Selasa, 09 Oktober 2012

Article#94 - Antara Cerita, Cipta dan Cita (Bagian 2): Menapaki Langkah Hidup Selanjutnya

Meskipun di bagian pertama sekuel ini (halah) dikatakan mengenai pesanan tentang rekan se-IC saya yang ingin membantu adek kelas dengan kisah menuju perkuliahan, sebenarnya pusat cerita tersebut ada di sini. Karenanya, jangan heran jika postingan ini amat, sangat panjang. Salah satu yang terpanjang yang pernah saya buat setelah artikel tentang orang Savant.
Catatan sebelum mulai: Ini bagian kedua, bertema cita. Jika kau belum membaca bagian pertama, tak ada salahnya untuk mampir.

***

Tentu saja, sudah waktunya untuk menentukan nasib. Tapi tetap saja, tak mudah untuk memilih dari sekian banyak informasi yang berdatangan dalam satu musim layaknya daun musim gugur.

Hanya terdiam dan menatap daun-daun informasi, yang berdatangan , terkadang tanpa disadari.... 
Blah. Hentikan dan lanjut.
Sebenarnya ada beberapa tes menuju universitas yang sempat diikuti oleh saya dan rekan seperjuangan saya, tetapi disini saya hanya akan menuliskan tiga, karena memang hanya itu yang saya ikuti.

Pertama, tes menuju Nanyang Technological University, Singapura.
Disusun berdasarkan kronologis waktu, ini memang tes masuk universitas pertama yang saya ikuti, bertanggal 11-12 Februari 2012. Mengikuti jejak beberapa senior yang telah lebih dahulu mengecap bangku ruang kuliah NTU (sekali lagi, tidak secara harfiah), sebanyak 28 orang (kalau info saya benar) rekan seperjuangan saya mendaftarkan diri masing-masing (dan kadang juga mendaftar barengan dengan meminjam lab komputer sekolah, yang sebenarnya tak boleh dipakai karena sedang UAS) untuk mengikuti tes masuk NTU. Setelah kemudian dari seleksi berkas terpilih 19 orang untuk mengikuti tes masuk NTU, dengan berbagai macam kombinasi pelajaran yang diujikan dalam tes (yang tergantung pada program studi yang diambil tiap siswa), diadakan sebuah pelatihan intensif khusus matematika untuk menambahkan pijakan kami semua dalam bersiap menghadapi tes (dan terutama karena ada kesenjangan antara materi sekolah dengan materi A-Level yang dikeluarkan dalam soal tes).
Pada akhirnya, dengan amunisi sebanyak itu, hanya 1 orang yang tepat mencapai sasaran. Bahkan pada akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan universitas ini. Yah, pada akhirnya memang ia belum tentu pilihan yang terbaik untukmu, jadi nikmati saja hidup yang indah ini....

Kedua, jalur resmi menuju perguruan tinggi dalam negeri (PTN), baik jalur undangan (atau dulu dikenal sebagai PMDK) dan jalur tertulis. Keduanya kini disatukan dalam sebuah kesatuan bernama Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi negeri, dengan singkatannya yang panjang nan menyebalkan, SNMPTN. Saya pernah menyinggung sedikit tentang ini di artikel sebelumnya, jikalau kalian ingat. Yah, sebagai anak negeri Indonesia yang baik budiman dan patuh pada orangtua, saya juga mengikuti seleksi ini untuk mendapatkan jatah bangku kuliah di perguruan tinggi negeri. Yah, jiwa idealis saya terkadang memberontak mendengar kisikan batin tersebut (halah), tetapi yaa, apa lagi alasan mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi?
Seperti dibahas di bagian sebelumnya, saya mendapati diri dalam kebingungan akan jurusan yang tak jua terpikirkan. Akhirnya saya putuskan untuk mengambil jalan yang berbeda dalam memutuskan hal ini: seleksi jurusan dari tiap universitas (berasa apa dah...), yang gilanya saya lakukan hanya 4 hari sebelum penutupan pendaftaran. (Ohiya, lupa cerita, berkat campur tangan berbagai pihak, dari Tuhan, sekolah, hingga kucing di kantin sekolahan, saya mendapatkan kesempatan mencoba jalur undangan). Yang saya pilih (di pilihan utama).... program studi Geografi dan Ilmu Lingkungan. Bahkan saya sendiri juga kaget waktu mengetahui saya memilih jurusan itu.
("Hei, kok elu milih jurusan itu?!" "Entah, gue juga heran..")
Dengan berbagai pilihan lainnya, singkat cerita, sayapun akhirnya diterima di jurusan tersebut. Geografi dan Ilmu Lingkungan, Universitas Gadjah Mada. Cerita selanjutnya terkait ini akan saya bahas selanjutnya.

