Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juni 2016

Article#559 - Langit


Selintas halimun berkemul di seantero dunia.
Menggiat peraduan di mana kita beranjak, melalui semburat siang menerpakan kenyataan di hadapan segenap manusia.

Tak butuh banyak-banyak orang cerdas untuk menderakan kenyataan yang berat supaya ia bercokol abadi di dalam kepala tiap kita. Hanya butuh sekejap kerjap untuk melayangkan pandang yang terhalang selimut awan tanpa tapal batas. Atau selintas pintas menyusuri lini masa, menyaksikan rangkai hidup yang terus menjalankan pintalannya. Atau bahkan sebersit pikir menjelajah isi kepala, menderetkan rentetan perkara menanti keparipurnaan.
Mereka itu, mereka yang menderap langkah maju itu, tak ambil pusing akan keberagaman hidup. Dalam pandangan lurus, menyelusup mewujudkan warna-warni baru. Menjalin kebahagiaan bersama nama baru, dalam momen baru, membangun citra diri baru. Kita tentu tak heran ketika orang banyak berfokus dalam memoles hidupnya masing-masing menuju bentukan keindahan dalam cita rasa dan rupa masing-masing.

Akan tetapi, menjadi orang di pinggir pertunjukan dan menyaksikan segala perubahan di hadapan, bahkan gemerlap bintang paling benderang hanya akan tampak sebagai ketombe pengotor temaram malam. Tak peduli akan temaram fajar yang menanti setelah gelap malam. Tak peduli akan surya yang meluncur padu hingga perhentiannya mengikis pedas malam. Tak peduli akan benderang yang paling tinggi menjajah langit biru. Tak peduli akan segala omong kosong yang diluncurkan dari congor mereka yang merasa paling tahu.
Yang ditahu hanyalah kekaguman semu akan segala orang yang tampak lebih berbahagia darimu, menjalani keseharian yang lebih berwarna darimu, menggapai prestasi yang lebih mentereng darimu. Dan kamu, semata menjadi pemirsa dari sebalik layar kaca, hanya bisa merenungkan apa jadinya segenap kehidupan dengan hadirnya kamu di tengah-tengah kegemilangan mereka. Di tengah segala macam kalut kemelut dan canda tawa di mana kamu menjadi peserta dengan turut ambil bagian, bukan sekadar penonton dari kejauhan yang bahkan tak mencium aroma kekacauannya.

Barangkali selinting angan yang dilabuhkan menuju angkasa megah akan membuat para bijak bestari melambaikan tawanya. Apalagi ketika kamu haturkan salam bagi impian yang kaukira jauh dari jangkauan, dari tempat di mana sekian banyak jiwa manusia melabuhkan tujuan. Ketika segenap kehidupan di pelupuk mata diterawangi tanpa hasil, dan segala perubahan yang ada di segenap sisi luput dari atensi. Dan pada gilirannya nanti, ketika kita yang meratapi pengelanaan hidup sendiri diberi kesempatan untuk menyelami isi hati, mungkin saja kita mendapati segala hal yang sama lagi dalam timbal balik.
Manusia senantiasa memusatkan pandangan atas segala yang jauh dari jangkauan, ketika melupakan segala yang dengan mudah sampai pada genggaman. Bahkan ketika tirai awan yang menebar kesuraman di atas kepala kita ini perlahan membukakan tabirnya bagi manusia, amat mungkin yang kemudian kita dapati adalah manusia yang menyerapahi terik panas.

Menyelami langit tanpa pernah menjumpanya, terus merontai bumi tanpa pernah meninggalkannya.
Lanjutkan baca »

Kamis, 16 Juni 2016

Article#557 - Debat Pembenaran

Melihat debat di media sosial, saya mengambil kesimpulan bahwa para pihak yang berdebat sesungguhnya tidak mencari kebenaran tetapi mencari pembenaran. Masing-masing sudah punya pendapat sendiri-sendiri (yang tidak mau diubah), kemudian mencari argumentasi yang mendukung pendapatnya. Mencari pembenaran.

Ambil contoh yang mendukung. Sembunyikan contoh yang tidak mendukung. Bahkan sekarang seringkali contoh atau argumentasi yang mendukungnya pun tidak diperiksa kebenarannya. Seakan, semakin banyak contoh, semakin benar. hi hi hi.

Ingin dilihat paling benar atau menang dalam perdebatan. Itu tujuannya. Lah, sudah salah.

Diskusi atau debat seperti itu tidak akan memiliki ujung karena yang dicari bukan kebenaran. Yang sama-sama niat untuk mencari kebenaran saja sudah susah untuk menemukannya, apalagi yang masing-masing niatnya bukan itu. Saran saya, untuk yang model debat seperti itu lebih baik tidak usah dilayani.

Atau mungkin masalahnya di medianya. Media sosial nampaknya belum cocok untuk menjadi media diskusi. Entah medianya yang perlu diperbaiki, atau orang-orang yang menggunakannya yang harus lebih banyak belajar untuk mengendalikan teknologi ini.



Lini masa terlampau bising, lagi dan lagi. Terlumuri komentar kosong dari segala yang merasa paling mengerti.
Mungkin saatnya beristirahat sejenak, meninggalkan hingar-bingar kerusuhan yang bergema di segala arah. Meninggalkan segala rupa yang berlagak bijak, sementara ketika ia berpijak, sekian banyak nyata terinjak. Berkutat pada apa-apa yang tersurat, sementara yang tersirat terserak terlupakan.

Semoga nalar kita tetap benderang.


Lanjutkan baca »

Minggu, 05 Juni 2016

Article#554 - Edukasi



Seindah apapun masa SMA, agaknya "pemaksaan" untuk berurusan dengan bidang-bidang tertentu hingga akhir masa bersekolah tetaplah menjadi momok yang mengerikan. Entah itu bagi mereka yang sudah demikian memusatkan perhatian ke suatu bidang untuk ditekuni di masa kuliah, atau bagi mereka yang sudah menetapkan bahwa salah satu mata pelajaran wajib dalam jurusannya bukanlah sesuatu yang dapat ia taklukkan, Situasi menjadi semakin parah ketika usahamu untuk berdamai dengan bidang-bidang tersebut terus tertinggal dari laju perkembangan materi yang disuguhkan. Keseharian di sekolah terus terasa bertambah sulit secara eksponensial, dan dengan minat belajar yang terus tergerus, tak ayal banyak siswa memutuskan untuk berlarian mendatangi toko buku.... Bukan untuk mencari sumber belajar supaya mereka paham, melainkan buku saku berisi deretan rumus untuk dihafal.

