Kamis, 09 Juni 2016

Article#555 - Di Balik Bayang Saturnus


"If I can see further, it is because I lurk in the shadow of the giant."

Sebelum sebagian dari pembaca yang cukup cermat dan cukup sensitif bersegera mengkritisi kutipan di atas, saya hanya akan tekankan bahwa itu bukan ucapan Newton. Iya, tulisan yang mengawali post ini bukan kutipan mengenai bahu raksasa yang mungkin sudah berjejer siap dituturkan di ujung lidah kalian. Tidak, karena ungkapan semacam ini hanya mungkin dituturkan oleh mereka yang memang sesekali bersemayam di balik bayang-bayang raksasayang, sebagaimana pengetahuan kita telah sampaikan, tidak kita akrabi dalam keseharian. Di sini, kita bicara soal raksasa yang jauh melampaui sudut pandang fana kita, bergerak melampaui pencerapan indera fana kita. Raksasa yang melaju mengarungi angkasa, bersama sekian banyak pengiring setianya, mengarungi angkasa mengelilingi sang Surya.

Meskipun indera fana manusia teramat lemas batasnya, mereka masih berjaya menempatkan mata-matanya bersama para pengiring sang raksasa.
Memasuki wilayah kekuasaan sang raksasa sejak Juli 2004, mata-mata bernama Cassini ini telah menghabiskan bertahun-tahun mengorbit dan mempelajari sang raksasa, Saturnus, beserta segenap bulan-bulan yang setia mengorbitnya di sekitar. Dasar mata-mata, selain sekujur tubuh Saturnus beserta segenap cincin dan bulan-bulannya, Cassini tidak bisa melihat lebih jauh. Bahkan mengarahkan kamera kembali ke tempat asalnya di Bumi bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, apalagi dengan pijar cahaya Matahari yang masih cukup kuat untuk merusak sensor kamera Cassini yang sensitif.

Karenanyalah, diperlukan satu momen khusus di mana Cassini dapat kembali menyapa Bumi tempatnya berasal melalui sejepret citra: momen terhalangnya pijar cahaya Matahari. Bagi Cassini, ini berarti kesempatan terbaik adalah ketika ia melesat memasuki bayang-bayang Saturnus, mencerabut kutukan sinar Matahari dari sensor kameranya untuk mulai bekerja. Hari itu, 19 Juli 2013, Cassini menjalankan programnya memotret sekian banyak foto untuk menyusun citra Saturnus yang menghalangi sinar Matahari, beserta sistem cincinnya, beberapa bulannya, juga tiga planet: Venus, Bumi, dan Mars.

Citra Saturnus beserta tujuh bulannya dan tiga planet di latar belakang. Posisi ketujuh bulan
dan ketiga planet ditandai pada citra. Klik gambar untuk memperbesar.
Sayang seribu sayang, berurusan dengan bulan-bulan kecil tersebut bersamaan dengan Saturnus sang raksasa sendiri berarti hanya memberikan ruang dalam hitungan beberapa piksel bagi bulan-bulan tersebut. Ini berarti, meskipun piksel yang tersedia masih memungkinkan tertandainya keberadaan bulan-bulan kecil macam Prometheus dan Pandora, kesempatan yang dapat ditawarkan untuk mengupas keduanya lebih dalam juga tidak banyak. Hal serupa juga terjadi pada Janus dan Epimetheus, duo bulan yang berbagi orbit dalam perjalanannya mengitari Saturnus. Sehingga kemudian kita berlarian menuju satelit-satelit yang wujudnya sudah cukup jelas.

Enceladus yang mempertontonkan wujudnya di citra ini adalah salah satu satelit Saturnus yang paling banyak menyita perhatian ilmuwan, tentunya setelah satelit terbesar, Titan. Dimulai dari pencerapan Voyager 2 pada Agustus 1981, permukaan Enceladus yang tampak mulus bebas bulu dan amat cerlang (sebanding dengan salju) sudah menarik perhatian ilmuwan. Cassini yang datang lebih dari dua puluh tahun kemudian justru membongkar rahasia Enceladus yang paling membuatnya diminati para ilmuwan: aktivitas geologi berupa semburan dengan isi serupa material yang dihembuskan komet. Belakangan diketahui bahwa material semburan terkait berasal dari samudra di bawah permukaan es Enceladus, yang disemburkan sebagaimana tampak pada citra di sebelah kiri: melalui retakan-retakan di daerah kutub selatan Enceladus. Bagaimana sebuah objek berdiameter 504 km dengan aktivitas geologi tidak memicu ketertarikan ilmuwan?

Sejenak memperhatikan citra di sebelah kiri mungkin tidak akan langsung membuat mata Anda yakin akan keberadaan sebuah objek di dalamnya. Mimas, satelit terkecil Saturnus dengan bentuk mendekati bulat, di citra ini tampak sebagai noktah hitam karena posisinya yang hanya menyuguhkan sabit tipis bagi kamera Cassini (yang bahkan tak kentara terlihat berkat resolusi yang tidak memadai). Satelit yang satu ini mungkin tak semenarik Enceladus: tidak ada semburan partikel es, duh. Tetapi Mimas memiliki ciri khas tersendiri: mulai dari bentuk yang mirip telur akibat tarikan gravitasi Saturnus, hingga kemiripannya dengan Death Star dari Star Wars berkat keberadaan kawah Herschel (139 km). Walaupun dengan diameter rerata 396 km, Mimas masih dua setengah kali lebih besar dari pada wahana fiktif yang tersohor itu.

