Aku akan bilang;
Jangan takut mencoba hal baru. Kamu nggak akan pernah tahu hasilnya kalau nggak pernah mencoba.
Belajar berbuat baik lebih banyak, lebih sering.
Belajar bahasa arab, fiqh, aqidah, sejarah, dan qur'an nya yang serius.
Dijaga hafalannya.
Tetap lakukan hal-hal baik.
Dan minta terus sama Allah, untuk ditunjukkan jalan terbaik.
Di masa depan, jangan pernah lupa masa-masa ini ya. :)
(MZ)

Halo, Dinar ca. 2010-2
.
Kamu pasti sedang pusing, kan?
Sebentar, luangkanlah 1 menitmu yang berharga, tinggalkan dulu buku-bukumu.
Ya, termasuk novel-novelmu itu.
Dengarkanlah aku.
.
Dinarda Ulf Nadobudskaya, apapun yang mereka katakan padamu, kamu adalah orang yang sangat, sangat berharga. Jangan pernah merasa rendah diri, jangan pernah merasa sedih. Dinar jangan sedih, karena tidak masuk SMA impianmu seperti Ricko, atau kelas impianmu seperti Nadhira. Dinar jangan sedih juga, karena pipimu diluar proporsi wajahmu (AHAHAHAHA), ataupun merasa rendah diri karena ... yah, kamu tahu, kan? ;)
.
.
Dinar, teruslah bercita-cita setinggi mungkin. Teruslah bermimpi. Well, the limit is limitless. Hanya orang-orang klaustrofobik yang bilang gantungkan cita-citamu (hanya) setinggi langit. Jadilah tak terhingga, Sayang.
.
.
Teruslah cintai semua orang dengan tulus, hanya karena kamu mau. Memang kamu tidak akan bisa membuat semua orang bahagia di saat yang sama. Tapi mereka akan melihat ketulusanmu. Aku yakin, sebentar lagi, kamu akan menemukan orang-orang yang paling berharga bagiku. Lihat Namira? Cewek centil dan tercaem se-sekolah itu akan jadi sahabat move-on-mu. Lihat Hazna? Cewek yang selalu bahagia itu akan jadi gurumu dalam kehidupan. Lihat Utari? Si ganteng jago basket itu akan jadi sahabatmu yang paling cantik. Lihat Nadhira? Anak aneh itu akan terus memberikan contoh-contoh yang membuatmu bersemangat. Lihat Dessy? Si idealis freak itu akan memberikanmu honest judgement tentang apapun. Kamu tahu Asih? Cewek judes freak kimia itu akan jadi orang yang paling setia menemanimu sepanjang hidupmu. Lihat Chikidot? Band aneh yang nyanyi cari pacar lagi itu akan jadi orang-orang yang kamu anggap sebagai keluargamu. Lihat Batik'12? Angkatan yang sedang kamu bilang hopeless itu, sedang mengejar mimpi masing-masing, untuk kembali dan membangun mimpi kita bersama, Batik Foundation. :'')
.
.
Teruslah berusaha.
Tak perlu berlomba mengungguli orang lain,
just give your very, very best to everything.
Teruslah bangkit, setiap kamu jatuh. Fall hard 99x, rise higher 100x.
Dinar pasti, kuat. :')
.
.
Dinar, aku adalah kamu 3-5 tahun lagi.
Sekarang aku adalah calon dokter yang sekolah di tempat yang kamu bahkan tidak pernah memimpikannya. Yah, maaf ya, aku menghancurkan mimpimu untuk menjadi seorang arsitek di kampus Ganesha itu. Aku sedang pusing (well, kita akan terus pusing, tampaknya) karena proposal risetku belum selesai, dan aku punya banyak project yang belum kuselesaikan.
.
.
Dinar, kamu tahu? Meski lelah, aku bahagia.
Kebahagiaan yang kamu cari-cari itu, ternyata ada di dirimu dan orang-orang terdekatmu.
Bersyukurlah, dan kau akan menyadarinya.
Oh ya, kamu tahu, sekarang aku sedang bersama Dhitya. Kamu belum mengenalnya, Din.
Aku memilihnya, karena dia tahu you-know-what (KEREN KAN). Dan aku mencintainya, karena dia, dia.
.
.
p.s just do what you like. I trust you.
p.s.s jgn lupa Yasin. Itu yang selalu menenangkanku, lho.
.
Love you!!!
(DUN - lengkapnya tertera pada jawaban.)

