Kamis, 20 November 2014

Article#364 - Antara Cerita, Cipta dan Cita (Bagian 3): (Katanya) Sebuah Pertanggungjawaban

Ketika saya menamatkan tulisan bagian kedua untuk tajuk Antara Cerita, Cipta dan Cita, lebih dari dua tahun lalu, saya pikir itu adalah tulisan terakhir yang akan saya buat dalam tajuk yang sama. Nyatanya, setelah melalui dua tahun yang penuh warna, saya kembali duduk di sini, di depan layar yang biasa, mengolah kata demi kata. Melengkapi makna pada tajuk yang kekurangan warna, yang di bagian pertama dan kedua saya kira hanya cukup menjadi pemanis mata.
Catatan sebelum mulai: Ini bagian ketiga, bertema cipta. Tema yang tak terpikirkan ketika saya menggodok dua tulisan sebelumnya. Selamat membaca.

***

Kata-kata yang selanjutnya tersaji di balik pendar layar yang sedang kau telusuri ini diketikkan pada 20 November 2014.
Itu artinya, tujuh ratus tujuh puluh dua hari telah terbilang, sejak bagian kedua diluncurkan dengan tenang dari balik layar.
Tambahkan tiga, dan kurangi seratus, maka akan didapat jumlah hari terbilang menjelang akhir perjalanan.
Terheran dengan angka-angka besar yang disajikan? Agaknya kau tak sendirian. Beberapa pihak lain pernah memergoki saya sedang menuliskan berbagai rupa jangka waktu, tidak dalam wujud satuan atau belasan, tetapi ratusan. Agaknya, keisengan yang memusingkan ini berbuah sejak saya memusatkan perhatian pada keisengan mengamati bintang, yang entah bagaimana juntrungannya, ikut memperkaya wawasan mengenai waktu dan tanggal. (Untuk referensi: artikel 40artikel 72 dan artikel 209)

Sudahlah, apa yang terjadi biarlah terjadi. Yang kemarin telah pergi, yang akan datang belum mampir, maka di saat ini, mari memulai.

Katanya sih, mari memulai. Katanya.
Agaknya, sejak dulu saya telah mengembangkan ketertarikan tersendiri dalam membahas topik waktu. Baik sebagai satu-satunya besaran pokok a la Satuan Internasional yang tak bisa diamati secara jelas dan tegas, atau sebuah topik yang menjadi bahan favorit para penggubah dialektika dan filsafat. Dari 364 tulisan yang dengan sewenang-wenang ditampilkan dalam laman ini, terhitung ada 142 tulisan, termasuk tulisan yang sedang kau baca ini, yang setidaknya mencantumkan kata "waktu". Apa itu artinya saya telah sedemikian rajinnya mendokumentasikan besaran secara fisika, atau berlagak hebat dengan bermain dialektika dan filsafat, entahlah. Yang jelas, melihat interval antar tiap tulisan yang memuat waktu, kentara bahwa saya tak bosan-bosan menyertakan waktu dalam beragam gaya.

Tetapi, apa sebenarnya waktu itu?
Secara mudah, orang bisa saja menyebutkan, waktu itu tidak berwujud. Ia hanya menjadi nyata ketika orang mendapati pergerakannya. Baik dalam periodisasi atom sesium, dalam pergantian siang-malam, dalam pergerakan air pasang, dalam pergantian musim.
Dan perubahan tak hanya muncul dalam wujud-wujud terkait.
Ada perubahan pada pepohonan yang ranting-rantingnya makin bercabang, batang-batangnya makin kokoh, daun-daunnya makin luas, beraneka rupa. Ada perubahan pada mobil tua yang dibiarkan di parkiran entah sejak kapan, dengan cat yang terus mengelupas, dengan karat yang terus membuas. Ada perubahan pada wajah-wajah lama dalam ingatan, dengan sinar mata yang tak lagi tajam, detail kulit yang makin keriput. Ada perubahan yang menimbulkan perbedaan. Tanpa perlu menilik contoh-contoh ekstrem yang bertebaran kisahnya di sekeliling, ada juga perubahan yang menyelinap masuk dalam citraan paling sederhana. Perlahan menyebar, nyaris tanpa terasa indera. Tanpa disadari, apa yang lazim dikenali di masa lalu, kini menjadi objek yang asing. Perubahan yang hanya terasa kita melihat ke belakang, dan membandingkan.

