Kamis, 12 Juni 2014

Article#305 - Menyapa Jejak: Kehidupan Yang Terbumikan

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono. 1989. Hujan Bulan Juni
Jemari penulis merasakan sedikit jalaran dingin ketika mulai mengetikkan kata-kata pembangun awal dari tulisan ini. Sudah cukup lama berlalu sejak Edisi Bocah Tersasar terakhir yang penuh didominasi tulisan panjang nan tak terbayang, yang tepatnya berdomisili di dalam tautan berikut. sudah banyak hal yang berlalu, hal yang terlewat. Kenangan yang tersisa, yang tersimpan. Halah sudahlah, bagian ini akan dicukupkan sampai di sini, sebelum hawa galau terlalu menyeruak.
Kabar bocah-bocah tengil? Mungkin mudah menebaknya. Bagaimanapun juga, dengan waktu-waktu di negeri samurai dihabiskan dalam berbagai warna cuaca, kegiatan utama mereka sebagai barisan pelajar tentunya berkaitan dengan menyerap ilmu sebaik-baiknya dari tempat mereka kini. Ada misi tersendiri yang diemban oleh masing-masing bocah dalam sanubari, dengan tujuan, harapan, dan langkah-langkahnya. Tak hanya dalam memandang masa depan yang sedang mereka cermati, tetapi juga masa kini yang dengan tekun dilalui.

Berhubung inisiatif dari sebuah kegiatan biasanya dikembangkan secara tersendiri, alur selanjutnya dari tulisan ini akan berfokus pada apa-apa saja yang ditempuh penulis; meskipun perlu diperhatikan, hanya sedikit dari keseluruhan aktivitas penulis yang pada akhirnya akan berakhir di tulisan ini. Berakhir sebagai santapan mata-mata yang lapar menatap laman ini.

Tulisan kali ini mungkin juga tidak seiya sekata dengan gaya tulisan di Edisi Bocah Tersasar sebelumnya. Mohon pemaklumannya.

*****


3 Mei 2014. Saat itu, hampir sebulan telah berlepas sejak hari-hari indah dalam masa libur musim semi berakhir. Hal yang juga berarti, tidak tersedianya delapan belas tiket kereta penuh semangat muda, yang selama ini menjadi andalan penulis dalam menjajal keisengan dengan berkelana solo. Berkelana, mengunjungi beberapa pojok-pojok negeri samurai yang relatif jarang diminati mayoritas wisatawan. Toh, tujuannya bukan untuk berwisata. Tetapi untuk sekadar berjalan menguras tangki kebosanan. Dan perjalanan jauh, menyusuri apa-apa yang tak diketahui sebelumnya, selalu menjadi obat bagus. Apalagi ketika kau ingin membocorkan tangki kebosanan yang sempat menunggak kurasan di awal liburan.

Kembali ke 3 Mei, hampir sebulan setelah selesainya episode jalan-jalan musim semi. (Hasil jalan-jalan terkait ada di sini) Saat itu adalah bagian dari deretan pekan emas, saat dimana banyak warga negeri samurai memanfaatkan deretan hari libur terkait untuk... yah, berlibur. Entah mengunjungi keluarga, sanak saudara atau handai taulan. Entah sekadar melepas penat dari pekerjaan dengan mengunjungi tempat wisata idaman mayoritas.
Tentu saja, penulis termasuk dalam golongan orang-orang yang begitu antusias menyambut datangnya hari libur. Yaah, tidak cukup untuk melakukan kunjungan ke sanak saudara atau handai taulan sebagaimana banyak warga sini lakukan. Secara penulis bukan warga asli sini, toh. Namun kesenangan mendapat jatah hari libur tersebut sedikit dipudarkan oleh kenyataan bahwa delapan belas tiket kereta andalan penulis tidak lagi dipasarkan. Di luar waktu, katanya. Apa boleh buat, artinya kemungkinan bepergian ke luar kota terpaksa ditutup. Bepergian tanpa tiket andalan tersebut? Wah, cintaku liburku berat di ongkos, Neng!

Orang bilang, ide besar muncul di saat terjepit. Mungkin keadaan terjepit seperti waktu itu lah, yang akan membuat otak berputar sedemikian kuat, jauh mengalahkan cepatnya segerombolan mahasiswa yang kelaparan ketika disuguhi jamuan lezat. Maka saya menjepitkan diri...... sakit, yah. Menjepitkan diri di antara keinginan berkelana menjadi udara segar, dengan perlunya menjaga isi dompet supaya tetap stabil sentosa.

