Senin, 13 April 2015

Article#409 - Bahasa Semesta (Bagian 1)

Matematika, secara sederhana adalah bahasa yang dipakai sebagai naskah bagi perancangan alam semesta. Naskah yang disalahkaprahi sebagai simbol-simbol tanpa bantah, alih-alih ditanggap terjemah.
Mudah-mudahan sedikit cuplikan di bawah dapat mengajakmu menyelami khazanah kosakata milik bahasa semesta. Selamat menyaksikan.
(transkrip disadur dari edukasi.kompasiana.com, dengan sedikit pengubahan)

Math: Finding Harmony In Chaos 




Saya minta maaf karena tidak pakai, apa itu namanya? (Slide presentasi) mana-mana saya tidak bisa karena saya gagap teknologi benar. Saya, TEDx saja baru dengar seminggu yang lalu, hoo TEDx… serius bukan aku mau menghina, tapi karena memang aku tidak tahu. Ketika temanku bilang pokoknya udah 2 bulan yang lalu diundang TEDx, aku bilang ya udah mumpung di Bandung, senang aku Bandung. Tau-tau kemarin begitu ngobrol sama orang-orang TEDx ternyata TEDx itu “sesuatu”. Banyak yang aku sepelekan jadi, banyak banget dalam hidupku, dulu Gus Dur waktu maju juga aku sepelekan di depan publik “alaah Gus.. Gus.. ga mungkin jadi,” jadi presiden ternyata.

Aku ditugasi yang agak berat, karena udah paling siang dan disuruh ngomong soal matematik.
Baiklah aku mungkin akan awali bahwa Indonesia kurang maju karena matematika-nya rendah. Pendidikan saya di matematika, saya dua jurusan dan teknik sipil, dua-duanya tidak selesai. Karena bagi saya orang yang selesai kuliah itu orang yang meneruskan sejarah tapi orang yang DO itu orang yang menjebol sejarah.
Problemnya begitu kita dengar matematika, kita selalu kebayang hitung-hitungan, satu tambah satu. Padahal matematika bukan about itu, matematika tentang logika kita, tentang konsistensi logika kita.
Tidak ada pelajaran yang terbaik untuk melatih logika kita, konsisten, kecuali matematik.
Jadi di dalam bahasa saya, di dalam benak saya, Bahasa Indonesia itu ga ada cuma Bahasa Inggris, Bahasa Madura, Bahasa Perancis, Bahasa Aborigin, tapi juga ada Bahasa Matematika. Cuma kalau di matematika tambah itu pakai “+” kurang itu pakai “-“ sama dengan itu pakai “=” sama saja ada gramatikalnya sendiri, kalau lebih besar sama dengan ada. Ini jarang sekali ditanamkan ke publik sejak dini atau sejak anak-anak bahwa matematika adalah about language. Seandainya itu ditanamkan sejak SD dengan guru matematika. Mestinya di SD itu, profesor kalau di Jepang profesor-profesor doktor nya justru mengajar tingkat rendah karena untuk dasar. Diajarkan bahwa yang penting itu tingkat dasarnya, kalau diajarkan bahwa matematika itu logika, kita nggak akan jadi kayak gini.

Karena logika kita nggak konsisten, misalkan konsisten, saya termasuk orang yang menolak pemakaian helm. Debat sama orang-orang ahli hukum, aku bilang kenapa kok pakai helm? Supaya kalau jatuh kemungkinan nggak mati, kemungkinannya nggak geger otak. Aku bilang, memang kalau hidup, negara kasih kerjaan? Memang kalau hidup negara kasih pelayanan kesehatan? Seperti Pandji bilang, jangan sampai sakit di Indonesia, karena bangkrut..
Kecuali kalau polisi bisa nyetop... "Heh stop kalian nggak pakai helm, pemerintah tiap tahun sudah invest ke you 2 milyar per orang termasuk penyediaan lapangan kerja, ini saudara menyia-nyiakan, masuk penjara". Lha ini, nggak ada apa-apa, saudara nggak pakai..§{@##(%*

Itu logika-logika matematika saya, karena apa? Matematika selalu dikesankan bahwa matematika ilmu kepastian, itu bullshit dan itu hanyalah orang yang tidak mengerti. Aku malu kalo ada teman, teman dekat yang ngomong kayak gitu. Matematika ketidakpastian, tetapi matematika tentang kesepakatan.

1 + 1 = 2 siapa bilang pasti? Kalau kita bicara dalam konteks bilangan persepuluhan, iya. Tetapi dalam bilangan biner, 1 + 1 tidak 2.
Kita sepakat dengan Pancasila, sepakat kan, trus sepakat bahwa bumi, tanah dan seisinya dikuasai oleh negara bagi kemakmuran, udah sepakat itu. Tetapi dari Freeport kita cuma dapat 1%, gimana gitu matematikanya. Jadi matematika about logika, kalau seluruh masyarakat Indonesia diajar matematika secara benar. Saya mendapat pengertian matematika secara benar ketika saya kuliah di ITB Matematik, dari Bapak Dr Hutahean, mudah-mudahan Tuhan ngasih berkat ke beliau.

Dibuka mata saya, oh ini matematik, dari situ saya tahu hubungan matematika sama musik. Kalau matematik kita benar... banyak penyair, Rendra matematikanya jelek, Toni Prabowo pemusik matematikanya jelek padahal menurut saya seseorang yang musiknya bagus matematikanya harus bagus karena berhubungan.

Kalau seseorang matematikanya bagus pasti dia sastranya bagus. Tapi ternyata banyak teman-teman sastrawan yang matematikanya tidak bagus, berarti matematika diajarkan secara salah oleh kurikulum.

Karena di dalam matematika, kita selalu menemukan bahasa-bahasa baru, yang nantinya kita dapat menemukan, misalnya e = mc². Atau misalnya ketemu dimensi-n, padahal dalam bayangan kita, di dalam benak kita, yang ada adalah maksimal dimensi tiga (x-y-z), semua benda dilukiskan dalam itu. Nggak kebayang ada dimensi lebih dari 4, ada dimensi-n. Tapi itu ditemukan dalam rumus-rumus matematika diturunkan, diutak-atik oleh keisengan sampai ketemu dimensi-n. Ternyata bisa diterapkan di astronomi kemudian, ternyata kata orang-orang astronom di matahari ketika gravitasi bisa menarik cahaya di situ, teman-teman dari fisika bisa lebih menjelaskan, di situ ada banyak dimensi.