Satu hal yang cukup saya yakini, semua cerita panjang di atas tak akan selesai dituturkan dalam waktu hanya semenit.

Belajar agama lebih dalem...
Latian ngomong bahasa inggris & jepang
Puas2in main game !
Ninggiin badan ?
(MI)

(kutip dari Stallone-sensei)
“Let me tell you something you already know. The world ain't all sunshine and rainbows. It's a very mean and nasty place and I don't care how tough you are it will beat you to your knees and keep you there permanently if you let it. You, me, or nobody is gonna hit as hard as life. But it ain't about how hard ya hit. It's about how hard you can get hit and keep moving forward. How much you can take and keep moving forward. That's how winning is done!”
(AFI)

Filosofis banget nih.

Menyarankan untuk terus selalu mengingat Allah sesibuk apapun. Belajarlah bahasa arab dengan sungguh-sungguh, banyak menghafal Hadis dan AlQuran yang sering terbangkalai. Menikmati hidup, semua pasti ada hikmahnya.
(MNSF)

sumber gambar


Satu dari sekian banyak hal yang terbersit di benak saya ketika menilas ulang tiap jawaban, adalah beberapa kawan yang memberikan jawaban yang lugas dan detail (salah satunya bahkan kentara sekali mendominasi).
Entah karena mereka di masa lalu sudah menjadi individu yang terbiasa merencanakan hidupnya dengan baik, atau karena mereka sudah terbiasa menilas balik kehidupan yang masing-masing mereka telah  lalui.

Bagi saya, seorang yang tak terbiasa merencanakan hidupnya dengan baik, menyusun kata-kata sebagai jawaban versi pribadi pun tak semudah yang mungkin terduga.
Meskipun saya sendiri yang menyusun pertanyaan.

Pada akhirnya, merespon segala jawaban yang telah saya dapat, saya akan memberikan jawaban versi pribadi atas pertanyaan yang sama.

"Berhentilah membual dan berkoar. Hadapi, kenali, akrabi kenyataan yang ada."

Sekabur apapun jawaban yang saya berikan ini, semoga ia cukup layak menutup keisengan saya kali ini.
Semoga perjalanan kita semua dalam kehidupan terus membawa kita mengarungi arus kebaikan.
Lanjutkan baca »

Selasa, 24 Februari 2015

Article#392 - Fluktuasi Nukleasi


Sejenak langit terpaku mimpi
Bersama gemintang mengibar benderang
Angkasa yang terbentang sunyi
Merdeka dari kekangan awan
Bersama gemeretak deru angin
Menyelusup dalam dingin malam
Langit tak perlu basa-basi
Untuk menaungi mereka yang lelah
Karena dengan datangnya pagi
Mereka akan berbaris minggat
Memberi jalan bagi gemerlap fajar
Untuk membuka lembar selanjutnya

Sejenak pikir telah tergariskan
Bersama meningginya mentari
Akan melelehkan kristal beku yang mengangkasa
Juga yang bertumpuk bersama tapak kaki
Meski ada masa di mana mentari tak berdaya
Meski terkadang dingin pun tak berkuasa

Sekarang pagi yang meraja
Mempersembahkan cerah mentari nisbi
Dengan suhu yang tetap tak meninggi
Dan manusia yang tak juga lebih peduli
Sibuk dalam keasyikan sendiri
Barangkali dinding mereka berderak
Oleh angin yang datang bertubi-tubi
Tetapi bagi mereka yang lupa kenyataan
Deru angin pun tak digubris
Terbiar berteriak tanpa hasil

Sesekali justru awan yang meraja
Memberi semu monoton pada angkasa
Menjatuhi Bumi dengan berjuta kristal
Menyelimuti pandang segala arah
Tak peduli akan mereka yang menyalahkan keadaan
Tak bergeming pada segala macam keluhan

Seakan membalas perlakuan manusia
Kita saksikan alam sedang berjaya
Dalam menyelisihi harapan demi harapan
Seakan ada yang menertawakan
Menyindir raut-raut wajah yang kentara kesal
Mengharap cuaca akan patuh begitu saja
Wajah yang menuai perbuatannya sendiri
Mengganggu tatanan yang lama terpatri
Membuat kenyataan tak terkendali
Menghujani wajah mereka sendiri
Yang merasa memegang kemudi
Menjadi wajah pucat pasi

