Senin, 30 Juni 2014

Article#311 - Awal Yang Berbeda

Bulan Ramadhan 1435 H telah tiba.
Sebagai bulan terpenting dalam kalender Islam, Ramadhan termasuk dalam momen yang paling penting untuk ditandai kedatangannya di Indonesia, sebagai negara berpenduduk muslim nomor satu di dunia. Pergantian bulan dalam kalender Islam, yang ditandai dengan peredaran Bulan, kerap kali menimbulkan polemik antar organisasi besar Islam di Indonesia, dikarenakan perbedaan standar dalam menentukan pergantian awal bulan. Polemik yang senantiasa menghangat tiap datangnya (dan juga perginya) bulan Ramadhan. (Mengingat dalam bulan Ramadhan ada kewajiban berpuasa bagi umat muslim, tentu saja penentuan awal dan akhirnya harus sungguh-sungguh.)

Mengapa polemik seperti ini terus terjadi?
Untuk memahami lebih lanjut, sila simak tulisan berikut. Selamat mempelajari.

Foto bulan sabit tipis (hilal) yang dipotret dari wilayah Makassar, sebagai tanda datangnya
Ramadhan 1434 H. Dipotret pada 9 Juli 2013.
sumber



Posisi Bulan dan Ramadhan 1435 H yang (Bakal) Diawali Berbeda


Oleh: M. Ma'rufin Sudibyo
Bagian pertama dari lima tulisan
Bulan suci Ramadhan 1435 H tinggal berbilang hari. Sebagian besar Umat Islam di Indonesia pun sedang bersiap menyambutnya. Dan seperti yang sudah-sudah, perkara penentuan awal bulan kalender Hijriyyah pada umumnya dan awal Ramadhan/dua hari raya pun kembali mengemuka. Layaknya tahun silam, potensi (kembali) berbedanya Umat Islam Indonesia dalam memulai ibadah puasa Ramadhan di tahun 1435 H kali ini pun sangat terbuka.
Pada satu sisi, PP Muhammadiyah telah mengumumkan bahwa bagi mereka 1 Ramadhan 1435 H bertepatan dengan Sabtu 28 Juni 2014. Atas dasar prinsip naklul wujud (harfiahnya peminjaman status wujudul hilaal), yang pada galibnya setara dengan konsep wilayatul hukmi, maka seluruh wilayah Indonesia dianggap telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sementara di sisi yang lain, meski masih menanti hasil sidang itsbat penetapan awal Ramadhan 1435 H yang salah satunya mengagendakan mendengarkan laporan-laporan observasi hilaal dari seluruh penjuru negeri, namun hampir pasti Menteri Agama bakal memutuskan bahwa 1 Ramadhan 1435 H bertepatan dengan Minggu 29 Juni 2014 jika mengacu pada kesepakatan selama ini, kecuali jika menggunakan pendekatan lain yang sama sekali baru.
Di waktu yang telah berlalu, urusan perbedaan dalam mengawali puasa Ramadhan maupun dalam berhari raya telah menyebabkan internal Umat Islam Indonesia bagaikan saling sikut dan sodok. Bagaimana dengan tahun ini? Menteri Agama yang baru memang telah memutuskan bahwa sidang itsbat penetapan awal Ramadhan 1435 H adalah sidang yang tertutup bagi akses media terkecuali pada saat konferensi pers penyampaian hasil sidang. Nampaknya sikap ini diambil untuk menghindari keriuhan yang tak perlu sepanjang Ramadhan seperti yang sudah-sudah. Namun di sisi lain ada juga yang berpendapat sikap demikian sebagai keputusan politis terkait suksesi kepemimpinan nasional dalam pilpres 9 Juli 2014 mendatang. Kali ini partai pak Menteri berada dalam satu kubu yang sama dengan partai yang menjadi saluran politik (tak-resmi) sebagian eksponen pengguna “kriteria” wujudul hilaal. Sehingga friksi di antara sesama eksponen koalisi perlu diredam, terlebih di tengah persaingan elektabilitas antar capres yang semakin ketat. Sebab harus diakui, meski sebagian kecil kita menganggap urusan perbedaan awal Ramadhan dan hari raya ibarat kaset bernada serupa yang hanya diputar berulang-ulang, namun di kalangan akar rumput masalah perbedaan ini jauh lebih menonjol dan mengemuka dibanding isu panas seperti korupsi sekalipun. Ya, perbedaan dalam mengawali bulan suci Ramadhan maupun hari raya dengan mudah menjadi bagian dalam mengidentifikasi antara “kita” dan “mereka.”
Posisi Bulan
Bagaimana sesungguhnya posisi Bulan pada Jumat senja 27 Juni 2014 sehingga potensi perbedaan awal Ramadhan 1435 H di Indonesia demikian terbuka lebar ?
Salah satu parameter penting bagi penentuan awal bulan kalender Hijriyyah adalah konjungsi Bulan-Matahari (ijtima’). Peristiwa konjungsi Bulan dan Matahari pada hakikatnya adalah peristiwa dimana pusat cakram Matahari tepat berada dalam satu garis bujur ekliptika yang sama dengan pusat cakram Bulan ditinjau dari titik referensi tertentu. Dalam peristiwa ini Bulan bisa saja seakan-akan ‘menindih’ Matahari dalam situasi khusus yang kita kenal sebagai Gerhana Matahari. Namun yang sering dijumpai adalah Bulan berjarak terhadap Matahari sehingga antara Matahari dan Bulan hanyalah berada dalam satu garis lurus. Garis lurus ini tidak harus mendatar (horizontal) ataupun tegak (vertikal). Di Indonesia, konjungsi Bulan dan Matahari lebih sering terjadi saat kedua raksasa langit tersebut terletak pada satu garis lurus yang relatif miring terhadap cakrawala (horizon).
Gambar 1. Posisi Bulan dan Matahari pada saat terjadi konjungsi geosentris Bulan-Matahari 27 Juni 2014 pukul 15:09 WIB, ditinjau dari pantai Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Garis putus-putus menandakan garis bujur ekliptika yang pada saat itu ditempati baik oleh Bulan maupun Matahari. Sumber: Sudibyo, 2014.
Gambar 1. Posisi Bulan dan Matahari pada saat terjadi konjungsi geosentris Bulan-Matahari 27 Juni 2014 pukul 15:09 WIB, ditinjau dari pantai Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Garis putus-putus menandakan garis bujur ekliptika yang pada saat itu ditempati baik oleh Bulan maupun Matahari. Sumber: Sudibyo, 2014.
Dengan menggunakan sistem perhitungan (sistem hisab) ELP 2000-82 diketahui bahwa jika ditinjau dari titik pusat Bumi (geosentrik), konjungsi Bulan dan Matahari akan terjadi pada Jumat 27 Juni 2014 pukul 15:09 WIB. Sebaliknya bila ditinjau dari titik-titik di permukaan Bumi (toposentrik), konjungsi baru akan terjadi dalam rentang waktu antara pukul 16:56 WIB (bagi kota Medan) hingga pukul 17:03 WIB (bagi kota Jakarta). Konjungsi toposentrik sejatinya lebih realistis, mengingat segenap umat manusia hidup di permukaan Bumi. Namun ia kalah populer, sehingga yang dijadikan patokan dalam perhitungan ilmu falak adalah konjungsi geosentrik.
Konjungsi geosentrik Bulan-Matahari menentukan elemen umur Bulan, yakni selang waktu antara saat konjungsi (geosentrik) terjadi hingga saat Matahari terbenam di masing-masing titik pada satu negara tertentu. Di Indonesia, pada 27 Juni 2014 senja umur Bulan bervariasi antara +0,52 jam yang terjadi di Jayapura (Papua) hingga +3,78 jam di Lhoknga (Aceh).
Gambar 2. Peta umur Bulan di Indonesia pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.
Gambar 2. Peta umur Bulan di Indonesia pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.
Parameter lainnya yang tak kalah pentingnya adalah tinggi Bulan, yakni tinggi pusat cakram Bulan terhadap garis cakrawala pada saat Matahari terbenam. Di Indonesia, pada saat yang sama tinggi Bulan bervariasi antara -0,83 derajat di Jayapura (Papua) hingga +0,16 derajat di Pelabuhan Ratu (Jawa Barat). Meskipun menjadi titik terbarat di Indonesia, namun geometri posisi Bulan dan Matahari saat ini menyebabkan tinggi Bulan di Lhoknga justru bernilai negatif, yakni hanya -0,17 derajat. Tinggi Bulan bernilai negatif menunjukkan Bulan telah lebih dulu terbenam pada saat Matahari tepat terbenam sepenuhnya.
Gambar 3. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.
Gambar 3. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.
Dan parameter berikutnya yang juga menentukan adalah elongasi Bulan, yakni jarak sudut antara titik pusat cakram Bulan dan Matahari pada saat Matahari terbenam. Pada saat tersebut, elongasi Bulan di Indonesia bernilai antara 4,6 derajat di pulau Rote (NTT) hingga 4,99 derajat di pulau Sabang (Aceh).
Bagaimana cara membaca data-data ini sehingga kita bisa mengetahui bahwa secara teknis awal Ramadhan 1435 H di Indonesia hampir pasti bakal berbeda?
Untuk itu kita harus melihat dinamika Umat Islam Indonesia masa kini. Dari 240 juta penduduk Indonesia, mayoritas adalah Umat Islam dan sekitar 60 juta diantaranya terdaftar sebagai anggota dua ormas Islam terbesar, masing-masing Nahdlatul ‘Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Belum lagi yang tak terdaftar namun bersimpati pada salah satu dari keduanya. Kedua ormas ini memiliki cara berbeda dalam menentukan awal bulan kalender Hijriyyah. Sehingga perbedaan hasil penentuan awal bulan kalender Hijriyyah di antara mereka akan berimbas pada perbedaan di kalangan Umat Islam di Indonesia.
Bagi NU, awal bulan kalender Hijriyyah hanya bisa ditentukan dengan cara rukyat(observasi) hilaal, sementara hisab (perhitungan ilmu falak) hanya dijadikan sebagai faktor pendukung rukyat. Bagi NU, saat rukyat tidak berhasil mendeteksi hilaal atas sebab apapun maka harus dilakukan istikmal, yakni penggenapan bulan kalender Hijriyyah yang telah berjalan menjadi 30 hari. Semenjak beberapa tahun terakhir NU mencoba konsisten untuk melakukan rukyat hilaal pada setiap awal bulan kalender Hijriyyah, tak semata pada awal Ramadhan dan hari raya saja. Seiring beragamnya sistem hisab yang beredar di tubuh NU dengan hasil yang sangat bervariasi pula, maka ormas ini memiliki parameter sendiri untuk menentukan apakah hasil rukyat bisa diterima ataukah tidak. Parameter tersebut adalah “kriteria” Imkan Rukyat yang diformulasikan Kementerian Agama RI, khususnya pada faktor tinggi Bulan minimal dalam sistem hisab kontemporer. “Kriteria” Imkan Rukyat itu sendiri, khususnya bentuk revisi 2011, adalah sebagai berikut :
rmd1435_IRSebaliknya bagi Muhammadiyah, awal bulan kalender Hijriyyah cukup ditentukan dengan cara hisab tanpa perlu melakukan rukyat. Kriteria yang digunakan adalah “kriteria” wujudul hilaal, yang pada saat ini memiliki formulasi sebagai berikut :
rmd1435_WHMaka dengan mudah dapat dilihat bahwa pada Jumat senja 27 Juni 2014, sebagian wilayah Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal karena memiliki tinggi Bulan positif (lebih besar dari nol). Sehingga dengan mengaplikasikan prinsip naklul wujud, maka 1 Ramadhan 1435 H bagi Muhammadiyah bertepatan dengan Sabtu 28 Juni 2014. Sebaliknya pada Jumat senja 27 Juni 2014 itu tak satupun lokasi di Indonesia yang memenuhi “kriteria” Imkan Rukyat karena tak ada yang memiliki tinggi Bulan lebih dari atau sama dengan +2,25 derajat. Sehingga, tanpa mendului apa yang akan terjadi padarukyat hilaal, bulan Sya’ban 1435 H akan digenapkan menjadi 30 hari dan 1 Ramadhan 1435 H bakal bertepatan dengan Minggu 29 Juni 2014. Inilah potensi perbedaan itu.
Referensi :
Sudibyo. 2013. Ramadhan 1435 H (2014), Kertas Kerja dalam Temu Kerja Nasional Hisab Rukyat 2013. Batam (Kepulauan Riau), Juni 2013.
Lanjutkan baca »

