Selasa, 15 Oktober 2013

Article#220 - Perhatikanlah

"Perhatikanlah Bulan yang beredar mengelilingi Bumi. Ia terus bergerak, namun ia patuh pada hukum alam semesta, maka ia tetap aman melaju dalam lintasannya tanpa khawatir terlempar ke luar.

Perhatikanlah badai yang bergelora dengan angin dan hujannya. Ia terus menerjang, namun ia patuh pada hukum cuaca, maka ketika isi airnya telah habis terkuras, ia akan minggir dengan tenang, menyapukan langit kepada cerah angkasa.

Perhatikanlah pohon yang tumbuh besar, akarnya mencuat dan daunnya mengembang. Ia terus berkembang, namun ia patuh pada hukum fisika, sehingga tinggi besarnya ia tak menghalangi rambat air dari akar untuk mencapai pucuknya.

Perhatikanlah kerang yang menumbuhkan mutiara indah dalam penderitaan. Ia terus mengerang, namun ia patuh pada hukum Tuhannya, sehingga pedihnya rasa di jiwa raga tak menghalanginya untuk membentuk mahakarya.

Perhatikanlah bahwa, ketika kau berserah diri dan yakin kepada petunjuk Tuhan, maka kau akan selalu sampai ke keseimbangan. Keseimbangan yang senantiasa membawa pada kebaikan.

Maka tidakkah kalian mengambil pelajaran?"


Sebuah catatan bagi penulis sendiri pada khususnya, dan bagi kita semua pada umumnya. 
~dikutip pada Selasa, 15 Oktober 2013/10 Zulhijjah 1434 H, 23:32 (UT+9), mengisi momen Idul Adha 1434 H.
Dikutip dari pesan seorang teman.

sumber


Lanjutkan baca »

Minggu, 13 Oktober 2013

Article#219 - Memutar Haluan


(lanjutan dari edisi sebelumnya)

Simon terus berjalan? Iya, dia masih berjalan. Masih sekitar 8 menit lagi jalan kaki menuju rumahnya.
Tidak ada yang cukup spesial dari sore yang ini, sore yang tinggal menunggu sekitar sejam menjelang berakhir. Semuanya sama saja seperti hari yang sudah-sudah.

...Err tunggu dulu. Tidak. Ada sedikit 'tambahan' yang mewarnai jalan pulang Simon sore ini.
Untungnya bukan sesuatu yang menakutkan. Juga tidak berbahaya—yaa kecuali kau berlebihan dalam mengganggunya.

Anak ini, sebut saja namanya Dodi, masih asik menenteng kotak plastik berisi jajanan sembari bersiul. Ia sepertinya begitu menikmati hari ini, berkebalikan dengan Simon yang sudah siap menguras isi kepalanya saat ini, jika ia mampu. Ya, anak ini tampak begitu senang, ia bahkan tak menyadari Simon yang berjalan ke arah yang berlawanan sampai Simon..
..menyapanya.

"Hei Dik, kamu bawa banyak jajanan. Kue ini kamu jual?"
"Iya Bang, murah aja, tiga ribu dapet dua potong. Bebas pilih yang mana aja."
Simon bersiap untuk mengeluarkan uang lima ribu. Tiga ribu untuk kue, dan dua ribu untuk bonus bagi Dodi yang dirasanya sudah berjuang dengan baik. Tetapi,
"Tidak, Bang. Ibuku bilang aku tak boleh terima uang dari orang asing kalau bukan untuk membeli jajanan ini. Lebih baik Abang beli lebih lagi."
Simon tercenung, jarang-jarang ada yang begini. Biasanya, anak-anak yang sering berkeliaran di kampus cenderung untuk menarik uang sebanyak mungkin dari mahasiswa yang mereka jebak.
Terkekeh sedikit, Simon mengeluarkan selembar uang seribu.
"Nih, dengan ini jadi enam ribu. Kubeli empat,"
Dodi menerima lembar uang itu dengan senyum lebar.

"Ibuku selalu begitu ketika menjual kue, Bang. Tiap kali aku mengikuti ibuku dalam berjualan."
"Wah, memangnya mengapa Ibumu tak mau menerima uang tip?"
"Kata ibuku, aku harusnya jualan, bukan mengemis."
"....Tapi kan kalau diberikan seperti itu, bukankah kamu berhak untuk mengambilnya..?"
"Dulu pernah ada yang bilang gitu ke Ibu. Kata Ibu waktu itu, 'Ini bukan masalah berhak atau tidak. Saya nggak mau kufur nikmat dengan asal-asalan meraup uang.' Pokoknya Ibu bilang ke aku, kalau kami menerima begitu saja belas kasih orang pada kami sementara kami mampu, itu namanya tidak bersyukur."

