Sabtu, 28 Maret 2015

Article#404 - That Light In The Sky


Presumably, this is going to make for a swift start for any of you guys who are interested in peeking at the stars, while traversing through the balmy night.
Especially you. Yeah, you.
Lanjutkan baca »

Selasa, 24 Maret 2015

Article#403 - Blinded By The Light

A sip of opinion. What do you think?

The Eiffel Tower is seen after the lights are turned off during Earth Hour 2012 in Paris.
Photo by Antoine Antoniol/Getty Images

By Bjørn Lomborg


NEW YORK – On the evening of March 23, 1.3 billion people will go without light at 8:30, and at 9:30, and at 10:30, and for the rest of the night – just like every other night of the year. With no access to electricity, darkness after sunset is a constant reality for these people.

On the same evening, another billion will participate in the environmental event “Earth Hour” by turning off their lights from 8:30-9:30.

The organizers say that they are providing a way to demonstrate one’s desire to “do something” about global warming. But the stark reality is that Earth Hour teaches all the wrong lessons, and actually increases CO2 emissions. It may inspire virtuous feelings, but its vain symbolism reveals exactly what is wrong with today’s feel-good environmentalism.

Earth Hour teaches us that tackling global warming is easy. Yet, by switching off the lights, all we are doing is making it harder to see.

Notice that you have not been asked to switch off anything really inconvenient, like your heating or air conditioning, television, computer, mobile phone, or any of the myriad technologies that depend on affordable, plentiful energy electricity and make modern life possible. If switching off the lights for one hour per year really were beneficial, why would we not do it for the other 8,759?

Hypothetically, switching off the lights for an hour would cut CO2 emissions from power plants around the world. But, even if everyone in the entire world cut all residential lighting, and this translated entirely into CO2 reduction, it would be the equivalent of China pausing its CO2 emissions for less than four minutes. In fact, Earth Hour will cause emissions to increase.

As the United Kingdom’s National Grid operators have found, a small decline in electricity consumption does not translate into less energy being pumped into the grid, and therefore will not reduce emissions. Moreover, during Earth Hour, any significant drop in electricity demand will entail a reduction in CO2 emissions during the hour, but it will be offset by the surge from firing up coal or gas stations to restore electricity supplies afterwards.

And the cozy candles that many participants will light, which seem so natural and environmentally friendly, are still fossil fuels – and almost 100 times less efficient than incandescent light bulbs. Using one candle for each switched-off bulb cancels out even the theoretical CO2 reduction; using two candles means that you emit more CO2.

Electricity has given humanity huge benefits. Almost three billion people still burn dung, twigs, and other traditional fuels indoors to cook and keep warm, generating noxious fumes that kill an estimated two million people each year, mostly women and children. Likewise, just a hundred years ago, the average American family spent six hours each week during cold months shoveling six tons of coal into the furnace (not to mention cleaning the coal dust from carpets, furniture, curtains, and bedclothes). In the developed world today, electric stoves and heaters have banished indoor air pollution.

Similarly, electricity has allowed us to mechanize much of our world, ending most backbreaking work. The washing machine liberated women from spending endless hours carrying water and beating clothing on scrub boards. The refrigerator made it possible for almost everyone to eat more fruits and vegetables, and simply to stop eating rotten food, which is the main reason why the most prevalent cancer for men in the United States in 1930, stomach cancer, is the least prevalent now.

Electricity has allowed us to irrigate fields and synthesize fertilizer from air. The light that it powers has enabled us to have active, productive lives past sunset. The electricity that people in rich countries consume is, on average, equivalent to the energy of 56 servants helping them. Even people in Sub-Saharan Africa have electricity equivalent to about three servants. They need more of it, not less.

This is relevant not only for the world’s poor. Because of rising energy prices from green subsidies, 800,000 German households can no longer pay their electricity bills. In the UK, there are now over five million fuel-poor people, and the country’s electricity regulator now publicly worries that environmental targets could lead to blackouts in less than nine months.

Today, we produce only a small fraction of the energy that we need from solar and wind – 0.7% from wind and just 0.1% from solar. These technologies currently are too expensive. They are also unreliable (we still have no idea what to do when the wind is not blowing). Even with optimistic assumptions, the International Energy Agency estimates that, by 2035, we will produce just 2.4% of our energy from wind and 0.8% from solar.

To green the world’s energy, we should abandon the old-fashioned policy of subsidizing unreliable solar and wind – a policy that has failed for 20 years, and that will fail for the next 22. Instead, we should focus on inventing new, more efficient green technologies to outcompete fossil fuels.

If we really want a sustainable future for all of humanity and our planet, we shouldn’t plunge ourselves back into darkness. Tackling climate change by turning off the lights and eating dinner by candlelight smacks of the “let them eat cake” approach to the world’s problems that appeals only to well-electrified, comfortable elites.

Focusing on green R&D might not feel as good as participating in a global gabfest with flashlights and good intentions, but it is a much brighter idea.

Lanjutkan baca »

Jumat, 20 Maret 2015

Article#402 - Kala Batara Meraja

20 Maret 2015, 10:44 UT. 
Pagi yang cerah menyambut warga seantero Eropa di hari Jumat itu. Matahari yang merambat pelan menanjaki langit di hari itu, perlahan menghangatkan daratan Eropa yang sedang bersiap bermekaran menyambut datangnya musim semi. 
Hari itu adalah hari di mana rentang siang mulai kembali mendominasi terhadap rentang malam bagi mereka di belahan Bumi utara, kembali menghadap cakram Matahari yang benderang.
Atau setidaknya demikian dalam beberapa jam pertama.

