Sabtu, 30 November 2013

Article#238 - Komet Yang Bertahan Dan Tidak Bertahan Hidup..?

[Bagian awal ini pertama diketik pada 29 November 2013, 21:48 UT.]
Judul yang penulis bubuhkan untuk tulisan kali ini memanfaatkan referensi dari dua topik yang tidak begitu terkait antar satu sama lain; meskipun begitu, keduanya cukup terkenal dalam ranah mereka masing-masing. Pembaca sekalian, terutama yang pernah berurusan dengan fisika kuantum walaupun sedikit, mungkin pernah mendapati kasus eksperimen imajinatif terkenal yang diberi tajuk Kucing Schrödinger. Kucing malang ini, sayang sekali, diberitakan berada dalam kondisi hidup dan mati sekaligus. Kok bisa? Sila simak tulisan ini dan ini untuk detail lebih lanjut.
Sementara pembaca yang lain, yang menggemari dunia novel fiksi, pasti mengenali tajuk "Anak Yang Bertahan Hidup", yang disematkan kepada tokoh utama sebuah serial novel dengan rekor penjualan tertinggi sepanjang sejarah dunia. (Konon katanya, total jumlah buku yang terjual hanya kalah oleh penjualan kitab suci.)

Meskipun demikian, penulis tidak akan membahas kucing yang malang itu; ataupun anak yang bertahan hidup. Paling tidak, tidak membahas keduanya secara eksplisit.

Sesuai dengan judul, tulisan ini akan membahas sebuah komet. Sebuah komet yang, hingga saat kata demi kata di paragraf ini diketik, belum jelas nasibnya. Sebagian mengatakan bahwa komet ini selamat sekaligus tidak selamat dari terjangan energi Matahari; selamat dalam artian ia berhasil melewati perihelion, dan tidak selamat dalam artian ia menderita 'luka-luka' yang cukup parah (dan juga terhancurkan) akibat kenekatannya mendekati Matahari.
Apakah ia akan menjadi "Anak Yang Bertahan Hidup" dengan lolos dari Matahari sebagai komet, atau mati sebagai sisa-sisa dari batu es kotor yang sempat disebut sebagai "komet abad ini" ini, baru akan terjawab setelah para astronom berhasil menangkap citra sang komet—atau jasadnya—paling tidak dalam 1-2 hari ke depan.
Silakan sabar menunggu, dan salah satu cara menunggu yang baik mungkin adalah mendalami ceritanya dalam tulisan di bawah.
Selamat berpetualang.

[Laporan terbaru, 2 Desember 2013, 14:41 UT]
Komet ini resmi dinyatakan menutup lembar ceritanya. Meskipun begitu, komet ini telah mencatat posisi spesialnya tersendiri, sebagai salah satu komet yang paling banyak diamati sepanjang sejarah. Publikasi luas akan sang komet terjadi berkat komunitas astronomi global yang setia menyebar informasinya.
Dan pada akhirnya, komunitas ilmiah (termasuk para astronom) tidak begitu banyak 'dirugikan' dengan hancurnya sang komet, karena berbagai kejutan yang terjadi selama perjalanannya pun menyisakan banyak data dan teka teki untuk dipelajari.
Seperti diutarakan oleh Lisa Winter, "It’s basically a win for science no matter what the outcome."

Jangan langsung putus asa, sila simak ceritanya berikut ini.
Sila klik gambar jika ingin melihatnya dalam dimensi yang lebih besar.

*****

Komet C/2012 S1 "ISON", sebagaimana dipotret oleh astronom amatir Jerman, Waldemar Skorupa.
Foto diambil dari Kahler Asten, Jerman, pada 16 November 2013.

Ketika dua orang astronom amatir ini, Vitali Nevski (asal Vitebsk, Belarus) dan Artyom Novichonok (asal Kondopoga, Rusia), mengurusi hasil olah citra dari teleskop di Kislovodsk (wilayah Kaukasia Utara, Rusia), mereka mungkin tidak menyangka akan menemukan sebuah objek yang belum pernah tercatat sebelumnya.
Citraan awal si tokoh utama dalam tulisan kali ini.
Gambar disertakan bersama spesifikasinya.
Objek ini, saat ditemukan pada 21 September 2012, hanya memiliki kecerlangan 0,4% dari kecerlangan si 'mantan planet' Pluto, tetapi dapat diamati dengan baik oleh teleskop mereka yang berdiameter 40 cm.

Astronom lain yang langsung bersemangat segera mengarahkan tabung teleskop mereka ke arah yang sebelumnya diindikasikan sang duet astronom, untuk kemudian menemukan objek samar yang sama. Objek ini, 'sebongkah' batu dan es ini, saat ditemukan, masih menempuh sepinya kebekuan Tata Surya luar pada jarak hampir 1 miliar kilometer dari Matahari, lebih dari 6 kali jarak Bumi-Matahari. Ini mengisyaratkan posisi antara orbit Jupiter dan Saturnus, dan sebuah objek batu serta es yang sudah bisa teramati pada jarak sejauh ini tentunya adalah sebuah objek yang patut diperhitungkan. Apalagi, belakangan diketahui pula bahwa objek ini telah terekam dalam citra dari Observatorium Mt. Lemmon, Arizona pada 28 Desember 2011, dan kemudian oleh Teleskop Pan-STARRS 1 di Maui, Hawaii sekitar 1 bulan berselang, menjadikan ekspektasi astronom akan objek yang satu ini terus bertumbuh.
(Mungkin ada yang belum tahu, jika pada Februari-Maret 2013 lalu, sebuah komet yang ditemukan dengan teleskop Pan-STARRS mendatangi Matahari, dan menjadi objek fotografi yang cukup seru saat itu.)

Perhitungan lebih lanjut memberitahukan bahwa objek ini, bongkahan batu dan es ini, akan mendekati kediaman planet dalam di Tata Surya, dan mendekati Matahari pada jarak yang demikian dekat, kira-kira 1,1 juta kilometer dari permukaan Matahari pada titik terdekatnya, yang dilaluinya pada 28 November 2013, sekitar 18:38 UT (bertepatan dengan dengan 29 November, 01:38 WIB). Dengan demikian, ketika itu, diharapkan bongkahan batu dan es ini menjadi salah satu tontonan spektakuler pada akhir tahun 2013.
Untuk bagian berikut, akan diberikan tulisan sampingan, untuk sedikit menyelami tentang jati diri dan identitas sebuah komet.
Tunggu, kita tadi kan membicarakan sebuah 'bongkahan batu dan es'. Apakah bongkahan batu dan es ini sama dengan 'komet' yang baru saja disebutkan?
Ya, betul sekali. Komet sendiri adalah sebuah bongkahan batu dan es, yang berbeda dengan bongkahan 'biasa', karena seiring perjalanannya mendekati Matahari, bongkahan yang satu ini akan meletupkan material yang terkandung di dalamnya. Seringnya sih, uap air dan karbon monoksida. Peletupan material (gas yang ditemani debu) ini terjadi akibat pertemuan antara si bongkah batu dengan energi radiasi Matahari, dengan sebagian dari radiasi ini datang dalam bentuk yang namanya lebih sering kita dengar, "angin Matahari".

Bongkahan batu dan es ini sendiri sangat kecil–besarnya jarang mencapai lebih dari 20 kilometer–tetapi, berkat gas dan debu yang ia letupkan, ia bisa terlihat begitu besar dan cerah. Komet sendiri menjadi satu-satunya jenis benda langit Tata Surya selain Matahari, Bulan dan planet-planet, yang 'dalam kondisi tertentu' bisa diamati dengan mudah hanya bermodalkan mata.

Ilustrasi kasar tiga bagian utama komet. Dalam kenyataan,
sebuah komet bisa lebih kompleks dari gambaran
sederhana ini. sumber
Sebagaimana dicitrakan dalam ilustrasi di sebelah kiri, bagian yang disebut "coma" adalah daerah dimana letupan gas dan debu membentuk 'kepala' dari komet terkait, karena arah letupan tidak begitu kuat dipengaruhi angin Matahari. Bagian yang disebut nucleus (inti) adalah apa yang aslinya kita sebut sebagai 'bongkah batu dan es' di bagian sebelumnya. (Ia juga dikenal dengan sebutan bongkah salju kotor.) Sementara bagian yang disebut tail (ekor) adalah hasil gas dan debu yang sebelumnya terletup, dan kemudian terhembus oleh angin Matahari.
(Ilustrasi di samping menggambarkan banyak garis untuk bagian 'ekor', menyiratkan bahwa satu ekor terbentuk dari banyak letupan gas dan debu; juga menyiratkan bahwa satu komet bisa memiliki lebih dari satu ekor. Selebihnya, sila kunjungi dokumen ini.)

Analogi yang lebih mudah dalam membayangkan struktur komet mungkin bisa didekati dengan bendera yang berkibar di dekat lapangan upacara. Ketika angin berhembus kencang, sisi bendera yang terikat pada tiang akan tetap terikat pada tiang, sementara sisi yang tidak terikat pada tiang akan berkibar mengikuti hembus angin. Di analogi ini, hembus angin mewakili angin Matahari, sisi yang terikat ke tiang mewakili koma/kepala komet, dan bagian yang tidak terikat mewakili ekor.

