Kamis, 29 Januari 2015

Article#383 - Mengejar Matahari

Derap kereta tanpa lelah berkumandang sepanjang perjalanan. 
Meraja di tengah kesunyian hampar sawah, angin yang menghembus rerumputan kering pun tak digubrisnya. Tak pula awan yang menghampar tiba-tiba, menghamburkan kristal salju sepanjang perjalanan. 
Ia terus berderap. Derap yang terjaga, dengan perhentian yang berkesinambungan. Sebagaimana tapak-tapak yang mungkin merajai daerah ini ratusan tahun sebelumnya. 

Tapak boleh berganti derap, sebagaimana dataran yang tak terjamah kini menjadi hamparan sawah dan rumah. Tetapi agaknya tanah yang menggeliat dalam diam di bawahnya, tempat pijakan mereka semua, masihlah tanah yang sama.
Bahkan, Matahari yang tampak beredar di balik arakan awan, masihlah Matahari yang sama.


***
Aobayama, Sendai. 11 Desember 2014, 12:22 (UT+9).
Di sini ada satu kisah
Cerita tentang anak manusia
Menantang hidup bersama
Mencoba menggali makna cinta

Kita agaknya telah terbiasa mengakrabi sang surya. Entah dengan cara berkalang terik panasnya setiap siang, atau memandanginya dalam tiap fajar dan senja. Ada yang menikmati perubahan semunya dari semburat fajar hingga temaram senja. Atau mungkin dengan memperhatikan bagaimana cuaca berubah, mengelola kadar sinar yang tercurahkan.
Saking akrabnya, bahkan kita tanpa sadar menempatkan keberadaannya dalam alam bawah sadar. Peredaraannya dari ufuk timur ke ufuk barat dalam keseharian, terpaan sinarnya yang menyilaukan kedua mata, menjadi bagian tak terpisahkan bagi sekian miliar umat manusia.

Kita biasa berinteraksi dalam banyak hal. Berinteraksi dalam sedemikian banyak hal yang serupa dalam waktu lama, mungkin akan membuat kita terbiasa dengan rutinitas yang ditimbulkannya.
Ada yang kemudian menjadikannya sebagai pangkal kejenuhan, yang pada giliran mendorong bergulirnya perombakan secara berkala,
Ada yang kemudian menjadikannya sebagai sesuatu yang 'biasa', kehilangan makna karena demikian sering dijumpa.
Ada yang kemudian menjadikannya sebagai pangkal perenungan, atas bergulirnya keseharian dalam konsistensi yang ketat bertahan.
Ada entah berapa banyak skenario lainnya.

Memilih untuk bosan akan sinar Matahari agaknya tidak begitu mudah, apalagi bagi orang Indonesia yang secara umum senang bersosialisasi. Masa' saya harus pergi ke luar Tata Surya? Bekasi aja susah.
Maka, ketika kita terbiasa disoroti sinar mentari, agaknya banyak di antara kita yang memilih untuk menjadikannya sesuatu yang biasa. Mereka tatap langit, silau, oh iya lagi cerah, panas ya hari ini. Penunjuk waktu yang telah tergelang dalam arloji mereka, atau tergeletak dalam layar-layar gawai dalam kantong mereka, kian merenggut peran penting sang surya dalam keseharian masyarakat. Di samping tiap-tiap kita (atau mereka) yang biasa memantau pergerakannya untuk waktu ibadah, mereka yang tidak berkesempatan mengakrabi layar kaca di zaman dahulu hanya memiliki Matahari, juga Bulan, sebagai penunjuk waktu.

Sebagaimana kata orang, kita memang terbiasa memandang sebelah mata akan apa yang menjadi keseharian. Melihat arakan awan dan menganggapnya biasa. Melihat berkembangnya tumbuhan dan menganggapnya biasa. Merasakan deru angin dan menganggapnya biasa. Merasakan bergulirnya kehidupan dan menganggapnya biasa. Merasakan hangat sinar mentari dan menganggapnya biasa.
Kenapa kata 'biasa' jadi terdengar membosankan, ya? 

Entahlah, saya tidak yakin.

Maka kemudian sebagian dari kita memilih untuk memperbarui beragam 'kebiasaan' yang ada.
Mengamati sinar mentari dalam mata yang berbinar penuh kekaguman.
Mengejar mentari hingga sampai ke haribaannya di ufuk senja.
Dan entah kemungkinan lain macam apa.

Tetes air mata
Mengalir di sela derai tawa
Selamanya kita tak akan berhenti mengejar
Terus mengejar
Matahari

Aobayama, Sendai. 24 Oktober 2012, 09:59 (UT+9).
Kawauchi, Sendai. 26 Oktober 2012, 14:45 (UT+9).
Kawauchi, Sendai. 29 Oktober 2012, 16:02 (UT+9).
Komegafukuro, Sendai. 31 Oktober 2012, 15:18 (UT+9).
Kawauchi, Sendai. 8 November 2012, 12:58 (UT+9).
Nishi Koen, Sendai. 9 Januari 2013, 15:16 (UT+9).
Kita-ku, Sapporo. 12 Februari 2013, 07:05 (UT+9).
Sapporo Dome, Hitsujigaoka, Sapporo. 12 Februari 2013, 08:01 (UT+9).

Meijo Koen, Nagoya. 30 Maret 2013, 15:14 (UT+9).
Sanjomachi, Sendai. 17 Oktober 2013, 06:18 (UT+9).
Sanjomachi, Sendai. 27 November 2013, 15:47 (UT+9).
Sanjomachi, Sendai. 14 Desember 2013, 07:22 (UT+9).
Komegafukuro, Sendai. 27 Januari 2014, 16:22 (UT+9).
AER Sendai. 13 April 2014, 15:43 (UT+9).

Pantai, Miyagino-ku, Sendai. 17 Mei 2014, 16:06 (UT+9).
Sanjomachi, Sendai. 11 Juli 2014, 18:55 (UT+9).
Nishi Koen, Sendai. 1 Agustus 2014, 18:10 (UT+9).
Fujisan. 3 Agustus 2014, 04:46-05:02 (UT+9).
Kelapa Dua, Tangerang. 17 September 2014, 06:07 (UT+7).

Pogung Lor, Sinduadi, Sleman, DI Yogyakarta. 21 September 2014, 16:45 (UT+7).

AirAsia D7546, Laut Filipina. 27 September 2014, 05:15 (UT+8).
Sanjomachi, Sendai. 14 Oktober 2014, 08:03 (UT+9).
Tohoku Honsen, Nagamachi, Sendai. 27 Desember 2014, 07:14 (UT+9).
Tokaido Honsen, Toyohashi. 1 Januari 2015, 15:55 (UT+9).

6 komentar:

  1. Produktif banget sih kak. Nggak sabar nunggu jadi buku, hha~

    BalasHapus
  2. Kalo Gian nulis buku, entar saya harus dapat yang ada tanda tanganya :D - Rhea -

    BalasHapus
  3. Halah, n nya kurang satu :v maksudnya tanda tangannya lol - Rhea -

    BalasHapus
  4. Wokeh wokeh, mari kita lihat bagaimana jadinya nanti. Hahaha

    BalasHapus
  5. Asyiiik, gratis ya *ngelunjak :v

    J/K

    wokeh, ditunggu yaaaa, jangan pake lama :v - Rhea -

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak pake lama berarti pake bayar, ya? :v

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...