Tampilkan postingan dengan label Gurau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gurau. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Oktober 2015

Article#478 - Freedom


As sophisticated as a depiction of freedom can be, for me, nothing quite beats this one in that regard.
You can label this as an ordinary picture of a crow having some rest on a bald eagle's back, if that is not peculiar enough for you. Or you can label it as a picture of a crow doing its best at not giving any flying fuck of that eagle it resides on. Get it? Get it?
Then again, things get even more interesting when we are given the fact that bald eagle is the national animal of a particular country. Yeah, you get it right: 'Murica. That particular country with that particular tendency to shove their own ideals and values up other countries' arses by the means of warfare and political intervention. Or at least that's what some angry, politically reactive Internet users might have told you.
Well, d'you come here to read such biased commentary on what a country could have done? Okay then, get back to square once again.

Depicting that bald eagle as 'Murica roaming around introducing their own means of freedom, here comes that random crow, landing so casually on the back of the bald eagle. You may associate it with an act of YOLO-ing, a blatant insult, or anything else, for all I care.
All in all, it may be interesting to see a crow acting so freely on the top of the eagle. It just seems as if that crow is trying to be more carefree than the "embodiment" of "freedom" it is perching on. Well, they say crows are one of the smartest animal, so it may be only natural to see crows riding eagles so casually to fit their own agendas and motives, while at the same time managing to maintain its image of a bird letting another bird to carry him anywhere it likes

Mind for a conclusion? The crow is having a flight on Freedom Airlines, while not giving any flying fuck.
So... Let's strive to emulate the crow's carefree demeanor, perhaps? It's completely up to you.
Either way, embrace all the hapiness to all your heart's content!

image source
Lanjutkan baca »

Sabtu, 07 Maret 2015

Article#395 - Di Langit Berjaya, Di Darat Buaya

[apdet terakhir pada 7 April 2015, 00:18 (UT+9)]

Kiprah saya dalam berurusan dengan topik yang serupa dengan topik dalam tulisan ini, adalah ketika saya iseng mengumpulkan beragam bentuk puisi dari beberapa latar belakang bidang studi pada akhir tahun 2012 lalu. Saat itu, yang saya lakukan sebenarnya hanyalah mengisengi orang yang mau-maunya mengunjungi laman belog saya, dengan dosis gombal kelewat batas yang saya comot dari sekujur internet. Puisi-puisi terkait pun berisikan untaian kata gombal dari sudut pandang beragam bidang studi, memberikan gambaran akan seorang ahli dalam bidang terkait yang sedang jatuh cinta. Ada matematika, fisika, biologi, kimia, juga pemrograman.

Tentu saja, beberapa kawan saya agaknya cukup "terusik" hingga mau repot-repot memberikan komentar bagi kompilasi susunan saya tersebut. Tapi dasar lupa karma, saya pun terlalu asyik menertawakan (dan tertawa bersama) kompilasi tersebut, hingga salah satu kawan menodong saya untuk membuat gombalan serupa versi astronomi.

Wahduh. Bagaimana caranya?

Bukan soal kekurangan bahan. Astronomi, dengan lingkupnya yang jauh melampaui molekul-molekul nafas penduduk Bumi, tentu menawarkan kesempatan demikian luas bagi para pujangga karbitan yang ingin membuat kagum pujaan hatinya. Bintang-bintang yang biasa kita tatap di malam hari saja sudah lebih dari cukup untuk dijadikan bahan gombalan, apalagi ketika kita menjelajah lebih jauh, bersama menyusuri gelap malam. (Ini pun sudah terdengar seperti sedang menggombal, kan?)
Saya pun termasuk sekian orang yang cukup beruntung mendapat kesempatan mengarungi dunia astronomi sekian lama, sehingga saya bisa dengan pongah mengatakan jika saya punya akses luas pada potensi gombalan yang luar biasa ini.

Masalahnya sederhana saja: Saya kekurangan jam terbang.

Mungkin, terlalu asyik melarutkan diri dalam menyusuri tiap jengkal langit lewat ensiklopedi membuat saya kurang canggih. Tidak handal merangkai gombalan demi gombalan. Seperti kata orang, bisa karena biasa dibisa-bisain. Maka yang saya perlukan untuk menyusun kumpulan gombalan adalah meningkatkan jam terbang. Bagaimana? Mempraktekkan gombalan ke orang-orang? Mengingat konsekuensi yang terjadi, yaitu beban moral yang mungkin harus saya pertanggungjawabkan nantinya, agaknya ini bukan solusi yang bijak. (pfft)

Solusi sederhana yang kemudian terpikirkan, adalah belajar dari orang-orang di sekitar saya. Apa daya, di sekitar saya justru populasi tunaasmara masih bergeletakan. Kenalan saya rata-rata masih usia mahasiswa sarjana, sih. Atau, kalau mengutip kata-kata salah satu profesor astronomi ITB, "mahasiswa cacat asmara".
Maka, saya perlahan mengakrabi beragam orang yang usianya terpaut beberapa tahun di atas saya, untuk (pff) bersilaturahmi dan membangun jaringan pertemanan yang saya yakini akan berguna di masa depan (pff).
Tentu saja, pada akhirnya saya jamak mengamati bagaimana mereka berinteraksi dengan kenalannya, juga mempelajari gaya menggombal sesuai tipe incaran, juga tips dan trik menggombal dari mereka.

.....dan pada akhirnya saya malah melupakan usaha menyusun kompilasi gombalan astro ini.

Maka, alangkah beruntungnya saya yang malas ini, manakala salah seorang kenalan saya di dunia astronomi memutuskan untuk menggelar "perang" gombalan, akhir Mei 2014 lalu. Berkumpullah beberapa orang, yang secara demografis hampir semua terhimpun (atau terkait) dengan keluarga besar Prodi Astronomi ITB. Populasi yang menonjol terutama adalah mahasiswa/i Astronomi ITB angkatan 2008, yang pada Mei 2014 secara umum sudah menamatkan pembelajaran di bidang sarjana. Mereka juga terhimpun dalam golongan usia di mana interaksi dalam tingkatan serius dengan lawan jenis lebih jamak dibicarakan.

Tentu saja, saya tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan meraup sebotol besar dan sebungkus pacar kuaci, saya menyaksikan dengan takzim, bagaimana para "mahasiswa cacat asmara" berjibaku, mempertandingkan "gombalan" mereka di "medan perang".

Berikut adalah TKP (hanya bisa diakses oleh mereka yang 'berhak'):
https://www.facebook.com/ridlo.cepheid/posts/10201863473735739
Dan berikut, saya kumpulkan "hasil jarahan perang" yang cenderung "dijagokan" oleh para kontestan dan penonton. Spesial, bagi kalian yang 'tidak berhak' untuk mengaksesnya secara langsung.
Selamat menikmati.