Yey, kita sudah berkenalan dengan komet. Dan kita menemukan komet baru.
Sekarang yang harus dilakukan adalah menamainya. Nama adalah doa, karenanya kita harus memberi nama yang bagus. Dan dalam ranah ilmiah, sebagus-bagusnya nama adalah yang netral, tidak memihak kepada kelompok tertentu.
Perhitungan dari hasil pengamatan mengindikasikan bahwa komet ini bukanlah komet periodik. Artinya, jika ia patuh pada lintasan takdirnya kini, ia akan terlempar meninggalkan Tata Surya bagian dalam tanpa pernah kembali lagi. Untuk komet, sifat lintasan semacam ini akan memberinya nama depan C.
Lalu, kapan ia ditemukan? Komet baru kita ini ditemukan pada paruhan kedua September 2012. Penamaan untuk mengindikasikan tanggal penemuan menggunakan aturan awal bulan. Sebagaimana berikut, jika komet ditemukan pada:
  • 1-15 Januari, huruf A.
  • 16-31 Januari, huruf B.
  • 1-15 Februari, huruf C.
  • 16-28/29 Februari, huruf D.
  • 1-15 Maret, huruf E.
  • 16-31 Maret, huruf F.
  • 1-15 April, huruf G.
  • 16-30 April, huruf H.
  • 1-15 Mei, huruf J.
  • 16-31 Mei, huruf K.
  • 1-15 Juni, huruf L.
  • 16-30 Juni, huruf M.
  • 1-15 Juli, huruf N.
  • 16-31 Juli, huruf O.
  • 1-15 Agustus, huruf P.
  • 16-31 Agustus, huruf Q.
  • 1-15 September, huruf R.
  • 16-30 September, huruf S.
  • 1-15 Oktober, huruf T.
  • 16-30 Oktober, huruf U.
  • 1-15 November, huruf V.
  • 16-30 November, huruf W.
  • 1-15 Desember, huruf X.
  • 16-31 Desember, huruf Y.
Artinya, nama tengah bagi komet baru kita ini adalah 2012 S. Mungkin perlu diperhatikan bahwa, dalam penamaan, huruf I dan Z tidak dipakai. (Apakah karena bentuknya yang mirip dengan angka 1 dan 2?)
Sekarang, nama belakang komet. Supaya mudah, yang dipakai adalah urutan penemuan. Untuk paruh kedua bulan September, komet kita ini adalah komet yang pertama ditemukan. Maka supaya mudah, beri saja ia nama belakang 1.
Nah, akhirnya kita dapati nama lengkap komet kita, C/2012 S1. Ini disebut juga sebagai 'nama formal' komet, yang dinilai cukup netral untuk dipakai secara internasional.

Masalahnya, nama formal yang seperti ini bukanlah nama yang bisa dilafalkan dengan menyenangkan oleh orang-orang. Untuk ini, orang sejak dulu menggunakan 'nama populer', nama yang disematkan kepada komet dalam tulisan di media massa, atau tulisan seperti yang Anda sekalian baca saat ini.
Biasanya, yang paling adil adalah menyematkan nama sang penemu kepada komet temuannya. Contoh paling terkenal tentunya adalah komet Halley, yang disadari astronom Sir Edmund Halley sebagai objek yang mampir tiap 75-76 tahun sekali. (Walaupun sebenarnya Halley 'hanya' berperan menghitung periode orbitnya.)

Lalu, bagaimana dengan komet yang ini?
Tidak dapat dipungkiri, bahwa yang menyadari benda yang satu ini sebagai komet adalah Pak Nevski dan Pak Novichonok yang telah disebutkan namanya di awal cerita. Tetapi, berdasar pada ketetapan Kesatuan Astronomi Internasional (IAU), 'nama populer' komet ditetapkan memakai nama lembaga/individu pemilik peralatan teleskop. Teleskop yang mereka gunakan sendiri adalah salah satu dari 30 lebih teleskop milik sebuah proyek jaringan teleskop internasional, yang tersebar di 11 negara. Alhasil, proyek ini, yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai International Scientific Optical Network (ISON), mendonorkan namanya menjadi nama populer komet kita ini.

Untuk bagian selanjutnya, komet kita ini akan dipanggil komet ISON, atau sesekali dengan nama formalnya C/2012 S1. Harap waspada.
Mengingat posisi penemuan yang masih demikian jauh, astronom melakukan lagi serangkaian pengamatan akan komet ini (nggak bosen ya..? hehe), untuk memperkirakan, seperti apa kira-kira komet ini akan terlihat ketika sampai ke kediaman Matahari beserta planet-planet dalam. Menilik pergerakan komet ISON, diyakini bahwa ia berasal dari suatu daerah bernama Awan Oort, suatu daerah yang melingkupi bagian terluar Tata Surya, dimana jutaan, atau bahkan triliunan, bongkah-bongkah batu es sebesar beberapa kilometer berada. Bongkahan batu dan es pengisi Awan Oort sendiri diyakini sebagai sisa-sisa dari pembentukan Tata Surya kita sekitar 4,6 miliar tahun lalu, tak terkecuali komet ISON.

Karena seiring waktu, ISON terus melaju mendekati Matahari, maka energi dari Matahari yang menerjang ISON perlahan bertambah besar. Terjangan energi yang lebih besar membawa kepada pelepasan gas dan debu yang lebih banyak, atau dengan kata lain, ISON terus bertambah terang.
Astronom yang masih terselimuti antusiasme terus mengamai bagaimana komet ini bertambah terang. Dan sebuah kejutan kecil muncul dari hasil pengamatan pada Februari 2013: Jika komet ISON terus bertambah terang dengan laju yang tetap, maka pada pertemuannya dengan Matahari, ia akan mencapai kecerlangan melebihi Bulan purnama. Bahkan perhitungan paling optimistik memberikan perkiraan kecerlangan sampai 100 kali Bulan purnama. Hal ini (jika terjadi tentunya) tak pelak akan menjadikan ISON salah satu komet paling terang yang pernah diamati, jauh melebih kecerlangan komet Ikeya-Seki tahun 1965-66, yang kecerlangannya 'hanya' sekitar 12% dari Bulan purnama. Publikasi ini kemudian dikutip oleh beberapa media, memberikan julukan "Komet Abad Ini", sekaligus memantik ketertarikan publik akan komet yang satu ini.

Sayangnya, beberapa astronom yang sudah keburu antusias harus menelan kekecewaan sejenak. Sejak bulan Maret 2013, laju bertambah cerlangnya komet ISON perlahan menurun, hingga kemudian prediksi optimistis yang diceritakan sebelumnya harus direvisi; sang komet tidak akan melebihi cerlangnya Bulan purnama. Bahkan, skenario paling terang pun hanya memberikan angka kecerlangan satu persen dari Bulan purnama. Prediksi di kemudian hari menempatkan kecerlangan maksimum komet kita ini pada level yang setara dengan kecerlangan Venus si "bintang kejora".

Meskipun ekspektasi perlahan menurun, berkat bantuan media yang secara berkala mengungkit topik "komet abad ini"–julukan yang sesungguhnya, sejak pertengahan 2013 telah ditinggalkan oleh kalangan penggiat astronomi–animo publik akan sebuah komet cerah di penghujung tahun 2013 terus bertumbuh. (Jika prediksi semacam ini terjadi, katakanlah 2-4 abad ke belakang, justru akan banyak orang yang ketakutan.)

Sampai sejauh ini, komet kita cenderung sesuai dengan prediksi astronom sebelumnya. Maka, sering dicabutnya lembaran kalender satu persatu, komet C/2012 S1 terus meningkatkan embusan gasnya, memancing sorotan teleskop dari berbagai pengamat di Bumi mulai akhir September, ketika ia sudah cukup terang untuk bisa diamati dengan modal teleskop kecil. Ribuan data pengamatan ini bisa dikunjungi di situs Minor Planet Center dan situs International Comet Quarterly.

Foto jepretan Chris Schur dari Arizona, AS, pada 14 Oktober 2013.
Komet ISON terlihat sebagai cahaya samar kehijauan di sisi kiri gambar.
Mars (tengah) dan Regulus (kanan) juga terekam dalam foto ini.
sumber
Oktober 2013, komet makin terang, dan beberapa foto hasil jepretan astronom amatir pun mulai banyak beredar di internet. Perhatikan kata 'amatir'–dengan kata lain, siapapun yang tidak menekuni astronomi sebagai profesi/pekerjaan. Artinya, komet yang sebelumnya hanya diamati secara rutin oleh astronom 'profesional'–dengan kata lain, yang memang profesinya astronom–sekarang juga diamati oleh khalayak ramai. Juga, bisa dikatakan tidak mungkin astronom amatir akan beramai-ramai mengamati, menjepret, dan membagikan foto karya mereka, jika objek yang ditangkap tidak cukup 'menarik'. Dalam astronomi, 'menarik' seringkali merujuk ke kata 'terang', dan hal yang sama berlaku pula untuk komet ISON pada Oktober 2013.