Pada detik-detik diketikkannya tulisan ini tercatat Saturnus memiliki 62 buah bulan, tidak termasuk sekian juta keping batu yang bersatu menyusun cincin Saturnus. Tetapi, dari semua itu, hanya ada 5 bulan dengan diameter lebih dari 1000 km, dan bulan di sebelah kiri, Tethys, adalah yang terkecil dari semuanya dengan diameter rerata 1062 km. Dalam beberapa aspek, Tethys dapat disebut sebagai gabungan Mimas dan Enceladus: keberadaan kawah Odysseus berdiameter 445 km (42% diameter Tethys) dapat menempatkan Tethys sebagai kandidat lain bulan-mirip-Death-Star milik Saturnus. (Meskipun kawah Herschel milik Mimas lebih kentara dibandingkan Odysseus.)
Di sisi lain, Tethys juga memiliki permukaan yang sangat cerah–faktanya, terterang kedua setelah Enceladus–hal yang membuat warna kekuningannya di citra tampak mencurigakan. Menilik fasenya yang tampak menghadapkan wajah terang kekuningan Tethys ke arah Saturnus mungkin akan menjelaskan dari mana warna kekuningan itu berasal. Akan tetapi, situasi masih terasa agak mencurigakan, menilik konfigurasi posisi Tethys relatif terhadap Matahari.
Tapi sudahlah, itu bukan urusan saya.

Puas menelusur bulan-bulan Saturnus yang tampak pada citra, kini saatnya kita melayangkan pandangan lebih jauh. Dalam konteks ini, benar-benar lebih jauh—saking jauhnya, perjalanan langsung dari Saturnus ke bagian dalam Tata Surya dengan kecepatan cahaya akan memakan waktu lebih dari satu jam.

Selayang pandang menyusuri planet kejora Venus, agaknya komentar yang akan muncul kemudian adalah tentang betapa Venus masih cukup terang untuk terlihat sejauh itu dari Saturnus, bahkan ketika fase Venus didapati berupa sabit yang demikian tipis (ingat kasus Mimas tadi?). Sebagai titik putih bermagnitudo +4.2 menurut piranti lunak Stellarium 0.12.0, Venus hanya akan tampak sebagai bintang redup yang tak tampak spesial.

Kasus yang sama agaknya juga akan terjadi pada Mars, yang meski sedikit lebih jauh dari Matahari dibanding Venus, juga lebih redup, hanya tampak sebagai titik kemerahan bermagnitudo +5,3, lagi-lagi berdasarkan perhitungan piranti lunak Stellarium 0.12.0. Pada titik ini saya mulai mempertanyakan perbandingan kecerlangan antara kedua planet dengan bintang dalam rasi Aries yang berada di dekatnya. Sebagai contoh, bintang HIP 13643 di sisi kiri atas foto Mars tercatat bermagnitudo +7,8. Dengan ambang batas penglihatan mata manusia standar pada +6, di posisi Cassini kita mungkin bisa melihat Mars, tetapi tidak bisa melihat bintang di kiri atas. Entah secerlang apa sebenarnya kedua planet terlihat oleh Cassini.

Terakhir, Bumi.
Ketika Cassini melayangkan kameranya menghadap Bumi, kita mungkin bertanya-tanya apakah Cassini akan mendapati Bumi sebagai sebuah objek spesial. Sebuah titik biru bermagnitudo +3,4 di kejauhan, meskipun lebih terang dibanding baik Venus maupun Mars pada momen 19 Juli 2013 tersebut, tetap saja bukanlah titik yang spesial di tengah lautan gemintang. Kita bahkan perlu perbesaran sedemikian rupa untuk mendapati Bumi dan Bulan tampak terpisah, sebagaimana tertuang dalam citra.
Apakah Bumi tampak menonjol di antara titik-titik cahaya yang menghiasi langit malam itu, mungkin kita tak akan pernah benar-benar tahu. Cassini pun agaknya hanya mengenali titik biru itu sebagai Bumi karena instruksi yang diberikan oleh para pengendalinya nun jauh di sana. Semata karena Cassini telah diberi tahu, bahwa objek itu, titik biru pucat yang sedang ia ambil citranya, adalah tempat ia berasal.

Pada titik ini, agaknya saya akan menutup tulisan dengan petikan dari narasi Carl Sagan yang terkenal itu, Pale Blue Dot.
“Look again at that dot. That's here. That's home. That's us. On it everyone you love, everyone you know, everyone you ever heard of, every human being who ever was, lived out their lives. The aggregate of our joy and suffering, thousands of confident religions, ideologies, and economic doctrines, every hunter and forager, every hero and coward, every creator and destroyer of civilization, every king and peasant, every young couple in love, every mother and father, hopeful child, inventor and explorer, every teacher of morals, every corrupt politician, every "superstar," every "supreme leader," every saint and sinner in the history of our species lived there-on a mote of dust suspended in a sunbeam.

The Earth is a very small stage in a vast cosmic arena. Think of the endless cruelties visited by the inhabitants of one corner of this pixel on the scarcely distinguishable inhabitants of some other corner, how frequent their misunderstandings, how eager they are to kill one another, how fervent their hatreds. Think of the rivers of blood spilled by all those generals and emperors so that, in glory and triumph, they could become the momentary masters of a fraction of a dot.
"

....
....

It has been said that astronomy is a humbling and character-building experience. There is perhaps no better demonstration of the folly of human conceits than this distant image of our tiny world. To me, it underscores our responsibility to deal more kindly with one another, and to preserve and cherish the pale blue dot, the only home we've ever known.”

sumber gambar asli (paling atas)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...