Selasa, 06 November 2012

Article#107 - Kutipan Hari Ini

"Masa kini merupakan resolusi dari apa yang kita lakukan pada masa lalu. Bagaimana cara kita menanggapi masa kini, akan kau dapati nanti sebagai masa depanmu. Jika ingin menjadi orang yang luar biasa, hiduplah secara luar biasa. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, masa depan sebagai tujuan, dan masa kini sebagai perjuangan."

~disarikan dari berbagai kutipan dunia oleh penulis, pada Selasa, 6 November 2012, 20:07 (UT+9)


Lanjutkan baca »

Senin, 05 November 2012

Article#106 - Catatan Seorang Pujangga Sumbang

Kawan, apa kalian pernah tahu tentang pujangga sumbang?
Kadang mereka memukaumu dengan pengetahuan yang dalam dan tak terduga,
Kadang mereka jemawa dan merasa tahu segalanya.

Kawan, apa kalian pernah mendengar tentang pujangga sumbang?
Meskipun nada lantunan mereka merdu dan menyejukkan hati,
Mereka semua tak pernah ada yang menyadari.

Kawan, apa kalian pernah melihat bagaimana pujangga sumbang bertutur kata?
Kata-kata gubahan mereka seolah mampu mewarnai langit,
Sementara jiwa mereka sendiri lupa mereka warnai.

Kawan, apa kalian pernah mengagumi seorang pujangga sumbang?
Padahal, meskipun mereka sering dipuji orang-orang,
Jarang sekali mereka bisa memuji diri sendiri.

Kawan, apa kalian pernah tahu cita-cita seorang pujangga sumbang?
Mereka seringkali bercita demikian tinggi menembus langit,
Sementara kaki mereka lupa untuk tetap berpijak di bumi.

Kawan, apa kalian pernah mencoba menyelidiki seorang pujangga sumbang?
Ia mungkin bisa melantunkan kepada orang-orang ratusan nasihat,
Namun pengaruh semua itu ke dalam dirinya, tiada terlihat.

Apa kalian pernah ingin menjadi seorang pujangga sumbang?
Tak perlu takut meskipun kau merasa suaramu tak menarik,
Yang penting kau menyampaikan dengan maksud baik.

Tahukah kalian, siapa gerangan sang pujangga sumbang itu?
Walaupun kau selama ini tak pernah sadari,
Ia ada dalam dirimu masing-masing.

Terkadang dalam jiwamu sendiri, ada sekelumit jiwa 'pujangga sumbang' tersebut. Jiwa yang berusaha berkontribusi dengan memberi kata-kata nasihat, kata-kata bijak, atau motivasi kepada orang-orang yang terhadapnya kau peduli. Jiwa yang kau sendiri merasakan ia terlalu rusak, terlalu hina, padahal di luar sana, banyak orang yang menuai berbagai manfaat dari berbagai kata-kata yang pernah kau tabur. Meskipun kau sendiri bahkan mungkin belum terlalu meresapi kata-kata yang kau tulis sendiri.
Tidak perlu merasa hina, meskipun kau belum banyak mengoptimalkan untaian kata yang selama ini kau taburkan ke orang di sekitarmu. Kau bisa melakukan keduanya bersama-sama, terus menebar kata-kata untuk kebaikan, seraya terus mengevaluasi diri atas semua yang telah kau katakan.
Jangan menunggu menjadi pribadi yang sempurna untuk menebar kebaikan, karena tiada manusia yang sempurna. Mungkin kata 'sempurna' terdengar indah, tetapi 'penyempurnaan' jauh lebih baik. Karena yang pertama mengisyaratkan akhir, dan yang kedua mengisyaratkan proses. Nah sekarang, mana yang akan kau utamakan, akhir atau proses?

