Selasa, 30 April 2013

Article#160 - Alfred Story ep.60: Alfred dan Guru Sekolah

Kita kembali ke sebuah masa 26 tahun lalu ketika Alfred masih SD. Di kelasnya saat itu, sang guru bahasa, Pak Bambang menjelaskan makna kata "mukjizat" kepada para muridnya. Ia lebih dulu memberi sebuah contoh, mengharapkan dalam jawaban murid-muridnya nanti, mereka bisa membuat sebuah kalimat dengan menggunakan kata "mukjizat" itu.

"Seseorang telah melompat dari lantai 8, tetapi ia sedikitpun tak mengalami cedera." kata Pak Bambang.

"Wah, orang itu sedang beruntung, Pak." jawab Azrul, salah satu teman Alfred.

Pak Bambang merasa kecewa, maka itu ia mengulanginya lagi: "Seorang telah melompat dari lantai 8, tetapi ia sedikitpun tak mengalami cedera."

"Pasti dia meloncat ke lantai 7!", jawab seorang murid lain, Efan, yang disusul tawa anak sekelas.

Pak Bambang masih mencoba bersabar dan mengulanginya lagi: "Seseorang telah melompat dari lantai 8 ke lantai 1, tetapi ia sedikitpun tak mengalami cedera."

Kini Jeksen menjawab, "Ah, pasti dia meloncat ke kolam renang."


Guru itu diam bercampur sedikit marah, akhirnya mau tak mau sekali lagi coba memberi inspirasi kepada para muridnya: "Orang itu sekali lagi naik ke lantai 8, dan sekali lagi ia melompat..."

Belum menunggu guru itu berkata lebih lanjut, kemudian Alfred nyeletuk: "Nah, saya tahu pak, berarti itu kebiasaan!"
Lanjutkan baca »

Minggu, 28 April 2013

Article#159 - Nunquam Utile?

Akupun tak mengerti, nostalgia macam apa yang merasuki malam ini.
Tak biasanya diriku menikmati buaian malam yang menyejukkan seperti malam ini. Begitu saja diriku berkelana, dan kemudian menemukan berbagai potongan memori lama. Potongan, yang selama beberapa tahun ke belakang tak pernah kuingat-ingat. Hilang tertekan, terhalang, dan terhimpit atas apa yang selama ini tertampakkan di dunia nyata.
Dan ketika aku kembali menemukannya, seolah aku baru tersadar bahwa mereka ada. Dan aku pun tak pernah tahu apa mereka, semua itu, benar-benar berguna.

Entah, aku pun tak pernah mengerti
Di tengah balutan malam yang menyelimuti
Ketika alur takdir mengantar memori
Dan membawaku meninggalkan masa kini
Tetapi, untuk apa aku berlagak bicara atas nama memori? 
Ketika aku bahkan tak bisa mengendalikannya sendiri 
Aku hanya bisa membiarkannya datang dan pergi 
Melihat ia tumbuh dengan bantuan angin pagi

Pada akhirnya, takdir selalu membawa bahagia, bukan?
Meski jalannya tak pernah bisa diperkirakan
Ia selalu mengantar bagimu yang terbaik dari kehidupan
Meski akibatnya waktu begitu saja terlewatkan
Selalu akan ada senyuman di akhir tujuan
Bahkan ketika kau terpekur di bawah kegelapan
Dan hanya disinari oleh temaram cahaya rembulan
Hei kawan, tidakkah angin pagi ini menyejukkan?
Setelah ini, gulita malam akan melepaskan awan
Dan pagi hari akan tiba dengan berjuta harapan
Dan berkatnya aku kembali tersadarkan, 
Betapa jalan hidup begitu berbeda dan penuh pergolakan 
Melihat potongan memori masa lama, 
Dan apa jadinya pertumbuhan mereka sekarang
Waktu selalu menyembuhkan, dan cerita memoria tak akan mengecewakan. Kujamin itu.



Hari 6593, menyambut pagi yang mencerahkan.
Dinukilkan dari saduran angin malam,
Ahad, 28 April 2013, 04:36 (UT+9)
38°16'40.69"N, 140°51'05.98"E
Lanjutkan baca »

Rabu, 24 April 2013

Article#158 - Kutipan Hari Ini

"You can not lower the mountain, therefore you must rise yourself up."

~a quote of unknown origin. Quoted in Wednesday, 24th April, 2013, 08:34 (UT+9)

source

Lanjutkan baca »

Minggu, 21 April 2013

Article#157 - Langit Di Atas Sana, Langit Yang Berwarna..?

Bintang kecil, di langit yang biru
Amat banyak, menghias angkasa
Aku ingin, terbang dan menari
Jauh tinggi, ke tempat kau berada 

(Daljono. Bintang Kecil)

Langit, sejak manusia mulai mengamati apa yang ada di sekitarnya, selalu menjadi teman setia bagi mereka, para perenung yang mencoba memaknai hidup. Ketika manusia merasa jenuh akan rutinitas kehidupan yang seolah tiada akhir, beberapa dari mereka akan memilih untuk menyegarkan kepala mereka dengan sedikit pemandangan. Dan, setelah mereka melihat keindahan yang terhampar di muka Bumi, akan ada saatnya mereka melihat ke atas. Langit yang seolah diam tanpa batas, baik dengan warna biru dan hiasan arak-arakan awan, atau warna hitam kelam yang dihiasi kerlipan bintang.
Tunggu. Tadi dibilang 'bintang kecil di langit biru'? Yah, mungkin terjadi sedikit salah paham mengenai hal ini. Karena, seingat saya, bintang yang dapat dilihat ketika langit biru hanya Matahari. Tetapi sudahlah.

Tetapi kemudian kemudian muncul pertanyaan baru, "Mengapa langit siang berwarna biru?".
Pertanyaan yang amat sederhana ini hampir selalu ada di berbagai buku pengetahuan untuk anak-anak, namun manusia dulu belum mampu menjelaskan fenomena ini. Pendapat yang terkadang masih populer, adalah bahwa cahaya biru langit adalah 'pantulan dari warna laut'. Padahal, kalau dipikir, jika memang warna biru langit itu pantulan warna laut, kenapa pulau-pulau dan daratan nggak ikut terpantul ya...?
Pada akhirnya, pertanyaan ini baru bisa mendapat penjelasan yang memuaskan pada tahun 1871, saat seorang ilmuwan bernama John William Strutt, atau dikenal juga sebagai 3rd Baron Rayleigh, memberikan penjelasan akan sebuah efek yang disebut Rayleigh scattering, atau persebaran Rayleigh.
Gambar digabungkan dari sini
Efek ini, singkatnya, menjelaskan bahwa ketika suatu cahaya melalui suatu zat transparan (bisa apapun yang transparan, tetapi seringnya udara), molekul penyusun zat tersebut akan lebih banyak menyebarkan cahaya dengan panjang gelombang pendek (cahaya biru/ungu) daripada cahaya yang panjang gelombangnya lebih panjang (merah). Sehingga, dengan itu cahaya biru akan banyak tersebar di atmosfer dan mata manusia akan melihatnya sebagai langit berwarna biru.

Kenapa biru? Bukankah ungu lebih pendek panjang gelombangnya? Sayangnya (atau untungnya?), porsi cahaya biru dalam cahaya Matahari jauh lebih banyak daripada cahaya ungu. Sehingga, meskipun cahaya ungu lebih mudah tersebar, jumlah cahaya biru yang lebih banyak membuat pengaruh cahaya ungu tak terlihat.

Cahaya yang tersebar berwarna kebiruan;
 dan cahaya yang terus melaju berwarna oranye.
Sumber disini
Dan efek yang sama pula menyebabkan langit sore (juga Matahari) berwarna kemerahan. Kenapa? Cahaya Matahari yang mencapai mata pada sore hari, telah menempuh perjalanan lebih jauh di atmosfer Bumi, dan selama perjalanan itu, cahaya biru yang ia miliki terus dihamburkan oleh molekul nitrogen dan oksigen di atmosfer. Cahaya Matahari yang semula cenderung putih, ketika sampai kepada seseorang yang duduk kesepian di pinggir pantai pada suatu Sabtu sore, sudah kehilangan banyak bagian dari cahaya biru yang sebelumnya ia punya. Dan, cahaya putih yang kehilangan cahaya biru, akhirnya akan terlihat sebagai sebuah cahaya kemerahan. Rona kemerahan atau rona oranye inilah yang ikut menemani si jomblo tadi memikirkan apa yang akan dia lakukan malam ini. Dia memutuskan untuk segera pulang, sebelum langit keburu gelap dan adzan maghrib berkumandang..