Simon kehabisan kata-kata. Akhirnya ia membiarkan Dodi untuk pulang, dan begitu pula dirinya sendiri. Meskipun begitu, kata-kata Dodi tadi tidak ikut menjauh dan terpatri di ingatan Simon.
Tentang apa yang sebenarnya memulai. 
Darimana pemicu tersebut datang.
Bagaimana ia bisa disingkirkan.
Sekonyong-konyong, semunya tampak jelas. Berbagai masalah yang sebelumnya mengawang memenuhi isi otak Simon, kini terekstrak menjadi satu sistem masalah untuk dikeluarkan.
Ponsel Simon yang tak lama kemudian bergetar pun juga mengisyaratkan hal yang sama.
Dilihatnya layar ponsel, yang mengatakan bahwa Dimas telah mengirim sebuah pesan.
"Tak peduli kau berlari sekencang apapun, kau tidak bisa mempercepat pagi dengan bergerak melawan arah rotasi Bumi. Kau hanya akan membenamkan dirimu lebih lama dalam pekat malam. Kalaupun kau bisa bergerak lebih cepat dari rotasi Bumi, ketika kau kembali melihat Matahari pun, yang kau lihat adalah senja. Dan senja hanya akan mengantarmu kembali ke malam.

Hadapi dengan tenang, ikuti takdir yang telah digariskan, maka seperti niscayanya pagi akan tiba, pemahaman itu pun akan tiba pada waktu yang tepat.

Tak ada gunanya lari dari kenyataan, kau hanya akan membenamkan diri lebih lagi.
 
Ternyata penjelasan untuk ini semua sangat sederhana, ya.
Simon mulai menyiapkan (dalam benaknya), rencana untuk perlahan membangkitkan kembali citranya yang terpuruk hancur akibat kegagalan proyek. Proyek yang telah mati itu pun akan dibangkitkannya kembali.

Malam telah larut, tetapi Simon asik mengamati sekitar dari balkon rumah kostnya, ditemani cerah sinar Bulan dan alunan musik dari ponselnya. Tekadnya sudah siap untuk memulai kembali dari awal. Memulai, dengan mewujudkan akhir sebagai tujuan. Dan Simon yakin, sebuah tindakan tanpa keraguan adalah sebuah kekuatan.
Waktunya memutar haluan.

Sew this up with threads of reason and regret
So I will not forget, I will not forget

sumber gambar
Lanjutkan baca »

Jumat, 11 Oktober 2013

Article#218 - Mengejar Ekor


[Perhatian: Nama dan lokasi kejadian tidak diambil dari figur nyata. Jika ada kesamaan intuisi dan merasa dijadikan tokoh, udah baca aja, nggak usah geer.]

Simon melangkah ke luar dari kampus. Pikirannya berkecamuk.
Berkali-kali Simon berdehem dan menggeleng-geleng dalam diam, berusaha untuk mengesampingkan ingatan buruk yang baru saja dipatrikan ke otaknya. Hentikan. Hentikan. Bayangkan nanti malam mau makan apa. Mau tidur jam berapa. Tak perlu dipikir lagi hal yang tadi itu. 
Sayangnya, Simon belum mampu membohongi diri sendiri. Seperti kutipan lama yang tetap bergaung auranya itu, semakin kau berusaha melupakan sesuatu, semakin kuat ia menempel di kepalamu. Ia terus berusaha menggeser otaknya untuk memikirkan cadangan mi instan yang makin menipis di kamar kostnya, atau kemungkinan adanya abang sate yang lewat depan rumah malam nanti. Tetap saja, Simon terus gagal. Otaknya terus kembali ke cerita barusan, cerita yang demikian menyebalkan.

Mungkin Simon terlanjur hafal segala detailnya. Terlepas dari fakta bahwa dia tak berminat menceritakannya pada kalian para pembaca. Sayangnya, diceritakan atau tidak, ia tetap muncul secara perlahan, tenang, mendominasi seisi otaknya.
Proyek ambisius yang gagal.
Guratan kekecewaan para teman.
Kepercayaan yang gagal dipertahankan.