Yah, lagi-lagi 'pujangga sumbang' yang satu ini mengalirkan kata-kata dengan mudahnya. Sdahlah, ambil sisi positifnya saja. (:g)

Hari 6419, di tengah alunan melodia dan keramaian dunia maya.
Dimulai pada Senin, 5 November 2012, 12:52 (UT+9)
38°15'36.21"N, 140°50'58.31"E

Catatan: Tulisan ini bukan merupakan refleksi langsung akan diri penulis yang mengaku di bio-nya sebagai 'pujangga sumbang'. Tetapi tulisan ini (saya harap) dapat menjadi refleksi jiwa kita semua. (tsaah gayanya)
Lanjutkan baca »

Minggu, 04 November 2012

Article#105 - The Fear of God

Once upon a time, in a far, far away land.. [scratching record noise]. Okay, enough with this nonsense. In a Renaissance era village, there were these two brothers, who were always up to some mischief. If somebody had been locked up in his house or if somebody's dog had been painted green, one always knew who the culprits were — the brothers.
Tired of these two brothers' mischievous actions over time, one day the villagers went to the boys' house. They urged the boys' mother to get rid of those detrimental act of the boys'. Agreed, the next day, the boys' mother asked a priest to talk to her sons and put the fear of God in them so that they would mend their ways. The priest asked her to send her sons to him one at a time.
When the younger boy, a lad of thirteen, came, he made him sit and asked him:
"Where is God?"
The boy had no idea what to answer, so he was just remained there in silence.
The priest asked again, in a louder voice: "Where is God?"
The boy remained silent. This time, got impatient enough, the prist asked (almost yelled) the same question: "WHERE IS GOD?"
In a sudden, the boy jumped up and ran away. The priest could do nothing, since the boy ran a tremendous speed.
He went straight to his brother.
"We're in big trouble!" he gasped.
"What's wrong?" asked the older boy, warily, wondering which of their sins had caught up with them.
"God is missing," said the youngster, "and they think we have something to do with it!"
Lanjutkan baca »

Sabtu, 03 November 2012

Article#104 - Ayam Berkaki Tiga

Sepasang suami istri tengah berkendara melintasi jalanan desa. Dengan udara yang sejuk tanpa asap knalpot dan derum kemacetan, memang jalan di pedesaan merupakan salah satu penyegaran diri terbaik. Tetapi semua penyegaran itu hilang mendadak, ketika mereka mendapati seekor ayam berkaki tiga menyeberang jalan. Saking cepatnya, hingga selama si suami berkata 'Wow!', si ayam sudah melesat menyeberangi jalan. Tenang, tidak akan ada berbagai macam jawaban untuk pertanyaan klasik 'Mengapa ayam menyeberang jalan?' disini.

"Wow!", kata si suami sekali lagi. "Kamu lihat kan, betapa cepatnya lari ayam tadi!". Istrinya hanya menggeleng dengan muka teler, rupanya dia baru saja bangun. Tetapi, tak lama kemudian, seekor ayam berkaki tiga lain melesat menyeberangi jalan dengan kecepatan yang sama dahsyatnya. Sang istri, terkejut, langsung berseru, "Cepat sekali ayam itu! Dan, suamiku, dia punya tiga kaki!"

Semua kejadian itu membuat mereka penasaran, dan segeralah mereka berkendara mengikuti jalan yang dilalui ayam berkaki tiga tadi. Ada beberapa ayam berkaki tiga lagi yang mereka temui, sampai mereka tiba di sebuah kompleks peternakan. Pasangan itu terkejut melihat betapa banyaknya ayam berkaki tiga di kompleks tersebut. Mereka berlarian ke sana kemari, memperebutkan pakan yang diberikan oleh si pemilik peternakan. Tak lama, sang pemilik peternakan tersenyum dan mendatangi pasangan muda yang masih menyimpan keheranan akan semua ayam tersebut.
Sang suami bertanya, "Bagaimana bisa ayam-ayam itu memiliki tiga kaki semuanya?"

Dengan terkekeh, si pemilik peternakan menjelaskan, "Begini, di keluarga saya ada tiga orang, saya, istri saya dan anak kami. Dan setiap kali kami ingin makan ayam, kami semua berebut paha ayam. Akhirnya kami memutuskan untuk mengembangkan jenis ayam berkaki tiga, supaya ketika kami makan ayam, masing-masing bisa makan paha ayam!"