Tetapi puncak utama dari cerita, tentu saja terjadi pada bulan November 2013, ketika ISON makin terang dan makin dekat ke ujian utamanya–perjalanan menembus atmosfer Matahari di akhir bulan.
Awal November, cerita masih berlanjut dari pengamatan oleh astronom amatir yang terus meningkat, seiring dengan publikasi media. Satu contoh menarik adalah publikasi sekitar dua pekan sebelumnya (18 Oktober), yang masih mengutip tajuk usang, "lebih terang dari Bulan purnama".
Tengah November, sekitar tanggal 13-14 November, komet ini menimbulkan kejutan dengan menayangkan lonjakan kecerlangan, sedemikian hingga ia bisa diamati dengan mata manusia. Lonjakan ini kemudian ditengarai sebagai hasil dari salah satu skenario berikut:

  • (i) Peletupan debu dan gas baru yang terbuka akibat aktivitas komet sebelumnya.
  • (ii) Inti komet terpecah, dan pecahan inti tidak terpisah cukup jauh dari induk inti komet.
  • (iii) Sebuah fenomena periodik yang belum jelas penyebabnya.
Jelas, dengan adanya lonjakan ini, makin banyak mata, kamera, dan alat optik lainnya diarahkan untuk memotret dan mengabadikan sang komet. Salah satu foto terbaik adalah foto yang dihadirkan di bagian awal tulisan ini.

Akhir November, dan saat yang dinanti-nanti tiba. Komet ISON yang sudah dilaporkan teramati di beberapa tempat tanpa alat bantu optis, bahkan pada siang hari ini, perlahan mendekati Matahari. Serangkaian instrumen wahana pengamat Matahari, terutama SOHO (Solar and Heliospheric Observatory) dan STEREO (Solar Terrestrial Relations Observatory) pun disiapkan untuk merekam saat-saat pertemuan 'panas' antara ISON dengan Matahari. 

Kompilasi rekaman dari kamera LASCO C3 milih wahana
SOHO. Interval sekitar 8 jam antar keping gambar.
Terlihat figur seperti jarum nampak melintang pada
citra komet ISON, sebagai tanda saturasi pada
sensor kamera akibat objek yang terlalu cerah.
Dikompilasi oleh penulis dari sini.
Komet nampak sehat pada gambar-gambar yang diambil pada 28 November pagi dalam UT (28 November sore-petang WIB), perlahan makin benderang hingga menyaingi terangnya bintang Antares yang saat itu juga berada pada medan pandang kamera SOHO.

Kejutan sekali lagi terjadi, sayangnya yang ini adalah kabar buruk bagi para pengamat.
Komet yang satu ini kemudian meredup secara cepat ketika ia terus mendekati titik terdekatnya dengan Matahari, nampak meluruh seperti debu yang terhembus angin.

Kekecewaan para pengamat lantas menyebar luas ketika para astronom yang mempublikasikan perkembangan komet mulai menyebar info tentang bagaimana sang komet tergerus dahsyatnya lingkungan di sekitar Matahari. Selain panas dan angin Matahari, yang diperkirakan menerjang komet dengan 2700 derajat Celsius, objek pada jarak sedekat itu akan merasakan gaya gravitasi Matahari yang demikian kuat, sedemikian hingga ia bisa menghancurkan benda yang melintas terlalu dekat.
Pada malam hari 28 November, kira-kira 2-3 jam setelah komet ISON melintasi titik terdekatnya, berita akan ISON yang tergerus dan mati sebelum sempat mendekati Matahari pada jarak terdekat mulai tersebar.

Sayang sekali ya, tidak ada komet untuk diamati di bulan Desember. Kometnya 'terpanggang' Matahari, menjadi "Kalkun Abad Ini" alih-alih "komet abad ini". Dadah...

Eits, tunggu dulu. Cerita belum selesai sampai disini.

Seiring bergantinya hari dari 28 ke 29 November (masih dalam UT; dalam zona WIB, kejadian ini terjadi pada pagi hari 29 November), astronom yang terus mengamati kamera SOHO mengamati sesuatu bergerak menjauhi Matahari pada arah utara. Komet ISON, yang tidak teramati sama sekali di posisi terdekatnya dengan Matahari, justru terlihat sebagai embusan debu yang sangat lemah, bergerak menjauhi matahari, dan kemudian bertambah terang.

Dan bertambahnya terang si komet Schrödinger ini kembali menyaingi Antares pada jam 2-3 dinihari UT, 29 November. Saat inilah astronom mulai keherenan, dan entah berapa banyak orang yang setia mengikuti perkembangan komet ISON, mereguk secercah asa akan komet ISON yang 'bangkit' setelah sempat dinyatakan 'mati' sebelumnya. Julukan 'komet zombie', menyusul julukan komet Schrödinger yang dijelaskan di bagian pembuka tulisan ini, dikoarkan oleh Joshua Filmer dari From Quarks To Quasars. Julukan serupa juga digaungkan oleh Phil Plait dari Bad Astronomy.

Secercah asa yang sempat tumbuh sebelumnya, pada akhirnya harus padam ketika gambar terbaru dari SOHO menunjukkan bagaimana komet ISON terus meredup saat melaju makin jauh meninggalkan Matahari. Atau mungkin bukan komet ISON—tetapi sisa komet ISON. Hingga ditutupnya lembar bulan November, remah-remah komet ISON yang masih melaju dalam orbitnya semula itu terus meredup, hingga terlalu redup untuk bisa diamati secara langsung.

Akhirnya, setelah rangkaian kejutan dan kebingungan yang disuguhkan komet ISON dalam perjalanannya, komet ISON dinyatakan telah hancur di post ini. Karl Battams dari Comet ISON Observing Campaign pun menyampaikan berita ini dalam postnya berikut:
Comet C/2012 S1 (ISON)
Born 4.5 Billion BC, Fragmented Nov 28, 2013 (age 4.5-billion yrs old) 

Born in a dusty and turbulent environment, comet ISON spent its early years being jostled and struck by siblings both large and small. Surviving a particularly violent first few million years, ISON retreated to the Oort Cloud, where it maintained a largely reclusive existence for nearly four billion years. But around 3-million B.C., a chance encounter with a passing star coerced ISON into undertaking a pioneering career as a Sungrazer. On September 21, 2012, ISON made itself known to us, and allowed us to catalog the most extraordinary part of its spectacular vocational calling. 

Never one to follow convention, ISON lived a dynamic and unpredictable life, alternating between periods of quiet reflection and violent outburst. However, its toughened exterior belied a complex and delicate inner working that only now we are just beginning to understand. In late 2013, Comet ISON demonstrated not only its true beauty but a surprising turn of speed as it reached its career defining moment in the inner solar system. Tragically, on November 28, 2013, ISON's tenacious ambition outweighed its ability, and our shining green candle in the solar wind began to burn out. 

Survived by approximately several trillion siblings, Comet ISON leaves behind an unprecedented legacy for astronomers, and the eternal gratitude of an enthralled global audience. In ISON's memory, donations are encouraged to your local astronomy club, observatory or charity that supports STEM and science outreach programs for children.

Maka, begitulah jadinya. Komet ISON resmi dinyatakan menutup lembar ceritanya. Tidak ada "Komet Abad Ini", komet seterang Bulan, atau komet yang akan menarik perhatian penduduk Bumi di penghujung tahun ini. Meskipun begitu, komet ini telah mencatat posisi tersendiri, sebagai salah satu komet yang paling banyak diamati sepanjang sejarah. Publikasi luas akan sang komet terjadi berkat komunitas astronomi global yang setia menyebar informasinya.
Kemudian, sudah banyak pula komet yang berani menyerempet Matahari, tetapi baru ISON-lah komet yang teramati menyerempet Matahari setelah jauh-jauh datang dari awan Oort.
Sehingga, pada akhirnya, komunitas ilmiah (termasuk para astronom) tidak begitu banyak 'dirugikan' dengan hancurnya komet ISON, karena perjalanan si komet sendiri, dengan berbagai kejutan yang terjadi selama setahun ke belakang pun menyisakan banyak data dan teka teki untuk dipelajari.
Seperti diutarakan oleh Lisa Winter, "It’s basically a win for science no matter what the outcome."

sumber
[Bagian terbaru, ditulis pada 3 Desember 2013, 12:19 UT]
Mengapa ya komet ISON bisa demikian hancur lebur saat mendekati Matahari?
Penjelasan umumnya akan disampaikan di bawah.
Seperti sempat disebutkan sebelumnya, inti dari komet ISON diyakini sebagai sisa dari proses pembentukan Tata Surya. Karl Battams, di bagian kutipan sebelumnya, sedikit menggambarkan proses pembentukan komet ISON, besrta triliunan 'saudaranya', yang kemudian terpental, jauh meninggalkan kediaman utama Tata Surya, yang didominasi oleh figur-figur besar macam planet-planet, asteroid, dan tentunya sang bintang Matahari. Mereka kemudian berkumpul di kejauhan, 'menyelubungi' Tata Surya dalam himpunan serupa sebuah kulit bola (tidak seperti sabuk asteroid yang memang terhimpun dalam bentuk mirip sabuk.) Himpunan bongkah batu dan es ini kemudian kita kenal dengan sebutan Awan Oort.

