Minggu, 20 Maret 2016

Article#529 - Terbit


Semarak deru mesin menyapa pepasir di tepian kenangan.
Menyapa segenap pohon di balik selimut debunya, menyapa setiap manusia di balik topeng palsunya.

Menyapa sepoi di fajar itu, akan kaudapati sekian orang yang telah beranjak dari peraduan nyamannya, bersiap menantang seisi dunia. Sekian orang yang mendahului surya dalam kebangkitannya menyambut apa yang akan datang. Mereka itu, mereka yang mendera segenap trotoar itu, tak peduli akan temaram pergi. Malam terus termakan semburat fajar, bersama ayunan ranting dedaunan melambaikan tangan. Melepas malam yang akan bertolak pergi menyambut sinar mentari yang segera hadir. Mengisi segenap gizi di sekujur diri.

Barangkali tidak ada dari mereka yang tertegun memperhatikan sang surya berpadu dengan khatulistiwa. Menyejajarkan diri bersama garis khayal yang menyematkan identitasnya pada untai zamrud tempat mereka memperjalankan kenyataan. Lebih-lebih mendaras dinamika malam dan siang, bagaimana tiap mereka mengerut dan merentang. Tidak! Mereka tidak sempat merenungkan itu semua. Yang utama adalah mempergulirkan roda kehidupan selama yang mereka bisa. Mengantarkan sesiapa tanggung jawab mereka sejauh mungkin mengarungi dunia yang luas. Menjamin keberlangsungan penghidupan yang mungkin tidak demikian makmur sejahtera. Kecuali jika kemakmuran dan kesejahteraan diukur dengan senyum dan tawa yang mengembang menyambutnya kembali pulang.

Mereka bertegap mantap di pinggir jalan itu. Menyigi sedelik pada tiap-tiap wahana yang melaju, menentu di mana mereka akan melabuhkan tuju. Mereka bertemu dalam tegur sapa fajar, untuk kemudian berjalan memperjuangkan sebuah keberlangsungan. Terus demikianlah mereka, hingga kembalinya benderang senja menggamit tiap-tiap tawa nanar mereka, untuk berpencar kembali ke tiap-tiap peraduan. Terjarak dengan segala yang lebih terang dari bintang, mereka mengucap syukur pada segenap semesta dalam tiap cecap hasil usaha.
Kini, ketika pelita benderang itu kembali membukakan cahayanya pada penjuru dunia, ia terus berderak ajek menuju dunia utara. Dan dari sekian banyak jiwa yang menjejak embun fajar, ada yang berlari mengejarnya, menyusul impian.

Mendatangi semarak dunia pagi, memimpin terbit kala ia mendelik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...