Sang istri berujar, "Wah, hebat! Pasti sudah lama ya anda beternak semua ayam berkaki tiga ini?"
"Begitulah, sekita 2 tahun." jawab sang peternak.
"Lalu bagaimana rasanya? Apakah sama enaknya dengan ayam pasaran?" selidik si suami yang penasaran.

"Yah", sang peternak menghela nafas, "masih ada masalah - kami belum pernah bisa menangkap satupun!"
Lanjutkan baca »

Kamis, 01 November 2012

Article#103 - Emak, Minta Uang: Refleksi di Awal Bulan

Setelah saya menghabiskan berbagai waktu saya berkutat dengan mengulas berbagai macam artikel dan fenonema sosial dari sudut pandang satirikal, gramatikal ataupun konikal, saya harus sedikit ganti gaya. Mengapa? Tanya kenapa? Sudahlah, untuk apa dipikirkan. Mulai saja yah...
***

Hari ini adalah 1 November. Awal bulan yang baru, yang menandai telah berlalunya lima per enam dari tahun 2012. Dan juga hari yang ditandainya dengan terbitnya matahari dari ufuk timur (iya lah, emangnya mau kiamat, terbit di barat). Tentunya sebagai bocah-bocah perusak kesenangan orang lain dengan iler yang membanjir ke kamar tetangga, bulan November akan dimaknai sebagai bulan yang baru datang (jangan disalahartikan dengan datang bulan), yang menawarkan sejuta kesempatan, sejuta harapan, meski sayangnya nggak termasuk sejuta piring cantik. Serasa undian di suatu mall terkenal di daerah metropolitan Ibukota. padahal lumayan kan kalau dapat piring cantik, selain bisa dipake makan dengan tenang dan damai, juga bisa dipeluk-peluk dengan kasih sayang, terutama buat para jomblowan... Eh salah. Tetap saja, sebagaimanapun berjuta-juta barang tak jelas tadi ditawarkan dan dipajang layaknya koleksi hewan piaraan Pak Bonar, rupanya bocah-bocah perusak kesenangan itu harus segera bangun, mengelapi ilernya yang berleleran dan segera bersiap. Tetap ada kuliah, walaupun mata kebanyakan mahasiwa telah terbuai dengan iming-iming harapan libur. Emang sial yah si universitas, masa' kagak boleh libur sedikit sih para mahasiswa, kan capek dari Senin ampe Jum'at kuliah mulu. Pengen istirahat, maen atau tidur gituh. Ironisnya, ucapan tadi dikoarkan oleh salah satu mahasiswa bernama Bam*ang (nama disamarkan), yang selama kuliah pun yang disumbangnya bukan pertanyaan atau duit (mimpi kali ya, berharap mahasiswa menyumbang ke universitas), tapi hanya air dan nada-nada melodia. Tepatnya, air liur dan melodia dengkuran. Pengen juga sih rasanya memukuli itu anak biar sadar dikit ama hidupnya, tapi memukuli diri sendiri susah ternyata.

Selain iming-iming harapan, rupanya bulan baru juga menawarkan yang lain. Mahasiswa, apalagi yang jauh dari rumah dan keluarga tercinta yang selalu setia dan penuh kasih sayang, hingga saking rindunya tiap pagi selalu tereak-tereak dengan nada alaynya, "BABEEEH!! NYAAAKEEH!! HUWEEE!! CIYUS NIH NACINYE BELON JADI NYAAK?", biasanya mendasarkan fondasi keuangan dan gizinya kepada warung nasi uduk sebelah yang rajin nyiapin uang sedekahan, ekstra seporsi nasi telor ayam (bukan nasi ditambah telor ama ayam, cukup nasi dan telornya ayam) yang entah kapan dimasaknya. Kadang telornya udah dapet ekstra protein dan serat dari zygospora. Lumayan lah, mahasiswa kan emang butuh gizi ekstra. Tapi kebanyakan mahasiswa justru beranggapan, masakan yang jelas-jelas ekstra gizi ini nggak baik bagi kesehatan. Mereka malah nyari makanan yang, udah bayar, mahal, dikit, nggak enak pula. Otomatis, mahasiswa yang belum/nggak mau kerja harus menerima anggaran keuangan hidup mereka dari ATM (Awak Tanggungan Mamak).

