Rabu, 02 Juli 2014

Article#312 - Kutipan Hari Ini

"The trouble with too many people is they believe the realm of truth always lies within their vision."

~a quote cited by some to be attributed to Abraham Lincoln (1809-1865), American politician and also former 16th president of the US. Quoted on Monday, 30th June, 2014, 13:32 (UT+9)

photo credit

Lanjutkan baca »

Senin, 30 Juni 2014

Article#311 - Awal Yang Berbeda

Bulan Ramadhan 1435 H telah tiba.
Sebagai bulan terpenting dalam kalender Islam, Ramadhan termasuk dalam momen yang paling penting untuk ditandai kedatangannya di Indonesia, sebagai negara berpenduduk muslim nomor satu di dunia. Pergantian bulan dalam kalender Islam, yang ditandai dengan peredaran Bulan, kerap kali menimbulkan polemik antar organisasi besar Islam di Indonesia, dikarenakan perbedaan standar dalam menentukan pergantian awal bulan. Polemik yang senantiasa menghangat tiap datangnya (dan juga perginya) bulan Ramadhan. (Mengingat dalam bulan Ramadhan ada kewajiban berpuasa bagi umat muslim, tentu saja penentuan awal dan akhirnya harus sungguh-sungguh.)

Mengapa polemik seperti ini terus terjadi?
Untuk memahami lebih lanjut, sila simak tulisan berikut. Selamat mempelajari.

Foto bulan sabit tipis (hilal) yang dipotret dari wilayah Makassar, sebagai tanda datangnya
Ramadhan 1434 H. Dipotret pada 9 Juli 2013.
sumber



