Sabtu, 05 Desember 2015

Article#492 - Intricacy

They may say that the devil lies in the details, but as soon as a piece of detailed art was done, it pretty much wipe out all the devils away from it, generating awe and astonishment in its wake. That is, if devils are not to be associated with any sort of intricate, mesmerizing detail. That my not be up for discussion here anytime soon though.
So, enjoy.

Disclaimer: This post is in no way intended to host any form of advertisement toward Singapore Airlines or the related parties.





Lanjutkan baca »

Kamis, 03 Desember 2015

Article#491 - Sereniti


Mengerjap sembarang bentang.
Tegap bersandar pantang.
Menjelang.
Apa segala terentang.
Melawan nyana tenang.
Menentang.

Kamis, 3 Desember 2015, 10:13 (UT+9)
38°15'16.94"N, 140°50'27.61"E
Lanjutkan baca »

Senin, 30 November 2015

Article#490 - Alpukat Dan Kebahasaan

Saya sempat tercengang saat menghadapi fakta bahwa “alpukat”, kata yang sehari-hari saya (dan insya Allah orang awam lain) pahami sebagai pohon yang menghasilkan buah berkulit hijau itu, ternyata tidak ada dalam kamus.

Kata yang mirip alpukat dan ada di dalam kamus adalah “alpukah”. Saya sempat mengira bahwa alpukah adalah alpukat, atau setidaknya masih saudaraan sama alpukat karena perbedaan keduanya hanya di huruf akhirnya saja. Akan tetapi, saat membaca artinya, ia ternyata tidak mewakili tanaman, buah-buahan apalagi sayuran. Saya tercengang dengan kebodohan saya, dan takjub dengan kecanggihan kamus itu.

Tetapi kemudian saya senyam-senyum saat memikirkan sebuah kalimat yang, amat saya yakini, belum pernah ditulis di mana pun, “Dia gagal karena seumur hidupnya tidak mempunyai alpukah.”

Orang yang terbiasa dengan transliterasi bunyi kalimat Arab akan tertipu habis-habisan. Ia akan beranggapan bahwa alpukah pada kalimat tersebut adalah alpukat yang ta’ marbutoh-nya dibaca sukun sebab diwakafkan, sebagaimana “jannatun” yang di KBBI ditulis janah (sorga). Kalau ia lugu sekaligus malas, ia akan menerima begitu saja bahwa untuk berhasil ia harus memiliki alpukat. Padahal alpukah, seturut KBBI, adalah kemauan untuk berbuat; daya upaya; inisiatif.

Berbahasa, terutama bagi para penganjur syari’at bahasa, tak ubahnya memasuki ruangan yang memiliki dua kamar. Kamar pertama; berbahasa dengan menggunakan ragam baku. Kamar kedua, berbahasa dengan memakai ragam tidak baku. Pemisah keduanya jelas, yakni kamus. Implikasi dari jelasnya sekat ini pun tidak remang-remang. Bahwa penggunaan ragam baku menunjukan kualitas intelektual, pendidikan, dan prestise seseorang. Sebaliknya, pemakaian ragam tidak baku adalah indikasi tunaintelektual.

Lantas apa arti “baku”? Masih seturut KBBI, baku (yang relevan dengan permasalahan ini) mempunyai arti; 1. Pokok; utama. KBBI memberi contoh; nasi adalah makanan pokok/utama bagi rakyat Indonesia. 2. Tolok ukur yang berlaku untuk kualitas atau kuantitas yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan; standar. Contoh; Baku emas berarti penilaian berdasarkan nilai harga emas.

Kata alpukat tidak ada dalam kamus. Oleh karena itu, alpukat adalah kata yang tidak baku. Melihat arti baku dalam KBBI di atas, perkara ini menghasilkan dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama, alpukat bukan kata pokok, utama, dan bagus bagi orang Indonesia. Artinya, bagi orang Indonesia, kata alpukat ini adalah kata kelas bawah, berkasta rendah, dan jelata. Kemungkinan kedua, alpukat adalah kata yang tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan orang Indonesia. Itu berarti alpukat adalah sejenis lema asing bagi orang Indonesia yang jika Anda datang ke kafe kemudian memesan jus alpukat, si pelayan akan kebingungan dan bertanya kepada Anda apa definisi alpukat.

Yang baku, yang bagus, dan yang benar untuk simbol buah berkulit hijau, dagingnya tebal lunak berwarna kuning kehijau-hijauan dan rasanya lezat itu adalah AVOKAD. Buah avokad, begitu seharusnya Anda bilang karena demikianlah menurut KBBI. Kenapa avokad, karena kata itu diserap dari bahasa Inggris; avocado, dan yang mendekati bahasa aslinya setelah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia adalah avokad. Canggih benar!

