Selasa, 31 Desember 2013

Article#250 - Menelusur Remah Bongkah Pembelajaran

Sepoi angin malam seolah terdesak, tak rela menghembusi para pejalan kaki dengan getar gigil kedinginan yang biasa. Malam tak hanya sejuk, namun juga sepi, sunyi, damai, meski kadang hampa. Seolah mengajak jiwa-jiwa yang terkatung dalam kesunyian, terasing dari hura-hura tanpa artian, untuk menyibak kembali, apa yang selama ini ia biar terlewatkan. Digiringnya lembar arsip ingatan yang tertimbun jauh di lubuk jiwa, untuk kembali membayang tanpa lelah.
Mungkin beberapa dari kita tak bisa menampik, di mana-mana pesta hura-hura dan kefanaan dibungkus dengan rona warni yang apik dan eksotik. Sementara kalian duduk tenang, dalam hening, bersama hembusan sejuk yang kadang menggelitik.
Beberapa dari kita mungkin sudah menjadikan sebuah angka yang segera berganti, menjadi titik balik. Titik pacu dalam rangka menggerak keterserakan jiwa ke arah yang lebih baik.
Ada juga sebagian lain dari kita. Mereka yang sibuk mendaras kalimat-kalimat Sang Maha Perangkai Kata, sudah berangkat jauh meninggalkan hura-hura warga dunia yang membakar sekian banyak harta. Mereka tak lagi membutuhkan pesta pora fana, tanpa makna.

..
....
Saya rasa, hal yang paling garing dalam proses penulisan ini adalah sebuah kenyataan. Tempat diselesaikannya tulisan ini adalah tempat yang sama persis, sebagaimana yang saya sambangi tepat di momen serupa, waktu sebelumnya. Kalau dilihat dari sisi fungsi keadaan, yang hanya peduli asal muasal dan tabir terakhir dari sebuah permasalahan, awal dan akhir dari kondisi ini adalah posisi yang sama. Dari sini, mungkin tak salah jika disebut stagnan.
Loh, tapi saya sudah pergi kemana-mana..
Berarti, hidup bukanlah sebuah fungsi keadaan?
Rasanya tidak juga.
......
Langkahkanlah kaki di sepanjang jalan, dan akan kautemui berbagai hal di sepanjang perjalanannya. Berada disana, sesekali terjumpalah remah pasir yang membuat sepatu terseok, dan meresap memanasi kaki. Dalam kondisi lain, remah ini bisa mampir ke lain tujuan. Tak lagi terinjak di bawah sepatu, tetapi mengusik mata yang sensitif. Akan terjumpa pula, bongkah batu, yang mungkin dengan sadar tidak diinjak, tetapi dalam satu waktu bisa membuat kaki yang melangkah ini terantuk, meringis kesakitan. Ada sinar matahari, dan arak awan, yang bisa bergantian menyinari, menaungi, atau menghujani si petualang dalam keseruannya tersendiri.

Semua dari kita punya ceritanya masing-masing. Cerita yang selalu berbeda antar individu, karena perbedaan dari apa yang mereka temui, apa yang mendatangi, dan bagaimana ia menanggapi.
Seperti butir salju, masing-masingnya bermula dari keping butir debu yang berbeda. Mereka kemudian bersatu antar satu sama lain, mengumpulkan keping demi keping es kecil-kecil, sampai bobot mereka sendiri menang dan mengizinkan mereka untuk jatuh, menyapa bebatuan atau pepohonan di Bumi. Perjalanan yang mereka tempuh, beserta entah berapa banyak butir air debu yang bersatu, memberikan berbagai maam bentuk salju, yang antar kepingnya tidak ada yang sepenuhnya identik. (Penulis sangat tidak menyarankan kalian untuk membuktikannya.)

Pada gilirannya, remah bongkah ini, remah bongkah pembelajaran yang terjumpa, adalah apa yang menempa hidup seseorang menempuh jalur tersendiri, sebagaimana jalannya saat ini. Dan setelah saya merenung di jalan pinggir kota tahun lalu, saya kini disini, di tempat yang sama. Masih di pinggir jalanan di pinggiran kota, tanpa tujuan merapal apa saja remah bongkah pelajaran yang sudah dicecap dirasakan.
Tak jauh beda dengan tahun lalu, kali ini, saya hanya ingin mengatakan supaya kita semua senantiasa memperbaiki diri dan terus belajar untuk menjadi diri yang lebih baik. Semoga kelak, dengan remah bongkah pelajaran yang telah menempa laju hidup kita, tradisi penuh kesia-siaan yang biasa disemarakkan pada setiap momen semacam ini, dapat diubah menjadi kegiatan yang bermakna dan berdampak untuk perkembangan diri ke depan.
Toh ini hanya hasil dari sistem penanggalan buatan manusia kan? Tak perlu diagung-agungkan. Ia hanya terasa spesial karena adanya keterulangan yang frekuensinya jarang.
Selamat berbahagia! Karena bahagia itu pilihan.