Posisi Bulan dan Ramadhan 1435 H yang (Bakal) Diawali Berbeda


Oleh: M. Ma'rufin Sudibyo
Bagian pertama dari lima tulisan
Bulan suci Ramadhan 1435 H tinggal berbilang hari. Sebagian besar Umat Islam di Indonesia pun sedang bersiap menyambutnya. Dan seperti yang sudah-sudah, perkara penentuan awal bulan kalender Hijriyyah pada umumnya dan awal Ramadhan/dua hari raya pun kembali mengemuka. Layaknya tahun silam, potensi (kembali) berbedanya Umat Islam Indonesia dalam memulai ibadah puasa Ramadhan di tahun 1435 H kali ini pun sangat terbuka.
Pada satu sisi, PP Muhammadiyah telah mengumumkan bahwa bagi mereka 1 Ramadhan 1435 H bertepatan dengan Sabtu 28 Juni 2014. Atas dasar prinsip naklul wujud (harfiahnya peminjaman status wujudul hilaal), yang pada galibnya setara dengan konsep wilayatul hukmi, maka seluruh wilayah Indonesia dianggap telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sementara di sisi yang lain, meski masih menanti hasil sidang itsbat penetapan awal Ramadhan 1435 H yang salah satunya mengagendakan mendengarkan laporan-laporan observasi hilaal dari seluruh penjuru negeri, namun hampir pasti Menteri Agama bakal memutuskan bahwa 1 Ramadhan 1435 H bertepatan dengan Minggu 29 Juni 2014 jika mengacu pada kesepakatan selama ini, kecuali jika menggunakan pendekatan lain yang sama sekali baru.
Di waktu yang telah berlalu, urusan perbedaan dalam mengawali puasa Ramadhan maupun dalam berhari raya telah menyebabkan internal Umat Islam Indonesia bagaikan saling sikut dan sodok. Bagaimana dengan tahun ini? Menteri Agama yang baru memang telah memutuskan bahwa sidang itsbat penetapan awal Ramadhan 1435 H adalah sidang yang tertutup bagi akses media terkecuali pada saat konferensi pers penyampaian hasil sidang. Nampaknya sikap ini diambil untuk menghindari keriuhan yang tak perlu sepanjang Ramadhan seperti yang sudah-sudah. Namun di sisi lain ada juga yang berpendapat sikap demikian sebagai keputusan politis terkait suksesi kepemimpinan nasional dalam pilpres 9 Juli 2014 mendatang. Kali ini partai pak Menteri berada dalam satu kubu yang sama dengan partai yang menjadi saluran politik (tak-resmi) sebagian eksponen pengguna “kriteria” wujudul hilaal. Sehingga friksi di antara sesama eksponen koalisi perlu diredam, terlebih di tengah persaingan elektabilitas antar capres yang semakin ketat. Sebab harus diakui, meski sebagian kecil kita menganggap urusan perbedaan awal Ramadhan dan hari raya ibarat kaset bernada serupa yang hanya diputar berulang-ulang, namun di kalangan akar rumput masalah perbedaan ini jauh lebih menonjol dan mengemuka dibanding isu panas seperti korupsi sekalipun. Ya, perbedaan dalam mengawali bulan suci Ramadhan maupun hari raya dengan mudah menjadi bagian dalam mengidentifikasi antara “kita” dan “mereka.”
Posisi Bulan
Bagaimana sesungguhnya posisi Bulan pada Jumat senja 27 Juni 2014 sehingga potensi perbedaan awal Ramadhan 1435 H di Indonesia demikian terbuka lebar ?
Salah satu parameter penting bagi penentuan awal bulan kalender Hijriyyah adalah konjungsi Bulan-Matahari (ijtima’). Peristiwa konjungsi Bulan dan Matahari pada hakikatnya adalah peristiwa dimana pusat cakram Matahari tepat berada dalam satu garis bujur ekliptika yang sama dengan pusat cakram Bulan ditinjau dari titik referensi tertentu. Dalam peristiwa ini Bulan bisa saja seakan-akan ‘menindih’ Matahari dalam situasi khusus yang kita kenal sebagai Gerhana Matahari. Namun yang sering dijumpai adalah Bulan berjarak terhadap Matahari sehingga antara Matahari dan Bulan hanyalah berada dalam satu garis lurus. Garis lurus ini tidak harus mendatar (horizontal) ataupun tegak (vertikal). Di Indonesia, konjungsi Bulan dan Matahari lebih sering terjadi saat kedua raksasa langit tersebut terletak pada satu garis lurus yang relatif miring terhadap cakrawala (horizon).
Gambar 1. Posisi Bulan dan Matahari pada saat terjadi konjungsi geosentris Bulan-Matahari 27 Juni 2014 pukul 15:09 WIB, ditinjau dari pantai Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Garis putus-putus menandakan garis bujur ekliptika yang pada saat itu ditempati baik oleh Bulan maupun Matahari. Sumber: Sudibyo, 2014.
Gambar 1. Posisi Bulan dan Matahari pada saat terjadi konjungsi geosentris Bulan-Matahari 27 Juni 2014 pukul 15:09 WIB, ditinjau dari pantai Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Garis putus-putus menandakan garis bujur ekliptika yang pada saat itu ditempati baik oleh Bulan maupun Matahari. Sumber: Sudibyo, 2014.
Dengan menggunakan sistem perhitungan (sistem hisab) ELP 2000-82 diketahui bahwa jika ditinjau dari titik pusat Bumi (geosentrik), konjungsi Bulan dan Matahari akan terjadi pada Jumat 27 Juni 2014 pukul 15:09 WIB. Sebaliknya bila ditinjau dari titik-titik di permukaan Bumi (toposentrik), konjungsi baru akan terjadi dalam rentang waktu antara pukul 16:56 WIB (bagi kota Medan) hingga pukul 17:03 WIB (bagi kota Jakarta). Konjungsi toposentrik sejatinya lebih realistis, mengingat segenap umat manusia hidup di permukaan Bumi. Namun ia kalah populer, sehingga yang dijadikan patokan dalam perhitungan ilmu falak adalah konjungsi geosentrik.
Konjungsi geosentrik Bulan-Matahari menentukan elemen umur Bulan, yakni selang waktu antara saat konjungsi (geosentrik) terjadi hingga saat Matahari terbenam di masing-masing titik pada satu negara tertentu. Di Indonesia, pada 27 Juni 2014 senja umur Bulan bervariasi antara +0,52 jam yang terjadi di Jayapura (Papua) hingga +3,78 jam di Lhoknga (Aceh).
Gambar 2. Peta umur Bulan di Indonesia pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.
Gambar 2. Peta umur Bulan di Indonesia pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.
Parameter lainnya yang tak kalah pentingnya adalah tinggi Bulan, yakni tinggi pusat cakram Bulan terhadap garis cakrawala pada saat Matahari terbenam. Di Indonesia, pada saat yang sama tinggi Bulan bervariasi antara -0,83 derajat di Jayapura (Papua) hingga +0,16 derajat di Pelabuhan Ratu (Jawa Barat). Meskipun menjadi titik terbarat di Indonesia, namun geometri posisi Bulan dan Matahari saat ini menyebabkan tinggi Bulan di Lhoknga justru bernilai negatif, yakni hanya -0,17 derajat. Tinggi Bulan bernilai negatif menunjukkan Bulan telah lebih dulu terbenam pada saat Matahari tepat terbenam sepenuhnya.
Gambar 3. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.
Gambar 3. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada Jumat senja 27 Juni 2014. Sumber: Sudibyo, 2014.
Dan parameter berikutnya yang juga menentukan adalah elongasi Bulan, yakni jarak sudut antara titik pusat cakram Bulan dan Matahari pada saat Matahari terbenam. Pada saat tersebut, elongasi Bulan di Indonesia bernilai antara 4,6 derajat di pulau Rote (NTT) hingga 4,99 derajat di pulau Sabang (Aceh).
Bagaimana cara membaca data-data ini sehingga kita bisa mengetahui bahwa secara teknis awal Ramadhan 1435 H di Indonesia hampir pasti bakal berbeda?
Untuk itu kita harus melihat dinamika Umat Islam Indonesia masa kini. Dari 240 juta penduduk Indonesia, mayoritas adalah Umat Islam dan sekitar 60 juta diantaranya terdaftar sebagai anggota dua ormas Islam terbesar, masing-masing Nahdlatul ‘Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Belum lagi yang tak terdaftar namun bersimpati pada salah satu dari keduanya. Kedua ormas ini memiliki cara berbeda dalam menentukan awal bulan kalender Hijriyyah. Sehingga perbedaan hasil penentuan awal bulan kalender Hijriyyah di antara mereka akan berimbas pada perbedaan di kalangan Umat Islam di Indonesia.
Bagi NU, awal bulan kalender Hijriyyah hanya bisa ditentukan dengan cara rukyat(observasi) hilaal, sementara hisab (perhitungan ilmu falak) hanya dijadikan sebagai faktor pendukung rukyat. Bagi NU, saat rukyat tidak berhasil mendeteksi hilaal atas sebab apapun maka harus dilakukan istikmal, yakni penggenapan bulan kalender Hijriyyah yang telah berjalan menjadi 30 hari. Semenjak beberapa tahun terakhir NU mencoba konsisten untuk melakukan rukyat hilaal pada setiap awal bulan kalender Hijriyyah, tak semata pada awal Ramadhan dan hari raya saja. Seiring beragamnya sistem hisab yang beredar di tubuh NU dengan hasil yang sangat bervariasi pula, maka ormas ini memiliki parameter sendiri untuk menentukan apakah hasil rukyat bisa diterima ataukah tidak. Parameter tersebut adalah “kriteria” Imkan Rukyat yang diformulasikan Kementerian Agama RI, khususnya pada faktor tinggi Bulan minimal dalam sistem hisab kontemporer. “Kriteria” Imkan Rukyat itu sendiri, khususnya bentuk revisi 2011, adalah sebagai berikut :
rmd1435_IRSebaliknya bagi Muhammadiyah, awal bulan kalender Hijriyyah cukup ditentukan dengan cara hisab tanpa perlu melakukan rukyat. Kriteria yang digunakan adalah “kriteria” wujudul hilaal, yang pada saat ini memiliki formulasi sebagai berikut :
rmd1435_WHMaka dengan mudah dapat dilihat bahwa pada Jumat senja 27 Juni 2014, sebagian wilayah Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal karena memiliki tinggi Bulan positif (lebih besar dari nol). Sehingga dengan mengaplikasikan prinsip naklul wujud, maka 1 Ramadhan 1435 H bagi Muhammadiyah bertepatan dengan Sabtu 28 Juni 2014. Sebaliknya pada Jumat senja 27 Juni 2014 itu tak satupun lokasi di Indonesia yang memenuhi “kriteria” Imkan Rukyat karena tak ada yang memiliki tinggi Bulan lebih dari atau sama dengan +2,25 derajat. Sehingga, tanpa mendului apa yang akan terjadi padarukyat hilaal, bulan Sya’ban 1435 H akan digenapkan menjadi 30 hari dan 1 Ramadhan 1435 H bakal bertepatan dengan Minggu 29 Juni 2014. Inilah potensi perbedaan itu.
Referensi :
Sudibyo. 2013. Ramadhan 1435 H (2014), Kertas Kerja dalam Temu Kerja Nasional Hisab Rukyat 2013. Batam (Kepulauan Riau), Juni 2013.
Lanjutkan baca »