Perlahan, apa yang tadinya adalah cakram Matahari mulai tampak menghilang, seolah digerogoti Batara Kala yang dendam akan cerlangnya. Agaknya, wujud sebenar dari apa yang terjadi saat itu adalah melintasnya Bulan di hadapan cakram Matahari, meredupkan segenap permukaan Bumi yang tersentuh bayang-bayangnya. Matahari terus tergerogoti, hingga tiba menit-menit di mana cahaya Matahari terhalang seluruhnya oleh cahaya Bulan, menjadikan adanya malam di tengah-tengah siang. Alih-alih Matahari yang benderang, kini segenap makhluk hidup di sebalik bayang Bulan mendapati sosok legam Bulan menggantikan sejenak posisi Matahari di angkasa, lengkap dengan semburat sinar palsunya yang adalah korona Matahari.

Tak lebih dari tiga menit berlalu sebelum Bulan, atau Batara Kala jika kamu mau, kembali menepikan diri, memberi jalan pada cahaya yang terhalang untuk kembali menerangi langit sebagaimana biasanya. Tiga menit mungkin terasa hanya sesaat, tetapi dengan perjalanan Bulan menggerogoti dan merelakan cakram Matahari, terentang selang empat jam di mana beragam pembangkit listrik perlahan kehilangan energi Matahari. Mulai dari panel surya yang menyepi, kincir angin yang berhenti, hingga wajah-wajah pias yang kemudian menengadah, memandangi langit siang bertabur bintang. Wajah-wajah yang berkelana dari ragam penjuru dunia untuk meresapi tiap detik-detik siang yang gulita.

Satu hal yang menarik mengenai kejadian gerhana matahari adalah, manakala ia terjadi dalam kekerapan yang lebih jamak dibanding gerhana bulan, lebih sedikit orang yang berkesempatan menyaksikannya secara langsung. Gerhana bulan, pada dasarnya, bisa disaksikan oleh setiap sudut Bumi yang bisa melihat Bulan pada momen terkait. Sementara bagi gerhana matahari, komposisi yang diperlukan untuk mengamatinya sedikit bertambah; harus tertudungi bayang Bulan.

Alhasil, gerhana ini hanya dapat disaksikan oleh mereka yang berdomisili di sekitar wilayah Eropa barat laut. Mereka yang ingin mengamati gerhana total bahkan hanya bisa memilih antara dua lokasi; kepulauan Faroe, atau kepulauan Svalbard. Atau samudra Atlantik Utara, jika kamu rela tidak menjejak tanah pada saat terjadinya gerhana.
Gerhana matahari kali ini adalah gerhana yang ikut mendampingi seri tetrad (empat gerhana bulan total dalam interval 6 bulan) yang berlangsung dalam tahun 2014 dan 2015 ini. Gerhana total berikutnya untuk tahun 2015 sendiri akan berlangsung pada 4 April 2015 dan 28 September 2015.

Berikut, penulis telah menyuguhkan foto-foto gerhana matahari total hasil jepretan berbagai orang dari wilayah-wilayah yang berkesempatan menyaksikan gerhana kali ini. Selamat menikmati!

Tambahan: Bagi pembaca yang berdomisili di Indonesia, bersiaplah, karena gerhana matahari total selanjutnya akan terjadi dalam 352 hari ke depan. Gerhana pada tanggal 9 Maret 2016 akan mendera wilayah Indonesia dengan bayang tergelap Bulan, menjadikan malam di tengah siang. Bersiaplah!

Rentetan citra Matahari sepanjang kelangsungan gerhana, dipotret secara berkesinambungan tiap tiga menit.
Seluruh citra kemudian dipadukan dengan citra fase gerhana total melalui piranti lunak olah citra.
Dipotret dari kepulauan Svalbard, Norwegia.
(Thanakrit Santikunaporn/APOD)
Gerhana matahari total, sebagaimana diamati dari pesawat Air Berlin yang sedang melaju di atas
wilayah Atlantik Utara. (Ben Cooper/Launch Photography)
Bayangan Bulan, sebagaimana dipotret oleh satelit Terra (EOS AM-1) milik NASA.
(NASA Goddard MODIS Rapid Response Team)
Gerhana matahari sebagian, dipotret dari wilayah Somerset, Inggris.
(REX/The Guardian)
Gerhana matahari total, dipotret dari wilayah Kepulauan Svalbard, Norwegia.
(Olav Jon Nesvold/EPA)
Sesaat menjelang gerhana matahari total, sebagaimana diabadikan dalam kamera kanal sinar X
milik satelit Proba-2.
Gerhana matahari sebagian, dipotret dari wilayah Galicia, Spanyol barat laut.
(Dominique Brand/EarthSky)
Gerhana matahari total, dipotret dari wilayah Longyearbyen, Svalbard, Norwegia.
(Tine Mari Thorne/EarthSky)
Gerhana matahari total, dipotret dari wilayah Kepulauan Faroe.
(Halda Mohammed/EarthSky)
Gerhana matahari total, dipotret dari wilayah Kepulauan Svalbard, Norwegia.
(Stan Honda/AFP/Getty Images)
Gerhana matahari total, dipotret dari pesawat yang melaju di Atlantik Utara.
(Glenn Schneider)
Gerhana matahari total, dipotret dari wilayah kepulauan Svalbard, Norwegia.
(Geoff Sims)

Gerhana matahari total, dipotret dari wilayah Kepulauan Svalbard, Norwegia.
(Haakon Mosvold Larsen/AP)
Gerhana matahari sebagian, dipotret dari Runcorn, Cheshire, Inggris.
(Rox Widnes/EarthSky)

Gerhana matahari sebagian, dipotret dari wilayah Macedonia.
(Stojan Stojanovski/

Gerhana matahari sebagian (atas), menjelang total (tengah), dan total (bawah).
Dipotret dari wilayah Kepulauan Svalbard, Norwegia.
(NRK News)

Jika belum puas dengan foto, video di bawah ini agaknya akan membantu memberikan sensasi tersendiri dalam mengamati gerhana matahari terkait.

Total Solar Eclipse, March 20, 2015 - Spitsbergen, Arctic from Witek Kaszkin on Vimeo.