35°42'56.14"N, 139°48'12.65"E, 30 Desember 2013, 09:11 (UT+9).
Kuritsu Sumida Koen (区立墨田公園), Taito-ku, Tokyo.

Hari 6840, ditemani sunyinya udara metropolitan malam.
Rabu, 1 Januari 2014, 01:39 (UT+9)
35°43'18.51"N, 139°48'05.43"E
Lanjutkan baca »

Senin, 30 Desember 2013

Article#249 - Kutipan Hari Ini

"Angin terkencang hanya akan menerpa mereka yang berdiri pada ketinggian."

~disadur dari ketidakjelasan kehidupan.
Dikutip pada Senin, 30 Desember 2013, 07:22 (UT+9)


Lanjutkan baca »

Minggu, 29 Desember 2013

Article#248 - A Phone Which Kept Ringing

Phone won't stop ringing? Here's what you (might like to) do.

Leola Starling of Ribrock, Tenn., had a serious telephone problem. But unlike most people she did something about it.
The brand-new $10 million Ribrock Plaza Motel opened nearby and had acquired almost the same telephone number as Leola.

From the moment the motel opened, Leola was besieged by calls not for her. Since she had the same phone number for years, she felt that she had a case to persuade the motel management to change its number.

Naturally, the management refused claiming that it could not change its stationery.

The phone company was not helpful, either. A number was a number, and just because a customer was getting someone else's calls 24 hours a day didn't make it responsible. After her pleas fell on deaf ears, Leola decided to take matters into her own hands.

At 9 o'clock the phone rang. Someone from Memphis was calling the motel and asked for a room for the following Tuesday. Leoloa said, "No problem. How many nights?"

A few hours later Dallas checked in. A secretary wanted a suite with two bedrooms for a week. Emboldened, Leola said the Presidential Suite on the 10th floor was available for $600 a night. The secretary said that she would take it and asked if the hotel wanted a deposit. "No, that won't be necessary," Leola said. "We trust you."

The next day was a busy one for Leola. In the morning, she booked an electric appliance manufacturers' convention for Memorial Day weekend, a college prom and a reunion of the 82nd Airborne veterans from World War II.

She turned on her answering machine during lunchtime so that she could watch her favorite soap opera, but her biggest challenge came in the afternoon when a mother called to book the ballroom for her daughter's wedding in June.

Leola assured the woman that it would be no problem and asked if she would be providing the flowers or did she want the hotel to take care of it. The mother said that she would prefer the hotel to handle the floral arrangements. Then the question of valet parking came up. Once again Leola was helpful. "There's no charge for valet parking, but we always recommend that the client tips the drivers."

Within a few months, the Ribrock Plaza Motel was a disaster area. People kept showing up for weddings, bar mitzvahs, and Sweet Sixteen parties and were all told there were no such events.

Leola had her final revenge when she read in the local paper that the motel might go bankrupt. Her phone rang, and an executive from Marriott said, "We're prepared to offer you $200,000 for the motel."

Leola replied. "We'll take it, but only if you change the telephone number."
Lanjutkan baca »

Selasa, 24 Desember 2013

Article#247 - Kutipan Hari Ini

"A wise man can learn more from a foolish question than a fool can learn from a wise answer."
~quoted from Bruce Lee (1940-1973), Hong Kong American martial artist/instructor, filmmaker and actor. Quoted at Tuesday, 24th December, 2013, 22:38 (UT+9)

source

Lanjutkan baca »

Senin, 23 Desember 2013

Article#246 - 80000 pengunjung..

Setelah dalam beberapa edisi napak tilas sebelumnya, penulis menyertakan rangkuman berita mengenai apa yang ia resapi, cernai dan sikapi (?), kini penulis memutuskan untuk rehat dari melaporkan rangkuman citarasa negeri. Rehat sejanak, bertepatan dengan waktu liburan yang sudah dimulai beberapa puluh jam yang lalu. Menyenangkan ya, liburan itu. Yeeey.