Awan Oort, yang jaraknya dari Matahari puluhan ribu kali lebih jauh dari jarak Bumi ke Matahari, menjadi tempat kediaman yang nyaman bagi triliunan bongkah batu saudara komet ISON. Dan jangan lupakan es; air beserta zat mudah menguap lainnya yang terkandung di dalam bongkah-bongkah batuan ini, perlahan kehilangan panasnya ke angkasa yang jauh dari kehangatan Matahari. Jauh di Awan Oort, mereka pun kemudian membeku. Zat mudah menguap selain air yang (relatif) banyak terkandung di komet adalah senyawa metanakarbon dioksidakarbon monoksida, juga sianogen.
Karbon dioksida dan metana adalah dua gas yang diyakini berkontribusi besar dalam terjadinya efek rumah kaca. (Bukan, bukan band itu.) Bahkan, potensi metana dalam memerangkap panas dinilai lebih dahsyat dari karbon dioksida. Karbon monoksida di Bumi paling sering ditemukan dari pembakaran karbon atau zat hidrokarbon yang tak sempurna.
Baik karbon monoksida dan sianogen adalah zat beracun bagi manusia. Sehingga, ketika sianogen dideteksi di komet Halley pada 1910, gemparlah masyarakat saat itu. Bumi saat itu diketahui akan melewati daerah ekor komet, dan kekhawatiran yang menyerbak adalah bahwa kandungan sianogen di ekor komet akan membunuh berbagai bentuk kehidupan di Bumi. Tetapi, kemudian astronom Percival Lowell menjelaskan bahwa material ekor komet sangatlah tipis, sehingga kehidupan di Bumi aman dari kehancuran.
Kembali ke pembicaraan bongkah batu dan es di Awan Oort, sebagian besar dari bongkah ini hidup tenang, bergerak menurut garis edar masing-masing. Kondisi tenang ini, bagi para bongkah batu dan es, berlangsung begitu lama, bisa sampai miliaran tahun. Kehidupan yang demikian tenang membuat bongkah-bongkah ini mudah terganggu ketika ada 'ketidaknyamanan' yang datang. Bentuk ketidaknyamanan ini sendiri, seringkali, adalah bintang yang sedang bergerak mendekati wilayah Awan Oort. Tidak terlalu dekat sampai menembus awan Oort, tetapi cukup dekat sehingga pengaruh gravitasi si bintang mengganggu beberapa dari bongkah disana. Pengaruhnya menyebabkan beberapa bongkah yang 'kurang beruntung' ini berubah pergerakannya; dari gerakan lamban nan nyaman di dalam lingkup Awan Oort, menjadi gerakan yang mengarahkan mereka ke bagian dalam Tata Surya, mendekati Matahari.

ISON adalah salah satu dari entah berapa banyak bongkah batu yang 'kurang beruntung' ini. Perlahan tapi pasti, komet ini bergerak menuju bagian dalam Tata Surya, sebuah perjalanan panjang yang memakan waktu jutaan tahun. Seperti yang kita ketahui, makin dekat ke Matahari, suhu akan semakin tinggi, dan begitu pula yang dialami calon komet ISON. Suhu yang makin tinggi perlahan membuat bagian 'es' dari komet ISON mulai menguap. Proses selanjutnya telah dijelaskan di atas; peletupan gas dan debu terus bertambah, membuat kecerlangan komet terus meningkat seiring makin dekatnya ia ke Matahari.

Letupan gas dan debu ini, selain mempertontonkan pertunjukan spektakuler bagi yang mengamati, juga memberikan pengaruh lain pada si bongkah batu dan es itu sendiri. Ketika membeku, zat-zat yang tersebut sebelumnya itu bisa terletak di mana saja pada bongkah batu, entah di dalam atau di luar. Ketika meletup, daerah-daerah es ini menyemburkan gas beserta debu, artinya menghilangkan sebagian massa komet secara perlahan. Selain itu, jika kandungan es cukup banyak, maka peletupan cenderung lebih banyak. Mengingat es di bagian dalam komet bersatu dengan batuan dalam menyusun bongkah komet, ketika es menyublim dan terletup meninggalkan komet, maka bagian dalam komet akan menjadi lebih kopong, memberikan kemungkinan yang lebih besar untuk hancurnya inti komet.

Inti komet ISON, saat diamati sepanjang tahun 2013, memiliki ukuran yang relatif besar, antara 2-4 kilometer. Karenanya, banyak pengamat optimistis ISON akan selamat dari terjangan Matahari pada 28-29 November lalu, mengingat sekitar 2 tahun lalu, komet dengan ukuran inti yang lebih kecil, C/2011 W3 "Lovejoy", selamat dengan susah payah dari terjangan Matahari—walaupun beberapa hari kemudian ia pun hancur pula. Apalagi, komet Lovejoy ini mendekati Matahari hanya pada jarak sekitar 150.000 km dari permukaan Matahari—kurang lebih 40% jarak Bumi-Bulan—dibandingkan komet ISON yang mendekati pada jarak relatif jauh.

Tetapi, setiap komet berbeda. Komet ISON mungkin memiliki inti yang banyak mengandung es, sehingga meletupkan banyak gas dan debu. Tetapi (mungkin) karena itu pula, ketika komet ISON makin benderang dan meletupkan sedemikian banyak gas dan debu, inti komet menjadi makin rapuh, sehingga dengan mudah hancur lebur ketika mendekati Matahari.
Untuk gambaran yang lebih mudah, bayangkan sebuah batu yang sedemikian lama hidup dalam keadaan beku, dan kemudian dijaring menuju daerah dekat Matahari yang luar biasa panasnya. Tentu akan ada efek pemuaian yang besar. Ditambah gravitasi Matahari yang demikian kuat, akhirnya komet ISON terus tergerus hingga akhirnya hancur sebelum mencapai titik terdekatnya ke Matahari. Pecahan komet yang sempat bersinar terang pun tak sanggup bertahan cukup lama.

Perkembangan C/2012 S1 dari bulan September sampai November. sumber
Mungkin itulah kiranya yang bisa penulis persembahkan kepada pembaca sekalian tentang komet ini.
Untuk sedikit hiburan dan/atau semburat pengetahuan, sila simak laman berikut:
https://www.facebook.com/thesuntoday/photos_stream
http://www.space.com/22979-comet-ison-weird-facts-countdown.html
http://ekliptika.wordpress.com/2013/11/06/november-bulannya-komet-ison-bagian-1/
http://ekliptika.wordpress.com/2013/12/03/komet-ison-dan-perjalanan-menembus-api-bagian-2/
http://ekliptika.wordpress.com/2013/12/04/ison-dari-debu-kembali-menjadi-debu/
http://www.astrowatch.net/2013/12/investigating-life-of-comet-ison.html
Masih kurang? Banyak post lainnya mengenai komet ISON beserta pernak-perniknya bisa kautemukan di sekujur dunia maya.

(:g)
Lanjutkan baca »

Rabu, 27 November 2013

Article#237 - Rekam Jejak: Balada Romansa Dedaunan

Daun-daun rontok berkali-kali, langit masih sepagi ini
Angin debu menyapu segala, menerbangkannya lalu hilang
Kedamaian cinta segalanya
Di mana ku perlu berdiri di sini, tak ada tangis, semua pudar
Pohon tua tinggal ranting kering,
Setelah lewat tikungan air, dataran biru
Selamat tinggal
Tinggal aku dalam sepi
(Leo Imam Sukarno, 1977. Pohon Tua Ranting Kering)

Banyak orang bilang, musim gugur identik dengan kering dan rapuh. Identik dengan dedaunan yang menguning, memerah, dan kemudian jatuh berguguran, mati menumpuk di tanah. Identik dengan pohon-pohon berwajah mati yang setia menanti tibanya musim semi. Identik dengan udara kering, yang merenggut butir-butir air dari jiwa-jiwa yang lemah. Identik dengan hawa dingin yang terus menyesap, memenuhi segala sisi.
Tetapi tidak sebanyak itu orang bilang, musim gugur identik dengan kegembiraan. Warna-warni yang bersumber dari sorak-sorai xantofil, beta karoten serta antosianin, setelah klorofil, sang penguasa lama, tumbang bersama berkurangnya air.
Tidak banyak pula orang bilang, musim gugur identik dengan kreativitas. Kreativitas yang tergambar dari mahakarya Sang Pencipta, yang membuat beragam jenis tumbuhan menguarkan warna-warninya pada kala yang berbeda. Menjaga warna warni tetap seru dipandang, meski dingin kian menusuk tulang.

Dan tentu saja, bergugurannya dedaunan kembali mengisyaratkan suatu hal yang jelas. Bahwa setiap yang punya awal akan mempunyai akhir. Bahwa segala yang indah, suatu saat akan terhimpun, menjadi satu dengan tanah. Bahwa semua ini hanya menghuni dunia dalam hitungan yang tak signifikan.

Meskipun begitu, melihat sisi lainnya, akan tersirat bahwa setiap yang berakhir, akan ada waktunya ia berawal lagi. Bahwa dari tanah yang tampak kotor dan tak indah, bisa membentuk banyak hal yang membuat orang terperangah. Bahwa meskipun semua ini hanya sebentar, tetapi berbagai hal menakjubkan bisa terjadi dalam kedipan mata.


Lihatlah, bukankah padanya tersimpan banyak keindahan?

*****

Untuk kali ini, penulis tidak akan banyak menuangkan ketidakjelasan seperti biasa. Kata orang, satu gambar mampu mewakili seribu kata, maka dengan ini penulis persembahkan gambar-gambar jepretan penulis sendiri (yang mungkin kualitasnya kurang bagus, maklum tidak pakai kamera profesional). Selamat menikmati.
Sila klik gambar jika ingin melihatnya dalam ukuran  yang lebih detail.
















Mungkin cukup sekian artikel kali ini. Sampai jumpa di edisi selanjutnya!
(:g)
Lanjutkan baca »

Sabtu, 23 November 2013

Article#236 - Kutipan Hari Ini

"Kita semangat karena kita bergerak. Kita bahagia karena kita tersenyum. :)
Sayang, banyak orang yang berpikir sebaliknya. Menunggu semangat agar bisa bergerak. Menunggu bahagia agar bisa tersenyum."