Ketiga, sebuah jalur yang benar baru, dan sekali lagi, dengan campur tangan berbagai pihak, dari Tuhan, sekolah, hingga selokan yang tersumbat oleh topi upacara entah milik siapa, saya beserta rekan seperjuangan saya mendapat kesempatan mengecap perjuangan menuju titik penghabisan berupa sebuah tiket menuju Disneyland Hong Kong 3 universitas top Jepang dan melanjutkan studi sarjana (S1) disana (Sebut saja beasiswa ini beasiswa B, yang diberikan oleh lembaga L, saya tak mau promosi disini. Hubungi saja saya di nomor dibawah ini... eh, nggak ada. Pokoknya, hubungi saja saya untuk keterangan lebih terang).
Kesempatan langka, mengingat jalur umum menuju kuliah di negeri Matahari Terbit dengan beasiswa adalah dengan memakai beasiswa Monbukagakusho/MEXT atau JASSO, yang perjalanannya panjangnya mohon ampun, terutama untuk yang pertama, sehingga kesempatan ini tak boleh disia-siakan.

Berawal dari 34 orang rekan seperjuangan, para siswa-siswi pejuang pencari belas kasihan si lembaga beasiswa mengikuti tahap demi tahap menuju tujuan akhir bernama kuliah di Jepang. Sejak awal pun saya sudah pontang-panting, karena pada awalnya saya tak memiliki minat sedikitpun untuk beasiswa ini. Bukan karena tidak tertarik ke Jepang, tetapi karena lembaga L hanya menawarkan beasiswa untuk jurusan sains dan teknik. Sebagai anak yang masih berkemauan kuat melanjutkan kuliah ke bidang bisnis/manajemen, saya di awal-awal masa pendaftaran mengaku tidak ingin mendaftar beasiswa tersebut.
Entah apakah itu suara hati saya atau bukan, yang jelas saya merasa sama sekali tak tertarik dengan beasiswa B ini di kala itu. Saya masih buta akan apa yang terjadi 8 bulan setelahnya. Meskipun rekan-rekan saya banyak yang mengisi formulir pendaftaran dengan penuh semangat di tengah prosesi pendaftaran NTU, saya tetap tak bergeming dan memfokuskan urusan pada dokumen-dokumen untuk NTU (Walaupun tetap saja, kemampuan fokus saya lemah, baik secara denotatif ataupun konotatif). Tetapi, seperti es yang diterpa panas, lama-kelamaan saya jadi penasaran dan berpikir ulang atas penolakan awal saya terhadap program tersebut. Dan diperkuat dengan diskusi bersama orangtua pada siang hari 17 Desember 2011, sekitar pukul 14:08 (UT+7), akhirnya saya memutuskan untuk mendaftarkan diri dan mengikuti seleksi beasiswa B tersebut.