"Hei, hati-hati, Mon."
Simon tak peduli. Ia sudah tidak ingin mendengar kata-kata semacam itu lagi. Ia abaikan saja dan terus melangkah. Mendadak tasnya ditarik seseorang.
"Hei! Kubilang hati-hati, kau mau menyapa bis, hah?!"
Dengan muka gusar, Dimas menghela nafas dan melepaskan tarikannya. Sebuah bus baru saja tiba, dan ban kiri depannya kini berada tepat di tempat Simon hendak menapakkan kaki sebelumnya. Simon hanya menatap kakinya dan ban bus seara bergantian. Kemudian ia melirik Dimas, berniat mengucapkan—
"Apa sih, sudahlah tak perlu pake terima kasih segala."
Dimas lebih cepat merespon. Dan lagi-lagi ia lebih cepat berkata-kata,
"Tapi yang benar saja, kau ini, masa' sampai segitunya sih. Cuma dinasehati begitu."
Cesh! Cukup telak, emosi Simon mulai tersulit.
"Kau tak tahu apapun, Dim. Diamlah."
Dimas terdiam sejenak.
"Hei, Mon, coba jernihkan kepalamu."
"Kubilang, kau diam."
"Yang benar saja."
"Tentu saja aku serius, hoi."
"Tunggu, dengarkan dulu."
Kini Simon yang terdiam sejenak.
"Renungkanlah baik-baik, apa yang terjadi sore tadi."
Daritadi, meskipun Dimas dan Simon sama-sama berbicara dengan nada keras, suara bising klakson dan derum kendaraan di jalan raya berlomba menutupi telinga orang-ornag di pinggir jalan dari apa yang seharusnya bisa ia dengar.
Pun begitu, Dimas justru berkata pelan,
Menurutmu, apa awal mula dari semua ini?"
Bodoh, batin Simon. Sudah jelas kan. Buat apa ditanya lagi.
Sekilas Dimas melihat ekspresi Simon. Sirat mata Simon menggambarkan jawabannya. Tanpa ia perlu berkata-kata.
"Hei, bodoh, tunggu dulu!"
Mendadak Simon menjadi cekatan dan segera melesat ke pintu bus yang baru tiba. Dan sekaligus menghindari Dimas, yang ia yakini akan menguliahinya dengan berbagai macam 'sampah'.

Dimas hanya bisa menghela nafas.

***

Simon melangkah pulang dari halte bus. Pikirannya bergejolak.
Berkali-kali Simon mengumpati Dimas di dalam hati selama perjalanan pulang. Dimas yang selama ini adalah salah satu sohib dekatnya, bersikap seolah sama seperti yang lain. Semua menyudutkanku. Mau kalian apa sih?
Pikiran Simon kembali melayang ke seruan Andre beberapa jam sebelumnya.
...
"Hei Simon. sedemikian kecewanya kau akan proyek yang gagal, tetapi kau hanya menghabiskan waktu merenunginya. Ketika ada yang mengingatkan, kau malah menumpahkan semua kesalahan padanya. Kemudian kau berlari, berlindung di balik tempat yang kau kira menjamin keamanan. Padahal, kesalahan itu tetap mengikuti, menempel.

Kau coba enyahkan ia, tetapi jika dilakukan dengan cara yang salah, ia tak mau lepas. Kau berlagak mengejarnya, dan akhirnya kau hanya berputar di tempat. Kalau begitu terus, akhirnya seperti anjing yang mengejar ekornya sendiri, buang tenaga. Dan ketika ia merasa berhasil dan menggigit ekornya, saat itulah ia baru sadar, betapa yang rugi hanya diri sendiri.

Sebelum kau keburu menggigit ekormu sendiri, bangunlah."

Kesalahan yang mengikuti....
Perlahan Simon mulai berpikir lebih jernih, dan tersadar bahwa tindakannya mengumpati Dimas di bis sebelumnya tidaklah relevan. Begitu pula tindakannya ketika menyikapi Andre dan yang lainnnya tadi. Pikaran tersebut, bersama pikiran lain yang sebelumnya sempat terbersit di kepalanya, perlahan membentuk sebuah 'kabut kasar'.
Mungkin kalian mengenal kabut ini dengan nama 'pemahaman'.

Eh, tidak, yang ini belum bisa disebut demikian. Ia belum paham. Ya sudahlah.

Dan Simon terus berjalan...

(bersambung)

sumber gambar
Lanjutkan baca »

Senin, 07 Oktober 2013

Article#217 - Kutipan Hari Ini

"Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Jika ia jatuh pada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai terpuji."

~dikutip dari kutipan milik Haji Abdul Malik Karim Amrullah "Hamka" (1908-1981), sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik. Dikutip pada Senin, 7 Oktober 2013, 20:31 (UT+9).

sumber
Lanjutkan baca »

Sabtu, 05 Oktober 2013

Article#216 - Tiga Puluh Dua Menjelang

Oleh: Akhyari Hananto

Kapan kita memperingati “100 Tahun Kemerdekaan Indonesia”?