Karena toh mereka hanya akan perlu bersusah-payah berurusan dengan kesemuanya hingga bangku universitas hadir ke genggaman. Siapa yang butuh pemahaman sains di dunia modern ini, era informasi ini? Siapa yang akan menganggap usaha keras memahami perkembangan ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang berguna, apatah menghasilkan pundi harta? Yang dibutuhkan hanyalah nilai mentereng, tiket menuju gengsi kelas tinggi di perguruan tinggi negeri. Untuk itu, tak perlulah bersusah payah belajar sedemikian rupa, meraba makna dari khazanah pengetahuan yang coba disampaikan lewat buku pelajaran.
Setelah bergelut dengan segala macam warna kehidupan di dalamnya, toh kita akan mendapati segala pemahaman ilmu yang dengan susah payah kita upayakan dulu sia-sia belaka.

Pemahaman akan ilmu itu klise, jenderal! Di dunia yang kita hidupi dengan mengatasnamakan secarik kertas bertatahkan angka nilai. Di dunia di mana selempang cum laude lebih berarti dari pada segala hal berharga yang bisa kaulakukan setelah wisuda nanti.

Buat apa hidup jika tidak peduli akan kulit yang keren?
Lanjutkan baca »

Minggu, 20 Maret 2016

Article#529 - Terbit


Semarak deru mesin menyapa pepasir di tepian kenangan.
Menyapa segenap pohon di balik selimut debunya, menyapa setiap manusia di balik topeng palsunya.

Menyapa sepoi di fajar itu, akan kaudapati sekian orang yang telah beranjak dari peraduan nyamannya, bersiap menantang seisi dunia. Sekian orang yang mendahului surya dalam kebangkitannya menyambut apa yang akan datang. Mereka itu, mereka yang mendera segenap trotoar itu, tak peduli akan temaram pergi. Malam terus termakan semburat fajar, bersama ayunan ranting dedaunan melambaikan tangan. Melepas malam yang akan bertolak pergi menyambut sinar mentari yang segera hadir. Mengisi segenap gizi di sekujur diri.

Barangkali tidak ada dari mereka yang tertegun memperhatikan sang surya berpadu dengan khatulistiwa. Menyejajarkan diri bersama garis khayal yang menyematkan identitasnya pada untai zamrud tempat mereka memperjalankan kenyataan. Lebih-lebih mendaras dinamika malam dan siang, bagaimana tiap mereka mengerut dan merentang. Tidak! Mereka tidak sempat merenungkan itu semua. Yang utama adalah mempergulirkan roda kehidupan selama yang mereka bisa. Mengantarkan sesiapa tanggung jawab mereka sejauh mungkin mengarungi dunia yang luas. Menjamin keberlangsungan penghidupan yang mungkin tidak demikian makmur sejahtera. Kecuali jika kemakmuran dan kesejahteraan diukur dengan senyum dan tawa yang mengembang menyambutnya kembali pulang.

Mereka bertegap mantap di pinggir jalan itu. Menyigi sedelik pada tiap-tiap wahana yang melaju, menentu di mana mereka akan melabuhkan tuju. Mereka bertemu dalam tegur sapa fajar, untuk kemudian berjalan memperjuangkan sebuah keberlangsungan. Terus demikianlah mereka, hingga kembalinya benderang senja menggamit tiap-tiap tawa nanar mereka, untuk berpencar kembali ke tiap-tiap peraduan. Terjarak dengan segala yang lebih terang dari bintang, mereka mengucap syukur pada segenap semesta dalam tiap cecap hasil usaha.
Kini, ketika pelita benderang itu kembali membukakan cahayanya pada penjuru dunia, ia terus berderak ajek menuju dunia utara. Dan dari sekian banyak jiwa yang menjejak embun fajar, ada yang berlari mengejarnya, menyusul impian.

Mendatangi semarak dunia pagi, memimpin terbit kala ia mendelik.
Lanjutkan baca »

Senin, 29 Februari 2016

Article#520 - Pemuluran


Agaknya memang tidak perlu menjadi sejenius Einstein untuk bisa memahami berbagai pernak-pernik warna hidup.
Iya, Einstein yang itu. Einstein yang biasa diidentikkan dengan kecerdasan di atas rata-rata, kejeniusan, keenceran otak. Einstein yang paling gamblang mewakili gambaran umum akan orang pintar yang urakan. Einstein yang namanya sering dicatut dalam berbagai kutipan yang entah pernah dia tuturkan atau tidak.
Tak perlu kita piawai memahami teori-teorinya yang terkenal. Membedakan relativitas umum dan khusus. Menjelaskan betapa E = mc2 tiada sangkutpautnya dengan relativitas. (re: persamaan tersebut terkait hubungan massa-energi). Menceritakan betapa hadiah nobel yang diterimanya bukanlah tentang teori relativitas.

Tiga contoh yang membahas relativitas di atas seakan menguatkan praduga bahwa relativitas lah yang demikian marak diidentikkan dengan figur seorang Einstein. Nama relativitas demikian memikat bagi beragam kalangan, terutama mereka yang percaya kemutlakan tiada berkecambah di seantero dunia. Meskipun pada gilirannya teori relativitas itu sendiri memberikan sebuah standar yang diyakini mutlak dalam kerangka pemikiran relativitas: tentang betapa kecepatan cahaya konstan dalam ruang hampa. Bahkan kecepatan cahaya disinyalir berada di mahligai tertinggi, melampaui konsep dasar gerak sebagai sesuatu yang relatif terhadap acuan.
Entah apakah mereka menyadarinya. Bahkan, entah mereka pernah menyelami makna relativitas barang sejenak.

Faktanya, berapa banyak sih dari kita yang merasa perlu mempelajari ketiga contoh yang tersebut di atas? Apalagi dengan penuturan akan betapa ketiganya mungkin tidak signifikan bagi seseorang yang sedang menjalani perjuangan hidup. Meskipun, tentu saja, itu bergantung apa yang kau perjuangkan dalam hidup. Jika kau sedang memperjuangkan seseorang yang ingin kaubuat menemanimu sepanjang sisa hidupmu, agaknya manifestasi relativitas yang akan terpakai dalam usahamu menggapai impian itu hanyalah relativitas persepsi antar sekian banyak pihak. Sekian banyak pihak yang terbenam dalam urusan tiap-tiapnya. Jika kau adalah seorang ilmuwan yang berkutat dengan permainan khas partikel partikel eksotis berukuran ultramini, atau benda-benda langit eksotis yang tak jua bisa dimengerti, mungkin pemahaman akan sederetan teori penuh kalkulasi pembuat pusing itu menjadi demikian berarti.

Pada akhirnya, kita-kita rakyat biasa dengan cita-cita sederhana tak butuh segala macam omong pusing yang terukir dalam tiap ejawantah aljabar dalam persamaan. Kita hanya butuh cita-cita yang sesuai realita dan terjangkau indera untuk melanjutkan segenap kehidupan.
Kita tidak butuh segala macam ocehan soal massa yang mendistorsi fabrik ruang-waktu di sekitarnya sebagai perwujudan relativitas, ketika hal sepele macam lambatnya waktu ketika menunggu dapat memberikan contoh yang lebih nyata. Kita tidak butuh segala macam postulat soal cahaya sebagai kecepatan tercepat di alam semesta dengan kelajuan konstan di ruang hampa, manakala momen-momen krusial dan kenyataan yang tak terkira dapat menjumpa nyata kita dalam sepersekian kejap mata.