Tunggu. Mengapa langit malam gelap?
Pertanyaan yang nyaris sama sederhananya dengan pertanyaan sebelumnya, tetapi jauh lebih jarang dibahas di buku-buku pengetahuan anak SD. Pertanyaan ini, meski sudah dikemukakan berbagai macam ilmuwan seperti Thomas Digges, Kepler, Halley, atau Cheseaux sejak abad ke-17 hingga ke-18, tetapi pada akhirnya, kenampakan ini lebih dikenal dalam kemasan Paradoks Olbers. Namanya diambil dari nama seorang fisikawan Jerman, Heinrich Wilhelm Matthias Olbers (1758-1840), dan dalam tulisannya, Olbers memaparkan fenomena ini sebagai bukti bahwa alam semesta tidak statis, membantah keyakinan banyak astronom masa itu.

Lalu apa hubungannya langit gelap dengan alam semesta?Kita bisa ikuti penjelasan Olbers untuk jawaban dari pertanyaan “mengapa langit malam terlihat gelap” dengan pertama-tama membayangkan sebuah alam semesta yang tanpa batas, bintang-bintangnya tersusun secara merata di semua daerah. Bisa diartikan, jarak antara tiap bintang selalu sama sehingga jumlah bintang bertambah secara teratur dengan bertambahnya jarak.
Ilustrasi sudut pandang paradoks Olbers. Dari Wikipedia.
Kemudian, diketahui secara umum bahwa kecerahan bintang berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya. Artinya, jika sebuah bintang dipindahkan 2 kali lebih jauh, cahayanya akan menjadi 4 kali lemah. Tetapi, itu berarti bintang terlihat 2 kali lebih kecil, dan 'luas bidang' bintang—dalam hal ini, luas dari 'lingkaran' citra bintang yang teramati—juga mengecil 4 kali.
Perhatikan bahwa baik cahaya dan “luas bidang” bintang sama-sama mengecil 4 kali. Inilah yang disebut “kecerlangan permukaan”, kuat pancar cahaya per unit luas bidang. Besaran ini tetap untuk bintang dengan warna serupa.
Meski 'luas bidang' sebuah bintang seringkali amat kecil, dan selalu terlihat sebagai sebuah titik cahaya meski diamati dengan teleskop tercanggih, kecerlangan permukaan ini nilainya cukup besar. Buktinya, bintang yang sekecil itu cahayanya masih bisa diamati oleh si penggalau yang sebelumnya memandangi matahari terbenam. Ia kini bisa menikmati semilir angin malam dengan langit berhiaskan bintang.
Nah sekarang, dengan asumsi sebagaimana ditulis sebelumnya, bayangkan bintang yang sedemikian banyaknya itu bersinar di langit malam. Meskipun masing-masingnya lemah, bersama mereka akan saling menguatkan, sehingga seharusnya malam hari cerah.

Tetapi nyatanya, gelap.
Mengapa demikian? Sekarang, bayangkan bintang yang sedemikian banyaknya itu bersinar di langit malam. Meskipun masing-masing bintang bersinar lemah, jika mereka bersama-sama tentu cahayanya akan saling menguatkan dan seharusnya langit malam hari terlihat cerah. Nyatanya, langit tetap terlihat gelap. Ini bisa terjadi setidaknya karena dua hal, yaitu cahaya yang terlalu lemah untuk diproses oleh mata atau memang tak sampai ke mata.
Ilmuwan modern menjelaskan cahaya yang tak terproses mata ini, dengan memaparkan bahwa selama cahaya menjelajahi alam semesta, alam semesta ini berubah dan mengembang. Jarak dalam ruang terus meluas sehingga cahaya harus menempuh jarak yang lebih jauh daripada jarak sebenarnya antara sumber cahaya dan pengamat. Hal ini tak mungkin terjadi jika alam semesta bersifat statis.

Paradoks Olbers memicu para astronom berpikir ulang mengenai model alam semesta yang seharusnya. Di antaranya yang diakui para ilmuwan saat ini adalah penelitian Georges Lemaître dan Edwin Hubble seputar pengembangan alam semesta melalui Hukum Hubble yang terkenal itu. Bukti pengembangan alam semesta kemudian ditemukan tahun 1964 oleh Arno Penzias dan Robert Wilson, berupa pancaran gelombang mikro yang seragam dari seluruh penjuru semesta.
Kini banyak orang sudah memahami bahwa alam semesta mengembang, melalui teori Dentuman Besar (“Big Bang”). Akan tetapi, teori Dentuman Besar ini menimbulkan pertanyaan baru terkait paradoks Olbers. Menurut teori Dentuman Besar, alam semesta muda adalah alam semesta yang amat panas, dan juga terang. Jika dulu alam semesta terang, mengapa kini kita melihat alam semesta yang gelap di malam hari?

Untuk menjelaskan ini, bayangkan alam semesta yang terang oleh cahaya. Setiap pancaran cahaya ini berbentuk gelombang sehingga ia mempunyai panjang gelombang tertentu yang saat itu besarnya cukup untuk terlihat oleh mata manusia (biasa disebut cahaya tampak). Seiring mengembangnya alam semesta, ruang di dalamnya ikut mengembang. Cahaya di dalamnya juga ikut mulur sebagai akibat dari mengembangnya ruang.
Sebagai akibat dari “pemuluran” gelombang cahaya, panjang gelombangnya mulur menjadi lebih dari 1100 kali panjangnya semula. Alhasil, “gelombang cahaya tampak” ini sekarang telah “berubah wujud” menjadi “gelombang mikro”, gelombang tak kasat mata yang biasa dipakai untuk menghangatkan makanan dalam oven jenis tertentu. Pancaran gelombang mikro inilah yang ditemukan Penzias dan Wilson dan menjadi bukti kuat akan teori Dentuman Besar.

Sebelumnya, telah disampaikan dua jawaban atas pertanyaan Olbers: cahaya yang terlalu lemah untuk diproses oleh mata, atau cahaya yang memang tak sampai ke mata. Dari penemuan Penzias dan Wilson, rupanya ada jawaban ketiga: memang betul-betul ada cahaya yang dipancarkan, tetapi tak lagi kasat mata!

Menarik, bukan? Ternyata pertanyaan yang begitu sederhana dan terdengar “bodoh” seputar warna langit bisa menyimpan pengetahuan yang begitu mendalam jika kita teliti lebih jauh. Oleh karena itu, mari terus bertanya! Mungkin suatu saat nanti kita sendiri yang menghasilkan penemuan penting untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan mengatakan, bahwa terkadang pertanyaan yang begitu sederhana dan terdengar 'bodoh', ternyata bisa menyimpan pengetahuan yang begitu mendalam. Seperti kata sebuah pepatah Arab, "Jangan memperhatikan siapa yang mengatakan, perhatikan apa yang dikatakan."
Sampai jumpa di artikel selanjutnya!
Lanjutkan baca »

Jumat, 19 April 2013

Article#156 - Sebuah Ilusi Bernama Keberhasilan

"Saya tidak setuju, pak."

Sembari membetulkan posisi duduknya, Abram kembali menatap seorang pria berusia 30-an di seberang meja, yang hanya terkekeh sembari membetulkan kacamata bingkai perseginya.

"Apanya yang tidak kamu setujui, Abram?", tanya Pak Nurdin dengan senyum kecil yang nampak seolah mengejek remaja tanggung bertubuh tegap didepannya itu.

Kemudian mengucurlah argumen Abram dengan derasnya. Hampir dua tahun dalam klub debat telah melatih kemampuan berdebatnya sedemikian rupa, mengucurkan semua pemikiran yang didapatnya nyaris hanya dalam sekejap mata saja, mengalir deras menuju lautan pikiran Pak Nurdin.

Tetapi Pak Nurdin hanya tersenyum kecil. "Memang susah menjelaskannya dengan baik, apalagi kepada seorang cerdas sepertimu, Abram. Tetapi jika kau merenungkannya lebih dalam lagi, saya yakin kamu pun juga akan setuju."

Abram makin heran, kenapa bapak guru ini seolah tak mengindahkan satupun opininya. Bukankah sudah jelas, Pak? Lalu kenapa Bapak tetap bertahan?