Opsi termudah untuk menyelesaikan permasalahan? Bersepeda.

Kemana? Pertanyaan ini sempat membuat kebingungan berkecamuk dalam kepala penulis selama beberapa saat, tetapi pada akhirnya penulis memutuskan untuk menempuh perjalanan ke daerah yang lama tak penulis kunjungi di negeri samurai: pantai berpasir.

Tetapi, pada 3 Mei, penulis dihadapkan pada dilema berlangsungnya sederetan kegiatan yang (rupanya) telah disiapkan oleh komunitas sesama pelajar di kota pelajar ini untuk mengisi liburan pekan emas. Alhasil, wacana tinggallah sebatas wacana...
...hingga dua pekan setelahnya.

17 Mei 2014. Hari yang juga bertepatan dengan Hari Buku Nasional.
Setelah melalui dua akhir pekan dalam dilema antara keinginan bergerak dengan kemalasan bergerak, (?) akhirnya penulis memantapkan tekad dan kemauan hidupnya.
Maka berangkatlah penulis, terus menempuh perjalanan sekitar 15 km dari tempat tinggal menuju garis pantai berpasir terdekat. Terimakasih kepada peta Gugel yang bersedia menunjukkan lokasi.

Sebelumnya, mungkin penulis perlu memberitahukan bahwa kota domisili penulis saat ini adalah salah satu kota terdekat dengan episentrum Gempa Besar Jepang Timur yang terjadi pada 11 Maret 2011 lalu. Karenanya, ketika membicarakan sebuah kunjungan ke sisi pantai sebuah kota dengan sejarah gempa besar beberapa tahun sebelumnya, tak ayal, artinya kau akan menyaksikan sebuah lanskep daerah yang pernah diterjang tsunami dahsyat.
Penulis merasa, sebagai warga dari negara yang juga akrab dengan gempa maupun tsunami, sudah selayaknya penulis mengunjungi daerah yang pernah mengalami dahsyatnya kejadian tersebut. Satu alasan adalah karena penulis tidak begitu akrab dengan persaksian atas sebuah kejadian alam. Alasan lainnya, tentulah lokasinya yang dapat dijangkau dengan mudah dari tempat penulis mengetikkan kata-kata di laman anehnya selama ini.

Belantara rerumputan, tersembunyi di naungan langit jernih
Perjalanan mengayuh sepeda melalui jalan yang menurun terasa berlalu cukup cepat, hanya sejam terlewati sebelum akhirnya penulis melewati rute prefektur 139 yang mengantarkan pengendara menuju sebuah titik pantai di muara sungai Nanakitagawa. Dan disanalah mereka bertahan dalam pose bisu dan kaku, memberi testimoni jitu akan apa yang terjadi tiga tahun lalu.

Berikut dokumentasi penulis akan berbagai bukti-bukti tak terbantahkan yang menjelaskan, tanpa perlu sepatahpun kata, kekuatan tsunami yang menyeruak saat itu.

Tiang yang patah. Teriring sandal penulis sebagai pembanding.
Tiang yang terbengkokkan sedemikian rupa menjauhi pantai.
Panjang tiang sekitar 5-6 meter.
Sisa fondasi sebuah rumah?
Rumah yang terbengkalai beserta sekian banyak perabotan rumah tangga 
Rongsokan sisa gempa dan tsunami

Berdiri di sana, pikiran penulis berkelebat membayangkan, kira-kira seperti apa kenampakan daerah ini empat tahun lalu, dan bagaimana kehadiran tsunami mengubah kelanjutan hidup penghuni di daerah ini.
Tiang yang patah (lagi)
Arah foto membelakangi pantai





Muara sungai Nanakita (七北田川)


Penulis tetap meneruskan perjalanan, mencari lokasi menuju pinggir pantai sesungguhnya. Yang rupanya lebih banyak menyimpan trik daripada yang sebelumnya penulis sangka.


Sejenis teluk kecil di muara sungai. Samudra Pasifik dapat dilihat
di belakang pematang pasir keabuan pada latar.
Pagar menuju apa..?
Belum berhasil menemukan garis pantai, penulis kembali menggowes ke arah utara, mendekati pelabuhan. Sedikit perjalanan mendaki (agak aneh, mengingat posisi sudah sedemikian dekat dengan pantai), dan akhirnya penulis sampai di dekat lokasi pengamatan. Sudah sangat dekat dengan pantai, bahkan ada tangga, namun sayangnya...