Masih belum puas juga? Baiklah, saya menyerah. Sila nikmati foto-foto dalam galeri berikut.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya, nanti!
Lanjutkan baca »

Kamis, 19 Maret 2015

Article#401 - Komparasi

Pada kenyataannya, semata mendapatkan gelar memang tidak akan mengubah apa-apa selain yang berkaitan dengan kehidupan pribadi. Ya, mungkin sebuah kelulusan secara tak langsung memberikan pernyataan terbuka pada dunia, akan apa yang telah dilalui, apa yang telah dicapai. Tetapi, dari sanalah babak baru dimulai.

Akhir kata, tidak ada dendam di antara kita ya, hai kalian para mahasiswa pascasarjana.
Semoga semua usaha sampai pada tiap-tiap manfaatnya.

sumber gambar
Lanjutkan baca »

Selasa, 17 Maret 2015

Article#400 - Empat Ratus Citarasa, Empati Salah Arah

Tapak kembali menggelegar dalam alam bawah sadar.
Membangunkan jiwa dan raga yang belum bugar.
Agaknya, perlu sedikit percik kenyataan pada muka saya yang setengah terpejam untuk menyeret saya kembali siaga. Di hadapan layar kaca berhiaskan sekian banyak dioda, setidaknya ada dua pilihan yang telah terbukti ampuh menjerumuskan sekian banyak penggunanya. Baik ia berupa kesilauan atas derai cahaya yang menghujani retina, atau ketidakmampuan kita menjaga tujuan atas apa yang hendak dilakukan. Atau gelegar genderang perang yang ditabuh organ-organ tubuh yang merasa kehilangan perhatian. Atau teriakan yang bergema dari tumpukan pertanggungjawaban yang belum terselesaikan. Atau tarikan gravitasi dunia maya, yang konon mengerdilkan tempat tidur akibat besarnya massa keributan yang bercokol di dalamnya. Atau fakta bahwa daftar yang baru saja saya lampirkan telah membengkak menjadi enam. Atau...

...sudah, hentikan saja ini, ya.
Sebagai salah satu orang iseng yang mengaku suka menuangkan sedemikian ragam kenyataan dalam bentuk tulisan, agaknya saya telah terbuai candu untuk menjaga keberlangsungan aliran tulisan. Mereka biasa bilang, cerita terbaik adalah cerita yang paling mampu menggambarkan kenyataan, maka saya menempuh jalan tersebut dalam usaha mengasah ketajaman jemari saya dalam menyiksa papan ketik perlahan-lahan memoles kejadian dalam bentuk alinea dan barisan.

Kau boleh saja menyebut saya sebagai orang yang fleksibel, yang bisa mulur bagai karet menyesuaikan diri dalam ragam situasi, yang bisa berubah wujud menjadi beragam kebodohan merasakan jengkal demi jengkal keadaan. Atau kau boleh saja menyebut saya sebagai orang yang terlalu santai, terbiasa menghabiskan waktunya berbual. Terbiasa mengumbar omong kosong yang bisa disejajarkan dengan novel bestseller nasional naskah koran yang menjadi bungkus gorengan. Terbiasa mengesampingkan kesibukan utamanya demi sedikit intip dan intip pada segala keanehan yang pernah ia utarakan.
Terbilang empat ratus citarasa, segala keanehan yang tercampuradukkan hingga ramai rasanya.
Terbilang empati salah arah, segala penyesuaian yang menyimpang dari apa yang diniatkan.

Ketika saya berbicara soal empati, saya harus tahu terlebih dahulu, apa itu empati. Hal yang selanjutnya akan saya lakukan, biasanya, adalah membuka entah KBBI atau Wikipedia, dan menggunakan definisi yang tercantum di sana untuk memperjelas duduk perkara. Walaupun perkara mungkin sedang berdiri, atau bahkan meloncat.

Baik, KBBI bilang, empati adalah "keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain".
Entah apa artinya itu. Terjemah kasar saya, maksudnya adalah menempatkan diri dalam posisi orang lain. Misalnya, ketika teman kita membuka kotak bekal untuk memakan kotaknya bekalnya, kita berempati padanya, dengan cara menempatkan diri kita dalam posisinya. Dengan kata lain, menggantikan posisinya memakan bekal tersebut.
....Atau demikiankah? Yah, mungkin.

Bagi kasus saya yang berkecimpung dalam dunia tulis-menulis, saya amati banyak tulisan dari entah sesiapa yang kerap kali mengaku gagal menjaga konsistensinya dalam penuangan tulisan demi tulisan. Maka kemudian saya kembali berempati pada mereka; dengan kata lain, saya menempatkan diri saya pada posisi orang yang gagal menjaga konsistensinya dalam memperbarui isi laman belog aneh ini.
Alhasil, saya kini kewalahan menjaga kinerja saya tetap pada jalurnya.

Setidaknya, dalam dua bulan terakhir ini, saya terus memulurkan jadwal publikasi tulisan saya, yang telah sedemikian banyaknya berkerak di kolom draft. Tulisan ini pun mulur lebih dari sebulan dari waktu yang sebelumnya telah saya jadwalkan. Mohon maaf ya, handai taulan sekalian. (Tulisan ini, dan beberapa tulisan lain yang akan mengikuti, semua diberi tanggal publikasi sesuai dengan tanggal hadir post terkait pada kolom draft.)

Maka baiklah, akhir kata, semoga laman laman yang nampak terkapar ini, meski sering mulur, bisa terus menebarkan citarasa yang memperkaya khazanah kehidupan kita semua. Terlepas dari apa sebenarnya "khazanah kehidupan" tersebut.
Semoga tetap waras, meskipun tulisan yang ada di hadapan kalian tidak.
Lanjutkan baca »

Minggu, 15 Maret 2015

Article#399 - Proklamasi

Kita tak perlu membebek pada sekian banyak figur pujaan, karena jiwa dan raga tiap-tiap kita berhak untuk menjadi diri yang sebenar-benarnya. Biarkan ramai manusia berujar akan pencarian identitas, dan teruslah membangun sendiri jati diri dari bawah. Tetapkanlah apa-apa yang akan menjadi landasannya, dan bangunlah wujud yang kokoh dari sana. Jadikan ia tegak, tak bergeming di hadapan aral.