Kamis, 26 Juni 2014

Article#310 - Zaman Yang Berubah (2)

....
Melanjutkan penahbisan bulan Juni kali ini bulan bagi tulisan nostalgia, penulis akan kembali menyampaikan berbagai kupas cerita beraroma nostalgia. Semoga pembaca sekalian tidak jenuh, ya.
Cukup sekian prolognya. Selamat menikmati.

NB: Jika berminat, bisa membaca tulisan Zaman Yang Berubah (1) pada tautan yang tersedia.

*****
Zaman berubah. Tentu saja, zaman berubah, siapa pula yang akan membantah?
Kita mungkin tak saksikan, bagaimana generasi kakek-nenek kita dahulu berjuang dalam menempuh pendidikan yang mungkin tak kita rasakan, mengguratkan perjuangan yang mungkin tak kita kuatkan. Kita mungkin juga tak saksikan, bagaimana generasi ayah-ibu kita, berinteraksi dalam keseharian yang tak kita kenali, beranjak dalam keterbatasan yang tak kita rasai. Toh pada kenyataannya kita tetap tak menyangsikan ada perubahan.

Ada perubahan pada pepohonan yang ranting-rantingnya makin bercabang, batang-batangnya makin kokoh, daun-daunnya makin luas. Ada perubahan pada mobil tua yang dibiarkan di parkiran entah sejak kapan, dengan cat yang terus mengelupas, dengan karat yang terus membuas. Ada perubahan pada wajah-wajah lama dalam ingatan, dengan sinar mata yang tak lagi tajam, detail kulit yang tak lagi lembut. Ada perubahan yang menimbulkan perbedaan. Tanpa perlu menilik contoh-contoh ekstrem yang bertebaran kisahnya di sekeliling, ada juga perubahan yang menyelinap masuk dalam citraan paling sederhana. Perlahan menyebar, nyaris tanpa terasa indera. Tanpa disadari, apa yang lazim dikenali di masa lalu, kini menjadi objek yang asing. Perubahan yang hanya terasa kita melihat ke belakang, dan membandingkan.

.....
Jika kau sesekali berkelana di dunia maya, mungkin di beberapa kau akan menemukan situs-situs tempat di mana orang dengan bebas bercengkerama. Mereka berkumpul begitu saja, tanpa peduli sekat negara, usia, atau bahasa — mengingat hampir semua dari mereka berbicara dengan bahasa Inggris. Sesekali muncul sekelompok orang yang berbicara dengan bahasa ibu mereka sendiri, namun biasanya orang-orang tersebut akan diomeli karena "sok ekslusif". Di kesempatan lain, mereka akan mendapat ejekan dari orang lain yang asal mengutip ungkapan dalam bahasa mereka. Sekumpulan orang dipergoki asyik berbahasa Prancis, maka keluarlah kutipan Dexter yang terkenal (walaupun konon salah secara gramatikal), "omelette du fromage". Temukan sekumpulan orang asyik berbahasa Jerman, maka tinggal menunggu waktu saja sampai ada yang mengeluarkan lelucon berbau Hitler dan NAZI. Temukan sekumpulan orang asyik berbahasa Rusia, maka akan keluar lelucon terkait sang presiden, Putin. Juga, tentu saja, tentang vodka. Temukan sekumpulan orang asyik berbahasa Arab, tebak lelucon jenis apa yang akan muncul? Tentu saja, lelucon berbau minyak, bom atau terorisme.

Stereotip-stereotip semacam ini seolah telah menjadi santapan yang lumrah dikonsumsi oleh mereka yang rajin berkelana di belantara dunia maya. Stereotip yang seringkali tak mengenal batas-batas norma, ataupun peduli lelucon seperti apa. Menilik kenyataan yang mengherankan ini, terkadang mereka yang masih hijau demikian cepatnya tersulut emosi dan mengeluarkan alinea demi alinea bantahan tanpa ampun. Bantahan yang seringkali memicu sebuah (atau bahkan lebih!) debat kusir tanpa akhir, yang tetap saja direspon dengan semangat berapi-api oleh para pemula. Mereka yang lebih gaek dalam kancah pertarungan di dunia maya biasanya hanya akan duduk santai, menonton pertarungan, membaca skrip pertarungan, atau yang paling lumrah, menertawakannya.
Sebuah frase yang sering digunakan dalam waktu-waktu sejenis itu, termasuk oleh penulis (yang merasa dirinya sudah cukup gaek berpetualang di belantara internet). Grab some popcorn.