Pantai!

Mari turun....
....er,, tidak jadi deh.
Tangga terkait sepertinya dipatahkan oleh tsunami yang sama dengan yang menyapu peradaban dari foto-foto sebelumnya. Yang tersisa adalah paruh atas tangga, terputus menyisakan tebing setinggi 5-8 meter menuju pantai. Sayangnya penulis tidak cukup nekat untuk meloncat turun. Susah nanti ambil sepedanya.
Akhirnya penulis beranjak turun dari lokasi tangga tersebut. Jalan yang meliuk turun membawa penulis kembali ke jalur utama menuju pelabuhan, tetapi mata penulis yang berkelana ke arah kiri jalan menemukan celah bagus untuk menyelinap menuju area pantai.

Jenazah pohon dan jenazah perahu.
Butuh berjalan sekitar 200 meter sebelum akhirnya sampai di pantai yang sesungguhnya. Waktunya relaksasi sejenak, menyegarkan tubuh yang mulai lelah. (halah)







Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, maka penulis mau tak mau beranjak pulang. Dengan kaki berpasir, bau air laut dan bau petualangan, penulis bergerak membawa sepeda dan menggowesnya pulang.

-o0o-

Ada mungkin, kepingan-kepingan yang hanya sekilas muncul di kala menyaksikan bukti-bukti tak bergerak pada dokumentasi di atas. Testimoni paling sahih untuk menjelaskan bagaimana, pada pukul 3 sore, 11 Maret 2011, gelombang bergulung-gulung mendatangi daratan dan merangsek, jauh meninggalkan lautan tempat ia berasal.
Ada kehidupan yang meregang, menyerah kalah pada gelombang yang amukannya membuat ciut nyali bangunan-bangunan. Padahal sebelumnya mereka menjulang dengan pongahnya di sisi-sisi sungai.
Ada cerita yang tercerabut dari akarnya. Entah berapa banyak orang, dengan masing-masing ceritanya, yang mendapati alur hidup mereka bergolak sedemikian rupa.
Ada peradaban yang tersungkur di hadapan kuasa-Nya. Rumah-rumah yang isinya terhamburkan ke luar, seolah mencoba menceritakan kisahnya lewat jalaran tumbuhan liar yang mulai merambati tubuh rumah.
Jalaran yang tampak seperti jemari dari sebuah tangan tak terlihat, meminta barang miliknya kembali. Kembali, untuk bersatu dengan tanah yang rata, angin yang hampa, rerumputan tanpa warna. Dalam kesatuan.

Aku ingat ketika aku menghabiskan beberapa waktu duduk di tanggul, menghadap pinggir pantai. Membiarkan hembus angin yang bersorak kencang di punggungku dalam siang hari itu. Melihat sesekali kendaraan bermotor mendatangi satu sisi tanggul itu, mengantarkan pengendaranya untuk berdiri di sisi tanggul itu.
Berdiri saja mereka! Tampak takzim memandangi langit biru yang napak berpadu dengan lautan di kejauhan. Tampak khidmat memandangi burung camar yang sesekali terbang rendah mengincar makan siang. Tampak tegar, sesekali dengan tangan yang terkepal. Entah ibu dan putranya, suami dan istrinya, atau kakak dan adiknya.
Tak lama, mereka beranjak lagi, kembali meninggalkan aku yang duduk seorang diri di tepi.

Sekian lama, kupikir aku duduk tercenung tanpa hasil. Saat aku mengayuh sepeda lebih jauh, kuamati lagi rerumputan yang bergoyang dengan damai. Genangan air sisa tsunami yang terperangkap, berdiam dalam ramai. Debur ombak di kejauhan, menenggelamkan sahut riang burung camar.
Aku tak tahu menahu kesimpulan apa yang digapai orang orang-orang yang sebelumnya kulihat memandang lurus ke arah lautan. Mungkinkah mereka mencoba menyesuaikan ritme pikiran mereka dengan ritme lingkungan di sana? Ritme yang tenang, damai, seolah tiada apapun pernah terjadi.
Rumah-rumah dan bangunan lain boleh saja berdiri dalam postur hancur mereka setelah diterjang tsunami. Tetapi selain itu, semua tampak baik-baik saja? Tetumbuhan dan hewan kembali menguasai daerah itu, yang tiga tahun lalu tercoreng moreng kotoran dan kerusakan. Seolah luka itu tak pernah ada.
Mungkin?

