Senin, 30 September 2013

Article#215 - Kutipan Hari Ini

Water does not resist. Water flows. When you plunge your hand into it, all you feel is a caress. Water is not a solid wall, it will not stop you. But water always goes where it wants to go, and nothing in the end can stand against it. Water is patient. Dripping water wears away a stone. Remember that, my child. Remember you are half water. If you can't go through an obstacle, go around it. Water does.

~quoted from a quote in The Penelopiad (2005), a novel of Margaret Atwood (b. 1939), Canadian poet, novelist, literary critic, essayist, and environmental activist. Quoted at Monday, 30th September, 2013, 20:34 (UT+9)

source
Lanjutkan baca »

Article#214 - Butir-Butir Tampias Hujan

Here comes the rain again, falling from the stars
Drenched in my pain again, becoming who we are
As my memory rests, but never forget what I lost
Wake me up when September ends

30 September 2012.
Lagi-lagi Sasha melamun di ruang musik. Baginya, ini seperti rumah kedua. Terutama ketika kamar kos tak bisa diandalkan dalam memberi ketenangan. Disini ia selalu bisa memanja dirinya, berkeliling memainkan berbagai alat musik yang berjajar di dalam ruang.
Tetapi bukan karena ketenangan, malam tersebut ia ada disana. Deras gemuruh air yang memburu jiwa kedinginan di luar sana, mungkin bisa memberimu jawabnya.

Sasha berjalan sebentar, mengetuk gendang, meniup-niup seruling, dan akhirnya ia memilih gitar akustik yang penuh lecet di pojokan ruang.
Penuh lecet, sekaligus penuh cerita.
Diliriknya senar-senar tersebut, yang masih tercoreng gurat-gurat luka saat ia pertama kali memainkannya beberapa tahun lalu. Dengan koin receh. Dan saat itu ada yang memarahinya habis-habisan.

Sasha tersenyum, nanar, tak ingin melanjutkan nostalgianya. Perlahan ia petik senar demi senar, dengan suara merdu yang hanya bisa didengarnya seorang.
Melodi yang pertama kali ia mainkan.
Kalah oleh tampias deras hujan.

sumber

I lie down and blind myself with laughter
A quick fix of hope is what I'm needing
And now I wish that I could turn back the hours
But I know I just don't have the power

30 September 2013.
Hujan lagi.
Sasha memang biasanya tak ambil pusing dengan air yang turun membasahi bumi, apalagi kali ini ia tak perlu keluar kamar kostnya. Paling tidak, begitu ia pikir setengah jam yang lalu.
Tapi nyatanya sekarang ia berada di sebuah kedai di pinggir jalan, yang tak mengekang para pelanggannya dari hembus sejuk yang membawa butir kecil air. Meski ia tidak memesan makanan, hembus sejuk itu tentunya tetap ia terima. Tanpa ia harus meminta.

Lani teman kosnya meliriknya lagi lamat-lamat.
"Yakin Sha, nggak ikut makan? Aku jadi nggak enak nih, kupesenin teh hangat deh ya!"
Sasha hanya bisa pasrah. Ia tak pernah bisa menghentikan Lani, sejak dulu.
Dengan ucapan terimakasih disertai helaan nafas, ia meraih gelas teh hangat yang baru saja tiba. Sasha meneguknya sejenak. Hangat, tetapi hangatnya tak menghalangi dingin hembus angin.
Setelah hangatnya hilang pun, hembus angin terasa berbeda. Seolah meniupkan kembali kata-kata yang terbersit sebelumnya.
Hanya bisa pasrah.
Tak pernah bisa menghentikannya, sejak dulu.
Tetapi kini bukan Lani yang Sasha pikirkan. Ia bahkan tak lagi menyeruput teh hangatnya yang mulai tidak hangat.
Lembar-lembar pikiran lama kembali terbacakan di kepala Sasha.
Dia yang memarahi seorang gadis dengan koin di sela jarinya.
Dia yang dengan bodohnya lupa lagu favoritnya sejak lama.
Padahal dia sendiri yang pertama kali mengajarinya.
....
Dia yang dipenuhi semangat berjuang, terkadang kelewat batas.
Tentu saja, dia. Dia yang selalu gagal ia hentikan.
Hatinya kini bergetar, Sasha merasa tak sanggup untuk tidak menyebut namanya. Begitu perlahan, tanpa suara.
"Bang Nik, adik, ibu dan ayah selalu menantimu. Setiap saat menunggu kabarmu. Adik pun tak tahu rimbamu Bang. Kapan Abang akan pulang?"