Ketika para pemula, ataupun orang yang tidak terbiasa dengan belantara dunia maya (apa bedanya?) ini melihat komentar yang menertawakan dan menghujat dengan begitu ringannya, mereka mungkin menyangka belantara internet sebagai sebuah dunia maya tanpa tata krama, di mana orang-orang sudah mematikan sentuhan moral dalam masing-masing jiwanya. Mungkin yang ada di pikiran mereka yang berkobar dengan semangat idealismenya itu, "Bagaimana mungkin orang-orang bisa se-tak acuh ini? I have lost faith in humanity,"
Akan tetapi, sekejam-kejamnya belantara internet yang biadab, mereka masih punya tata krama. Tata krama yang sangat terbatas, dan ditentukan oleh mayoritas orang yang beredar.

Tentunya kalian semua akan mafhum, jika orang-orang yang sanggup menghabiskan waktunya sedemikian lama berselancar di belantara dunia maya, adalah orang-orang yang hidupnya terlalu didominasi waktu luang. Entah mereka pelajar yang sedang libur panjang, para karyawan yang memenatkan diri dalam rutinitas hariannya, atau orang-orang "tanpa kehidupan" yang benar-benar menghabiskan sebagian besar isi hidupnya bergumul di dunia maya. (Mungkin penulis termasuk salah satunya? Siapa tahu.) Ohiya, tentu saja, jangan lupakan para jomblo. Bagaimanapun ngenes-nya hidup mereka menurut kaum mayoritas di dunia nyata yang konon mendambakan hidup berpasang-pasangan dalam ikatan cinta, mereka seolah menemukan kebahagiaan tersendiri di dunia maya, dengan segala kebodohan, kegilaan, dan tiadanya norma di dalamnya.
Maka, tata krama pertama dalam menyusuri belantara dunia maya mungkin bisa digambarkan dengan kalimat berikut:
Mayoritas pengguna internet adalah jomblo atau terjebak di friend zone. (Sila cek laman ini kalau kalian masih terlalu hijau untuk tahu apa itu friend zone.) Dan, kedua golongan ini sangat sensitif akan segala post yang berbau relasi dengan lawan jenis. Maka, waspadalah.

Supaya saya tidak melantur terlalu jauh dalam tulisan kali ini, mungkin sudah waktunya bagi saya perkenalkan tata krama kedua.
Jika dilihat dari sudut pandang demografi, akan didapati bahwa mayoritas pengguna internet yang cukup aktif saat ini berkisar pada jangkauan usia produktif awal, katakanlah 15-30 tahun. (Penulis termasuk juga dalam kelompok ini, kalau begitu.) Generasi ini adalah generasi yang tumbuh di era 80an dan 90an, sejak waktu-waktu dimana teknologi macam internet, komputer, atau bahkan telepon, bukan sesuatu yang dengan mudah dimiliki semua orang. Penulis bisa dengan yakin mengatakan, bahwa generasi inilah yang paling merasakan perubahan dalam interaksi sosial di kehidupan mereka, ketika masa kecil dan masa dewasa mereka dibandingkan. Banyak orang dari golongan ini dengan bangga menyebut diri mereka sebagai 90s kids atau 80s kids, bergantung pada dekade yang mana masa kecil mereka banyak dihabiskan.
Penulis mengamati bahwa kelompok usia ini termasuk kelompok usia yang dominan menghuni belantara internet, sehingga tata krama kedua dapat ditelurkan:
Generasi terbaik adalah generasi 80an/90an. Generasi setelah itu adalah generasi yang bodoh.
Kenapa demikian? Karena, menurut pandangan generasi 80an-90an, anak penghuni sekolah menengah saat ini sudah terlalu banyak bersentuhan dengan teknologi mutakhir dalam bentuk layar sentuh, ponsel pintar, sehingga otak mereka menjadi bodoh. Beda dengan generasi 80an-90an yang teknologinya masih sebatas layar tancap, ponsel bodoh, sehingga (seharusnya) otak mereka encer.
Ada sebuah ungkapan yang menyiratkan bahwa otak generasi orangtua adalah otak yang (seharusnya) encer.
Respect your parents. They finished school without Google or Wikipedia.

Satu hal yang cukup menggelitik perhatian penulis, adalah saat mereka yang konon mengaku sebagai generasi 90an, mulai membanggakan betapa era 90an adalah salah satu era terbaik yang pernah ada. (Rasanya wajar kan ya, mereka berpikir begitu?) Kemudian, satu persatu anak 90an mulai bercerita dengan asyiknya tentang berbagai permainan yang dengan indahnya mengisi keseharian hidup mereka dulu. Saat-saat dimana video tutorial pemakaian Internet terlihat sebagai suatu hal yang demikian menakjubkan. Saat orang-orang masih harus membeli CD dan kaset untuk mendengar klip-klip musik favorit mereka. Saat ponsel masih menjadi barang mewah, dan ukurannya masih sebanding dengan telepon rumahan. Daaaan seterusnya.

Mengapa hal-al tersebut menggelitik perhatian penulis? Karena, perhatian penulis peka terhadap rangsang, sehingga mudah tergelitik. (?)
Err lupakan. Penulis memperhatikan, bagaimana detail yang mereka sajikan terhadap era yang mereka sebut sebagai era 90an, masih tergambar dengan baik di benak penulis. Sebagai individu yang terlahir di setengah jalan era 90an, dokumentasi pengamatan penulis akan dunia sekitar kurang lebih tersusun balik ketika waktu melangkahkan kakinya memasuki milenium baru. (Lupakan lelucon Panji si manusia milenium.)
Di tahun-tahun awal 2000an, penulis masih lamat-lamat mengingat tumpukan kaset yang bertumpuk di depan radio keluaran 1991 di tengah rumah. Orangtua penulis pun termasuk ciamik dalam menjaga barang-barang yang dibeli, maka kerap kali penulis diperkenalkan dengan barang-barang tersebut. "Panggil barang ini 'Kak', ya," biasanya begitulah sahutan yang akan muncul.