Apakah avokad ini tanaman asli Inggris atau negara yang berbahasa Inggris? Bukan. Buah ini berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah (seperti Guatemala, Honduras, Kosta Rika, dsb). Apakah buah ini dibawa ke Indonesia oleh orang Inggris? Juga bukan. Buah ini diperkenalkan ke Indonesia oleh orang Belanda pada abad ke 19. Terus hubungane karo Inggris opo, Ndul ?! Yo, embuh.

Tapi kita boleh berasumsi bahwa kata avokad bisa jadi dipetik dari langit, tepatnya langit Inggris, lalu dengan pertimbangan yang hanya bisa dipahami oleh para kampiun bahasa, diletakkanlah kata itu ke KBBI.

Oleh karena itu, jangan pernah berkhayal bahwa kamus adalah kumpulan kata dan penjelasan maknanya, yang disusun dengan bersumber pada penuturnya. Jangan pula memimpikan kamus yang sekedar memuat kata menurut abjad tanpa menjadi hakim. Terimalah apa adanya, bahwa kamus berfungsi untuk menentukan nilai sebuah kata. Bahwa cengkeh, sebagaimana alpukat, adalah kata yang tidak baik dan tidak benar. Begitu juga kata hembus, hisap, himpit, hadang, kempes, dan tentu saja ostrali, itu semua tidak baik dan tidak benar.

Sejuta orang bisa mengucapkan kata-kata itu setiap hari, sejuta orang bisa juga menuliskannya setiap menit, tapi sekali tidak baik, tetap tidak baik, sekali salah, tetap salah, dan karena itu amit-amit jabang bayi kalau kata-kata kotor itu dimasukkan ke KBBI. Populer belum tentu baik dan benar, bukan?

Lalu siapa yang menentukan suatu kata bernilai baik dan benar? Siapa yang menentukan kata embus yang jarang digunakan dimasukan ke KBBI, sementara “hembus” yang lebih populer tidak dimasukan? Atau jelas-jelas yang dipakai itu “hadang”, kenapa yang dimasukan ke KBBI “adang”, siapa yang menentukan?

Yang menentukan itu jelaslah bukan orang kebanyakan yang setiap hari membanting pikiran untuk memikirkan cara bayar kontrakan tiap bulan. Orang-orang bodoh ini jelas tidak punya waktu untuk memikirkan bahasa. Jadi, masalah kata yang baik dan benar itu cukuplah ditangani secuuil cerdik pandai yang sepenuh hidupnya diabdikan untuk bahasa.
Demokrasi sudah punya bilik sendiri. Biarlah dalam urusan bahasa ini diberlakukan sistem aristokrasi.

(kutipan dan gambar disadur dari http://mojok.co/2015/10/alpukat-dan-bahaya-berbahasa-ala-mojok/)
Lanjutkan baca »

Minggu, 29 November 2015

Article#489 - Trajektori

[apdet terbaru: 27 Januari 2016, 18:49 (UT+9)]

.....
Kau tahu betul, kalau aku terbiasa menghargai mereka yang berani menjalani hidup sesuai apa yang benar-benar mereka dambakan. Meski yang didambakan itu tidak umum didamba oleh masyarakat. Meski dambaan seseorang itu sendiri berubah-ubah adanya. Tak apa! Bagiku, yang terpenting adalah mereka berani melawan arus, demi menekuni apa-apa yang ingin ia tekuni.
Apalagi ilmuwan. Kau tentu tahu betul seperti apa para ilmuwan itu, lebih dari aku. Dan kau tentu tahu betul, "ilmuwan" mana yang kumaksud: mereka yang getol bergelut dalam dunia akademis, melakukan penelitian demi penelitian.

Bahwa menjadi mereka itu berat, itu sudah tentu. Apalagi ketika merenungkan jalan panjang yang ditempuh seorang anak manusia menuju penahbisan dirinya sebagai "ilmuwan". Sekian banyak gelar, sekian tahun pembelajaran, sekian tahun lagi penelitian.
Bahwa mereka telaten, itu sudah tentu. Kita semua lahir dan tumbuh sebagai individu yang kerap mempertanyakan berbagai hal. Tetapi tidak setiap kita tumbuh untuk mendedikasikan diri kepada pertanyaan-pertanyaan yang terus bersemai itu; mencurahkan segenap waktu dan sumber daya untuk meladeni ketidaktahuan itu satu persatu. Meski mengurusi semua pertanyaan itu mungkin akan menghabiskan seumur hidup.