Kamis, 26 Juni 2014

Article#310 - Zaman Yang Berubah (2)

....
Melanjutkan penahbisan bulan Juni kali ini bulan bagi tulisan nostalgia, penulis akan kembali menyampaikan berbagai kupas cerita beraroma nostalgia. Semoga pembaca sekalian tidak jenuh, ya.
Cukup sekian prolognya. Selamat menikmati.

NB: Jika berminat, bisa membaca tulisan Zaman Yang Berubah (1) pada tautan yang tersedia.

*****
Zaman berubah. Tentu saja, zaman berubah, siapa pula yang akan membantah?
Kita mungkin tak saksikan, bagaimana generasi kakek-nenek kita dahulu berjuang dalam menempuh pendidikan yang mungkin tak kita rasakan, mengguratkan perjuangan yang mungkin tak kita kuatkan. Kita mungkin juga tak saksikan, bagaimana generasi ayah-ibu kita, berinteraksi dalam keseharian yang tak kita kenali, beranjak dalam keterbatasan yang tak kita rasai. Toh pada kenyataannya kita tetap tak menyangsikan ada perubahan.

Ada perubahan pada pepohonan yang ranting-rantingnya makin bercabang, batang-batangnya makin kokoh, daun-daunnya makin luas. Ada perubahan pada mobil tua yang dibiarkan di parkiran entah sejak kapan, dengan cat yang terus mengelupas, dengan karat yang terus membuas. Ada perubahan pada wajah-wajah lama dalam ingatan, dengan sinar mata yang tak lagi tajam, detail kulit yang tak lagi lembut. Ada perubahan yang menimbulkan perbedaan. Tanpa perlu menilik contoh-contoh ekstrem yang bertebaran kisahnya di sekeliling, ada juga perubahan yang menyelinap masuk dalam citraan paling sederhana. Perlahan menyebar, nyaris tanpa terasa indera. Tanpa disadari, apa yang lazim dikenali di masa lalu, kini menjadi objek yang asing. Perubahan yang hanya terasa kita melihat ke belakang, dan membandingkan.

.....
Jika kau sesekali berkelana di dunia maya, mungkin di beberapa kau akan menemukan situs-situs tempat di mana orang dengan bebas bercengkerama. Mereka berkumpul begitu saja, tanpa peduli sekat negara, usia, atau bahasa — mengingat hampir semua dari mereka berbicara dengan bahasa Inggris. Sesekali muncul sekelompok orang yang berbicara dengan bahasa ibu mereka sendiri, namun biasanya orang-orang tersebut akan diomeli karena "sok ekslusif". Di kesempatan lain, mereka akan mendapat ejekan dari orang lain yang asal mengutip ungkapan dalam bahasa mereka. Sekumpulan orang dipergoki asyik berbahasa Prancis, maka keluarlah kutipan Dexter yang terkenal (walaupun konon salah secara gramatikal), "omelette du fromage". Temukan sekumpulan orang asyik berbahasa Jerman, maka tinggal menunggu waktu saja sampai ada yang mengeluarkan lelucon berbau Hitler dan NAZI. Temukan sekumpulan orang asyik berbahasa Rusia, maka akan keluar lelucon terkait sang presiden, Putin. Juga, tentu saja, tentang vodka. Temukan sekumpulan orang asyik berbahasa Arab, tebak lelucon jenis apa yang akan muncul? Tentu saja, lelucon berbau minyak, bom atau terorisme.

Stereotip-stereotip semacam ini seolah telah menjadi santapan yang lumrah dikonsumsi oleh mereka yang rajin berkelana di belantara dunia maya. Stereotip yang seringkali tak mengenal batas-batas norma, ataupun peduli lelucon seperti apa. Menilik kenyataan yang mengherankan ini, terkadang mereka yang masih hijau demikian cepatnya tersulut emosi dan mengeluarkan alinea demi alinea bantahan tanpa ampun. Bantahan yang seringkali memicu sebuah (atau bahkan lebih!) debat kusir tanpa akhir, yang tetap saja direspon dengan semangat berapi-api oleh para pemula. Mereka yang lebih gaek dalam kancah pertarungan di dunia maya biasanya hanya akan duduk santai, menonton pertarungan, membaca skrip pertarungan, atau yang paling lumrah, menertawakannya.
Sebuah frase yang sering digunakan dalam waktu-waktu sejenis itu, termasuk oleh penulis (yang merasa dirinya sudah cukup gaek berpetualang di belantara internet). Grab some popcorn.

Ketika para pemula, ataupun orang yang tidak terbiasa dengan belantara dunia maya (apa bedanya?) ini melihat komentar yang menertawakan dan menghujat dengan begitu ringannya, mereka mungkin menyangka belantara internet sebagai sebuah dunia maya tanpa tata krama, di mana orang-orang sudah mematikan sentuhan moral dalam masing-masing jiwanya. Mungkin yang ada di pikiran mereka yang berkobar dengan semangat idealismenya itu, "Bagaimana mungkin orang-orang bisa se-tak acuh ini? I have lost faith in humanity,"
Akan tetapi, sekejam-kejamnya belantara internet yang biadab, mereka masih punya tata krama. Tata krama yang sangat terbatas, dan ditentukan oleh mayoritas orang yang beredar.

Tentunya kalian semua akan mafhum, jika orang-orang yang sanggup menghabiskan waktunya sedemikian lama berselancar di belantara dunia maya, adalah orang-orang yang hidupnya terlalu didominasi waktu luang. Entah mereka pelajar yang sedang libur panjang, para karyawan yang memenatkan diri dalam rutinitas hariannya, atau orang-orang "tanpa kehidupan" yang benar-benar menghabiskan sebagian besar isi hidupnya bergumul di dunia maya. (Mungkin penulis termasuk salah satunya? Siapa tahu.) Ohiya, tentu saja, jangan lupakan para jomblo. Bagaimanapun ngenes-nya hidup mereka menurut kaum mayoritas di dunia nyata yang konon mendambakan hidup berpasang-pasangan dalam ikatan cinta, mereka seolah menemukan kebahagiaan tersendiri di dunia maya, dengan segala kebodohan, kegilaan, dan tiadanya norma di dalamnya.
Maka, tata krama pertama dalam menyusuri belantara dunia maya mungkin bisa digambarkan dengan kalimat berikut:
Mayoritas pengguna internet adalah jomblo atau terjebak di friend zone. (Sila cek laman ini kalau kalian masih terlalu hijau untuk tahu apa itu friend zone.) Dan, kedua golongan ini sangat sensitif akan segala post yang berbau relasi dengan lawan jenis. Maka, waspadalah.

Supaya saya tidak melantur terlalu jauh dalam tulisan kali ini, mungkin sudah waktunya bagi saya perkenalkan tata krama kedua.
Jika dilihat dari sudut pandang demografi, akan didapati bahwa mayoritas pengguna internet yang cukup aktif saat ini berkisar pada jangkauan usia produktif awal, katakanlah 15-30 tahun. (Penulis termasuk juga dalam kelompok ini, kalau begitu.) Generasi ini adalah generasi yang tumbuh di era 80an dan 90an, sejak waktu-waktu dimana teknologi macam internet, komputer, atau bahkan telepon, bukan sesuatu yang dengan mudah dimiliki semua orang. Penulis bisa dengan yakin mengatakan, bahwa generasi inilah yang paling merasakan perubahan dalam interaksi sosial di kehidupan mereka, ketika masa kecil dan masa dewasa mereka dibandingkan. Banyak orang dari golongan ini dengan bangga menyebut diri mereka sebagai 90s kids atau 80s kids, bergantung pada dekade yang mana masa kecil mereka banyak dihabiskan.
Penulis mengamati bahwa kelompok usia ini termasuk kelompok usia yang dominan menghuni belantara internet, sehingga tata krama kedua dapat ditelurkan:
Generasi terbaik adalah generasi 80an/90an. Generasi setelah itu adalah generasi yang bodoh.
Kenapa demikian? Karena, menurut pandangan generasi 80an-90an, anak penghuni sekolah menengah saat ini sudah terlalu banyak bersentuhan dengan teknologi mutakhir dalam bentuk layar sentuh, ponsel pintar, sehingga otak mereka menjadi bodoh. Beda dengan generasi 80an-90an yang teknologinya masih sebatas layar tancap, ponsel bodoh, sehingga (seharusnya) otak mereka encer.
Ada sebuah ungkapan yang menyiratkan bahwa otak generasi orangtua adalah otak yang (seharusnya) encer.
Respect your parents. They finished school without Google or Wikipedia.

