Minggu, 05 Juni 2016

Article#554 - Edukasi



Seindah apapun masa SMA, agaknya "pemaksaan" untuk berurusan dengan bidang-bidang tertentu hingga akhir masa bersekolah tetaplah menjadi momok yang mengerikan. Entah itu bagi mereka yang sudah demikian memusatkan perhatian ke suatu bidang untuk ditekuni di masa kuliah, atau bagi mereka yang sudah menetapkan bahwa salah satu mata pelajaran wajib dalam jurusannya bukanlah sesuatu yang dapat ia taklukkan, Situasi menjadi semakin parah ketika usahamu untuk berdamai dengan bidang-bidang tersebut terus tertinggal dari laju perkembangan materi yang disuguhkan. Keseharian di sekolah terus terasa bertambah sulit secara eksponensial, dan dengan minat belajar yang terus tergerus, tak ayal banyak siswa memutuskan untuk berlarian mendatangi toko buku.... Bukan untuk mencari sumber belajar supaya mereka paham, melainkan buku saku berisi deretan rumus untuk dihafal.

Karena toh mereka hanya akan perlu bersusah-payah berurusan dengan kesemuanya hingga bangku universitas hadir ke genggaman. Siapa yang butuh pemahaman sains di dunia modern ini, era informasi ini? Siapa yang akan menganggap usaha keras memahami perkembangan ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang berguna, apatah menghasilkan pundi harta? Yang dibutuhkan hanyalah nilai mentereng, tiket menuju gengsi kelas tinggi di perguruan tinggi negeri. Untuk itu, tak perlulah bersusah payah belajar sedemikian rupa, meraba makna dari khazanah pengetahuan yang coba disampaikan lewat buku pelajaran.
Setelah bergelut dengan segala macam warna kehidupan di dalamnya, toh kita akan mendapati segala pemahaman ilmu yang dengan susah payah kita upayakan dulu sia-sia belaka.

Pemahaman akan ilmu itu klise, jenderal! Di dunia yang kita hidupi dengan mengatasnamakan secarik kertas bertatahkan angka nilai. Di dunia di mana selempang cum laude lebih berarti dari pada segala hal berharga yang bisa kaulakukan setelah wisuda nanti.

Buat apa hidup jika tidak peduli akan kulit yang keren?

5 komentar:

  1. Berarti dunia pendidikan kita ini....salah dari sistemnya yang membawa terlalu banyak materi di bangku sekolah menengah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulisan ini bukan bicara soal sistem pendidikan kok Fit. Cuma sedikt ngebahas di paragraf awal, betapa sebagian orang memilih untuk menghafal rumus-rumus itung cepat dari pada memahami konsep pembelajaran.

      Udah gitu aja.

      Hapus
    2. ...dan betapa banyak yang menjadikan itu sbg peluang bisnis

      Hapus
    3. Respon pasar. Ada permintaan, ada penawaran.

      Hapus
  2. Buah dari pendidikan instan

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...