Rabu, 31 Desember 2014

Article#375 - Merangkai Warna, Mengurai Makna

Malam ini, aku masih melihat tirai malam berselimutkan beludru yang biasa. Sepoi angin yang menyusup ke dalam raga yang biasa. Derum-derum yang berlomba, mendecitkan teriakan malam yang biasa. Jiwa-raga yang berkalang kebisingan, mencandu sorak bising yang biasa. Sinar bangga sang Bulan, yang menderu menyimpulkan segala bayang yang biasa.
Sekilas tiada beda! Langit yang kering, bersih dari jajahan arak awan. Angin malam meraja, menggetarkan bangunan beserta nyali penghuninya. Kendaraan yang berlomba, berpencar dalam sigap pada tiap-tiap tujuan. Kerumunan yang bergembira, mengulang rutinitas tanpa kenal bosan. Rembulan yang tegas, menantang cerlang lampu metropolitan.

Pada nyatanya, memang tiada beda! Segala suara yang terdengar jelas berkumandang dalam segala terjemah pada detik-detik tertulisnya untai kata ini, memang sudah biasa dikumandangkan. Berkumandang entah sembarang saat, menyigi telinga-telinga yang tak sudi menepi barang sejenak Berkumandang dalam bentuk bait-bait yang menjelma, menutupi cakrawala dengan bayang kokohnya. Berkumandang dalam larik-larik yang terlepas dari dahan, berayun bertumpuk di dasar sebelum ada yang menyapu bersih semuanya. Berkumandang dalam segala serapah, celetukan yang terpercikkan tanpa pernah terayak.
Pada kenyataannya, di antara kita memang masih ada yang bergelut gamang, untuk sejenak bertegur sapa dengan kenyataan. Kenyataan yang berbicara dalam bahasa yang kita terjemahkan. Bahasa yang senantiasa terlantunkan tanpa rajin diperdengarkan. Lantunan yang mengubah derap zaman tanpa banyak diperhatikan.

Maka, sebagian dari kita mengambil keputusan untuk kembali bersahabat dengan realita. Menepuk bahu yang terhuyung dalam tenaga yang nyaris tiada, menyapa wajah ceria yang tampak hampir kehilangan rona bahagia. Menyalami hidup yang menyesap udara lamat-lamat, untuk menyerukan seruan lirih yang menggetarkan. Menggetarkan relung hati, nyaris tanpa menggetar timpani.

Malam ini, aku mendengar suara di kepala bercerita. Dongeng asing akan mereka yang merana dalam bahasa yang paling kudamba. Celoteh asing akan mereka yang mengiba dalam nada yang paling setia. Enkripsi asing akan mereka yang meminta dalam harap yang paling tersimpan. Masing-masing dan kesemuanya bercokol sebagai sederetan istilah yang dikesampingkan oleh pikiran, membiasakan keasingan istilah supaya tak diperhitungkan. Semua sebelum jiwa tersadar, bahwa dunia ini luas. Luasnya lingkup bagi kebrengsekan yang trengginas, memoles cerita yang tak rela dibalas.

Maka malam ini, aku sejenak menembus derak angin yang membekukan, mencoba mengurai makna yang tak kulihat.
Merangkai kenyataan, akan kita yang terlahir dari warna sama. Akan kita yang bernafas dalam pendar rona yang beraneka. Akan kita yang berkembang dari arah yang sama, menyesap butir-butir gizi penguat jiwa raga. Akan kita yang menyerap nilai dari berbagai arah, mewujud sebagai ciri tiap kita. Akan kita yang mengecat dunia sekitar dalam pekat corak yang berbeda. Akan kita yang tumbuh dalam semangat yang sama, dalam corak motif yang mewarnai dunia. Akan kita yang kemudian tumbuh besar dalam pengkotakkan atas remah kecil perbedaan. Akan kita yang bertindak, menjadikan kita semua nyata dalam kontras. Akan kita yang bersiap bangun, meniti jalan yang terlimpas.

Malam ini, kulihat kita berdiri di persimpangan. Derap angin mungkin akan menggeser sebagian kita ke satu jalan. Deraknya mungkin akan mengusir sebagian yang lain menuju satu jalan. Berbagai ragam kita, yang tampak dalam bungkus citra yang senada, kini menjelmakan diri sebagai apa-apa yang berbeda corak noda. Corak noda yang telah disandikan oleh larik-larik yang tak kita pedulikan. Larik yang disusun dari senarai kata tanpa suara. Yang tanpanya kita mulai meniti jalan.
Satu-dua jalan yang membawa pengikutnya menuju beragam tujuan.
Satu-dua jalan yang tersajikan, yang dari sini mungkin akan menyulam segala macam perbedaan.

Pada akhirnya, memang tiada beda. Kita hanya jarang rela untuk peka.
Semoga kita senantiasa berbahagia, walaupun bahagia adalah pilihan.