(DISCLAIMER; membaca kalimat-kalimat di bawah dapat menyebabkan muntah pelangi. Bacalah dan tanggung sendiri risikonya.)


"Kenapa ya ada Bulan? Mungkin untuk melindungi Bumi. Begitu pula adanya aku untukmu"

"Kamu ituh bintang buat aku. Walaupun kamu jauh, aku selalu pengen tau kamu lagi apa"

"Apa yang kita lihat saat ini semuanya adalah masa lalu. Tapi saat ku melihatmu, yang terlihat adalah masa depanku"

"Aku sama kamu tuh kayak bintang ganda yah. Bedanya, kalo bintang ganda di langit interaksinya lewat gravitasi, kalo kita lewat rasa cinta dan kasih sayang"

"Kalo hukum Kepler menjelaskan hubungan gerak planet, hubungan kita bisa dijelaskan seperti ini: Lintasan cinta berbentuk hati, dan kasih sayang ada di salah satu fokusnya"

"Kamu itu seperti dark matter; walau tak nampak dengan mata, tapi keberadaannya selalu terasa"

"Jika muon masih membutuhkan waktu untuk meluruh, rasanya tidak begitu untuk segera jatuh cinta padamu"

"Jika planet mirip Bumi dicari sebagai tempat yang layak dihuni manusia, aku cukup mencarimu dan memintamu untuk menghuni hatiku. Itu cukup untukku"

"Kamu tuh kayak spektrum yah, butuh beberapa kali usaha buat bisa cocok sama kamu"

"Einstein mampu menjelaskan bagaimana cahaya dibelokkan oleh keberadaan massa melalui Teori Relativitas Umum, namun beliau tidak dapat menjelaskan bagaimana perhatianku selalu dibelokkan ke arahmu"

"Jika mentari tiba-tiba hilang dari tempatnya, aku butuh waktu 8 menit 20 detik untuk menyadarinya. Tapi jika kau yg hilang dari hidupku, hatiku gulita saat itu juga"

"Aku bagaikan meteorit yang tertarik oleh gravitasi hatimu, dan kemudian terbakar oleh cintamu"

"You are the gravity, you hold me without touch, you keep me without chain, and you can always bring me back to you" (lagu Gravity)

"Perlu data dari Kurucz untuk tahu chemical abundance bintang, tapi untuk tahu chemistry antara kita, aku cukup perlu kamu"

"Jika tiap kangen kamu satu bintang di langit ilang, pasti langit malam akan gelap gulita"

"Bintang aja mau jatuh biar orang bisa seneng, begitu pula hatiku, bersedia jatuh untukmu"

"Bersamamu itu seperti berada di kutub utara pada tanggal 21 Juni, hari-hariku selalu benderang"

"Sebenernya ada untungnya kalau Higgs Boson tidak ada, karena cintaku padamu itu abadi dan tak perlu massa untuk diwujudkan"

"Tanggal 24 [Mei 2014] nanti akan ada meteor storm. Dan aku sudah menyiapkan satu permintaan yang kupanjatkan di setiap bintang yg jatuh: aku minta cintamu"

"Jika dari kabut antarbintang bisa terwujud ribuan bintang, bayangkan berapa banyak kasih yg terwujud dari kabut cintaku padamu"

"Janganlah eksentrisitasmu lebih dari satu, aku tak ingin berpisah denganmu"

"Malam ini langit bertabur bintang banyak sekali. Aku takkan memintamu memetik bintang untukku, aku hanya ingin menatap mereka di sini berdua denganmu selamanya"

"Bintang variabel boleh meredup, tetapi cintaku padamu selalu benderang sepanjang waktu"

"Cinta itu gaya fundamental ke-5, interaksinya tidak dibatasi oleh ruang-waktu dan terjadi secara spontan" [Ridlo (2007)]

"Jika kita semua berasal dari sisa bintang, pasti kamu berasal dari bintang paling terang di semesta"

"Kalau di langit hanya ada satu Bulan, di hatiku hanya ada kamu satu-satunya"

"Para ilmuwan sudah bisa menjelaskan konsep ruang-waktu dengan baik, namun sayang mereka belum bisa menjelaskan ruang-rinduku padamu"

"Einstein ternyata salah karena waktu berlalu cepat saat aku berjalan bersamamu" #EdisiRelativitasKhusus

"Persetan dengan akurasi saintifik gombalan astro, karena keindahanmu mematikan logika"

"Tidak peduli berapa banyak alam semesta yang kamu yakini ada, aku berani pastikan ada aku untukmu di setiapnya" #MultiverseEdition

"Aku dan kamu bagaikan bintang ganda: dekat dan cinta kita saling menghangatkan satu sama lain"

"Sepanas-panasnya inti bintang, lebih panas api cintaku padamu"

"Peneliti eksoplanet berusaha untuk mencari kehidupan di luar Bumi, tapi diriku mencari dirimu untuk melanjutkan kehidupan"

"Asteroid aja bisa terbakar saat mau mendekat ke Bumi, apalagi aku yang terbakar cinta di dekatmu"

"Diriku bagaikan komet, sejauh apapun aku pergi, aku rela menyebrangi Tata Surya ini, hanya untuk kembali padamu, matahariku"

"Pusing juga belajar ketidakpastian Heisenberg, sudah ah belajar yang pasti-pasti aja, ya mikirin kamu." #gara2statistik

"Tidak perlu teropong untuk tau aku cinta kamu"

"Ribet yaah belajar persamaan Schrödinger. Tapi belajar mencintaimu ga seribet itu kok"

"Dahulu Tuhan menyematkan cincin ke planet Saturnus. Kini izinkan aku menyematkan cincin ini ke jari manismu"

"Kompas biasa menunjuk arah utara selatan, kompas hatiku menunjuk padamu"

"Gerhana bulan berwarna merah karena tersipu malu melihat kecantikanmu" #edisigerhana

"Kalau di dalam bintang ada fusi hidrogen, di dalam hatiku ada fusi aku dan kamu"

"Tau gak bedanya persamaan Saha dengan kamu? Kalo persamaan Saha susah diingat, tapi kamu susah dilupakan"
...
...
Saya ucapkan selamat bagi kalian yang berhasil bertahan hingga mencapai bagian imi.
Dan tentu saja, perjalanan masih belum selesai.
Seperti biasa, dalam beragam bentuk gombal, harus ada bentuk percakapan. Sayangnya saya hanya punya dua sampel ini.
A: Zodiakmu sagitarius ya?
B: Kok tau?
A: karena hatiku telah terkena panah asmaramu

A: Setelah kenal kamu, aku ga nyesel kok nggak kuliah astronomi.
B: Lho? Kenapa emangnya?
A: Soalnya semua yang aku pelajari sudah ada di mata kamu
Belum puas? Bagian yang ini agaknya tidak begitu "astronomis". Tetapi ilmu pengetahuan kan saling berkaitan. Tak apa ya.
Hukum I Newton:
Cowok yang mencintai seorang cewek akan apel ke rumahnya secara terus menerus dan beraturan hingga ada gaya luar (bapak atau masnya si cewek) bekerja dan mematahkan kaki si cowok.
Hukum II Newton:
Laju perubahan intensitas cinta seorang cewek terhadap cowok berbanding lurus dengan saldo tabungan si cowok di bank.
Hukum III Newton:
Gaya yang dikeluarkan cowok untuk nembak cewek sama besar dan berlawanan dengan gaya yang dikeluarkan cewek buat nampar si cowok.