"Sorot matamu menunjukkan keyakinan yang begitu kuat akan opinimu dan keheranan akan respon saya yang tak berubah, Bram. Penuh api semangat yang bergelora. Sangat khas gaya intelektual muda. Tetapi, bahkan seorang intelektual muda harus membuka pikirannya terhadap pola pikir yang lain," Pak Nurdin merapikan buku-buku di mejanya dan memasukkannya ke dalam lemari, "Ingat kata pepatah, penampilan bisa menipu. Memang benar, penampilan menjadi kesan pertama yang dilihat orang, dan tak jarang penampilan memang mewakili gambaran sebenarnya. Tetapi penampilan yang tak dibangun dengan sikap dan pola pikir yang baik, dalam banyak situasi, tak akan memberi efek lebih."

Abram kini hanya mengernyit, berusaha menangkap maksud kata-kata pak Nurdin. "Lalu apa hubungannya pepatah barusan dengan yang tadi pak? Jangan pindah-pindah topik dong pak,"

Pak Nurdin pun hanya merapikan barang-barang yang berserakan di mejanya dengan santai. "Satu kalimat ini saya rasa sudah cukup untuk dicerna siswa secerdas dirimu, Bram." Dengan sorot mata yang tegas, Pak Nurdin mengucapkan kalimat tersebut, menatap sesaat mata Abram yang masih menyiratkan ketidakpuasan.
"Terimakasih atas kesediaan kamu hadir siang hari ini. Bapak mendoakan yang terbaik untuk hidupmu ke depan. Saya permisi dulu, sampai jumpa besok. Wassalamu'alaikum," Pak Nurdin mengambil tasnya, dan beranjak keluar ruang BK.

Abram hanya terduduk diam selama beberapa saat, bahkan jawaban salam Abram pun sepertinya tak didengar oleh Pak Nurdin, saking lemahnya. Abram diliputi rasa bingung. Rasa yang tak biasa baginya. Bahkan kumandang adzan Ashar tak sepenuhnya mampu memalingkan Abram dari kebingungannya.

***

Pak Nurdin baru beberapa bulan ditempatkan sebagai guru olahraga merangkap guru BK di SMA tersebut, tetapi ia telah mendapat begitu banyak informasi tentang salah satu anak ngetop di SMA tersebut, Ashraf Bramantyo Salahuddin, atau biasa dipanggil Abram oleh teman-temannya. Dan sebenarnya, semua guru di SMA tersebut sepakat bahwa Abram adalah siswa yang 'spesial'. Pak Nurdin ingat bahwa seorang guru pernah bercerita padanya:
Sejak kecil, Abram memang sudah menunjukkan kelebihan kemampuan dibanding anak kecil seumurnya. Baik secara fisik maupun secara mental, ia selalu mencatatkan sebuah capaian yang tergolong superior, bahkan ketika dia baru masuk kelas 1 SD. Yang membuat ia spesial, adalah kemampuannya menempatkan diri di antara kawan-kawan sebayanya dengan begitu baik, tanpa pengaruh buruk yang berarti pada kepribadiannya.

Sebagaimana diperkirakan, Abram melalui masa SD dan SMP dengan 'nyaris' sempurna. Dia menjadi 'anak bintang' yang dielu-elukan baik oleh keluarga, tetangga, maupun guru serta teman-teman di sekolah. Bayangkan saja, selama di SMP dia sudah menjuarai beberapa lomba MIPA, beberapa lomba atletik, sebuah kompetisi sepakbola se-kabupaten, lomba membaca puisi bahasa Inggris, bahkan MTQ. Kalau kata para ibu-ibu murid SMP tersebut dalam rapat asosiasi mereka (baca: arisan), kurang apa coba? Dengan alur hidup yang begitu mengesankan, mungkin tak janggal jika banyak kenalannya yakin dia akan menjadi seseorang yang sukses besar di masa depan.

Dan kemudian, entah ada hubungannya atau tidak, sepertinya Abram mulai memantapkan diri untuk menjadi 'seorang sukses'. Beberapa guru, terutama wakil kepala bidang kesiswaan, merasakan bahwa Abram begitu getol melibatkan diri sebanyak mungkin di berbagai klub dan kegiatan organisasi di tahun kedua. Jadi ketua ini, koordinator itu, banyak lah.
Lalu bagaimana kelanjutan kisahnya? Tetap saja Abram naik kelas sebagai siswa dengan nilai tertinggi di hampir semua bidang. Bahkan kegiatan organisasinya berjalan dengan begitu mulus. Dengan sifatnya yang sangat bersahabat sekaligus dalam waktu bersamaan, dan dari segi fisik juga 'oke punya', banyak guru meyakini hal yang sama seperti disebutkan sebelumnya: Abram akan menjadi seseorang yang sukses besar di masa depan.
Tetapi Pak Nurdin justru berpikir sebaliknya. Apakah semua pujian itu tidak berlebihan? Bukankah berbahaya jika ia punya kelemahan fatal yang tak ia sadari karena semua orang asyik menyanjung kelebihannya?

***

Tahun demi tahun berlalu, dan entah terasa atau tidak, Abram sudah lulus dari S2. Tidak berminat dengan S3, ia memutuskan untuk membentuk usahanya sendiri, menggunakan uang tabungan dari beasiswa yang ia dapat selama kuliah.
Tentu saja, sebanyak apapun uang yang ia miliki sebagai tabungan, ketika datang waktunya untuk mencoba usaha yang baru, awalnya tak semudah kesan yang sering muncul. Bahkan pada akhirnya, usaha pertama Abram, sebuah toko pakaian batik kecil, terpaksa tutup akibat minimnya pembeli. 
Pantang menyerah, Abram memutuskan untuk membentuk yang kedua. Ia tanamkan tekad kuat, usaha keduanya ini tak boleh gagal. Mengusung tema restoran, rupanya ia tak cukup mampu untuk memenuhi restorannya dengan pengunjung. Tetapi kemudian ia cukup nekat untuk berpindah haluan, kali ini ia membentuk usaha dalam bidang IT. Dengan kolaborasi beserta beberapa rekannya, perlahan-lahan bisnis baru Abram ini menanjak naik dan memasang namanya sebagai salah satu perusahaan baru yang maju dalam bidang IT.
Perlahan, Abram beserta rekan-rekannya memenangkan penghargaan demi penghargaan atas bisnisnya yang makin maju. Ia makin sering dipanggil untuk mengisi seminar motivasi di berbagai daerah sebagai seorang 'inovator muda'. Performanya yang bagus, baik dalam bisnis maupun hal-hal lain yang ia geluti, mengantarkan namanya terus menanjak sebagai salah satu pebisnis sukses termuda di Indonesia.

Singkat cerita, 12 tahun telah berlalu sejak obrolan di ruang BK tersebut. Rumah kontrakan kecilnya dulu kini telah menjadi sebuah rumah yang cukup megah, tempat Abram beserta keluarganya tinggal. Perusahaannya makin maju, dan kini ia sedang berencana mengakuisisi sebuah perusahaan IT asal Singapura yang sebelumnya menjadi pesaing kuat bagi perusahan Abram dengan inovasinya yang begitu disukai pasar di Asia Tenggara, bahkan menyaingi perusahaan Abram sendiri.

Tindakan ini dianggap banyak pengamat sebagai ekspresi ketakutan Abram akan kemungkinan perusahaannya kalah oleh perusahaan Singapura tersebut. Ketakutan ini dinilai cukup wajar, mengingat 2 tahun sebelumnya perusahaan Abram mengalami kejatuhan yang cukup parah, yang diduga akibat ketidaksiapan perusahaan menghadapi pesaing-pesaing kuat yang bermunculan. Perusahaan Abram baru pulih beberapa bulan ketika perusahaan Singapura ini mulai menebar pengaruhnya dalam perlahan mengurangi jumlah konsumen bagi perusahaan Abram.

Abram duduk dalam bangku eksekutif pesawat Garuda Indonesia yang sedang melaju ke Singapura. Beberapa jam sebelumnya, ia baru saja beradu argumen dengan istrinya seputar putra mereka yang sedang sakit. Sang istri meminta Abram untuk tetap tinggal dan menemani putranya berobat ke rumah sakit, tetapi Abram bersikeras untuk menyelesaikan urusan akuisisi ini terlebih dahulu. Masih terngiang kata-kata istrinya di telepon, 'Terus sajalah kamu urusi perusahaan itu! Biarlah kuurus Ferdi sendiri hingga ia sembuh!'. Kali ini, Abram melirik ke luar jendela, mengamati pulau-pulau Kepulauan Riau yang terlihat bergerak perlahan. Batinnya terus membisikkan kata-kata yang sebelumnya ia ucapkan kepada sang istri. Kata-kata yang entah berupa kebenaran atau pembenaran.
Maaf Mona, tetapi ini demi kebaikan keluarga kita juga.
Dan kemudian lampu sabuk pengaman dinyalakan. Pesawat akan segera mendarat.