Kita wajah-wajah sederhana, bisa saja hanya mendamba bahagia tanpa banyak syarat. Dan kita tak butuh kerumitan kosakata untuk merasakan baranya di dalam jiwa.
Lanjutkan baca »

Senin, 08 Februari 2016

Article#513 - Be Like Bill?

"Be Like Bill" memes might have stormed the internet in early 2016, but similar concepts of meme have been around for much longer.

The first time I saw "Be Like Bill" meme, I didn't quite grasp the fact that it was becoming popular. Actually, I didn't think of it as a new meme. I had come across similar memes since I became more active within the Internet realm, each with their own character and socially-correct quirk expected to persist within the society. As expressed by one of the most popular variant of the meme, I saw it and I moved on.

Image from knowyourmeme.com
All of a sudden, everyone talked about "Be Like Bill". You see "Be Like Bill" memes all over the net. Every scroll you did, every glance you took, every page you visited, every search you clicked, you got Bill watching you with that soulless stare. (Got that The Police reference?) It's as if this seemingly-fake-smile stick figure had somehow paved its way conquering the whole Internet.
And you can easily tell why as soon as you see one. It's simple. It's catchy. And most importantly, it can be easily utilized to justify any of your egoistically-correct whines and be used to bash those standing on your way. Exactly what the Internet fancies.
Seeing it that way, it's easy to imagine that a backlash would soon commence.
I humbly apologize for the DailyMail source. No regrets though.
While the two sides continued to bash on each other about whether Bill is the true epitome of common sense in society or an authoritatian egomaniac who fancied the enforcement of his own interests, another actor on the net took his own fair share of audiences. Don't get me wrong, those discussions about that particular sticky Bill was still going. It only happened that a particular video in Youtube went viral after a couple of days. Nope, not even a single touch on the discussions about that Bill who went around judging people (or educating, depending on who you asked). The topic even covered quite an uncommon topic to be even potentially viral: history.

If that's the case, what was the relevance of this? Well, it just happened that the video was uploaded by....
....none other than Bill himself. Or rather, Bill Wurtz to be precise.
Aside from the hits video, this particular Bill spent some of his time making short videos and uploaded them to his YouTube channel, which has since then attracted thounsand of excited Internet citizens and fans like. Some even went as far as heralded the channel as "representing the true desires, aspirations and beliefs of humanity" in one of the videos, titled "i don't wanna go to school" full song. I guess you all can easily see why the comment is relevant.

And now, I guess it's about time for the corresponding video.


On my last note, if anyone of you guys want to be "like Bill", this Bill Wurtz guy may be worthy of consideration.

See you around!
Lanjutkan baca »

Kamis, 31 Desember 2015

Article#500 - Lima Ratus Kisah Terpisah

sumber 

Agaknya, segenap pemirsa akan kembali merekahkan kelopak matanya untuk sudi menilas seisi laman ini ketika kejadian luar biasa kembali menghampiri. Kalian boleh saja membayangkan kejadian luar biasa ini dengan kejadian yang kerap kali menghiasi layar kaca dalam beragam kesempatan. Kejadian di mana segenap mata umat manusia terpaku dengan tayangan terkait terjadinya satu dan lain hal.
Tidak, tidak, kejadian yang dimaksud dalam tulisan ini tidak sehebat dan seserius itu. Karena kejadian kali ini hanya akan menandai sebuah batu post loncatan bagi laman aneh ini. Kembali menggelora di depan kalian semua untuk menapaki langkah selanjutnya.
Lima ratus kisah. Terpisahkan oleh cita rasa. Tersatukan oleh benang rona.

Seisi tulisan ini diketikkan dalam nuansa perencanaan yang mendadak terbelokkan. Kental berbau rencana spontan yang terpaksa dicetuskan ketika satu dua kondisi menyalahi harapan. Meski tentu saja, saya tidak akan bertindak kelewat batas dengan mengklaim saya telah di-pehape oleh kenyataan. Lagipula, saya rasa jika saya bersikeras menuntut, kenyataan akan balik mencemooh: siapa suruh berharap? Siapa juga yang mengimingimu harapan? Pada akhirnya bakal sia-sia saja. Kenyataan pergi dengan santainya menggaet korban lain, dan para korbannya yang terserak hanya bisa sesenggukan. Tersesat dan tak tahu jalan pulang.. Oke. Lupakan.

Dalam sebuah perjalanan pulang, tersimpan skenario-skenario yang perwujudannya hanya sebatas angan. Kau bisa saja merencanakan perjalanan kuliner sedemikian rupa. Menjelajah seantero kota, mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra. Perjalanan semacam itu tentunya akan sangat seru, apalagi menilik fakta bahwa seluruh kota merupakan tempat bermain yang asyik. Tetapi semua perencanaan yang sudah disusun sedemikian rupa dapat menguap dengan mudahnya. Tidak udah jauh-jauh membikin skenario seperti serangan Godzilla ataupun tonjokan Saitama si One Punch Man. Serangan kanker (tentunya kantong kering) dadakan pun dapat menyerang dompetmu begitu saja tanpa basa-basi. (Ya iyalah, dia kan serangan, bukan sales door to door ataupun pejabat.) Dan sekalinya ia datang menyerang, kau tak akan punya pilihan selain segera pulang, meringkuk dalam ruangan yang dipaksakan nyaman. Kalau beruntung, kau bisa menelepon orangtua demi kiriman uang. Meski kemudian tiba kenyataan pahit: matahari menyinari semua perasaan kita, tapi mengapa hanya aku yang dimarahi?

Akhir kata, dalam nuansa derak perjalanan yang terus menggiring pulang, sejenak dihaturkan segenap harapan, supaya apa-apa yang telah tersaji di laman aneh ini bisa terus bertabur makna. Supaya setiap hal dadakan yang menderanya dapat ditanggulangi dengan paripurna. Dan supaya saya tidak perlu nangis kejer hanya karena hal remeh macam tertundanya pesta kuliner keliling kota. Meski kelenjar parotis terus meneteskan isaknya.

Salam!
Lanjutkan baca »

Kamis, 24 Desember 2015

Article#498 - Realisasi


Jika dalam kenyataan ini memang ada sebuah titik belok dari pengejawantahan arah hidup, saya akan tempatkan perjalanan saya di paro awal Maret lalu sebagai contoh utama dari titik sejenisnya. Sebut saja tiap kilometer perjalanan saya menjauhi kediaman sebagai perjalanan meniti tanjakan menuju puncak pemaknaan hidup. Maka, tepat pada detik-detik yang berlalu dengan sapuan ombak di garis pantai bergerigi itu, pada batuan beku berusia seratus tahun itu, tergapailah sebuah kulminasi pemaknaan hidup.
Itu jika kita bertahan dengan segala macam definisi yang mendayu itu. Pemahaman yang mengawang-awang tanpa benar-benar kita nyatakan hadirnya dalam tiap kita.