Yah, memang bukan perkara yang mudah untuk secara drastis berpindah haluan dari bisnis sebagai tujuan semula, menuju jurusan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknik, rada maksa sih memang, tapi peduli amat). Bahkan, akhirnya saya melupakan program beasiswa B ini, hingga pada suatu hari (sekitar 14-15 Februari) salah seorang rekan saya Nabil memasang pengumuman yang memberitahukan bahwa pendaftaran beasiswa B akan ditutup pada 22 Februari. Dibilang kalang kabut sih, awalnya mungkin tidak juga. Masih ada 8 hari menuju penutupan pendaftaran. Namun ternyata, dokumen akan dikirimkan secara kolektif tanggal 16 Februari ke pihak sekolah, dan yang belum harus mengurus sendiri. Padahal, tanggal 18 saya akan menjelajah Bandung dalam rangka pelatihan nasional menuju olimpiade astronomi. Alhasil, saya harus segera menentukan pilihan. Beasiswa B menawarkan dua kelompok program studi (dimana tiap anak hanya boleh memilih maksimal 2 dari salah satu kelompok saja), kelompok A (kecenderungan fisika) dan kelompok B (kecenderungan biologi). Pada awalnya, saya sempat memutuskan jurusan Kimia Molekuler di Universitas Tohoku sebagai pilihan, namun apa daya, ia ditempatkan di kelompok B. (Di paragraf bawah akan sedikit dibahas mengenai penempatan ini). Akhirnya, setelah menimbang bobot badan yang waktu itu baru saja turun 2 kilogram, karena kompetensi saya lebih baik di fisika dibanding biologi (berdasarkan pengalaman pribadi dan data nilai), saya memutuskan untuk memilih hanya satu program studi dari kelompok A, Teknik Sipil di Universitas Kyoto. Dengan keputusan itu, dan dilengkapinya formulir saya, saya bersiap menuju tes tahap pertama.

Walaupun kau tak tahu ada apa di depan sana, kau harus tetap melangkah.
Dan akhirnya waktu mulainya tes pun tiba juga. 11 Maret 2012, sebanyak kira-kira 376 siswa/siswi kelas XII menjalani tes di 6 lokasi berbeda, masing-masing di daerah Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur dan Sumatera Barat. Sebenarnya saya aslinya ditugaskan ditempatkan di daerah Jabodetabek (sesuai lokasi sekolah saya), namun seperti disebut sebelumnya, akibat adanya penjejakan selama sebulan di Bandung hingga 18 Maret, jadi saya harus mengikuti tes terkait di Bandung. Mana mungkin pulang ke sekolah dulu..? Jadi akhirnya saya mengikuti tes (berupa pelajaran MIPA dengan bahasa Inggris, dengan adanya fisika atau biologi, sesuai kelompok), kemudian pulang dan sedikit melanglang buana ke berbagai tempat. Sebenarnya, pada hari itu peserta pelatihan astronomi difasilitasi untuk berkunjung ke Trans Studio Bandung, tetapi sesuatu dalam diri saya (halah) mengatakan untuk tidak usah ikut dan kembali saja ke wisma pelatihan.

Yah, singkat cerita, dari jumlah yang 376 orang itu, dijaring seperempat (94 orang, 20 orang darinya rekan seperjuangan saya) untuk mengikuti tes tahap kedua. Dan tesnya.... di sekolah madrasah saya, MAN Insan Cendekia Serpong. Tesnya berupa simulasi IELTS dan wawancara dengan sang ketua lembaga L langsung, dan dilangsungkan dalam dua kloter yang saling bergantian karena terbatasnya alokasi waktu dan tempat untuk tes. Dan, pada akhirnya terpilihlah 33 orang 'tim inti' dan 7 orang 'tim cadangan' yang akan didelegasikan ke tiap-tiap universitas. Disinilah drama (yang benar-benar terasa) bermula.