Kita tak perlu membuktikan segala hal pada segala orang, karena kehidupan bukanlah untuk menjilati wajah riang mereka. Biarkan ramai manusia berceloteh mempertanyakan adanya perkembangan, dan teruslah berjuang tanpa perlu harap sesiapa tersadar. Tengadahkan wajah yang berlindung pada nama-Nya, yang tak perlu sesuap bukti dari kita yang fana. Tetaplah berjalan, atas dasar yang tak kita pertanyakan.

Kita tak perlu menyibukkan diri memikirkan tujuan utama, karena bentuknya sudah demikian jelas tergambar bagi tiap-tiap kita. Biarkan ramai manusia berkalang dalam sekian banyak batu loncatan, yang mereka kejar sebagai akhir perjalanan panjang. Langkahkan kaki yang menyadari adanya kelanjutan, dan ajak raga terus bergerak. Syukuri tiap nafas dan langkah, jejaki awal mula pada setiap perhentian.

Kita tak perlu menghabiskan waktu berkubang dalam angan, karena kenyataan yang tergelar luas telah mencukupi segala yang kita butuhkan. Biarkan ramai manusia berkabung menghitungi sekian skenario yang tak pernah lari dari kepala-kepala mereka. Kepalkan tekad, lambaikan salam pada yang terlewat, dan bersungguh dalam apa yang bisa diusahakan. Menjabat erat kenyataan selayaknya sahabat lama.

Kita tidaklah mengejar kebesaran, tak pula meratapinya. Kita tak mendamba kepalsuan, yang digenggam angkasa fana. Kita berjuang tanpa kecewa, memberangus sesal tiada guna.
Kita menutup lembar pada tujuan, dan menjadikannya nyata.

Sannomiya, 12 Maret 2015.
Akhir dari sebuah perjalanan, awal dari perjalanan selanjutnya.

Lanjutkan baca »

Jumat, 13 Maret 2015

Article#398 - Sembilan Bangsa

[apdet terakhir pada 12 April 2015, 10:54 (UT+9)]

Dua puluh delapan provinsi.
Dua belas hari.
Dua sisi negeri.
Satu imajinasi.

....Mohon maaf atas penggunaan istilah "provinsi" yang saya pakai di atas. Saya melakukan pemaksaan itu demi rima semata. Karena bagaimanapun juga, warga Jepang sendiri menyebut "provinsi" mereka, 県 "ken", sebagai "prefecture" dalam bahasa Inggris. Meskipun pada hakikatnya, "prefektur" milik Jepang sebagaimana yang berlaku saat ini sama saja dengan "provinsi" yang biasa kita kenal sebagai pembagian terbesar dari wilayah negara.

Sebenarnya, dulu tidak demikian, karena setidaknya hingga restorasi Meiji, satuan yurisdiksi terbesar dari wilayah Jepang adalah "provinsi". Dilangsungkannya restorasi Meiji antara 1867 dan 1871, yang memberangus segala macam kekuasaan para tuan tanah (大名, "daimyō") era Jepang feodal, ikut menenggelamkan provinsi-provinsi yang membagi wilayah Jepang saat itu. Mereka semua dirombak menjadi unit-unit yurisdiksi yang kemudian dikenal sebagai "prefektur". Istilah yang digunakan juga mengalami perubahan, karena batas-batas wilayah prefektur baru dengan provinsi lama tidak sepenuhnya sama, sekaligus mengubah sistem provinsial yang lebih "demokratis" ke sistem prefektural yang lebih "terpusat". ('Prefek' atau pemimpin suatu prefektur ditunjuk oleh pemerintah pusat.)

Perubahan ini agaknya juga dimanfaatkan untuk menegaskan peralihan sistem lama yang feodal ke sistem baru yang terpusat, dengan harapan bibit-bibit feodalisme yang telah ditumpas tidak kembali bertumbuh menjadi duri dalam daging pemerintahan Jepang baru di era Meiji. (Lebih lanjut bisa baca isi laman ini.)

Maka, sejak 1871, Jepang kembali menjadi negara kekaisaran de facto, setelah berabad-abad dikendalikan oleh keluarga shōgun. Di bawah pimpinan Kaisar Meiji, yang saat itu berusia 19 tahun, pemerintahan negara dipusatkan pada ibukota baru di timur (kini dikenal sebagai Tokyo), dan Jepang bersiap membangun diri menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia di awal abad ke-20.

"Sembilan Bangsa" sendiri merujuk pada Kyushu (九州), nama yang merujuk pada sembilan provinsi pada pulau utama paling selatan Jepang. (Kini kesembilan provinsi tersebut telah dirombak menjadi tujuh prefektur.)
Boleh saja protes, dengan melampirkan informasi tentang bagaimana shū 州 biasa diterjemahkan sebagai "provinsi"; sayangnya, provinsi-provinsi Jepang di masa lalu dilabeli sebagai 国 "koku", yang kini secara harfiah bermakna "negara".
Akhirnya saya memutuskan untuk memakai istilah "bangsa"; selain definisi "bangsa" yang terkadang kabur dalam bahasa Indonesia, tentu saja karena alasan rima.

Sembilan bangsa
Tinggalah tujuh tersisa
Dijumpa dua di luarnya
Tinggalah menjelma nyata


Berbaris-baris abstraksi sejarah mungkin membuat sebagian dari kita pusing, tetapi agaknya ragam kontur muka Bumi tak pernah lekang dari keingintahuan manusia yang menjejakinya. Pun jua diri saya, yang memutuskan untuk membelanjakan dana, tenaga dan cita untuk kembali melanglang buana. Salah satu program perjalanan yang paling lama, juga (agaknya) paling ambisius, lebih dari empat ribu kilometer saya habiskan dalam perjalanan selama dua belas hari, semua mengandalkan moda transportasi umum.