~dikutip dari kutipan milik akang Musfiq, pada Sabtu, 23 November 2013, 23:15 (UT+9).

sumber

Lanjutkan baca »

Article#235 - Naungan, Pijakan, Harapan

Setelah merampungkan tulisan sebelumnya tentang sejarah peta, muncul sebuah pikiran yang melantur kemana-mana akan bumi dan langit yang dibahas sedikit di bagian pembuka.

Berawal dari pertanyaan sederhana: Apa yang biasa kau lakukan ketika sedang bosan dan butuh penyegaran yang menyehatkan? 


sumber
Dalam beberapa situasi, mungkin kita menjadikan sedikit tapak kaki ke luar ruang sebagai ajang untuk menyegarkan kepala. Biasanya, sebagai pembuka, mata akan secara otomatis melihat ke arah atas, melihat langit. Tak lupa, pandangan kemudian disusurkan perlahan atas muka bumi yang luas membentang.

Langit, yang ada di atas kepala manusia, menjadi atap naungan bagi bangun kehidupan. Ia tergambar sebagai perwujudan harapan dan impian manusia. Bung Karno pun mengisyaratkan hal senada dalam kata-katanya yang terkenal sebagai motto penyemangat, terutama di lembaga-lembaga kursus,
"Gantungkan cita-citamu setinggi langit."
 Kecuali harapan dan impian Squidward, yang terbaring dalam kuburan dasar laut. Eh, tapi Squidward bukan manusia sih ya.
Penulis sendiri tidak yakin, sejak kapan 'atas' diidentikkan dengan 'kebaikan'.

sumber

Sementara bumi, yang berada di bawah tapak kaki manusia, menjadi fondasi kekuatan bagi bangun kehidupan. Ia tergambar sebagai perwujudan prinsip dan perjuangan, entah tergambar oleh siapa.
Penulis mendapati satu hal menarik, bahwa meskipun secara posisi mereka berada di dua sisi yang berlawanan, keduanya tidak dimaknai secara berlawanan. Terutama ketika kita sampai ke masalah pemaknaan yang telah disampaikan sebelumnya.
Ketika bicara masalah impian yang diwakili dengan wujud langit, biasanya orang akan sampai pada kesimpulan bahwa menggapai impian harus dibarengi perjuangan yang sungguh-sungguh; sementara perjuangan diwakili oleh wujud bumi. Secara tersirat, keduanya tak boleh dipisahkan begitu saja oleh manusia. Mungkin penulis akan mengutip ulang kutipan diatas, dengan modifikasi tentunya:
"Kau bebas untuk menggantungkan cita-citamu setinggi langit, tetapi jangan lupa berpijak pada bumi."
Karena atas dasar prinsip dan perjuangan, kita menjejak menuju impian dan harapan.
Karena yang di atas takkan bisa diraih, jika kita terlupa akan apa yang ada di bawah.
Karena langit dan bumi bersatu dalam satu kesatuan, beserta kita semua di dalamnya. Bayangkan jika langit dan bumi bertengkar hanya karena mereka berbeda. Apakah manusia akan bisa bertahan?


Lanjutkan baca »

Rabu, 20 November 2013

Article#234 - Dinamika Kenampakan Muka Dunia

Seperti apakah rupa Bumi kita?
Mungkin benak kita pernah disusupi pertanyaan semacam ini ketika sedang mengamati bentukan muka Bumi yang demikian beragam. Katakanlah kau bisa mengamati ada gunung-gemunung di sisi barat, sebuah gunung yang besar di arah selatan, dan daerah rata di arah timur. Dan disana, nun jauh pada arah tetangga, mungkin kau bisa melihat kilau laut menyibak ombaknya di pesisir, memecah horizon.
Jika selayang pandangamu menyusuri horizon tak cukup untuk memberikan sudut pandang yang lebih luas, kau selalu bisa mendapatkan bantuan dari benda-benda yang telah dikembangkan manusia. Ada peta, baik berupa lembaran dalam buku atlas, terpatri di kulit globe, atau tertayang dari tampilan perangkat teknologi milikmu, yang dibuat dalam rangka mengenali lebih lagi Bumi yang kita tinggali ini.

Ketika kita mulai merenungkan bagaimana orang-orang bisa mendapatkan gambaran yang sedemikian detail akan muka Bumi, pikiran kita biasanya akan melayang ke satelit. Dengan bantuan entah berapa banyak satelit yang diluncurkan berputar mengelilingi Bumi, manusia bisa mendapat citra yang utuh akan keseluruhan Bumi tanpa harus pergi menjauhi Bumi secara berkala.

Kalau begitu, dahulu, ketika belum ada satelit, bagaimana manusia mengetahui bentuk dari wujud Bumi?

Mari kita tanyakan pada orang zaman dahulu. Pak, saya bisa bertanya?
Ya, silakan. Ada perlu apa?
Saya ingin tahu Pak, bagaimana ya orang zaman dahulu bisa mengetahui bentuk bulat Bumi, dan kenampakan permukaannya?
Loh, memang Bumi itu bulat?
....
....

Dari Datar, ke Bulat, dan Kembali Datar

Proyeksi silinder ekuirektangular sederhana (plate carrée) muka planet Bumi. sumber 

Sebagian dari kita mungkin masih mengingat bahwa dalam pelajaran geografi, diceritakan bahwa Bumi berbentuk bulat. Atau, yah, bukan bola sempurna, tetapi bola yang sedikit dipepatkan; diameter (garis tengah) Bumi jika diukur antara kutub ke kutub lebih kecil sekitar 0.3% dibandingkan diameter yang diukur ekuator. Jika ingin tahu mengapa begitu, sila simak laman ini atau ini.
Tetapi, bukan itu topik tulisan kali ini.

Sebagaimana bisa terbaca dari kebingungan yang tergambar dari wawancara kecil-kecilan diatas, ide bahwa Bumi berbentuk bulat seperti bola bukanlah sebuah ide yang mudah dipahami atau disetujui begitu saja. Apalagi ketika alur waktu membawamu mundur mengarungi waktu, kembali ke masa 2500 tahun yang lalu. Sebagaimana biasa diberitahukan kepada kita berbarengan dengan fakta bahwa bentuk Bumi bulat, pada masa-masa itu kebanyakan orang menganggap Bumi yang mereka tinggali sebagai sebuah permukaan datar yang demikian luasnya. Beberapa versi menambahkannya menjadi Bumi datar, ditudungi kubah langit berhiaskan bintang, Matahari, Bulan beserta planet. Jika menilik bagaimana orang mengamati daratan di sekitarnya, yang tidak melengkung, anggapan bahwa Bumi datar dapat dijelaskan dengan mudah.

Penggambaran Bumi datar yang dinaungi kubah langit.
Okelah, hanya permukaan atasnya yang 'datar'. sumber
Penanaman fakta Bumi bulat sendiri mulai digulirkan pada abad keenam sebelum Masehi, didukung beberapa figur Yunani Kuno pada abad ke-6 dan ke-5 SM seperti Pythagoras dan Parmenides, dan kemudian disokong juga oleh Aristoteles. Ketiganya bukan orang sembarangan loh. Siapa yang belum pernah dengar Teorema Pythagoras? Pemikiran Parmenides berpengaruh besar dalam pemikiran muridnya, Plato, dimana Plato sendiri merupakan peletak fondasi utama dalam Filosofi Barat. Aristoteles mungkin adalah tokoh Yunani Kuno paling terkenal di dunia sejak dulu hingga saat ini, sekaligus juga murid dari Plato. Berkat nama besar mereka, paham Bumi bulat terus menyebar, mendapat persetujuan dari warga dunia hingga saat ini (meskipun seperti telah disebut sebelumnya, bentuk Bumi tidaklah bulat sempurna). Eratosthenes menjadi salah satu pelopor dalam membawa paham Bumi bulat ke dalam ranah matematis, melalui usahanya menghitung keliling Bumi.
Bonus sedikit: Meskipun demikian, ada sekelompok orang yang kukuh berpegang bahwa Bumi itu datar; salah satu kelompok yang paling terkenal adalah The Flat Earth Society.

Perlahan tapi pasti, orang-orang mulai mencoba menggambarkan Bumi berdasarkan pengetahuan akan bentukan geologis di daerah sekitar mereka, juga berdasar pada data-data perjalanan yang diperoleh dan dipublikasikan orang pada masa itu. Mereka berusaha menggambarkan kenampakan permukaan Bumi dalam bidang datar, membentuk apa yang kini kita kenal sebagai peta.

Bumi Yang Kenampakannya "Dinamis"

Rekonstruksi peta dunia versi Anaximander (c. 610-546 SM; kiri) dan
Hecataeus (c. 550-476 SM; kanan). Peta Hecataeus diadaptasi dari
peta milik Anaximander, yang dimodifikasi dengan memberikan detail lebih.
Sumber dari Wikipedia, 2013.
Salah satu pelopor dalam pembuatan peta dunia adalah Anaximander, yang diyakini sebagai salah satu pemikir generasi awal di kebudayaan Yunani Kuno. Peta dunia versinya dianggap sebagai awal dari berkembangnya ilmu geografi yang kemudian dikukuhkan dasar-dasarnya oleh Eratosthenes.
Di masa itu, hanya sedikit orang pernah berkelana hingga ribuan, atau bahkan 'sekadar' ratusan kilometer dari kampung halamannya. Juga, pemahaman bahwa Bumi itu datar masih banyak diyakini saat itu, sekitar abad ke-6 sebelum Masehi. Berselang beberapa tahun kemudian, Hecataeus, yang sebagaimana Anaximander, hidup di kota Miletus (kini di pantai barat Turki), mempublikasikan petanya, yang merupakan versi lebih besar dan lebih mendetail dari peta versi Anaximander, juga masih menyiratkan keyakinan akan Bumi datar.