Hukum kekekalan cinta
Cinta tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, tapi hanya dapat dipindahkan dari satu cewek ke cewek lain.

Huft.
Saya bisa memahami jika tidak semua orang berminat, atau kuat mempertahankan diri membaca sedemikian banyak kalimat berniat gombal dalam satu kesatuan. Maka bayangkanlah bagaimana nasib saya yang mengumpulkan segala kalimat di atas, pada tulisan ini. Biasa aja, sih.

Pada akhirnya, saya mungkin hanya akan mengucapkan terima kasih kepada para senior Astronomi ITB yang sudah rela meluangkan waktu untuk menyumbangkan khazanah gombalan yang demikian luas. Juga pada Prof. Dr. Suhardja D. Wiramihardja yang memberikan kedua istilah menarik di tulisan ini, salah satunya diadaptasi menjadi judul tulisan ini. (Walaupun sesiapa yang memasukkan judul dalam mesin pencari mungkin akan menemukan ungkapan serupa yang dipopulerkan banyak orang, salah satunya Pidi Baiq.)

Kenapa saya memutuskan untuk bicara demikian? Karena saya sudah demikian sepicles, setelah menilas balik segala macam kalimat di atas.

Dengan demikian, saya akan undur diri dulu. Mohon maaf atas segala mual pelangi yang ditimbulkan.
Sampai jumpa.


Lanjutkan baca »

Selasa, 14 Oktober 2014

Article#353 - The Obstinate Lighthouse


You guys might have heard about this short joke somewhere.
The topic covered is mainly revolving around an allegedly huge naval ship, whose commander is berating over someone at the other end of the line, about which side to divert its path in order to avoid collision. The commander even spent time to boast the mightiness of the squad under his command, hoping the other guy to shiver in fear and goes about his chores, only to realize that the guy at the end of the line is inside a lighthouse. An obstinate one, apparently.

Whatever is true out of the story plot, let these guys from snopes.com debunk it for you. Have a nice sip of reading.

Claim:   Aircraft carrier attempts to bully a lighthouse into moving out of its way. 

FALSE

Example:   [Collected on the Internet, 1998] 

ACTUAL transcript of a US naval ship with Canadian authorities off the coast of Newfoundland in October, 1995. This radio conversation was released by the Chief of Naval Operations on 10-10-95.

Americans: "Please divert your course 15 degrees to the North to avoid a collision."

Canadians: "Recommend you divert YOUR course 15 degrees to the South to avoid a collision."

Americans: "This is the captain of a US Navy ship. I say again, divert YOUR course."

Canadians: "No, I say again, you divert YOUR course."

Americans: "THIS IS THE AIRCRAFT CARRIER USS ABRAHAM LINCOLN, THE SECOND LARGEST SHIP IN THE UNITED STATES' ATLANTIC FLEET. WE ARE ACCOMPANIED BY THREE DESTROYERS, THREE CRUISERS AND NUMEROUS SUPPORT VESSELS. I DEMAND THAT YOU CHANGE YOUR COURSE15 DEGREES NORTH. THAT'S ONE-FIVE DEGREES NORTH, OR COUNTER MEASURES WILL BE UNDERTAKEN TO ENSURE THE SAFETY OF THIS SHIP."

Canadians: "This is a lighthouse. Your call."

Origins:   The tale of the self-important aircraft carrier captain getting his well-earned comeuppance at the hands of a plain-speaking lighthouse has been making the rounds on the Internet since early 1996. Most write-ups purport to be transcripts of a 1995 conversation between a ship and a lighthouse as documented by Chief of Naval Operations. 

It ain't true. Not only does the Navy disclaim it, the anecdote appears in a 1992 collection of jokes and tall tales. Worse, it appears in Stephen Covey's 1989 The Seven Habits of Highly Effective People, and he got it from a 1987 issue of Proceedings, a publication of the U.S. Naval Institute. 

It's far older than that, as this excerpt from a 1939 book shows:
The fog was very thick, and the Chief Officer of the tramp steamer was peering over the side of the bridge. Suddenly, to his intense surprise, he saw a man leaning over a rail, only a few yards away.

"You confounded fool!" he roared. "Where the devil do you think your ship's going? Don't you know I've got the right of way?"

Out of the gloom came a sardonic voice:

"This ain't no blinkin' ship, guv'nor. This 'ere's a light'ouse!"
Even older, a one-panel 1931 cartoon that appeared in the Canadian newspaper The Drumheller Review (but listing The Humorist of London, England as its source) displayed two men arguing through megaphones, one standing on the bridge of a ship, the other on the exterior walkway of a lighthouse, above this bit of dialogue:
Skipper: Where are you going with your blinking ship?

The Other: "This isn't a blinking ship. It's a lighthouse!"
Slightly different versions of the e-mailed account name different ships as the one which unwillingly gained a lesson in the unimportance of self importance. Having debunked this tale a few times themselves, the U.S. Navy has a web page about this legend, one that answers what three of the commonly cited ships were doing at the time this supposedly occurred. 

The Navy's take on this crazy bit of faxlore is contained in the following 1996 newspaper article:
The source of that story, which the Navy swears is untrue, is not known. It's a joke that has been floating around for at least 10 years, and maybe 30 to 40 years. Some think it originated in a humor column in Reader's Digest. Nobody knows for sure.

But for the past four months the story of the ship and the lighthouse has been passed along, as gospel, by comedy talk-show hosts, lazy newspaper columnists and clueless cyberspace jockies until it has taken on an air of the apocryphal. It clings to Navy lore like that old captain from "The Rime of the Ancient Mariner." And, like Coleridge's haunted captain, the Navy is having a real tough time getting this albatross off its neck.

This week the story was repeated by The New York Times News Service, quoting a Canadian newspaper. Last week it was read to a global radio audience on Michael Feldman's popular Whad'ya Know? program on Public Radio International. Earlier, the same network's Car Talk program aired the tale.

In the story's current form, the ship is identified as the carrier Enterprise. In the past it involved a battleship. A version that arrived via e-mail in Norfolk
from the U.S. Air Force Academy identified it as the "aircraft carrier Missouri." There is no such carrier. The Missouri is a retired battleship.