Pengumuman dikeluarkan pada Kamis, 19 April 2012, tepat setelah selesainya Ujian Nasional setingkat SMA. Kata seorang petinggi lembaga L, sih, 'biar nggak galau di tengah ujian'. Terserah lah, yang jelas, berhubung lokasi tinggal saya yang berada di dalam asrama, dan segala macam koneksi (legal) diputus, akhirnya saya baru mengaksesnya ketika saya kembali menikmati udara segar di rumah pasca ujian, Jumat esok harinya. Untungnya saya lolos dan tercantum di daftar, tetapi... di kotak jurusan Teknik Mesin dan Aerospace, Universitas Tohoku. Jurusan yang sejak awal pendaftaran saya hindari (hanya karena tak suka, sebenarnya), entah kenapa mendadak menelan saya. Untungnya saya sedang di rumah, sehingga banyak hal bisa mengalihkan saya dari memikirkan hal itu (meski sebenarnya saya juga tidak memikirkannya..).
Tetapi sekembalinya saya ke sekolah (dalam penyiapan menuju senam tulis, yang di tempat saya wajib diikuti semua siswa/siswi yang belum pasti bangku kuliahnya), saya kembali diingatkan akan jurusan yang dilematis tersebut (halah). Dan ketika saya bertanya kepada guru BK, dikatakan bahwa pemindahan (tanpa restu saya, duh) tersebut dilakukan atas pertimbangan prestasi dalam bidang astronomi (yang cerita keberangkatannya pernah saya pasang di blog). Dah, kalau begitu jadinya untuk apa saya memilih? Ternyata, untuk mempertahankan pilihan saya supaya tidak diotak-atik. Atau mengubahnya menjadi kembali ke tujuan awal, kimia molekuler? Entahlah, meskipun peluangnya sangat kecil, apalagi dia ada di seberang kelompok. Paling tidak, begitulah pikiran saya di awal bulan Mei yang indah itu.

Yah, perjuangan sebenarnya menuju bangku kuliah berpusat disini..!
Saya mendiskusikan masalah ini dengan guru BK saya, dan ternyata akan diatur jadwal pembekalan sebelum pendaftaran oleh sang ketua pelaksana program beasiswa B ini. Kira-kira di Sabtu pertama bulan Mei (kalau nggak salah, berarti ya 5 Mei), pertemuan kecil-kecilan antara sang ketua pelaksana dengan beberapa siswa yang lolos dari maut seleksi. Seluruh rekan seperjuangan saya yang lolos hadir. Setelah pertemuan kecil tersebut selesai, saya memutuskan untuk bicara delapan-mata (saya dan dia sama-sama berkacamata... ah lupakan), dan akhirnya kami sepakat untuk membatalkan keikutsertaan pendaftaran di jurusan teknik mesin, dan kembali ke jurusan pilihan awal, teknik sipil. Saya sempat menanyakan perihal kemungkinan pindah ke jurusan kimia molekuler, tetapi beliau mengatakan 'hanya bisa pindah ke jurusan yang sekelompok' (maksudnya yang kelompok A atau B di awal tadi). Ya sudah, akhirnya saya memantapkan untuk mempersiapkan diri menuju teknik sipil di universitas Kyoto....