Pada saat bersamaan, banyak institusi pendidikan di seantero ibu pertiwi menyelenggarakan libur yang kurang lebih bertepatan, juga berselang dua pekan. Bedanya, mungkin, adalah di beberapa pekan terakhir, banyak yang sedang berkutat dengan berbagai ujian, tes blok, maupun tugas yang demikian menumpuk dari guru-guru. Entah apakah guru benar-benar sedemikian rajinnya, sehingga ia rela memeriksa sedemikian banyak hasil pengerjaan murid-muridnya tersebut. Meskipun dalam kondisi tertentu, si guru akan menemukan banyak kesamaan di antara hasil pengerjaan yang dikumpulkan. Yaah, mungkin dalam satu sisi, tindakan tersebut mempermudah guru memeriksa. Tapi mungkin ya jadinya repot pula, jika pada akhirnya guru merasa tugas yang ia berikan kurang efektif, dan kemudian menambahkan tugas baru. Ow, ow oow. Maka berhati-hatilah dalam menyalin tugas, saudara-saudara.
......
Kenapa jadi bicara tugas, ya. Padahal sebelumnya, penulis hanya ingin memaksudkan, bahwa bisa jadi karena banyak yang sibuk dengan tugas, kunjungan di laman gila ini sedikit surut. Sejak post napak tilas sebelumnya, hingga tercapainya angka 80.000 pengunjung pada malam hari tanggal 23 Desember 2013, 03:19 (UT+9), sekitar 46 hari 8 jam telah berlalu. Dibandingkan periode napak tilas sebelumnya yang tercapai dalam 45 hari 18 jam, ada sedikit perlambatan.

Tetapi, tak masalah juga sih ya.
Ohiya; post ini dipublikasikan tepat 30 jam setelah titik balik musim dingin. Artinya, saat ini panjang siang di belahan Bumi utara kembali memanjang, dan malam pun memendek. Kiprah tulisan di laman ini pun mungkin mulai memanjang; penulis tak sepenuhnya yakin.
sumber
Nantikan tulisan selanjutnya; tentu saja, nanti!
Lanjutkan baca »

Minggu, 22 Desember 2013

Article#245 - Lakukanlah Kesalahan


Lakukanlah kesalahan, selama itu bisa membimbingmu menuju perbaikan.
Lakukanlah kesalahan, selama itu mendorongmu untuk terus berkarya.
Lakukanlah kesalahan, makanya darinya akan kaudapatkan pengalaman serta pelajaran.
Biarkan orang lain berhenti karena takut salah, dan majulah dengan melakukan satu-dua kesalahan. 

Mungkin memang kuncinya sederhana saja, seperti kata orang. Hadapi apa yang kau takuti. Tetapi, bahkan resep sederhana semacam inilah yang justru luput dari pikiran di saat genting.
Akupun sering merasa diriku sudah cukup gila untuk menantang ketakutan, tetapi entah bagaimana dalam realisasinya.
Karena memaki diri sendiri masih lebih berguna dibanding memaki hembus angin.

Hembus dingin angin malam seolah menegur, untuk segera bernaung dan melepas penat. Semoga istirahat yang sebentar ini adalah istirahat yang bermanfaat.

I never conquered, rarely came
But tomorrow holds such better days
Days when I can still feel alive
When I can't wait to get outside
The world is wide, the time goes by
The tour is over, I've survived
I can't wait till I get home
To pass the time in my room alone

sumber gambar
Lanjutkan baca »

Jumat, 20 Desember 2013

Article#244 - Kutipan Hari Ini

“We need an opposition to remind us if we are making mistakes. When you are not opposed you think everything you do is right.”
~quoted from Mahathir bin Mohamad (b. 10th July, 1925), the fourth Prime Minister of Malaysia. Quoted on Friday, 20th December, 2013, 19:27 (UT+9)

sumber

Lanjutkan baca »

Sabtu, 14 Desember 2013

Article#243 - Diminish The Light, Replenish The Night

You might be forgiven for thinking that – of all things – the stars were equal above us. Too far, too big, too old, to be affected by anything that puny man could do. The stars look down upon us with benevolence or with despite, according to the mood of the poet, and our language is rich in reminders of how mankind has thought its destiny written in the stars. Star-crossed lovers look for lode-stars, and it sometimes seems that every writer stuck for a word has merely to look up to find his all-purpose answer in the stars. Shakespeare once called them the bad revolting stars. Traditionally, the stars affect us and we can do nothing in return. Yet now it seems that mankind's infinite capacity for messing things up has reached even to the stars.