Various versions carry little embellishments. An amateur-radio buff communicating via the Internet said it happened in Puget Sound. A columnist in the Montreal Gazette said it happened last fall off the coast of Newfoundland. A columnist in North Carolina quoted a local man as saying it happened off the Carolinas.

"It's a totally bogus story, but over the last four months we've gotten at least 12, maybe 18 calls from different media sources trying to confirm that," said Cmdr. Kevin Wensing, an Atlantic Fleet spokesman in Norfolk. "Unfortunately, some of them don't check it out. They just repeat it.

"The first time I heard of it was — oh, let's see, how long — about 10 years ago or so, I think. "That story's so old," Wensing said, "it probably started out back in the galleon days, or back when there was a big lighthouse at Alexandria, Egypt."

Dutifully, when all those reports about the carrier Enterprise began to surface, the Navy had to follow procedures and check it out.

"Yes, we talked to the Enterprise," Wensing said. "It was like, "We've heard this story and we're pretty sure that it's without basis ... And their reaction was, 'What? You can't be serious.'"

For the record, Adm. Mike Boorda, the chief of naval operations, released no such transcript on Oct. 10. Or any other time, said Cmdr. John Carman, a spokesman for the admiral. "It's a joke," Carman said, chuckling in disbelief. "And not only that, I've been told it's a real old joke. Like 30 to 40 years ago, that old."

Of the many flaws in the recent version, the most glaring is that there is no longer a radio crew — or any crew, for that matter — on any lighthouse on the U.S. coastline. The last one was automated 10 years ago, said Lt. j.g. Ed Westfall, the lighthouse program manager for the U.S. Coast Guard's Fifth District, based in Portsmouth.

Westfall said he, too, had heard the story for years, but he had a different understanding of its origin.

"I always thought," he said, "it was just something one of us Coasties had made up to poke fun at the Navy."
In March 2008, Mike McConnell, the Director of National Intelligence in the U.S., opened his remarks to The Johns Hopkins University's Foreign Affairs Symposium with the lighthouse story, claiming, "Now this is ... true. I was in the signals intelligence business where you listen to the people talk and so on. This is true. It's an actual recording." 

For our closure, it would be nice to present a short clip regarding this. Have another nice sip of entertainment!
More stuff to read here

photo credit
Lanjutkan baca »

Kamis, 04 September 2014

Article#339 - A Fearsome Police (Badge)

A DEA* officer had just stopped at a ranch in Texas, after learning that some of the ranchers are possibly trying to cultivate illegal drugs within their ranch area.
He approaches an old rancher, and talked to him.
He tells the rancher, "I need to inspect your ranch for illegally grown drugs."
The rancher says, "Okay, do as you wish. But do not go in that field over there," as he points out the location.

The DEA officer seems to be terribly sensitive to prohibition.
He verbally explodes saying, "DEAR SIR, I HAVE THE AUTHORITY OF THE FEDERAL GOVERNMENT WITH ME!"
Reaching into his rear pants pocket, he removes his badge and proudly shoves it to the rancher.
"See this badge? SEE? This badge means I am allowed to go wherever I wish! On any land! No questions asked or answers given! Have I made myself clear? Do you understand?"
The rancher definitely does not need more shouts, as he nods politely, apologizes, and goes about the officer's chores.

A short time later, the old rancher hears loud screams and sees the DEA officer running for his life chased by the rancher's big Santa Gertrudis
With every step the bull is gaining ground on the officer, and it seems likely that he'll get gored before he reaches safety. The officer is clearly terrified.
"HELP MEE!!"
The rancher throws down his tools, runs to the fence and yells at the top of his lungs.....

"YOUR BADGE... SHOW IT YOUR FRICKIN' BADGE!!"

*DEA = Drug Enforcement Administration, a US law enforcement agency concerning on drug smuggling, usage and investigation related to US.
Lanjutkan baca »

Minggu, 31 Agustus 2014

Article#337 - Banker's Guide to a Gold Digger

STRATEGY •  • 



This banter may be one of the funniest things we have encountered in a while. An extensively proliferated internet rumor details the story of a young woman who posted a provocative subject on a popular forum entitled, “What should I do to marry a rich guy?”
Within her post she allegedly detailed her troubles of finding a rich man as well as letting everyone know exactly what she is looking for. To make the story even better a “banker from J.P. Morgan” responded with one of the funniest retorts we have ever seen.
The story is fictional, but it is highly probable that he would be an Elite Daily reader if it were real from the tone of his response.

Here is what she wrote:


Title: “What should I do to marry a rich guy?”
I’m going to be honest of what I’m going to say here. I’m 25 this year. I’m very pretty, have style and good taste. I wish to marry a guy with $500k annual salary or above. You might say that I’m greedy, but an annual salary of $1M is considered only as middle class in New York.

My requirement is not high. Is there anyone in this forum who has an income of $500k annual salary? Are you all married? I wanted to ask: what should I do to marry rich persons like you? Among those I’ve dated, the richest is $250k annual income, and it seems that this is my upper limit. If someone is going to move into high cost residential area on the west of New York City Garden(?), $250k annual income is not enough.

I’m here humbly to ask a few questions:

1) Where do most rich bachelors hang out? (Please list down the names and addresses of bars, restaurant, gym)

2) Which age group should I target?

3) Why most wives of the riches are only average-looking? I’ve met a few girls who don’t have looks and are not interesting, but they are able to marry rich guys.

4) How do you decide who can be your wife, and who can only be your girlfriend? (my target now is to get married)

Signed,

Ms. Pretty

The philosophical reply from a banker at J.P. Morgan:


Dear Ms. Pretty,
I have read your post with great interest. Guess there are lots of girls out there who have similar questions like yours. Please allow me to analyse your situation as a professional investor. My annual income is more than $500k, which meets your requirement, so I hope everyone believes that I’m not wasting time here.
From the standpoint of a business person, it is a bad decision to marry you. The answer is very simple, so let me explain.
Put the details aside, what you’re trying to do is an exchange of “beauty” and “money” : Person A provides beauty, and Person B pays for it, fair and square.
However, there’s a deadly problem here, your beauty will fade, but my money will not be gone without any good reason. The fact is, my income might increase from year to year, but you can’t be prettier year after year.
Hence from the viewpoint of economics, I am an appreciation asset, and you are a depreciation asset. It’s not just normal depreciation, but exponential depreciation. If that is your only asset, your value will be much worse 10 years later.
By the terms we use in Wall Street, every trading has a position, dating with you is also a “trading position”.
If the trade value dropped we will sell it and it is not a good idea to keep it for long term – same goes with the marriage that you wanted. It might be cruel to say this, but in order to make a wiser decision any assets with great depreciation value will be sold or “leased”.
Anyone with over $500k annual income is not a fool; we would only date you, but will not marry you. I would advice that you forget looking for any clues to marry a rich guy. And by the way, you could make yourself to become a rich person with $500k annual income.This has better chance than finding a rich fool.
Hope this reply helps.