Maka kita kemudian membawa definisi waktu dan perwujudannya pada perubahan.
Menyintas kembali napak tilas, mendaras tiap perubahan untuk menentukan sejauh mana waktu telah berjalan.

Dari sekian bulan yang dijatah bagi tiap-tiap kita tiap tahunnya, saya merasa beruntung dapat meluangkan setidaknya dua bulan dari jatah itu (khususnya dua tahun belakangan ini) untuk bebas berkelana di kampung halaman. Alasan yang dikemukakan pun tidak keren-keren amat, "relaksasi diri". Dalam waktu yang terluangkan itu, mungkin saya menjadi individu yang terlalu merdeka, saking banyaknya kegiatan yang dikumandangkan, serta menghilangnya kosakata "tugas" tanpa perlu banyak dipikirkan. (Meskipun, tentu saja, tidak berarti saya senantiasa memikirkan tugas manakala saya kembali ke tanah para samurai.)
Waktu dua bulan rentu saja berlimpah, tetapi tanpa pemanfaatan yang tepat sasaran, ia hanya akan berlalu tanpa kesan. Seperti saya tuliskan sebelumnya, saya meluangkan waktu ke kampung halaman untuk relaksasi, maka relaksasi apa yang lebih baik dari berkelana?
Maka, berkelanalah saya. Ke mana? Opsi paling mudah adalah mengunjungi rekan-rekan seperjuangan di masa MAN, yang kini melanjutkan perjuangan di kampus masing-masing. Mudah dari segi komunikasi, segi itinerari, segi akomodasi, juga segi konsumsi. Itulah hebatnya anak kos. Ada beberapa perjalanan yang sempat saya wacanakan untuk mengisi luang, baik bersama beberapa rekan, atau sendiri. Sebagian tinggalah wacana, tetapi syukurlah, yang terlaksana lebih banyak.

Dalam perjalanan menghampiri rekan-rekan lama, tentu saja yang kemudian akan kaujumpai adalah muka-muka lama. Jika kau menjumpai muka-muka tersebut dalam kekerapan yang jamak, kau akan cenderung menyambutnya sambil lalu. Tindakan selanjutnya pun beragam, entah kembali bergelut dalam kesibukan, menyalami dengan beragam lagak, atau berseru dalam beragam tindak.
Jika kekerapannya jarang, kecenderungan yang terjadi ketika kau menjumpainya lagi adalah bangkitnya percik ingatan dalam kepala. Bisa saja ada arsip ingatan yang kemudian membuka begitu saja, menarikmu paksa dalam glosari akan candaan lama, cerita lama, mimpi lama, kebengalan lama. Kau kemudian sibuk bernostalgia, mencecap setiap impuls yang seolah hadir kembali mengisi indera. Bisa juga, kejadian yang terdengar demikian berbunga-bunga itu tidak hadir. Alih-alih membuka arsip ingatan, yang lebih jamak dilakukan adalah membuka kartu: mengaku kalau sedang lapar. Yah, namanya juga anak muda.

Bagaimanapun juga, muka lama tak selalu bermakna kisah lama. Bisa saja ada satu-dua gurat ekstra yang tertoreh berkat berbagai kemungkinan. Bisa saja ada cerita dari sudut pandang berbeda, yang mengubah cara pandang. Bisa saja ada pembicaraan yang terus terkembang, tentang seorang kawan atau dua yang melesat dalam pencapaian cerlang. Bisa saja ada romansa yang berkembang, untuk kemudian terpangkas karena ditikung teman dekat.
Mengingat ada ruang kosong dalam memori akan sepak terjang beragam individu yang kaujumpai, kau akan memanfaatkan masa perjumpaan yang singkat itu, untuk mengumpulkan keping-keping cerita. Menyusunnya menjadi ragam cerita berbeda, tentang kehidupan yang berwarna setelah terpisahkan oleh tujuan selanjutnya.