Akhir kata, berhubung satu gambar mewakili (dan lebih enak dipandang dari) deretan kata, maka saya akan menyudahi segala ocehan saya, dan segera memamerkan hasil jepretan dalam galeri di bawah.
Selamat menikmati.

Belasan jam, ratusan kilometer, sekian senti tumpuk salju
Saya akan sebut ini.... Persiapan yang matang. YEEEEAAAAAAAAHH
Sungai Shinano, terpanjang se-Jepun
Matahari terbenam dari wilayah Toyama-ken
Suatu pagi di Okayama
Beppu dari kompleks APU
Pinggir kaldera Aso

Musim semi telah tiba... di Kumamoto
Sakurajima dari Kagoshima
Gelegak abu letusan
Yunohira, Sakurajima
Sebuah senja di pantai Sakurajima
Bebungaan dan perkotaan
Shirakawa, Kumamoto
Matahari senja, Unzen, Ariake, burung camar
Hiroshima, sisi barat
2015, rusa pun ikutan narsis
Genbaku Dome dalam masa pemeliharaan berkala
Matahari terbit dari daerah Kanto utara
Matahari, pepohonan, langit Fukushima-ken
Lanjutkan baca »

Selasa, 10 Maret 2015

Article#397 - Remedi

Cold and frosty morning, there's not a lot to say
About the things caught in my mind

Selembar kertas di tangannya itu memandanginya bisu.
Tidak banyak memang, tinta yang tertera padanya. Hanya corak-corak kecil di sana sini, yang bersatu memberitahukan sang pembaca akan informasi yang diperlukan bagi keberangkatan. Waktu, pintu keberangkatan, tempat duduk, dan lainnya. Tetapi di benak penggenggam lembaran kertas tersebut saat itu, lembar kertas itu mewakili salah satu keputusan terpenting yang pernah ia buat.

Faira menghela nafas. Tiga puluh menit menjelang.

Bandar pada fajar hari itu tetap ramai, disesaki beragam rupa manusia dari beragam penjuru dunia. Salah satu pojok kota yang tak pernah terlelap, bandar tersebut telah demikian terbiasa mendengarkan celoteh yang bergaung di tiap selasarnya sejak ia berdiri, lebih dari tiga puluh tahun yang lalu. Dari terpaan hujan badai, luapan air banjir, hingga udara beku musim dingin, bandar yang satu ini telah menjadi rumah sementara bagi demikian banyak orang yang tersandera oleh beragam hal, mulai dari bencana alam hingga gagal mendapat kloter transportasi terakhir. Ada beberapa orang yang mencoba menyelinap di balik keleluasaan yang diberikan pengelola bandar, dan menjadikan karpet bandar yang nyaman sebagai tempat tinggal mereka dalam beberapa masa.
Salah satunya sedang bersitegang dengan satuan pengamanan bandar, dengan hiruk-pikuk yang cukup untuk menggetarkan timpani telinga mereka yang masih terkantuk-kantuk pagi itu.
Hingga suara keributan itu, bersama bersit pertama sinar matahari pagi itu, menerpa Faira.

Faira terjaga, tiada tampak kantuk di raut wajahnya.
Malam sebelumnya telah menjadi malam yang panjang. Persiapan disertasi telah lama terbiar berlarut, dan ketika Faira pulang dari kampus sepuluh jam sebelumnya, sang profesor yang memberinya izin pulang sejenak, tidak menyiratkan apa-apa. Dua jam selanjutnya terpakai untuk mengepak barang bawaan, dan ketika Faira telah merasa cukup senggang, kedua jarum hampir bersatu menunjuk langit. Tetapi larutnya waktu tidak menghentikan datangnya email dari sang profesor, yang meminta hasil revisi disertasi terkirim sebelum tengah hari berikutnya menjelang.

Jam-jam berikutnya adalah pertarungan sengit Faira, mengatasi kantuk dan kepala yang teraduk-aduk oleh segala macam pernak-pernik penelitiannya. Disusul pertarungan sengit dengan waktu yang terus berjalan, juga transportasi pagi buta yang demikian langka, tidak ada rayuan pulau kapuk yang tergubris di malam itu.
Maka, ketika tiba waktunya bagi Faira untuk bertolak, wajar untuk berpikir ia akan berjalan dengan rasa kantuk tak tertahankan.
Tetapi tiada tampak isyarat kantuk dari raut wajahnya.

Dengan langkah-langkah yang terdengar mantap, Faira berjalan menuju pemberangkatan.

And as the day was dawning, my plane flew away
With all the things caught in my mind

Garbarata yang mengulur menghubungkan penumpang menuju keberangkatan, agaknya tak mampu membendung serbuan angin membeku yang berhembus dari balik dindingnya. Sesekali, layar monitor yang terpasang di tiap persimpangan garbarata ikut menyertakan informasi akan kondisi dunia di luar sana. Pagi itu, ia menyebutkan temperatur udara sebesar minus dua belas derajat; suhu yang dapat menjelaskan dengan baik lansekap bersaput putih yang terhampar sejauh mata memandang dari dalam garbarata.
Angin yang berhembus membuat beberapa bagian garbarata menderukan lolongan pagi harinya. Lolongan membekukan yang tak digubris oleh langkah-langkah cepat mereka yang bergagas, menuju tiap-tiap wahana pemberangkatan.

Faira yang lebih sigap berjalan menuju wahana, segera melaju ke arah tempat duduknya. Setelah menjejalkan tas punggung ke dalam ruang bagasi, Faira menduduki bangkunya dengan helaan nafas berat.
Ia mencoba memejamkan mata, memaklumi kondisinya yang sudah lelah. Tetapi tubuhnya tak jua mau mengalah. Tidak juga segala panduan yang disalurkan speaker membuat usahanya sedikitpun lebih mudah.