Photo credit: Bloomberg/Bloomberg via Getty Images

PRESTON WATERS

Preston Waters is a thinker. He's not your traditional philosophical persona, however, as he leaves no topic untouched. Covering all the bases, from business to women, Preston Waters is the ultimate man's man for Gen-Y.
Lanjutkan baca »

Sabtu, 19 Juli 2014

Article#320 - Ayo Pulang Kampung!

Akhir Ramadhan semakin mendekat.

Hal ini biasa berarti meningkatnya antusiasme masyarakat menyambut datangnya Idul Fitri, atau meningkatnya rasa takut kehilangan Ramadhan yang sedang bersiap berangkat. Bagi para penyedia jasa moda transportasi, mendekatnya akhir Ramadhan berarti bersiapnya mereka menuju salah satu masa tersibuk dalam dunia transportasi tiap tahunnya. Entah memanfaatkan jalan raya, rel, gelombang laut, atau aliran udara, armada transportasi akan dikerahkan dalam mengangkut jutaan orang yang hendak pulang ke kampung halaman, berbaur kembali dengan keluarganya dalam suasana hari raya. Bagi mereka yang menempuh debu panas di jalan raya, ribuan armada transportasi pribadi juga akan ikut meramaikan keadaan, bersatu sebagai satu arus mudik yang berpencar menuju tiap-tiap tujuan.

Arus mudik yang debitnya senantiasa bertumbuh tiap tahun ini pun kerap menimbulkan berita duka dari mereka yang tak berhasil mencapai tujuan. Jumlahnya yang cukup mencolok, terutama dalam jangka waktu pendek arus mudik dan balik, mungkin mengilhami Kementerian Pekerjaan Umum (KemenPU) Republik Indonesia untuk menelurkan iklan layanan masyarakat terbarunya. Iklan yang ditelurkan ini, berjudul "Ayo Mudik - Selamat Pulang Kampung" tidak sekadar menyampaikan pesan dalam nada datar, tetapi menyampaikan pesan dalam kemasan animasi dan musik yang asyik dinikmati.
Bagi yang sudah penasaran, silakan menyimak lewat jendela di bawah.

Jalan-jalan pulang kampung
Bersama dengan keluarga
Waspada di jalan selalu
Agar sehat slamat ceria
Reff:
Ingatlah
Waspada s'lalu
Silahturahmi harus berlanjut
Selamat pulang kampung
Pulang kampung harus selamat
Mengemudi dengan hati-hati
Jauhkan alat komunikasi
Cek slalu segala kondisi
Barang bawaan dibatasi
Reff
Interlude:
Jalan raya harus dijaga
Karna milik bersama
Patuhi rambu lalu lintas
Jangan lewati batas
Pilih kendaraan yang aman
Nikmati perjalanan
Jangan lupa keluarga menunggu di rumah
Pelan-pelan asal selamat
Reff (2x)
Coda:
Selamat pulang kampung
Pulang kampung harus selamat
Sebagaimana tercantum di laman indonesiakreatif.net, ilustrasi dan desain pada video digarap oleh @gustopo, dengan @kennikoop dan @arifmad_ menggarap animasi video. Jingle disusun oleh RWEBHINDA.
Chord jingle
Verse
D D/C# D D/A (2x)
D D/C# Bm A
G A D
Reff
D D/C# Bm
A G D
Bm F#m G A
D A G A Bm
G A D
Interlude
Bm F#m G D (2x) D/C#
Bm F#m G D
Bm F#m G A
Coda
D D/C# Bm G A D
Dalam perkembangan publikasi iklan layanan masyarakat terkait, beberapa pihak menyadari kemiripan gaya animasi dan musik dalam iklan dengan sebuah iklan lain yang diunggah ke situs berbagi video, YouTube, pada November 2012 lalu. Iklan terkait, dijuduli "Dumb Ways To Die", adalah iklan layanan masyarakat yang dipublikasikan oleh Metro Trains Melbourne, pengelola jalur kereta untuk lingkup kota Melbourne, Victoria, Australia.
Perbandingan tampilan pada iklan dari KemenPU
(atas), dan iklan dari Metro Trains Melbourne (bawah)
Untuk mengawali episode kemiripan yang ada, kedua video sama-sama berfungsi sebagai iklan layanan masyarakat yang menyebarkan pesan keselamatan di lingkup transportasi publik. Gaya animasi kedua video pun terlihat mirip, walaupun seiring perjalanan mengarungi video, mungkin kemiripan itu tidak lagi terlalu kentara. Ohiya, musik pengiring kedua video pun terasa cukup mirip, terutama di bagian awal. Jika berminat menganalisa kedua video, penulis telah siapkan jendela kedua untuk menonton video versi Australia, di bawah ini. Selamat menikmati.


Tanggapan penulis
Terlepas dari kemiripan yang ada antara kedua foto, menurut penulis, pengembangan pada sisi animasi dan musik pada iklan KemenPU tersebut sudah cukup bagus. Sebagai iklan dari Kementerian, di iklan juga dimuat secara tersirat capaian KemenPU, dengan jembatan Suramadu dan jalur tol Bali Mandara cukup kentara ditampilkan.
Berbagai ide ekstra yang disertakan pada animasi dan musik pengiring membantu melepaskan iklan ini dari bayang-bayang iklan Dumb Ways To Die yang lebih dulu tersohor.

Bagi penulis, iklan KemenPU ini dapat dijadikan langkah awal yang bagus untuk pertumbuhan industri kreatif dalam negeri. Berbagai kejadian akhir-akhir ini telah membantu melejitkan perhatian masyarakat akan industri kreatif, juga akan potensi kreativitas besar yang tersimpan di generasi muda saat ini. Kalau diarahkan pada penerapan yang tepat guna, saya bisa melihat masa depan industri kreatif Indonesia yang demikian cerah.
....Mari kita saksikan beberapa tahun ke depan.

Mungkin demikianlah berpatah-patah kata dari penulis.
Akhir kata; selamat pulang kampung, pulang kampung harus selamat~
(:g)
Lanjutkan baca »

Senin, 14 Juli 2014

Article#318 - Ramadhan Mubarak!

Ramadhan sudah setengah jalan!

Kenyataan yang cukup menyentak kesadaran, mungkin? Apalagi, bagi sebagian dari kita, bulan Ramadhan adalam momen yang senantiasa dinanti-nantikan setiap tahunnya. Mulai dari mahasiswa yang bahagia dengan "kewajiban" untuk mengurangi pengeluaran harian, mahasiswa yang menanti-nantikan undangan berbuka puasa dari teman-teman lama, mahasiswa yang kekurangan motivasi dalam usahanya menurunkan berat badan, atau mahasiswa yang merasa kurang bersemangat dalam beribadah kepada Tuhannya.
Kenapa mahasiswa semua contohnya? Waduh, maaf, mungkin karena saya mengetik isi tulisan ini dari sudut pandang seorang mahasiswa. Meskipun saya harap situasi yang saya jelaskan dalam tiap kasus di atas dapat dianalogikan dalam kasus-kasus lain yang mungkin kalian temukan.