Sebagaimana kehidupan kembali semarak, disana seolah tergambar pula dengan amat jelas, bagaimana jemari yang tak terasa keberadaannya, menggamit tangan berjalan pelan. Penuh kewaspadaan, jemari itu mengajak untuk kembali, bersama yang lain yang terbumikan.
Mengajakmu pulang.



*****

Tulisan ini dibuka dengan mengutip sepenggal puisi tentang hujan di bulan Juni. Maka penulis memutuskan untuk menututpnya dengan topik yang sama. Lagipula, saat ini air hujan masih membasahi segenap bumi di kota ini.

Sebuah analisis atas puisi karya Pak Sapardi Djoko Damono tersebut mengatakan bahwa hujan dalam penggalan puisi terkait dapat dimaknai sebagai hujan yang seharusnya tidak turun. Dengan pertimbangan bahwa kecenderungan musim di Indonesia pada bulan Juni adalah musim kemarau, maka porsi hujan yang tercurahkan tidak sebanyak di bulan-bulan sebelumnya yang tergolong dalam musim hujan. Hujan yang jarang turun, dan sekalinya turun, ia masih harus merahasiakan rintik rindu yang membuncah terhadap sebatang pohon berbunga. Setidaknya, begitulah pemaknaan yang dijabarkan dalam analisa terkait.

Lalu, bagaimana kabar di sini?
Kondisi yang sangat bertolak belakang, ketika ditilik dari sisi iklim. Bulan Juni di negeri samurai senantiasa identik dengan "hujan plum" (梅雨), musim hujan yang ditandai dengan bermekarannya bunga plum, atau ume.
Walaupun penulis tak pernah benar-benar setuju akan bagian "tidak ada yang...", pengambilan sudut pandang ini tetapmenarik untuk diselami.
Jika disesuaikan dengan analisa di paragraf sebelumnya, maka pemaknaan yang muncul adalah bagaimana rintik rindu yang ada, tak tersampaikan walaupun dia punya sejuta kesempatan untuk mengambilnya. Sesekali keraguan tersurat, sesekali kerinduan tersirat, tetapi tekad yang bengis atas harapnya sendiri itu menolehkan mukanya, berpaling. Menengadah pada langit dengan awan yang bergulung-gulung.
And when it rains, on this side of town
It touches everything


Jika Pak Sapardi menuliskan puisi di atas pada tahun 1989, penulis mengadaptasinya dalam tulisan ini pada 2014. Dalam jangka waktu 25 tahun itu, sudah banyak yang berubah, berkembang pesat dalam bidang teknologi. Kalau dulu perpisahan antar dua kota yang bertetangga bisa mengantar kepada "putus hubungan", kini perpisahan "fisik" sejauh apapun seolah tak lagi digubris, dengan adanya aplikasi-aplikasi yang mengemas teknologi untuk mengobrol dengan sesiapa, nun jauh disana. Penulis lebih memilih penjabaran ini untuk percobaan menempatkan sudut pandang puisi terkait dengan kondisi penulis saat ini.

Meskipun begitu, rasanya hujan di manapun rasanya tak jauh beda. Angin segar yang sama, membawa butir-butir yang menampar wajah dengan malu-malu. Tetes-tetes air yang bergemericik di jalan, sesekali membasahi jemari yang sibuk menadahi air limpasan atap. Dan ketika mengaitkan hujan dengan kerinduan, sesekali kubayangkan wajah-wajah yang menatap hujan turun dalam tenang. Mereka yang kuyakini hidup dalam ketabahan, kebijakan, dan kearifan yang melebihi hujan manapun yang membasuh Bumi di bulan Juni ini.
rMereka yang membasuh jiwa-jiwa yang panas, untuk mengistirahatkan ritme hidup. Mencoba mengurai kata-kata bodoh untuk disampaikan sebagai salam rindu, lewat awan hujan yang menderu.
Sejenak aku terpaku sunyi
Menyelusup dalam kelam malam
Warna itu, cahaya yang mengira tiada
Butir-butir hujan turun dalam gulita
Membesuk wajahku yang bergidik
Dalam perenungan akan rahasia
Bagai hantu, jiwa kosong berkelana
Menari di balik tudung awan