***

3 bulan kemudian.
Di luar dugaan banyak pihak, termasuk sang istri sendiri, negosiasi berjalan mulus. Perusahaan Abram resmi mengakuisisi si pesaing, dan makin mengukuhkan namanya sebagai perusahaan IT terbesar di Asia Tenggara. Pada hari-hari berikutnya, ucapan selamat berdatangan mengalir begitu derasnya, dan Abram seolah tak bisa berhenti tersenyum. Begitu juga semua orang yang selama ini mendukungnya, atau sekadar mengagumi pencapaian yang ditorehkan Abram.
Tetapi keceriaan itu tak berlangsung lama.
Abram menjadi makin waspada akan segala macam gejolak yang menggoyang perusahaannya, tetapi karena kewaspadaan itulah ia makin memusatkan waktunya untuk perusahaan. Pada akhirnya, seolah tiada hari tanpa memantau kinerja karyawannya di perusahaan. Bahkan di hari libur, Abram kini tak pernah lepas lagi dari smartphone miliknya yang senantiasa dipenuhi pesan dari bawahannya yang bertugas. Sebenarnya kecenderungan sikap baru Abram ini sudah ada sejak lebih dari setahun lalu, ketika ia masih berjuang memulihkan perusahaannya yang saat itu masih terpuruk. Tetapi ketika itu, sikapnya masih dinilai 'wajar', mengingat kondisi yang cukup gawat saat itu. Apalagi ketika perusahaan kembali mampu meneruskan kinerjanya dengan baik, Abram kembali bersikap normal dan cenderung menyenangkan. Dan, ketika sebenarnya sikap itu kambuh kembali, orang-orang tidak terlalu memedulikannya, terutama karena masih terbawa suasana euforia pasca akuisisi, dan sikap Abram sendiri masih relatif menyenangkan.

Ketika sikap itu makin menjadi-jadi, istrinya menjadi orang pertama yang menyadari betapa Abram begitu memusatkan diri pada pekerjaannya. Melihat kecenderungan Abram sebelumnya, istrinya memutuskan untuk bersabar terlebih dahulu, merasa bahwa perusahaan suaminya kembali dirundung masalah. "Lebih baik kalau kubuat dia tenang dulu ketika pulang nanti."
Begitu juga para karyawan, yang perlahan mulai merasa gerah dengan kehadiran Abram yang dirasa makin mengganggu, 'terlalu mencampuri urusan kami'. Awalnya mereka sepakat untuk mengabaikan rasa kesal itu. Namun kekesalan yang tertumpuk kemudian pecah, dalam rapat bulanan 2 pekan setelahnya. Hanya dengan satu kalimat yang dikatakan Abram, ketika rapat hampir berakhir. Dengan menunjuk selebaran iklan sebuah perusahaan teknologi terkenal, ia berkata,

"Saya memutuskan, untuk menjaga tren kemajuan perusahaan kita, supaya kita segera mengakuisisi perusahaan Hong Kong ini."
Secara serentak, para petinggi perusahaan satu persatu menghujat Abram layaknya hujan meteor.
"Untuk apa Bram?!"..
"Perusahaan kita saja masih belum stabil!"..
"Apa kau gila, Bram!? Apa sih maumu sebenarnya?"
Tetapi Abram kembali mendiamkan mereka semua dengan sebuah gebrakan di meja rapat.
"Kalian lihat sendiri saja, bahkan setelah kita berhasil mengakuisisi perusahaan sebelumnya, kinerja perusahaan ini tak kunjung membaik. Yang ada justru malah mengalami penurunan. Kalau kerja kalian saja begini terus, kapan kita bisa maju?!"

"Hei Bram! Dalam masa-masa begini seharusnya kita memperkuat dasar perusahaan kita yang sempat rapuh. Bukannya malah bergaya dengan semua bualanmu itu. Keputusan sembronomu itu justru bisa menghancurkan kita semua!" kini giliran Andre, salah satu pendiri perusahaan yang masih aktif.
"Tapi sudah hampir 4 bulan tidak ada kemajuan juga!"
"Perusahaan masih butuh waktu supaya bisa stabil!"
"Jadi sekarang kau menyalahkan waktu, alih-alih meningkatkan usaha?!"

"SUDAH, SUDAH!!" Hadirin rapat yang lain ikut mencoba mendinginkan situasi. Salah satu hadirin, Jaya, kini berbicara, "Dan kau, Abram. Berhentilah berkubang dalam idealisme sampahmu itu. Lihatlah kenyataan, siapa yang selama ini mengganggu pekerja sehingga tidak bisa bekerja secara maksimal? Lihatlah siapa yang membuat kami semua tidak tenang karena terus diganggu dengan celotehan yang tak kunjung usai? Apa kau tak percaya pada kinerja kami? Karyawanmu yang selalu mengerahkan usaha maksimal? Kalau begini terus, kau tak pantas lagi jadi pemimpin!"
Abram makin mendidih, tetapi tak ada gunanya pula untuk melampiaskan marahnya itu, karena hadirin yang lain sudah meninggalkan ruangan.
Dengan sumpah serapah, Abram mengemas barang-barangnya dan beranjak pulang.

Entah berapa kali Abram nyaris menabrak kendaraan lain yang melintas. Ia sampai di rumah dengan ekspresi yang masih menunjukkan kekesalan mendalam. Bahkan salam hangat istrinya yang telah menyeduhkan segelas teh hangat tak digubris. Ia langsung berjalan ke atas, ke kamar tidur.

Sejak kejadian itu, Abram beberapa hari tidak masuk ke kantor. Tidak ada yang tahu dimana dia, bahkan sang istri pun tak tahu menahu. Dikontak pun tak pernah digubris, baik lewat pesan, chat ataupun email. Sebelumnya para karyawan khawatir Abram sakit, namun setelah mereka mengetahui bahwa bahkan Mona tak tahu dimana Abram berada ('hapenya ia tinggalkan di rumah, bajunya pun tak ada lagi'), mereka mulai menganggap bahwa Abram kabur. Kabar ini diperkuat dengan opini umum para karyawan bahwa Abram sudah terlalu stres dan tak layak memimpin perusahaan sekaliber mereka, apalagi dengan gaya nyaris otoriter.
Di hari kelimabelas, dengan isu itu terus menguat, akhirnya petinggi perusahaan kembali melaksanakan rapat. Dibahas pula mengenai Abram yang menghilang, dan betapa pentingnya posisi ketua untuk senantiasa terisi. Akhirnya diputuskan, Jaya akan menjadi pemimpin sementara perusahaan, sampai Abram kembali—atau sampai rapat berikutnya. Toh para hadirin rapat sudah yakin, meskipun akhirnya Abram kembali, ia tak akan mampu mendapatkan kembali posisinya tersebut.

Akhirnya para petinggi mengumpulkan karyawannya di ruang pertemuan. Mereka memaparkan dinamika terbaru perusahaan, termasuk diangkatnya Jaya sebagai ketua sementara. Banayak yang terkejut atas keputusan itu, meski mereka tetap menyetujuinya. Tetapi kebanyakan lebih terkejut ketika mendadak pintu ruang pertemuan terbanting, dan disana berdiri orang yang selama ini terus mereka bicarakan.

Abram melaju ke meja pertemuan dan langsung berseru, "Apa maksudnya ini?!!"
"Bukankah sudah sangat jelas, Bram? Apa? Kau tak mengerti?" sahut salah seorang petinggi yang disusul tawa hadirin.
"Apa-apaan ini! Kenapa si Jaya itu diangkat menjadi ketua tanpa kehadiran saya?"
"Jawabannya mungkin sama dengan mengapa kau menghilang sekian lama, Bram." Tawa hadirin membahana lagi.
Dan Abram sudah sedemikian emosinya, hingga ia melepaskan tinjunya ke petinggi yang terus mengejeknya itu. Selanjutnya, kericuhan yang cukup dahsyat tetapi singkat terjadi, dan semua rangkaian cerita siang itu berakhir dengan dilemparnya Abram keluar perusahaan.
"Masamu telah berakhir, Abram! Kami tak punya dendam apapun kepadamu, tetapi kami tidak mau lagi dipimpin orang sepertimu!", kekeh salah satu karyawan yang menyeretnya keluar.