Bagi lebih dari satu miliar Muslim di seluruh penjuru dunia, Ramadhan menjadi momen yang paling dinanti-nantikan, juga momen yang paling diperbincangkan. Hal ini terutama terjadi ketika orang-orang sedang menentukan awal bulan Ramadhan, yang menurut dasar hukum terkuat ditandai dengan terlihatnya bulan sabit tipis (hilal) di ufuk barat tepat setelah Matahari terbenam. (klik di sini untuk info lebih lanjut.)
Tetapi, tentu saja Ramadhan tidak terbatas di sekitar penentuan hilal. Hilal kan susah dilihat. Mungkin karena dia malu-malu melihat semut merah di dinding. Sebagaimana penulis sedikit gambarkan di atas, banyak citarasa kehidupan sosial yang bisa dicecap dengan lebih segar dan membahagiakan ketika dilangsungkan di tengah bulan Ramadhan. Tentu saja, selama semua itu dicecap setelah masuk waktu Maghrib. Kalau sebelum itu, batal atuh puasanya.

Untuk mengentalkan citarasa menarik dari bulan Ramadhan, berikut penulis persembahkan sebuah cerita, diikuti beberapa lembar meme. Selamat menikmati.

***
There were two white christian men, Adam and Jack, whose plane crashed into a desert. Luckily they survived unharmed. As they traveled through the hot desert looking for food and water, they gave up and sat down, thinking of what to do.
As the dust in the air settled, they suddenly could view a mosque ahead. They became very hopeful. But then Adam said ''Muslims are there. They might help us if we say we are muslim.'' Then Jack said ''No way, I won't say I'm muslim, I'm gonna be honest''.
So Adam and Jack went to the Mosque ahead and were greeted by an Arab Muslim, who asked what their names were.
Adam thought of a Muslim name and said, 'My name is Muhammed'. And Jack said 'My name is Jack'.
The Arab man said 'Hello Jack.' And told these other men to take Jack and give him food and drink.
Then he turned to Adam and said, 'Salaam Muhammed. Ramadan Mubarak!
(source)
sumber
Balada tarawih. sumber
Observasi ekstra. sumber
sumber
Hayoh ngapain kamuh. sumber

Hayoh. sumber
Eh ketelen. sumber
"Date", sure. sumber
Dari tolok ukur masing-masing kita, mungkin ada yang merasa Ramadhan ini telah ia lewati dengan luar biasa, dengan maksimal. Mungkin ada juga yang merasa pencapaian dalam Ramadhan ini masih sangat kurang dari apa yang ia targetkan. Yah, separuh Ramadhan di tahun 1435 Hijriah ini sudah berlalu, tetapi masih ada separuh Ramadhan lagi untuk dioptimalkan. (Re: penulis sedang menyindir diri sendiri.)
Untuk sedikit menggugah keceriaan dalam beramal dan/atau berkarya, berikut dua komik strip dari komikus Prancis, The Muslim Show. Selamat menikmati (lagi).

sumber
sumber
Di sisi lain, bulan Ramadhan kali ini juga menyimpan berbagai cerita dari sudut pandang ilmu astronomi.
Mengesampingkan segala hal yang default terkait Ramadhan, seperti fase Bulan dan hilal, mungkin penulis perlu memberitahukan bahwa sepanjang pekan ini, kita bisa memanfaatkan posisi Matahari sekitar pukul 16:18 WIB tiap sore untuk menentukan arah kiblat. Ketepatan cara ini pun cukup memadai. Sekitar tanggal 16 Juli, 16:18 WIB, Matahari akan terletak pada posisi paling baik dalam menentukan arah kiblat, karena pada saat itu, bagi pengamat di daerah Ka'bah, Matahari terlihat berada tepat di atas kepala. Sehingga posisi matahari pada waktu tersebut (dan kurang lebih 2 hari sebelum dan sesudahnya) dapat dijadikan patokan yang akurat untuk meluruskan arah kiblat kita semua. (Lebih lanjut mengenai hal ini dapat dibaca di laman berikut.)
Juga, bulan purnama Ramadhan yang (kurang lebih) menandai berlalunya setengah bulan Ramadhan beberapa waktu lalu, dilabeli sebagai purnama perigee (atau dengan istilah lebih populer, supermoon) pertama dalam tahun 2014. Pemakaian nama "purnama perigee" sendiri dimaksudkan sebagai upaya meluruskan kesalahan pemahaman masyarakat yang sering muncul ketika mendengar istilah "supermoon", berkat adanya awalan super-. (Ulasan lengkap mengenai purnama perigee bisa dibaca di laman berikut.)

Akhir kata, kita mungkin melewati hari-hari Ramadhan dengan tenang tanpa kurang suatu apa. Tetapi tidak semua orang seberuntung kita. Terutama rekan-rekan kita di Gaza, Suriah, Mesir, Afrika Tengah, Sudan dan banyak daerah lain yang terus dilanda konflik berkepanjangan. Penulis tidak akan banyak berkata-kata mengenai masalah ini, cukup diwakilkan oleh kedua gambar berikut.

sumber
sumber
Dengan demikian, usailah sudah kerjaan penulis dalam post kali ini.
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!

(:g)
Lanjutkan baca »

Kamis, 03 Juli 2014

Article#313 - Pagelaran Politik, Dagelan Penuh Rintik

Seantero Nusantara seolah bersorak semarak.
Hari itu, 9 Mei 2014. Sekitar 30 hari setelah dilangsungkannya apa yang konon disebutkan sebagai “pesta demokrasi lima tahunan”, mereka yang ikut terlibat dalam menghitungi jumlah suara akhirnya mengumumkan secara resmi hasil dari “pesta” tersebut.
Hasil yang tak terlalu membuat orang-orang ternganga, sebenarnya. Hasil yang dipublikasikan penghitung suara tak jauh berbeda dengan hasil yang digulirkan oleh para “tukang kepo” pensurvei, hanya dalam hitungan hari sejak “pesta” jilid pertama digulirkan. Sekumpulan orang “tukang kepo” ini sudah siap siaga untuk mendata persebaran suara dalam berbagai sampel di wilayah Indonesia, sehingga hasilnya sudah bisa dinikmati di berbagai media cetak dan media layar kaca dalam waktu singkat.