Satu hal yang cukup menggelitik perhatian penulis, adalah saat mereka yang konon mengaku sebagai generasi 90an, mulai membanggakan betapa era 90an adalah salah satu era terbaik yang pernah ada. (Rasanya wajar kan ya, mereka berpikir begitu?) Kemudian, satu persatu anak 90an mulai bercerita dengan asyiknya tentang berbagai permainan yang dengan indahnya mengisi keseharian hidup mereka dulu. Saat-saat dimana video tutorial pemakaian Internet terlihat sebagai suatu hal yang demikian menakjubkan. Saat orang-orang masih harus membeli CD dan kaset untuk mendengar klip-klip musik favorit mereka. Saat ponsel masih menjadi barang mewah, dan ukurannya masih sebanding dengan telepon rumahan. Daaaan seterusnya.

Mengapa hal-al tersebut menggelitik perhatian penulis? Karena, perhatian penulis peka terhadap rangsang, sehingga mudah tergelitik. (?)
Err lupakan. Penulis memperhatikan, bagaimana detail yang mereka sajikan terhadap era yang mereka sebut sebagai era 90an, masih tergambar dengan baik di benak penulis. Sebagai individu yang terlahir di setengah jalan era 90an, dokumentasi pengamatan penulis akan dunia sekitar kurang lebih tersusun balik ketika waktu melangkahkan kakinya memasuki milenium baru. (Lupakan lelucon Panji si manusia milenium.)
Di tahun-tahun awal 2000an, penulis masih lamat-lamat mengingat tumpukan kaset yang bertumpuk di depan radio keluaran 1991 di tengah rumah. Orangtua penulis pun termasuk ciamik dalam menjaga barang-barang yang dibeli, maka kerap kali penulis diperkenalkan dengan barang-barang tersebut. "Panggil barang ini 'Kak', ya," biasanya begitulah sahutan yang akan muncul.

Memori penulis juga masih merekam dengan baik (syukurlah) saat dimana nternet benar-benar terasa sebagai barang mewah, dan mayoritas penghuni rumah saat itu tidak menganggap internet sebagai sesuatu yang cukup bermakna untuk dihadirkan dalam kehidupan rumah tangga. Alasan pertama, mahal. Juga, koneksi yang menghubungkan komputer ke dunia maya kala itu membutuhkan penjajahan atas slot koneksi yang sama dengan telepon rumah. Alhasil, ketika keingintahuan seseorang di dalam rumah mendorong pada penggunaan internet, sang pengguna akan kerapkali ditunggui oleh ia yang menunggui kabel telepon. "Cepetan dong internetan nya, mau pakai telepon nih!"
Masih ada memori dimana media cetak masih jauh lebih populer dan diminati daripada media elektronik. Dimana teknologi manual masih jauh lebih efektif digunakan daripada teknologi otomatis. Termasuk teknologi yang kini seolah menjerati sendi-sendi kehidupan bermasyarakat kita. Internet.

Sepanjang pengetahuan penulis, sepertinya internet mulai merajalela di seantero Indonesia sejak tahun 2007-2008, ketika warnet-warnet mulai mampu menyediakan layanan internet dengan kecepatan yang cukup (untuk standar Indonesia), dan mulai 'meledak' sejak tahun 2008, seiring makin familiarnya jejaring sosial di kalangan masyarakat menengah Indonesia.
Rasanya tiba-tiba saja, semua di sekitar kita berubah menjadi hal baru yang sekilas asing? Beberapa orang di dunia maya pun dengan senang hati membantu kita menggambarkan perubahan yang telah terjadi.

Berikut penulis suguhkan gambar-gambar yang mewakili beberapa, dari banyak, perubahan yang telah lewat. Terkadang, tanpa kita sempat pergoki.
Merasa gagasan-gagasan yang terkadang dilontarkan kaum cendekiawan terlalu sporadis? Sekarang, bandingkanlah dengan semua di bawah ini.

Selamat menikmati.

sumber

sumber

sumber
sumber
sumber

sumber

sumber

sumber

sumber

sumber (dalam bahasa Portugis)
Ya, tetap saja, zaman senantiasa berubah. Tak peduli apakah manusia-manusia yang berkembang dalam jalannya berjalan mengimbanginya, melampauinya, atau tertinggal di belakangnya.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!

~tamat
(:g)
Lanjutkan baca »

Selasa, 24 Juni 2014

Article#309 - Alfred Story ep.63: Ujian Susulan

Alfred panik.
Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh lewat seperempat ketika ia memasuki kompleks kampus. Kepanikan terlihat jelas di wajahnya. Bagaimana tidak panik, ada ujian yang dimulai pada jam sembilan pagi tadi. Artinya. hampir satu setengah jam yang lalu.
Jantung Alfred berdegup makin kencang, meskipun ia sudah berhenti berlari akibat kelelahan.
Duh, mati aku hari ini. Ngomong apa coba ke Pak Hendi?
Alfred membatin penuh keputusasaan, ketika ia melihat Benny berlari terengah-engah menyusulnya.

"Duh, Fred, lo telat juga? Hah, syukurlah gw ada temen," engah Benny kelelahan.
"Malah seneng elo. Gue takut nih, ntar kita dapet E lagi," Alfred bergidik membayangkan ia harus mengulang mata kuliah Pak Hendi.
"Udah, lo pikirin ntar aja... Tuh kita kedatengan temen lagi," sahut Benny menunjuk ke pepohonan di sisi lain gedung. Pada jalan di balik pepohonan itu terlihat dua pasang kaki berlari ke arah yang sama dengan tujuan Alfred dan Benny.
"Nah, si Cagur sama Danang juga telat. Santai broh, aman," Benny mencoba menenangkan diri.

Tak lama, mereka berpapasan di depan ruang kelas 216. Dengan nafas tersengal dan tubuh berkeringat, mereka mengetok pintu ruang kelas tersebut. Tentu saja, pintu dibuka oleh Pak Hendi dengan alis kanannya yang berkedut-kedut.

"Menurut kalian, sekarang jam berapa?" Wajah Pak Hendi yang tanpa ekspresi membuat suasana terasa lebih mencekam. "Ujian baru saja selesai."
"Ma-maaf Pak.. Kami terlambat..," ujar Alfred terbata-bata.
"...Iya, maaf Pak," Cagur menyahut. "Tadi... ng, kami naik angkot yang sama pak.."
"Betul Pak.... Trus di tengah jalan... ban angkotnya meletus..." lanjut Danang.
"Iya Pak, kami kasihan sama pak supir... Jadi kami bantu pak supirnya pasang ban baru.." Benny ikut melanjutkan.
"Karena itu Pak, kami mohon... Izinkan kami ikut ujian susulan.." Alfred menutup laporan.

Beberapa saat hening. Pak Hendi memandang keempat mahasiswa di depannya sejenak.
"Kalau begitu, baiklah. Besok siang, jam dua, kalian datang ke ruang ini. Datang, atau kalian saya nyatakan tidak lulus." Pak Hendi berlalu dan merapikan buku-bukunya.
Alfred sama sekali tidak menyangka, ketiga temannya sempat mengarang-ngarang alasan demi izin ujian susulan. Tetapi tentu saja ia merasa lega. Setidaknya masih bisa menyambung nafas hingga esok hari. Ia pun menyusul Benny dan Cagur, yang mengobrol dengan penuh cengir kebanggaan.

Esok siangnya, Alfred, Benny, Cagur dan Danang kembali ke kelas Pak Hendi. Dengan mantap mereka melangkah, dan Pak Hendi mengulurkan empat set kertas soal ujian.
"Ini, soalnya ada dua lembar. Tapi, lembar kedua baru boleh dikerjakan setelah lembar pertama kalian kerjakan. Sekarang Alfred, kamu masuk ke kelas 221. Benny, kamu ke 222. Cagur, kamu ke 223. Dan Danang, kamu ke 224. Kalian bebas duduk di mana saja, asal di dalam kelas tersebut. Tas dan ponsel ditinggal di kelas ini, ya."

Keempat mahasiswa itu saling pandang, sebelum mereka bergerak ke ruang kelas masing-masing membawa alat tulis. Mereka mengikuti saja apa kata Pak Hendi. Paling supaya tidak ada yang saling mencontek.

Mereka mulai melihat soal di lembar pertama. Fiuh, mudah sekali. Isinya sama persis dengan penjelasan Pak Hendi pekan sebelumnya. Nilainya 20 lagi.
Dengan sumringah, mereka menuliskan jawaban di lembar soal tersebut.

Mereka kini membalik lembar pertama, untuk membaca soal di lembar kedua. Nilainya 80. Pertanyaannya pun lebih singkat. Tetapi keringat dingin pun mulai bercucuran.

Di lembar kedua tertulis pertanyaan berikut.
“Kemarin, ban angkot sebelah mana yang meletus?”


~diadaptasi dari cerita yang dikirim bung Hanivan via grup wasap angkatan penulis
Lanjutkan baca »

Sabtu, 21 Juni 2014

Article#308 - Solstis: Ketika Matahari Berbalik Arah

Waktu terus bergulir, dengan kebanyakan manusia mungkin tak menyadari.
Perlahan, tutupan awan yang sudah betah menutupi wilayah Indonesia mulai terusik oleh berubahnya alir angin muson, membukakan pintu bagi apa yang dikenal sebagai musim kemarau.
Mereka yang tinggal di belahan Bumi utara, perlahan merasakan waktu subuh yang seolah melaju menyantap jatah malam. Padahal jatah malam sendiri makin berkurang berkat waktu sore yang makin mulur.
Mereka yang tinggal di belahan Bumi selatan, merasakan waktu subuh yang seolah tertarik menjauhi kelam malam. Malam pun makin meraja seiring dengan mulurnya waktu petang, mendorong sore menjauh.

Tetapi hal ini tak akan berlangsung lama. Kalender 2014 sudah hampir mencapai setengah jalan.
Ini berarti, solstis musim panas akan segera tiba.
.....
...
Jadi?