13897838801238229385

Jadi ada kadang-kadang kata-kata diciptakan duluan, kata-kata matematika, kemudian teknologi mengejarnya. Zaman saya di tehnik sipil, karena belum ada komputer yqng diitung itu gitu.. Gaya kalau kita nglihat mau bikin beton itu, satu di pinggir, satu di tengah, satu di sana, berapa bebannya. Dari situ didesain. Padahal udah ada rumus matematik untuk menghitung tiap gaya, deretnya itu ada. Di situ tekanannya berapa, di titik itu.. Tak terhingga.
Begitu komputer keluar, dihitung bisa lebih efektif kolom dan... Bukan begitu mas?

Jadi setelah, nah begitu juga penyair mengutak-atik kata-kata…
Aku bawakan mayatku padamu, tapi kau bilang hanya
Aku bawakan cintaku padamu, tapi kau bilang masih
Aku bawakan arwahku padamu, tapi kau bilang hanya
Tanpa apa aku datang padamu


Dalam bahasa kita, gimana kita membawa arwah kita? Gimana kita membawa mayatku padamu tapi masih kau bilang, sajaknya Sutardji.
Bedanya di dalam puisi, itu hanya ada dalam penghayatan kita, oh dengan membaca itu ketika aku datang ke kekasihku aku dengan penghayatan lain.
Jadi kalimat puisi membentuk dunia baru. Begitu juga kalimat matematika. Ketika Ridwan Kamil mengatakan.. sama teman-teman yang lain mengatakan... atau Panji, “Jangan mengharapkan perubahan tapi ciptakanlah perubahan”
Bagi aku itu kalimat matematik yang lahir dari utak-atik, utak-atik, utak-atik lahir kalimat itu. Lalu kita menghipnotis diri kita, menyihir diri kita untuk mewujudkan kalimat itu.

Kalimat-kalimatku, misalkan di twitter aku sering ngomong, itu aku utak-atik dari permainan kayak matematik di kepala.
Kalau tidak salah ada 1000 persamaan, misalkan ya, a + b = c lalu a diuraikan, a ternyata d + f berarti d + f + b = c, lalu c diuraikan... matematik kan terus, terus dan seterusnya... lalu ketemu e = mc².. Lho intinya gitu kok.

Nah, dari pengalaman.. Tadi mas Deni Kobra.. eh siapa namanya? Deni Darko....
Orang besar itu salah satu cirinya selalu salah mgomong orang. Aku belajar dari Rendra, Rendra itu nggak pernah bener nyebut orang. Kan ada Nono Anwar Makarim di hukum, itu kalau nyebut "bilang tuh temenmu Nini Makarim".
Trus pak Jakob Oetama, nggak pernah bener nyebut Emha Ainun Nadjib. "Jo, minta tolong bilangin ama temenmu, Pak Aimum Najib".
Jadi saya harus salah-salah nyebut, biar keliatan besar.

Semuanya dari matematik, itu di puisi, apa yang ada di matematik? Matematik itu konsistensi. Kalau kamu belajar matematik.. Susah ya ngomong kalau bukan sama orang matematik.
Sebetulnya kan penurunan-penurunan dalil Pythagoras... sin²α + cos²α = 1
kalau kalian turunkan itukan dari lama, dari segitiga siku-siku trus diturunkan sebetulnya kan intinya a + b = c. Misalkan katakanlah gitu, a nanti diura. Hoo a itu ternyata dari pengalaman sama dengan e + g, dimasukkan, terus... tiba-tiba kita sampai takjub sendiri, loh kok ternyata jadi seperti ini.
Itulah keindahan matematika, ga kayak keindahan puisi. Kalau kata Bentrand Russel itu keindahan puisi itu meledak-ledak.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak pernah disampaikan awan kepada hujan
Yang menjadikannya tiada


Keindahan matematik itu indah; dingin indahnya; tapi indah. Seperti orang dicium diam aja, itu matematik.
Sama aja, kita kembali... Ada violinist di sini? Daripada Maya Hasan aku panggil harpist, pemain harpa.. Kalau kupanggil langsung "Kurang ajar kamu!"

Paling gampang contohnya simfoni empat puluh.. (menirukan bunyi) Sebetulnya itu kalau diambil intinya adalah.. (menirukan potongan bunyi).
Kemudian di persamaan kedua, kalau di matematik, oh dari pengalamanku, dari pengetahuanku melihat yang lain-lain, diuraikan bisa jadi (lain). Kalau disebut lagi intinya, diperas lagi jadinya (ketukan tempo).

Matematika adalah kemampuan menangkap pola dari sesuatu yang semula tidak terpola. Itulah kemampuan matematika yang harus ditanamkan.
Melihat kemacetan yang seolah-olah semrawut tapi ternyata ada polanya. Orang matematika akan melihat, oh pada jam 6 pagi dan jam... akan dibentuk konsep-konsep himpunan untuk menyelesaikan masalah.

Batik ada berapa coba? Parang kusumo, parang rusa, batik pagi-sore Pekalongan, trus batik kawung, banyak banget di Indonesia, tapi teman saya matematika menjadikannya cuman ada enam pola batik. Jadi kemampuan menangkap pola dari sesuatu yang tidak terpola.

Ketika aku bilang cinta tak perlu pengorbanan, itu adalah kata-kata baru, kata-kata matematik yang baru dari aku, karena apa? Aku udah atik, atik, utak-atik, utak-atik di kepala dan tidak tahu berapa prosesing yang terjadi. Sama kayak penurunan rumus.
Cinta tidak perlu pengorbanan; pada saat kau merasa berkorban, pada saat itu cintamu mulai pudar. Sementara pada masa lama cinta adalah pengorbanan, tugasku sekarang adalah mewujudkan di dalam diriku bahwa cinta tak perlu pengorbanan. Begitu kau merasa berkorban, bullshit cintamu. Nah kalau aku sudah ini, tinggal bentuk seperti idenya mas Kamil, bentuk komunitas ada nggk yang bisa ngikuti itu... Sehingga ketika kalian hujan-hujan ke pacarmu gak merasa berkorban, wong cinta kok. Yang ada pengorbanan (itu) kalkulasi.