Tetapi, itu sebelum sebuah ketetapan pengarahan hidup dibentuk dengan semestinya. Saat itu adalah masa-masa euforia, di mana seorang anak manusia yang mereguk setiap detik perjalanan menggapai titik kemerdekaan yang belum pernah terasa ia jumpa. Titik di mana sebuah bongkah gunung pemaknaan baru saja dikalahkan. Menahbiskan diri sebagai yang tertinggi dari sekitar.
Waktu lama berlalu dalam suka cita menikmati indahnya puncak. Perjalanan menurun menjadi keniscayaan yang tak terelakkan sebelomnya, untuk kembali menyapa kenyataan. Karena berapa banyak pula dari tiap-tiap kita yang menjadikan galur lereng pegunungan sebagai latar pentas kehidupannya.

Bagi mereka yang gamang akan kenyataan yang hendak, atau harus, disapanya, sebuah perjalanan menurun adalah penurunan dalam segala aspek yang terbayangkan. Maka kusebut beruntunglah mereka yang menyadari adanya latar belakang yang masih membayang di balik apa-apa yang hadir di depan mata. Mereka yang menepi barang sejenak, untuk kemudian melesat dalam kelejitan yang tak terbayangkan. Mereka yang menatap kabut bernama masa depan sebagai sebuah lahan untuk menata kenyataan yang mereka inginkan kemudian. Mereka yang menetapkan langkah, menapakinya dalam takzim menuju perwujudan yang hasil akhirnya telah terbayang jelas di dalam kepala.
Apakah kita, atau entah barang sesiapa, termasuk dari mereka, belum tentu kita mengerti. Semua akan menjadi makin rumit ketika mempertimbangkan tentang apa yang kita definisikan sebagai sebuah kejelasan, manakala sebagian kita akan menyanggahnya. Apa yang ada di hadapan, seringkali ia adalah misteri. Dan orang macam mana yang bisa dengan yakin memprediksi.

Bagi sebagian kita, mungkin yang lebih penting adalah menentukan ke arah mana harus melangkah. Ketika yang dijadikan rujukan perjalanan adalah tujuan, ia tak banyak membantu dalam menghadapi sebuah kabut tebal hidup yang masihlah sebuah misteri. tentu saja akan muncul argumentasi, jika dalam sebuah kabut misteri, bagaimana kita akan tahu tentu arah mata angin. Akan tetapi, sependek pengetahuan akal kita yang fana, rasanya tidak ada kabut yang total menghapus jangkauan pandang.
Barangkali, kita bisa jadikan sedikit pandang yang masih dipunya untuk terus melangkah.

Dan ketika seorang anak manusia yakin betul akan panduannya dalam melangkah, segala macam gelimang capaian yang tidak pernah ia damba, tidak akan pernah membekas dalam dirinya. Segala yang tak ia kejar, meski tampak kemilau cerlangnya di mata sekian banyak mereka yang menyaksikan, menjadi kerlap-kerlip bebatuan kristal yang menghiasi serentang jalan. Sila saja kausebut dia indah, kausebut ia menawan, dia hadir di jalanan, dilangkahi oleh sekian ribu langkah. Langkah milik jiwa raga yang sambil lalu berjalan merenungkan tiap-tiap kesibukan hidup. Langkah-langkah yang kita piir tak menahu akan apa yang ia tuju.

Lanjutkan baca »

Selasa, 22 Desember 2015

Article#497 - Nadir



Hening bersambut gigil menyapa keseluruhan jalan.
Langkah kaki yang menapak di malam itu bukanlah langkah yang tangguh. Terseok ragu, tersipu meniti kerikil tajam bernama kelanjutan hidup.

Mendaras ragu gemintang yang gemilang menaburi tirai malam, akan lebih dari cukup untuk memberitahu sesiapa di jalan itu akan waktu yang menderu. Sesiapa yang tetap bergerak menantang beku bertalu. Tetapi sosok itu, sosok yang bertopang di atas kaki goyahnya itu, tak mau tahu menahu.
Malam terus menukik terjerembab menuju gelap. Rerumputan di pinggir jalan pun menderik keriut. Hijau yang menatahinya di masa jaya telah lama pudar diterkam raksa yang terus terjun. Dicabik-cabik angin barat yang membeku. Dihunjamkan ke tanah oleh tapak-tapak lugu.

Sosok itu terus menapaki seantero jalan. Menghadapi malam yang paling panjang. Menghadapi tergelincirnya Matahari ke kedudukan terendah dalam medan pandangnya. Ia menapaki kenyataan ketika ia mengalir perlahan menuju gorong pikiran yang tak terselamatkan. Ia menghadapi kebekuan yang terus menggurat rekah tajam menghias kulit keringnya. Sayat yang terus menganga, makin dalam menjerat pinta manusia menuju datangnya semburat surya.
Ia menyapa pagi yang segera tiba, menggamit tirai malam angkasa menjelang fajar. Secercah sinar yang menyinari lansekap dunia sekitar. Sama sepertinya, dunia sekitar itu kering, menggigil, dan bertahan dalam kerapuhan bangunnya.

Ia memaki. Persetan akan segala macam buai angan! Jika yang bisa mereka semua lakukan hanya memicu delusi berkepanjangan dalam kepala. Lupakan segala macam kalimat pemanis soal adanya arah atas. Lupakan segala penyemangat yang didengungkan dengan menguras harta dari mereka yang gelap mata. Lupakan segala basa-basi yang tak kaudengungkan sepenuh hati, berpura-pura simpati, memasang tampang peduli, setelah itu pergi, tiada sekali kembali.

Menjelang sebuah pagi yang sunyi, tiada nadir sudi merambat naik.
Lanjutkan baca »

Minggu, 29 November 2015

Article#489 - Trajektori

[apdet terbaru: 27 Januari 2016, 18:49 (UT+9)]

.....
Kau tahu betul, kalau aku terbiasa menghargai mereka yang berani menjalani hidup sesuai apa yang benar-benar mereka dambakan. Meski yang didambakan itu tidak umum didamba oleh masyarakat. Meski dambaan seseorang itu sendiri berubah-ubah adanya. Tak apa! Bagiku, yang terpenting adalah mereka berani melawan arus, demi menekuni apa-apa yang ingin ia tekuni.
Apalagi ilmuwan. Kau tentu tahu betul seperti apa para ilmuwan itu, lebih dari aku. Dan kau tentu tahu betul, "ilmuwan" mana yang kumaksud: mereka yang getol bergelut dalam dunia akademis, melakukan penelitian demi penelitian.

