Kamis, 31 Juli 2014

Article#324 - Lacrime di Giulietta


Menggemari seni rupa? Musik? Bercerita?
Kalau begitu, gabungkan saja semuanya!
...
Mungkin itu yang tercetus di benak trio seniman asal Italia, Lab, ketika mereka memutuskan bekerjasama dengan komposer Matteo Negrin untuk menghasilkan video di atas. Lab, trio yang beranggotakan Luca Cattaneo, Alberto Filippini, dan Alice Ninni tersebut, mengkhususkan keahlian mereka dalam dunia proyek desain web ataupun desain grafis. Sementara Matteo Negrin menginginkan sebuah konsep yang di luar kebiasaan untuk merefleksikan karyanya, Lacrime di Giulietta alias Air Mata Juliet. Maka kemudian mereka berkumpul. Berembuk. Berkecamuk. Berburu nyamuk. (lah) Dan tercetuslah ide "Music painting", yang digambarkan melalui kutipan berikut:
“..We deal with projects about graphic and web design, video and photography. With the composer Matteo Negrin, we decided to make a video for his song‘Lacrime di Giulietta’, experimenting a new technique that we called ‘Music painting’, a sort of music animation, painting notes on a score, telling a story. We wanted to tell a story giving a civic and environmental message, in a soft and kind way.”
Singkat cerita, video di atas direkam dalam waktu 15 jam dalam satu rekaman. Dengan sekian banyak dosis pengeditan, didapatkanlah video yang melaju sesuai dengan ritme lagu yang tersedia.
Video asli bisa kau kunjungi dengan judul MUSIC PAINTING - Glocal Sound - Matteo Negrin. Atau, kalau sedang kurang bersemangat mencari, berikut penulis sertakan jendela menuju video terkait.


***
Hujan tanpa diduga turun, hari ini. 
Hujan yang deras.
Dengan angin yang bertiup ganas, 
Jiwa yang lemah itu mungkin memaknai hujan sebagai jeritan yang menahannya, tetap di tempat.
Terus mengendap di tempat yang nyaman ini, berganti kulit berulang kali, menggerogoti kesalahan dengan tameng lain lagi. 
Tetapi, sentakan halilintar membuat hujan tak perlu repot-repot menyuarakan usahanya.
Bagai hilang akal, ia memandangi pohon yang batangnya melengkung, tetes air yang menyerang tanpa ampun. 
Dan bagai kembali mendapat akal, ia tersentak.
Sudah waktunya jiwa itu menguliti kudapan yang baru.
Yang mungkin akan menahannya bergumul dengan haru ndaru langit biru.
....
Kalau ia mau.

sumber gambar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...