*****
Sebagaimana penulis sempat singgung dalam tulisan tentang ekuinoks sekitar tiga bulan lalu, kenyataan bahwa 90% penduduk Bumi menghuni belahan Bumi utara membuat banyak istilah yang berkaitan dengan musim cenderung timpang. Ekuinoks yang terjadi di akhir Maret disebut sebagai "musim semi" karena bulan Maret cukup identik dengan musim semi bagi penduduk belahan Bumi utara. Padahal bagi penduduk belahan Bumi selatan, musim semi sudah berlalu beberapa bulan sebelumnya.
Kasus serupa terjadi juga dalam pemberian nama untuk solstis di bulan Juni. Mereka yang bertempat tinggal di belahan Bumi utara memberinya nama "solstis musim panas", yang tidak cocok dipakai oleh warga belahan Bumi selatan yang sedang menghadapi musim dingin. Terkadang digunakan penamaan "solstis Juni" dan "solstis Desember" demi menghindari ambiguitas (dan perseteruan yang terkadang mengikutinya) akibat perbedaan musim di kedua belahan Bumi. Ya, sebagaimana ekuinoks, solstis terjadi dua kali dalam setahun, tepatnya sekitar 20-21 Juni dan 21-22 Desember.
Supaya sengketa dalam permasalahan ini tak berlarut-larut, dalam tulisan ini penulis akan menggunakan penamaan "solstis Juni" dan "solstis Desember".

Berhubung sejak tadi tulisan ini sudah berkali-kali menyebut istilah solstis, maka sebelum tulisan ini dilanjutkan, ada baiknya dituliskan definisi dari solstis.
Bumi pada solstis musim dingin (kiri) dan solstis musim panas (kanan).
Gambar kiri dijepret pada 17 Desember 1998, gambar kanan dijepret pada
 23 Juni 1998. Kedua gambar dijepret oleh satelit GMS-5 milik JMA, dengan
gambar kanan diberi perlakuan horizontal flipsumber gambar
Solstis (solstice dalam bahasa Inggris) merupakan istilah yang dibentuk berdasar gabungan dari dua kata Latin, sol (Matahari) dan sistere (berdiri di tempat/berhenti). Berdasarkan gabungan dari kedua kata ini, makna solstis adalah "waktu di mana Matahari tetap berada pada tempatnya" atau "waktu di mana Matahari berhenti bergerak". Definisi solstis secara astronomis sendiri adalah waktu dimana Matahari berada tepat di posisi paling utara (atau selatan) terhadap pengamat di muka Bumi.

Ketika membandingkan pemaknaan secara literal di atas dengan pengamatan sehari-hari, dimana Matahari tampak "bergerak" secara teratur dari cakrawala timur ke cakrawala barat setiap hari, mungkin kesadaran beberapa pembaca sekalian agak tergelitik.

Apa maksudnya "Matahari tetap di tempatnya"? Bukankah Matahari terus "bergerak"? 

Pemaknaan "tetap di tempatnya" ini merujuk pada posisi Matahari terhadap langit. Kita boleh saja menyaksikan Matahari terbit dan terbenam setiap hari. Tetapi, mungkin banyak dari kita yang tidak begitu memperhatikan bahwa Matahari secara teratur bergerak dalam arah yang lain.

Satu contoh yang paling jelas adalah posisi terbit dan terbenamnya Matahari. Banyak dari kita yang terbiasa menerima pengajaran bahwa Matahari terbit di timur dan terbenam di barat. Sejatinya, posisi terbit dan terbenamnya Matahari senantiasa berubah dalam sebuah pergerakan yang dikenal sebagai gerak semu tahunan Matahari.
Perbandingan posisi terbenamnya Matahari dalam
interval sekitar 1 bulan. Dijepret oleh Abhijit Juvekar dari
Dombivli, India. Arah utara ada di sisi kanan foto.
sumber
Akibat adanya gerak semu tahunan Matahari, Matahari akan tampak terbit (dan terbenam) di arah lebih utara menjelang bulan Juni, dan di arah lebih selatan menjelang bulan Desember.
Supaya lebih mudah memahami gerak semu tahunan Matahari, foto di sebelah kiri dapat dijadikan gambaran sederhana.

Dari foto posisi terbenamnya Matahari, terlihat bahwa jarak posisi terbenam Matahari antara tanggal 11 April-12 Mei dan tanggal 12 Mei-10 Juni berbeda. Mengingat interval yang tak jauh beda, foto tersebut juga memberi gambaran, bagaimana kecepatan gerak semu tersebut melambat ketika mendekati waktu solstis.
Beberapa hari menjelang tercapainya titik solstis ini, Matahari terus "bergerak" ke arah utara (atau selatan, bergantung pada solstis mana yang kita bicarakan). Tetapi, kecepatan "pergerakan" ini sudah demikian lambat, hingga akhirnya berhenti sesaat di titik solstis. Pada solstis Juni, Matahari berhenti bergerak ke arah utara, dan perlahan mulai berbalik arah, bergerak ke selatan. Demikian pula sebaliknya.
(Catatan: Mungkin atas dasar inilah, istilah solstice dalam Wikipedia bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai titik balik Matahari. Tulisan ini menggunakan "solstis" untuk menempatkannya dalam gaya serapan yang serupa dengan ekuinoks dari equinox. Berhubung kata solstis tidak tercantum dalam KBBI, dalam tulisan ini, solstis selalu ditulis cetak miring.)

Perhentian gerak semu Matahari inilah yang kemudian dijadikan sebagai dasar bagi komponen "sistere" dalam solstis.

Oke, baiklah. Artinya, Matahari memang tidak selalu terbenam tepat di arah barat. Tapi mengapa Matahari bisa bergerak-gerak begitu?

Mungkin saya bisa beri petunjuk dulu. Gerak ini dinamai "gerak semu tahunan Matahari", tentu karena gerak itu melibatkan Matahari, sifatnya semu, dan berlangsung dalam setahun. Sifat gerak ini semu, artinya Matahari tidak benar-benar bergerak ke arah utara atau selatan, tetapi terlihat demikian karena hal lain. Hal yang berkaitan dengan periode gerak tersebut, setahun. Apa ya?

Hmm... peredaran Bumi mengelilingi Matahari? 'Kan setahun tuh?

Nah, tepat! Penjelasan paling cocok untuk menjelaskan periode gerak semu terkait yang setahun adalah dengan mengaitkannya ke peredaran Bumi mengelilingi Matahari.
Tetapi perlu diingat, peredaran Bumi saja tidak cukup untuk menjelaskan adanya pergerakan tersebut.
Ada satu keping teka-teki yang perlu ditambahkan untuk menjelaskan gerak semu tersebut.

Dan ia adalah.... Poros rotasi Bumi yang miring. Tepatnya miring sebesar 23,43°.
Miringnya poros rotasi Bumi mungkin telah menjadi kalimat yang familiar, berkat buku teks IPA masa sekolah dasar yang tebal dan membuat berat tas itu.

Penggambaran Bumi dengan poros rotasinya
yang miring. sumber
Beberapa anak yang kepalanya sedang jernih karena tidak mengantuk mungkin akan bertanya, "Miring terhadap apa?"

Poros rotasi Bumi miring terhadap poros orbit Bumi, yang diwakili oleh sebuah garis yang tepat tegak lurus terhadap bidang orbit Bumi. Besar sudut yang sama juga bisa diperoleh dari sudut antara bidang ekuator dan bidang orbit (ekliptika), sebagaimana ditampilkan dalam gambar di sebelah kanan.

Miringnya poros rotasi Bumi? Kalau tidak salah, itu yang menyebabkan adanya perubahan musim, ya?

Betul sekali! Baru baca buku IPAnya ya?
Memang, miringnya poros rotasi Bumi menjadi alasan utama dibalik adanya perubahan musim tiap tahun, di negara-negara beriklim sedang.
Mungkin sebagian dari kalian mengingat gambar yang dibubuhkan pada buku teks ketika membahas mengenai perubahan musim. Gambar berisi empat Bumi dalam orbit mengelilingi Matahari. Gambar yang seperti ini,
Ilustrasi posisi Bumi dalam kedua ekuinoks maupun kedua solstis.
sumber

Dengan poros rotasi Bumi digambarkan menunjuk ke arah yang tetap. (Oke, secara teknis, tidak dalam jangka panjang; tetapi untuk jangka pendek dapat dianggap demikian.)
Seiring beredarnya Bumi menempuh orbit, poros rotasi Bumi masih menunjuk pada lokasi yang kurang lebih sama, tetapi arah miringnya poros tersebut terhadap Matahari akan berubah karena posisi Bumi yang berubah. Maka perlahan, Matahari tampak bergerak ke arah utara, kemudian berhenti, dan bergerak ke arah selatan.

Ketika miringnya poros rotasi Bumi menghadapkan belahan Bumi utara lebih miring ke arah Matahari, belahan Bumi utara akan menerima siang yang lebih lama, juga sinar Matahari yang lebih kuat. Kombinasi keduanya memberikan kenaikan temperatur secara perlahan seiring dengan makin "miringnya" belahan Bumi utara ke arah Matahari, menghasilkan musim semi dan musim panas. Setelah solstis Juni berlalu, situasi akan berbalik. Kini giliran belahan Bumi selatan yang "diarahkan" oleh poros rotasi Bumi untuk mencecap siang yang lebih lama dan sinar Matahari yang lebih kuat. Konsekuensinya, belahan Bumi utara perlahan kehilangan jatah siangnya, dan menerima sinar Matahari yang makin lemah, memberikan musim gugur dan musim dingin bagi belahan Bumi utara.

...
...Selesai sampai di sini? Masih ada sajian penutup.

Waktu-waktu solstis identik dengan awal dari musim, entah awal musim panas atau awal musim dingin. Ya, tentu saja kita-kita yang berdomisili di lingkungan tropis tak akan merasakan banyak pengaruh dari miringnya sumbu rotasi Bumi. Tetapi, ketika rekan-rekan kita di negara beriklim sedang merasakan perubahan musim serta panjang siang-malam yang kentara, rekan kita lebih jauh ke dekat kutub merasakan fenomena yang lain lagi.