...sampai beberapa hari kemudian, terjadi pembelokan arah yang tak disangka-sangka.
Saya saat itu sedang berada di ruangan BK, dengan alasan 'mengurus kelanjutan kuliah', padahal tujuan utamanya adalah kabur dari program intensif menuju senam tulis (eh ketauan). Dengan koleksi buku yang cukup banyak (tak ubahnya perpustakaan mini) dan 'koleksi' pamflet yang lebih banyak lagi tentang program kuliah, saya bisa mengisi waktu saya tanpa perlu berpusing-pusing ria di kelas. Di hari itu (kalau tak salah ingat, 8 Mei), ketika saya lagi asik membaca salah satu buku, dan sang guru BK sedang berbincang di telepon, saya diminta berbicara dengan seseorang di ujung sana, yang ingin mengontak saya. Rupanya salah satu petinggi lembaga L sekaligus petinggi panitia beasiswa B. Dan pertanyaan pertama beliau adalah.. "Kok kamu belum daftar ke pihak Tohoku-nya?" Taktak dung dess.... kalau ada musik latar mungkin sudah diberikan irama a la suspense. Setengah bingung, saya mencoba menjelaskan perihal keputusan saya dengan sang ketua pelaksana beasiswa, 3 hari sebelumnya, namun jawaban yang saya dapatkan justru begini, "Kalau bisa nggak pindah universitas. Atau, ada jurusan lain yang kamu minati, mungkin, di Tohoku?". Perlu beberapa detik untuk menyadarkan saya akan kesempatan yang dibuka ini. Tanpa ragu saya menyebutkan 'kimia molekuler' sekali lagi, dan pembicaraan ditutup dengan permintaan untuk menunggu keputusan pihak B hingga sore hari. Dan voila! Sang guru BK yang baik hati, pada sore 'mendatangi' saya dan berkata "Ibu minta kamu selesaikan pendaftaran ke Tohoku hingga besok pagi, jurusannya terserah kamu."
Memang, kesempatan besar yang sangat tak terduga. Kalau kata Syahrini, 'Alhamdulillah yaa, sesuatu..' Sayapun segera mengurus pendaftaran malam itu juga, dan tanpa basa-basi saya memilih jurusan kimia molekuler-nya Univ. Tohoku.
Perjalanan yang terkesan sunyi dan sepi sebenarnya menyimpan banyak hal berharga.
Singkat cerita, dengan berbagai dokumen yang harus dikirimkan, saya mendapat panggilan tes (yang dikirim lewat pos, langsung dari kota Sendai) yang dijadwalkan pada 29 Juni, lagi-lagi di MAN Insan Cendekia Serpong. Lembar tes menyebutkan bahwa cakupan materi tes adalah tes lisan dengan topik matematika, fisika dan kimia (dari sini sudah jelas rasanya, jurusan ini seharusnya dikategorikan dalam kelompok A), jadi saya memutuskan untuk membaca buku yang berisi pengetahuan dasar populer yang meliputi ketiga topik tersebut. Pilihan saya jatuh (bukan secara harfiah) pada buku yang saya gunakan sebagai referensi pada artikel saya yang terdahulu tentang pesawat, dan buku itu saya bawa dalam liburan keluarga ke Bukittinggi, Sumatera Barat antara 23-28 Juni.
Dengan percaya diri (padahal bukunya jarang dibaca, namanya juga lagi liburan) saya datang ke kompleks sekolah pada 29 Juni pagi, melangkah dengan tenang dan pasti menuju ke ruang kelas. Rupaya peserta tes lain telah datang, dengan 3 orang dosen yang sudah menanti di bagian depan kelas, dan sebuah tumpukan kertas di meja depan.... Tunggu. Apakah itu... soal? Wahduh. Ternyata ujian tulis, sodara-sodari. Karena saya dapat dikatakan 125% tidak membaca ulang materi sekolah (hanya terbatas pada buku tadi, dan satu-satunya sumber belajar saya), saya hanya bisa bertumpu pada ilmu yang saya dapatkan selama masa belajar.
Pada akhirnya, walaupun sedikit kagok pada awalnya, tes berlangsung lancar, dan pada akhirnya di tanggal 10 Juli, jam 14:49 (UT+7), saya mendapat email dari pihak Univ. Tohoku, dan alhamdulillah, diterima..
Nih jepretan isi emailnya... Sila lihat
Dan, setelah itu, masih ada bagian cerita lain yang belum terpampang disini.
Seperti sedikit diceritakan diatas, saya diterima di jurusan geografi dan ilmu lingkungan-nya UGM. Dan karena diterima melalui jalur undangan, saya harus melakukan registrasi, yang ditetapkan dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan senam tulis, pada 12-13 Juni. Karena posisi saya saat itu dalam keadaan tanpa kepastian, akhirnya melalui forum keluarga, diputuskan untuk ikut daftar ulang. Alhasil, ketika saya sudah dipastikan diterima di Universitas Tohoku, saya otomatis memiliki kesempatan untuk memilih keduanya. Tentu saja, dari keputusan yang sudah-sudah, saya memantapkan diri untuk bersiap melaju ke negeri Matahari Terbit. (Bismillah!)
Walaupun begitu, saya masih menyempatkan diri datang ke kampus UGM pada 22-24 Agustus, untuk mengambil atribut-atribut yang memang boleh diambil oleh yang sudah melengkapi prosesi pendaftaran. Lumayan buat kenang-kenangan kan...