Tulisan ini saya buat pada bulan Agustus 2013, jadi peringatan 100 Tahun Kemerdekaan RI akan jatuh tepat 32 tahun lagi, yakni pada 17 Agustus 2045. “Apakah pada peringatan 100 tahun kemerdekaan, Indonesia sudah menjadi negeri yang maju, rakyatnya makmur, dan bangsa ini dihormati dan disegani dunia?”. Pertanyaan itu pertama kali saya dengar dari anak seorang kawan yang masih duduk di bangku SD beberapa waktu lalu yang bertemu saat kami berkunjung ke rumahnya. Tentu saya tidak tahu jawabannya, mungkin tak ada yang tahu, dan sepertinya hanya waktu yang akan bisa menjawab.

Namun setidaknya, kita tahu apa rumus utama untuk membuat Indonesia maju, rakyatnya makmur, dan dihormati serta disegani dunia, dan rumus itu harus kita kerjakan dari sekarang, yakni “pendidikan”, dan tentu saja kerja keras. Singapura pada tahun 60-an bukanlah negeri yang kaya raya, juga tak sebersih dan seteratur Singapura yang kita kenal saat ini. Namun kini Singapura masuk dalam 5 negara dengan pendapatan perkapita tertinggi di dunia dengan pencapaian-pencapaian mengagumkan yang lain.  Dan Singapura mencapainya dengan pendidikan yang kuat, disiplin, dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Kita juga tahu, Amerika menjadi negara besar, kuat, dan maju di berbagai bidang, Inggris, Jepang, Korea, Taiwan, Australia juga adalah negara yang makmur dengan ekonomi yang tangguh, dan disegani dunia juga tak lain karena mereka memiliki tradisi dan budaya pendidikan dan penghargaan pada ilmu pengetahuan yang tinggi. Singapura, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Korea, Taiwan, Australia, dan negara-negara maju yang lain adalah negara-negara yang begitu menjunjung tinggi pendidikan, dan melakukan apa saja untuk memajukan kualitas dunia pendidikan.

Di Singapura, perpustakaan umum menjamur di mana-mana, bahkan di mall, dengan koleksi buku-buku yang lengkap, update, dan menarik, dan yang paling penting, ..gratis. Perpustakaan di New York City adalah perpustakaan paling besar dan konon paling lengkap di dunia. Kampus-kampus di Inggris adalah kumpulan perguruan-perguruan tinggi dengan kualitas terbaik, sistem pengajaran terbaik, pun di Jepang, Korea, dan sekarang China. Pemerintah negara-negara tersebut tidak hanya mengucurkan dana besar untuk pendidikan dari sejak dulu, tapi juga membantu memonitor, dan memfasilitasi peningkatan kualitas pendidikan secara terus menerus dan berkelanjutan, termasuk penerapan teknologi-teknologi paling mutakhir untuk menunjang pendidikan. Dan tentu saja, anggaran yang dikeluarkan sangat besar, termasuk investasi non finansial yang lain.

Tentu agak sulit bagi Indonesia untuk menggelontorkan dana sebesar negara-negara kaya itu dialokasikan di bidang pendidikan, meskipun Indonesia sendiri sudah mengalokasikan 20% dari APBN. Namun, jumlah tersebut jauh dari cukup untuk “menggenjot secara drastic” kualitas pendidikan di Indonesia, karena APBN Indonesia pun tidak besar-besar amat bila dibandingkan dengan APBN negara-negara maju. Lalu saya sering bertanya-tanya, kalau begini jadinya, yang maju makin maju, yang pas-pasan akan makin tertinggal.
Saya lalu teringat bahwa seorang warga senior AS yang saya temui waktu saya berkeliling di AS, beliau mengatakan bahwa mengharapkan setiap orang menjadi pintar matematika, pintar biologi, pintar bahasa, dan mata pelajaran lain yang dipelajari di sekolah atau kampus, adalah sesuatu yang tidak masuk akal dan “jangan dikejar”. Tujuan utama pendidikan, menurut beliau, adalah membuat bangsa dan rakyatnya menjadi berpikiran terbuka, maju, termotivasi untuk terus melangkah ke depan. “And let the power of nature do the rest” kata beliau.

Saya rasa, ketika bergerak menjadi bangsa yang maju dan makmur dulu, tak semua orang Jepang cerdas, pun orang Singapura, pun orang AS, pun orang Korea. Namun saya meyakini bahwa bangsa mereka bisa menjadi maju karena rakyatnya berpikir maju, bekerja keras, tidak mudah mengeluh, dan termotivasi bahwa bangsanya akan menjadi bangsa yang maju, suatu hari nanti. Inilah yang saat ini, menurut pandangan dan pendapat saya pribadi, sedikit demi sedikit mulai hilang di sekitar kita. Belum ada satu platform yang kuat untuk memotivasi seluruh Indonesia, dan membuat rakyatnya berpikir ke depan, dan jangka panjang, entah itu pemimpin yang disegani dan merakyat, atau kebanggaan bersama yang menginspirasi secara massif.