Sementara aku membisiki diri
Untuk lebih lama tinggal
Bagai debu, tertiup tanpa wujud rupa
Hidup keras dalam limpasan nada-nada
Bertalu-talu, ia berbisik
Di luar semakin sangit corak mentari
Memadamkan bekas-bekas tapak hati, menyekap sisa-sisa rindu tadi
Sebelum fajar. Ada yang masih bersikeras abadi
Meminta jujur. Atas laras kebodohan jalan ini

(Bocah Tengil, 2014. Sepanjang Jejak Rahasia)

(seluruh gambar disadur dari dokumentasi pribadi penulis)
Lanjutkan baca »

Selasa, 10 Juni 2014

Article#304 - Antara Cerita, Cipta dan Cita (Conjunctoria 2): Sebuah Penyadar

Terhitung seribu pekan terlewati.
Putarlah waktu kembali ke masa ribut-ribut politik. Saat juara bertahan menduduki tahtanya kembali. Saat di mana aku bersama bocah-bocah sepantaran belum berkutik.
Waktu yang terputar membawaku kembali, masa dimana nama-nama besar yang terpampang ngejreng masih kerap membuatku bergidik. Padahal nama terkait pun besar tak secara intrinsik. Semata bermodal waham yang tersebar di sekitarku selama ini.
Meskipun, pada akhirnya waham serupa pula yang bergerak mendorongku pergi. Bersiap melaju ke sebuah tempat dalam naungan sebuah figur negeri. Dalam canda tawa, melepas hangat tangan mereka yang disayangi. Meski tak sepenuhnya mengerti.

Terbilang seribu pekan telah pergi.
Putarlah waktu kembali dalam tiga keliling orbit. Saat di mana aku baru saja menempuh perjalanan pulang dan mengistirahatkan diri.
Perjalanan yang kutempuh saat itu adalah perjalanan yang menjadi kunci. Kunci dari terbukanya pintu-pintu perjalanan selanjutnya secara alami. Kesempatan bagi kami yang beruntung dan cukup berusaha, untuk menajamkan jemari. Bercokol dalam kancah perjuangan yang makin tinggi.
Dan ketika kami meneruskan cerita ini, kami terus berupaya, berjuang hingga akhir. Meskipun tidak di semua kubu, gapaian baru terlahir. Seribu hari telah beriring pergi, dan sebagian kami masih melangkah kembali ke kata mulai.

Terngiang seribu pekan yang tertulisi.
Putarlah waktu kembali, cukup dua kali. Saat di mana akhir itu benar-benar mendatangi kami.
Akhir dari suatu cerita, adalah awal dari cerita yang masih murni. Menunggu digoresi kilau harap dan cita untuk nanti.
Perjuangan yang tak ditempuh dalam kompak beriring, tak juga dalam rapi berbaris. Ada yang melaju dan mengawali. Ada barisan utama yang berjuang sepenuh hati. Ada baris belakang yang terbang ke penjuru bahari. Ada yang saling susul menyusul ke luar negeri. Meskipun semuanya sama-sama meninggalkan jejak-jejak tersendiri, terekam dalam lokasi pengabdian kini.
Ketika berjuang dalam lokasi-lokasi tersendiri, semangat dan idealisme kadang membuncah tanpa disadari. Mungkin saja ada yang secara otomatis merapal doa dalam hati. Doa yang diucapkan dalam keheningan masing-masing, tetapi merapalkan bait-bait harap yang sama persis. Isinya pun banyak mengutamakan kebaikan bagi kawan-kawan lain, dibanding untuk diri sendiri.