Dalam persiapan lepas landas, Faira membuka buku agendanya. Masih tertera jadwal yang dicanangkan untuk hari itu pada kalender buku agendanya, deretan kata yang kemudian menerima sebuah coretan tegas dan panjang. Setiap dari mereka.
Perjalanannya pagi itu, perjalanan yang diputuskan hanya sepekan sebelumnya, terbukti telah menggusur banyak urusan yang makin memadat di bulan-bulan terakhir masa studinya. Tetapi, tidak ada pilihan lain selain pulang saat ini juga.

Faira menutup buku agenda tersebut. Buku agenda tersebut, yang sampulnya sudah mulai lusuh dimakan usia, berhiaskan sebuah foto yang dijahit padanya. Foto seorang wanita muda, menggendong anak gadis kecil yang tampak tersenyum bangga. Wanita yang permintaannya ia tolak beberapa bulan sebelumnya karena kesibukan bulan-bulan terakhirnya yang luar biasa, kini menjadi satu-satunya alasan akan kepulangan yang mendadak ini. Seorang wanita kuat, yang wajah tegarnya mendadak melemah dan mengabur dalam pandangan Faira.

"Maafkan aku, Bu.."

Isak tangis Faira di pagi itu tenggelam oleh deru mesin yang mulai membawanya melaju. Meninggalkan kota yang bersaput salju dalam bebayang putih dan kelabu.

Pesawat itu terus melaju, menggetarkan setiap kalbu.
Menjalin tenggat akan masa depan yang tak menahu.

Me and you - what's going on?
All we seem to know is how to show
The feelings that are wrong

sumber gambar
Lanjutkan baca »

Minggu, 08 Maret 2015

Article#396 - Peripheri

Aku menapak tepi perjalanan
Berlandaskan pepasir hampa
Mereka jengah tersapu ombak
Sebagaimana kita di depan cobaan
Tetapi mereka tetap bertahan
Tergulingkan oleh setiap deburan
Untuk teraduk kembali ke muka
Menyapa sahabat lama

Aku berdiri di tepi negeri
Berhias berbatu gerigi
Bersemedikan semilir sepi
Menghuni seisi sanubari
Cakrawala tak tampak bertepi
Samudera tiada kentara berakhir
Juga bentang tabir langit
Yang tak jua mengilhami

Aku menatap tepi kenangan
Mendaki dari sela ingatan
Bernafaskan kedahsyatan lama
Terukir di tiap keping batuan
Gundah bergetar perlahan
Menyerukan masa depan
Yang datangnya tak terelak
Yang padanya kita berharap cemas

Aku menuju tepi sendiri
Berpisah dengan kerumun ramai
Membelakangi figur tinggi
Ia yang tumbuh dari tanah ini
Menyemai di setiap sisi
Merasa diri mendekati langit
Tangan yang terulur menggapai
Menyentuh tanpa pernah sampai

Aku terduduk di tepi lautan
Sunyi ditaburi debur awan
Ditiup oleh arakan samudera
Dihembus angin dan menyibak
Maka ketika pasang menerjang
Kedua tapak dibiar tergenang
Berhias binar sinar surya
Kita bersua sepanjang masa

Aku merajut tepi hari
Atau kupikir itulah yang terjadi
Ketika semburat senja menari
Indah tanpa perlu pelangi
Bahkan awan tampak menggamit
Tirai yang perlahan pergi
Saat surya akhirnya pamit
Untuk bersinar di lain hari

Hari 7272, menemani akhir hari.
Ahad, 8 Maret 2015, 18:11 (UT+9)
31°35'26.90"N, 130°35'33.55"E
Lanjutkan baca »

Sabtu, 07 Maret 2015

Article#395 - Di Langit Berjaya, Di Darat Buaya

[apdet terakhir pada 7 April 2015, 00:18 (UT+9)]

Kiprah saya dalam berurusan dengan topik yang serupa dengan topik dalam tulisan ini, adalah ketika saya iseng mengumpulkan beragam bentuk puisi dari beberapa latar belakang bidang studi pada akhir tahun 2012 lalu. Saat itu, yang saya lakukan sebenarnya hanyalah mengisengi orang yang mau-maunya mengunjungi laman belog saya, dengan dosis gombal kelewat batas yang saya comot dari sekujur internet. Puisi-puisi terkait pun berisikan untaian kata gombal dari sudut pandang beragam bidang studi, memberikan gambaran akan seorang ahli dalam bidang terkait yang sedang jatuh cinta. Ada matematika, fisika, biologi, kimia, juga pemrograman.

Tentu saja, beberapa kawan saya agaknya cukup "terusik" hingga mau repot-repot memberikan komentar bagi kompilasi susunan saya tersebut. Tapi dasar lupa karma, saya pun terlalu asyik menertawakan (dan tertawa bersama) kompilasi tersebut, hingga salah satu kawan menodong saya untuk membuat gombalan serupa versi astronomi.

Wahduh. Bagaimana caranya?

Bukan soal kekurangan bahan. Astronomi, dengan lingkupnya yang jauh melampaui molekul-molekul nafas penduduk Bumi, tentu menawarkan kesempatan demikian luas bagi para pujangga karbitan yang ingin membuat kagum pujaan hatinya. Bintang-bintang yang biasa kita tatap di malam hari saja sudah lebih dari cukup untuk dijadikan bahan gombalan, apalagi ketika kita menjelajah lebih jauh, bersama menyusuri gelap malam. (Ini pun sudah terdengar seperti sedang menggombal, kan?)
Saya pun termasuk sekian orang yang cukup beruntung mendapat kesempatan mengarungi dunia astronomi sekian lama, sehingga saya bisa dengan pongah mengatakan jika saya punya akses luas pada potensi gombalan yang luar biasa ini.

Masalahnya sederhana saja: Saya kekurangan jam terbang.