Bahwa menjadi mereka itu berat, itu sudah tentu. Apalagi ketika merenungkan jalan panjang yang ditempuh seorang anak manusia menuju penahbisan dirinya sebagai "ilmuwan". Sekian banyak gelar, sekian tahun pembelajaran, sekian tahun lagi penelitian.
Bahwa mereka telaten, itu sudah tentu. Kita semua lahir dan tumbuh sebagai individu yang kerap mempertanyakan berbagai hal. Tetapi tidak setiap kita tumbuh untuk mendedikasikan diri kepada pertanyaan-pertanyaan yang terus bersemai itu; mencurahkan segenap waktu dan sumber daya untuk meladeni ketidaktahuan itu satu persatu. Meski mengurusi semua pertanyaan itu mungkin akan menghabiskan seumur hidup.

Aku melihat pula bagaimana mereka demikian betah memelototi entah apa yang mereka gandrungi sedemikian rupa. Kau tahu kawan, ketika seseorang sedemikian mencandunya pada apa-apa yang ia senangi, hal-hal lain acapkali tak terasa berarti. Bahkan hingga hal primitif dan bodoh macam mencari makan dan bertahan hidup.
Kerja, kerja, kerja. Apakah demikian adanya kepatutan dalam berkehidupan? Dalam ritme yang terus menerus sama? Dikejar oleh sesuatu yang sama secara berkelanjutan? Mengejar sesuatu yang sama tapi terus tak tergapai tangan?
Apakah begitu cara kita seharusnya bertahan dan membahagiakan seantero hidup?

Aku kemudian menengadahkan kepala, menghadap haribaan langit yang senantiasa berjaya menaungi fana manusia. Aku menolehkan pandangan, dan ada sehampar rupa bumi yang mengerdilkan tiap-tiap raga sombong kita. Di sekitarku ada sekian banyak jiwa-jiwa tanpa tanda jasa yang bergelimang tiap-tiap ceritera. Dan di dalamku ada sekian banyak sistematika yang berjalan lancar, menyokong kepala menelurkan cuplik demi cuplik cerita.
Kukira, betapa mudah bagi segenap kita untuk mensyukuri berjalannya ragam rupa penghidupan.
Maka aku terheran, melihat apa yang dulu biasa kuidentikkan sebagai mereka yang menggenggam setia impiannya. Ketika mereka abai dari berjuta pesona yang dapat ditawarkan semesa. Ketika dalam pandang kosong mereka menatap dunia sekitar, yang berkecamuk di dalam kepala mereka justru
kekhawatiran. Sebagaimana banyak kekhawatiran yang biasa didengungkan mereka yang terjebak dalam rimte datar tanpa kesudahan. Sebagaimana apa-apa yang paling kuhindari dari berbagai rupa penghidupan.

Tidak, sekali-kali aku tidak akan pernah menjalani jejak hidup mereka. Tidak, jika mereka menghalangi jiwa yang lemah ini dari kesempatan mensyukuri kehidupan tanpa batasan.

Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan yang seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.
- Seno Gumira Ajidarma
sumber


Lanjutkan baca »

Minggu, 27 September 2015

Article#469 - Manifestasi


Kita tak perlu menyandarkan jati diri kita pada suatu golongan, tetapi pada gilirannya identitas yang jelas adalah sebuah keuntungan dalam berkehidupan. Biarkan ramai manusia berkalang dalam tindakan yang tak mereka pahami asal mulanya. Kokohkanlah citra jiwa sesuai dengan yang didamba, yang dipercaya, dan tetapkan pendirianmu padanya. Jadikan ia tegas, menyifati dasar secara paripurna.

Kita tak perlu membuktikan segala hal pada segala orang, tetapi memiliki beragam kemampuan dan keterampilan adalah keharusan dalam berkiprah. Biarkan ramai manusia berkeluh kesah akan apa-apa yang tak dicapainya ketika berpangku tangan. Teruslah upayakan perkembangan, mengembangkan kualitas tanpa perlu berkesah akan perjalanan. Perkaya pengalaman, jadikan setiap saat bermakna.

Kita tak perlu menyibukkan diri memikirkan tujuan utama, lagipula banyak hal dapat terlaksana tanpa perlu menanti akhir perjalanan. Biarkan ramai manusia menanti dalam kekosongan karena sibuk menanti ketibaan pada tujuan. Jelajahilah sisi-sisi dunia, beserta segenap sudut memori yang menanti untuk didarasi beragam rupa cerita. Perkuat ikatan, menjaga keeratan dalam setiap kesempatan. 

Kita tak perlu menghabiskan waktu berkubang dalam paradigma, tetapi kematangan dalam bertindak akan menghindarkan dari masalah yang tak diperlukan. Biarkan ramai manusia latah mengerubuti diri dan berkubang tanpa mengubah keadaan masing-masing mereka. Perbanyak wawasan, pastikan diri memahami apa yang diutarakan tanpa dikotori doktrin yang tak jelas juntrungannya. Menjernihkan pandang, mengamat hingar bingar.

Kita tidaklah menghamba kebesaran, tak pula mengerdilkanya. Kita tak memuja kenyataan, tak pula menyerapahinya. Kita berjuang kembangkan jiwa, memberangus apa-apa yang membutakan
Kita menutup lembar pada tujuan, dan menjadikannya nyata.

Toyohashi, 22 September 2015.
Awal dari sebuah perjalanan, menuju akhir cerita.

Lanjutkan baca »

Senin, 31 Agustus 2015

Article#459 - Tenggang


Kuhadapkan wajah pada semburat senja, saat ia bersiap mengucap jumpa pada dunia. Sinar kemerahannya menyorot temaram, memikat pantul awan silang menyiku. Seolah menyindir mereka yang banyak menggebu dalam apa yang tak perlu.
Sinarnya pun terus temaram dikekang malam. Membiarkan aku tertelan kelanjutan pikiran akan hidup yang tak menahu.

Kuhadapkan dekap pada wajah purnama, yang bersinar bangga dalam gulita. Sinarnya yang megah telah merajai awan, bahkan ketika malam belum sejenak berpijak. Seolah menyindir mereka yang banyak mencari pembenaran untuk tidak bertindak.
Sinarnya pun terus benderang membelenggu malam. Membiarkan aku menjaring cercah yang tak menentu.

Bersemayam dalam jejaring rangka bangunan, aku yang menanti kelanjutan tidak akan menyatakan bahwa aku sedang datang kembali pada kenyataan. Atau pergi dari kenyataan. Karena kenyataan ada pada setiap hela nafas kita, setiap denyut nadi kita. Apa yang menyertai sepanjang hayat, dan di sebagian besarnya kita kesampingkan. Atau kita nafikan keberadaanya.

Pada akhirnya, kenyataan tetap menjerat kita semua. Terlepas apapun sikap kita terhadapnya. Terlepas dari bagaimana ia menjadikan kita nantinya.