Terdiam, seribu pekan hingga masa kini.
Waktu yang berputar meronta untuk kembali, melepas jurai mimpi menuju masa kini yang dulu dinanti. Melepas diri dari tumpukan dosis khayalan tinggi.
Nama besar, beserta waham yang dulu membuatku bergidik. Kini menjadi nama besar yang menggiringku pergi menuju entah berapa langkah di hadapanku saat ini. Tanpa tedeng aling-aling, tanpa berbaris-baris basa-basi.
Kancah perjuangan, yang masih menampakkan jejak bercokolnya jemari. Kini menjadi kancah yang kabarnya senantiasa kunanti, ketika bergantinya generasi memberi nafas wangi. Nafas yang melanjutkan harapan kami, cengkeraman kami, pada roda kursi bertabur prestasi. Tempat dimana cakrawala kami meluas, melihat kenyataan yang beda persepsi dengan apa yang selama ini terpatri.
Jejak pengabdian, beserta niat tulus yang dipatri dalam tiap langkah kaki. Kini menjadi saksi, atas apa yang telah diperjuangkan dengan sebenar-benar niat selama ini. Aku bisa saksikan berkali-kali, satu demi satu nama tercantum dalam jajaran prestasi. Nama-nama lain tercantum sebagai mereka yang tulus mengabdi, berusaha memperbaiki kualitas masyarakat di sekeliling. Semuanya berjalan kompak, seolah tersinergi. Bahu-membahu menyusun temali untuk membangun jalan idealisme menuju kesuksesan negeri. Menuju kesuksesan religi. Kesuksesan masa depan yang islami. Yang dimulai dari membangun kesuksesan pribadi.

Lalu, bagaimana di sini? Apa yang telah dicapai hingga kini? Ketika diri mengatakan capaian tidaklah penting, pada akhirnya justru tidak terasa lagi apa yang penting? Apa kabar kebersihan hati yang dulu sedemikian digadang-gadang untuk mengisi diri?
Meresapkan kenyataan dalan sanubari. Mengiris batang-batang, keping-keping kenyataan yang tersaji di sekeliling. Menatapnya lamat-lamat dalam hening, hingga sadar tiada yang terjadi dalam sepi.
Menyesap kenangan supaya tahu diri. Melekatkan kembali memori, yang kini sekadar menjadi serpih-serpih untuk elegi masa kini. Dipikir diri kenangan itu masih sedemikian tertanam dalam hati, hingga diri menyadari, ia sama sekali tak mengerti dirinya sendiri.


Hari 7000, di bawah tengadah lantunan awan.
Selasa, 10 Juni 2014, 14:16 (UT+9)
38°16'40.69"N, 140°51'05.98"E

Tulisan ini sebagai penghubung dari tulisan kedua dalam seri 'Antara Cerita, Cita dan Cipta'.
Dihubungkan dengan apa? Entahlah.
Lanjutkan baca »

Sabtu, 07 Juni 2014

Article#303 - Studying

I once thought in a simple-minded yet ridiculous manner, that as many of us may have thought of at least once, studying is the sole way of obtaining knowledge. Just like we are always willing to show (maybe flaunt, or even boast?) how broad our knowledge spectra have become, some people close to us would love to do the exact same thing. Those kids with seemingly broader spectra of knowledge will have more of their time getting brought by their proud parents across the neighborhood. They sometimes are being held responsible for the act of reflecting the spark of their parents' excess dose of smile, shamelessly facing the gloomy, rough faces of the dismayed neighbor.

At times, the neighbors may become upset enough, up to the point where they decide to have a little revenge on the bright boy's arrogant parents. The bad news is that these mad neighbors decided to get even using their own children. They want their children to be knowledgeable enough to rival the arrogant parents' child, and they conclude that pushing their children to study will make the best out of the effort.
That's it—their children are now conditioned to study into perfection. As many of the younger adults realize, it's no easy deal to do virtually anything when the pressure above you turns astronomical. The obsession to rival, and the fear of losing, may have being the main pressures that the parents exert toward their young and helpless children. The pressure keeps growing, up to a point when the children had it enough already. Their head become saturated with the act of endless studying, and hence their soul desires a wandering time off study.

They may choose school as their first frontier to wonders, but even there some teachers act just like their fearful parents. Annotations to teachers as "your parent at school" may have helped the fear to grow more. And theses desperate teacher unleashed their fear in the form of humongous amount of homework, assignments, and exams for the students. Perfect combinations for desperate students.
So, let's look at the chart once more. Pressures from their beloved parents, respected teachers and fellow classmates. Literally, pressures everywhere. So how wouldn't you have expected that there will be a point on which they will "burst out", or at least, had their studying spirit depreciated?

Well, I might very well have gotten it wrong, but the truth hath spoken all around us. You don't have to notice the desperate student with eye-bags, barely awake in their attempt of last reading before the exam time. No need to observe the seemingly futile attempt of students to keep their every focus on teacher's explanation, either. Especially while every single word of the teacher's explanation comes as a soft, transparent waves of pillow for their noon sleepy time. (Yeah, of course, it would be best if we tracked the problems to the students themselves, but that is not where I am going.)