Mungkin, terlalu asyik melarutkan diri dalam menyusuri tiap jengkal langit lewat ensiklopedi membuat saya kurang canggih. Tidak handal merangkai gombalan demi gombalan. Seperti kata orang, bisa karena biasa dibisa-bisain. Maka yang saya perlukan untuk menyusun kumpulan gombalan adalah meningkatkan jam terbang. Bagaimana? Mempraktekkan gombalan ke orang-orang? Mengingat konsekuensi yang terjadi, yaitu beban moral yang mungkin harus saya pertanggungjawabkan nantinya, agaknya ini bukan solusi yang bijak. (pfft)

Solusi sederhana yang kemudian terpikirkan, adalah belajar dari orang-orang di sekitar saya. Apa daya, di sekitar saya justru populasi tunaasmara masih bergeletakan. Kenalan saya rata-rata masih usia mahasiswa sarjana, sih. Atau, kalau mengutip kata-kata salah satu profesor astronomi ITB, "mahasiswa cacat asmara".
Maka, saya perlahan mengakrabi beragam orang yang usianya terpaut beberapa tahun di atas saya, untuk (pff) bersilaturahmi dan membangun jaringan pertemanan yang saya yakini akan berguna di masa depan (pff).
Tentu saja, pada akhirnya saya jamak mengamati bagaimana mereka berinteraksi dengan kenalannya, juga mempelajari gaya menggombal sesuai tipe incaran, juga tips dan trik menggombal dari mereka.

.....dan pada akhirnya saya malah melupakan usaha menyusun kompilasi gombalan astro ini.

Maka, alangkah beruntungnya saya yang malas ini, manakala salah seorang kenalan saya di dunia astronomi memutuskan untuk menggelar "perang" gombalan, akhir Mei 2014 lalu. Berkumpullah beberapa orang, yang secara demografis hampir semua terhimpun (atau terkait) dengan keluarga besar Prodi Astronomi ITB. Populasi yang menonjol terutama adalah mahasiswa/i Astronomi ITB angkatan 2008, yang pada Mei 2014 secara umum sudah menamatkan pembelajaran di bidang sarjana. Mereka juga terhimpun dalam golongan usia di mana interaksi dalam tingkatan serius dengan lawan jenis lebih jamak dibicarakan.

Tentu saja, saya tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan meraup sebotol besar dan sebungkus pacar kuaci, saya menyaksikan dengan takzim, bagaimana para "mahasiswa cacat asmara" berjibaku, mempertandingkan "gombalan" mereka di "medan perang".

Berikut adalah TKP (hanya bisa diakses oleh mereka yang 'berhak'):
Dan berikut, saya kumpulkan "hasil jarahan perang" yang cenderung "dijagokan" oleh para kontestan dan penonton. Spesial, bagi kalian yang 'tidak berhak' untuk mengaksesnya secara langsung.
Selamat menikmati.

(DISCLAIMER; membaca kalimat-kalimat di bawah dapat menyebabkan muntah pelangi. Bacalah dan tanggung sendiri risikonya.)

"Kenapa ya ada Bulan? Mungkin untuk melindungi Bumi. Begitu pula adanya aku untukmu"

"Kamu ituh bintang buat aku. Walaupun kamu jauh, aku selalu pengen tau kamu lagi apa"

"Apa yang kita lihat saat ini semuanya adalah masa lalu. Tapi saat ku melihatmu, yang terlihat adalah masa depanku"

"Aku sama kamu tuh kayak bintang ganda yah. Bedanya, kalo bintang ganda di langit interaksinya lewat gravitasi, kalo kita lewat rasa cinta dan kasih sayang"

"Kalo hukum Kepler menjelaskan hubungan gerak planet, hubungan kita bisa dijelaskan seperti ini: Lintasan cinta berbentuk hati, dan kasih sayang ada di salah satu fokusnya"

"Kamu itu seperti dark matter; walau tak nampak dengan mata, tapi keberadaannya selalu terasa"

"Jika muon masih membutuhkan waktu untuk meluruh, rasanya tidak begitu untuk segera jatuh cinta padamu"

"Jika planet mirip Bumi dicari sebagai tempat yang layak dihuni manusia, aku cukup mencarimu dan memintamu untuk menghuni hatiku. Itu cukup untukku"

"Kamu tuh kayak spektrum yah, butuh beberapa kali usaha buat bisa cocok sama kamu"

"Einstein mampu menjelaskan bagaimana cahaya dibelokkan oleh keberadaan massa melalui Teori Relativitas Umum, namun beliau tidak dapat menjelaskan bagaimana perhatianku selalu dibelokkan ke arahmu"

"Jika mentari tiba-tiba hilang dari tempatnya, aku butuh waktu 8 menit 20 detik untuk menyadarinya. Tapi jika kau yg hilang dari hidupku, hatiku gulita saat itu juga"

"Aku bagaikan meteorit yang tertarik oleh gravitasi hatimu, dan kemudian terbakar oleh cintamu"

"You are the gravity, you hold me without touch, you keep me without chain, and you can always bring me back to you" (lagu Gravity)

"Perlu data dari Kurucz untuk tahu chemical abundance bintang, tapi untuk tahu chemistry antara kita, aku cukup perlu kamu"

"Jika tiap kangen kamu satu bintang di langit ilang, pasti langit malam akan gelap gulita"

"Bintang aja mau jatuh biar orang bisa seneng, begitu pula hatiku, bersedia jatuh untukmu"

"Bersamamu itu seperti berada di kutub utara pada tanggal 21 Juni, hari-hariku selalu benderang"

"Sebenernya ada untungnya kalau Higgs Boson tidak ada, karena cintaku padamu itu abadi dan tak perlu massa untuk diwujudkan"

"Tanggal 24 [Mei 2014] nanti akan ada meteor storm. Dan aku sudah menyiapkan satu permintaan yang kupanjatkan di setiap bintang yg jatuh: aku minta cintamu"

"Jika dari kabut antarbintang bisa terwujud ribuan bintang, bayangkan berapa banyak kasih yg terwujud dari kabut cintaku padamu"