Aku pingin cinta manusia ga ada hitung-hitungan, suatu hari, minimal aku di dalam diriku sendiri. Makanya yang aku terapkan kepada anakku, ini masalah matematika, kalau suatu hari bapak tanya kenapa kamu cinta sama pacarmu dan dia bisa jawab, berarti itu bukan cinta. Itu kalkulasi, cinta tidak ada karena-karena.

Hiburanku kalau menonton orang yang tertangkap, orang narkoba yang tertangkap di TV, hiburanku adalah melihat perempuannya yang tetap setia, itu cinta, mau narkoba mau dibela itu cinta. Bukan kayak salah seorang penyanyi dangdut itu, begitu suaminya ditangkap, eh ditinggal.

Sekarang gini, semua hal itu didasari, kita sadar nggak sih kalau kita terjajah? Kadang nggak.
Di dalam pemikiran matematik, semua hal punya dasar. Coba saya tanya, begitu kita dibangunkan dari tidur, disuruh bikin tangga nada, pasti do-re-mi-fa-sol-la-si-do. Pasti gitu. Pasti deh. Karena apa? Orangtua kita mengajarkan bahwa tangga nada di dunia hanya ada satu. Bikin lagu apapun atas dasar itu, tanpa sadar. Padahal, di Sunda ada da-mi-la-ti-na-da. Di Jawa ada slendro dan pelog. Di Flores tiap kecamatan nada dasarnya beda-beda. (meniup saksofon)
Jadi seluruh tangga nada di dunia itu, dalam pemikiran matematik, cuma dibagi dua: mayor sama minor. Intinya nada itu, di manapun.. err saya agak malu ada dia di situ, dia lebih pinter. Bayangan saya pembicara di TEDx itu orangnya goblok-goblok... asu tenaan.
Begitu masuk ada Ridwan Kamil, ada Pandji... ada yang dari Garut itu, udah banyak ngerjain.

Sekarang saya tanya, nada dasarnya ini apa? (dendang) (tembang) Apa itu, nggak ada do-re-mi-fa-sol nya.
Ending dari pernyataanku ini, mari kita berpikir matematis, matematik tidak sebagai hitung-hitungan, tapi matematik sebagai bahasa karena itu mempengaruhi logika kita. Matematika erat kaitannya sama lagu, erat kaitannya sama puisi. Aku setuju bahwa matematika adalah orkestrasi dari seluruh konsep. Konsep arsitektur, konsep mesin, teknik mesin, konsep seni rupa, digabung jadi satu dalam konsep matematika.

Matematika adalah orkestrasi dari seluruh konsep sementara musik adalah matematika yang berbunyi.
Yang terakhir adalah inti dari matematika adalah mencari persamaan. Tidak ada pelajaran matematika tentang pertidaksamaan; itu hanya pengecualian. Maka dalam kehidupan sehari-hari ada gereja, ada mesjid, ada Sunda dan lain-lain sebagainya kenapa kita selalu mencari perbedaan, mari kita berpikir matematika dan selalu mencari persamaan.

Terimakasih.
Lanjutkan baca »

Jumat, 10 April 2015

Article#408 - Menilas Kisah Tambora


Tambora, Penakluk Dunia yang (Nyaris) Terlupa


Oleh: M. Ma'rufin Sudibyo
disadur dalam mengisi momen 200 tahun letusan Tambora 1815


Krakatau. Itulah jawaban spontan sebagian besar dari kita saat disodori pertanyaan mengenai gunung berapi apakah yang letusannya terdahsyat sepanjang catatan sejarah. Sebagian kecil mungkin akan menjawabnya dengan Danau (Gunung) Toba, seiring kian teruangkapnya sejumlah fakta baru yang mencengangkan di balik keindahan Danau Toba. Letusan Gunung Toba memang letusan terdahsyat dalam 27,8 juta tahun terakhir. Namun peristiwa itu terjadi pada 74.500 tahun silam atau jauh di luar rentang masa sejarah yang tercatat.

Tak ada yang menyangsikan kedahsyatan Letusan Krakatau 1883. Gunung berapi mungil di Selat Sunda itu memuntahkan tak kurang dari 20 kilometer kubik material vulkanik. Sebagian diantaranya dihembuskan hingga setinggi 40 km ke dalam atmosfer. Jika seluruhnya dianggap berbentuk debu dan kita tuangkan ke dalam wilayah DKI Jakarta sembari dipadatkan demikian rupa, maka seluruh wilayah itu akan terbenam dalam timbunan pasir setinggi 30 meter. Namun yang paling dikenang dari Krakatau adalah tsunaminya. Ambruknya hampir seluruh tubuh gunung seiring letusan dahsyatnya membentuk kaldera bawah laut disertai hempasan awan panas dalam jumlah sangat besar. Efek langsungnya adalah tsunami, yang berderap ke kedua belah sisi Selat Sunda dan kala menghempas ke pesisir bahkan sampai setinggi 37 meter seperti terjadi di Merak. Korban jiwa yang direnggutnya amat besar. Pemerintah kolonial Hindia Belanda mencatat ada 295 desa dan kota yang hancur akibat terjangan tsunami dengan total korban jiwa resmi sebesar 36.417 orang. Tetapi jumlah korban jiwa dalam perhitungan tak resmi lebih besar, bahkan mungkin menyentuh angka 120.000 jiwa.