Perlu langkah terpadu dan luas untuk menyuarakan semangat maju kepada seluruh anak bangsa, dan hal paling cepat bisa melakukannya adalah lewat media massa. Media massa yang edukatif, informatif, konstruktif, sekaligus menarik akan menjadi kekuatan besar ‘mencerdaskan’ jutaan pemirsanya, bisa merasuk ke setiap rumah. Media massa yang seperti itu bisa menjadi pelengkap utama yang sangat baik bagi pendidikan-pendidikan formal yang di dapat di sekolah.  Tapi apakah para pemilik media mau melakukannya?

Entahlah..tapi waktu kita “tinggal” 32 tahun lagi.
Tulisan dan gambar dikutip dari http://goodnewsfromindonesia.org/2013/08/21/32-tahun-lagi/ pada 5 Oktober 2013, 08:48 (UT+9) dengan sedikit perubahan.

Mungkin penulis akan menautkan visi Indonesia Emas 2045 ini dengan kisah perjuangan Rasulullah s.a.w dahulu, yang berhasil menghimpun kabilah-kabilah bangsa Arab yang hobi bertikai satu sama lain, menjadi suatu negara berpengaruh hanya dalam waktu sekitar 23 tahun. Sebuah pencapaian yang menggugah Michael H. Hart untuk menyebut beliau sebagai tokoh paling berpengaruh dalam bukunya. Beliau membentuk negara baru, dengan landasan yang benar-benar baru (negara pertama dengan landasan hukum Islam), dan dengan sumber daya yang mungkin saya bisa katakan jauh lebih sedikit dari Indonesia saat ini.

Meskipun Indonesia kini menghadapi tantangan yang berbeda, lebih kompleks dari yang dulu dihadapi Rasulullah. Tetapi, Indonesia sekarang tak perlu dirombak dari nol. Yang diperlukan adalah mengembangkan pola pikir yang maju, yang sedikit banyak sudah tertuang dalam tulisan yang penulis kutip diatas. Dan pola pikir maju memang tidak berarti jago ilmu pasti, atau hafal seisi buku RPUL. Sesuai hemat penulis, pola pikir yang maju adalah pola pikir orang yang senantiasa memperbaiki apapun yang belum baik, dan terus berkontribusi atas apapun yang bisa dijalani. Pola pikir yang mungkin kritis, tetapi turut membangun, bukan sekadar mempertanyakan tanpa arah.

Nah, bahkan ide mengantarkan Indonesia menuju Indonesia Emas dalam 30+ tahun secara tak langsung juga diungkapkan di kutipan berikut.
Ridwansyah Yusuf Achmad - detikNews

Tahun 1927, Bung Hatta menuliskan sebuah makalah berjudul ‘Vrije Indonesie’ atau Indonesia Merdeka. Saat itu, sekelompok pelajar ini berjuang dan percaya Indonesia akan merdeka. Merdeka bukan tentang urusan ya atau tidak, melainkan hanya pilihan waktu saja kapan yang tepat. Kurang dari 20 tahun sejak makalah tersebut disampaikan, Indonesia akhirnya merdeka. 


Bila kita refleksikan dengan keadaan saat ini, apa yang dipikirkan dan disampaikan oleh pelajar saat ini sangat niscaya bisa menjadi kenyataan 20 atau 30 tahun mendatang. Ide yang kita gulirkan bukanlah pilihan ya atau tidak akan terjadi, tetapi bila kita terus dorong dengan semangat memperbaiki dan pembaharuan bangsa, niscaya gagasan tersebut akan terwujud secara nyata. 
Tulisan dikutip dari http://news.detik.com/read/2013/10/05/141028/2378752/103/1/perhimpunan-pelajar-buat-apa pada 6 Oktober 2013, 13:19 (UT+9)

Memperbaiki diri selalu bisa dilakukan kapan saja, dan akan sangat bagus jika kita memulainya dari saat ini juga. Mari terus lakukan yang terbaik, menyesuaikan dengan kapasitas yang dimiliki.

Untuk penutup, sedikit mengimitasi Aku karya alm. Chairil Anwar.

Cita dan cerita kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih nurani

Dan aku akan lebih tidak menanti

Aku mau hidup tiga puluh dua tahun lagi
Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...