Dalam waktu-waktu solstis Juni seperti saat ini, mereka yang tinggal cukup jauh ke utara akan merasakan apa yang disebut sebagai midnight sun. Matahari tengah malam. Dari namanya, jelas terbayang bahwa yang akan mereka amati adalah Matahari yang masih tampak, meskipun waktu menunjukkan tengah malam.
Bagaimana bisa Matahari tampak di tengah malam?
Kompilasi foto Matahari pada tengah 'malam' waktu lokal.
Perhatikan pergerakan Matahari yang turun dan kemudian
naik lagi. sumber
Sederhananya, Matahari tidak terbenam. Di dekat kutub, kedekatan lokasi dengan titik kutub, serta poros rotasi Bumi yang "memiringkan" kutub ke arah Matahari memungkinkan Matahari untuk tidak terbenam dalam beberapa waktu. Waktu tidak terbenamnya Matahari ini bervariasi, dari hanya beberapa puluh jam, hingga beberapa puluh hari di daerah yang lebih dekat dengan kutub. Tepat di titik kutub, Matahari bahkan terbit dan terbenam sekali dalam satu tahun.

Jika ada saat dimana Matahari tidak terbenam, sebaliknya, ada pula waktu ketika Matahari tidak terbit, sebagaimana yang dirasakan penghuni daerah Antarktika saat ini. Fenomena ini disebut polar night (malam kutub), dan kondisinya secara umum berkebalikan dengan kondisi pada midnight sun. Alih-alih situasi mirip petang hari yang tergambar dalam foto di atas pada midnight sun, pada polar night langit cenderung tampak seperti langit fajar yang disusul kondisi gelap malam silih berganti.
Fenomena semacam itu hanya bisa dirasakan pada lingkup daerah yang disebut sebagai Lingkar Arktik di dekat kutub utara, atau Lingkar Antarktik di dekat kutub selatan. Kedua wilayah ini, sebagaimana sedikit dijabarkan sebelumnya, terletak cukup dekat dengan kutub untuk ikut merasakan "derita" kutub ketika lama tak disinari cahaya Matahari, dan sebaliknya.

sumber
Berbagai fenomena yang berkaitan dengan Matahari, termasuk ekuinoks dan solstis, termasuk di antara fenomena alam yang paling awal diamati oleh manusia. Karenanya, di berbagai tempat di Bumi, kita dapat menemukan berbagai monumen yang disusun dengan penyesuaian terhadap fenomena alam. Salah satu contoh paling terkenal adalah Stonehenge di dekat Salisbury, Inggris. Pada dasarnya, Stonehenge dapat disebut sebagai observatorium model jadul.
Susunan batu-batunya diatur sedemikain rupa, sehingga ketika tengah jajaran batu Stonehenge di pagi hari solstis, Matahari akan tampak terbit di balik sebuah batu yang dinamai "The Heelstone".


Sebagai penutup, berikut beberapa persembahan dari penulis. Selamat menikmati.

Potret Bumi diambil dari sudut pandang satelit geostasioner GOES-West.
Dalam gambar ini, terlihat sabit tipis Bumi dari pantulan cahaya Matahari
yang menyentuh lebih banyak daerah utara. Kutub Utara terdapat di ujung atas.
sumber
Matahari terbit di balik batu-batuan Stonehenge yang telah lama berdiri. sumber
Berikut adalah video singkat yang menggambarkan perubahan siang dan malam pada Bumi.



***
Jika ingin membaca lebih lanjut, sila kunjungi laman-laman berikut:
http://en.wikipedia.org/wiki/Solstice http://www.space.com/26284-summer-solstice-longest-day-year.html
http://www.polaris.iastate.edu/NorthStar/Unit4/unit4_sub1.htm
http://spaces.imperial.edu/russell.lavery/Ast100/Lectures/Ast100Topic02.html
http://www.cbc.ca/news/canada/summer-solstice-celebrating-the-longest-day-of-the-year-1.2682538
http://www.windows2universe.org/earth/climate/cli_seasons.html
http://www.climatecentral.org/news/earth-summer-solstice-17591
http://www.rmg.co.uk/explore/astronomy-and-time/time-facts/equinoxes-and-solstices

Demikian kiranya tulisan mengenai solstis ini. Sampai jumpa di lain kesempatan!
Lanjutkan baca »

Kamis, 19 Juni 2014

Article#307 - Out Of The Crowds, Out To The Clouds

Yeah, I know, that title is that kind of line you'd most likely to expect from a young weenie trying to make a rhyming, astounding song lyric. But that kind of stuff is certainly not a thing to be expected from this particular post. Since this post will be the place for.... (wait for it)... some comics.
YEEA..
..aa...
...
...wait, no cheers, fellas?

Oh, well.
The opening has gotten too cheesy, and before someone take this post and shred it for pizza topping (Gordon Ramsay's joke aside), I'll just go ahead and give the today's post some comic dose.

*****

I had come across some comic artists before, with ZenPencils, PhDComics and xkcd being some of my favorites. (You can also find some pieces of their artworks here in this blog, too.) And while they consistently publishes some worthy comic strip to reckon, the fact that it hasn't been quite a while since the last time I aided my blog with their comic strips struck me. The spirit to get another, fresher contents took me quite a time detouring the bright sides of the Net, before I found these following two comic strips. If you are a fan of mesmerizing, educating, and somewhat comical artworks, then I'd recommend you to have a visit on this page—a page of recommendation, which I hope to be useful, albeit quite redundant. (Talk about recommendception.)
If the case is the other way around, you can just stay here in this page, and appreciate the main part of this post. Enjoy!

source: happyjar.com
While it's true that the ideas delivered by the comic strip above might resonate well into the introvert side of some people, I'm not going to bring the interpretation that way.
The idea of hanging out by natural scenes has always been an interesting note to take for that part inside ourselves, which continuously craves for a time off and going somewhere we don't know.

Yeah, some of you might point out that sitting on a forest wouldn't be such a solemn, calming experiences as portrayed in the comic—not to mention the surreal-looking forest, even though, to be fair, how can we be so sure that it really is a forest from the first place?
Nevertheless, I'm sure I'm not alone in agreeing to this statement:
"I'd prefer hanging out in the nature over a nightclub anytime, be it with people or alone"
as our fellow friend on 9gag pointed out.

.......
The second comic strip is a piece from Grant Snider in his blog, Incidental Comics. As I try to point out from the title, the plan in this post is to combine the idea of hanging out by natural scenes, which I deliberately squeezed from the first comic strip, to the idea of observing the nature presented by the following comic strip.
While the idea of watching clouds have made countless appearances in the most romanticized dramas, films and other acts, I'd say that watching cloud in itself is quite an interesting stuff to do, albeit somewhat clichéd.

As Grant simply portrays, relaxation will be one of your best options, once in a while.

When talking about our connections to nature, I would always like to recommend this older post of mine to you guys: http://goo.gl/lXWey2

Side note: I want to point out that this day marks the longest temporary outage in 4 years for Facebook, currently the biggest social media network site in the world. Another funny moment to embrace, I suppose, especially when you visited the liveblog of the outage by The Guardian. 9gag also made fun of it, but, well, who wouldn't?

The next round will be something quite serious (and longer), so make sure not to keep your seats tight. See you around!

(:g)
Lanjutkan baca »

Selasa, 17 Juni 2014

Article#306 - Zaman Yang Berubah (1)

Mungkin tak salah kiranya, jika bulan Juni kali ini penulis nobatkan sebagai bulan bagi tulisan nostalgia. Khususnya bagi apa-apa yang akan diterakan panjang lebar di laman blog ini. Mumpung lagi minat bernostalgia. Semoga pembaca sekalian tidak jenuh, ya.
Tulisan kali ini tercetuskan di benak penulis berkat munculnya dua video yang dipublikasikan beberapa teman saya di kolom media sosial, khususnya grup angkatan penulis selama menempuh pendidikan di masa SMAN dulu. (Wahduh, sudah tua, yah.)
Cukup sekian prolognya. Selamat menikmati.

*****
Zaman berubah. Tentu saja, zaman berubah, siapa pula yang akan membantah?
Kita mungkin tak saksikan, bagaimana generasi kakek-nenek kita dahulu berjuang dalam menempuh pendidikan yang mungkin tak kita rasakan, mengguratkan perjuangan yang mungkin tak kita kuatkan. Kita mungkin juga tak saksikan, bagaimana generasi ayah-ibu kita, berinteraksi dalam keseharian yang tak kita kenali, beranjak dalam keterbatasan yang tak kita rasai. Toh pada kenyataannya kita tetap tak menyangsikan ada perubahan.

Ada perubahan pada pepohonan yang ranting-rantingnya makin bercabang, batang-batangnya makin kokoh, daun-daunnya makin luas. Ada perubahan pada mobil tua yang dibiarkan di parkiran entah sejak kapan, dengan cat yang terus mengelupas, dengan karat yang terus membuas. Ada perubahan pada wajah-wajah lama dalam ingatan, dengan sinar mata yang tak lagi tajam, detail kulit yang tak lagi lembut. Ada perubahan yang menimbulkan perbedaan. Tanpa perlu menilik contoh-contoh ekstrem yang bertebaran kisahnya di sekeliling, ada juga perubahan yang menyelinap masuk dalam citraan paling sederhana. Perlahan menyebar, nyaris tanpa terasa indera. Tanpa disadari, apa yang lazim dikenali di masa lalu, kini menjadi objek yang asing. Perubahan yang hanya terasa kita melihat ke belakang, dan membandingkan.

Mungkin pendekatan semacam inilah yang diusung Jin Lim dan Reuben Kang, ketika meluncurkan salah satu film pendek dalam channel Youtube hasil kolaborasi mereka, JinnyBoyTV. Film pendek yang diberi judul "My GENERASI" ini, secara singkat dapat dideskripsikan sebagai sebuah rekaman tentang, dengan segala tabur kekonyolan, kehidupan generasi mereka di masa sekolah dasar.
Dengan latar berupa sebuah sekolah di kota Kuala Lumpur, Malaysia, "My GENERASI" menyampaikan rekam jejak sederhana akan kehidupan anak SD yang dinamis di era 90an hingga awal 2000an. Sila simak videonya pada jendela di bawah


-o-

Permainan dan pergaulan anak SD masa 90an-00an yang dikupas sedemikian rupa dalam film pendek terkait, seolah mengajak pemirsa (yang cukup umur) untuk mengulang waktu ke masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah dulu. Saya sendiri, sebagai orang yang tergolong "cukup umur" sesuai kriteria di atas, juga ikut bernostalgia. Masih ada dalam ingatan, bagaimana kantin sekolah senantiasa ramai oleh kerumunan anak-anak di masa istirahat, merogoh selembar-dua lembar rupiah demi membeli kemasan makanan ringan. Penuh semangat, para siswa yang masih bocah itu memesan makanan ringan favorit mereka, sembari sesekali menceletukkan kata-kata kasar yang ditujukan pada sang penjual. Betul, terdengar tidak beradab, dan lebih pelik lagi ketika yang memperkenalkan kata-kata kasar terkait ke para siswa adalah sang pedagang sendiri. 

