Sabtu, 09 Agustus 2014

Article#327 - Menata Kenangan

Deretan lemari antik itu masih berjajar. Menderit lesu, mengintip dari balik lapis debu. Sebagai pemanis yang terpinggirkan dari jurai cerita, mereka terduduk di tepi barisan. Meminta tatap barang sejenak, dalam persepsi atas segala yang tersimpan nyaman.
Sementara aku menyelipkan semu dalam ingatan.

Tumpukan sepatu tua itu tampak gentar. Menatap nanar, pada langit-langit yang mulai pudar. Sebagai penjejak yang mematrikan langkah demi langkah, mereka menonton dari balik rak. Menyintas tanah, sepintas menjejak, dengan atensi atas tiap kontur yang terpetakan.
Sementara aku menapak lantun dalam ketukan.

Barisan buku-buku lusuh itu tersusun rata. Tegak berdiri, menyokong kawan di sisi. Sebagai perekam atas segala gesek pensil dan gurat pena, mereka menyediakan naskah tanpa alur cerita. Mendaras nama-nama lama, dari deskripsi pada kerutan zaman.
Sementara aku menyigi adanya rancu dari susunan.

Gedung-gedung gaek itu melirik samar. Kokoh menaungi, mempelajari diri tanpa henti. Sebagai penyedia latar bagi entah berjuta kisah, mereka mendominasi cakrawala. Menyibak rona pada bercak, dari remedi yang tertawan kenyataan.
Sementara aku mengupas keping lama dari khayalan.

Sosok-sosok canggung di sana menatap nanar. Berkelit kelu, membawakan sepintas deru. Sebagai penerus, pengisi pori pada fondasi, mereka menerawang halimun pagi hari. Menelisik sesekali, diguncang gentar, sembari meniti tangga sejarah yang kokoh berakar.
Sementara aku menabuh kebisingan dalam senyap canda.

Langkah-langkahku menggiring diri dari utopia. Menderap laju, mengaku sedikit tahu. Sebagai penggerak utama bagi jiwa-jiwa fana, mereka mendorong kami terus berjalan. Mengerjap cuplik memori lama, dengan tiap susunannya hadir bersama.
Dan aku terus melangkahkan pandangan. Mengayun hingga sosoknya samar menghilang.


Bayangkan derap-derap bodoh itu mengganggu benakmu. Dengan bunyinya yang bertalu-talu monoton, kau mungkin akan mudah merasa bisa mengabaikannya barang sejenak, seolah ia hanya desir angin dalam telinga. Dengan kekerapan yang mudah dilacak, dan susunan irama yang mudah ditebak, mungkin bagimu hanya butuh sedikit usaha untuk menghapusnya perlahan. Menanggapinya sebagai latar belakang yang sekadar menjadi pemanis buatan. Sedikit penyuntingan, dan hilanglah ia, menyisakan apa-apa yang senantiasa ingin kaudengarkan.

Bagi sebagian orang, menyingkirkan latar belakang hanya butuh sedikit pengalihan.
Bagi sebagian yang lain, butuh ragam makna kesibukan.
Bagi sebagian yang lain, hanya bisa disingkirkan lewat pertemuan.
Bagi para pencilan, justru latar belakang inilah yang mereka kumandangkan.

I've spent all of my nights wide awake
Wishing for some kind of poison to take
So that my conscience would just take a break
I am so tired of the noise that it makes
I'm guilty enough without hearing it twice
Please don't hate me



Beberapa orang yang beruntung, termasuk aku, telah menyigi berbagai lansekap kehidupan yang beraneka warna. Menyaksikan, merasakan, menyebarkan, bagaimana perjalanan kehidupan memberikan corak-corak warna, secara niscaya, perlahan. Dan ketika masing-masing kita melihat diri sebagai hasil berbagai motif dan corak, kita membaca ulang naskah perjalanan kita. Beberapa bagian akan dipindai, bagian lain dikilas, dan dirajut paksa supaya terhubungkan.
Tiap helainya bernama kenangan, dan segala jenis kenangan terhampar di sana.