Gambar 1. Kawah raksasa (kaldera) yang menghiasi puncak Gunung Tambora saat ini, diabadikan dari udara dengan arah pandang ke timur laut. Kawah raksasa berdiameter 7 km sedalam 1.250 meter ini merupakan jejak paling kentara dari kedahsyatan Letusan Tambora 1815. Di dasar kawah raksasa ini tepatnya di sisi utaranya berdirilah si anak Tambora, yakni kerucut Doro Api Toi (DAT). Sumber: Pratomo, 2006.
Meski demikian Krakatau 1883 bukanlah letusan terdahsyat, baik bagi Indonesia maupun dunia. Hampir dua abad silam tahun silam, tepatnya di bulan April 1815, sebuah gunung berapi lain yang juga berada di Indonesia meletus dengan skala kedahsyatan jauh lebih besar. Volume material vulkanik yang dimuntahkannya delapan kali lipat lebih besar ketimbang Krakatau 1883. Demikian banyak debu yang ditebar ke langit sehingga ia mampu menciptakan kekacauan cuaca di segenap penjuru permukaan Bumi hingga berdampak besar pada peradaban kita. Tak heran jika letusan ini disebut sebagai salah satu letusan pengubah dunia. Hingga tahun 2013 letusan gunung berapi ini merupakan letusan gunung berapi terdahsyat di muka Bumi dalam kurun 26.500 tahun terakhir terhitung semenjak amukan Gunung Taupo (Selandia Baru), sebelum kemudian riset terkini memperlihatkan letusan Gunung Rinjani (juga di Indonesia) di sekitar tahun 1258 ternyata lebih besar.
Itulah Gunung Tambora. Guna membayangkan seperti apa kedahsyatannya, mari imajinasikan kita menjadi penguasa dunia dan memunguti satu persatu hululedak nuklir yang disembunyikan di seluruh negara nuklir terkini. Kita kumpulkan semuanya di satu tempat lalu diledakkan secara bersama-sama. Energi Letusan Tambora 1815 masih lebih besar ketimbang kekuatan ledakan seluruh hululedak nuklir tersebut. Jika tak jua terbayang, mari imajinasikan kita sedang berhadapan dengan kengerian ledakan bom nuklir yang meluluhlantakkan kota Hiroshima (Jepang) pada 6 Agustus 1945 silam. Untuk ukuran manusia, ledakan ini sudah sangat besar. Tetapi tidak demikian bagi gunung berapi. Kumpulkan 1.350.000 butir bom nuklir yang identik dengan bom nuklir Hiroshima dan ledakkan semua di satu lokasi pada saat yang sama. Barulah kita akan memperoleh skala energi yang sama dengan Letusan Tambora 1815.
Jika begitu dahsyatnya, mengapa Letusan Tambora 1815 tidak se-ngetop Krakatau 1883? Salah satu jawabannya adalah karena letusan ini terjadi dalam kerangka waktu yang ‘salah’ dalam sejarah umat manusia. Sistem telekomunikasi global baru tercipta lebih dari 60 tahun pasca letusan Gunung Tambora, dalam rupa telegraf yang berbasis teks kode morse (bukan suara). Bagi kita di masa kini, teknologi komunikasi yang satu ini adalah antik sekaligus primitif. Namun untuk kurun 1,5 abad silam, telegraf adalah sarana komunikasi termaju pada zamannya yang memungkinkan umat manusia di berbagai penjuru saling bertukar informasi, juga bergosip. Hanya beberapa minggu setelah jaringan global telegraf tersambung melalui sistem kabel laut, Gunung Krakatau meletus dahsyat. Sehingga informasi letusannya cepat tersebar. Sebaliknya saat Gunung Tambora meletus, kecepatan penyebaran informasi sangat lambat sehingga kabar terawal letusan tersebut baru tiba di London (Inggris) lebih dari enam minggu kemudian.
Jadi, bagaimana sih letusan kolosal hampir dua abad silam itu?
Yogyakarta
Gambar 2. Gunung Tambora di batas pandangan mata, diabadikan dari perairan Laut Flores yang permai di sebelah utaranya. Aktivitas snorkeling nampak di latar depan. Garis putus-putus menunjukkan perkiraan bentuk tubuh gunung berapi ini sebelum 1815. Letusan Tambora 1815 memenggal bagian teratas tubuh gunung bersamaan dengan terbentuknya kaldera raksasa berdiameter 7 km. Sumber: Awang Satyana, 2008.
Gambar 2. Gunung Tambora di batas pandangan mata, diabadikan dari perairan Laut Flores yang permai di sebelah utaranya. Aktivitas snorkeling nampak di latar depan. Garis putus-putus menunjukkan perkiraan bentuk tubuh gunung berapi ini sebelum 1815. Letusan Tambora 1815 memenggal bagian teratas tubuh gunung bersamaan dengan terbentuknya kaldera raksasa berdiameter 7 km. Sumber: Awang Satyana, 2008.
Tengara letusan dahsyat itu terasa di kota Buitenzorg (kini Bogor), pusat pemerintahan pendudukan Inggris di Hindia Timur (kini Indonesia), pada Kamis fajar 6 April 1815 . Kala Thomas Stanford Raffles, kepala pemerintahan pendudukan Inggris di Hindia Timur, membuka pintu kamarnya di istana Buitenzorg setelah diketuk berulang-ulang, matanya langsung bersirobok dengan ajudannya yang tegang tanpa sanggup menyembunyikan wajah piasnya. Laporannya mengejutkan. Ada suara dentuman berulang-ulang setiap seperempat jam sekali yang nampaknya datang dari arah timur. Di tengah puncak permusuhan Inggris dan sekutunya terhadap koalisi Belanda-Perancis, intuisi militer Raffles segera bangun. Mungkin musuh telah melancarkan serangan mendadak terhadap posisi-posisi militer Hindia Timur. Apalagi kabar lolosnya kaisar Napoleon Bonaparte dari pengasingannya di pulau Elba telah menyebar.
Sekitar 400 km ke arah timur dari Buitenzorg, yakni di Yogyakarta, residen Crawfurd telah terlebih dahulu terjaga. Ia juga sangat terganggu dan gelisah mendengar suara dentuman demi dentuman keras terus bersahutan mirip rentetan tembakan meriam. Ia juga beranggapan telah terjadi agresi mendadak dari musuh. Komandan militer setempat segera diperintahkannya bersiaga penuh. Satu detasemen pasukan sontak dikirim ke pos-pos militer terluar, untuk memastikan apa yang sedang terjadi sekaligus bersiap menjadi bala bantuan awal. Namun di tengah kesiapsiagaan dan kegelisahan itu, pelan namun pasti udara Yogyakarta mulai berubah. Matahari tak jua kunjung benderang meski jam telah beranjak siang, alih-alih justru kian memburam dan memerah. Tak lama kemudian langit laksana ditutupi mendung sehingga situasi kian meremang. Mendung itu lalu mulai mencucurkan muatannya, namun bukannya air hujan segar yang berjatuhan, alih-alih debu halus kering yang memedihkan mata. Belakangan air hujan juga tercurah, tapi bersamanya turun pula butir-butir es. Hujan es di Yogyakarta yang tropis? Yang benar saja!
Baik Raffles maupun Crawfurd tak sebersit pun menyadari bahwa ribuan kilometer di sebelah timur, di salah satu sudut gemerlap kepulauan Sunda Kecil, surga sedang berubah menjadi neraka. Sebuah malapetaka berskala luar biasa sedang melanda pulau Sumbawa. Segenap penjuru kerajaan Sanggar, Papekat serta Tambora dicekam kepanikan dan ketakutan tiada tara. Selama berhari-hari Matahari tak menampakkan batang hidungnya sehingga suasana senantiasa gulita. Suara menggelegar terus terdengar dan saling berkejaran. Tanah bergetar berulang-ulang tanpa henti laksana diguncang-guncang dari perut bumi. Udara tak lepas dari hawa maut, sesak oleh pekatnya asap belerang dan debu. Hujan debu mengguyur deras, membedaki apa saja yang ditimpanya. Di tengah horor tersebut, kaki langit nampak memerah menampakkan siluet besar mengerucut yang menandakan Gunung Tambora, gunung yang selama ini dikenal ramah. Tiga sungai api meleleh dari puncaknya, membakar hutan serta padang rumput yang dilintasinya. Masing-masing hulunya memancurkan cipratan-cipratan bara pekat ke udara bersamaan dengan kolom asap tebal menembus ketinggian, seperti lengan raksasa yang sedang meninju langit. Suasana mencekam kian menjadi-jadi seiring sambaran kilat berkali-kali.