In Thierry Cohen's series, Darkened Cities, we think we see bright night skies over cities. Very traditional, very poetical. Actually, what we're seeing is the opposite. These skies are an indictment and a lament. These are the skies that we don't see. They are also extremely clever photography, in which highly skilled execution provides rich layers of meaning.

The principal operation that has to take place before these pictures can exist is that the sky from one place has to be superimposed upon cityscape from another. The reason is simplicity itself. As every amateur astronomer knows, it is impossible to see this detail in the night sky above a city. Modern lighting provides a level of light pollution so high that looking into the urban sky is like looking past bright headlights while driving. Add to that the atmospheric pollution above any city, and you have a screen only barely penetrable by light. Stand in New York or Rio and look up, even on the most cloudless night, and you won't see Cohen's explosions of light. Yet it is there, blotted out only by man's interference.

The first photographer to split his photographs horizontally in two, specifically to even out the luminous balance, was the nineteenth century French master Gustave Le Gray. Le Gray, a fine technician at the very point of technology, found that the emulsions available in his day could not record equally well the bright sky and the twinkling water in the great series of poetic seascapes that he made in the 1850s, so he made them from separate negatives for sea and sky. The convenient straight line of the horizon helped him both to join them and to conceal the join from his viewers.

Cohen is also a fine technician, who has practised digital photography for longer than almost anyone else. But he is not practising for virtuosity alone. Cohen does not merely replace one sky with another for convenient photographic legibility. By travelling to places free from light pollution but situated on precisely the same latitude as his cities (and by pointing his camera at the same angle in each case), he obtains skies which, as the world rotates about its axis, are the very ones visible above the cities a few hours earlier or later. He shows, in other words, not a fantasy sky as it might be dreamt, but a real one as it should be seen.

This is a very powerful treatment. It is laborious in the extreme. To find places with the right degree of atmospheric clarity, Cohen has to go – always on the latitudes of our cities – into the wild places of the earth, the Atacama, the Mojave, the northern wastes of Mongolia. Who among us beyond a handful of professional astronomers would know if Cohen cut the odd corner by finding a good sky not quite so remote? But photography has always had a very tight relationship to reality. A good sky is not the right sky. And the right sky in each case has a huge emotional effect.

As more and more of the world's population becomes urban, and as we lose our connection with the natural world, so it becomes plain what damage is caused. Are there injurious effects of light pollution? Quite possibly. To people there may be physical connections to certain cancers, and there are surely psychological burdens of permanent day. To other natural life, flora and fauna, the damages are wide-reaching. The 'city that never sleeps' is made up of millions of individuals breaking natural cycles of work and repose. Lose sight of the sky, and you become a rat in a lab. We're all heading that way. It may come to it that we can never properly see the sky again. Already there are produced maps of the intensity of pollution by light which are so bright they're scary. There are still gaps where you might see the sky, but they're not where we all live.

Cohen hasn't simply shown us the skies that we're missing, by the way. His process is many degrees more complex than that. Notice how dead his cities look, under the fireworks display above? No lights in the windows, no tracers of traffic? Barely even reflections of the blazing starry glory above. That's because they are in fact photographed in the daylight hours, when lights are switched off or shine out less brightly. How clever this is, each photographic obstacle to Cohen's expression isolated, and solved to perfection.

There is an urban mythology which is already old, in which the city teems with energy and illumines everything around it. All roads lead to Rome, we were told. Cohen is telling us the opposite. It is impossible not to read these pictures the way the artist wants them read: cold, cold cities below, cut off from the seemingly infinite energies above. It's a powerful reversal, and one very much in tune with a wave of environmental thinking of the moment. Look at the work of Sebastião Salgado, for example, who used to show specific areas of distress (geographical or social) until his subjects grew bigger until now (in the series entitled Genesis) he is working to tell us about the health of the planet itself. Thierry Cohen didn't merely find pictures that pointed so sharply to the blight that our mega cities have become, he couldn't. He made them instead, with patience and skill and the driving desire to be understood.