Kini
Di sanubari Bumi yang terjurai temaram Matahari
Ada sebagian kita yang bicara kenyataan tanpa tahu pasti
Dan kini
Di serambi Bumi yang oleh rembulan terbingkai 
Ada sebagian kita menjalin masa kini untuk masa nanti
Lanjutkan baca »

Sabtu, 18 Juli 2015

Article#442 - Semburat

Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar tentang senja yang lebih merona merah dari fajar. Entah apakah benar demikian adanya—agaknya sebagian besar dari kita bukanlah manusia yang senantiasa berkesempatan meluangkan waktunya untuk memintas datang fajar atau lepas senja. Kita pun tak tahu pula, apakah mereka yang pertama mencetuskan falsafah tersebut adalah mereka yang senantiasa menyerta senja dan fajar. Bisa saja mereka sembarang berfalsafah, atau sekadar menyampaikan faedah. Bisa saja mereka seperti kita, terkagum-kagum akan pengetahuan baru dan bersemangat menyebarkannya.

Barangkali, membuktikan kebenarannya dengan menilas senja demi senja, atau fajar demi fajar, bukanlah opsi yang cukup mnguntungkan bagi sebagian besar kita.
Maka kemudian tercetuslah tanya: Kalau senja benar lebih merah adanya dari fajar, apa gerangan penyebabnya?
Apa ada kaitannya dengan perputaran Bumi? Memang, perputaran Bumi yang cenderung ajek dalam satu arah membuat kita menyambut mentari dalam naungan fajar, untuk kemudian meninggalkannya dalam naungan senja.
Tetapi, ketika ditelisik pun, laju perputaran Bumi yang tak sampai setengah kilometer per detiknya ini justru tampak kerdil ketika bersanding dengan kecepatan cahaya. Mungkinkan laju yang kerdil ini mempengaruhi kenampakan cahaya mentari yang tiba, membuatnya sedikit memerah? Agaknya tidak.

Maka kita mengalihkan dugaan pada tabir udara Bumi kita.
Adakah kemungkinan beda kualitas tabir udara pada pagi dan sore hari mempengaruhi perbedaan pada warna fajar dan senja? Kita pun belum tentu yakin pula akannya.
Mungkinkah warna senja adalah warna fajar yang dikotori ragam sisa kesibukan manusia? Dari debu, asap pabrik, bau knalpot, bahkan hingga peluh kita yang mengejar tujuan hidup.
Atau mungkin, senja adalah warna mentari yang meredup, terkesiap dalam sekilas sigi atas penduduk Bumi.


Apapun maknanya, sepertinya kita tak akan mengarah pada pemahaman akan senja yang memerah sebagai perpisahan pada dunia fana. Karena kita belum tentu memahami, apa yang hendak disampaikan dengan warna sedemikian.
Tempat kita, agaknya, adalah untuk menikmati pandangnya. Memahami prosesnya. Dan tidak kehilangan takjub atasnya.

Semburat fajar beranjak
Membukakan hari pada jiwa yang terlambat bertindak
Sementara semburat senja menjumpa
Merampungkan hari bagi jiwa pendekap nelangsa
Lanjutkan baca »

Selasa, 30 Juni 2015

Article#435 - Tenggat


Sudah berpekan-pekan waktu termakan oleh penulis yang memutuskan kembali berkalang di satu sudut kota.
Pekan-pekan yang tiap-tiapnya diliputi ragam rona kegiatan, lembar kerja kesibukan, hingga cengkerama tawa yang bergantian.

Sudah lama penulis tak lagi menjumpa luang dalam berakhirnya pekan. Ketika-ketika pertemuan antara cerita demi cerita diutamakan dari pergelungan, waktu luang yang dikhawatirkan tak sempat berisikan sembarang makna bisa disulap menjadi bermandikan jiwa.

Sudah lama tak bertegur sapa dengan kenyataan. Mungkin waktu yang tepat untuknya adalah pada yang akan datang. Tetapi akan menarik jika ia ditarik kepada yang beredar sekarang.

Kini
Di sanubari Bumi yang tersinari mentari sore hari
Ada sebagian kita yang membicarakan kenyataan dalam sunyi
Dan kini
Di serambi Bumi yang terbasuh hujan tanpa henti
Ada sebagian kita menerka pengharapan di masa kini dan nanti
Lanjutkan baca »

Senin, 22 Juni 2015

Article#432 - Senja Dua Dunia


Kita yang terbiasa bersemayam di haribaan Bumi, mungkin tak asing lagi dengan semburat jingga yang biasa menaungi kilau senja maupun fajar. Sehingga, ketika salah satu robot penjelajah yang sedang menyintas permukaan "planet merah" beristirahat sejenak dan mengabadikan citraan senja, kita yang mengoperasikannya dibuat terpana oleh perbedaan.

Tentu saja, ketika fokus kita membicarakan senja, maka yang segera diamati adalah mentari yang beranjak meninggalkan jangkau pandang kita. Kita dapati mentari yang meninggalkan pandang makhluk Bumi tampak melonjong, sebagai hasil dari pembiasan oleh atmosfer Bumi di arah dekat cakrawala. Sementara, mentari dari sudut pandang robot penjelajah Mars adalah mentari yang relatif tampak bundar, dan juga tampak lebih kecil dari apa yang kita lihat.
Tipisnya atmosfer Mars (yang pada permukaan bertekanan hanya 0,6% tekanan atmosfer di muka laut Bumi) serta jarak Mars-Matahari yang sekitar 50% lebih jauh dari jarak Bumi-Matahari menjadi faktor utama di balik kenampakan mentari bundar kecil dari Mars.

Segera setelah pandangan mata memintas mentari, pandangan akan beranjak pada semburat senja yang menaunginya. Semburat kejinggaan yang jamak kita jumpa di Bumi, adalah sisa cahaya yang tidak disebarkan oleh molekul nitrogen dan oksigen melalui persebaran Rayleigh (yang lengkapnya pernah saya bahas pada tulisan ini).
Sementara...
.....
.....semburat kebiruan? Benar ia semburat kebiruan?
Iya, semburat kebiruan. Fenomena khas atmosfer Mars ini diyakini terjadi berkat partikel debu yang melayang-layang di permukaan Mars. Partikel-partikel debu yang terus beterbangan ini menyerap sebagian porsi cahaya biru yang ia terima dari Matahari, sementara cahaya lainnya (yang secara total menyatu sebagai warna kuning kecokelatan) disebarkan oleh partikel debu melalui persebaran Mie. Persebaran Mie ini, pada gilirannya, ikut menyebarkan berkas cahaya searah dengan arah berkas cahaya sebelumnya, memberikan warna biru untuk dinikmati di kala fajar dan senja. Kedua kala ini menjadi saat di mana cahaya Matahari menempuh jarak terjauh melintasi atmosfer Mars, yang ikut mempengaruhi semburat kebiruan yang melingkupi mentari dekat cakrawala.

Kita, yang konon menghuni "planet biru", ternaungi langit kebiruan yang bersemu kemerahan di waktu senja.
Sementara mereka para robot yang menjelajah "planet merah", ternaungi langit kemerahan yang bersemu kebiruan di waktu senja.
Segala kontras ini menyapa, di kala menatap mentari yang sama.

Foto kiri oleh Damia Bouic.
Foto kanan oleh NASA, JPL-Caltech, MSSS; diproses oleh Damia Bouic.