Memori penulis juga masih merekam dengan baik (syukurlah) saat dimana nternet benar-benar terasa sebagai barang mewah, dan mayoritas penghuni rumah saat itu tidak menganggap internet sebagai sesuatu yang cukup bermakna untuk dihadirkan dalam kehidupan rumah tangga. Alasan pertama, mahal. Juga, koneksi yang menghubungkan komputer ke dunia maya kala itu membutuhkan penjajahan atas slot koneksi yang sama dengan telepon rumah. Alhasil, ketika keingintahuan seseorang di dalam rumah mendorong pada penggunaan internet, sang pengguna akan kerapkali ditunggui oleh ia yang menunggui kabel telepon. "Cepetan dong internetan nya, mau pakai telepon nih!"
Masih ada memori dimana media cetak masih jauh lebih populer dan diminati daripada media elektronik. Dimana teknologi manual masih jauh lebih efektif digunakan daripada teknologi otomatis. Termasuk teknologi yang kini seolah menjerati sendi-sendi kehidupan bermasyarakat kita. Internet.

Sepanjang pengetahuan penulis, sepertinya internet mulai merajalela di seantero Indonesia sejak tahun 2007-2008, ketika warnet-warnet mulai mampu menyediakan layanan internet dengan kecepatan yang cukup (untuk standar Indonesia), dan mulai 'meledak' sejak tahun 2008, seiring makin familiarnya jejaring sosial di kalangan masyarakat menengah Indonesia.
Rasanya tiba-tiba saja, semua di sekitar kita berubah menjadi hal baru yang sekilas asing? Beberapa orang di dunia maya pun dengan senang hati membantu kita menggambarkan perubahan yang telah terjadi.

Berikut penulis suguhkan gambar-gambar yang mewakili beberapa, dari banyak, perubahan yang telah lewat. Terkadang, tanpa kita sempat pergoki.
Merasa gagasan-gagasan yang terkadang dilontarkan kaum cendekiawan terlalu sporadis? Sekarang, bandingkanlah dengan semua di bawah ini.

Selamat menikmati.

sumber

sumber

sumber
sumber
sumber

sumber

sumber

sumber

sumber

sumber (dalam bahasa Portugis)
Ya, tetap saja, zaman senantiasa berubah. Tak peduli apakah manusia-manusia yang berkembang dalam jalannya berjalan mengimbanginya, melampauinya, atau tertinggal di belakangnya.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!

~tamat
(:g)
Lanjutkan baca »

Selasa, 24 Juni 2014

Article#309 - Alfred Story ep.63: Ujian Susulan

Alfred panik.
Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh lewat seperempat ketika ia memasuki kompleks kampus. Kepanikan terlihat jelas di wajahnya. Bagaimana tidak panik, ada ujian yang dimulai pada jam sembilan pagi tadi. Artinya. hampir satu setengah jam yang lalu.
Jantung Alfred berdegup makin kencang, meskipun ia sudah berhenti berlari akibat kelelahan.
Duh, mati aku hari ini. Ngomong apa coba ke Pak Hendi?
Alfred membatin penuh keputusasaan, ketika ia melihat Benny berlari terengah-engah menyusulnya.

"Duh, Fred, lo telat juga? Hah, syukurlah gw ada temen," engah Benny kelelahan.
"Malah seneng elo. Gue takut nih, ntar kita dapet E lagi," Alfred bergidik membayangkan ia harus mengulang mata kuliah Pak Hendi.
"Udah, lo pikirin ntar aja... Tuh kita kedatengan temen lagi," sahut Benny menunjuk ke pepohonan di sisi lain gedung. Pada jalan di balik pepohonan itu terlihat dua pasang kaki berlari ke arah yang sama dengan tujuan Alfred dan Benny.
"Nah, si Cagur sama Danang juga telat. Santai broh, aman," Benny mencoba menenangkan diri.

Tak lama, mereka berpapasan di depan ruang kelas 216. Dengan nafas tersengal dan tubuh berkeringat, mereka mengetok pintu ruang kelas tersebut. Tentu saja, pintu dibuka oleh Pak Hendi dengan alis kanannya yang berkedut-kedut.

"Menurut kalian, sekarang jam berapa?" Wajah Pak Hendi yang tanpa ekspresi membuat suasana terasa lebih mencekam. "Ujian baru saja selesai."
"Ma-maaf Pak.. Kami terlambat..," ujar Alfred terbata-bata.
"...Iya, maaf Pak," Cagur menyahut. "Tadi... ng, kami naik angkot yang sama pak.."
"Betul Pak.... Trus di tengah jalan... ban angkotnya meletus..." lanjut Danang.
"Iya Pak, kami kasihan sama pak supir... Jadi kami bantu pak supirnya pasang ban baru.." Benny ikut melanjutkan.
"Karena itu Pak, kami mohon... Izinkan kami ikut ujian susulan.." Alfred menutup laporan.

Beberapa saat hening. Pak Hendi memandang keempat mahasiswa di depannya sejenak.
"Kalau begitu, baiklah. Besok siang, jam dua, kalian datang ke ruang ini. Datang, atau kalian saya nyatakan tidak lulus." Pak Hendi berlalu dan merapikan buku-bukunya.
Alfred sama sekali tidak menyangka, ketiga temannya sempat mengarang-ngarang alasan demi izin ujian susulan. Tetapi tentu saja ia merasa lega. Setidaknya masih bisa menyambung nafas hingga esok hari. Ia pun menyusul Benny dan Cagur, yang mengobrol dengan penuh cengir kebanggaan.