Night time is as attractive to photographers as it is to poets. One thinks in a moment of the terrestrial nights of such artists as Brassaï, for whom the night was a stage of its own. René Burri, the great Swiss photographer, rushed out into the New York blackout of 5th November, 1965 with only 8 rolls of film and made 40 of the greatest pictures of a city at night that you will ever see.
Weegee loved the night, of course, and Nan Goldin, and Bill Brandt and dozens of other photographers of the city. It's particularly a city thing, you see. In the country, when it gets dark, you go to bed. It's in the cities that we go mad a little at night. Cohen's fine series shows that he understands this. Zoom in on one any of these pictures, I feel, and you'll find oily dark scenes from Weegee in every window.
Francis Hodgson, London 2011
It has to be noted, how the advancement of technology had brought mankind beyond of what their ancestors even dreamt of. Cities keep expanding, as well as the dynamics of people traversing through its roads and pavements over time.
While technology develops in conform to the development of desired level of life quality, it also develops further along with the spreading of artificial lights. Whether it comes from the busy city light, or a lighted up candle put near a hut in a silent night, these lights mark the extent of human conquest on Earth.
One of these spark of lights may be the one, by which you read your books in a cozy, warm room, in spite of the razing storm that may be occurring just now, just outside your window. Nevertheless, not many people conceives that something started to fade.
As far back as 1960s, people began to worry about what might have lost from people's daily life. The bright sparks of stars, by which our ancestors navigate across the gloomy seas, the spooky forests, or the windy grasslands. They were worrying about how far had mankind push their needs of artificial lights so much that it began to obscure their view of the sky, which used to be very close, seemingly right above one's head. All of that, for a gulp of a mere, worldly glimpse of life.
Those big cities might stand still, towering out on the blinding, the sheer noise of the nightlife. But some of the people dare to spare them, to have a cup of tea during some bright night. There's a time, on which some of them lament over the sky they haven't seen for so long. The sheer, vast sight of the stars may tell these people to keep staring, keep gazing, deeply into the seemingly endless universe.
And that's how they realize, how the reality is so close. How the sparks of stars tell you, that they are just right there, to remind them, once again, the true dimension of the sky's abode, and how Earth, and even mankind, are not more than a mere speck.
As Kerry Allen Livgren of Kansas once wrote, "All we are is dust in the wind."

That might be the reason for Thierry Cohen to develop this project. In these series of photos, namely Villes éteintes (Darkened Cities), he retracts the once shining night sky back to the cities, and shut all the city lights off, revealing what had been lost of our sight without we realizing it.

I would like to conclude this using a famous quote of Bill Watterson,
"If people sat outside and looked at the stars each night, I'll bet they'd live a lot differently."
In case you're eager to see more, here they are.
Click on the photo to enlarge it.


Shanghai, 31° 13' 27'' N, 20th March, 2010. LST 13:57



Rio de Janeiro, 22° 56' 42'' S, 4th June, 2010. LST 12:34
San Francisco, 37° 48' 30'' N, 9th October, 2010. LST 20:58
São Paulo, 23° 33' 22'' S, 5th June, 2010. LST 11:44
Some photos aren't included in Thierry Cohen's main gallery, and therefore do not mention the capture date and time.
More here:
http://www.space.com/20615-darkened-cities-night-sky-imagined.html
http://www.space.com/20542-darkened-cities-night-sky-photos.html
http://www.demilked.com/darkened-cities-thierry-cohen/
http://petapixel.com/2012/12/28/photographer-imagines-what-world-cities-would-look-like-without-lights/
http://twistedsifter.com/2013/07/darkened-cities-by-thierry-cohen/
Lanjutkan baca »

Selasa, 10 Desember 2013

Article#242 - Lupa Ingatan

Tersebutlah sepasang orang tua berusia lanjut yang sudah hidup bersama hingga usia mereka kini yang sudah 80an tahun. Sebut saja mereka berdua Kakek dan Nenek.
Selain usia yang setara, mereka juga memilik masalah lupa ingatan yang sama. Awalnya mereka mengabaikannya, karena "sudah sewajarnya orang tua menjadi pelupa". Namun, seiring makin seringnya mereka melupakan berbagai hal yang penting, Kakek dan Nenek memutuskan, sudah saatnya mereka menemui seorang doktor. Kalau ternyata ada apa-apa kan berabe, nyak.

Singkat cerita, mereka memasuki ruang klinik dan menemui sang dokter.
"Dok, bisa tolong periksa kami?", suara parau Kakek mengawali perbincangan siang itu.
"Tentu saja Kek, ada apa?"
"Kami berdua sering...." Nenek menyahut, tetapi terpotong karena ia lupa, "...sering apa tadi, Kek?
"Ooh, ini....Lupa ingatan." Kakek meneruskan.
"Iya, betul, lupa ingatan, Dok."
Dokter yang sedang mencatat pun merespon, "Saya mengerti, Kek, Nek. Ayo, saya periksa dulu."
(pemeriksaan berlangsung)
"Berdasarkan hasil pemeriksaan singkat saya, Kakek dan Nenek tidak punya masalah fisik yang berarti. Kakek dan Nenek sering lupa ingatan ini karena usia yang makin menua. Saran saya, Kek, Nek, mungkin ke depannya, diupayakan menulis setiap hal penting, supaya tidak lupa," kata-kata dokter tersebut mengakhiri pemeriksaan.
"Terima kasih banyak Dokter," dengan senyum, Kakek dan Nenek beranjak pulang.