Sesekali kita menerawang kenyataan
Yang bersamanya kita berjalan
Mengakrabi dunia yang berubah
Dengan atau tanpa perselisihan
Mungkin malah dengan canda tawa
Berdampingan menatap kehidupan
Menyaksikan salju yang berjatuhan
Menggemeretukkan salju yang terinjak
Segera sebelum ia kalah oleh terik panas
Dan melambaikan lengan lemahnya
Untuk berpisah jalan



Hari 7260, dalam kerontang hangat berkepanjangan.
Selasa, 24 Februari 2015, 16:37 (UT+9)
38°15'09.69"N, 140°52'28.92"E
Lanjutkan baca »

Senin, 23 Februari 2015

Article#391 - Transisi

Agaknya, kali ini musim semi lebih dini menghampiri, menilik dari perginya dingin yang menghuni sanubari. Karenanya, izinkan diri ini berpartisipasi. Mencerahkan hari-hari, mengembangkan senyum di hati.

(tulisan ini mungkin akan diapdet suatu hari nanti)




Lanjutkan baca »

Sabtu, 21 Februari 2015

Article#390 - Ephemeri


Sebut saja benar adanya
Seorang petualang
Dalam kelambu berkalang
Dalam buana melanglang
Kemudian ia pergi
Menghembusi detik
Menafasi menit
Mengilhami hari

Sebut saja ia berkoar
Terucapkan petuah
Menyerukan ketinggian
Tanpa peduli sasaran
Ia mendatangi sanubari
Persemayaman nurani
Yang meminta diisi
Dengan ragam uji

Sebut sajalah ia
Kabur bersama awan
Memahami kefanaan
Menyintas kenyataan
Ajaklah ia pergi
Menghadap matahari
Melepas jiwa lari
Membayang dalam nisbi

Maka sebut namanya saja
Yang tiada terkenang
Menderas rerumputan
Menguap hilang
Bersama derai angin
Menggapai langit tinggi
Tanpa sejati diri
Berburu sunyi

Selintas mengawasi
Sepintas ilusi
Seutas menghubungi
Dan tak terdengar lagi


Hari 7257, disinari pantul putih sesalju.
Sabtu, 21 Februari 2015, 12:59 (UT+9)
37°30'31.47"N, 139°55'48.51"E
Lanjutkan baca »

Rabu, 18 Februari 2015

Article#389 - Manipulasi

Sejak lama, manusia sudah terbiasa membayangkan keberadaan kehidupan manusia dalam skala yang belum pernah mereka jumpa sebelumnya.
Di satu sisi, skala yang diberikan adalah skala besar, di mana manusia menjadi sosok-sosok raksasa yang menjulang dengan langkah-langkah yang berdebam, menggetarkan bumi di sekitarnya.
Di satu sisi, skala yang diberikan adalah skala kecil, di mana manusia menjadi sosok-sosok kerdil yang berlarian ke sana kemari layaknya semut, menyelusupi celah-celah yang tak mungkin dijamah manusia biasa.

Beratus-ratus tahun peradaban manusia bergulir, dan cerita-cerita serupa berhenti sampai di tahap cerita. Hingga kemampuan artistik manusia meningkat, dan naskah-naskah yang terserak itu berhasil diejawantahkan dalam bentuk visual.

Beberapa orang lain tak puas hanya dengan perwujudan lewat naskah lama, dan memutuskan untuk merekam dunia untuk 'dipermainkan'. Dengan trik tertentu, dunia sebagaimana adanya dapat ditampilkan sebagai dunia mini.

Berminat mengunjungi dunia mini? Silakan berkelana.

Foto oleh Vincent Laforet
Foto oleh Arnar Birgisson
Foto oleh Carmel Kozlov
Foto oleh Claudio SepĂșlveda Geoffroy
Foto oleh Lachlan Sear
Foto oleh Karl Randay
Foto oleh Marisa Geraghty
Foto oleh House Photography
Foto oleh Sippanont Samchai
Foto oleh Lorenzo Baldini
Foto oleh Reven Sanchez

Kepo akan teknik menunculkan miniatur dunia? Sila cek laman ini
Kepo akan penerapan teknik tersebut? Sila cek laman ini atau laman ini
Lanjutkan baca »

Minggu, 15 Februari 2015

Article#388 - Kontemplasi


Barangkali aku tak banyak tahu akan kenyataan.
Karena ketika aku menilik seisi kota yang membuatku bosan, aku terkungkung ketidaktahuan untuk melangkah. Terjerat kejenuhan akan sudut-sudut yang sama, bangun-bangun yang senada, bayang-bayang yang seirama. Ingin melangkah, tapi aku masih tersangkut pada suaka jiwa, dalam usaha menjaga kewarasan yang makin tak jelas gunanya.