Gambar diolah dari citra asli di laman APOD.
Lanjutkan baca »

Rabu, 27 Mei 2015

Article#424 - Cakrawala


Jangan khawatir, aku tidak akan ikut-ikut berlagak menyemangati dengan mengatakan, betapa kita sedang menatap langit yang sama. Mana mungkin langit kita akan sama, ketika lokasi kita saja tak persis sama?

Langit satu-dua menit yang lalu saja tidak sepenuhnya sama dengan langit yang sekarang. Walaupun kita tak beranjak dalam mengamatinya.
Lantas bagaimana kita akan berceloteh layaknya orang-orang, bahwa kita melihat langit yang sama? Ketika ada jarak bernama bujur, atau bernama lintang?

Sedikit saja berpindah bujur, kita akan mendapati bintang yang belum terbit di lokasi awal, atau bahkan sudah terbenam kala kita mencoba menggapainya. Mungkin dalam beberapa selang ia akan sama. Tetapi, detik ini juga?
Sedikit saja berpindah lintang, barangkali kita akan menyapa petak-petak angkasa yang belum pernah dijumpa, sembari kehilangan petak langit lain yang biasa disapa.

Oke, barangkali mereka yang mengumbar kesajaan langit dari dua tempat sedang membicarakan terang yang menghiasinya. Ada planet, ada bintang, dan tentu ada Bulan. Ada pula Matahari, yang meski juga adalah bintang, seringkali dikesampingkan karena terangnya yang menenggelamkan benda langit lainnya.
Jika mereka hendak bilang bahwa mereka mengamati benda langit yang sama, maka bukankah ada ribuan, atau jutaan orang lain yang juga mengamati benda langit yang sama? Lantas apa istimewanya ungkapan itu diutarakan?

.....
Jangan khawatir, ketika kita bersungguh dalam memberi suntikan semangat, kita tak perlu menjiplak kata-kata orang yang terkesan besar. Rasanya kata yang diuntai dalam ketulusan lebih dari cukup untuk menanggulanginya.

Langit kini dan langit esok tak akan sama, karena seisi semesta kita terus bergerak dalam lintasan tiap-tiapnya.
Tetapi, mereka yang sibuk menjiplak demi waham kebesaran, mungkin saja tidak pernah melihat konteks yang berbeda dari apa yang mereka jiplak.
Pun jua kita yang merasa hebat setelah mengritik mereka.

And it will be nice to be alone for a week or two
But I know that I will be right back here with you
Lanjutkan baca »

Selasa, 12 Mei 2015

Article#418 - Kelambu

Mereka bilang, mega merah akan menjelang. Menyambut bayang yang memanjang untuk kemudian menyatu dalam satuan malam. Koor angin yang makin menggelora pun terus bersahutan, menderak jendela, menderui tiap telinga. Dari telinga mereka yang bergegas pulang menyudahi lelah bekerja, hingga peminat bingar yang dalam temaram meraja, bisikan itu bergemuruh menggetar kepala mereka. Seolah mengajak untuk sejenak menatap angkasa, menyaksikan sang mega merah perlahan merambati cakrawala.
Meski mereka tahu, langit sudah kelam sejak lama.

Mereka bilang, mega merah akan menjelang. Menyambut aliran yang mendorongnya bergerak, mengibaskan sisa-sisa dari masa emasnya yang bergelora. Seruan manusia yang bergiliran mencelotehi pemirsa perlahan beranjak menyeragamkan nada, meresapi kejayaan yang telah lewat di negeri seberang. Mega merah yang menjelang adalah yang terluka, terseret ujung daratan dan melemah sebelum waktunya. Sehingga ketika kita membuka pintu dan membiarkan mata menatap cakrawala, yang akan kita saksikan adalah mega merah yang kehilangan jati dirinya.
Hanyut terbawa awan yang tak sudi menceritakan kehebatannya.

Mereka bilang, mega merah akan menjelang. Jangan tanya mega merah bagi siapa, karena bagi mereka yang konon berlandaskan pengetahuan, kita semua adalah satu sesiapa. Mengecap nadi yang sama, menyesap pandir yang seirama. Seberingas apapun jua kau bersikeras, pada akhirnya kenyataan akan berbicara: manusia hanya pernah berkesempatan menderas kilau mega merah. Entah ia milik fajar, atau milik senja. Belum berkesempatan melihat mega dengan warna lainnya, yang mungkin hanya akan dijumpa di dunia lainnya dalam belantara antariksa.

Mereka bilang, mega merah akan menjelang. Tetapi di masa senja, yang kujumpa justru arakan awan yang berkemul menutupi kita dan seisinya. Tak menutup peluang, seperti itulah wujud rupa sang mega merah sebenarnya; ia tidak menjelma merah karena semangatnya memblokir sinar surya.
Mega yang tak lagi merah itu pun terus merambati langit.
Dan ketika sinar mentari kembali mendatangi di pagi hari, ia telah pergi, menyapukan arak awan untuk mewarnai langit. Bukan warna merah yang namanya ia kumandangkan. Melainkan warna langit biru, cahaya yang kehilangan jati diri merahnya.


Mereka tetap bilang, mega merah akan menjelang.
Entah kapan tepatnya ia datang.
Entah kapan pula ia kembali menerjang.
Lanjutkan baca »

Minggu, 26 April 2015

Article#413 - Rattles and Rubbles

It was a bustling Saturday noon, at the valley that serves as a melting pot among the abode of snows. The ever vibrant city of temples, house to just over a million inhabitants, continued to sustain its warm, welcoming nature even during the weekends. This, among other things related to the abodes, has attracted millions of curious tourists, travelers, and the proud youngsters of the village, taking part in a developing, lively culture.

They were about halfway done in their activities at the day. It was initially a slow movement, yet sure; silently crept as the working people started to hear their stomaches crying for lunch.
And then there was the temblor.

It never takes its time too long for a strike - minutes at the longest. As faults and fractures failed to hinder the massive charade of the earth no further, the ground trembles, shook everything in its wake.
Those who withstood the trembles remained at their usual stance, while swiftly adjusted themselves to the rhythms of the terrestrial waltz. They stood still, and watched in awe as their weaker compatriots did not manage to cope with the rhythm, and crumbled onto each other.

It rattled. Leaving ruins behind.
There were rubbles of poorly designed buildings. There were crumbles of vanishing histories. There were shocks of worried relatives. There were collapses of trust to governmental policies. There were statements of concerning countries. But, most importantly, there are survived people trying to recover their hopes and dreams.