Maka itulah yang saya (coba) lakukan dalam beberapa kunjungan ke domisili kuliah rekan-rekan saya tersebut. Mereka mungkin saja sudah memulai kembali kegiatan keseharian mereka di sekitar kampus, baik dalam artian kegiatan akademik (kuliah, tugas, survei), kegiatan organisatorik (kajian, rapat, kepanitiaan), atau kegiatan motorik (naik motor?). Kemudian sekonyong-konyong, tanpa angin tanpa hujan, saya mendatangi mereka. Tentu saja tanpa angin dan tanpa hujan, saya kan bukan badai. Apalagi cetar membahana. Deuh.
Sekilas berjumpa, maka kemudian mengalirlah keisengan. Sesekali lelucon garing yang mengeringkan suasana. Dan kemudian, pergi mencari makan. Di sela-sela rutinitas kehidupan yang ada, akan mengalirlah berbagai macam cerita. Terkadang cerita berkisar pada satu sosok tertentu yang sibuk “dipertandingkan”. Terkadang cerita berkisar pada beberapa individu yang mulai menorehkan nama. Terkadang cerita berkisar pada kecenderungan beberapa rekan yang mulai kentara.

Di muka, saya menuliskan bahwa bergulirnya waktu akan kauamati dengan adanya perubahan. Maka kita akan cenderung mencoba mencerna jangka waktu yang telah terlewat, dengan mengenang apa yang teringat dahulu. Dengan menghubungkannya ke kenyataan yang ada kini, satu demi satu perubahan akan ditelisik perlahan. Bukankah memang sesederhana itu kita menentukan perubahan?
Sesederhana apapun ia terdengar, seringkali melakukannya sendiri akan membawamu jauh dalam kontemplasi. Kautandai di mana tiap-tiap rekanmu kini berkiprah di berbagai medan perjuangan, meski mereka belum tentu tinggal di Medan memberi kontribusi dalam beragam peran. Tak berapa lama, kau mulai berdecak kagum atas capaian mereka yang mentereng, kontribusi mereka yang rajin mejeng. Mungkin terbersit rasa bangga di hati, mengingat deretan nama bertatahkan tinta emas itu adalah nama rekan-rekanmu yang pernah menempuh rona warna hidup di asrama, tiga tahun bersama.
Kemudian, sebagaimana umumnya naluri manusia, kau akan mulai melirik dirimu sendiri, mencoba membandingkan diri dengan apa yang baru saja kausebut “capaian mentereng” tadi.
Saya juga sempat melakukan hal yang sama. Kemudian, saya tertawa. Tawa yang tak keluar dari trakea, tetapi menggema luar binasa di dalam jiwa.

Sebelumnya, untuk memenuhi keinginan kita yang berniat membandingkan kadar sebuah keberhasilan, maka perlu pendefinisian yang lugas tentang dua hal: apa yang dimaksud keberhasilan, dan dari segi apa ia diukur. (Silakan baca artikel 73 dan artikel 156 jika ingin menyimak sudut pandang lain tentang keberhasilan)
Misalnya, mengukur keberhasilan studi seseorang dengan acuan keseimbangannya berprestasi. Baik dalam aspek akademik, organisatorik, atau motorik. Dengan menerapkan penilaian standar dalam membandingkan ketiga aspek ini, mungkin boleh saja saya mengatakan bahwa diri saya medioker dalam hal akademik, dan keroco dalam hal organisatorik. Ya, saya merasa saya cukup unggul dari rekan-rekan yang lain dalam hal motorik, khususnya ketika berkaitan dengan pergerakan dalam "tiga AN": jalan-jalan, makan-makan, dan pacaran liburan. Entahlah untuk hal yang lain. Jika keberhasilan saya diukur dari sudut pandang mereka yang menorehkan capain mentereng selama dan setelah lulus dari almamater, mungkin saja saya dikatakan gagal.
Maka apa yang saya lakukan dalam kondisi demikian? Tentu saja, menertawakan diri sendiri. Sebagaimana telah saya lakukan sedari tadi.