Barangkali aku tak banyak tahu akan kenyataan.
Karena ketika aku berpindah dari kenyataan raga ke kenyataan yang mengisi jiwa, mereka tampak sebagai dua keadaan yag demikian berbeda. Sedemikian berbeda, hingga pikiran yang tak nyaman membaca keduanya sebagai lembar buku yang berbeda. Hanya sampulnya yang sama, seperti sederetan buku tulis di masa sekolahan.

Barangkali aku tak banyak tahu akan kenyataan.
Karena ketika aku melihat gemerlap angkasa, aku tak paham upaya menggapainya. Aku mungkin sadar bahwa sampai kapapnpun aku harus tetap berpijak, tetapi dalam diam, jiwa terus memberontak. Terbersit pikiran supaya kami berpisah jalan dalam sesaat dua saat, hingga kenyataan yang menautkan keduanya memaksa diri terus menapak.

Barangkali aku tak banyak tahu akan kenyataan.
Karena ketika aku masih sibuk megaruk liang, aku tidak menyadari kekeringan yang melanda permukaan. Dengan raga yang bugar menaungi jiwa yang pudar, pikiran jarang dibersihkan dengan cukup untuk mengamati dunia sekitar. Impian yang diumbar-umbar itu pun terserak entah sembarang, dipungut orang untuk disuguhkan kepadaku dengan beragam alasan.

Barangkali aku tak banyak tahu akan kenyataan.
Karena, dengan disibukkannya diri kita dalam beragam kegiatan, ada bagian-bagian pikiran yang senantiasa luput dari perhatian. Kesibukan yang berbeda, diakrabi sedemikian rupa dengan jiwa yang melayang terbang entah ke mana. Petik saja kesibukan itu ketika ia terlanjur mengakar, maka tinggalah jiwa tua yang hampa, dalam raga yang tak tahu harus berbuat apa.

Bukan barangkali, aku memang tak paham kenyataan.
Karena, aku tidak mengetahui betapa kehampaan menyiratkan adanya wadah untuk tampungan. Tampungan yang biasa kupenuhi dengan senarai cerita ragam perjalanan. Dan fakta bahwa aku sudah mengalaminya berulang, menyiratkan betapa aku demikian mudah terlarut dalam pembaruan demi pembaruan.
Aku hilang, dan aku datang tanpa terjatuhkan.

Benar, aku memang tak paham kenyataan. Dan karenanyalah aku sangat menikmati saat-saat mempelajarinya.

Springbed, Pulau Kapuk. 12 Februari 2015.

Lanjutkan baca »

Minggu, 08 Februari 2015

Article#387 - Kulminasi

Kita acapkali menafsirkan atas sebagai sesuatu yang baik. Hal ini diejawantahkan dalam berbagai sisi dalam bahasa yang biasa kita gunakan tiap hari. Istilah "naik kelas", "lebih", "peningkatan", "mengangkasa", juga beragam istilah lainnya yang menyiratkan "perbaikan" sembari menyuratkan "kenaikan", barangkali jamak kita gunakan dalam percakapan. Tentunya dengan lawan kata yang mengisyaratkan "pemburukan" dalam bungkus "penurunan".

Saya tak yakin bagaimana konsep "atas adalah baik" yang tersirat dari contoh di atas pertama kali dikembangkan. Barangkali ada kaitannya dengan fakta bahwa kita lebih mudah meluncur ke bawah dari pada mendaki ke atas. Atau berkaitan dengan fakta bahwa raga kita senantiasa tertahan pada arah bawah, menghimpun demikian banyak kenampakan di daerah "atas".
Kedua hal ini mungkin bisa ditelusuri akarnya dari keberadaan gaya gravitasi yang menjaga raga tetap berpijak di muka Bumi; mengingat pendefinisian kita akan "atas" dan "bawah" sendiri berakar dari konsep gravitasi.
Bergerak ke arah bawah, artinya bekerjasama dengan gaya gravitasi Bumi, yang berarti kita tak perlu repot-repot berusaha. Sebaliknya, usaha bergerak ke atas berarti melawan gaya gravitasi Bumi, yang berarti kita perlu mengerahkan usaha ekstra.
Tambahkan kecenderungan manusia yang lebih mendambakan sesuatu yang tidak dapat begitu saja didapatkan, maka rasanya wajar-wajar saja jika konsep "atas" dinilai lebih berharga bagi para manusia.