Penuh amarah, beberapa menit kemudian Abram sampai kembali ke rumahnya. Sang istri pun menyambut di depan rumah, tetapi dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan—campuran antara sedih dan marah. Begitu pula kata-katanya setelahnya, tak bisa dijelaskan lagi. Sayangnya, Abram yang masih memendam emosi luar biasa setelah kejadian di kantornya, langsung naik pitam. Dan entah apa yang terjadi di rumah itu pada malam hari tersebut, yang jelas keesokan harinya rumah itu sudah kosong. Mobil yang biasa dikemudikan Abram juga menghilang, dan suasana hampa begitu tersirat dari rumah tersebut. Dan sejak itu, hingga beberapa tahun setelahnya, tak pernah muncul lagi tanda-tanda kehidupan di rumah itu.
Begitu sunyi, berantakan, dan tentu saja, tiada siapapun di dalam sana.

***

Lima hari telah berlalu. Ratusan kilometer dari rumah indah yang kini kosong itu, ada sebuah desa yang masih terlihat asri meski sudah banyak ruko-ruko menghiasi sisi-sisi jalan. Motor pun banyak berlalu lalang di jalanan desa. Tetapi ada satu yang berbeda. Di daerah pinggiran desa, di depan sebuah rumah yang tergolong cukup bagus disana, terparkir sebuah mobil yang selama ini hanya terlihat mondar-mandir di kota-kota besar atau di jalan tol. Dan tak jauh dari sana, seseorang tengah berdiri memandangi sawah, yang batang-batang padinya berayun-ayun tertiup angin. Ia menghirup udara segar, yang seolah membersihkan kepalanya dari berbagai kejadian yang telah ia alami dalam beberapa hari ke belakang.

Sejak kecil, Abram memang selalu suka mengamati sawah saat ia dibawa orangtuanya berkunjung ke rumah orangtua ibu Abram. Suasana desa yang damai, alami dan menyegarkan, memang selama ini terbukti mampu mengajak orang-orang kota yang bosan dengan segala macam kebisingan, untuk mengistirahatkan diri sejenak, mengagumi mahakarya Sang Pencipta. Disinilah, Abram meyakini, ia bisa sepenuhnya memulihkan dan menenangkan diri dari segala macam kekalutan jiwanya. Begitu pula pemikiran Abram tiga pekan yang lalu, setelah rapat yang berujung ricuh akibat keputusannya sendiri yang dianggap 'bodoh' dan 'sembrono'. Padahal aku hanya ingin perusahaan makin maju.
Sebenarnya Abram sudah beberapa kali melakukan hal ini, mengunjungi rumah kakek-neneknya ketika ia sedang menghadapi masalah, atau merasa jenuh dengan irama perkotaan yang monoton, berbau asap dan penuh orang-orang. Tetapi selama ini, hal tersebut selalu ia anggap harus dirahasiakan ke orang lain, bahkan orangtua ataupun istrinya sendiri. Dan kesalahannya yang lupa membawa ponselnya di keberangkatan pertama, Abram yakini, menjadi salah satu kebodohan utama yang menggiring dirinya ke dalam masalah ini.

"Ayo Ashraf, ini tehnya." Nenek yang pada tahun berikutnya akan berumur 8 dekade itu masih terlihat begitu bersemangat, apalagi ketika sang cucu tercinta mampir dan memutuskan tinggal sementara di rumah mereka. Dan, sebagaimana Nenek mengamati tingkah Abram pada hari-hari sebelumnya, ia kembali bertanya.
"Ada masalah, Ashraf?"
Abram hanya menggeleng perlahan.
"Jangan lupa sholat Ashar, sudah jam 4 sore."
"Baik, Nek."
Entah berapa kali Nenek menanyakan pertanyaan tersebut selama ia mampir, dan setiap pertanyaan selalu digubris dengan jawaban yang senada. Tetapi ketika makan malam keesokan harinya, Abram tak bisa lagi berlindung di balik tameng diamnya. Kakek memulai pembicaraan, dan ia langsung berbicara pada pokok permasalahan.
"Ashraf, apapun yang kini kau sembunyikan itu, bicarakan saja pada kami. Mungkin saja kami bisa membantumu mencari jalan keluarnya."

Awalnya Abram ragu-ragu, tetapi kemudian mengalirlah semua cerita dalam 4 bulan terakhir, sejak berita akuisisi perusahaan Singapura itu. 18 menit cerita berlalu, dan Nenek mulai menasihati Abram akan pentingnya kerjasama, kepercayaan dan lebih bijak dalam mempertimbangkan keputusan yang akan diambil, semacam itulah. Tetapi Kakek justru memberi sebuah pertanyaan yang amat sederhana.
"Hei Ashraf, apa dulu tujuanmu melakukan semua itu?"
"Semua itu?" Abram masih bingung.
"Ya semua kebijakan bisnis yang kau lakukan itu, apa tujuan utamamu melakukannya?"
"Tentu saja supaya perusahaan bisa maju dan terus bertahan."
"Lalu, apa hubungan antara apa yang kaulakukan dengan apa yang kautuju? Sebenarnya, apa sih yang kau tuju?"

Abram merasa kosong, dia sama sekali tak tahu harus menjawab apa. Dan kesadaran akan kekosongan itu justru makin terasa, seolah menonjoki perutnya sendiri. Tetapi ia masih mencoba menjawab,
"Aku ingin berhasil. Aku ingin sukses! Aku ingin menunjukkan pada semua orang, bahwa anak seperti diriku ini bisa juga menjadi sukses berkat usahanya sendiri!" Abram kini bersorak dengan penuh semangat.
"Berhasil? Sukses? Berhasil, atau sukses menurutmu itu, seperti apa?" Kakek kembali memberikan pertanyaan. Abram tak mampu berkata-kata lagi.
"Kakek curiga, kau terlalu dalam mengejar keberhasilan. Yang menjadi fokus hidupmu hanyalah cara mencapai ini, bagaimana mencapai itu. Tetapi camkan ini baik-baik, cucuku. Keberhasilan itu tak nyata. Ia hanya ilusi."

Pikiran Abram langsung tersentak, seolah kembali ke memori 12 tahun yang lalu di dalam ruang BK. Ia ulangi lagi argumen yang dulu ia keluarkan di hadapan Pak Nurdin. "Bukankah keberhasilan itu jelas adanya? Bukankah mereka yang memenangkan perlombaan benar-benar memenanginya? Bukankah mereka yang berhasil mencatat pencapaian dalam hidupnya, melakukannya secara nyata? Lalu bagaimana mungkin itu semua, hanya ilusi belaka?"
Kakek, anehnya, justru makin tenang menjawab pertanyaan Abram itu. "Kau salah paham, Ashraf. Pada saat tujuan tercapai, keberhasilan terasa begitu nyata, begitu indah, begitu membahagiakan. Namun esok harinya? Setelah semua kompetisi atau apapun yang kau menangi itu selesai, keberhasilan yang kau dapat kemarin tidak ada artinya lagi. Tak akan peduli lagi orang-orang atas pencapaian yang dulu. Kalau kau bisa memberi manfaat melalui pencapaianmu itu, atau mencapai yang lebih bagus lagi, mungkin orang akan mengingatmu dan apa yang kau beri. Tetapi kenapa kau hanya fokus untuk mendapatkan dan tak memberi? Padahal jelas bahwa 'mendapatkan' itu belum pasti, sementara 'memberi' itu jauh lebih pasti.
"Yah, pada akhirnya, semua terserah dirimu," Kakek menghela nafas. "Lebih baik sekarang, apa yang bisa kau selesaikan, selesaikanlah ia sebaik mungkin. Selagi masih ada kesempatan."

***

Pak Nurdin hanya tersenyum kecil. "Memang susah menjelaskannya dengan baik, apalagi kepada seorang cerdas sepertimu, Abram. Tetapi jika kau merenungkannya lebih dalam lagi, saya yakin kamu pun juga akan setuju."

Abram makin heran, kenapa bapak guru ini seolah tak mengindahkan satupun opininya. Bukankah sudah jelas, Pak? Lalu kenapa Bapak tetap bertahan?