Memang indah bukan, menertawakan diri sendiri? Lagipula, saya sudah terbiasa menertawakan diri - terlepas dari apa saja sebenarnya capaian saya, yang saya rasa tak ada perlunya diceritakan di sini. Menertawakan diri, setelah menanyakan nilai ujian salah satu mapel di zaman MAN, hanya untuk memamerkan nilai saya yang tak kuat menggapai KKM. Membanggakan betapa saya selalu berpacu dengan nilai KKM bagi mapel lain, yang terus naik seiring naiknya tingkat, menyaingi naiknya harga BBM. Membanggakan bagaimana saya sering dipergoki berada di luar kelas ketika jam belajar masih berlangsung - satu tanda bahwa saat itu saya payah dalam bersembunyi.
Ada berbagai cuplik cerita lain, yang dapat menggambarkan dengan baik tips dan trik menertawakan diri sendiri. Meskipun mungkin ada kesempatan di lain waktu untuk membicarakannya.

Seindah apapun kedengarannya, tak ada kebebasan yang mutlak di dunia. Termasuk pula kebebasan saya untuk menertawakan diri sampai puas. Kau boleh bilang, tertawa dibatasi oleh tarikan nafas dan getaran pita suara. Tetapi tidak hanya mereka.

Kembali mengaitkan kelanjutan dengan bagian sebelumnya, saya menghabiskan porsi cukup besar dari waktu-waktu saya di kampung halaman untuk berbagi cerita dengan beberapa rekan. Mengingat rekan-rekan yang dimaksud adalah mereka yang dulu sama-sama mencecap pendidikan di MAN dulu, tak heran jika objek, predikat, maupun keterangan dalam tiap cerita dan percakapan jarang bergeser jauh dari almamater. Entah itu adalah para alumni yang dibicarakan, mereka yang masih berjuang di sana, tubuh-tubuh harfiah dan kiasan yang membangun kekokohannya. Juga mereka yang terus bolak balik berkalang di sana, entah dengan niat apa.
Ketika saya tak lagi bertatap muka dengan mereka, antusiasme dan semangat mereka juga tetap tersebar dengan bantuan teknologi masa kini. Acap kali beberapa rekan saya menemukan sebuah tulisan menarik mengenai capaian mentereng mereka yang masih menjajal pendidikan di almamater. Dan pada detik dibagikannya tulisan terkait di entah jejaring sosial yang mana, beberapa rekan saya akan membagikannya ke segala arah dengan bersemangat, kepada seluruh dunia untuk melihat.