Sejarah kemudian mencatat peta-peta yang mengalami pertumbuhan dari sisi cakupan wilayah, detail, juga dari gaya penggambaran yang mencitrakan lengkungan permukaan Bumi, sebagai indikator bahwa pada saat peta-peta ini dibuat, paham Bumi yang bulat telah menyebar dan umum diterima oleh masyarakat.

Atas: Peta dunia versi Eratosthenes (dibuat c. 194 SM).
Tengah: Peta dunia versi Posidonius (dibuat c. 150-130 SM).
Bawah: Peta dunia versi Ptolomeus (dibuat c. 150 M).
Sumber dari Wikipedia, 2013.
Dimulai dari peta Eratosthenes yang menambahkan detail dari perjalanan Alexander Agung dengan menggambarkan benua Asia secara lebih besar dari Eropa. Eratosthenes menambahkan fitur yang serupa dengan lintang dan bujur pada peta masa kini dalam petanya, sebagai implikasi dari pemahaman Eratosthenes akan bentuk Bumi yang bulat.

Berselang hampir setengah abad setelahnya, Posidonius, yang sebagaimana Eratosthenes, juga melakukan usaha menghitung keliling Bumi, memperkenalkan peta buatannya, yang meskipun tidak disertai garis lintang dan bujur sebagaimana peta Eratosthenes, menggambarkan kelengkungan Bumi dengan lebih baik.

Peta Ptolemeus sedikit banyak memiliki kesamaan dengan peta Posidonius yang dibuat 300 tahun sebelumnya. Tetapi, dalam petanya Ptolemeus tidak menggambarkan benua Afrika dan Asia secara utuh, tetapi terpotong pada pinggir cakupan peta. Perhatikan bahwa empat peta yang disebut sebelumnya di tulisan ini menggambarkan samudra di pinggir peta, mengelilingi massa benua yang tercitrakan.
Detail dan cakupan peta Ptolemeus yang lebih baik (mencakup sebagian Asia Tenggara dan China, serta penggambaran Asia yang makin besar) cocok dengan fakta bahwa Jalur Sutra mulai dibuka pada masa Dinasti Han, abad kesatu sebelum Masehi. Dibukanya Jalur Sutra tentu akan memperluas pemahaman pihak Barat (Yunani dan Romawi kuno) serta Timur (China kuno) akan skala keluasan permukaan Bumi, khususnya wilayah Eurasia.

Dalam beberapa abad selanjutnya, kebudayaan Yunani Kuno perlahan dikalahkan oleh tetangganya, Kerajaan Romawi, dimana yang disebut belakangan menjadi salah satu kerajaan terbesar pada abad-abad awal Masehi. Ia berdagang dengan Dinasti Han dan kemudian Dinasti Jin di China, serta Kerajaan Persia di Iran. Kerajaan Romawi sendiri mulai mundur ketika negara Khilafah yang dibangun Nabi Muhammad s.a.w. bertumbuh secara pesat pada abad ke-7 Masehi, memukul mundur baik Romawi maupun Persia.

Kemunduran kerajaan Romawi kemudian diikuti dengan mundurnya kebudayaan Eropa, menandai periode yang dikenal sebagai Masa Kegelapan. Sebaliknya, bagi kerajaan Islam yang meneruskan negara Khilafah dibawah Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, ini adalah masa keemasan. Berbagai literatur warisan Yunani Kuno yang ditemukan oleh pihak Islam kemudian diterjemahkan dan dipelajari oleh cendekiawan masa itu.

Peta buatan Ali al-Mas'udi, c. abad ke-9 Masehi.
Perhatikan bahwa tulisan Arab di peta terbalik,
karena peta didesain dengan arah utara di bagian
bawah alih-alih di atas. sumber
Kembali ke topik peta, ahli geografi Islam membuat peta dengan banyak pengaruh dari peta Yunani Kuno, terutama milik Ptolemeus. Nama-nama yang terkenal diantaranya Abu Zayd al-Balkhi, Ali al-Mas'udi, Ibnu Hawqal, Ibnu Rustah, Al-Biruni dan Muhammad al-Idrisi.
Abu Zaid al-Balkhi dikenal karena sekolah pemetaan 'Balkhi' yang ia dirikan, yang kemudian memunculkan ahli-ahli pemetaan Islam pada generasi berikutnya.

Peta Tabula Rogeriana karya Muhammad al-Idrisi,
dibuat tahun 1154 M. Desain asli peta adalah
arah selatan di bagian atas. sumber
Ibnu Hawqal adalah salah satu figur lulusan sekolah Balkhi yang paling dikenal. Ia membuat buku bertema geografi dengan judul Surah al-Ard (gambaran Bumi), yang juga memuat peta dunia buatannya. Ibnu Hawqal juga adalah seorang petualang, dan ia pernah berkelana hingga daerah selatan ekuator, menjumpai banyak orang penduduk asli. Hal ini jelas sekali menyanggah pemikiran Aristoteles lebih dari 1000 tahun sebelumnya, tentang wilayah ekuator yang menurutnya terlalu panas untuk bisa dihuni manusia.

Al-Biruni adalah salah satu cendekiawan termasyhur dari Kerajaan Islam, dengan hasil studi meliputi bidang fisika, astronomi, geografi, mineralogi, dan sejarah. Salah satu karyanya terkait dengan proyeksi peta azimuthal-ekuidistan, proyeksi yang digunakan PBB dalam lambangnya untuk menggambarkan Bumi. (meskipun dalam prakteknya Al-Biruni menggunakan proyeksi tersebut dalam menggambarkan bola langit).

Mari kembali ke perputaran roda sejarah.
Seiring bangkitnya kebudayaan Eropa dalam era yang dikenal dengan nama Renaisans, kini giliran Kerajaan Islam yang meredup dalam bidang pengetahuan. Meskipun demikian, kekuatan kerajaan Islam dalam hal militer cukup dominan. Hal ini dipertunjukkan kepada dunia lewat penaklukan Konstantinopel atau Istanbul pada tahun 1453 oleh Kekaisaran Utsmani/Ottoman, di bawah pimpinan Muhammad al-Fatih (Muhammad II atau Mehmet II) yang masih berusia 21 tahun. Penaklukan ini juga menandai runtuhnya Kerajaan Romawi secara keseluruhan. Sebagian sejarawan menandai penaklukan ini sebagai akhir dari Abad Pertengahan.

Mengapa demikian? Setelah takluknya Kerajaan Romawi di tangan Ottoman, perlahan Jalur Sutra yang sudah digunakan selama berabad-abad itu ditinggalkan oleh bangsa Eropa. Berdagang melalui Jalur Sutra berarti mau tak mau harus melewati daerah kekuasaan Utsmani, sementara saat itu Kekaisaran Utsmani dikenal anti-Barat dan tidak membuka peluang berdagang dengan bangsa-bangsa Eropa saat itu. Tidak bisa berdagang ke arah timur, bangsa-bangsa Eropa mulai mencoba memutar ke arah barat, menggapai daerah berdagang lain dengan mengarungi Samudra Atlantik.
Berbagai ekspedisi dari Kerajaan Portugis, Spanyol, Prancis dan Inggris membuat mereka menemukan banyak daerah yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Eropa, seperti gugusan pulau-pulau Oseania, serta kepulauan Indonesia yang kaya rempah. Christopher Columbus menjadi terkenal karena menemukan benua Amerika ketika ia sebenarnya sedang mencari India, kesalahan yang sampai sekarang masih membekas pada nama Barat untuk suku asli Amerika Utara, Indian.
Spanyol dan Portugal yang sebelumnya sibuk bertikai memperebutkan daerah untuk dikuasai, kemudian merajalela di daerah jajahan masing-masing yang dipisahkan oleh garis bujur yang ditentukan pada Perjanjian Tordesillas, yang namanya, serta visi 3G nya, masih terngiang-ngiang dari pelajaran IPS di masa SD dan SMP.

Salah satu ekspedisi ini, yang dipimpin Ferdinand Magellan, adalah ekspedisi pertama yang membuktikan secara praktek bahwa Bumi itu bulat, dengan berlayar dari Portugis, menyusuri pantai timur Amerika Selatan, kemudian bertolak ke arah Pasifik, terus hingga mencapai Filipina (dimana Magellan sendiri terbunuh), Maluku, dan kembali ke Portugis.

Bermain Dengan Proyeksi, Berakibat Saling Berselisih

Meningkatnya frekuensi pelayaran dengan kuat pada masa ini, Zaman Penjelajahan, meningkatkan kebutuhan akan peta yang bisa diandalkan untuk navigasi dalam pelayaran. Ketika kita berbicara tentang pentingnya keberadaan sebuah peta dari sudut pandang navigasi, tentu yang paling penting bukanlah luasnya daerah yang tercakup dalam peta. Maka fokus saat itu adalah, bagaimana membuat peta yang bisa mempermudah navigasi? Bagaimana sebuah peta bisa dibuat supaya kapal benar-benar bisa berlayar pada arah yang sesuai dengan panduan peta, dan sampai ke tujuan dengan benar?