Aku melihat pula bagaimana mereka demikian betah memelototi entah apa yang mereka gandrungi sedemikian rupa. Kau tahu kawan, ketika seseorang sedemikian mencandunya pada apa-apa yang ia senangi, hal-hal lain acapkali tak terasa berarti. Bahkan hingga hal primitif dan bodoh macam mencari makan dan bertahan hidup.
Kerja, kerja, kerja. Apakah demikian adanya kepatutan dalam berkehidupan? Dalam ritme yang terus menerus sama? Dikejar oleh sesuatu yang sama secara berkelanjutan? Mengejar sesuatu yang sama tapi terus tak tergapai tangan?
Apakah begitu cara kita seharusnya bertahan dan membahagiakan seantero hidup?

Aku kemudian menengadahkan kepala, menghadap haribaan langit yang senantiasa berjaya menaungi fana manusia. Aku menolehkan pandangan, dan ada sehampar rupa bumi yang mengerdilkan tiap-tiap raga sombong kita. Di sekitarku ada sekian banyak jiwa-jiwa tanpa tanda jasa yang bergelimang tiap-tiap ceritera. Dan di dalamku ada sekian banyak sistematika yang berjalan lancar, menyokong kepala menelurkan cuplik demi cuplik cerita.
Kukira, betapa mudah bagi segenap kita untuk mensyukuri berjalannya ragam rupa penghidupan.
Maka aku terheran, melihat apa yang dulu biasa kuidentikkan sebagai mereka yang menggenggam setia impiannya. Ketika mereka abai dari berjuta pesona yang dapat ditawarkan semesa. Ketika dalam pandang kosong mereka menatap dunia sekitar, yang berkecamuk di dalam kepala mereka justru
kekhawatiran. Sebagaimana banyak kekhawatiran yang biasa didengungkan mereka yang terjebak dalam rimte datar tanpa kesudahan. Sebagaimana apa-apa yang paling kuhindari dari berbagai rupa penghidupan.

Tidak, sekali-kali aku tidak akan pernah menjalani jejak hidup mereka. Tidak, jika mereka menghalangi jiwa yang lemah ini dari kesempatan mensyukuri kehidupan tanpa batasan.

Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan yang seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.
- Seno Gumira Ajidarma
sumber


Lanjutkan baca »

Rabu, 25 November 2015

Article#488 - Saya Menggurui, Maka Saya Ke Surga

Oleh: Zen RS

Jumlah guru di Indonesia jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah orang yang menggurui. 

Andai saja bakat terpendam sebagai guru itu bisa disalurkan dengan tepat, niscaya tak akan ada sekolah di Indonesia yang kekurangan guru. Sistem pendidikan nasional kita malah mungkin akan kelebihan guru. Bakal banyak sekali orang-orang pintar dari kota yang antri bertransmigrasi ke pelosok-pelosok untuk menyalurkan bakat terpendamnya menjadi guru itu.  

Bayangkan jika para pemilik akun Twitter dengan follower ribuan yang terbiasa memberi kultwit itu berdiri di depan kelas, di hadapan 20 atau 30 murid yang tak beralas kaki, memberikan senarai pengetahuan tentang pentingnya protein, bahaya iluminati, bejatnya neolib, kelemahan JIL, sampai bicara tentang fungsi gelandang bertahan dalam sepakbola 17 Agustusan – misalnya. 

“Menjadi guru” dan “menggurui” memang tidak identik. Mungkin mirip-mirip, tapi tak persis. 

Bahasa Indonesia (tentu saja menurut versi Kamus Besar Bahasa Indonesia, kamus yang sudah besar sejak dari fisiknya itu) membedakan dengan jelas antara “mengajar”, “mengajari” dan “menggurui”.

Jika “mengajar” berarti “memberi pelajaran”, dan “mengajari” berarti “memberi pelajaran kepada…”, maka “menggurui”  diberi arti “menjadikan dirinya sebagai guru”. Jika “mengajar” diikuti dengan “mengajari”, maka “menggurui” tidak didahului “mengguru”. Bahasa Indonesia tak kenal “mengguru”, yang ada hanya “menggurui”.

Menarik benar menelisik istilah “menggurui” ini. Lagi-lagi dengan kembali pada kamus yang besar sejak dari nama dan fisiknya itu, dalam istilah “menggurui” itu tersirat makna seperti “mengangkat/memposisikan diri sendiri sebagai guru”. 

Karena bangsa Indonesia dikenal rendah hati dan tidak sombong, maka istilah “menggurui” ini punya rasa-bahasa yang tidak menyenangkan.  Sebagai bangsa Timur (tentu Timur itu kalau dipandang dari arah Barat), perilaku mematut-matut diri sendiri, mengangkat-angkat diri sendiri, mengganteng-gantengkan diri sendiri, atau memuji-muji diri sendiri itu umumnya dianggap tak elok dan tak pantas. Tidak terkecuali “mengangkat/memposisikan diri sendiri sebagai guru” alias “menggurui” itu tadi.