Wajah-wajah sumringah itu memborong berbungkus-bungkus makanan, untuk dihabiskan beramai-ramai di dalam kelas. Sayangnya, waktu istirahat yang sama juga dimanfaatkan oleh para siswi untuk bermain di depan kelas. Entah bermain bekel, atau engklek; dua itu sih yang paling populer dulu. Sesekali kerusuhan kecil muncul ketika para siswa berusaha menerobos kumpulan siswi yang sedang melombat-lompati petak ubin, untuk segera memakan camilan mereka. Jika cukup serius (dan untungnya jarang terjadi), keributan pecah hingga ada yang menangis, dan bubar ketika ada guru yang mendatangi sembari geleng-geleng kepala. Untungnya hal tersebut bukan kejadian lumrah, dulu.

Ya, para siswa yang kelaparan dan kebanyakan duit itu segera menghabiskan camilan yang baru ia beli. Entah makan ramai-ramai, sendiri-sendiri, atau menggagahi jatah camilan teman lain yang kurang beruntung. Satu hal yang relatif kompak dilaksanakan oleh mereka: Ketika pertama kali membuka kemasan, mereka keluarkan suvenir kecil berupa mainan atau strip komik kecil yang terbungkus plastik. Ketika sedang masanya mainan yang ngetren, dengan sigap arena pertandingan disiapkan. Satu-persatu siswa mempertunjukkan keahlian bermain mereka masing-masing, sesekali dibumbui sorak sorai dan gerutuan. Tiga puluh menit waktu istirahat yang menyenangkan, karena para siswa pada malas belajar di kelas yang dengan mudahnya menguap ketika derap langkah kaki guru untuk jam pelajaran selanjutnya datang. Terkadang sang guru mengomentari kekacauan di kelas yang terlanjur tercipta akibat pertandingan yang demikian sengit. Tetapi, yaa namanya anak-anak, esok hari dan esok harinya, kejadian yang sama kembali terulang. Entah guru yang memarahi itu dulu melakukan hal serupa atau tidak. (ups)

Mereka bertumbuh besar, dan permainan mereka meningkat ke level teknologi. Mungkin beberapa dari kalian ada yang masih familiar dengan "N-Gage", merek salah satu ponsel semi-konsol yang menjadi gandrungan berbagai kalangan di paruh awal 2000an. Salah satu produk pamungkas Nokia yang berhasil mempersatukan beberapa anak untuk melakukan kompetisi multi-ponsel. Bagaimana caranya? Ada Bluetooth, suatu teknologi yang memungkinkan terhubungnya dua atau lebih "konsol" demi kepentingan bersama. Sebuah teknologi yang serasa magis, tetapi tak banyak dipedulikan oleh anak-anak zaman itu. Yang penting bermain, bermain. Meskipun sampai lupa waktu, lupa tugas, lupa makan. Semoga sih tidak lupa diri.

Saat ini, dengan teknologi yang makin canggih merambah makin jauh, saya merasa bahwa permainan anak-anak yang akrab di benak kami sekalian dulu, tidak lagi akrab bagi para siswa-siswi yang mengecap pendidikannya saat ini. Entah bagaimana jika mereka membandingkan masa-masa kehidupan generasi 2000an awal dengan mereka saat ini. Saya sudah lama tidak mengunjungi SD saya, lebih lama lagi tidak memperhatikan kegiatan belajar di SD dengan detail. Tetapi sepertinya saya bisa menduga-duga, jika anak-anak SD sekarang bahkan sudah cukup akrab dengan layar sentuh: sesuatu yang istimewa bagi saya dan adik saya ketika pertama kali memergokinya di toko ponsel sekitar 10 tahun yang lalu.

Dan topik layar sentuh, beserta ponsel-ponsel yang mengusungnya, menjadi topik utama dalam video kedua yang disuguhkan dalam tulisan ini. Sedikit mengambil pendekatan yang berbeda dari film pendek sebelumnya, video kali ini lebih menyoroti perbandingan yang ada secara langsung. Tentu saja, topiknya yang lebih terasa nyata dan lebih kekinian juga cukup menggugah, terutama dari sudut pandang generasi lebih tua yang merasakan transisi demikian besar dalam lingkup teknologi berinteraksi.
Berikut, video kedua, "Look Up", dengan fokus utama terletak pada narasi Gary Turk dalam menjelaskan kehidupan rerata generasi masa kini. Mungkin supaya terdengar lebih menarik, Turk menyampaikannya dengan gaya yang sesekali menyusun rima tersendiri.
Selamat menikmati.


-o-

Salah satu ciri utama yang membedakan narasi Gary Turk di dalam videonya dengan film pendek "My GENERASI" sebelumnya adalah citraan pendapat pribadi. Dalam "My GENERASI", yang ditampikan hanya sekumpulan anak muda yang dengan bahagianya menjalani pernak-pernik indah kehidupan sekolah. Tetapi, dalam video "Look Up", video memang dibuat berdasarkan, dan berpusat di, narasi Turk yang terus mengalir sepanjang video bergulir. Gaya penyampaian yang cenderung egosentris tersebut tentunya akan lebih mudah memantik komentar pedas. Contohnya seperti Kaity Hall, yang menuangkannya dalam ulasan mengenai narasai yang dinilainya "sentimental" dan sedikit "hipokrit" dalam pemaknaan tertentu. Lengkapnya sila kunjungi tulisan berikut.

Jujur saja, bagi penulis, bagian paro awal bukan hal baru. Gavin, sang komikus ZenPencils.com, pernah menuangkan ide media sosial dengan mengadaptasi kutipan Marc Maron dalam karyanya. Dalam komiknya, dunia digambarkan dengan gradasi putih-hitam-biru yang monoton, identik dengan warna monoton yang senantiasa menghiasi akun media sosial kita yang paling populer. Secara umum, kutipan terkait menyetarakan mereka yang menggilai promosi diri via media sosial sebagai anak kecil yang merengek meminta perhatian. Kutipan terkait juga menyetarakan mereka yang mencandui perhatian di media sosial dengan pecandu narkoba. Alih-alih jarum suntik di lengan, yang mereka candui adalah notifikasi "like" yang satu demi satu bermunculan dengan rajin dalam ajang promosi dirinya.

Setelah menghadapi paro awal yang familiar, penulis menghadapi nostalgia yang menarik ketika menghadapi paro akhir video. Meskipun bagian tersebut bisa dikatakan sebagai bagian paling klise dari video terkait (sebagaimana diutarakan Kaity Hall dalam ulasannya), bagian terkait adalah bagian yang lebih menyadarkan saya akan kenyataan.
Kenyataan, bahwa terkadang klise paling menjemukan pun datangnya dari dunia nyata pula. Dan bahwa klise tak pernah seindah realita.
.....

Saat itu Jakarta adalah rumah bagi sang Pandita Raja yang telah lebih dari duapuluh tahun berkerak di kursi kepemimpinan Istana Negara. Saya pun lupa detailnya, kira-kira kisah ini terjadi antara 1989-1990. Di saat itu, seorang pemuda di tengah usia 20an sedang sakit. Penyakit langganannya yang kembali menyerang berkat udara sumpek ibukota, sedikit banyak tentu mengganggu kinerjanya dalam mencari rezeki di ibukota. Tak ayal, pemuda ini mencari apotek untuk membeli obat. Yaa, untuk apa lagi memang ke apotek?
Apotek itu ditemukannya. Setelah ia datang, semua berjalan sebagaimana seharusnya. Memesan obat yang diinginkan, menunggu sebentar, menerima obat, lalu membayar. Kecuali satu hal, bukan hanya obat yang didapat sang pemuda selepas keperluannya di apotek terkait. Ada yang terngiang dari keramahan salah satu apoteker yang sedang bertugas saat itu. Yang terngaing, yang seolah mengendalikan kaki pemuda tersebut untuk senantiasa ke apotek terkait untuk membeli obat. Belakangan, tujuannya bahkan bukan untuk membeli obat.

Tak butuh waktu lama bagi kedua insan tersebut untuk merasakan hal yang berbeda. Teristimewa. Dalam beberapa bulan, segeralah mereka meresmikan hubungan mereka, dalam ikatan yang diakui secara sah oleh undang-undang. Momen pertemuan pemuda itu dengan sang apoteker menjadi awal dari sebuah kisah cinta yang terus mengulur setelah lebih dari dua puluh tahun. Kisah yang mewujudkan saya untuk menulis panjang lebar dalam tulisan kali ini.
.....
Boleh jadi saya sendiri juga terlalu banyak menghukumi berbagai cerita manis televisi dengan label klise. Tetapi kisah di atas memberi testamen tak terbantahkan kepada saya, betapa satu momen bisa menentukan garis hidup ke depan. Nyaris serupa dengan penggambaran Gary Turk dalam videonya. Saking samanya, saya kemudian membayangkan, apa jadinya ketika kisah itu terjadi di era media sosial ini. Akankah sang pemuda sibuk mencatut satu persatu notifikasi di ponsel cerdasnya, sementara sang apoteker yang tak lebih peduli hanya bergegas memberikan uang kembalian?

Mungkin saja, tetapi kemudian sedikit penggambaran di atas menjadi pembeda utama antara kondisi di akhir 80an dengan kondisi kini. Tahun 80an, jangankan internet, ponsel saja masih bisa dibilang asing bagi orang-orang saat itu. Sejak telepon yang besar-besar dan berat-berat itu mulai merasuk ke pangsa pasar teknologi negeri, hingga perlahan mengecil dan menipis. Mulai terbentuk dunia kedua yang perlahan menjaring, melengkapi lingkupnya dalam lingkar hidup orang-orang di seluruh penjuru dunia. Sebuah dunia baru yang melingkupi seisi dunia, dimana dimensi yang ada tak lagi mengenal jarak dan ruang. Sampailah kita di era yang dinamai era globalisasi. Dimana satuan jarak tak lagi banyak berarti, berkat adanya dunia baru yang kini kita panggil "dunia maya". Sekali lagi, sebuah bukti bagaimana teknologi berkembang demikian dahsyat hanya dalam rentang satu generasi.