It may have been inevitable for the city of temples to be struck by such quakes, once in a while. After all, the driving force of the earth's charade is what have given rise to the mesmerizing presence of the abode of snows. The force that give rise to the prominence of the city's rich cultural heritage.
It may have been the force that brought the country into this unprecedented fallout. But, as it has always been, it will become the very force that helps the citizens to bounce back.
And they are not hesitate to continue looking forward.

image source
Lanjutkan baca »

Minggu, 15 Maret 2015

Article#399 - Proklamasi

Kita tak perlu membebek pada sekian banyak figur pujaan, karena jiwa dan raga tiap-tiap kita berhak untuk menjadi diri yang sebenar-benarnya. Biarkan ramai manusia berujar akan pencarian identitas, dan teruslah membangun sendiri jati diri dari bawah. Tetapkanlah apa-apa yang akan menjadi landasannya, dan bangunlah wujud yang kokoh dari sana. Jadikan ia tegak, tak bergeming di hadapan aral.

Kita tak perlu membuktikan segala hal pada segala orang, karena kehidupan bukanlah untuk menjilati wajah riang mereka. Biarkan ramai manusia berceloteh mempertanyakan adanya perkembangan, dan teruslah berjuang tanpa perlu harap sesiapa tersadar. Tengadahkan wajah yang berlindung pada nama-Nya, yang tak perlu sesuap bukti dari kita yang fana. Tetaplah berjalan, atas dasar yang tak kita pertanyakan.

Kita tak perlu menyibukkan diri memikirkan tujuan utama, karena bentuknya sudah demikian jelas tergambar bagi tiap-tiap kita. Biarkan ramai manusia berkalang dalam sekian banyak batu loncatan, yang mereka kejar sebagai akhir perjalanan panjang. Langkahkan kaki yang menyadari adanya kelanjutan, dan ajak raga terus bergerak. Syukuri tiap nafas dan langkah, jejaki awal mula pada setiap perhentian.

Kita tak perlu menghabiskan waktu berkubang dalam angan, karena kenyataan yang tergelar luas telah mencukupi segala yang kita butuhkan. Biarkan ramai manusia berkabung menghitungi sekian skenario yang tak pernah lari dari kepala-kepala mereka. Kepalkan tekad, lambaikan salam pada yang terlewat, dan bersungguh dalam apa yang bisa diusahakan. Menjabat erat kenyataan selayaknya sahabat lama.

Kita tidaklah mengejar kebesaran, tak pula meratapinya. Kita tak mendamba kepalsuan, yang digenggam angkasa fana. Kita berjuang tanpa kecewa, memberangus sesal tiada guna.
Kita menutup lembar pada tujuan, dan menjadikannya nyata.

Sannomiya, 12 Maret 2015.
Akhir dari sebuah perjalanan, awal dari perjalanan selanjutnya.



Lanjutkan baca »

Minggu, 08 Februari 2015

Article#387 - Kulminasi

Kita acapkali menafsirkan atas sebagai sesuatu yang baik. Hal ini diejawantahkan dalam berbagai sisi dalam bahasa yang biasa kita gunakan tiap hari. Istilah "naik kelas", "lebih", "peningkatan", "mengangkasa", juga beragam istilah lainnya yang menyiratkan "perbaikan" sembari menyuratkan "kenaikan", barangkali jamak kita gunakan dalam percakapan. Tentunya dengan lawan kata yang mengisyaratkan "pemburukan" dalam bungkus "penurunan".

Saya tak yakin bagaimana konsep "atas adalah baik" yang tersirat dari contoh di atas pertama kali dikembangkan. Barangkali ada kaitannya dengan fakta bahwa kita lebih mudah meluncur ke bawah dari pada mendaki ke atas. Atau berkaitan dengan fakta bahwa raga kita senantiasa tertahan pada arah bawah, menghimpun demikian banyak kenampakan di daerah "atas".
Kedua hal ini mungkin bisa ditelusuri akarnya dari keberadaan gaya gravitasi yang menjaga raga tetap berpijak di muka Bumi; mengingat pendefinisian kita akan "atas" dan "bawah" sendiri berakar dari konsep gravitasi.
Bergerak ke arah bawah, artinya bekerjasama dengan gaya gravitasi Bumi, yang berarti kita tak perlu repot-repot berusaha. Sebaliknya, usaha bergerak ke atas berarti melawan gaya gravitasi Bumi, yang berarti kita perlu mengerahkan usaha ekstra.
Tambahkan kecenderungan manusia yang lebih mendambakan sesuatu yang tidak dapat begitu saja didapatkan, maka rasanya wajar-wajar saja jika konsep "atas" dinilai lebih berharga bagi para manusia.

Maka manusia mulai berusaha menggapai pijakan yang lebih tinggi.
Mereka yang iri dengan kemerdekaan bangsa burung di udara, mungkin mencoba mengakui betapa raga fana mereka tak dirancang untuk memerdekakan raga jauh ke atas. Kalau kata orang bijak, "emosi adalah sumber energi", sehingga rasa iri tersebut kemudian berkecambah menjadi upaya mewujudkan mimpi manusia memerdekakan raga mereka. Atau, setidak-tidaknya, menggapai titik paling "atas" yang mereka bisa capai.
Di satu sisi, berkembang serangkaian peralatan yang dirancang menyangga beban raga manusia untuk tetap melayang di udara. Penyangga ini terus berkembang menjadi kendaraan, yang membawa manusia menjelajahi udara tipis negeri di balik awan.
Di sisi yang lain, berkembang serangkaian peralatan yang membantu manusia menjaga kondisi raga fana mereka tetap prima, sementara mereka menggapai puncak-puncak tertinggi yang dijumpa.

Perlahan, puncak-puncak yang menatahi penjuru dunia mulai ditaklukkan, dengan kepongahan manusia yang menancapkan jejak mereka di bebatuannya. Dunia penerbangan pun membawa manusia melampaui udara tipis di puncak-puncak pegunungan. Terus hingga manusia tak lagi mendapati cukup udara untuk nafas mereka.
Ketika selapis udara tipis bernama atmosfer mulai ditinggalkan, dan manusia berkenalan dengan cakrawala angkasa, mereka barangkali terheran mendapati kaburnya definisi atas-bawah yang biasa mereka kumandangkan sebelum menyapu debu antariksa.

Maka mereka terus melaju, merengkuh semesta lebih jauh.

Mungkin kauamati, para manusia melihat lebih jauh meninggalkan Bumi yang biasa mereka pijak ini mendapati langit seolah tanpa batas. Makin jauh melihat, makin samar ia, makin tak tergambarkan.
Mungkin, bagi manusia yang memaknai perjalanan "naik" mereka tersebut, akan ada satu posisi di mana mereka menengadah. Akan jalan demikian panjang ke "atas" yang masih tampak tak tergapai impian.
Tetapi mereka memang tidak berniat menggambarkan seisi semesta.

Titik puncak, di mana mereka akan menyudahi perjalanan ke "atas" untuk seterusnya, mungkin tidak akan pernah ada. Syukurlah, mereka bahkan tak acuh akan keberadaannya.
Mereka hanya terus melaju ke atas.
Sejauh yang mereka bisa.
Menggapai angkasa.






Tentunya, tak hanya sudut pandang seorang.

Foto oleh Koichi Shimano
Foto oleh Akihiro Shibata

Foto oleh Mitsui Masayaki

Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...