"Sorot matamu menunjukkan keyakinan yang begitu kuat akan opinimu dan keheranan akan respon saya yang tak berubah, Bram. Penuh api semangat yang bergelora. Sangat khas gaya intelektual muda. Tetapi, bahkan seorang intelektual muda harus membuka pikirannya terhadap pola pikir yang lain," Pak Nurdin merapikan buku-buku di mejanya dan memasukkannya ke dalam lemari, "Ingat kata pepatah, penampilan bisa menipu. Memang benar, penampilan menjadi kesan pertama yang dilihat orang, dan tak jarang penampilan memang mewakili gambaran sebenarnya. Tetapi penampilan yang tak dibangun dengan sikap dan pola pikir yang baik, dalam banyak situasi, tak akan memberi efek lebih."

Abram kini hanya mengernyit, berusaha menangkap maksud kata-kata pak Nurdin. "Lalu apa hubungannya pepatah barusan dengan yang tadi pak? Jangan pindah-pindah topik dong pak,"

Pak Nurdin pun hanya merapikan barang-barang yang berserakan di mejanya dengan santai. "Satu kalimat ini saya rasa sudah cukup untuk dicerna siswa secerdas dirimu, Bram. Orang yang hanya mengejar kesuksesan untuk hidupnya, tak akan benar-benar sukses."

Kalimat terakhir yang ia ingat dari Pak Nurdin terus terbayang di benak Abram, selama ia berbaring di kamar tempat ia selama ini menumpang. Pikirannya campur aduk. Ia belum bisa menerima sepenuhnya maksud kata-kata Kakek tadi. Ia memutuskan untuk sedikit beristirahat dengan bermain game di ponsel. Saat Abram bermaksud menekan tombol nyala, ia baru sadar bahwa batere ponselnya habis. Alhasil, 5 menit lagi terbuang untuk membongkar tas dan mengambil kabel isi ulang. Dinyalakannya ponsel, dan mendadak muncul notifikasi 2 pesan dan 6 panggilan tak terjawab. Dari Mona.
Abram sempat khawatir akan keselamatan istrinya, tetapi ketika ia membuka pesan, mukanya memucat.
"Tidak... Ini tak mungkin kan?!", gumamnya.
Sudah tak ada waktu lagi. Sekarang atau tidak, selamanya.
Abram bergegas mengemasi barangnya, berpamitan kepada kakek-neneknya, dan segera membawa mobilnya meluncur kembali ke ibukota.

***

Kepada Mas Bram

Setelah pertimbangan cukup panjang bersama orangtuaku, dengan berat hati aku memutuskan untuk mengajukan gugatan cerai. Sidangnya akan dilaksanakan Selasa besok jam 9 pagi, jika Mas Bram ingin ikut serta dalam mengambil keputusan, datanglah. 

Mona

Isi pesan itu langsung melekat di otak Abram, yang kini sedang melaju di jalan tol, menuju pengadilan agama tempat sidang dilaksanakan. Abram tak peduli lagi pesan itu, karena sekarang ia berusaha keras menelepon Mona, yang sedari tadi tak bisa dihubungi. Sekarang sudah hari Selasa jam 6.27 pagi, dan dengan jarak tempuh masih 180 km lagi, akan sulit bagi Abram untuk bisa hadir tepat waktu. Akhirnya, Abram memutuskan untuk tidak menelepon istrinya dulu sampai ia keluar dari jalan tol, dan kemudian ia mengemudi dengan lebih ngebut.
6.55, jarak ibukota masih 125 km. Abram kembali mencoba mengontak, tetapi tetap saja nomornya tak bisa dihubungi, sehingga Abram terus melaju. 
8.09, jarak ibukota sudah tinggal 12 km, dan Abram bersiap untuk keluar tol menuju gedung pengadilan agama. Namun kendaran perlahan melambat, hingga akhirnya berhenti dan tak bergerak. Kejadian tak terduga muncul di depan mata Abram. Dua mobil yang sebelumnya saling mendahului di depan mobil Abram saling bertabrakan, hanya 3 km dari pintu tol. Dan puing kedua mobil berserakan di jalan, menghalangi jalan, termasuk mobil Abram. Makin panik, Abram kembali berusaha mengontak Mona, yang tetap saja tak bisa dihubungi. 
Abram pun keluar dari mobil ke dekat puing-puing mobil yang bertabrakan, meminta izin pada polisi untuk mengizinkan semua kendaraan yang terjebak supaya bisa lewat. Sebenarnya ada cukup ruangan bagi mobil untuk melewati lokasi tabrakan. Abram beradu argumen dengan si polisi, namun si polisi tetap tak bergeming dan menunggu mobil derek mengungsikan kedua mobil yang mengalami kecelakaan itu keluar jalur.
Tetapi alih-alih dikabulkan, yang ada Abram justru didatangi polisi-polisi lain yang seolah bersatu melawan Abram. Keadaan yang sangat sempit, udara pana dan jiwa yang panas kembali membangkitkan amarah Abram terhadap para polisi, dan Abram mengambil langkah nekad: Menyalakan mesin mobil dan langsung melaju meninggalkan lokasi tabrakan, meninggalkan polisi yang bahkan tak siap untuk mengejarnya.

***

"Pada akhirnya Abram tak pernah datang ke gedung pengadilan agama. Akibat aksi sembrononya, Abram ditangkap dan ditahan selama 2 hari, untuk kemudian disidang untuk mendapatkan vonis 2 tahun penjara akibat tindakan sembrono yang dapat membahayakan keselamatan orang lain. Tetapi ia menghilang dari penjara di malam ketiga, dan sejak itu Ashraf Bramantyo Salahuddin tak pernah terdengar lagi kabarnya, begitu pula keluarganya. Ada yang bilang jika ia sudah lama tewas, ada yang bilang ia sekarang sudah pindah ke luar negeri, banyak lah. Lagipula itu cerita lama. Saya sendiri masih yakin jika ia masih hidup, entah dimana," jawab Pak Tua yang tinggal di dekat rumah bekas Abram dulu. Setelah 28 tahun, rumah itu seolah mulai direnggut oleh alam dan dikembalikan kepadanya.
"Ohiya, anak muda, apa yang kau lakukan dengan semua informasi ini?" Pak Tua kembali menyahut.
"Saya berencana membuat tulisan sederhana mengenai kisah ini pak. Sepertinya menarik," aku mencoba menjelaskannya sedikit. 
"Oke, semoga sukses! Izinkan saya membacanya juga ya nanti."

Sepertinya sudah cukup. Akupun beranjak pergi, meninggalkan Pak Tua sendirian dengan kiosnya. Perlahan, ketika aku berjalan, kudengar alunan lagu lawas yang begitu indah, dengan nada yang menyayat hati. Kulihat ke belakang, dan si Pak Tua kembali bernyanyi, entah untuk apa. Atau siapa? Nada suaranya yang terdengar sedikit tragis, membuatku tak bisa berpura-pura tidak mendengarnya.
Dan entah bagaimana, sebersit pikiran muncul di benakku. 
Tetapi, tentu saja, mana mungkin..?

Hari 6586, selesai dengan dampingan malam yang membekukan.
Sabtu, 20 April 2013, 01:38 (UT+9)
38°16'40.69"N, 140°51'05.98"E
Lanjutkan baca »

Selasa, 16 April 2013

Article#155 - Ketika Pak Beye Menjadi Pak Erte

Jagat dunia maya Indonesia, pada Sabtu, 13 April 2013 lalu, disuguhi berita besar di pagi hari, bahkan ketika sebagian dari mereka baru saja mengawali akhir pekan dengan wajah mengantuk akibat kelamaan ditumpuki kapuk. Setelah beberapa 'tokoh' politik Indonesia membentuk akun jejaring sosial Twitter sebelumnya, pada hari yang entah bersejarah atau tidak itu, akhirnya tiba giliran sang pak presiden Republik Indonesia untuk ikut terjun ke kancah perpolitikan di jejaring sang burung biru. Bapak Susilo Bambang Yudhoyono atau yang biasa dikenal dengan ini-sial-nya, SBY, 'meresmikan' munculnya akun sang presiden RI dengan username @SBYudhoyono. (Untuk selanjutnya di tulisan ini, saya akan menggunakan panggilan Pak Beye untuk merujuk ke sang presiden).