Sure, after talking qite a little bit of some children going through serious, pressurized time, we won't hold them up any longer, eh? Let's breathe some fresh air, and as the previous paragraph implies, no need for thorough observation of the whole students to see this phenomenon.
The sole internet might be very helpful in such cases, even though, as Abraham Lincoln put it into perspective, not everything on the internet is true. (Lincoln?)
But, these stuffs below are credible enough, aren't they?

source: 9gag
For me, the thing explained above is pretty mind-blowing. No, not because of the brain in the image, but due to the fact that I may have done this quite a few times without even realizing it.

But this one below is pretty obvious to you and me, eh?

source: pinterest
Best things comes last. But nothing good will come, had you not start.
Less Studying, More Learning!

Note: For fellow Indonesians who'd like to read more of my writings in this topic, I recommend these two links. Enjoy! And enjoy!
Lanjutkan baca »

Kamis, 05 Juni 2014

Article#302 - Kutipan Hari Ini

"Düşman istersen nefis yeter. Nasihat istersen ölüm yeter."
- Bila kau ingin lawan, cukuplah syahwat jahat. Bila kau ingin saran, cukuplah ingat wafat.

~dikutip dari kata-kata Bediüzzaman Said Nursî (1877-1960), ahli teologi asal Turki yang menulis kumpulan buku tafsir Risale-i Nur Külliyatı. Kutipan versi lengkap ada di laman berikut, dan terjemah ditulis oleh Arya Sandhiyudha. Dikutip pada Sabtu, 16 Mei 2014, 22:48 (UT+9).

sumber

Lanjutkan baca »

Senin, 02 Juni 2014

Article#301 - Selamat Datang Pahlawan Muda

Selamat datang pahlawan muda
Lama nian kami rindukan dikau
Bertahun-tahun bercerai mata
Kini kita dapat berjumpa pula
Dengarkan sorak gempita
Mengiringi derap langkah perwira
Hilangkan rindu
Dendam ibumu
Selamat datang di Jakarta Raya

Selamat datang pahlawan muda
Lama nian kami rindukan dikau
Bertahun-tahun bercerai mata
Kini kita dapat berjumpa pula
Dengarkan sorak gempita
Mengiringi derap langkah perwira
Hilangkan rindu
Dendam ibumu
Selamat datang di Jakarta Raya

© Ismail Marzoeki. 1949

***

Nama Ismail Marzoeki (1914-1958) termasuk dari nama-nama seniman dan komponis lagu Indonesia yang masih familiar di telinga warga Indonesia hingga saat ini. Diresmikannya Taman Ismail Marzuki (TIM) di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, mungkin turut andil dalam menggaungkan hingar nama beliau hingga saat ini. Kepopuleran taman yang diresmikan 10 tahun setelah wafatnya Ismail Marzoeki tersebut cukup disokong dengan adanya Planetarium Jakarta dan Institut Kesenian Jakarta yang ikut bernaung dalam cakup lindung taman.
Meskipun puluhan lagu tergubah sebagai karya-karyanya, lagu Rayuan Pulau Kelapa beliau tetap menjadi yang paling terkenal, berkat siaran TVRI di masa Orde Baru yang konon setia memutarkan lagu tersebut di akhir acara televisi.

Sayangnya, penulis tidak mendapatkan cukup bahan untuk menuliskan bagian ini lebih lanjut, lebih jauh. Mungkin ada hubungannya dengan rentang waktu yang cukup jauh antara tergubahnya lagu dengan tercurahnya tulisan ini. Atau, penulis hanya kurang telaten mencari.

Baiklah, ayuk mendengarkan.


*****

Ketika mencoba mengingat kapan pertama kali saya mendengar lantunan lagu ini, ingatan saya hanya sampai ke suatu waktu dimana saya berusaha mencari, seperti apa Rayuan Pulau Kelapa yang sudah penulis singgung sebelumnya. Sebuah pencarian yang berakhir dengan sedikit kekecewaan karena isi liriknya tidak memuat unsur "rayuan" yang dibayangkan terjeratnya penulis dalam mengeklik tautan demi tautan video lagu setipe yang demikian berlimpah. Ya, ketika mendengar dendangnya, sesekali muncul unsur déjà vu yang akhirnya menguap begitu saja karena tak bertemu dengan ujung jalan.