Saya sempat menuliskan tentang bagaimana makna jarak seolah pudar bersama tumbuhnya dunia maya sebagai katalisator utama era globalisasi. Di zaman dulu, boleh beredar banyak kisah pahit, dimana kebahagiaan bersama terhenti di tengah jalan akibat perpisahan. Saat ini, meskipun banyak kepahitan serupa diedarkan, pahitnya mungkin sudah demikian pudar dengan berbagai aplikasi obrolan sebagai obat penawar.
Jika boleh dibilang, salah satu jasa terbesar era globalisasi adalah mendekatkan yang jauh, juga menyambungkan tali silaturahim. Jaringan komunikasi yang sudah sedemikian solid memudahkan kita mengakses berita dari penjuru dunia yang lain, yang mungkin benar-benar baru saja terjadi. Jaringan komunikasi yang solid jugalah yang kemudian mempertemukan wajah-wajah lama yang bahagia meski menua, bernostalgia mengenang masa muda yang telah lama lewat.
Di sisi lain, sebagaimana hampir segala hal lainnya di dunia, sisi era globalisasi yang lain adalah bahayanya. Jika dikaitkan ke pembicaraan sebelumnya, topiknya akan berpisar pada menjauhkan yang dekat, juga memutus tali silaturahim. Dimana keduanya bisa berawal daridiri yang terlalu larut dalam dunia sendiri hingga lupa orang sekitar, dunia sekitar. Saya yakin, banyak dari pembaca sekalian sepakat bahwa tak ada juntrungannya bertemu jika kemudian tangan sibuk menyangga jempol untuk menggeser beranda akun media sosial masing-masing. Meskipun membicarakan suatu hal memang selalu lebih mudah daripada melaksanakannya.

Sebagaimana kita mungkin sadari secara naluriah, manusia selalu membutuhkan interaksi nyata dengan kehidupannya. Di saat interaksi langsung tak memungkinkan, interaksi memanfaatkan kebolehan teknologi yang ada memang mempermudah banyak hal. Yang penting dalam mengelola hal ini, sebagaimana banyak hal lainnya, adalah keseimbangan. Dan keseimbangan memang tidak semudah kedengarannya untuk dicapai, termasuk oleh penulis yang seolah dengan pongahnya menguliahi kalian semua tentang apa yang baik dan apa yang tidak. (Maafkan saya)

Ya, tetap saja, zaman senantiasa berubah. Tak peduli apakah manusia-manusia yang dilewatinya berjalan mengikutinya, melampauinya, atau tertinggal di belakangnya.

~bersambung
(:g)
Lanjutkan baca »

Kamis, 12 Juni 2014

Article#305 - Menyapa Jejak: Kehidupan Yang Terbumikan

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono. 1989. Hujan Bulan Juni
Jemari penulis merasakan sedikit jalaran dingin ketika mulai mengetikkan kata-kata pembangun awal dari tulisan ini. Sudah cukup lama berlalu sejak Edisi Bocah Tersasar terakhir yang penuh didominasi tulisan panjang nan tak terbayang, yang tepatnya berdomisili di dalam tautan berikut. sudah banyak hal yang berlalu, hal yang terlewat. Kenangan yang tersisa, yang tersimpan. Halah sudahlah, bagian ini akan dicukupkan sampai di sini, sebelum hawa galau terlalu menyeruak.
Kabar bocah-bocah tengil? Mungkin mudah menebaknya. Bagaimanapun juga, dengan waktu-waktu di negeri samurai dihabiskan dalam berbagai warna cuaca, kegiatan utama mereka sebagai barisan pelajar tentunya berkaitan dengan menyerap ilmu sebaik-baiknya dari tempat mereka kini. Ada misi tersendiri yang diemban oleh masing-masing bocah dalam sanubari, dengan tujuan, harapan, dan langkah-langkahnya. Tak hanya dalam memandang masa depan yang sedang mereka cermati, tetapi juga masa kini yang dengan tekun dilalui.

Berhubung inisiatif dari sebuah kegiatan biasanya dikembangkan secara tersendiri, alur selanjutnya dari tulisan ini akan berfokus pada apa-apa saja yang ditempuh penulis; meskipun perlu diperhatikan, hanya sedikit dari keseluruhan aktivitas penulis yang pada akhirnya akan berakhir di tulisan ini. Berakhir sebagai santapan mata-mata yang lapar menatap laman ini.

Tulisan kali ini mungkin juga tidak seiya sekata dengan gaya tulisan di Edisi Bocah Tersasar sebelumnya. Mohon pemaklumannya.

*****


3 Mei 2014. Saat itu, hampir sebulan telah berlepas sejak hari-hari indah dalam masa libur musim semi berakhir. Hal yang juga berarti, tidak tersedianya delapan belas tiket kereta penuh semangat muda, yang selama ini menjadi andalan penulis dalam menjajal keisengan dengan berkelana solo. Berkelana, mengunjungi beberapa pojok-pojok negeri samurai yang relatif jarang diminati mayoritas wisatawan. Toh, tujuannya bukan untuk berwisata. Tetapi untuk sekadar berjalan menguras tangki kebosanan. Dan perjalanan jauh, menyusuri apa-apa yang tak diketahui sebelumnya, selalu menjadi obat bagus. Apalagi ketika kau ingin membocorkan tangki kebosanan yang sempat menunggak kurasan di awal liburan.

Kembali ke 3 Mei, hampir sebulan setelah selesainya episode jalan-jalan musim semi. (Hasil jalan-jalan terkait ada di sini) Saat itu adalah bagian dari deretan pekan emas, saat dimana banyak warga negeri samurai memanfaatkan deretan hari libur terkait untuk... yah, berlibur. Entah mengunjungi keluarga, sanak saudara atau handai taulan. Entah sekadar melepas penat dari pekerjaan dengan mengunjungi tempat wisata idaman mayoritas.
Tentu saja, penulis termasuk dalam golongan orang-orang yang begitu antusias menyambut datangnya hari libur. Yaah, tidak cukup untuk melakukan kunjungan ke sanak saudara atau handai taulan sebagaimana banyak warga sini lakukan. Secara penulis bukan warga asli sini, toh. Namun kesenangan mendapat jatah hari libur tersebut sedikit dipudarkan oleh kenyataan bahwa delapan belas tiket kereta andalan penulis tidak lagi dipasarkan. Di luar waktu, katanya. Apa boleh buat, artinya kemungkinan bepergian ke luar kota terpaksa ditutup. Bepergian tanpa tiket andalan tersebut? Wah, cintaku liburku berat di ongkos, Neng!

Orang bilang, ide besar muncul di saat terjepit. Mungkin keadaan terjepit seperti waktu itu lah, yang akan membuat otak berputar sedemikian kuat, jauh mengalahkan cepatnya segerombolan mahasiswa yang kelaparan ketika disuguhi jamuan lezat. Maka saya menjepitkan diri...... sakit, yah. Menjepitkan diri di antara keinginan berkelana menjadi udara segar, dengan perlunya menjaga isi dompet supaya tetap stabil sentosa.

Opsi termudah untuk menyelesaikan permasalahan? Bersepeda.

Kemana? Pertanyaan ini sempat membuat kebingungan berkecamuk dalam kepala penulis selama beberapa saat, tetapi pada akhirnya penulis memutuskan untuk menempuh perjalanan ke daerah yang lama tak penulis kunjungi di negeri samurai: pantai berpasir.

Tetapi, pada 3 Mei, penulis dihadapkan pada dilema berlangsungnya sederetan kegiatan yang (rupanya) telah disiapkan oleh komunitas sesama pelajar di kota pelajar ini untuk mengisi liburan pekan emas. Alhasil, wacana tinggallah sebatas wacana...
...hingga dua pekan setelahnya.

17 Mei 2014. Hari yang juga bertepatan dengan Hari Buku Nasional.
Setelah melalui dua akhir pekan dalam dilema antara keinginan bergerak dengan kemalasan bergerak, (?) akhirnya penulis memantapkan tekad dan kemauan hidupnya.
Maka berangkatlah penulis, terus menempuh perjalanan sekitar 15 km dari tempat tinggal menuju garis pantai berpasir terdekat. Terimakasih kepada peta Gugel yang bersedia menunjukkan lokasi.

Sebelumnya, mungkin penulis perlu memberitahukan bahwa kota domisili penulis saat ini adalah salah satu kota terdekat dengan episentrum Gempa Besar Jepang Timur yang terjadi pada 11 Maret 2011 lalu. Karenanya, ketika membicarakan sebuah kunjungan ke sisi pantai sebuah kota dengan sejarah gempa besar beberapa tahun sebelumnya, tak ayal, artinya kau akan menyaksikan sebuah lanskep daerah yang pernah diterjang tsunami dahsyat.
Penulis merasa, sebagai warga dari negara yang juga akrab dengan gempa maupun tsunami, sudah selayaknya penulis mengunjungi daerah yang pernah mengalami dahsyatnya kejadian tersebut. Satu alasan adalah karena penulis tidak begitu akrab dengan persaksian atas sebuah kejadian alam. Alasan lainnya, tentulah lokasinya yang dapat dijangkau dengan mudah dari tempat penulis mengetikkan kata-kata di laman anehnya selama ini.

Belantara rerumputan, tersembunyi di naungan langit jernih
Perjalanan mengayuh sepeda melalui jalan yang menurun terasa berlalu cukup cepat, hanya sejam terlewati sebelum akhirnya penulis melewati rute prefektur 139 yang mengantarkan pengendara menuju sebuah titik pantai di muara sungai Nanakitagawa. Dan disanalah mereka bertahan dalam pose bisu dan kaku, memberi testimoni jitu akan apa yang terjadi tiga tahun lalu.

Berikut dokumentasi penulis akan berbagai bukti-bukti tak terbantahkan yang menjelaskan, tanpa perlu sepatahpun kata, kekuatan tsunami yang menyeruak saat itu.