Malam harinya, pasangan tersebut menikmati suasana malam hari dengan menonton televisi. Di tengah-tengah menonot TV, Kakek bangkit dari tempat duduknya. Karena Kakek bangkit tiba-tiba, Nenek pun heran.
"Mau kemana, Kek?"
"Mau ke dapur, Nek."
"Tolong ambilkan segelas es krim ya, Kek."
"Baiklah."
Nenek yang mendengar respon santai tersebut menjawab dengan nada sedikit menyindir, "Yakin Kek, nggak perlu dicatat dulu?"
Respon Kakek pun terdengar pede, "Nggak perlu, ingat kok."
"Kalau gitu, pesen Nenek, es krimnya diberi stroberi, ya. Dicatat deh, yakin tuh nggak lupa?" Lagi-lagi Nenek menyindir.
Suara Kakek mulai gusar. "Tak apa, Kakek masih inget kok maunya es krim ditambah stroberi."
Tapi Nenek seolah makin senang menyindir. "Ohiya, juga ditambah krim. Nah udah banyak, pasti bakal lupa, mending dicatat deh Kek,"
Makin gusar, Kakek hanya menjawab singkat, "Kakek ingat semuanya kok. Tak perlu ditulis."

Maka 10 menit kemudian, Kakek kembali ke ruang televisi, membawa sepiring nasi dan ayam goreng.
"Ini kan, yang kamu minta tadi. Nasi dan ayam goreng." Seru Kakek dengan penuh rasa bangga.
Nenek, tampak senang, melihat piring tersebut. Tak lama, ia memasang ekspresi mengejek.
Dan ia bertanya pada Kakek dengan penuh kemenangan,
"Wah, Kakek lupa ngasih kerupuknya.."
Lanjutkan baca »

Jumat, 06 Desember 2013

Article#241 - Menyimak Segala Suara

Diko, berjalan dengan malas-malasan, keluar dari kamar mandi seusai menggosok gigi. Tidak mengindahkan nasihat Pak Kasur untuk mandi dan membantu ibu membersihkan tempat tidur, ia segera berjalan keluar, menuju suara Ayah dari halaman belakang rumah.

"Diko, ayo kesini!"
Susana pagi itu sama seperti biasa seperti hari Sabtu pagi yang sudah-sudah. Jam saat itu menunjuk pukul 5.30, dan pada saat-saat seperti itu, suara burung yang berkicau menyambut pagi makin riuh bersahutan. Kokok ayam sesekali terdengar di kejauhan, dan bahkan suara kerikan khas jangkrik masih sayup-sayup terdengar.

Ayah Diko pun duduk dengan tenang di tempat yang biasa, sebuah bangku bambu di satu sisi halaman belakang. Ia duduk dengan santainya, matanya menatap pepohonan di halaman, dengan sesekali mengalihkan pandangan ke langit.
Tak lama, pandangan Ayah pun menuju ke Diko yang sedang bersiap untuk menghampirinya.
"Jangan lupa pakai sendal, Diko,"
Diko dengan sendalnya yang berbeda warna segera meluncur menghampiri Ayah, duduk di sisinya.

"Ayah, kenapa ayah senang duduk disini tiap pagi?" Pertanyaan itu mengalir lancar, tanpa hambatan, seolah sudah dipersiapkan jauh-jauh sebelumnya.
Respon Ayah adalah respon yang sama dengan yang diberikan Ayah kemarin, ketika Diko menanyainya masalah pekerjaan sang ayah. "Kenapa sih ayah ke kantor terus setiap hari?".

Tetapi, ada sedikit perbedaan pada respon Ayah pagi itu.

"Ayo, duduk di pangkuan Ayah."
Diko pun dengan entengnya berpindah posisi duduk.
"Nah, Diko, coba sekarang dengarkan segala hal di sekitarmu."
Senyap sejenak bagi Diko, dan perlahan suara kicau burung dengan hembus angin datang. Sesekali ditemani sahut kokok ayam, dengan latar belakang suara angkrik yang makin sayup.
"Enakkah terdengar di telinga?"