Tak butuh waktu lama bagi Pak Beye untuk kembali mengangkat namanya sebagai figur yang 'terlambat muncul' di dunia maya. Dalam hitungan jam, menit, bahkan detik. satu persatu massa rakyat Indonesia yang selama ini dikenal cukup ramai di Twitter mengalir menjadi pengikut setia akun terkait. (bahasanya serasa aliran sesat..) Dari 'hanya' ratusan pengikut pada Sabtu pagi, dalam waktu sekitar 12 jam, jumlah pengikut akun Pak Beye sudah bertambah menjadi ratusan... ribu. Ketika akhirnya Pak Beye berhasil mengumpulkan cukup keprihatinan untuk mempublikasikan kicauan pertamanya pada hari Sabtu yang sama, pukul 19:26 WIB, tercatat sudah sekitar 280 ribu akun menjadi pengikut akun Pak Beye. Pada saat itu pula, hingga esok sorenya, debit aliran pengikut menuju akun Pak Beye mencapai puncaknya, dengan catatan dari dokumentasi penulis menyebutkan, bahwa pada puncaknya, rata-rata 15-22 akun mendaftar sebagai pengikut akun Pak Beye tiap detiknya. Wih.

Tetapi, jika tulisan ini hanya membahas bagaimana perkembangan akun Pak Beye, tentu saja buat apa kalian semua menghabiskan entah berapa lama membaca tulisan ini.
Seperti biasanya berita yang memiliki bau politik (dalam hal ini, Pak Beye sebagai Presiden RI), dalam waktu singkat berita ini menjadi isu nasional. Baik mengenai reaksi massa Twitter Indonesia 'menyambut' kedatangan Pak Beye, prasangka bahwa ini hanyalah trik pencitraan Pak Beye, bahkan hingga berita yang dari judulnya saja terkesan tak penting, seperti salah satu pejabat yang mengikuti akun Pak Beye di Twitter.
Pak Beye sendiri, ketika ditanyai di Istana Cipanas, Cianjur, menjawab begini mengenai alasan ia membuat akun Twitter,
"Mengapa saya memutuskan bergabung dunia Twitter. Sejak mengemban tugas sebagai presiden, saya dan ibu terus menyapa dan berkomunikasi dengan saudara rakyat Indonesia. Setelah ditelaah, dahsyatnya media sosial, berkomunikasi bebas hambatan dan distorsi. Ibu Ani dan anak-anak dukung saya untuk masuk ke dunia twitter dan begabung agar bisa menyapa berbagi inspirasi dan hal penting bagi rakyat kita."
Tentu saja, sebagai anggota baru di dunia maya yang selama ini terkenal keras dan tak pandang-pandang, Pak Beye dinilai harus siap menerima segala macam hujatan, celaan keluhan yang dikirimkan dari masing-masing akun Twitter warga Indonesia. Atau yang paling greget, dijadikan bahan lelucon. Dan di sebuah artikel disebutkan bahwa Pak Beye sudah menyiapkan mental untuk menghadapi yang terburuk yang bisa menyerangnya di gejolak massa Twitter. Tetapi, sayangnya artikel terkait tak menyebutkan, bagaimana Pak Beye menghadapi isi kotak interaksi akun Twitternya, yang kabarnya dipenuhi lelucon dan ejekan. Ada yang bilang ia seperti ABG labil, tak pede, telat gaul, dan banyak lagi dengan kata-kata yang lebih 'kasar' di dunia maya. Tetapi yang menurut saya akan menjadi bagian paling menantang bagi Pak Beye, adalah tumpukan pesan berbunyi "Follback aqu eaa pak..!!" (Tolong ikuti balik akun saya pak–pen.). Yah, tak apa ya pak. Hitung-hitung pengalaman 'diospek' di dunia Twitter. Paling nggak, Bapak nggak disuruh menghafal nama pengikut Bapak kan.

Isu dari tempat lain justru lain lagi. Ada yang bilang, Pak Beye mencontoh foto akun twitter Presiden Amerika Serikat, Pak Barack Obama. Lihat saja gambar berikut ini.
Dari sini
Saya kira tak perlu penjelasan lebih. Mungkin akan ada yang bilang, sekali ya, di saat siswa yang mengerjakan UN dituntut untuk jujur dan tidak menyontek, Pak Beye justru menyontek. Tetapi jelas bukan saya yang bilang begitu.

Dan, ketika saya sebelumnya sedikit menyinggung mengenai bagaimana Pak Beye di-bully di kancah Twitter, saya merujuk kepada penemuan yang saya temukan pagi ini (yang juga menjadi pemicu dibuatnya tulisan ini). Rupanya, selain mengerjai Pak Beye melalu berbagai macam kicauan yang berseliweran di Twitter sana, ada sekelompok orang yang membentuk akun imitasi dari milik Pak Beye yang telah diberi label biru tanda asli. Silakan dibandingkan saja dibawah sini. (Gambar diambil pada Selasa, 16 April 2013, 05:22 WIB)
Wahduh kembar tiga... Klik gambar untuk perbesar
Berbagai akun 'kembaran' pak Beye lainnya bisa dicek di sini.
Yah, saya rasa semua itu sudah cukup bagus untuk menggambarkan bagaimana kerasnya kehidupan di kancah jejaring sosial. Semoga Pak Beye bisa bertahan menghadapi itu semua, bukannya justru menjadi setres atau malah ikut-ikut jadi ABG labil betulan. Bayangkan saja kalau suatu saat Pak Beye jadi sering me-retweet post dari akun macam Damn It's True, Liputan 9 atau check-in di Foursquare. Nanti mungkin dia ganti panggilan jadi Pak Erte. Atau bahkan yang lebih menakutkan, jika nanti akun Pak Beye menulis twit berisi "Aduh, laper nich..*SBY*". Hih.
Sudahlah, kalau begitu, semoga tujuan pembuatan akun Pak Beye sebagaimana yang sebelumnya disampaikan bisa terlaksana dengan baik, dan semoga Pak Beye bisa bertahan di dunia Twitter :')

Hah. Mungkin cukup sekian kali ini. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya, nanti!
(:g)
Lanjutkan baca »

Minggu, 14 April 2013

Article#154 - Kutipan Hari Ini

"Don't cry because it's over, smile because it happened."
~a quote with a disputed origin. Some addresses the quote to Dr. Seuss, some other addresses it to Gabriel García Márquez (referring to a quote in Spanish), and most of the other refers to it as a quote of anonymous origin. Quoted in Saturday, 13th April, 2013, 07:32 (UT+9)


Lanjutkan baca »

Kamis, 11 April 2013

Article#153 - Mereguk Dahaga Kesejukan: Hei Kau, Lekaslah Datang!

It's the first day of spring
And my life is starting over again
Well the trees grow, the river flows
And its water will wash away my sin
For I do believe that everyone
has one chance to mess up their lives
Like a cut down tree, I will rise again
I'll be bigger, and stronger than ever before

(Charlie Fink, 2009. The First Days Of Spring, dengan sedikit perubahan dimana perlu)
Kini, kalender terus bergulir, dan bersama jarum jam yang terus berputar tanpa kenal lelah, tak terasa (atau terasa?) tahun telah memasuki lembaran bulan April. Bulan yang identik dengan musim semi bagi belahan bumi utara, bulan yang diberi nama pembukaan oleh bangsa Romawi dulu. Dan juga sebuah lambang dari tumbuhnya kelopak harapan baru, yang bersemai satu demi satu menyambut awal yang baru. Katanya sih. Soalnya bukan hanya kelopak bunga yang perlahan-lahan membuka di bulan April. Jendela-jendela mulai terbuka seiring menghangatnya suhu udara. Mulut seseorang tetangga yang biasanya gemetaran akibat musim dingin pun, kini kembali terbuka dan mungkin bisa menghujanimu dengan hujan lokal yang dahsyat, jika kamu tak siap berlindung.

Kalender ikutan membuka. Mereka 'buka' perlahan lembaran bulan Maret yang masih terpasang, seolah meneriaki orang yang membelinya dulu untuk mengupas lembaran bulan yang telah berlalu. Mungkin dia akan berteriak begini, "Yang lalu biarkan ia berlalu, oi! Jangan galau melulu!". Tuh kan, kalender aja mau move on. Ayo lah kalian yang kerjaannya galau terus, mikirin apa-apa yang tak jelas juntrungannya, lebih baik jika perhatian kalian itu bisa dialihkan ke arah yang lebih baik. Tapi nanti gimana ya... Ups, bukan kok, saya bukan sedang galau. Tapi sedang gundah...
Sudahlah.

