Jumat, 06 Desember 2013

Article#241 - Menyimak Segala Suara

Diko, berjalan dengan malas-malasan, keluar dari kamar mandi seusai menggosok gigi. Tidak mengindahkan nasihat Pak Kasur untuk mandi dan membantu ibu membersihkan tempat tidur, ia segera berjalan keluar, menuju suara Ayah dari halaman belakang rumah.

"Diko, ayo kesini!"
Susana pagi itu sama seperti biasa seperti hari Sabtu pagi yang sudah-sudah. Jam saat itu menunjuk pukul 5.30, dan pada saat-saat seperti itu, suara burung yang berkicau menyambut pagi makin riuh bersahutan. Kokok ayam sesekali terdengar di kejauhan, dan bahkan suara kerikan khas jangkrik masih sayup-sayup terdengar.

Ayah Diko pun duduk dengan tenang di tempat yang biasa, sebuah bangku bambu di satu sisi halaman belakang. Ia duduk dengan santainya, matanya menatap pepohonan di halaman, dengan sesekali mengalihkan pandangan ke langit.
Tak lama, pandangan Ayah pun menuju ke Diko yang sedang bersiap untuk menghampirinya.
"Jangan lupa pakai sendal, Diko,"
Diko dengan sendalnya yang berbeda warna segera meluncur menghampiri Ayah, duduk di sisinya.

"Ayah, kenapa ayah senang duduk disini tiap pagi?" Pertanyaan itu mengalir lancar, tanpa hambatan, seolah sudah dipersiapkan jauh-jauh sebelumnya.
Respon Ayah adalah respon yang sama dengan yang diberikan Ayah kemarin, ketika Diko menanyainya masalah pekerjaan sang ayah. "Kenapa sih ayah ke kantor terus setiap hari?".

Tetapi, ada sedikit perbedaan pada respon Ayah pagi itu.

"Ayo, duduk di pangkuan Ayah."
Diko pun dengan entengnya berpindah posisi duduk.
"Nah, Diko, coba sekarang dengarkan segala hal di sekitarmu."
Senyap sejenak bagi Diko, dan perlahan suara kicau burung dengan hembus angin datang. Sesekali ditemani sahut kokok ayam, dengan latar belakang suara angkrik yang makin sayup.
"Enakkah terdengar di telinga?"

Bagi Diko, setelah mendengarkan sejenak, jawabannya adalah "Ya", maka tanpa ragu Diko menganggukkan kepala.
Senyum samar yang tadi kembali tersirat muncul di wajah Ayah. Ia kemudian bertanya lagi, dan Diko saat itu sama sekali tak tahu harus menjawab apa. Jawaban versi sang Ayah yang belakangan diberitahukan pun, membuat Diko bingung, hingga jawaban itu kemudian terkubur dalam benak Diko bertahun-tahun lamanya.
Ketika ia terkuak lagi di benak Diko, sudah lebih dari 10 tahun berlalu sejak Sabtu pagi hari itu.

"Lalu, menurut Diko, apa yang membuat suatu suara enak didengar atau tidak?"

*****

Diko membawa pikirannya kembali ke masa kini.
Malam Sabtu, jam sepuluh lewat duapuluh satu. Diko duduk di jenjang tangga depan Gedung Pertemuan, mengamati bulan sabit yang hampir terbenam di ufuk barat.
Duduk di luar selarut itu, suhu udara sudah cukup menusuk untuk membuat orang kedinginan dan berlindung di dalam ruangan. Tetapi, selain Diko lebih suka suasana dingin dibanding hangat, Diko merasa tak nyaman pula di dalam ruang yang kini pengap itu.