Gambar 3. Kiri: ilustrasi Greg Harlin yang menggambarkan saat-saat jelang letusan dahsyat Gunung Tambora pada bulan April 1815. Puncak gunung terus mengepulkan asap dan api, sementara penduduk yang panik bergegas mengungsi. Kanan: endapan debu dan awan panas Letusan Tambora 1815 setebal 4 meter, tersingkap di Desa Tambora yang terletak di kaki gunung berapi itu. Sumber: Johnston, 2012; Sutawidjaja dkk, 2006.
Gambar 3. Kiri: ilustrasi Greg Harlin yang menggambarkan saat-saat jelang letusan dahsyat Gunung Tambora pada bulan April 1815. Puncak gunung terus mengepulkan asap dan api, sementara penduduk yang panik bergegas mengungsi. Kanan: endapan debu dan awan panas Letusan Tambora 1815 setebal 4 meter, tersingkap di Desa Tambora yang terletak di kaki gunung berapi itu. Sumber: Johnston, 2012; Sutawidjaja dkk, 2006.
Puncaknya terjadi pada 10 hingga 11 April 1815. Dentuman demi dentuman dengan suara jauh lebih keras hingga sanggup menggetarkan rumah dan merobek gendang telinga terus terjadi secara beruntun. Langit kini tak hanya mencucurkan debu halus dengan derasnya, namun juga butir-butir kerikil dan gumpalan-gumpalan batu apung beraneka ukuran. Tak hanya daratan pulau Sumbawa, perairan Laut Flores di sebelah utaranya pun direjam habis hujan kerikil dan batu apung sadis. Para nakhoda kapal, baik kapal dagang maupun kapal perang, berjibaku setengah mati berjuang mengendalikan laju kapalnya melewati perairan penuh batu apung menghitam yang sangat sulit dilintasi. Para awak kapal pun berjibaku membersihkan geladak kapalnya dari timbunan debu, kerikil dan batu apung bercampur air secepat mungkin, mencoba mengalahkan derasnya hujan debu dan kerikil. Beberapa kali laut menggila, mengirimkan gelombang aneh yang demikian tinggi melebihi atap rumah. Tsunami itu berulang kali datang menerjang dan menenggelamkan sejumlah kapal yang tak siap dengan perubahan keadaan. Situasi ini terus berlangsung hingga 15 April 1815.
Kaldera
Sebelum 1815, Gunung Tambora adalah gunung tertinggi di seantero pulau Sumbawa yang puncaknya menjulang hingga ketinggian sekitar 4.000 meter dpl (dari paras air laut) atau lebih. Demikian tingginya sehingga ia pun terlihat jelas dari pantai timur pulau Bali meski tempat itu berjarak 300 km lebih dari gunung. Gunung yang seakan memaku bumi pulau Sumbawa ini dikenal kalem. Dalam catatan Global Volcanism Program Smithsonian Institution, letusan Gunung Tambora yang terakhir dan tergolong besar terjadi sekitar tahun 740 merujuk pada pertanggalan karbon radioaktif. Selepas itu selama lebih dari seribu tahun kemudian Tambora terlihat lebih ramah dan bersahabat. Dipadukan dengan kesuburan tanah dan melimpahnya air bersih, tak heran bila di kemudian hari kawasan seputar kaki Tambora menjadi lokasi hunian favorit manusia. Pada puncaknya tiga kerajaan pun tumbuh berkembang di sini, masing-masing Sanggar, Papekat dan Tambora. Ketiganya memiliki tata administrasinya masing-masing dengan kegiatan pertanian dan perdagangan yang sibuk. Hubungan perdagangan dengan mancanegara pun terjalin erat dan saling menguntungkan, seperti dengan Kampuchea (Kamboja) dan juga kekaisaran Cina.
Semua berubah secara dramatis pada April 1815. Letusan kolosal menyebabkan puncak Gunung Tambora terpangkas hebat sehingga ketinggiannya berkurang jadi 2.850 meter dpl. Tak hanya itu, kini puncaknya pun berganti dengan sebentuk kawah raksasa (kaldera) berdiameter sekitar 7 km dengan kedalaman maksimum 1.250 meter, menjadikannya kaldera terdalam di seantero muka Bumi. Di kemudian hari, sebagian kecil dasar kaldera ini digenangi air hujan khususnya di sisi barat daya. Genangan tersebut bernama Danau Motilahalo, yang secara kasar memiliki panjang 800 meter, lebar 200 meter dan kedalaman air maksimum 15 meter. Dipagari dinding-dinding kaldera yang menjulang tinggi dan keras, danau Motilahali tak memiliki saluran pengeluaran seperti halnya sungai atau sejenisnya. Sehingga airnya hanya bisa meninggalkan danau dengan cara menguap maupun meresap ke dalam tubuh gunung. Sementara di sisi utara dasar kaldera berdiri kerucut gunung anak Tambora yang berjuluk Doro Api Toi. Kerucut ini muncul pasca 1815, tepatnya dalam dalam letusan 1830, dan kini menjulang setinggi sekitar 100 meter dari dasar.
Kaldera Tambora terbentuk kala 160 kilometer kubik material vulkanik dimuntahkan gunung berapi ini dalam letusan dahsyatnya diantara 5 hingga 15 April 1815. Dibanding Krakatau 1883 yang ‘hanya’ mengeluarkan 20 kilometer kubik, jelas material vulkanik Letusan Tambora 1815 delapan kali lipat lebih banyak. Bila semuanya dianggap berbentuk debu dan dituangkan ke wilayah DKI Jakarta serta dipadatkan demikian rupa, maka hampir seluruh propinsi yang juga ibukota RI ini akan tenggelam di bawah timbunan setebal 242 meter. 
Tak ada satupun bangunan yang tersisa, karena bangunan tertinggi di sini yakni Monas (Monumen Nasional) pun ‘hanya’ setinggi 115 meter. Hanya ada 2 puncak bangunan pencakar langit yang masih tersembul, yakni Ciputra World Jakarta (tinggi 257 meter) dan Wisma 46 (tinggi 250 meter).
Jika suhu rata-rata magma saat tepat keluar dari perutbumi dianggap sebesar 850 derajat Celcius, maka energi termal yang dikeluarkan dalam Letusan Tambora 1815 ini mencapai 27.000 megaton TNT. Ini masih lebih besar dibandingkan jumlah energi potensial yang tersimpan dalam seluruh hululedak nuklir di Bumi di puncak Perang Dingin pada 3 dasawarsa silam, yang ‘hanya’ 20.000 megaton TNT. Jika kita bandingkan dengan ledakan bom nuklir Hiroshima, yang ‘hanya’ berenergi 20 kiloton TNT, jelas bahwa energi Letusan Tambora 1815 adalah 1,35 juta kali lipat lebih besar.