35°42'38.11"N, 139°45'36.47"E, 31 Desember 2014, 20:36 (UT+9).
Todaiakamonmae (東大赤門前), Bunkyo-ku, Tokyo.

Hari 7205, ditemani derak angin metropolitan malam.
Kamis, 1 Januari 2015, 00:59 (UT+9)
35°43'18.51"N, 139°48'05.43"E
Lanjutkan baca »

Selasa, 30 Desember 2014

Article#374 - Masa Depan Sebuah Tulisan


”Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”
- Ali ibn Abi Thalib
Rasanya makin menarik, ketika sebuah kutipan bisa diterapkan secara harfiah. Yah, walaupun yang diikat adalah sekumpulan besar elektron yang aktif bergerak, bukan ilmu. Memangnya apa itu ilmu? Apakah upaya manusia akan pengendalian elektron ini dapat disebut ilmu? Kalau bisa pun, mengapa gitu?

Ada banyak proyek-proyek inovatif yang diusung di situs Kickstarter ini. Adakah wadah serupa untuk menampung inovasi dalam negeri? Terutama dari mereka yang berkecimpung di lomba macam LKIR atau sejenisnya. (Re: penulis tidak termasuk golongan anak-anak tersebut; penulis hanya rakyat biasa yang senang mengisengi semuanya.)
Mungkin saja ini akan menjadi tren global dalam sepuluh-dua puluh tahun ke depan? Siapa tahu.

Masa depan memang menarik untuk dinantikan, ya? Selama kita tak hanya menantikannya. Selama kita masih berkesempatan meraihnya.


.....
Lebih jauh mengenai Circuit Scribe dapat disimak di sumber gambar di atas: https://www.kickstarter.com/projects/electroninks/circuit-scribe-draw-circuits-instantly
Teruntuk kalian yang kepo, koneksinya bagus, tapi males baca: http://youtu.be/wqvFT4qTNm8
Lanjutkan baca »

Minggu, 28 Desember 2014

Article#373 - Selimut Putih Abu

Ketika Kelud menyerukan letusannya di tengah Februari lalu, saya mendapati beberapa rekan saya berada di daerah yang terdampak secara langsung oleh abu letusan Kelud. Pada letusan tersebut, Kelud meletuskan cukup banyak material untuk membuat kota Yogyakarta, sekitar 300 km ke arah barat, bermandikan abu sedemikian rupa—konon dengan curah abu yang lebih deras dibanding abu dari letusan Merapi 2010, yang hanya berjarak sekitar 20 kilometer ke utara Yogyakarta. "Ashmageddon" ini menyiratkan besarnya skala letusan Kelud saat itu – yang termasuk letusan terbesar 2014 – meskipun, untungnya, tidak menelan banyak korban jiwa. (Klik tautan berikut untuk membaca penjelasan ilmiah dan galeri foto terkait letusan.)

Oke, saya akan sudahi kegandrungan vuklanologis saya di sini.
Saya sempat mengamati, bagaimana rekan-rekan saya di lokasi saat itu memberitakan turunnya "salju abu", menganalogikan abu vulkanik yang berjatuhan dengan kristal salju yang memang masih menghampari seantero belahan Bumi utara saat itu. Langit yag mendung pekat tak tertembus sinar mentari, partikulat yang berjatuhan dari langit, mungkin membuat jatuhnya abu vulkanik dan kristal salju terlihat demikian mirip. Khususnya, ketika dilihat dari sudut pandang foto, yang menuturkan ruang dan waktu dalam bisu.
Foto tak menceritakan bagaimana partikel abu itu berjatuhan (mengingat sudut pandang saya yang sudah jamak menyaksikan salju, tetapi belum sekalipun menyaksikan abu), juga tak menceritakan ketiadaan hawa dingin yang menyeruak bersama jatuhnya mereka.

.....
Kemudian waktu berjalan. Berlari, bahkan mungkin terasa.
27 September 2014 menandai kelanjutan perjalanan saya di bumi para samurai, setelah bergelung dalam pengharapan di 51 hari sebelumnya. Pendaratan di kota Nagoya, yang menjadi lokasi pelarian berdasarkan alasan yang sangat standar (re: perbandingan biaya tiket), dilanjutkan dengan perjalanan menggunakan bus dari Nagoya ke Tokyo di siang harinya.

Siang hari yang sama, ketika sebuah gunung meletus, nyaris tanpa peringatan, sekitar 100 kilometer arah timur laut Nagoya. Gunung Ontake meletus di siang hari akhir pekan, ketika ratusan pendaki masih menyusuri wilayah gunung. Setidaknya 57 pendaki tewas dalam letusan tersebut, menjadikannya letusan paling mematikan dalam 112 tahun terakhir di Jepang.