Di dalam Gedung Pertemuan sedang dilaksanakan kampanye akbar menjelang pemilihan presiden badan mahasiswa periode depan. Wajarnya, acara semacam ini sudah kelar selambat-lambatnya jam sepuluh malam. Tetapi, entah bagaimana mulainya, beberapa orang mengangkat berbagai isu yang sedang hangat-hangatnya menghiasi koran-koran seantero negeri, untuk bahan debat para calon-calon. Entah isu dokter, entah isu pekan kondom, entah isu kualitas siswa negeri ini.
Bagai bunga api diperciki minyak, langsunglah seisi Gedung Pertemuan memanas dengan berbagai debat kusir, debat nahkoda, debat masinis dan macam-macam lagi.
Ada beberapa orang yang mengkritik, untuk mendapatkan balasan yang tak kalah pedas dari mereka yang berkaitan dengan pihak terkritik.
Ada yang memberikan pendapat sekenanya, menurut pemikirannya semata, akan apa yang menurutnya betulan ada. Dan dia menyampaikan pemikirannya itu, untuk kemudian dikritisi bertubi-tubi, disanggah karena dianggap tak punya kompetensi, sehingga tak layak mendapat atensi.
Ada lagi yang demikian kokoh berpendapat dalam prasangka, dan bahkan ketika fondasi pendapatnya tercerabut satu persatu oleh argumen yang datang, ia bertumpu padanya, pada pendapat yang ia yakinkan sekuat tenaga.
Ada pula yang.... entahlah. 
Bahkan Diko sudah tidak berminat membahas apa saja yang seru dibahas di dalam sana.
"Sebenarnya, mau apa sih mereka?"
Jengah, Diko bersiap untuk melangkah pulang. Tetapi tidak sebelum ingatan akan pertanyaan ayahnya dulu berkelebat di kepalanya.

Kata Ayah, kuncinya adalah tujuan, takaran, dan penempatan. Ketika sesuatu disuarakan demi tujuan yang benar, disampaikan dalam takaran yang tepat, dan penempatan yang pas, saat itulah sesuatu ini akan tersuarakan dengan suara yang 'enak didengar'. Tujannya kena, takarannya tak berlebihan, penempatannya tak sembarangan.
Salah satunya saja tidak pas, maka hal yang disuarakan bisa terasa menyakitkan di pancaindera.
Burung-burung berkicau pun ada tujuannya. Begitu pula kerikan jangkrik, serta hembus angin yang menggoyang dahan pohon.
Lantas, apakah dalam berbincang, mereka punya tujuan yang benar? Apakah mereka berbincang dalam takaran yang tepat? Apakah mereka menempatkan perbincangan mereka di tempat yang pas? Menurut Ayah, ketika menyimak suatu perbincangan membuat seseorang jengah, maka orang ini secara tak sadar memahamkan dirinya, ada yang salah dalam perbincangan terkait. Meskipun, tentu tak tertutup pula kemungkinan adanya kesalahan pada si penyimak sendiri.

Maka simaklah segala suara.
Dengarkan bagaimana masing-masingnya berbeda.
Dan pikirkanlah asal muasal dari tiap perbedaan.
Karena jika orangnya beda, maka ceritanya berbeda pula.
Akhirnya, sembari melangkah pulang, Diko tergelak. Membayangkan mereka di Gedung Pertemuan yang sibuk berdebat seru tanpa tentu arah. Alih-alih membahas penyelesaian yang terbaik bagi semua, mereka sibuk berlomba melabeli mana yang menang, mana yang kalah.

Kemudian Diko tersadar, bagaimana ia tak mampu berbuat apa-apa. Sehingga Diko tergelak lebih lagi.


Mengutip kata-kata Nelson Mandela, tokoh perdamaian yang baru saja berpulang kurang dari dua hari yang lalu,
"No country can really develop unless its citizens are educated."
Sebuah negara hanya akan berkembang jika penduduknya terdidik.
Dan tanda orang terdidik, menurut Diko, adalah senantiasa memperbaiki diri sendiri serta semua di sekitarnya.
Diko pikir, jika wacana menjadikan negeri ini maju benar-benar akan dilaksanakan, ia sudah tahu dimana harus memulai.

Apa? Seorang Diko, memulai perkembangan menuju negeri maju?

Kali ini Diko benar-benar menertawakan dirinya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...