Gambar 4. Jejak rumah yang terkubur di bawah pasir beserta sejumlah barang yang berhasil ditemukan didalamnya. Pasir tersebut adalah endapan awan panas Letusan Tambora 1815. Sisa-sisa kayu kerangka rumah yang telah rebah dan berubah menjadi arang (terkarbonisasi) menunjukkan awan panas yang mengubur kaki Gunung Tambora masih bersuhu sangat tinggi. Sumber: Johnston, 2012.
Gambar 4. Jejak rumah yang terkubur di bawah pasir beserta sejumlah barang yang berhasil ditemukan didalamnya. Pasir tersebut adalah endapan awan panas Letusan Tambora 1815. Sisa-sisa kayu kerangka rumah yang telah rebah dan berubah menjadi arang (terkarbonisasi) menunjukkan awan panas yang mengubur kaki Gunung Tambora masih bersuhu sangat tinggi. Sumber: Johnston, 2012.
Sebagian besar material vulkanik Tambora dihempaskan ke barat-barat laut dari gunung. Awan panasnya mengganyang daerah seluas hingga 874 kilometer persegi disekitarnya, yang menghasilkan endapan batu, kerikil dan pasir panas setebal rata-rata 7 meter. Demikian banyak volume awan panas Tambora sehingga sebagian bahkan sampai ke pesisir Laut Flores dan terus mengalir ke dalam laut, menciptakan tsunami. Tsunami ini berderap dengan kecepatan hingga 250 km/jam dan melanda pesisir Jawa Timur bagian utara dengan ketinggian 1 hingga 2 meter serta pesisir Maluku dengan tinggi 2 meter atau lebih. Jika tinggi tsunami di kedua tempat tersebut diekstrapolasikan untuk mengetahui tinggi tsunami di pesisir utara pulau Sumbawa, maka diperkirakan tingginya mencapai lebih dari 4 meter.
Kematian
Ada banyak sekali dampak Letusan Tambora 1815 baik di ranah ekonomi, politik, sosial dan budaya. Namun di sini penulis hanya ingin fokus pada hal paling menggetarkan: kematian. Untuk dipahami, korban jiwa akibat Letusan Tambora 1815 tak hanya mereka yang tewas dihempas awan panas maupun tercekik gas dan debu vulkanik, namun juga mereka yang dilanda kelaparan massif seiring berkurangnya bahan pangan, pun mereka yang dilanda penyakit menular seiring sanitasi lingkungan yang memburuk pasca letusan.
Sensus yang dilakukan Zollinger di tahun 1847 atas nama pemerintah kolonial Hindia Belanda (saat itu tanah Indonesia sudah dikembalikan ke Belanda sebagai hasil Kongres Wina 1815) menunjukkan dramatisnya dampak Letusan Tambora 1815. Korban jiwa langsung akibat letusan, yakni yang terkubur awan panas dan debu vulkanik tebal, mencapai 10.100 jiwa. Sementara korban jiwa tak langsung, yakni kelaparan dan wabah diare massif yang berkecamuk di pulau Sumbawa, mencapai 37.825 jiwa. Namun jika korban jiwa yang berjatuhan di pulau Lombok, Bali, Flores, Jawa bagian timur dan pulau-pulau lain disekitarnya akibat terjangan tsunami, kelaparan dan diare juga diperhitungkan, angkanya mungkin mencapai lebih dari 70.000 jiwa.
Zollinger juga mencatat banyaknya penduduk yang hengkang dari pulau Sumbawa, termasuk yang terpaksa dijual oleh orang tuanya, sebanyak 36.275 orang. Dengan demikian Letusan Tambora 1815 menewaskan 35 % populasi dan memaksa 26 % sisanya hengkang keluar pulau. Sehingga hanya menyisakan 39 % populasi yang masih berkukuh tinggal di tanah yang semula subur namun kini mendadak segersang Bulan.