Puluhan, mungkin ratusan foto tersebar di dunia maya, menampakkan wajah wilayah puncak gunung Ontake yang berselimutkan abu vulkanik. Foto-foto yang kebanyakan darinya menampilkan usaha tim penyelamat dalam mengevakuasi entah jenazah ataupun korban yang selamat.

Tiga bulan kemudian, ketika musim dingin kembali menguasai pegunungan Jepang, beberapa pihak memutuskan untuk terbang kembali ke wilayah puncak gunung, mengamati kenampakan daerah yang berselimutkan abu tiga bulan sebelumnya.
Dan saya sepertinya paham, kenapa tutupan abu dan salju bisa terlihat serupa. Meski tetap beda warna.

(atas) Lingkungan kuil dekat puncak gunung Ontake yang berselimutkan abu, 4 Oktober 2014. Gambar diambil dari news.nationalpost.com
(bawah) Lingkungan kuil dekat puncak gunung Ontake yang berselimutkan salju, 27 Desember 2014. Gambar diambil dari ajw.asahi.com
Kedua gambar dipadukan memanfaatkan situs fotor.com
Lanjutkan baca »

Sabtu, 27 Desember 2014

Article#372 - Kontradiksi


Aku pernah menyingkap gorden jendela di pagi hari, mendapati sinar mentari menyeruak ke sanubari. Perlahan, terasa kamar memuai bersama mentari yang meninggi. Akupun menggerakkan sendi, ketika temperatur yang naik mengizinkanku untuk beranjak melerai diri. Selimut yang terlipat rapi, semangat yang mewangi, dan hangatnya diri mendorongku mulai beraksi. Tanpa basa-basi, daun jendela kuraih, dan kubuka selebar mungkin. Alhasil, diri disambut angin dingin, membiar raga lama bergidik.

Aku pernah berkalang kebosanan dalam derai hati, mendapati keterulangan jadwal setiap hari. Perlahan, rutinitas bertambah makin menjemukan dari hari ke hari. Maka kuputuskan untuk pergi, meraba nasib yang iseng ingin meraba hal yang tidak diketahui. Pakaian yang terlipat rapi, semangat yang melambing tinggi, dan hangatnya sambutan terakhir melepasku meninggalkan negeri. Tanpa basa-nasi, kucetuskan kelanjutan tahun-tahun di lokasi, hanya untuk mendapati diri berkalang di tempat yang sama berulang kali. Alhasil, tujuan yang telah beralih, memaksaku menghapus jemu dengan sedikit berkeliling negeri.

Aku pernah mereguk bergelas-gelas motivasi. Sebagai jiwa yang masih sibuk memindai tujuan untuk disinggahi, aku menjadi satu dari sekian jiwa yang menenggak ilusi dalam dosis tinggi. Terkaburkan oleh fantasi, dengan harapan yang melambung tinggi, aku mendapati jiwa berkeping, terbang kesana kemari. Tanpa basa-basi, aku terus berlagak sebagai si ahli, hingga tiba situasi ketika aku menubruk kenyataan, terjatuh ke haribaan Bumi. Maka kudapati, diriku yang bangkit kembali, adalah diri yang senantiasa mengkritisi, menarik diri dari pembenaran tiada akhir.

Aku pernah bertukar pikir dengan jiwa beragam generasi. Mereka yang tumbuh dari perjuangan keras di dunia ini, mereka yang menyesap seteguk-dua teguk kearifan dalam sanubari. Aku biarkan beragam generasi saling beradu dalam satu kongsi, berseteru dalam satu amunisi. Kuletakkan diri di sisi, menonton keramaian yang berseru dari ragam isi. Tanpa basa-basi, kita biarkan diri berargumentasi, menyerukan pelabelan dalam apa yang kita segel sebagai sebuah prinsip. Prinsip yang darinya kita menelurkan olah pikir, ketika kita dengan lihai berucap tanpa pikir. Prinsip yang dengan senang hati digadai, berkompromi dengan keinginan yang merasuki nurani.






Masih panjang perjalanan ini, menuju posisi di mana kita bisa menyigi pemikiran beragam diri, dan meyakinkan diri untuk mengerti.
Menyikapi kondisi tanpa kontradiksi, melengkapi yang belum terisi tanpa menyelisihi.

Hari 7201, bersama ular besi yang lapar.
Dicatatkan dalam getar kesilauan,
Sabtu, 27 Desember 2014, 16:42 (UT+9)
37°56'38.10"N, 139°20'05.23"E
Lanjutkan baca »

Selasa, 23 Desember 2014

Article#371 - Pelurusan


Mungkin, untuk kali ini, gambar mampu berbicara lebih banyak dari untai kata.
Semoga yang terucapkan adalah yang bermanfaat.

(Sumber gambar dari laman The Muslim Show)
Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...