Maka kembalilah membahana, nama besar almamater yang kian tersohor dengan jajaran prestasinya. Konon gedung tempat administrasi akademik dilakukan telah dipenuhi sedemikian rupa oleh lemari beraneka ukuran, dengan deretan piala dan medali menyinggahinya. Agaknya kita memang terbiasa, merasakan ciprat kebanggaan tatkala sesuatu hal yang berkaitan dengan kehidupan kita diapresiasi orang lain dengan hebatnya. Tak pelak, itu pula mungkin yang terjadi ketika entah teman seperjuanganmu, entah almamatermu, kembali bersinar dengan kilau prestasi terbaru.
Rasa bangga itu terus bersemai. Hingga kata-kata seorang guru kembali terngiang di kepala saya. Kata-kata yang saya nyaris lupa, hanya ikhtisarnya tertinggal dalam kepala.
"Senantiasa ingatlah, kalian adalah etalase almamater ini. Apa pendapat orang akan almamatermu, bergantung pula pada apa yang mereka lihat pada dirimu."
Ditemukan beberapa bulan lalu di arsip kampus.
Dulu, ketika saya pertama kali mendengar kata-kata sang guru, itu berarti saya harus bersikap sebagaimana yang diharapkan terlihat dari seorang yang membawa "panji-panji" almamater. Saya ingat kata-kata tersebut dituturkan ketika kami bersiap melakukan kunjungan ke beberapa lokasi. Kini, setelah lebih dari dua tahun saya terombang-ambing di tengah pergolakan kehidupan, meresapnya kata-kata tersebut membawa makna yang lebih tajam. Itu artinya, saya akan diharapkan untuk mampu berkontribusi dan berprestasi sebagaimana tersirat dari almamater saya.
Jelas, ini bukan sembarang harapan. Ada slogan di almamater yang menyiratkan para lulusannya untuk menjadi individu yang berprestasi, mandiri, dan islami. Satu kutipan yang pernah dicetuskan oleh sang penggagas almamater saya, adalah kutipan yang menyiratkan harapan akan generasi muda yang "berotak Jerman dan berhati Mekah". Apalagi jika mendengarkan ragam cerita dari guru tentang harapan-harapan yang ditanamkan di pundak kami semua dengan cara masing-masing. Mulai dari penyusunan kurikulum, kesungguhan mengajar, dan berbagai hal lain yang bahkan tak sanggup saya tuliskan satu persatu dalam tulisan ini. Harapan bagi kami-kami sekalian supaya menjadi generasi yang memajukan nama negara, bangsa, agama.

Lebih dari lima tahun lalu, detik diumumkannya nama saya di antara sekian ratus siswa/i baru bagi almamater, adalah detik di mana lembar baru takdir mulai terlaksana, harapan mulai tercurahkan. Sebuah hal yang saat itu tak saya ketahui apapun tentangnya. Ia menjadi permulaan bagi sekian ratus jiwa-jiwa muda untuk digembleng dalam struktur edukasi yang tak main-main, pembinaan diri yang tak main-main, juga akomodasi hidup yang tak main-main. Yang main-main mungkin hanya siswanya yang berusaha mengisi waktu luang, atau meluang-luangkan waktu. Ketika saya mulai tersadar akan adanya dan besarnya harapan atas kiprah kami, tentu saja tak ada pilihan untuk berhenti begitu saja. Bahkan kemudian saya akan demikian mudahnya melupakan hal tersebut dan kembali memfokuskan diri pada hal-hal yang disenangi.
Maka kini, setelah saya berhasil menghimpun informasi dengan lebih baik, harapan besar yang dipercayakan itu kembali tampak jelas, dalam segala ragam bentuknya. Beberapa mungkin akan setuju jika ia dikategorikan dengan amanah. Dan kita semua mungkin sudah mafhum, betapa sebuah amanah benar-benar serius. Apalagi banyak amanah. Apalagi dengan demikian banyaknya rekan-rekan bercerita bangga akan kemasyhuran nama almamater, yang kini terasa sebagai teguran demi teguran bertubi-tubi.

Merasa demikian berat menerimanya sebagai kenyataan? Apalagi saya. Yah, bagaimanapun juga, mengeluhkannya tak akan mengubah keadaan, pun tak juga memutar waktu kembali ke saat kita dihadapkan pada pilihan berjuang dalam almamater terkait.
Sejujurnya, saya sendiri pun mengharapkan ekspektasi yang rendah dari orang-orang di sekitar, akan capaian yang (mungkin) saya (tidak) torehkan di mana pun saya berada. Mengingat gaya saya yang seenaknya dalam belajar, terutama sejak menempatkan diri di salah satu bangku almamater, mungkin beberapa pihak akan skeptis atas apa yang bisa saya capai selama di bangku kuliah ini. Harapannya, sih. Tapi tahu apa kita akan kenyataan?