Gambar 5. Dramatisnya perbedaan panorama atmosfer Bumi pasca letusan dahsyat gunung berapi (kanan) dibanding saat normal (kiri) saat diabadikan melalui pesawat ulang-alik. O = lapisan ozon dan Cb = puncak awan cumulonimbus (awan hujan). Pada saat "kotor", nampak terlihat aerosol sulfat (A) yang membentuk lapisan ganda di bawah lapisan ozon, jauh di dalam stratosfer. Aerosol sulfat ini tembus pandang, namun berkemampuan besar menghalangi sinar Matahari yang seharusnya diteruskan ke Bumi hingga persentase tertentu. Sumber: NASA, 1992 & 1997.
Gambar 5. Dramatisnya perbedaan panorama atmosfer Bumi pasca letusan dahsyat gunung berapi (kanan) dibanding saat normal (kiri) saat diabadikan melalui pesawat ulang-alik. O = lapisan ozon dan Cb = puncak awan cumulonimbus (awan hujan). Pada saat “kotor”, nampak terlihat aerosol sulfat (A) yang membentuk lapisan ganda di bawah lapisan ozon, jauh di dalam stratosfer. Aerosol sulfat ini tembus pandang, namun berkemampuan besar menghalangi sinar Matahari yang seharusnya diteruskan ke Bumi hingga persentase tertentu. Sumber: NASA, 1992 & 1997.
Begitu banyaknya nyawa yang terenggut membuat dua kerajaan di kaki gunung, yakni kerajaan Papekat dan Tambora, lenyap dari pentas sejarah karena seluruh penduduknya tewas. Sementara kerajaan Sanggra kehilangan hampir 88 % penduduknya. Tiga kerajaan lainnya di pulau Sumbawa yang tak berbatasan langsung dengan Gunung Tambora, masing-masing kerajaan Dompo, Sumbawa dan Bima pun terpukul telak. Dompo kehilangan 50 % penduduk, sementara Sumbawa 33 % dan Bima 25 %. Di luar korban manusia, sebanyak 75 % populasi ternak Sumbawa tersapu bersih akibat letusan. Pun demikian koloni lebah madu dan burung.
Namun Letusan Tambora 1815 tak hanya berdampak lokal. Seluruh permukaan Bumi merasakan akibatnya seiring terlepasnya tak kurang dari 160 juta ton gas belerang ke atmosfer bersama dengan semburan material vulkanik hingga setinggi 43 km. Ia lantas bereaksi dengan uap air dan gas oksigen membentuk lebih dari 300 juta ton aerosol sulfat. Bersama dengan partikel debu vulkanik, aerosol sulfat pun membentuk tabir surya pun terbentuk, yang merentang di antara ketinggian 10 hingga 30 km dari paras laut dan menyebar di segenap penjuru lapisan troposfer-stratosfer. Akibatnya 25 % sinar Matahari diserap dan dipantulkan kembali oleh tabir surya ini ke antariksa. Sehingga intensitas sinar Matahari yang diterima permukaan Bumi menurun.
Pada saat yang sama Bumi sedang menjalani periode minimum Dalton, yakni menurunnya suhu rata-rata permukaan Bumi yang disebabkan oleh faktor astronomik dalam rupa berkurangnya jumlah bintik Matahari (sunspot). Intensitas sinar Matahari di permukaan Bumi dalam periode minimum Dalton sebelum 1815 adalah 1.363 watt per meter persegi, atau turun 3 watt per meter persegi dibanding normalnya. Letusan Tambora 1815 menghasilkan penurunan tambahan hingga 7 watt per meter persegi. Sehingga pada puncaknya intensitas sinar Matahari di Bumi sempat menyentuh titik terendah 1.356 watt per meter persegi, atau turun 0,7 % di bawah normal.
Konsekuensinya terjadilah pendinginan global, yakni penurunan suhu rata-rata permukaan Bumi. Pendinginan global terparah terjadi pada tahun 1816 yang mencapai 0,7 derajat Celcius di bawah suhu rata-rata semula. Akibatnya tutupan es dan suhu sangat dingin terus berlanjut di kawasan subtropis meski musim seharusnya telah berganti ke musim panas. Karena itu tahun 1816 dikenang sebagai Tahun Tanpa Musim Panas. Tanpa bisa ‘dicuci’ oleh air hujan, tabir surya Tambora bertahan hingga bertahun-tahun kemudian sebelum gravitasi Bumi lambat-laun menariknya turun ke kembali ke permukaan Bumi. Selama itu pula pendinginan global berlangsung dan memicu kekacauan cuaca. Konsekuensinya produksi pangan pun sangat terganggu dan sanitasi lingkungan memburuk sehingga wabah penyakit mudah terbesar, bahkan melampaui wilayah tradisionalnya.
Berapa korbannya? Di daratan Amerika Serikat, kelaparan besar membuat sebuah wilayah seperti Vermont saja kehilangan antara 10.000 hingga 15.000 jiwa penduduknya hanya di tahun 1816. Belum wilayah dan kota yang lain. Di Eropa, kelaparan juga merebak dimana-mana dan menjadi bencana kelaparan terparah dalam abad ke-19. Kekurangan makanan dan memburuknya lingkungan membuat penyakit merajalela. Misalnya di Irlandia, dimana 1,5 juta orang disergap wabah tipus sepanjang tahun 1817 hingga 1819 dengan sekitar 100.000 jiwa diantaranya meregang nyawa. Wabah tipus juga berkecamuk hebat di Eropa bagian tenggara dan pesisir Laut Tengah bagian timur. Jumlah korban jiwa di kedua wilayah terakhir itu tak diketahui, namun diduga sebanding dengan Irlandia.