Tiang yang patah. Teriring sandal penulis sebagai pembanding.
Tiang yang terbengkokkan sedemikian rupa menjauhi pantai.
Panjang tiang sekitar 5-6 meter.
Sisa fondasi sebuah rumah?
Rumah yang terbengkalai beserta sekian banyak perabotan rumah tangga 
Rongsokan sisa gempa dan tsunami

Berdiri di sana, pikiran penulis berkelebat membayangkan, kira-kira seperti apa kenampakan daerah ini empat tahun lalu, dan bagaimana kehadiran tsunami mengubah kelanjutan hidup penghuni di daerah ini.
Tiang yang patah (lagi)
Arah foto membelakangi pantai





Muara sungai Nanakita (七北田川)


Penulis tetap meneruskan perjalanan, mencari lokasi menuju pinggir pantai sesungguhnya. Yang rupanya lebih banyak menyimpan trik daripada yang sebelumnya penulis sangka.


Sejenis teluk kecil di muara sungai. Samudra Pasifik dapat dilihat
di belakang pematang pasir keabuan pada latar.
Pagar menuju apa..?
Belum berhasil menemukan garis pantai, penulis kembali menggowes ke arah utara, mendekati pelabuhan. Sedikit perjalanan mendaki (agak aneh, mengingat posisi sudah sedemikian dekat dengan pantai), dan akhirnya penulis sampai di dekat lokasi pengamatan. Sudah sangat dekat dengan pantai, bahkan ada tangga, namun sayangnya...

Pantai!

Mari turun....
....er,, tidak jadi deh.
Tangga terkait sepertinya dipatahkan oleh tsunami yang sama dengan yang menyapu peradaban dari foto-foto sebelumnya. Yang tersisa adalah paruh atas tangga, terputus menyisakan tebing setinggi 5-8 meter menuju pantai. Sayangnya penulis tidak cukup nekat untuk meloncat turun. Susah nanti ambil sepedanya.
Akhirnya penulis beranjak turun dari lokasi tangga tersebut. Jalan yang meliuk turun membawa penulis kembali ke jalur utama menuju pelabuhan, tetapi mata penulis yang berkelana ke arah kiri jalan menemukan celah bagus untuk menyelinap menuju area pantai.

Jenazah pohon dan jenazah perahu.
Butuh berjalan sekitar 200 meter sebelum akhirnya sampai di pantai yang sesungguhnya. Waktunya relaksasi sejenak, menyegarkan tubuh yang mulai lelah. (halah)







Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, maka penulis mau tak mau beranjak pulang. Dengan kaki berpasir, bau air laut dan bau petualangan, penulis bergerak membawa sepeda dan menggowesnya pulang.

-o0o-

Ada mungkin, kepingan-kepingan yang hanya sekilas muncul di kala menyaksikan bukti-bukti tak bergerak pada dokumentasi di atas. Testimoni paling sahih untuk menjelaskan bagaimana, pada pukul 3 sore, 11 Maret 2011, gelombang bergulung-gulung mendatangi daratan dan merangsek, jauh meninggalkan lautan tempat ia berasal.
Ada kehidupan yang meregang, menyerah kalah pada gelombang yang amukannya membuat ciut nyali bangunan-bangunan. Padahal sebelumnya mereka menjulang dengan pongahnya di sisi-sisi sungai.
Ada cerita yang tercerabut dari akarnya. Entah berapa banyak orang, dengan masing-masing ceritanya, yang mendapati alur hidup mereka bergolak sedemikian rupa.
Ada peradaban yang tersungkur di hadapan kuasa-Nya. Rumah-rumah yang isinya terhamburkan ke luar, seolah mencoba menceritakan kisahnya lewat jalaran tumbuhan liar yang mulai merambati tubuh rumah.
Jalaran yang tampak seperti jemari dari sebuah tangan tak terlihat, meminta barang miliknya kembali. Kembali, untuk bersatu dengan tanah yang rata, angin yang hampa, rerumputan tanpa warna. Dalam kesatuan.

Aku ingat ketika aku menghabiskan beberapa waktu duduk di tanggul, menghadap pinggir pantai. Membiarkan hembus angin yang bersorak kencang di punggungku dalam siang hari itu. Melihat sesekali kendaraan bermotor mendatangi satu sisi tanggul itu, mengantarkan pengendaranya untuk berdiri di sisi tanggul itu.
Berdiri saja mereka! Tampak takzim memandangi langit biru yang napak berpadu dengan lautan di kejauhan. Tampak khidmat memandangi burung camar yang sesekali terbang rendah mengincar makan siang. Tampak tegar, sesekali dengan tangan yang terkepal. Entah ibu dan putranya, suami dan istrinya, atau kakak dan adiknya.
Tak lama, mereka beranjak lagi, kembali meninggalkan aku yang duduk seorang diri di tepi.

Sekian lama, kupikir aku duduk tercenung tanpa hasil. Saat aku mengayuh sepeda lebih jauh, kuamati lagi rerumputan yang bergoyang dengan damai. Genangan air sisa tsunami yang terperangkap, berdiam dalam ramai. Debur ombak di kejauhan, menenggelamkan sahut riang burung camar.
Aku tak tahu menahu kesimpulan apa yang digapai orang orang-orang yang sebelumnya kulihat memandang lurus ke arah lautan. Mungkinkah mereka mencoba menyesuaikan ritme pikiran mereka dengan ritme lingkungan di sana? Ritme yang tenang, damai, seolah tiada apapun pernah terjadi.
Rumah-rumah dan bangunan lain boleh saja berdiri dalam postur hancur mereka setelah diterjang tsunami. Tetapi selain itu, semua tampak baik-baik saja? Tetumbuhan dan hewan kembali menguasai daerah itu, yang tiga tahun lalu tercoreng moreng kotoran dan kerusakan. Seolah luka itu tak pernah ada.
Mungkin?

Sebagaimana kehidupan kembali semarak, disana seolah tergambar pula dengan amat jelas, bagaimana jemari yang tak terasa keberadaannya, menggamit tangan berjalan pelan. Penuh kewaspadaan, jemari itu mengajak untuk kembali, bersama yang lain yang terbumikan.
Mengajakmu pulang.



*****

Tulisan ini dibuka dengan mengutip sepenggal puisi tentang hujan di bulan Juni. Maka penulis memutuskan untuk menututpnya dengan topik yang sama. Lagipula, saat ini air hujan masih membasahi segenap bumi di kota ini.

Sebuah analisis atas puisi karya Pak Sapardi Djoko Damono tersebut mengatakan bahwa hujan dalam penggalan puisi terkait dapat dimaknai sebagai hujan yang seharusnya tidak turun. Dengan pertimbangan bahwa kecenderungan musim di Indonesia pada bulan Juni adalah musim kemarau, maka porsi hujan yang tercurahkan tidak sebanyak di bulan-bulan sebelumnya yang tergolong dalam musim hujan. Hujan yang jarang turun, dan sekalinya turun, ia masih harus merahasiakan rintik rindu yang membuncah terhadap sebatang pohon berbunga. Setidaknya, begitulah pemaknaan yang dijabarkan dalam analisa terkait.

Lalu, bagaimana kabar di sini?
Kondisi yang sangat bertolak belakang, ketika ditilik dari sisi iklim. Bulan Juni di negeri samurai senantiasa identik dengan "hujan plum" (梅雨), musim hujan yang ditandai dengan bermekarannya bunga plum, atau ume.
Walaupun penulis tak pernah benar-benar setuju akan bagian "tidak ada yang...", pengambilan sudut pandang ini tetapmenarik untuk diselami.
Jika disesuaikan dengan analisa di paragraf sebelumnya, maka pemaknaan yang muncul adalah bagaimana rintik rindu yang ada, tak tersampaikan walaupun dia punya sejuta kesempatan untuk mengambilnya. Sesekali keraguan tersurat, sesekali kerinduan tersirat, tetapi tekad yang bengis atas harapnya sendiri itu menolehkan mukanya, berpaling. Menengadah pada langit dengan awan yang bergulung-gulung.
And when it rains, on this side of town
It touches everything


Jika Pak Sapardi menuliskan puisi di atas pada tahun 1989, penulis mengadaptasinya dalam tulisan ini pada 2014. Dalam jangka waktu 25 tahun itu, sudah banyak yang berubah, berkembang pesat dalam bidang teknologi. Kalau dulu perpisahan antar dua kota yang bertetangga bisa mengantar kepada "putus hubungan", kini perpisahan "fisik" sejauh apapun seolah tak lagi digubris, dengan adanya aplikasi-aplikasi yang mengemas teknologi untuk mengobrol dengan sesiapa, nun jauh disana. Penulis lebih memilih penjabaran ini untuk percobaan menempatkan sudut pandang puisi terkait dengan kondisi penulis saat ini.

Meskipun begitu, rasanya hujan di manapun rasanya tak jauh beda. Angin segar yang sama, membawa butir-butir yang menampar wajah dengan malu-malu. Tetes-tetes air yang bergemericik di jalan, sesekali membasahi jemari yang sibuk menadahi air limpasan atap. Dan ketika mengaitkan hujan dengan kerinduan, sesekali kubayangkan wajah-wajah yang menatap hujan turun dalam tenang. Mereka yang kuyakini hidup dalam ketabahan, kebijakan, dan kearifan yang melebihi hujan manapun yang membasuh Bumi di bulan Juni ini.
rMereka yang membasuh jiwa-jiwa yang panas, untuk mengistirahatkan ritme hidup. Mencoba mengurai kata-kata bodoh untuk disampaikan sebagai salam rindu, lewat awan hujan yang menderu.
Sejenak aku terpaku sunyi
Menyelusup dalam kelam malam
Warna itu, cahaya yang mengira tiada
Butir-butir hujan turun dalam gulita
Membesuk wajahku yang bergidik
Dalam perenungan akan rahasia
Bagai hantu, jiwa kosong berkelana
Menari di balik tudung awan

Sementara aku membisiki diri
Untuk lebih lama tinggal
Bagai debu, tertiup tanpa wujud rupa
Hidup keras dalam limpasan nada-nada
Bertalu-talu, ia berbisik
Di luar semakin sangit corak mentari
Memadamkan bekas-bekas tapak hati, menyekap sisa-sisa rindu tadi
Sebelum fajar. Ada yang masih bersikeras abadi
Meminta jujur. Atas laras kebodohan jalan ini

(Bocah Tengil, 2014. Sepanjang Jejak Rahasia)

(seluruh gambar disadur dari dokumentasi pribadi penulis)
Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...