Puas dengan penyajian data persebaran suara hasil “pesta” jilid awal, jutaan kepala di seluruh penjuru Indonesia justru makin mencandu berita. Mata kepala mereka seolah tak lagi melepaskan perhatian dari berita-berita suguhan media massa. Mulai dari yang paling netral seperti hasil liga sepakbola di negeri seberang lautan, hingga yang paling timpang seperti hasil liga sepakbola punya negeri sendiri. (eh) Berita juga bervariasi dari yang membicarakan berbagai harga barang yang naik, hingga tentu saja, membicarakan petinggi-petinggi “simbol” yang sebelumnya “berlaga” dalam “pesta”. Dengan takzim, jutaan pasang mata menyaksikan, mengamati. Mengamati bagaimana para petinggi saling sikut, saling tubruk, saling membujuk, saling ikut-ikut. Mencari-cari sebuah “tujuan bersama” yang konon menjadi untai retorika butut. Mungkin, sebuah konsekuensi dari sistem yang kusut nan acakadut.

Tak butuh lama untuk menerka, mana saja figur-figur yang akan dijadikan produk unggulan dalam memperebutkan kemenangan dalam “pesta” jilid kedua. Sudah ada dua figur yang dijadikan maskot untuk menggalang suara dari segala arah, bahkan sebelum “pesta” jilid pertama digulirkan. Oleh karenanya, perhatian sebagian orang kemudian beralih ke pergerakan “simbol” sang penguasa bertahan. Pak Beye, sang penguasa, konon berencana menyertakan “simbolnya” untuk ikut serta dalam percaturan produk unggulan dalam negeri di “pesta” jilid kedua. Namun, karena berbagai hal, seperti “simbol” lain yang terus menguumpalkan diri masing-masing ke dua figur yang telah beredar, dan mungkin karena sang penguasa sudah lelah, niatan mengusung “produk tengah” yang sebelumnya gencar pun kemudian diurungkan. (Baru-baru ini kubu Pak Beye merapat ke salah satu kubu.) Akhirnya, pada 1 Juni, disahkanlah kedua pasang figur untuk menjajakan diri, bertarung merebut hati sekian ratus juta orang yang akan menjadi tanggung jawab utama dalam tampuk kepimpinan mereka kelak.

Kini, tujuan bagi kedua kubu pendukung sang figur, sebut saja figur P dan W, adalah memastikan figur yang ia usung tersebut akan mengambil hati banyak orang. Tentu saja, suara dukungan orang-orang akan menguntungkan kubu mereka dalam perputaran “pesta” jilid kedua nanti. Dengan waktu hanya 35 hari, kedua kubu yang telah menyiapkan ahli strategi masing-masing pun memulai perburuan suara.
Jika di negeri Holiwud sana ada “The Hunger Games”, mungkin tak salah jika menjuluki yang berlangsung di Nusantara kali ini, dengan julukan “The Voter Games”.

Sebagai figur yang mempertunjukkan dirinya pada publik sebagai kandidat dalam “pesta” jilid kedua, baik figur W ataupun figur P sudah mempersiapkan dirinya menghadapi berbagai macam reaksi dari masyarakat. Reaksi yang kedua figur ini (juga oleh kubu pendukungnya) coba arahkan supaya mendukung dan ikut menyebarluaskan kelebihan sang figur sebagai pemimpin negeri Indonesia yang luas dan beraneka cita rasa.
Sebuah kemewahan era masa kini bernama internet telah terbukti andal dalam menyebarkan rekam jejak kedua figur yang bak bertatahkan perbuatan dan batuan mulia. Dengan dosis kampanye yang bertubi-tubi, perlahan warga mulai merapatkan barisan ke kedua arah. Ada yang merasa figur junjungannya berwibawa dalam bicara, tegas dalam tindakan, dan mampu mengenyahkan wajah-wajah korup dai pemerintahan. (Konon foto si figur pun bagus ketika dijadikan perangkap tikus.) Ada juga yang merasa figur junjungannya merakyat, tidak meninggikan diri, dan beraksi dengan tulus sebagaimana mesin ATM meloloskan fulus.

Sebagaimana bisa diduga, tak butuh lama bagi warga melek internet seantero Indonesia untuk mulai mendapatkan akses menuju liputan berisi catatan-catatan tentang figur. Catatan yang selama ini tak tercakup dalam introduksi kedua figur. Dari pujian paling bernoda gula-gula, hingga cerca bertabur noda-noda, kedua figur seolah punya jatahnya masing-masing. Jatah yang selama ini seolah tersembunyi di balik lipatan naskah rekam jejak mereka yang mentereng.
Bagai anak-anak yang baru menemukan hal baru, dengan semangat mereka memperkenalkan ke seluruh penjuru dunia akan apa saja yang baru saja ditemuinya. Dengan bangga, penuh semangat berbagi pengetahuan. Toh saya tidak menulisnya, hanya membagikan.

sumber
Bagai jamur tumbuh di musim jamur, berbagai jenis tulisan mengenai kedua figur pun beredar luas di seantero dunia maya. Kalau yang dibagikan berita bagus, mungkin tidak masalah. Sayangnya, konon tulisan-tulisan yang disebarkan itu tidak terjamin kualitasnya. Tidak perlu langsung membiarakan kecenderungan isi tulisan yang menjatuhkan satu kubu dan/atau mengangkat kubu lain. Tulisan-tulisan tersebut saja seringkali murni membicarakan opini sang penulis, tidak memberikan penjelasan yang konkret, atau bahkan asal mencatut fakta.
Tulisan-tulisan sejenis ini kemudian dikumpulkan dalam satu kategori, yang kemudian menjadi akrab di telinga jutaan warga Indonesia dengan menghangatnya suasana menjelang “pesta”. Black campaign, atau dalam bahasa Indonesia disebut kampanye hitam. Selama penyampaian tulisan bernada menyerang salah satu kubu dengan tuduhan, label "kampanye hitam" akan senantiasa melekat padanya. Ada juga istilah negative campaign alias kampanye negatif, yang intinya membeberkan kekurangan salah satu figur, tetapi berdasarkan data dan fakta yang ditemukan. Yaa, pada prakteknya sih, banyak yang mengategorikan kedua jenis ini berdasarkan satu hal sederhana: apakah ia suka dengan isi beritanya.

sumber
Kosakata yang baru bagi sebagian penikmat media ini pun dengan cepat menjadi istilah populer dalam menyikapi berbagai tulisan yang berseliweran di media-media dunia maya. Cakupannya pun menjadi demikian luas, mulai dari opini yang dituangkan, publikasi media online yang diselewengkan, data-data yang dibelokkan, isu-isu yang dihembuskan.
Maka dimulailah sekian banyak "pertarungan" antar warga. Yang satu mendukung kubu W, satunya mendukung kubu P, saling serang pendapat, ricuh. Ada yang membagikan kampanye hitam, tidak mau mendengarkan nasihat orang lain, ricuh. Ada yang sedemikian ngefans akan salah satu kubu,
dan menutup mata ketika dibeberkan kekurangan sang idola, marah, sebel. Dan entah berapa banyak contoh lagi yang bisa diambil dari seluruh penjuru negeri.
Hingga akhirnya ada pihak yang memutuskan pengedaran karyanya berikut, sebagai perwujudan dari sikap yang tidak menginginkan "pertarungan" di segala arah. Walaupun isinya jadi terasa seperti seseorang yang merindukan mantan. Mantan yang memutuskan hubungan akibat perbedaan pandangan politik.