Bicara soal membuka, pada pekan ini, para bocah tengil akhirnya membuka tabir libur yang sekian lama bersemayam dalam benak mereka dan menggantinya dengan tajuk bernama 'kuliah'. Yap, sekarang baru saja dimulai semester kedua. mengenai dimulainya semester kedua, sebenarnya penulis ingin mempublikasikannya pada hari Senin lalu, hari pertama bocah tengil edisi timur laut kembali didorong untuk kembali memasuki ruang kuliah yang monoton, setelah sekian lama menghabiskan diri bergelung atau entah melakukan apa sepanjang libur yang tak kunjung rampung. Paling tidak ruang kelas tidak semonoton kegiatan yang dilakukan selama liburan, meskipun nyatanya ketika liburan berakhir, sebagian jiwa-jiwa mereka merasa tidak rela untuk kembali masuk ke kelas kuliah.
Yah, seperti yang mereka bilang, liburan tidak pernah cukup.

dari sini
Namun, sementara bocah edisi timur laut sudah memulai kembali lanjutan ketidakjelasan mereka di Senin lalu, rupanya rekan mereka, di daerah lain yang menyandang nama toko antik, baru memulainya hari ini. Berkat merekalah, dengan segala daya dan upaya akhirnya penulis bisa melanjutkan tulisan ini... Terharu ya :') (laggh). Artinya, dengan hari ini, secara menyeluruh telah dimulai episode selanjutnya bagi para bocah tengil untuk melanjutkan apa yang orang biasa sebut sebagai 'perjuangan merantau di negeri orang'. Itu yang orang sebut. Kalau bagi mereka? Entahlah, mungkin berbeda. Bisa saja 'Lanjut Studi Dengan Sokongan Minim'. Atau 'Dompet Kanker Stadium 4 Bulan'. Yang jelas bukan 'Jomblo Mencari Cinta'. Gak nyambung blass...

Sudahlah, daripada makin gundah gulana akibat tipisnya dompet, mari kita cek yang lain yang sedang membuka. Rupanya, mereka-mereka yang sedang kelas tiga, bersama kata demi kata tulisan ini diketikkan, sedang bersiap menuju apa yang disebut sebagai 'seleksi terstandarisasi kelulusan'. Saya lebih suka menyebutnya UN, singkatan dari Ulur Nilai. Kenapa? Bagi rakyat bumi pertiwi, sudah biasa mereka mendengar bermacam kecurangan yang dilakukan entah yang ikut ujian, yang mengadakan ujian, entah yang mengintip soal ujian. Tujuannya? Apalagi kalau bukan UN, Ulur Nilai. Dimulurkan sedikit nilainya, biar lebih 'berkelas'. Sayangnya caranya tidak berkelas. Bayangkan saja, ada yang mengintip jawaban, ada yang menyawer jawaban. Padahal jawaban kagak bisa dimakan, kagak ada bagus-bagusnya diintip. Kok masiih saja ada yang mau ya? Aya aya wae.

Sudahlah, daripada terlalu asyik mengolok-olok, lebih baik mari bersama kita bantu mereka yang mau ujian, tapi sesuai kapasitas wajar kita lah. Cukup didoakan dan disemangati saja. Bukannya diberi kecupan kasih sayang, atau malah disuguhi stand up comedy nonstop. Bisa-bisa ketika mereka mengerjakan soal Bahasa Indonesia, kalau kata peribahasa, maksud hati memeluk gunung, apa daya, Jaka Sembung asyik ngabisin rebung. Si Jono ayamnya kalah sabung, Kagak nyambung, bung!

Dan juga doa terhatur bagi semua mereka yang sedang bersiap membuka pintu baru perjalanan kehidupan mereka. Asalkan tak melanggar batas kebenaran, saya mah woles aja atuh. Toh ujian dalam hidup memang untuk menguatkan, kan? Bukan untuk adu nilai, apalagi unjuk gigi. Mending giginya bagus, kalau isinya karang? Bisa-bisa kamu nanti direlokasi sama WWF.

Pada akhirnya, ketika sudah membahas tentang 'ujian', tentu saja 'ujian' yang paling dahsyat adalah apa yang kini masih mendera para bocah tengil. Apalagi kalau bukan masalah lembaran penyokong hidup, lembaran yang paling menakjubkan di dunia. Bayangkan, zaman dulu mana ada orang yang mau barangnya dibayar dengan selembar kertas. Entah itu harus saya sebut keajaiban atau justru kebobrokan.
Dan, kembali ke topik, entah ada hubungannya atau tidak, tetapi menjelang diadakannya UN atau Ulur Nilai, sekarang giliran tumpukan dana, yang seharusnya sudah mencair entah berapa banyak, diulur kembali kerannya. Entah ada apa di baliknya, semoga mereka-mereka sukses melewati cobaan ini semua.
Mereka bilang, kami akan segera alirkan
Dan hidup bisa kalian lanjutkan
Namun disini, diriku di tengah kegelapan
Merenungi lagi pilihan yang telah berjalan
Tak salah mungkin, jika aku sudah di luar nalar
Aku bahkan tak yakin apakah kujalani semua ini dengan sadar
Tetapi sudahlah, hidup memang tak harus linear
Adakalanya hanya sempit sebidang, dan terkadang luas melebar
Yang penting, jangan sampe kesasar

(Bocah Tengil, 2013. Antara Garis dan Cabang)
Semoga harapan yang tak akan pernah mati itu terus tumbuh, seperti bunga sakura yang sebenarnya sudah mulai mekar, sayangnya tak dibarengi mekarnya keran uang. Mohon doanya ya semua.
(:g)
Lanjutkan baca »

Senin, 08 April 2013

Article#152 - Kutipan Hari Ini

"Hidup itu singkat, dan diliputi ketidakpastian. Daripada menunggu dipastikannya ketidakpastian, lebih baik sibukkan diri untuk memastikan apapun yang bisa dipastikan sendiri."
~disadur penulis dengan sedikit tambahan dari sebuah kutipan yang ia lupa sumbernya, pada Senin, 8 April 2013, 22:38 (UT+9)
dari sini

Lanjutkan baca »

Sabtu, 06 April 2013

Article#151 - Sehelai Yang Tersapu Zaman

Sebut saja ia, sehelai bunga indah nan lemah
Bergoyang bersama angin dalam irama senada
Bersama berjuta kawan, bersama tanpa lelah
Menyambut fajar baru yang merekah
Dan lanjutan hidup yang berwarna, cerah
Ia, yang kehadirannya senantiasa didamba
Yang menerbitkan harapan dalam jiwa yang lemah
Pernahkah ia merenungi tempatnya di ranting sana?
Ia, yang menyejukkan mata yang memandang
Yang demi dirinya berjuta orang rela datang
Sudikah dia menjadi objek sebuah kekaguman?
Akankah ia jenuh dan muak akan kehidupan
Dan merasa kematian jauh lebih menyenangkan?

Dengan tegarnya ia bertahan pada ranting-ranting
Yang terkadang membawanya terbalik dan miring
Meski angin terus menerpanya hingga pusing
Dan menerbangkan kelopaknya, keping demi keping
Begitu lama ia bisa bertahan dan tetap merentang
Tetapi begitu mudah pula ia terlepas dan terbang
Duhai bunga, mengapa yang indah terkadang lemah?
Atau hanya diriku kah yang terlalu berburuk sangka?
Apakah aku yang terlalu lama berdiam dalam utopia
Dan lupa melihat kenyataan yang tersimpan?

Apapun itu, ia kini sudah ada dimana-mana
Dari puncak pohon termegah yang menatap congkak
Hingga dasar selusur jembatan yang bermuram durja
Ia hanya punya kesempatan sebentar saja
Mencicip indahnya dunia dari atas sana
Ia rapuh, tetapi ia bertahan dengan teguh
Menghadap angin dingin tanpa mengeluh
Dan kuharap ia dapat dengan tulus memahami
Ia hadir tidak untuk selamanya menghiasi
Akan ada saatnya, ia harus beranjak pergi
Seperti jiwa ini, sebentar lagi


Hari 6571, bersama hujan yang mendamaikan.
Digoreskan dalam permulaan yang berliku,
Kamis, 4 April 2013, 06:07 (UT+9)
34°59'33.63"N, 135°49'01.61"E
Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...