Maka manusia mulai berusaha menggapai pijakan yang lebih tinggi.
Mereka yang iri dengan kemerdekaan bangsa burung di udara, mungkin mencoba mengakui betapa raga fana mereka tak dirancang untuk memerdekakan raga jauh ke atas. Kalau kata orang bijak, "emosi adalah sumber energi", sehingga rasa iri tersebut kemudian berkecambah menjadi upaya mewujudkan mimpi manusia memerdekakan raga mereka. Atau, setidak-tidaknya, menggapai titik paling "atas" yang mereka bisa capai.
Di satu sisi, berkembang serangkaian peralatan yang dirancang menyangga beban raga manusia untuk tetap melayang di udara. Penyangga ini terus berkembang menjadi kendaraan, yang membawa manusia menjelajahi udara tipis negeri di balik awan.
Di sisi yang lain, berkembang serangkaian peralatan yang membantu manusia menjaga kondisi raga fana mereka tetap prima, sementara mereka menggapai puncak-puncak tertinggi yang dijumpa.

Perlahan, puncak-puncak yang menatahi penjuru dunia mulai ditaklukkan, dengan kepongahan manusia yang menancapkan jejak mereka di bebatuannya. Dunia penerbangan pun membawa manusia melampaui udara tipis di puncak-puncak pegunungan. Terus hingga manusia tak lagi mendapati cukup udara untuk nafas mereka.
Ketika selapis udara tipis bernama atmosfer mulai ditinggalkan, dan manusia berkenalan dengan cakrawala angkasa, mereka barangkali terheran mendapati kaburnya definisi atas-bawah yang biasa mereka kumandangkan sebelum menyapu debu antariksa.

Maka mereka terus melaju, merengkuh semesta lebih jauh.

Mungkin kauamati, para manusia melihat lebih jauh meninggalkan Bumi yang biasa mereka pijak ini mendapati langit seolah tanpa batas. Makin jauh melihat, makin samar ia, makin tak tergambarkan.
Mungkin, bagi manusia yang memaknai perjalanan "naik" mereka tersebut, akan ada satu posisi di mana mereka menengadah. Akan jalan demikian panjang ke "atas" yang masih tampak tak tergapai impian.
Tetapi mereka memang tidak berniat menggambarkan seisi semesta.

Titik puncak, di mana mereka akan menyudahi perjalanan ke "atas" untuk seterusnya, mungkin tidak akan pernah ada. Syukurlah, mereka bahkan tak acuh akan keberadaannya.
Mereka hanya terus melaju ke atas.
Sejauh yang mereka bisa.
Menggapai angkasa.






Tentunya, tak hanya sudut pandang seorang.

Foto oleh Koichi Shimano
Foto oleh Akihiro Shibata

Foto oleh Mitsui Masayaki

Lanjutkan baca »

Kamis, 05 Februari 2015

Article#386 - Menantang Langit

Derap kereta tanpa lelah berkumandang sepanjang perjalanan.
Meraja di tengah kesunyian hampar sawah, angin yang menghembus rerumputan kering pun tak digubrisnya. Tak pula awan yang menghampar tiba-tiba, menghamburkan kristal salju sepanjang perjalanan.
Ia terus berderap. Derap yang terjaga, dengan perhentian yang berkesinambungan. Sebagaimana tapak-tapak yang mungkin merajai daerah ini ratusan tahun sebelumnya.

Tapak boleh berganti derap, sebagaimana dataran yang tak terjamah kini menjadi hamparan sawah dan rumah. Tetapi agaknya tanah yang menggeliat dalam diam di bawahnya, tempat pijakan mereka semua, masihlah tanah yang sama.
Bahkan, langit yang menudungi pergerakan umat manusia, masihlah langit yang sama.