Maka langkah yang paling konkret untuk dirancang dan diperankan, tentunya adalah dengan mempertanggungjawabkan amanah yang (sebenarnya) diemban.
Sayangnya, dari sudut pandang mahasiswa medioker macam saya, menjadi figur "berprestasi, mandiri dan Islami" sebagaimana yang dicanangkan almamater mungkin jauh barbekyu dari api. Begitu pula halnya dengan "berotak Jerman dan berhati Mekah". Tak perlu dibandingkan dengan beberapa rekan yang mulai bersinar dengan segala macam prestasinya, karena saya akan tampak seperti remah-remah biskuit yang kadaluarsa kemarin.
Langkah yang kemudian saya ambil, adalah menetapkan "keberhasilan" versi saya sendiri. Versi di mana saya bisa terus mengungguli dan memperbaiki kondisi diri, selandai apapun gradiennya.

Di bagian sebelumnya, saya sempat mengatakan bahwa salah satu hal yang penting dalam memeriksa kadar 'keberhasilan' adalah menentukan standar 'keberhasilan' itu sendiri. Maka saya hubungkanlah proses ini dengan tujuan yang saya (pikir) sedang tuju. Hening, dan kemudian terbersit sebuah pertanyaan.
Memangnya, apa tujuan saya?
Dalam bagian kedua dulu, saya pernah menyatakan dengan gamblang bahwa saya (awalnya) tak berminat menjajal dunia perkuliahan bidang IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknik), dengan menghaturkan ucapan terima kasih kepada buku-buku Ippho Santosa dan Robert Kiyosaki yang akrab menjadi santapan saya selama kelas dua belas. Betul, tentu saja tidak termasuk astronomi yang demikian saya akrabi di masa itu (juga hingga saat ini, sih). Saya tidak pernah berminat membayangkan diri saya berkutat di dunia ilmiah sebagai seorang ilmuwan yang meneliti entah berapa banyak hal (sebagaimana pernah saya jadikan skenario di artikel 183), dan saat itu saya nyaris siap menjajal pendidikan akan hal yang bagi saya sama sekali baru. Bukankah pembaruan identik dengan penyegaran?
Tetapi, dalam bagian kedua juga, saya sedikit mencantumkan akan obrolan dengan ayah saya terkait apa yang akan ditempuh dalam dunia perkuliahan. Dan saat itu, barisan kata berikut memicu saya untuk menantang hidup, menandingi bahkan fantasi tergila yang pernah terbayang dalam kepala.
"Yang terpenting dari pendidikan sarjana bukan program studinya. Kemampuan sampingan yang didapat justru lebih penting."
Tentu saja, redaksi asli yang tertuturkan tidaklah tepat demikian. Meskipun demikian, ia tidak mempengaruhi isi kepala saya untuk bergolak mencetuskan berbagai skenario yang lebih menarik. Terbukti dengan banyaknya pertanyaan bernada heran yang kemudian saya dapat ketika (belum) melanjutkan langkah.
"...Tapi, dulu di SMA kan ikut..."
"...Tapi kan kamu bukan jurusan itu.."
"...Kok nggak nyambung..?"
Kutipan yang saya cantumkan sebelumnya mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, menilik nada penyampaian dari pertanyaan yang tertera. Tetapi, kesimpulan saya mungkin lebih "asyik".
"Pilihanmu akan jurusan kuliahmu mungkin menentukan masa kinimu, tetapi ia tidak menentukan masa depanmu."
Dengan pemikiran itu tertanam kuat dalam kepala, saya memutuskan untuk banting setir, bergabung dalam kancah perburuan kursi jurusan IPTEK. Saya meyakini, jurusan apapun yang saya ambil kini, tidak menentukan jurusan apa yang akan saya selami kelak ketika memutuskan untuk melanjutkan pendidikan. Ilmu tidak akan menjadi sia-sia hanya karena kita tak lagi berkecimpung di dalamnya, toh?