Gambar 6. Ilustrasi penyebaran tabir surya (debu dan aerosol sulfat) Tambora di lapisan stratosfer beserta lokasi-lokasi di mancanegara yang mengalami bencana kelaparan dahsyat dan/atau merebaknya wabah penyakit mematikan sebagai imbas dari berkurangnya sinar Matahari yang diterima permukaan Bumi akibat penyerapan dan pemantulan oleh tabir surya Tambora. Sumber peta: Wohletz, 2008.
Gambar 6. Ilustrasi penyebaran tabir surya (debu dan aerosol sulfat) Tambora di lapisan stratosfer beserta lokasi-lokasi di mancanegara yang mengalami bencana kelaparan dahsyat dan/atau merebaknya wabah penyakit mematikan sebagai imbas dari berkurangnya sinar Matahari yang diterima permukaan Bumi akibat penyerapan dan pemantulan oleh tabir surya Tambora. Sumber peta: Wohletz, 2008.
Sebaliknya di Asia wabah kolera-lah yang bertahta. Penyakit ini semula endemis di lembah sungai Gangga semata. Namun kombinasi cuaca yang kacau-balau, suhu lebih dingin dan kekurangan nutrisi yang parah membuat penyakit ini menyebar luas ke luar India mulai 1817 dan bertahan hingga tujuh tahun kemudian. Pada puncaknya wabah ini merajalela di kawasan yang sangat luas mulai dari pesisir timur Afrika dan pesisir timur Laut Tengah di sebelah barat hingga Asia Tenggara dan Jepang di sebelah timur serta merangsek hingga masuk ke jantung kota Moskow (Russia) di sebelah utara. Korbannya? Sulit diperkirakan, namun diduga kuat mencapai ratusan ribu jiwa di berbagai tempat. Sebagai contoh, di Bangkok (Thailand) saja 30.000 orang meregang nyawa kala wabah ini berkecamuk, sementara di Semarang (Indonesia), 1.225 orang tersapu bersih dari permukaan Bumi hanya dalam tempo 11 hari saja di bulan April 1821 akibat serangan wabah ini.
Jadi, berapa jumlah kematian akibat Letusan Tambora 1815 secara keseluruhan? Sayangnya hingga saat ini belum bisa diketahui secara pasti. Namun dengan merangkai kepingan-kepingan fakta di atas, maka jelas mencapai ratusan ribu jiwa. Dan diduga mungkin melampaui angka 1 juta jiwa. Korban jiwa sebanyak ini harus dilihat dalam perspektif awal abad ke-19 dimana populasi manusia secara keseluruhan jauh lebih sedikit dibanding masa kini karena baru menyentuh angka semilyar. Jika Letusan Tambora 1815 benar menewaskan sejuta orang, baik secara langsung maupun tak langsung, jelas bahwa dari setiap 1.000 orang di Bumi saat itu, maka 1 orang diantaranya tewas sebagai korban jiwa Letusan Tambora 1815. Maka bolehlah kita sebut bahwa Gunung Tambora telah menaklukkan dunia dengan letusan 1815-nya yang kolosal.

Hari ini, Gunung Tambora kembali ke tabiat kalemnya. Hari ini pula tak banyak yang mengetahui apa yang pernah dipertontonkan gunung ini secara dramatis pada hampir dua abad silam. Ironisnya, ketidaktahuan yang sama bahkan dijumpai pula di kalangan penduduk yang kini bermukim di kaki gunung berapi tersebut. Namun terlepas dari ketidaktahuan tersebut, Letusan Tambora 1815 mendemonstrasikan betapa sebuah letusan dahsyat gunung berapi mampu berdampak demikian besar bagi peradaban manusia.
Referensi
1. Sutawidjaja, Sigurdsson, Abrams. 2006. Characterization of Volcanic Deposits and Geoarchaeological Studies from the 1815 Eruption of Tambora Volcano. Jurnal Geologi Indonesia, vol. 1, no. 1, Maret 2006, hal. 49-57.
2. Pratomo. 2006. Klasifikasi Gunung Api Aktif Indonesia, Studi Kasus dari Beberapa Letusan Gunung Api dalam Sejarah. Jurnal Geologi Indonesia, vol. 1, no. 4, Desember 2006, hal. 209-227.
3. Johnston. 2012. Up from the Ashes. Popular Archaeology, vol. 7, Juni 2012.
4. Wohletz. 2008. Were the Dark Ages Triggered by Volcano-Related Climate Change? Los Alamos National Laboratory.
Lanjutkan baca »

Selasa, 07 April 2015

Article#407 - Kutipan Hari Ini

“Follow the path of the unsafe, independent thinker. Expose your ideas to the dangers of controversy. Speak your mind and fear less the label of 'crackpot' than the stigma of conformity. And on issues that seem important to you, stand up and be counted at any cost.

If you stand up and be counted, from time to time you may get yourself knocked down. But remember this: A man flattened by an opponent can get up again. A man flattened by conformity stays down for good.”

~quoted from the words of of Thomas John Watson Jr. (1914-1993), American businessman, political figure, and philanthropist.
Quoted at Friday, 27th March, 2015, 16:43 (UT+9).

image source
Lanjutkan baca »

Minggu, 05 April 2015

Article#406 - Useless


There's no need for further explanations. It has been useless anyway.

image source
Lanjutkan baca »

Jumat, 03 April 2015

Article#405 - Perintis


Rerumputan yang pertama menerabas,
Bebatuan yang mulai meranggas,
Bersama menghadap asal mula sejarah mereka.
Baik berupa lontar membara,
Atau berupa aliran zat hara.

Kamis, 2 April 2015, 14:16 (UT+9)
35°30'25.72"N, 138°45'49.98"E
Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...