Esok siangnya, Alfred, Benny, Cagur dan Danang kembali ke kelas Pak Hendi. Dengan mantap mereka melangkah, dan Pak Hendi mengulurkan empat set kertas soal ujian.
"Ini, soalnya ada dua lembar. Tapi, lembar kedua baru boleh dikerjakan setelah lembar pertama kalian kerjakan. Sekarang Alfred, kamu masuk ke kelas 221. Benny, kamu ke 222. Cagur, kamu ke 223. Dan Danang, kamu ke 224. Kalian bebas duduk di mana saja, asal di dalam kelas tersebut. Tas dan ponsel ditinggal di kelas ini, ya."

Keempat mahasiswa itu saling pandang, sebelum mereka bergerak ke ruang kelas masing-masing membawa alat tulis. Mereka mengikuti saja apa kata Pak Hendi. Paling supaya tidak ada yang saling mencontek.

Mereka mulai melihat soal di lembar pertama. Fiuh, mudah sekali. Isinya sama persis dengan penjelasan Pak Hendi pekan sebelumnya. Nilainya 20 lagi.
Dengan sumringah, mereka menuliskan jawaban di lembar soal tersebut.

Mereka kini membalik lembar pertama, untuk membaca soal di lembar kedua. Nilainya 80. Pertanyaannya pun lebih singkat. Tetapi keringat dingin pun mulai bercucuran.

Di lembar kedua tertulis pertanyaan berikut.
“Kemarin, ban angkot sebelah mana yang meletus?”


~diadaptasi dari cerita yang dikirim bung Hanivan via grup wasap angkatan penulis
Lanjutkan baca »

Sabtu, 21 Juni 2014

Article#308 - Solstis: Ketika Matahari Berbalik Arah

Waktu terus bergulir, dengan kebanyakan manusia mungkin tak menyadari.
Perlahan, tutupan awan yang sudah betah menutupi wilayah Indonesia mulai terusik oleh berubahnya alir angin muson, membukakan pintu bagi apa yang dikenal sebagai musim kemarau.
Mereka yang tinggal di belahan Bumi utara, perlahan merasakan waktu subuh yang seolah melaju menyantap jatah malam. Padahal jatah malam sendiri makin berkurang berkat waktu sore yang makin mulur.
Mereka yang tinggal di belahan Bumi selatan, merasakan waktu subuh yang seolah tertarik menjauhi kelam malam. Malam pun makin meraja seiring dengan mulurnya waktu petang, mendorong sore menjauh.

Tetapi hal ini tak akan berlangsung lama. Kalender 2014 sudah hampir mencapai setengah jalan.
Ini berarti, solstis musim panas akan segera tiba.
.....
...
Jadi?

*****
Sebagaimana penulis sempat singgung dalam tulisan tentang ekuinoks sekitar tiga bulan lalu, kenyataan bahwa 90% penduduk Bumi menghuni belahan Bumi utara membuat banyak istilah yang berkaitan dengan musim cenderung timpang. Ekuinoks yang terjadi di akhir Maret disebut sebagai "musim semi" karena bulan Maret cukup identik dengan musim semi bagi penduduk belahan Bumi utara. Padahal bagi penduduk belahan Bumi selatan, musim semi sudah berlalu beberapa bulan sebelumnya.
Kasus serupa terjadi juga dalam pemberian nama untuk solstis di bulan Juni. Mereka yang bertempat tinggal di belahan Bumi utara memberinya nama "solstis musim panas", yang tidak cocok dipakai oleh warga belahan Bumi selatan yang sedang menghadapi musim dingin. Terkadang digunakan penamaan "solstis Juni" dan "solstis Desember" demi menghindari ambiguitas (dan perseteruan yang terkadang mengikutinya) akibat perbedaan musim di kedua belahan Bumi. Ya, sebagaimana ekuinoks, solstis terjadi dua kali dalam setahun, tepatnya sekitar 20-21 Juni dan 21-22 Desember.
Supaya sengketa dalam permasalahan ini tak berlarut-larut, dalam tulisan ini penulis akan menggunakan penamaan "solstis Juni" dan "solstis Desember".

Berhubung sejak tadi tulisan ini sudah berkali-kali menyebut istilah solstis, maka sebelum tulisan ini dilanjutkan, ada baiknya dituliskan definisi dari solstis.
Bumi pada solstis musim dingin (kiri) dan solstis musim panas (kanan).
Gambar kiri dijepret pada 17 Desember 1998, gambar kanan dijepret pada
 23 Juni 1998. Kedua gambar dijepret oleh satelit GMS-5 milik JMA, dengan
gambar kanan diberi perlakuan horizontal flipsumber gambar
Solstis (solstice dalam bahasa Inggris) merupakan istilah yang dibentuk berdasar gabungan dari dua kata Latin, sol (Matahari) dan sistere (berdiri di tempat/berhenti). Berdasarkan gabungan dari kedua kata ini, makna solstis adalah "waktu di mana Matahari tetap berada pada tempatnya" atau "waktu di mana Matahari berhenti bergerak". Definisi solstis secara astronomis sendiri adalah waktu dimana Matahari berada tepat di posisi paling utara (atau selatan) terhadap pengamat di muka Bumi.

Ketika membandingkan pemaknaan secara literal di atas dengan pengamatan sehari-hari, dimana Matahari tampak "bergerak" secara teratur dari cakrawala timur ke cakrawala barat setiap hari, mungkin kesadaran beberapa pembaca sekalian agak tergelitik.

Apa maksudnya "Matahari tetap di tempatnya"? Bukankah Matahari terus "bergerak"? 