Disinilah masalah bermula. Demi menghindari jadwal padat sinetron yang biasanya berlangsung pada tengah-akhir bulan, atau promo minyak telon bayi yang kadang-kadang datang bersamaan dengan nikahan anaknya Pak Ajis, biasanya para sumber modal ATM mengirimkan uang yang ditujukan pada entah siapa, saudara, keponakan, atau anaknya tercinta yang sedang menempuh kuliah nan jauah di mato~ (maaf jadi nyanyi). Dan sayang sekali, di beberapa kampus, jadwal pengiriman uang untuk si bocah tengil tersayang ini bertepatan dengan pelaksanaan ujian tengah semester, yang keberadaannya saja kadang membuat mahasiswa panas dingin. Mungkin ujian nya mengandung virus flu, entahlah. Bayangkan posisi anda sebagai seorang mahasiswa yang dituntut untuk performa maksimal dengan pelumas top pertama.. sementara bahan bakar untuk memacu performa itu dihambat konsumsinya akibat kanker yang paling miris, kantong kering, atau dalam dialek Indonesia selatan, sering juga digunakan istilah 'kanker dompet'. Terkadang memang posisi ini menimbulkan dilema yang berkecamuk layaknya hurikan di hati beberapa mahasiswa. Ada yang menanti di gerai ATM, antri sejak sebelum Shubuh. Dengar-dengar juga beberapa dicegat sama orang siskamling, mungkin karena dandanan yang menor, tapi berpakaian necis dan makan buncis. Untungnya, sampai sekarang, belum ada laporan mengenai mahasiswa yang cukup setres sampai harus dibawa ke kliniknya Pak Ajis. Meskipun memang ada sih beberapa laporan mengenai mahasiswa yang bela-belain pergi ke luar kota untuk nonton konser girlband. Tapi sepertinya tujuannya minta dibikinin pe-er deh.

Nasib anak beasiswa juga nggak jauh beda. Digantung ama si emak empunya ATM, gara-gara uang nggak bisa ngalir. Iya lah, elu kira bandrek..? Terlepas dari apapun isi lirik lagu gantung-nya Melly Guslow, si bocah tengil yang tadinya berlagak selow ini cuman bisa jerit-jerit layaknya kuda terjepit, "Emaaak!! Minta uang emaak!". Saya pikir si emak akan langsung mendendangkan cuplikan lirik lagu Mawar Bodas, "Hoream teu sudi teuing..", lalu saya tersadar jika dia bukan orang Sunda. Sayangnya, dia ternyata berasal dari daerah lain yang terkenal dengan tradisi misuhnya yang luar biasa, yaitu kantor pemerintah. Tepatnya kantor camat, depan loket pengurusan KTP. Dan, akhirnya para bocah tengil kesal dan menimpuki si emak dengan surat, tentunya bukan surat cinta. Mata asli dan mata batin mereka masih cukup peka. Bahkan, setelah dipingpong dengan labilnya kiriman uang yang minta disetelin rekaman lagu Carly Rae Jepsen, baru saja malam ini bocah-bocah tengil yang bangun dengan iler berleleran tadi ditimpuki hujan es. Kecil sih memang, sebesar kacang hijau doang. Tapi namanya diberondong kan tetep aja sakit. (pukpuk sabar yaa bocah tengil)..

Dan sekarang para bocah tengil telah kembali di depan komputer mereka, menatap dunia maya. Meskipun banyak waktu kalian, termasuk pula saya, banyak dihabiskan di depan dunia maya, saya harap bulan ini tidak menjadi sesuatu yang maya, tegak, apalagi diperbesar. Berhasil dimanfaatkan dengan optimal saja sudah cukup. Semoga bulan ini tidak hanya datang dan pergi layaknya promo gelas cantik.

Sudah dulu mungkin, sampai jumpa lain waktu! Ini hadiah penutupnya:
ceritanya piring cantik...
Hati-hati di jalan, kalian semua!
Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...