Entah apakah ini merupakan bentuk pertanggungjawaban yang pantas atau tidak, atas segala amanah yang telah dipercayakan. Tetapi, saya sendiri melihat diri saya dua tahun lalu sebagai sosok yang naif, utopis, dan tidak cukup awas dalam memantau dinamika kehidupan. Melihat hal-hal tersebut, saya menilai diri perlu usaha ekstra dalam meningkatkan kualitas diri jika dibandingkan dengan rekan-rekan yang lain. Dan usaha ekstra dalam kasus ini diwujudkan dengan menerabas apa yang saya tak pernah impikan, sebagai usaha meraih kemampuan sampingan dalam segi interaksi dan dependensi sosial. Atau, dalam penggambaran yang diutarakan bung Diba, "belajar jadi manusia".

Berkembang menjadi seutuhnya manusia. sumber
.....Pandangan kembali berkelana ke masa kini.
Saya mungkin tak lagi mampu menceritakan detail perjalanan hidup dengan baik sebagaimana yang mungkin tampak di bagian pertama dan kedua. Tetapi, hal yang pasti: Keputusan saya berkelana ke negeri samurai ini telah memberikan kesempatan luar biasa bagi saya, untuk mengamati dunia dari beragam sudut pandang. Untuk berinteraksi dengan beragam individu dari beragam latar belakang, beragam gaya pergaulan. Untuk terus mengasah otak dalam menganalisa keadaan, mempertanyakan pembenaran, juga dalam perbendaharaan pengetahuan. Untuk menahbiskan jiwa saya sebagai jiwa yang sungguh-sungguh ingin merdeka, bebas dari kungkungan yang tak seperlunya ada.
Menilik perubahan yang terjadi dalam pemikiran saya dua tahun ini, dan bagaimana keras saya menilai diri yang lalu, saya mungkin boleh merasa telah banyak berimprovisasi dalam memercikkan pemikiran. Saya kembali menertawakan diri ketika menyadari perubahan yang telah terjadi dalam dua tahun ini. Dan kini saya mulai penasaran, perubahan apa saja yang bisa saya capai dalam dua tahun ke depan. Saat di mana saya akan menyudahi lembar cerita di negeri samurai ini, kembali menyapa kenyataan.

Cara saya menanggapi sebuah pertanggungjawaban boleh jadi tak bertanggungjawab. Semoga sih perwujudannya kelak lebih kentara dalam hal "pertanggungjawaban". Mengingat hidup ini dapat diringkas menjadi dua kegiatan: Membuat keputusan, dan mempertanggungjawabkan keputusan.
Ohiya, tadinya saya buat tulisan ini dengan maksud mengusung tema "cipta"? Saya tak yakin apakah ada unsur "cipta" yang disajikan dengan baik di sini. Semoga ada, meski secara tersirat.

Akhir kata, hidup ini menarik, bukan? Semoga kita tak terlalu lekat tertarik olehnya.
Salam kuper.



P.S. Terima kasih telah sudi membuang waktumu untuk menyelesaikan tulisan puanjang ini. Tulisan ini pada dasarnya saya buat untuk bahan menyindir diri sendiri, jadi mohon izinkan melimpahnya penggunaan ungkapan yang cukup 'keras' di sini. Semoga saya segera kembali ke jalan yang benar.
Bonus tulisan tentang kuliah di luar negeri: http://www.berkuliah.com/2014/11/kuliah-di-luar-negeri-ekspansi-atau-pamer-diri.html

6 komentar:

  1. baru baca yang ini dan kata-katanya mantep pisan hahah, lumayan bikin sakit kepala :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisalah..karena emang dasarnya lagi pusing ditambah baca tulisanmu yang lumayan panjang ini :p

      eh tumben ga nulis si putih?? atau udah ya??

      Hapus
    2. Lagi pusing kok ya baca tulisan panjang :v

      Belum kok mbak. Tunggu tanggal mainnya yo

      Hapus
    3. Biarin sajalah, maksud hati mencari hiburan eh yang ada malah tambah pikiran (??)

      Okee paman.. Yang puitis sama pakai bahasa langit ya #lah?

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...