sumber
Untungnya, dari sekian banyak berita negatif ataupun hitam yang menghiasi panca indera warga, beberapa pihak lain juga memutuskan untuk menggelar lapak bagi sisi lain kampanye: kampanye kreatif. Beberapa pemilik akun YouTube, seperti CameoProject dan Eka Gustiwana, mengunggah berbagai video yang membahas berbagai sisi seputar figur, baik sisi kampanye gelap, ataupun sisi keisengan. Jika kau mengunjungi fanspage resmi masing-masing figur pun, akan kautemui berbagai bentuk kampanye versi kubu masing-masing, sesekali diselingi ilustrasi program kerja yang mereka canangkan. Sebagian pendukung dari masing-masing kubu juga memutuskan untuk menyusun jargon kampanye dalam lagu gubahan masing-masing. (Meskipun aransemen jargon terkait memanfaatkan aransemen lagu yang sudah lebih dulu populer, bahkan sempat menimbulkan permasalahan hak cipta.)

Tetapi, sepanjang pengamatan penulis yang nyaris tidak bersentuhan secara langsung dengan berbagai macam kampanye yang ada, bentuk kampanye yang paling mudah diamati adalah orang-orang yang menempeli foto profilnya di media sosial. Tempelan yang dinamai "twibbon" ini (ada yang tahu asbabun nuzul dari istilah ini?) sebenarnya sudah sejak lama beredar, biasa digunakan sebagai bukti dukungan atas suatu kegiatan/program. Kelebihan twibbon dalam hal ini adalah menandai diri orang yang memasangnya sebagai pendukung dari apa-apa yang ia pasang di foto profilnya. Mereka para tukang kampanye pun dengan senang hati ikut membuat twibbon, dan menyebarluaskannya dengan bantuan jejaring sosial yang demikian padat.

Contoh twibbon yang dipakai dalam kampanye kali ini. sumber
Cara ini terbukti sukses, dengan membanjirnya orang-orang yang menempelkan twibbon ini di foto profilnya masing-masing. Sedikit keliling di akun media sosialmu mungkin akan memberitahukan, seberapa banyak garuda merah atau angka 2 yang beredar di segala arah. (Iya, asas "LUBER" dari "LUBER JURDIL" mungkin sudah berganti makna menjadi "Tumpah".)
Dan tentu saja, orang Indonesia termasuk orang paling kreatif dalam urusan mengakali sesuatu, dari yang tidak (perlu) serius macam kampanye, sampai yang serius macam mengakali celah-celah dalam hukum. Urusan twibbon ini pun tidak lepas dari hal yang diakali oleh otak-otak kreatif negeri.
Berikut beberapa contohnya.

Karena tidak semua orang dengan yakin memilih salah satu kubu.
Dibuat oleh M. Dio Danarianto.
Foto profil Twitter @FadliMH
Foto profil Facebook milik Iskandar Zulkarnain, salah satu Taplok
pada OSKM ITB 2013
Foto profil Twitter @QDJY
Karena 1 ditambah 2 sama dengan 3.
Foto profil laman The Real Suara Rumput Liar
(Jangan protes, yang satu ini diunggah pada 17 Juni lalu)
...dan aku benci... mencantumkan sumber.. (eh)
Saya juga tak paham, kenapa pesepakbola yang satu ini ikut terlibat.
sumber ada di sini
Foto profil Facebook milik Anas Zakaria
Foto profil Facebook milik Umar Hanif Al Faruqy,
dalam rangka 101 tahun Hari Purbakala Indonesia.
Foto profil Twitter @yeahmahasiswa.
Tuh, kuliah empat tahun ajah, yah.
Foto profil Facebook milik Diaz Jubairy
Kampanye bersepeda di sisi kiri jalan.
Foto profil Facebook milik Adam Badra Cahaya.
Oke sip, Jik.
Foto diunggah di laman Tumblr milik Aji Resindra Widya
alias resindraburiza (?)
Foto profil Twitter @victorkamang
Sabar ya Pak. Nyonya Suharti aja berdiri entah udah berapa puluh tahun.
Bagaimana dengan penulis? Jika penulis harus menempatkan posisinya di sini, maka inilah yang akan penulis usung.

Apa maksudnya Berani Beda? Silakan klik laman ini saja.
.....
Waktu menunjukkan tinggal kurang dari sepekan lagi menuju pagelaran "pesta" jilid kedua. Sebagian dari kalian mungkin akan berharap kubu P yang menang, sebagian yang lain akan berharap kubu W yang menang. Harapan muluk penulis beserta banyak yang lain, mungkin adalah harapan supaya hasil dari "pesta" jilid kedua ini bisa diterima oleh semua pihak dengan baik. Dan, ketika kontestan yang terpilih dalam "pesta" menerima mandat untuk menduduki tahta istana, semua atribut pertikaian yang sebelumnya digadang-gadang  hendaknya dilepaskan. Bagi mereka yang memutus ikatan pertemanan, baik di dunia nyata atau media sosial, hendaknya akur kembali. Bagi mereka yang memutuskan hubungan romansa, hendaknya bersatu lagi, atau lebih baik lagi jika disahkan oleh hukum negeri. Dan, tak peduli siapa kawan, siapa lawan dulu di masa kampanye, semoga semua mendukung usaha memperbaiki keadaan. (Maaf klise)

Mungkin saya perlu mengutip kumpulan nasihat berikut.
● Berhentilah menuntut ilmu, karena ilmu tidak bersalah.
● Jangan membalas budi karena belum tentu Budi yang melakukannya.
● Jangan mengarungi lautan, karena karung lebih cocok untuk beras.
● Berhenti juga menimba ilmu, karena ilmu tidak ada di dalam sumur.
● Jangan lupa daratan, karena kalau lupa daratan akan tinggal dimana?
● Jangan ngurusin orang karena belum tentu orang itu pengen kurus.
● Dan janganlah bangga menjadi atasan. Karena di Pasar Baru atasan 10 rb dapat 3

(sumber)
Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat, dan tidak garing seperti kain yang dijemur di beranda.
Salam lemper!

Bonus
Kabar gembira bagi kita semua...?
Perwujudan kedua figur kandidat sebagai Pusheen.
Hasil karya @gunawanrudy

Tidak perlu dijelaskan lagi, ya.
sumber gambar
sumber

(Tulisan ini adalah hasil kerjasama penulis dengan M. Dio Danarianto dan David Orlando Kurniawan)
Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...