Demikian, sampai rekan saya Iskandar yang konon menjadi idola para wanita itu mencantumkan judul tersebut di laman Tumblr-nya beberapa hari yang lepas. Juga kapan lagu terkait dikumandangkan.

Wisuda.
(hati-hati, mungkin tulisan selanjutnya sedikit melantur dan beraroma galau. Maafkan saya.)

Jujur saja, sebagai salah satu individu yang ikut menjalani prosesi wisuda dari awal hingga akhir, otak saya waktu itu entah bagaimana tak merekam detik demi detiknya. Mungkin saya sibuk memikirkan bagaimana saya akan bertahan dalam pose yang sama dalam beberapa waktu ketika dipanggil ke panggung bersama dengan kawan-kawan yang lain. Mungkin saya tak sabar menanti apa yang pecah nanti ketika prosesi berakhir (meskipun belakangan saya bersyukur, tidak ada perpecahan yang mengganggu kekhidmatan prosesi saat itu). Yang bisa saya jamin adalah bahwa otak saya waktu itu tak terbenam dalam euforia, setelah berkesempatan berdiri satu panggung dengan idola para wanita yang namanya saya sebut sebelumnya. Bagaimanapun juga saya masih 'normal', saya harus tekankan itu.

Bukan kebetulan pula, jika saya mengetikkan kata-kata ini hampir tepat dua tahun setelah semua itu berakhir. Lebih tepatnya memang disengaja. Apalagi dua hari yang lalu, almamater saya kembali meloloskan wisudawan-wisudawati baru. Sedikit dosis survei di media sosial akan dengan mudah menguarkan semerbak dengan berbagai curahan kegalauan, keharuan dan tertawaan mereka yang baru melangkah keluar dari gerbang almamater. Rasanya senang yah keluar, meskipun sebenarnya mereka masih harus memasukinya lagi dalam beberapa waktu ke depan untuk mengurus legalisasi ijazah dan kawan-kawannya.
Tetap saja, waktu-waktu begini tiap tahunnya akan menampilkan sindrom galau pasca wisuda yang dirasakan sedemikian rupa oleh lulusan baru. Sindrom yang juga merembet ke alumni di angkatan-angkatan sebelumnya.

Bagaimanapun juga usangnya putaran memori otak saya ketika diminta mengulang momen demi momen kembali ke muka, ada yang tetap terngiang dalam kepala. Mungkin karena gayanya yang tak biasa. Yang saya ingat, saat itu hanya beberapa jam sebelum kami semua harus berjalan mantap dengan setelan lengkap menuju lokasi acara. Tetapi, beberapa kawan memutuskan menggelar lapak di belakang asrama.
Lapak tentunya tak lengkap tanpa makanan, dan makanan memang perlu dihabiskan. Untuk apa lagi makanan kalau bukan untuk dimakan? Dan tentu saja, memakan makanan paling seru ketika dilakukan beramai-ramai. Maka beberapa kawan yang mempelopori lapak ini sukses dalam menarik beberapa individu lain yang butuh keceriaan pagi hari, butuh secemil gizi, atau butuh pengusir balada pagi.

Namanya anak muda yang berkumpul (re: sok muda), kurang menggigit ketika hanya sunyi yang menghimpit. Maka keluarlah alat-alat pembuat ramai, baik berupa instrumen, atau cukup dengan pita suara. Yang jelas, satu momen itu sukses mengusir kejenuhan menjelang persiapan perpisahan. Kan sedih, mau berpisah aja, pakai siap-siap segala. Huft. Dokumentasi mungkin cukup berbicara mewakili diri saya yang terbata dengan patah-patah kata. Meskipun sedikit pudar fotonya, ingatan di kepala semoga tak pudar. (Maaf klise.)

Dasar anak muda. (re: sok tua). Sumber
Semoga banyaknya garis coretan yang penulis bubuhkan di tulisan ini tidak mencoret-coret kenangan indah yang telah terlukiskan. (Maaf klise lagi.)

Akhir kata, sepertinya penulis hanya akan menyampaikan, bahwa masa-masa paling indah, adalah masa di Madrasah 'Aliyah. Maka senantiasa syukurilah, dengan menjaga ukhuwah.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mensyukuri nikmat-Nya.
Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...