Bagi Diko, setelah mendengarkan sejenak, jawabannya adalah "Ya", maka tanpa ragu Diko menganggukkan kepala.
Senyum samar yang tadi kembali tersirat muncul di wajah Ayah. Ia kemudian bertanya lagi, dan Diko saat itu sama sekali tak tahu harus menjawab apa. Jawaban versi sang Ayah yang belakangan diberitahukan pun, membuat Diko bingung, hingga jawaban itu kemudian terkubur dalam benak Diko bertahun-tahun lamanya.
Ketika ia terkuak lagi di benak Diko, sudah lebih dari 10 tahun berlalu sejak Sabtu pagi hari itu.

"Lalu, menurut Diko, apa yang membuat suatu suara enak didengar atau tidak?"

*****

Diko membawa pikirannya kembali ke masa kini.
Malam Sabtu, jam sepuluh lewat duapuluh satu. Diko duduk di jenjang tangga depan Gedung Pertemuan, mengamati bulan sabit yang hampir terbenam di ufuk barat.
Duduk di luar selarut itu, suhu udara sudah cukup menusuk untuk membuat orang kedinginan dan berlindung di dalam ruangan. Tetapi, selain Diko lebih suka suasana dingin dibanding hangat, Diko merasa tak nyaman pula di dalam ruang yang kini pengap itu.

Di dalam Gedung Pertemuan sedang dilaksanakan kampanye akbar menjelang pemilihan presiden badan mahasiswa periode depan. Wajarnya, acara semacam ini sudah kelar selambat-lambatnya jam sepuluh malam. Tetapi, entah bagaimana mulainya, beberapa orang mengangkat berbagai isu yang sedang hangat-hangatnya menghiasi koran-koran seantero negeri, untuk bahan debat para calon-calon. Entah isu dokter, entah isu pekan kondom, entah isu kualitas siswa negeri ini.
Bagai bunga api diperciki minyak, langsunglah seisi Gedung Pertemuan memanas dengan berbagai debat kusir, debat nahkoda, debat masinis dan macam-macam lagi.
Ada beberapa orang yang mengkritik, untuk mendapatkan balasan yang tak kalah pedas dari mereka yang berkaitan dengan pihak terkritik.
Ada yang memberikan pendapat sekenanya, menurut pemikirannya semata, akan apa yang menurutnya betulan ada. Dan dia menyampaikan pemikirannya itu, untuk kemudian dikritisi bertubi-tubi, disanggah karena dianggap tak punya kompetensi, sehingga tak layak mendapat atensi.
Ada lagi yang demikian kokoh berpendapat dalam prasangka, dan bahkan ketika fondasi pendapatnya tercerabut satu persatu oleh argumen yang datang, ia bertumpu padanya, pada pendapat yang ia yakinkan sekuat tenaga.
Ada pula yang.... entahlah. 
Bahkan Diko sudah tidak berminat membahas apa saja yang seru dibahas di dalam sana.
"Sebenarnya, mau apa sih mereka?"
Jengah, Diko bersiap untuk melangkah pulang. Tetapi tidak sebelum ingatan akan pertanyaan ayahnya dulu berkelebat di kepalanya.

Kata Ayah, kuncinya adalah tujuan, takaran, dan penempatan. Ketika sesuatu disuarakan demi tujuan yang benar, disampaikan dalam takaran yang tepat, dan penempatan yang pas, saat itulah sesuatu ini akan tersuarakan dengan suara yang 'enak didengar'. Tujannya kena, takarannya tak berlebihan, penempatannya tak sembarangan.
Salah satunya saja tidak pas, maka hal yang disuarakan bisa terasa menyakitkan di pancaindera.
Burung-burung berkicau pun ada tujuannya. Begitu pula kerikan jangkrik, serta hembus angin yang menggoyang dahan pohon.
Lantas, apakah dalam berbincang, mereka punya tujuan yang benar? Apakah mereka berbincang dalam takaran yang tepat? Apakah mereka menempatkan perbincangan mereka di tempat yang pas? Menurut Ayah, ketika menyimak suatu perbincangan membuat seseorang jengah, maka orang ini secara tak sadar memahamkan dirinya, ada yang salah dalam perbincangan terkait. Meskipun, tentu tak tertutup pula kemungkinan adanya kesalahan pada si penyimak sendiri.

Maka simaklah segala suara.
Dengarkan bagaimana masing-masingnya berbeda.
Dan pikirkanlah asal muasal dari tiap perbedaan.
Karena jika orangnya beda, maka ceritanya berbeda pula.
Akhirnya, sembari melangkah pulang, Diko tergelak. Membayangkan mereka di Gedung Pertemuan yang sibuk berdebat seru tanpa tentu arah. Alih-alih membahas penyelesaian yang terbaik bagi semua, mereka sibuk berlomba melabeli mana yang menang, mana yang kalah.