Epilog: Terkadang serasa mimpi. (nggak se-melankolis itu juga sih...) Kalau melihat prosesnya dari awal, saya merasa terlalu banyak faktor nonteknis yang mempengaruhi perjalanan saya. Tuhan menuntun saya melalui jalan ini dengan pembelokan yang tidak biasa, dan semuanya, meski saya tidak sadar di awal, terajut menjadi sebuah kepingan episode indah dari sebuah perjalanan.
Dulunya, sejak kelas satu, ketika ditanyakan ingin kuliah dimana, tak pernah terpikir untuk kuliah ke luar negeri, apalagi mengkhususkan 'ingin ke Jepang'. Saya pernah ikut pelajaran ekstrakurikuler bahasa Jepang di MAN dulu (walaupun tetap aja saya kagak bener belajarnya, dasar), dan di sesi terakhir, ada sesi berbicara nihongo—bahasa Jepang—singkat dengan sang pengajar, Dini-sensei (dan disanapun tetap saja hampir tak ada sedikitpun kalimat bahasa Jepang terucap, palingan arigatou-terima kasih), dan ada pertanyaan singkat yang kurang lebih isinya begini: "Belajar bahasa Jepang untuk apa? Apakah mau kuliah ke Jepang?". Sebagai anak kelas satu yang masih mengacuhkan hal semacam kuliah, saya hanya manggut-manggut, termasuk ketika ditanyai universitas mana, justru senseinya yang memberi usul jawaban. sekali-lagi, saya hanya manggut-manggut. Tetapi saya tak pernah benar-benar menyadarinya, hingga semua yang telah saya ceritakan diatas terjadi.
Dan kemudian, yang cukup membuat saya terkejut, adalah berita bahwa pendaftar teknik sipil Universitas Kyoto ada yang tersingkir karena usianya belum 18 tahun. Sebagai 'lulusan muda' yang lulus di usia 17 tahun, tentu saja saya tak akan tembus dalam keadaan yang sama. Makin terasa luar biasa lah keberhasilan ini. Seperti kata pepatah dari kitab suci, "Boleh jadi kau membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kau menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu".
Disini saya ingin ucapkan terima kasih atas segala pihak yang mendukung sedari awal, terutama Tuhan yang Maha Esa, rekan-rekan seperjuangan, baik di sekolah ataupun di olimpiade, guru-guru yang selalu mendukung, keluarga yang luar biasa, dan berbagai pihak lain dengan kontribusinya yang tersirat dan tak bisa saya sebutkan satu-persatu.
Kini saya sudah mengecap pendidikan di Universitas Tohoku, salah satu universitas imperial Jepang yang terkenal dengan riset-nya. Saya sadar bahwa saya tidak berkeinginan menjadi peneliti, namun belajar di tempat yang luar biasa akan memberikan sesuatu yang luar biasa, demi kemajuan bangsa khususnya. Mohon doanya ya, supaya saya tetap lurus disini, dan dapat menelurkan inovasi yang hebat bagi kemajuan bangsa.

Sekian dulu, mungkin. Sampai jumpa di artikel berikutnya! (:g)

(Silakan kunjungi bagian pertama jika kau belum membacanya)

4 komentar:

  1. Wah berat banget lah yang ini mah.. :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langsung dah man, adu berat-beratan artikel blog...! Tapi kayaknya artikel elu dah man yang lebih berat, bahasanya serius gitu..

      Hapus
  2. keren gian! inspiratif banget bang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip makasih bang... Kalau inspiratif berarti paling nggak salah satu tujuan ini artikel tercapai lah.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...