Jawaban untuk peta semacam itu, atau paling tidak jawaban sementara, hadir pada tahun 1569. Seorang kartografer dari Rupelmonde, Belgia, bernama Gerardus Mercator, memperkenalkan peta dunia versinya, yang dibuat dengan sistem proyeksi tersendiri.

Peta dunia versi Gerardus Mercator, buatan
tahun 1569. Sila baca lebih lanjut
Apa? Proyeksi? Makhluk apa lagi ini?
Sebagaimana kita, dan juga orang-orang pada abad ke-16 sudah umum ketahui, bentuk Bumi adalah bulat, sehingga peta yang paling akurat untuk dipakai menggambarkan Bumi tentunya adalah sebuah peta yang diletakkan pada kulit sebuah bola. Kita mengenal bola bergambar yang satu ini dengan panggilan globe.

Sayangnya, meskipun globe secara fisis lebih akurat dibandingkan peta-peta lain yang ada, kelemahan dari menggunakan sebuah globe sebagai peta rujukan paling tidak ada dua. Pertama, membawa globe kemana-mana tidaklah praktis. Memangnya ada orang yang rela membawa sebuah bola kemana-mana, sepanjang waktu, hanya karena di kulit bola terpatri kenampakan wajah Bumi? Wajah Bumi nggak secantik itu juga kok.
Kedua, karena sebuah globe secara otomatis akan menjadi sebuah miniatur bola Bumi secara keseluruhan, detail yang tersaji pada muka globe akan jauh berkurang. Untuk mengembalikan detail ini, ukuran globe harus diperbesar. Sebuah opsi yang akan membawa kita kembali ke masalah pertama, bergulung menjadi masalah yang lebih besar. Secara harfiah.

Karena ini, sebuah peta yang berbentuk datar dan bisa digulung akan sangat mempermudah si pemilik untuk membawanya kemana-mana. Masalah untuk kali ini adalah, bagaimana kau akan mengubah wujud permukaan bola Bumi menjadi sebuah persegi panjang di selembar kertas? Proses perubahan wujud inilah yang disebut proyeksi. Dan proyeksi milik Mercator adalah salah satunya.


Tetapi, bukan sekadar 'salah satu'.

Proyeksi Mercator memiliki sebuah keistimewaan yang sangat berguna dalam bidang navigasi pelayaran. Tariklah sebuah garis lurus di peta proyeksi Mercator, maka akan kau dapati sebuah garis yang dikenal dengan nama loksodrom, atau garis rhumb. Garis ini, jika dilanjutkan, akan memotong seluruh garis bujur yang dilalui dengan sudut yang sama. Artinya, jika mengikuti garis ini, kau akan terus melaju pada arah yang sama. Keunggulan proyeksi Mercator ini kemudian menjadikannya digunakan sebagai peta standar dalam navigasi kelautan dunia.
\
Proyeksi Mercator atas muka Bumi. sumber
Akan tetapi, sebagaimana orang dulu bilang "no pain, no gain", keunggulan proyeksi Mercator yang direspon dengan begitu baik oleh masyarakat ini, ternyata berbuah pada kekurangan yang muncul pada kenampakan pulau dan benua di Bumi. Mercator membentuk petanya sedemikian supaya semua garis bujur saling sejajar antar satu sama lain. Dan karena ini, mau tak mau ia memperbesar daerah dekat kutub, menghasilkan distorsi yang terkenal di peta Mercator.
Beberapa daftar distorsi yang paling kentara adalah:

  • Greenland yang terlihat jauh lebih besar dari aslinya, bahkan menyaingi besarnya Amerika Selatan dan Afrika, yang aslinya belasan kali lebih besar.
  • Afrika yang sebetulnya adalah benua terbesar kedua di dunia (setalah Asia), di peta Mercator terlihat lebih kecil daripada Amerika Utara, dan hanya sebesar sepertiga Asia.
  • Amerika Selatan terlihat lebih 'ramping' akibat distorsi pada ujung selatan benua.
  • Kepulauan Arktik Kanada, yang sebenarnya 'hanya' seluas tiga perempat wilayah Indonesia pun menjadi terlihat besar jika dibandingkan dengan Indonesia.
  • Eropa yang sebenarnya hanya seluas sepertiga Afrika, disini terlihat setara.
Berkaitan dengan karakteristiknya ini, peta dunia yang diproyeksikan dengan proyeksi Mercator tidak menggambarkan kenampakan muka dunia dengan baik. Meskipun demikian, karena pengaturan peta yang 'rapi', dengan garis-garis lintang dan bujur berpotongan tegak lurus, serta tentunya bentuk peta yang persegi panjang, banyak penerbit memilih proyeksi Mercator sebagai penggambaran dunia di peta yang mereka terbitkan. Hasilnya, dalam beberapa abad sejak diperkenalkannya proyeksi Mercator, proyeksi ini telah menjadi proyeksi peta paling populer di dunia Barat. Kebanyakan orang saat itu akan segera membayangkan sebuah peta Mercator ketika membicarakan suatu topik geografi. 

Perlahan tapi pasti, seperti menarik kuda bersama dengan pedati, mulai bersemi kontroversi berkaitan peta ini. Distorsi pada peta, seperti sudah digambarkan sebelumnya, memperbesar wilayah Eropa, dengan bangsa-bangsanya yang saat itu terkenal banyak menjajah berbagai daerah lain di Bumi. Afrika, Amerika Selatan dan Asia Tenggara yang terletak berdekatan dengan ekuator menjadi daerah yang terlihat 'kerdil' di peta. Sayangnya, orang Barat sudah merekam peta Mercator sebagai gambaran Bumi, dan seperti semua orang sejak zaman prasejarah paham betul, sesuatu yang digambarkan besar adalah yang lebih mulia, lebih berkuasa, pun juga sebaliknya. Ada kesan membuat wilayah di ekuator terlihat 'kecil' dan 'tidak penting', dan pihak kontra berargumen, bahwa dengan inilah pihak kolonialis melanggengkan propagandanya.

Proyeksi Gall-Peters atas muka Bumi. sumber
Penggunaan peta Mercator sedikit demi sedikit mulai pudar seiring berkembangnya teknologi, begitu pula kontroversi yang menyertai. Sejak tahun 1940an pun, para karrtograf pun sudah mulai mencari proyeksi yang cocok untuk menggantikan proyeksi Mercator yang 'sudah tidak cocok'. 
Kontroversi yang mulai pudar itu pun kemudian bangkit lagi pada tahun 1973, ketika seorang sejarawan dan jurnalis Jerman, Arno Peters, mempublikasikan sebuah peta proyeksinya. Ia mengklaim petanya sebagai lawan yang tepat bagi peta Mercator. Mengapa lawan yang tepat? Karena, ketika proyeksi Mercator berusaha menyeragamkan sistem lintang dan bujur Bumi dengan cara memperbesar bagian yang jauh dari ekuator, proyeksi Peters memakai aturan equal area dan mempertahankannya dengan cara mendistorsikan bentukan Bumi di daerah dekat ekuator.

Peters berkeyakinan bahwa peta proyeksinya bisa lebih berpihak kepada negara-negara di wilayah ekuator, yang oleh peta proyeksi Mercator terkesan dikerdilkan. Berbagai kelompok pun segera menyatakan dukungannya pada peta proyeksi Peters ini, yang dianggap sebagai bukti kepedulian bagi negara-negara tropis. Tetapi, karena hasil dari proyeksi ini "tidak lebih bagus daripada hasil proyeksi Mercator", dukungan yang diperoleh tidak sebanyak yang diharapkan sebelumnya.

Pada akhirnya, yang membuat peta Peters makin tenggelam adalah fakta bahwa ia terlambat dari orang lain dalam membuat peta yang sama—terlambat 118 tahun. Tahun 1855, seorang kartografer bernama James Gall, membuat peta dengan desain yang sama dengan buatan Peters. Meskipun Peters sendiri mengaku tidak tahu menahu tentang James Gall sebelum mempublikasikan petanya, sampai sekarang proyeksi itu tetap disebut Proyeksi Gall-Peters.

Seiring waktu, kontroversi peta ini perlahan memudar. Melihat adanya kontroversi atas persoalan "peta siapa yang benar" ini, 7 organisasi geografi profesional di AS tergugah untuk mengadakan pertemuan pada tahun 1989-1990. Pertemuan-pertemuan ini menghasilkan sebuah resolusi berikut ini:
WHEREAS, the earth is round with a coordinate system composed entirely of circles, and

WHEREAS, flat world maps are more useful than globe maps, but flattening the globe surface necessarily greatly changes the appearance of Earth's features and coordinate systems, and

WHEREAS, world maps have a powerful and lasting effect on peoples' impressions of the shapes and sizes of lands and seas, their arrangement, and the nature of the coordinate system, and

WHEREAS, frequently seeing a greatly distorted map tends to make it "look right,"

THEREFORE, we strongly urge book and map publishers, the media and government agencies to cease using rectangular world maps for general purposes or artistic displays. Such maps promote serious, erroneous conceptions by severely distorting large sections of the world, by showing the round Earth as having straight edges and sharp corners, by representing most distances and direct routes incorrectly, and by portraying the circular coordinate system as a squared grid. The most widely displayed rectangular world map is the Mercator (in fact a navigational diagram devised for nautical charts), but other rectangular world maps proposed as replacements for the Mercator also display a greatly distorted image of the spherical Earth.
Singkatnya, penggunaan peta berbentuk persegi panjang akan distop sepenuhnya. Termasuk di antaranya, peta Mercator serta peta Gall-Peters.