Itulah kiranya kenapa “menggurui” punya konotasi buruk. 

Guru itu, kan, mulia, tulus, berpengetahuan, punya keluhuran budi yang patut ditiru, serta memiliki kewaskitaan yang adi. Maka sangat tidak berperike-timur-an sekali kalau ada yang mengangkat/mempososisikan dirinya sebagai orang dengan ciri-ciri keren macam itu. Situ siapa, sih, ngaku-ngaku begitu? 

Bahasa Inggris punya padanan yang agak berdekatan dengan istilah “menggurui” yaitu “patronizing”. Dalam sejumlah kamus, “patronizing” umumnya diartikan sebagai perilaku/tindakan/ucapan yang menunjukkan kepercayaan bahwa dirinya memang lebih baik/lebih berpengetahuan dari yang lain. Dalam istilah “patronizing”, tidak ada kesan malu-malu kucing dengan membawa-bawa kata mulia “guru”. Kesan “sok”-nya diakui dengan lebih terus terang.

Uniknya, istilah “patronizing” itu justru seringkali melekat pada keseharian “guru” di Indonesia. 

Dalam suasana dan iklim pendidikan di Indonesia yang masih lekat dengan suasana feodal, guru (baik di SD maupun di perguruan tinggi) justru seringkali diposisikan sebagai pusat ilmu pengetahuan, sumber kebenaran, dan kadang bahkan jadi rujukan moral. Peserta didik akhirnya menjadi si pasif yang menengadahkan tangan menunggu curahan ilmu pengetahuan, kebajikan dan kewaskitaan. 

Dalam iklim pendidikan seperti ini, ironisnya, kita tak pernah menggunakan istilah “menggurui”. Klaim sebagai pemangku otoritas ilmu pengetahuan dan kebajikan itu diterima begitu saja sebagai kewajaran yang alamiah. Padahal iklim pendidikan seperti itulah yang dengan sempurna mengejawantahkan apa yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai “patronizing”.

Para pembangkang biasanya tak akan betah bahkan tak sudi membiarkan pantatnya menancap terlalu lama di kursi kelas jika iklim pendidikannya seperti itu. 

Soe Hok Gie, dalam catatan harian yang ditulisnya saat masih duduk di bangku SMA,  mengungkapkan penolakannya dengan kalimat bersayap yang telengas:  “Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau.” 

Atau menarik juga dinukilkan bagaimana Jacob Slauerhoff, penyair Belanda yang masyhur dengan sajak-sajak dengan latar laut dan samudera, menggelar perlawanan terhadap guru yang “patronizing”.

Dalam salah satu sesi perkuliahan, Slauerhoff datang terlambat pada sesi kuliah Dr. Kijzer (pengampu mata kuliah pembedahan dengan mayat sebagai alat praktikum). Slauerhoff menyelinap masuk, tapi Kijzer menangkap basah penyusupan itu. Kijzer langsung menyergap: “Sudah datang, Raja Penyair?”
Slauerhoff, yang sajak-sajaknya punya gema dalam sajak-sajak Chairil Anwar itu, langsung membalas dengan lebih sadis. Katanya, “Ya, Kaisar bangkai, aku sudah tiba!”

Sampai di sini, agaknya menjadi jelas bahwa istilah “menggurui” memang hanya mungkin muncul di luar sistem pendidikan formal. Karena di luar sistem yang formal itulah makanya seseorang bisa “mengangkat/menjadikan dirinya sebagai guru” alias “menggurui” walaupun tidak ada yang meminta. Dan itu juga kenapa orang lain bisa dengan enteng pula menolak “pengangkatan sepihak” macam itu.

Yang membuat “menggurui” jadi lebih problematis disebabkan karena itu tak sebatas perkara ilmu pengetahuan. Jika “menggurui” hanya berkisar di urusan sains dan ilmu pengetahuan, sih, mungkin bisa lebih diterima. Benar atau salah dalam sains dan ilmu pengetahuan bisa diminimalisir debat kusirnya karena biar bagaimana pun punya ukuran dan standar-standarnya yang (relatif) baku.


“Menggurui” jadi lebih rumit karena seringkali – atau belakangan-- juga mencakup soal-soal lain: moral, akhlak, etika, perilaku, kadar keimanan sampai tetek bengek nasionalisme. Dan dalam soal-soal abstrak macam itu, khotbah jadi metode yang lebih mudah sekaligus lebih menggiurkan untuk dipraktikkan ketimbang diskusi dan debat. 

Aksiomanya bukan lagi “Saya berpikir maka saya ada”, tapi “Saya menggurui maka saya ke surga”. 

Selamat Hari Guru!

Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...