Rabu, 06 November 2013

Article#230 - Amatilah

Huff.

Ujian matematika kembali kuselesaikan dengan susah payah, seperti yang sudah-sudah.

Seperti biasa, selagi guru berkeliling untuk mengambili naskah lembar jawaban para siswa, kusempatkan barang sekian detik untuk mengamati seisi kelas.

Aku mengamati anak yang duduk di pojok belakang, dekat jendela.
Mengamati bagaimana dia, yang biasa mengejekku yang payah dalam matematika, meletakkan kepalaya di atas meja. Bagiku, ia jelas tampak kelelahan. Aku tahu bahwa dia adalah anak band di sekolahku. Karena itu, tiap hari dia harus datang pagi ke sekolah, berlatih saat sekolah sepi. Mungkinkah itu yang membuatnya begitu lelah? Atau banyaknya tugas? Atau masalah lain? Aku tak tahu.

Ada juga dia yang duduk di depanku. Tadi ketika baru masuk kelas, salamku dijawabnya dengan tatapan tajam, dan memilin rambutnya entah menjadi apa. Aku tahu, semalam dia tak sengaja merusakkan karyanya, yang akan dikumpulkan untuk kelas seni setelah makan siang. Aku tak bisa membayangkan bagaimana kalutnya ia saat ini. Mungkin saja pikirannya tak lepas dari kelas seni, bahkan selama ujian? Aku tak tahu.

Oh, ada si kapten tim sepakbola sekolah, duduk berselang dua kursi di sisi kananku. Beberapa hari yang lalu ia bisa dengan santainya menaruh namaku di daftar cadangan lapis kedua untuk turnamen sepakbola bulan depan. Tapi saat ini, kuamati ia sampai menyipitkan mata saat mengamati lembar jawabnya terakhir kali, sebelum diserahkan ke guru. Apakah dia begitu keras berlatih hingga bisa sebegitu lelahnya? Aku tak tahu.

Kini, kuamati gadis berkacamata tebal yang sedang membaca buku di pojok lain kelas. Dan hei, bukankah buku itu selalu ia baca sepanjang waktu? Kemudian aku teringat, aku melihat sebuah luka sayatan yang sudah lama di lengannya. Entah apa yang dia alami dalam hidupnya selama ini. Mungkinkah ia membaca buku untuk menerbangkan dirinya dari kenyataan? Aku tak tahu.

Amati pula dia, duduk di baris depan. Lagi-lagi ia memakai kaus yang sama. Aku ingat, dia selalu berbicara tentang kaus kaki yang basah tiap kali hujan mengguyur kota tempat tinggalku ini. Dari situ aku tahu, sol sepatunya berlubang. Kemudian aku merenung, kapan terakhir kali ia memakai kaus lain. Jangan-jangan ia saat ini masih memikirkan apa yang akan dimakannya esok pagi? Atau bahkan malam nanti? Aku tak tahu.

Tepat di belakang dia yang kausnya tak pernah berubah, duduk si anak baru. Aku bisa amati, bagaimana ia selalu diam tiap kali teman-temanku yang lain membuat keributan di kelas. Aku bersekolah di kota ini sejak aku kecil, dimana hampir semua orang saling kenal, sehingga aku tak tahu menahu, bagaimana rasanya pindah ke lingkungan yang sama sekali baru bagiku. Mungkin dia begitu kebingungan sekarang? Tak nyaman? Aku tak tahu.

Guru matematika telah mengumpulkan semua lembar jawaban dan merapikannya di mejanya. Saat ia memasukkan kertas-kertas itu ke dalam tasnya, aku mengamati ada yang hilang dari guruku itu. Hari ini ia tak memakai cincinnya. Beliau guru yang baik, sangat penyabar; aku yakin ia tidak sedang mengalami masalah rumah tangga. Tetapi mungkin ia bekerja demikian keras untuk menyiapkan materi mengajar? Memeriksa tugas-tugas yang kami kerjakan? Aku tak tahu.

Entah sudah berapa lama aku mengembangkan kebiasaan ini. Duduk santai, mengamati semua di sekitarku, bahkan hingga detail terkecil yang mungkin orang lain anggap remeh. Bersama dengan itu, intuisiku berkembang begitu saja, dengan mata yang peka akan perubahan yang tak wajar.
Dari situ aku tersadar, betapa semua orang hidup dalam berbagai naskah mereka masing-masing. Harapan mereka masing-masing. Balada mereka masing-masing. Ratapan mereka masing-masing.
Tiap-tiap dari kita punya corak tersendiri dalam hidup, corak yang mewarnai kanvas kehidupan, menjadikanmu seperti apa yang kau citrakan dan orang lain patrikan setiap hari.
Dengan harapan tersendiri.
Dengan balada tersendiri.
Dengan ratapan tersendiri.

Dengan memperhatikan banyak hal yang mungkin orang lain anggap remeh, aku telah mematrikan pada diriku untuk tidak menganggap remeh perlakuan orang. Mereka punya alasan tentang mengapa mereka menjadi apa adanya mereka sekarang. Aku tak sanggup lagi bersikap arogan dan mementingkan hakku lagi.
Setelah melihat pahatan kerasnya hidup ini, aku tak sampai hati untuk menambah pahatan itu lagi.
Takut pahatanku mematri perih, tak ingin biarkan mereka makin letih.

Sebuah catatan bagi penulis sendiri pada khususnya, dan bagi kita semua pada umumnya. 
~disadur dan diterjemahkan pada Selasa, 5 November 2013/1 Muharram 1435 H, 16:47 (UT+9), mengisi momen Tahun Baru Islam.
Disadur dari sebuah cerita lama.

sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...