Proyeksi Robinson (atas) dan proyeksi Winkel tripel (bawah).
sumber
Singkat cerita, hingga saat ini peta Gall-Peters sudah jarang beredar, kecuali di tulisan yang mempropagandakan anti-Mercator, atau tulisan semacam yang sedang kalian baca saat ini.
Untuk saat ini, salah satu proyeksi yang paling populer adalah proyeksi Robinson, proyeksi yang sedikit berbeda dari proyeksi lain, karena mengutamakan pendekatan artistik, yaitu bagaimana membuat kenampakan permukaan Bumi terlihat lebih nyata, alih-alih pendekatan matematis seperti yang biasa dipakai pembuat peta sebelumnya.

Kebanyakan peta global yang digunakan di Wikipedia menggunakan proyeksi Robinson, sementara sejak 1998, National Geographic memilih proyeksi Winkel tripel dalam terbitan mereka selanjutnya, hingga saat ini.

Lalu, bagaimana dengan Mercator? Yang satu ini tetap tak lekang oleh waktu, tetap setia menemani di dinding kelasku, atau di samping meja bu guru. Tetapi berhubung tidak semua kelas punya peta dunia, maka penulis akan mengarahkan kepada salah satu laman yang masih setia dengan peta proyeksi Mercator: Google Maps.

Sedikit hiasan lagi, ada yang bilang bahwa diskusi mengenai peta tak akan lengkap tanpa menyertakan laman ini: http://xkcd.com/977/.
Mungkin cukup sekian untuk tulisan kali ini. Sepertinya penulis terlalu larut dalam mengetik, akhirnya jadi sepanjang ini. Sampai jumpa lagi, nanti!

Jika ingin bacaan atau referensi lebih lanjut:
Lanjutkan baca »

Kamis, 14 November 2013

Article#233 - Kutipan Hari Ini

"Hiduplah sebagaimana maumu, namun ingat bahwa engkau akan mati.
Cintailah siapa yang engkau sukai, namun ingat, engkau akan berpisah dengannya.
Berbuatlah seperti yang engkau kehendaki, namun ingat, engkau pasti akan menerima balasannya nanti."

~dikutip dari kutipan milik Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali, atau lebih dikenal dengan nama Imam al-Ghazali (450-505 H / 1058-1111 M), seorang teolog dan filsuf Islam asal Persia. Dikutip dalam bentuk terjemahan, pada Kamis, 14 November 2013, 18:09 (UT+9).

sumber

Lanjutkan baca »

Minggu, 10 November 2013

Article#232 - For All The Night's Stars


For All the Night's Stars

by: Nick Risinger


I’m at 6,200 feet in the Nevada desert capturing the first images of what will ultimately become a 37,440-exposure, 5,000-megapixel photograph of the entire night sky. It’s 18°F and while I try to keep my mind off the wind chill, the gusts continue to push over the ridge. As the first camera shutter snaps shut, a fairly typical portion of space appears on my laptop screen: other suns millions of billions of miles away are scattered across the frame, too many to count. The sheer work of what lies ahead slowly begins to sink in and I shudder — though not from the cold.

As a young boy, I treasured our family vacations to the central coast of Washington state, where low tides unveil beaches more than a thousand feet wide that run for miles. I remember being mesmerized by the surf and the water stretching to the horizon. For a young mind, this was a very big place, and it was here that my understanding of nature’s vastness began to take shape. Later, when I was about 10 years old, my family went to visit relatives in Sweden. As the speeding blur of the runway dropped away on takeoff and the many hours of flight ticked away — what felt like forever — I realized how much bigger the world must truly be. Then, in seventh grade, I watched the Eames’s classic Powers of Ten documentary, and the bounds of the universe instantly swelled beyond comprehension.

For some, our reverence for the scale of our natural world tends to dull with age, but I count myself as one of a peculiar breed who find the opposite to be true. So when my passions for photography and space eventually converged, I knew the resulting creation would have to convey the vast scope of the cosmos. As I figured it, only two kinds of astronomical photos were possible — ones that covered part of the sky and ones that covered all of it.
Naively choosing the latter, I set about planning the photo shoot of a lifetime. It was a journey that would ultimately take my father and me 45,000 miles by air and 15,000 by land as we enjoyed countless day-lit vistas and even grander nighttime skies from the darkest corners of the western United States and South Africa. Travel was necessary, since capturing the full sphere of the night sky carried with it certain geographic limitations. For starters, large parts of the sky near the north celestial pole are not visible from southern latitudes and the same is true of the southern sky from northern latitudes. Likewise with the seasons, what may be overhead in summer is below the horizon in winter. Complicated by weather and Moon cycles, only narrow windows of opportunity were open each month, so thorough planning was critical.

Most of my project’s decisions were dictated by the metric of speed, and finding the right tools to do the job was one such choice. One might assume that a big CCD sensor covering a wide view would be the natural tool for an all-sky survey, but it is rather the exposure time per area of sky that matters. By photographing with low-noise sensors, though smaller, I exposed the sky with shorter images, shaving away precious seconds, and ultimately many hours off the total time.
Efficiency between fields was also important. Rather than manually star-hopping from one constellation to the next and risk missing a piece of the puzzle, I divided the celestial sphere into 624 equally spaced areas and programmed their coordinates into my computer. I recorded these areas through six short telephoto lenses, each fitted with its own color filter and cooled CCD camera, all of which were controlled through a jungle of cables fed into a single laptop.

For the sake of portability during all the air-bound globe-trotting, I paid particular attention to how such a bulky collection of equipment could be secured with minimal weight. My solution was to construct a bracket that anchored three cameras to the topside of a computerized equatorial mount and the remaining three to the bottom in lieu of the traditional counterweight. This kept the entire package well under 100 pounds (45 kg), which proved to be a welcome feature for both travel and setup.
As our first trips to Nevada and Arizona got underway in March 2010, challenges popped up at nearly every turn, and I was constantly reminded of how little I initially knew about astrophotography. Terrestrial photographers rarely concern themselves with factors such as daylight saving time, polar alignment, or preventing a meridian flip that threatens to destroy half the equipment, but I suppose this is what gives astrophotography its charm — that perpetual task of keeping up with the motions of the heavens.

By mid-June 2010, with part of the Northern Hemisphere complete, the mission turned to the Southern Hemisphere, and it was in South Africa, not far from the South African Astronomical Observatory, where I caught my first glimpse of the southern Milky Way. Few words can adequately describe the sight of our galaxy’s center perched straight overhead, so bold that I considered reading a book by its light! The Large and Small Magellanic Clouds were an equal treat, both luminous reminders that our galaxy is but one of many.

After three frigid weeks of winter in South Africa, we flew back to the States for some much enjoyed summer nights and familiar constellations. The process continued, and by Thanksgiving it was back again to South Africa to finish the Southern Hemisphere, followed by an earlier than-expected return home thanks to favorable weather.

Finally, after far too many sleepless nights, our travel weary bodies made the final push in Colorado as we snapped the last of the 37,440 exposures in January temperatures as low as -6°F. But the physical task was quickly exchanged for a mental one as the real work of making sense of so much data loomed like a dark cloud overhead.

What would normally be a manual process of calibrating, stacking, and stitching was impractical with so many exposures. Even simple tasks as mundane as moving a set of exposures from one folder to another had to be scripted, and off-the-shelf software programs were not up to the task of reducing so much data. The workflow therefore relied on a combination of professional tools. IRAF performed up-scaling, registering, and stacking of the bracketed exposure sets followed by modeling of the backgrounds to eliminate gradients. AstrOmatic’s suite of tools provided the astrometry that calculated the orientations and distortions from each lens and then eliminated them for a final stitching of the full sky. Although greatly simplified in summary, this process began in January 2011, and consumed months of processing time and four terabytes of storage. When finally completed, I was greeted by the photo I worked so hard to capture: a 5,000-megapixel view of the cosmos with our Milky Way stretching end to end.
People have congratulated me for following my dreams perhaps without realizing how literally true this is, as the seeds of my project were in fact planted under fictitious skies. It wasn’t until recently that I stumbled upon a video of John Dobson, best known for his pioneering low-cost telescope mount, whose words characterize the same nautical dream with more equity than mine ever could:

If you find yourself at sea in a small unlighted boat alone in the darkness of a cloudless night, and if you gaze into the darkness of the space between the stars, then keep wide awake. And if your mind is full of wonder and your heart is full of peace, there is a chance that you will understand.”

The solitary ring of these words hangs in the air, perhaps serving as a reminder of how our knowledge of the universe has been advanced time and again by those who studied the skies with lonely dedication. But then there are luminaries of history such as William Herschel who spent years scanning the heavens with help from his sister. I like that. After all, considering the many pastimes life has to offer, which are more meaningfully shared in the company of others than sitting under the stars?

Thanks, Dad, for being there all those nights.

Nick Risinger ia an American photographer and designer, who is widely known for his feat of photographing the entire night sky. The panoramic image of the entire night sky, as depicted above, show us how majestic nebulae and stars of our Milky Way Galaxy stretch across the sky. At full resolution, the 5 gigapixel mosaic was stitched together from over 37,000 images, the result of a season following, year long effort and 60,000 travel miles in search of still dark skies in the American west and the western Cape of South Africa.
This post is taken fro Risinger's website.
Also, have a visit to another version of the photo here.

Nature sure never ceases to amaze, right?
Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...