Pemaknaan "tetap di tempatnya" ini merujuk pada posisi Matahari terhadap langit. Kita boleh saja menyaksikan Matahari terbit dan terbenam setiap hari. Tetapi, mungkin banyak dari kita yang tidak begitu memperhatikan bahwa Matahari secara teratur bergerak dalam arah yang lain.

Satu contoh yang paling jelas adalah posisi terbit dan terbenamnya Matahari. Banyak dari kita yang terbiasa menerima pengajaran bahwa Matahari terbit di timur dan terbenam di barat. Sejatinya, posisi terbit dan terbenamnya Matahari senantiasa berubah dalam sebuah pergerakan yang dikenal sebagai gerak semu tahunan Matahari.
Perbandingan posisi terbenamnya Matahari dalam
interval sekitar 1 bulan. Dijepret oleh Abhijit Juvekar dari
Dombivli, India. Arah utara ada di sisi kanan foto.
sumber
Akibat adanya gerak semu tahunan Matahari, Matahari akan tampak terbit (dan terbenam) di arah lebih utara menjelang bulan Juni, dan di arah lebih selatan menjelang bulan Desember.
Supaya lebih mudah memahami gerak semu tahunan Matahari, foto di sebelah kiri dapat dijadikan gambaran sederhana.

Dari foto posisi terbenamnya Matahari, terlihat bahwa jarak posisi terbenam Matahari antara tanggal 11 April-12 Mei dan tanggal 12 Mei-10 Juni berbeda. Mengingat interval yang tak jauh beda, foto tersebut juga memberi gambaran, bagaimana kecepatan gerak semu tersebut melambat ketika mendekati waktu solstis.
Beberapa hari menjelang tercapainya titik solstis ini, Matahari terus "bergerak" ke arah utara (atau selatan, bergantung pada solstis mana yang kita bicarakan). Tetapi, kecepatan "pergerakan" ini sudah demikian lambat, hingga akhirnya berhenti sesaat di titik solstis. Pada solstis Juni, Matahari berhenti bergerak ke arah utara, dan perlahan mulai berbalik arah, bergerak ke selatan. Demikian pula sebaliknya.
(Catatan: Mungkin atas dasar inilah, istilah solstice dalam Wikipedia bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai titik balik Matahari. Tulisan ini menggunakan "solstis" untuk menempatkannya dalam gaya serapan yang serupa dengan ekuinoks dari equinox. Berhubung kata solstis tidak tercantum dalam KBBI, dalam tulisan ini, solstis selalu ditulis cetak miring.)

Perhentian gerak semu Matahari inilah yang kemudian dijadikan sebagai dasar bagi komponen "sistere" dalam solstis.

Oke, baiklah. Artinya, Matahari memang tidak selalu terbenam tepat di arah barat. Tapi mengapa Matahari bisa bergerak-gerak begitu?

Mungkin saya bisa beri petunjuk dulu. Gerak ini dinamai "gerak semu tahunan Matahari", tentu karena gerak itu melibatkan Matahari, sifatnya semu, dan berlangsung dalam setahun. Sifat gerak ini semu, artinya Matahari tidak benar-benar bergerak ke arah utara atau selatan, tetapi terlihat demikian karena hal lain. Hal yang berkaitan dengan periode gerak tersebut, setahun. Apa ya?

Hmm... peredaran Bumi mengelilingi Matahari? 'Kan setahun tuh?

Nah, tepat! Penjelasan paling cocok untuk menjelaskan periode gerak semu terkait yang setahun adalah dengan mengaitkannya ke peredaran Bumi mengelilingi Matahari.
Tetapi perlu diingat, peredaran Bumi saja tidak cukup untuk menjelaskan adanya pergerakan tersebut.
Ada satu keping teka-teki yang perlu ditambahkan untuk menjelaskan gerak semu tersebut.

Dan ia adalah.... Poros rotasi Bumi yang miring. Tepatnya miring sebesar 23,43°.
Miringnya poros rotasi Bumi mungkin telah menjadi kalimat yang familiar, berkat buku teks IPA masa sekolah dasar yang tebal dan membuat berat tas itu.

Penggambaran Bumi dengan poros rotasinya
yang miring. sumber
Beberapa anak yang kepalanya sedang jernih karena tidak mengantuk mungkin akan bertanya, "Miring terhadap apa?"

Poros rotasi Bumi miring terhadap poros orbit Bumi, yang diwakili oleh sebuah garis yang tepat tegak lurus terhadap bidang orbit Bumi. Besar sudut yang sama juga bisa diperoleh dari sudut antara bidang ekuator dan bidang orbit (ekliptika), sebagaimana ditampilkan dalam gambar di sebelah kanan.

Miringnya poros rotasi Bumi? Kalau tidak salah, itu yang menyebabkan adanya perubahan musim, ya?

Betul sekali! Baru baca buku IPAnya ya?
Memang, miringnya poros rotasi Bumi menjadi alasan utama dibalik adanya perubahan musim tiap tahun, di negara-negara beriklim sedang.
Mungkin sebagian dari kalian mengingat gambar yang dibubuhkan pada buku teks ketika membahas mengenai perubahan musim. Gambar berisi empat Bumi dalam orbit mengelilingi Matahari. Gambar yang seperti ini,
Ilustrasi posisi Bumi dalam kedua ekuinoks maupun kedua solstis.
sumber

Dengan poros rotasi Bumi digambarkan menunjuk ke arah yang tetap. (Oke, secara teknis, tidak dalam jangka panjang; tetapi untuk jangka pendek dapat dianggap demikian.)
Seiring beredarnya Bumi menempuh orbit, poros rotasi Bumi masih menunjuk pada lokasi yang kurang lebih sama, tetapi arah miringnya poros tersebut terhadap Matahari akan berubah karena posisi Bumi yang berubah. Maka perlahan, Matahari tampak bergerak ke arah utara, kemudian berhenti, dan bergerak ke arah selatan.

