Rabu, 05 Februari 2014

Article#262 - Imajinasi

.....
Bisakah manusia melampaui keterbatasannya?
Ceritanya menelusur sampai jauh, berlembar-lembar di belakang, dalam Abad Pertengahan. Dimotori oleh keinginan mereka yang mendamba kebahagiaan hidup, berlomba-lombalah orang mencoba menemukan kunci utama, yang bisa mewujudkan kebahagiaan versi mereka sendiri. Setidaknya ada tiga yang mereka coba wujudkan: sumber kehidupan abadi, sumber kesehatan abadi, sumber kekayaan abadi.

Manusia sejak dahulu banyak yang takut akan suatu fase bernama kematian. Sepertinya kebanyakan dari mereka adalah orang yang demikian betah mereguk berbagai jenis kenikmatan dunia. Sebagaimana dinyatakan oleh Isaac Newton, sebuah objek yang diam akan cenderung untuk tetap diam, kecuali dia dipaksa bergerak. Kebanyakan patuh ketika 'dipaksa' bergerak, menuju pintu gerbang kematian. Sebagian lagi, tidak yakin apakah mereka bisa melawan sang 'paksaan', berusaha menemukan eliksir mujarab yang konon mampu memperpanjang hidup manusia, menjadikannya abadi di dunia. Ini yang pertama.

Teruntuk yang kedua, sepertinya penulis tidak perlu menjelaskan lebih lanjut mengenai bagaimana orang mendambakan kesehatan. Terutama di saat sakitnya; lagipula siapa juga dari kita yang sama sekali tak pernah merasakan sakit? Baik sakit raga atau sakit jiwa. (eh)
Banyak orang ingin mengecap segala macam nikmat dunia, tanpa perlu bersusah payah dalam derita. Maka mereka mendamba sebuah obat, yang dengannya segala penyakit akan tersembuhkan.

Dan demi yang ketiga, mereka wujudkan segala daya upaya, entah bagaimana cara, mengubah logam "biasa" menjadi logam "mulia". Logam mulia sendiri dinamai demikian karena sifatnya yang stabil, tidak dengan begitu mudahnya bereaksi dengan suatu zat yang menghampirinya. Persis macam bangsawan-bangsawan yang konon selalu menjaga pergaulan dan segala tindak-tanduk mereka. Dan tentu saja, karena kestabilannya inilah, logam mulia memegang tampuk penting dalam urusan berniaga dan bernegara sejak zaman prasejarah.
Tampuk yang penting, artinya ia adalah barang berharga, dan rasanya semua mafhum jika emas dan perak identik dengan kemewahan dan kekayaan, hingga sekarang.

*****

sumber

'Cause now, more than ever,
What we need is laugh, to replace all the despair.
Something good, and something beautiful.
If only we could see. If only.

Dari sudut pandang jiwa-jiwa yang memandang pertanyaan masa lalu sebagai sebuah tinggalan sejarah, mungkin beberapa keabadian yang diincar oleh generasi sebelumnya ini adalah sesuatu yang lebih layak jadi tertawaan. Mungkin saja. Lagipula, sekarang, banyak dari kita telah terbiasa akan kenyataan, bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Ketiga aspek yang telah dibahas sebelumnya, intinya adalah keabadian, dan keabadian bisa dikatakan sebagai satu bentuk kesempurnaan.

Huuh. Para alkemis yang mampu melihat hidup masa kini mungkin akan dikecewakan oleh hal ini. Mereka ingn terus mengembangkan kemampuan. Mereka yakin, masih ada harapan. Tetapi harapan ini luput dari penglihatan jiwa-jiwa yang merana, mereka yang kini berserakan di dunia fana.
Entah apa yang ada di pikiran mereka. Terserah, mereka yang mana.

Sebagian dari mereka yang senang berjuang, mungkin pernah merasakan saat-saat dimana seluruh semesta, alih-alih berkonspirasi untuk membantu mewujudkan keinginan mereka, justru berbalik menjadi senjata makan tuan. Mungkin karena sang semesta tak sudi dijadikan sekadar alat, apalagi senjata. Akhirnya, sang semesta memamerkan segala macam kuasanya, atas jiwa-jiwa kita yang tak berdaya. Satu persatu mereka bertumbangan, menyerah setelah diterpakan kenyataan. Sebagian yang lain mengambil celah untuk mencari keuntungan. Kesempatan di tengah kesempitan.