Kemudian Diko tersadar, bagaimana ia tak mampu berbuat apa-apa. Sehingga Diko tergelak lebih lagi.


Mengutip kata-kata Nelson Mandela, tokoh perdamaian yang baru saja berpulang kurang dari dua hari yang lalu,
"No country can really develop unless its citizens are educated."
Sebuah negara hanya akan berkembang jika penduduknya terdidik.
Dan tanda orang terdidik, menurut Diko, adalah senantiasa memperbaiki diri sendiri serta semua di sekitarnya.
Diko pikir, jika wacana menjadikan negeri ini maju benar-benar akan dilaksanakan, ia sudah tahu dimana harus memulai.

Apa? Seorang Diko, memulai perkembangan menuju negeri maju?

Kali ini Diko benar-benar menertawakan dirinya sendiri.
Lanjutkan baca »

Senin, 02 Desember 2013

Article#240 - Setahun Enam Bulan

Sew this up with threads of reason and regret
So I will not forget, I will not forget
How this felt one year six months ago
I know, I cannot forget, I cannot forget

I'm falling into
Memories of you
And things we used to do
Follow me there
A beautiful somewhere
A place that we can share with you

I can tell that you don't know me anymore
It's easy to forget, sometimes we just forget
And being on this road is anything but sure
Maybe we'll forget, I hope we don't forget

I'm falling into
Memories of you
And things we used to do
Follow me there
A beautiful somewhere
A place that we can share with you

So many nights, legs tangled tight
Wrap me up in a dream with you
Close up these eyes, try not to cry
All that I've got to pull me through 

Is memories of you
Memories of you
Memories of you
Memories of you

I'm falling into
Memories of you
And things we used to do
Follow me there
A beautiful somewhere
A place that we can share

Falling into 
Memories of you 
And things we used to do

© Peter Michael Mosely, Longineu Warren III Parsons, Sean Michael Wellman-Mackin, Benjamin Eric Harper, William Ryan Key of Yellowcard. 2003.

***

Lagu One Year Six Months ini ditelurkan oleh band punk-rock AS, Yellowcard, dari album keempat mereka, Ocean Avenue. Lagu ini, bersama album terkait, diluncurkan pada Juli 2003. Versi akustik dari album ini pun diluncurkan pada Agustus 2013 lalu.

Kalau mau dengar lagunya, sila klik aja jendela yutub di bawah. Hati-hati sama koneksi inet, ya.


Berhubung di versi awal di atas, lagunya sudah dalam format akustik, di versi keduanya, lagu ini dibawakan dengan iringan piano dan biola saja. Penulis sendiri bingung, mana yang lebih asik didengar. Jadi, langsung disimak saja. Lagi: Hati-hati koneksi inet.


-o0o-

Jemari begitu saja bergerak, menaruh kedua jendela video ini setelah mendengarkan seisi playlist. Bersama kegaduhan yang biasa dibuat sendiri dalam pikiran, mungkin lagu yang satu ini cocok jadi pengiring. Lagipula, hari ini, setahun enam bulan lalu, bertepatan dengan suatu momen. (Beberapa dari kalian mungkin akan segera paham.)

..Jadi, ada momen yang pas, lagu yang pas, dan... mungkin suasana yang pas? Entah. Tak paham juga. Lagipula, ngapain ya tepat setahun enam bulan yang lalu? Jam yang sama ini? Yah, kalau ingat pun tak akan dibeberkan disini, tentunya. Apalagi kalau lupa. (?)
Dan kemudian terbersit pikiran: Bagaimana dengan setahun enam bulan ke depan?
...
...
...
Sudahlah. Penulis mohon maaf apabila post kali ini menguarkan bau balada yang kuat. (maunya sih bau sambal balada)
Hei kalian, yang mau-maunya baca. Yang sudi singgah dan menyimak lagunya. Jangan ketularan aroma baladanya ya. Apalagi sampai galau.

Yah, baiklah, penulis undur diri dulu.
Tetap bahagia ya, karena bahagia itu pilihan.

(:g)
Lanjutkan baca »

Article#239 - Kutipan Hari Ini

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai."

~dikutip dari kata-kata Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), novelis Indonesia. Dikutip pada Senin, 2 Desember 2013, 04:27 (UT+9).

sumber
Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...