***

Kawauchi, Sendai. 12 Desember 2014, 12:47 (UT+9)
Tajamnya lisan takkan sanggup
Goyahkan cita antara kita
Menembus ruang dan waktu
Merasuk ke dalam jiwaku

Kita agaknya telah terbiasa mengakrabi tabir langit. Baik tabir gelap semesta yang bertatahkan gemerlap gemintang, atau tabir cerah yang kemilaunya menafikan gemintang dalam gelora persebaran sinar surya. Dari kemilau merah a la pergantian siang-malam yang paling temaram, hingga benderang biru tengah hari yang paling megah, masing-masingnya memberikan rona warna yang telah sedemikian membekas di benak masing-masing kita.
Saking akrabnya, bahkan kita tanpa sadar menempatkan keberadaannya dalam alam bawah sadar. Perubahan rona warna yang berputar dalam keseharian, arakan awan yang menghiasi keadaan, deru angin yang mendesir dalam tenang, menjadi bagian tak terpisahkan bagi sekian miliar umat manusia.

Kita biasa berinteraksi dalam banyak hal. Berinteraksi dalam sedemikian banyak hal yang serupa dalam waktu lama, mungkin akan membuat kita terbiasa dengan segala macam ciri dan geriknya.Maka lantas apa yang akan dilakukan, ketika hal-hal tertentu demikian terpatri dalam keseharian?
Ada yang kemudian menjadikannya sebagai pangkal kejenuhan, yang pada giliran mendorong bergulirnya perombakan secara berkala,
Ada yang kemudian menjadikannya sebagai sesuatu yang 'biasa', kehilangan makna karena demikian sering dijumpa.
Ada yang kemudian menjadikannya sebagai pangkal perenungan, atas bergulirnya keseharian dalam konsistensi yang ketat bertahan.
Ada entah berapa banyak skenario lainnya.

Saya asumsikan kita sama-sama paham, bahwa memilih untuk bosan akan langit bukanlah ide yang waras, terutama untuk dijalankan oleh mereka yang masih ingin mereguk aroma dunia.
Maka, kemudian banyak di antara kita yang memilih untuk menjadikannya sesuatu yang biasa. Mereka tatap langit, biru pucat, oh iya lagi cerah, panas ya hari ini. Mereka sibukkan diri bergelimang dalam aktivitas sepanjang hari, tanpa sempat mendekatkan hati pada bergantinya rona gemerlap langit. Penunjuk waktu yang telah tergelang dalam arloji mereka, atau tergeletak dalam layar-layar gawai dalam kantong mereka, makin jauh memudarkan urgensi langit.

Sebagaimana kata orang, kita memang terbiasa memandang sebelah mata akan apa yang menjadi keseharian. Melihat arakan awan dan menganggapnya biasa. Melihat gemerlap gemintang dan menganggapnya biasa. Merasakan desir hujan dan menganggapnya biasa. Merasakan bergulirnya semesta dan menganggapnya biasa. Merasakan terjaganya hangat malam hari dan menganggapnya biasa.
Kenapa kata 'biasa' jadi terdengar membosankan, ya? 

Entahlah, saya tidak yakin.

Maka kemudian sebagian dari kita memilih untuk memperbarui beragam 'kebiasaan' yang ada.
Mengamati langit dan segala pergolakan dalam binar penuh kekaguman.
Menantang langit yang mempertunjukkan peragaan seisi semesta.
Dan entah kemungkinan lain macam apa.

Tetes air mata
Mengalir bersama canda tawa
Sepanjang usia menghadap mimpi di angkasa
Menantang langit