Sasha mencoba tersenyum, nanar, tak kuat melanjutkan nostalgianya. Perlahan ia ketuk gelas tehnya, dan ia gumamkan suara yang hanya bisa didengarnya seorang. Lani pun tak menyadarinya.
Isak tangis yang telah lama tidak ia jatuhkan.
Kalah, telak oleh tampias deras hujan.
Lanjutkan baca »

Sabtu, 28 September 2013

Article#213 - Simaklah

Simaklah cerita dari para petualang
Penakluk keseruan yang tak terkatakan
Kepada hidup mereka simpulkan keceriaan
Dan kepada takdir, mereka lambaikan tangan
Kejutan seolah menjadi santapan harian
Dibubuhi taburan getir yang tersimpan
Pada akhirnya, semua jadi sekadar selingan
Karena mereka memang bukan pecandu angan
Bukan pula yang gagal meraih nyaman
Mereka hanya setia dengan kehidupan
Mendengarkan suara dunia

Simaklah cerita dari para pejuang
Penakluk ketakutan yang tak terbilang
Kepada kami mereka simpulkan pencapaian
Dan kepada langit, mereka tengadahkan tangan
Hinaan seolah sebatas bungkus cemilan
Sekadar pengoles mimpi di benak pikiran
Kelak, bungkus itu akan mereka tanggalkan
Karena mereka memang bukan pemadu harapan
Bukan pula yang gagal mendekap impian
Mereka hanya bersua dengan kemauan
Mengobarkan tekad dunia

Simaklah cerita dari pencari peluang
Penakluk apa-apa yang halangi dari tujuan
Kepada jalan mereka guratkan asa
Dan kepada diri, mereka mantapkan rasa
Tiada detik terlewat tanpa pencarian
Dengan bumbu ekstra dari penikmat duka
Yang kemudian hanya jadi selipan kisah
Karena mereka memang bukan pengejar lara
Bukan pula yang gagal menggapai tujuan
Mereka hanya mengakrabkan kenangan
Membubuhkan cerita dunia

....atau mungkin begitu yang kami pikirkan.
Kami memang bukan penyimak yang menyenangkan, tetapi semoga kalian bisa menjadi salah satunya,
....atau menjadikan kami salah satunya.



Hari 6746, ditemani dingin malam langit utara.
Terhatur dalam sepi tanpa perwujudan,
Sabtu, 28 September 2013, 19:58 (UT+9)
Sekitar 10.600 meter di atas Laut Cina Selatan
Lanjutkan baca »

Kamis, 26 September 2013

Article#212 - Kutipan Hari Ini

"When you judge another, you do not define them, you define yourself."

~quoted from Wayne Walter Dyer (b. 1940), an American self-help author and motivational speaker. Quoted at Thursday, 26th September, 2013, 23:52 (UT+7)

source

Lanjutkan baca »

Senin, 23 September 2013

Article#211 - Jangan Meninggalkan

"Jangan meninggalkan amal karena takut tidak ikhlas. Beramal sambil meluruskan niat lebih baik daripada tidak beramal sama sekali.

Jangan meninggalkan dzikir karena ketidakhadiran hati. Kelalaianmu dari zikir lebih buruk daripada kelalaianmu saat berdzikir.

Jangan meninggalkan tilawah karena tak tahu maknanya. Ketidaktahuan makna dalam tilawah masih lebih baik daripada ketidakmauan membaca firmanNya.

Jangan meninggalkan dakwah karena kecewa. Kesabaranmu bersama orang-orang shalih lebih baik daripada kesenanganmu bersama orang-orang yang tidak shalih.

Jangan meninggalkan amanah karena berat. Beratnya amanah yang kau emban sebanding dengan beratnya timbangan amal yang akan kau dapatkan.

Jangan meninggalkan medan juang karena terluka. Kematian di medan juang lebih baik daripada hidup dalam keterlenaan.

Jangan meninggalkan kesantunanmu karena lingkungan kasar. Santunmu saat dikasari hanya akan menambah kemuliaan dan mengundang simpati.

Jangan meninggalkan kesetiaan karena dikhianati. Setia kepada janji selalu lebih baik daripada mengkhianati orang yang mengkhianati.

Jangan meninggalkan cinta karena cemburu. Kecemburuan dalam cinta jauh lebih indah daripada kegersangan jiwa tanpa cinta."

~dikutip dari kultwit (kuliah twitter–pen.) akun @bersamadakwah, yang pengutip temukan di akun fesbuk. Dikutip pada Senin, 23 September 2013, 23:27 (UT+7)

sumber gambar
Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...