Ketika miringnya poros rotasi Bumi menghadapkan belahan Bumi utara lebih miring ke arah Matahari, belahan Bumi utara akan menerima siang yang lebih lama, juga sinar Matahari yang lebih kuat. Kombinasi keduanya memberikan kenaikan temperatur secara perlahan seiring dengan makin "miringnya" belahan Bumi utara ke arah Matahari, menghasilkan musim semi dan musim panas. Setelah solstis Juni berlalu, situasi akan berbalik. Kini giliran belahan Bumi selatan yang "diarahkan" oleh poros rotasi Bumi untuk mencecap siang yang lebih lama dan sinar Matahari yang lebih kuat. Konsekuensinya, belahan Bumi utara perlahan kehilangan jatah siangnya, dan menerima sinar Matahari yang makin lemah, memberikan musim gugur dan musim dingin bagi belahan Bumi utara.

...
...Selesai sampai di sini? Masih ada sajian penutup.

Waktu-waktu solstis identik dengan awal dari musim, entah awal musim panas atau awal musim dingin. Ya, tentu saja kita-kita yang berdomisili di lingkungan tropis tak akan merasakan banyak pengaruh dari miringnya sumbu rotasi Bumi. Tetapi, ketika rekan-rekan kita di negara beriklim sedang merasakan perubahan musim serta panjang siang-malam yang kentara, rekan kita lebih jauh ke dekat kutub merasakan fenomena yang lain lagi.

Dalam waktu-waktu solstis Juni seperti saat ini, mereka yang tinggal cukup jauh ke utara akan merasakan apa yang disebut sebagai midnight sun. Matahari tengah malam. Dari namanya, jelas terbayang bahwa yang akan mereka amati adalah Matahari yang masih tampak, meskipun waktu menunjukkan tengah malam.
Bagaimana bisa Matahari tampak di tengah malam?
Kompilasi foto Matahari pada tengah 'malam' waktu lokal.
Perhatikan pergerakan Matahari yang turun dan kemudian
naik lagi. sumber
Sederhananya, Matahari tidak terbenam. Di dekat kutub, kedekatan lokasi dengan titik kutub, serta poros rotasi Bumi yang "memiringkan" kutub ke arah Matahari memungkinkan Matahari untuk tidak terbenam dalam beberapa waktu. Waktu tidak terbenamnya Matahari ini bervariasi, dari hanya beberapa puluh jam, hingga beberapa puluh hari di daerah yang lebih dekat dengan kutub. Tepat di titik kutub, Matahari bahkan terbit dan terbenam sekali dalam satu tahun.

Jika ada saat dimana Matahari tidak terbenam, sebaliknya, ada pula waktu ketika Matahari tidak terbit, sebagaimana yang dirasakan penghuni daerah Antarktika saat ini. Fenomena ini disebut polar night (malam kutub), dan kondisinya secara umum berkebalikan dengan kondisi pada midnight sun. Alih-alih situasi mirip petang hari yang tergambar dalam foto di atas pada midnight sun, pada polar night langit cenderung tampak seperti langit fajar yang disusul kondisi gelap malam silih berganti.
Fenomena semacam itu hanya bisa dirasakan pada lingkup daerah yang disebut sebagai Lingkar Arktik di dekat kutub utara, atau Lingkar Antarktik di dekat kutub selatan. Kedua wilayah ini, sebagaimana sedikit dijabarkan sebelumnya, terletak cukup dekat dengan kutub untuk ikut merasakan "derita" kutub ketika lama tak disinari cahaya Matahari, dan sebaliknya.

sumber
Berbagai fenomena yang berkaitan dengan Matahari, termasuk ekuinoks dan solstis, termasuk di antara fenomena alam yang paling awal diamati oleh manusia. Karenanya, di berbagai tempat di Bumi, kita dapat menemukan berbagai monumen yang disusun dengan penyesuaian terhadap fenomena alam. Salah satu contoh paling terkenal adalah Stonehenge di dekat Salisbury, Inggris. Pada dasarnya, Stonehenge dapat disebut sebagai observatorium model jadul.
Susunan batu-batunya diatur sedemikain rupa, sehingga ketika tengah jajaran batu Stonehenge di pagi hari solstis, Matahari akan tampak terbit di balik sebuah batu yang dinamai "The Heelstone".


Sebagai penutup, berikut beberapa persembahan dari penulis. Selamat menikmati.

Potret Bumi diambil dari sudut pandang satelit geostasioner GOES-West.
Dalam gambar ini, terlihat sabit tipis Bumi dari pantulan cahaya Matahari
yang menyentuh lebih banyak daerah utara. Kutub Utara terdapat di ujung atas.
sumber
Matahari terbit di balik batu-batuan Stonehenge yang telah lama berdiri. sumber
Berikut adalah video singkat yang menggambarkan perubahan siang dan malam pada Bumi.



***
Jika ingin membaca lebih lanjut, sila kunjungi laman-laman berikut:
http://en.wikipedia.org/wiki/Solstice http://www.space.com/26284-summer-solstice-longest-day-year.html
http://www.polaris.iastate.edu/NorthStar/Unit4/unit4_sub1.htm
http://spaces.imperial.edu/russell.lavery/Ast100/Lectures/Ast100Topic02.html
http://www.cbc.ca/news/canada/summer-solstice-celebrating-the-longest-day-of-the-year-1.2682538
http://www.windows2universe.org/earth/climate/cli_seasons.html
http://www.climatecentral.org/news/earth-summer-solstice-17591
http://www.rmg.co.uk/explore/astronomy-and-time/time-facts/equinoxes-and-solstices

Demikian kiranya tulisan mengenai solstis ini. Sampai jumpa di lain kesempatan!
Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...