Futakotamagawa, Tokyo. 1 Januari 2013, 14:58 (UT+9).
Futakotamagawa, Tokyo. 2 Agustus 2014, 06:07 (UT+9).
Nakanose, Sendai. 31 Oktober 2012, 15:12 (UT+9).
Nakanose, Sendai. 9 Januari 2013, 15:14 (UT+9).
Kawauchi, Sendai. 30 Oktober 2012, 14:42 (UT+9).
Kawauchi, Sendai. 30 Oktober 2012, 14:42 (UT+9).
Ichinoseki, Iwate. 3 November 2012, 14:17 (UT+9).
Sanjomachi, Sendai. 9 November 2012, 05:32 (UT+9).
Matsushima, Miyagi. 24 November 2012, 11:10 (UT+9).
Kawauchi, Sendai. 27 November 2012, 16:19 (UT+9).
Kawauchi, Sendai. 6 Desember 2012, 12:39 (UT+9).
Kawauchi Sanjuninmachi, Sendai. 15 Januari 2013, 08:53 (UT+9).
Pasifik barat daya. 10 Februari 2013, 09:04 (UT+9).
Odori, Sapporo. 11 Februari 2013, 17:16 (UT+9).
Fujigogome, Yamanashi. 13 Juli 2013, 19:03 (UT+9).
AirAsia AK1381, Selat Karimata. 28 September 2013, 09:20 (UT+7).
Nakanose, Sendai. 1 November 2013, 14:50 (UT+9).
Kunimi-1-chome, Sendai. 19 November 2013, 16:05 (UT+9).
Matsushima, Miyagi, 23 November 2013, 16:08 (UT+9).
Sanjomachi, Sendai. 28 Desember 2013, 10:01 (UT+9).
Kuritsu Sumida Koen, Tokyo. 30 Desember 2013, 09:09 (UT+9).
Minaminometate, Sendai. 17 Mei 2014, 14:15 (UT+9).
Kitashimokawara, Sendai. 17 Mei 2014, 14:56 (UT+9).
Pantai, Miyagino-ku, Sendai. 17 Mei 2014, 16:07 (UT+9).
Pantai, Miyagino-ku, Sendai. 17 Mei 2014, 16:18 (UT+9).
Kawauchi, Sendai. 13 Juni 2014, 14:57 (UT+9).
Sanjomachi, Sendai. 25 Juli 2014, 15:55 (UT+9).
Sanjomachi, Sendai. 27 Juli 2014, 18:31 (UT+9).
Shinjuku, Tokyo. 2 Agustus 2014, 05:15 (UT+9).
Fujigogome, Yamanashi. 3 Agustus 2014, 12:10 (UT+9).
AirAsia AK386, Selat Malaka. 6 Agustus 2014, 19:31 (UT+8).
Serpong, Tangerang Selatan. 10 Agustus 2014, 06:24 (UT+7).
Cisitu Baru, Coblong, Bandung. 7 September 2014, 17:40 (UT+7).

Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. 10 September 2014, 06:13 (UT+7).
Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. 15 September 2014, 18:02 (UT+7).
Beji, Depok. 16 September 2014, 17:25 (UT+7).
Beji, Depok. 16 September 2014, 17:38 (UT+7).
AirAsia QZ7551, Jawa Tengah. 22 September 2014, 17:05 (UT+7).
Tenryugawa, Nagano. 27 September 2014, 14:20 (UT+7).
Disertakan satu individu narsis sebagai pembanding.
Sanjomachi, Sendai. 1 Oktober 2014, 17:20 (UT+9).
Aobayama, Sendai. 7 Oktober 2014, 12:17 (UT+9).
Aobayama, Sendai. 7 Oktober 2014, 17:25 (UT+9).
Nakanose, Sendai. 7 Oktober 2014, 20:15 (UT+9).
Aobayama, Sendai. 10 Oktober 2014, 15:54 (UT+9).
Sanjomachi, Sendai. 14 Oktober 2014, 08:06 (UT+9).
Ayashi, Sendai. 3 November 2014, 10:28 (UT+9).
Ayashi, Sendai. 3 November 2014, 10:35 (UT+9).
Kawauchi, Sendai. 5 November 2014, 11:34 (UT+9).
Aobayama, Sendai. 10 Desember 2014, 16:24 (UT+9).
Aobayama, Sendai. 11 Desember 2014, 08:44 (UT+9).
Aobayama, Sendai. 11 Desember 2014, 15:58 (UT+9).
Aobayama, Sendai. 11 Desember 2014, 16:08 (UT+9).
Aobayama, Sendai. 11 Desember 2014, 16:12 (UT+9).
Aobayama, Sendai. 11 Desember 2014, 16:15 (UT+9).
Sanjomachi, Sendai. 13 Desember 2014, 06:16 (UT+9).
Sanomachi, Sendai. 13 Desember 2014, 06:18 (UT+9).

Yamatemachi, Sendai. 13 Desember 2014, 15:37 (UT+9).
Katahira, Sendai. 15 Desember 2014, 16:47 (UT+9).
Katahira, Sendai. 15 Desember 2014, 16:47 (UT+9).
Sanjomachi, Sendai. 15 Desember 2014, 16:47 (UT+9).
Tokaido Honsen, Atami. 1 Januari 2015, 12:32 (UT+9)
Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...