"Janganlah eksentrisitasmu lebih dari satu, aku tak ingin berpisah denganmu"

"Malam ini langit bertabur bintang banyak sekali. Aku takkan memintamu memetik bintang untukku, aku hanya ingin menatap mereka di sini berdua denganmu selamanya"

"Bintang variabel boleh meredup, tetapi cintaku padamu selalu benderang sepanjang waktu"

"Cinta itu gaya fundamental ke-5, interaksinya tidak dibatasi oleh ruang-waktu dan terjadi secara spontan" [Ridlo (2007)]

"Jika kita semua berasal dari sisa bintang, pasti kamu berasal dari bintang paling terang di semesta"

"Kalau di langit hanya ada satu Bulan, di hatiku hanya ada kamu satu-satunya"

"Para ilmuwan sudah bisa menjelaskan konsep ruang-waktu dengan baik, namun sayang mereka belum bisa menjelaskan ruang-rinduku padamu"

"Einstein ternyata salah karena waktu berlalu cepat saat aku berjalan bersamamu" #EdisiRelativitasKhusus

"Persetan dengan akurasi saintifik gombalan astro, karena keindahanmu mematikan logika"

"Tidak peduli berapa banyak alam semesta yang kamu yakini ada, aku berani pastikan ada aku untukmu di setiapnya" #MultiverseEdition

"Aku dan kamu bagaikan bintang ganda: dekat dan cinta kita saling menghangatkan satu sama lain"

"Sepanas-panasnya inti bintang, lebih panas api cintaku padamu"

"Peneliti eksoplanet berusaha untuk mencari kehidupan di luar Bumi, tapi diriku mencari dirimu untuk melanjutkan kehidupan"

"Asteroid aja bisa terbakar saat mau mendekat ke Bumi, apalagi aku yang terbakar cinta di dekatmu"

"Diriku bagaikan komet, sejauh apapun aku pergi, aku rela menyebrangi Tata Surya ini, hanya untuk kembali padamu, matahariku"

"Pusing juga belajar ketidakpastian Heisenberg, sudah ah belajar yang pasti-pasti aja, ya mikirin kamu." #gara2statistik

"Tidak perlu teropong untuk tau aku cinta kamu"

"Ribet yaah belajar persamaan Schrödinger. Tapi belajar mencintaimu ga seribet itu kok"

"Dahulu Tuhan menyematkan cincin ke planet Saturnus. Kini izinkan aku menyematkan cincin ini ke jari manismu"

"Kompas biasa menunjuk arah utara selatan, kompas hatiku menunjuk padamu"

"Gerhana bulan berwarna merah karena tersipu malu melihat kecantikanmu" #edisigerhana

"Kalau di dalam bintang ada fusi hidrogen, di dalam hatiku ada fusi aku dan kamu"

"Tau gak bedanya persamaan Saha dengan kamu? Kalo persamaan Saha susah diingat, tapi kamu susah dilupakan"
Saya ucapkan selamat bagi kalian yang berhasil bertahan hingga mencapai bagian imi.
Dan tentu saja, perjalanan masih belum selesai.
Seperti biasa, dalam beragam bentuk gombal, harus ada bentuk percakapan. Sayangnya saya hanya punya dua sampel ini.
A: Zodiakmu sagitarius ya?
B: Kok tau?
A: karena hatiku telah terkena panah asmaramu

A: Setelah kenal kamu, aku ga nyesel kok nggak kuliah astronomi.
B: Lho? Kenapa emangnya?
A: Soalnya semua yang aku pelajari sudah ada di mata kamu
Belum puas? Bagian yang ini agaknya tidak begitu "astronomis". Tetapi ilmu pengetahuan kan saling berkaitan. Tak apa ya.
Hukum I Newton:
Cowok yang mencintai seorang cewek akan apel ke rumahnya secara terus menerus dan beraturan hingga ada gaya luar (bapak atau masnya si cewek) bekerja dan mematahkan kaki si cowok.
Hukum II Newton:
Laju perubahan intensitas cinta seorang cewek terhadap cowok berbanding lurus dengan saldo tabungan si cowok di bank.
Hukum III Newton:
Gaya yang dikeluarkan cowok untuk nembak cewek sama besar dan berlawanan dengan gaya yang dikeluarkan cewek buat nampar si cowok.

Hukum kekekalan cinta
Cinta tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, tapi hanya dapat dipindahkan dari satu cewek ke cewek lain.

Saya bisa memahami jika tidak semua orang berminat, atau kuat mempertahankan diri membaca sedemikian banyak kalimat berniat gombal dalam satu kesatuan. Maka bayangkanlah bagaimana nasib saya yang mengumpulkan segala kalimat di atas, pada tulisan ini. Biasa aja, sih.

Pada akhirnya, saya mungkin hanya akan mengucapkan terima kasih kepada para senior Astronomi ITB yang sudah rela meluangkan waktu untuk menyumbangkan khazanah gombalan yang demikian luas. Juga pada Prof. Dr. Suhardja D. Wiramihardja yang memberikan kedua istilah menarik di tulisan ini, salah satunya diadaptasi menjadi judul tulisan ini. (Walaupun sesiapa yang memasukkan judul dalam mesin pencari mungkin akan menemukan ungkapan serupa yang dipopulerkan banyak orang, salah satunya Pidi Baiq.)

Kenapa saya memutuskan untuk bicara demikian? Karena saya sudah demikian sepicles, setelah menilas balik segala macam kalimat di atas.

Dengan demikian, saya akan undur diri dulu. Mohon maaf atas segala mual pelangi yang ditimbulkan.
Sampai jumpa.

Lanjutkan baca »

Rabu, 04 Maret 2015

Article#394 - Kutipan Hari Ini

“Every person you look at; you can see the universe in their eyes, if you're really looking.”

~quoted from the words of George Denis Patrick Carlin (1937-2008), American comedian, social critic, actor, and author.
Quoted at Tuesday, 3rd March, 2015, 12:13 (UT+9).

Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...