Sebagian yang lain, ada pula yang sadar, bahwa tujuan itu, akhir dari segala pencapaian yang mereka tuju itu, mungkin tidak benar-benar ada. Ia hanyalah produk angan mereka yang demikian dimabuk buai harapan. Mereka sempat menoleh ke belakang, ke rekan-rekan yang bertumbangan atau lari tunggang-langgang. Akan tetapi, candu harap itu sudah demikian merasuk ke sanubari mereka, lubuk jiwa terdalam mereka. Akhirnya, mereka yang tersisa ini bertahan. Atau begitulah yang terlihat.

Orang bilang, apa-apa yang mencandu itu akan mengaburkan kita dari melihat harapan dan melihat kenyataan. Dan demikian pula mereka, tak lagi mampu membedakan mana yang mana. Yang mereka peduli, mereka punya candu, dan dengan candu mereka ini, mereka yakin mereka punya kekuatan untuk melanjutkan. Melanjutkan sesuatu yang belum sempat terselesaikan. Meskipun tak akan pernah sampai tujuan. Sehingga akhirnya mereka melanjutkan, walaupun kini mereka berjuang tanpa tentu arah. Yang mereka mau, dipandu oleh harap-harap si candu, adalah untuk terus maju.
Di titik inilah, mereka telah melupakan tujuan awal mereka sebagai "tujuan" sesungguhnya. Dengan demikian santai, mereka berjuang sesuai apa yang mereka rasa perlu, apa yang mereka rasa mencukupi. Tak perlu buru-buru—toh tujuan yang sebelumnya diburu itu tidak ada. Maka santai saja, jalani perjuangan dengan senyuman, dan berbahagialah. Kekhawatiran tidak akan membawanya kemana-mana, dan kecemasan hanya akan membuatnya membabi buta.
Maka mereka berjuang dalam tenang, dalam senang.

Mungkinkah ada kaitan antara kebahagiaan dan tiadanya tujuan? Entahlah. Tetapi, mungkin ada kaitan antara kebahagiaan dan tiadanya tekanan. Mengingat tekanan biasanya akan menuntut berkembangnya kecemasan dan kekhawatiran. Tekanan yang memaksa seorang individu untuk berubah, supaya sealur, seirama, searus. Tanpa tekanan itu, cukuplah seorang jiwa manusia dengan dirinya apa adanya, tanpa perlu memikirkan apa-apa.

Satu hal menjadi masalah. (Atau bukan masalah?)
Hidup manusia yang relatif tanpa tekanan hanyalah hidup seorang anak kecil.
Mungkin karena itulah, kita dapati seorang anak kecil menjadi pribadi yang paling murni dari segala manusia? Mereka yang senantiasa bersemangat dengan adanya pembaruan. Mereka yang selalu bahagia berkarya dan mencipta. Terlepas dari segala gurat muram dan duka dari lingkungan sekitarnya.


Dengan sentuhan sederhana, apa-apa yang biasa pun dengan mudah menjadi luar biasa. Selama bukan luar binasa, tak apa lah ya.


Entahlah. Mungkin dunia sudah muak dengan koar tanpa dasar berpijak. Tak perlulah kuurai serangkaian kata, karena dengan hidup yang mengalir demikian indah, ada tidaknya pijakan tak jadi masalah. Karena kita bisa terbang dalam pikiran kita. Tak ada batas, melawan kenyataan, karena tiada yang nyata ketika hanya tersimpan dalam benak pikiran.

Terima kasih, telah mengenalkanku pada warna dunia.
Juga pada mahligai kenyataan yang tak rupa nyatanya.
Yang kuharap, juntai benang itu terus mengait asa,
Untuk mempertemukan kembali pada saatnya.

There's so much left to say
And before this moment slips away
What a wonderful life
For as long as you've been at my side
And I want you to know
....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...