Sudah demikian banyak kenangan yang terpatri di benak masing-masing kita. Dari yang paling berkilauan, sampai yang paling gulita. Dari yang paling mulia, sampai yang paling hina dina. Dari yang paling tulus demi kebaikan, sampai yang paling kelam demi kebusukan. Dan semuanya berpilin menjadi sebuah kesatuan. Kesatuan yang menyusun corak bagi diri kita sekarang.
Ada juga berbagai warna yang telah kuterima, dan mungkin pula telah kutorehkan pada benang-benang kenangan milik yang lain. Yang tanpa sadar ikut kusulam dengan serampangan tanpa izin. Tanah impian ini mungkin menjadi saksi bisu bagi kita semua, merekam segala hal di atas butir debunya. Ada berbagai kebaikan tanpa sadar yang begitu saja terhaturkan, ada berbagai keburukan tanpa sadar yang begitu juga tersemburkan.

Atas semua kenangan yang ada, izinkan diri kita untuk sesekali menatanya. Merapikannya pada tempatnya yang pantas. Meski mungkin ada maaf yang perlu lebih dahulu dihaturkan. Juga ucap terima kasih atas kebaikan yang sempat diabaikan. Dan permintaan tolong supaya semuanya berjalan lancar.
Walaupun mungkin tak banyak yang ambil pusing untuk singgah ketika ia tertata.
Tuhan itu baik, ya. Bahkan pertanyaan sederhana dan gurauan sekalipun turut dijawab-Nya. Ribuan malam berlalu, dan akhirnya jawaban atas pertanyaanku kini jelas.

Aku sendiri yakin, sekarang kita tidak sedang mencoba menyesali dan berandai-andai menciptakan dunia kita sendiri. Karena dunia yang Tuhan ciptakan buat kita sudah mencukupi segalanya. Apa yang sudah Ia gariskan, yakini itu indah. Dia tidak kusut dan lusuh, dia hanya sedang dalam proses menuju sebuah gambar yang cantik.
...
Kenangan adalah cara Tuhan menyampaikan kepada kita bahwa ada senja yang tidak habis ditelan malam.
Jika kita mau menyimpannya, jauh sampai ke akar terdalam hati, dia akan tetap ada di sana. Itulah dia, yg tidak akan habis dalam hitungan hari, bulan, bahkan tahun.
...
Jika kita mau menyimpannya.


Meresapkan kenyataan dalam repertori. Tak tentu arah, berkelana di sepanjang malam, mencari jalan kembali.
Menata kenangan dalam memori. Tak tentu tertata, sesekali tertipu nyata, sebelum tersadar dari buai mimpi.

Hari 7061, bersama arakan awan petang.
Dicantumkan dalam sunyi keramaian,
Sabtu, 9 Agustus 2014, 21:12 (UT+7)
6°19'34.33"S, 106°40'50.67"E
Lanjutkan baca »

Rabu, 06 Agustus 2014

Article#326 - Skyprints


Ever since Wilbur and Orville Wright launch the first flight ever near Kitty Hawk at late 1903, aviation world has grown to be one of the integral parts of modern society. Millions of people travel across countries everyday, each of them indulge themselves in each of their own business. And in accomplishing that, they spent some hours of their lives sitting on a seat among hundreds, which collectively travel above the abode of clouds.
It has been more than a hundred years of aviation history, there are only tiny fraction of people who keep themselves feel amazed to the sense of flying. Most of the other guy might have forgotten the dreams of their ancestors, who looked in jealousy upon the free, roaming birds and insects. And then they take the flight for granted: to take off, to fall asleep, to land on each of their own destination. And to immediately catch up on their phones once they acquire their touchdown on the land once more.

For that tiny fraction of people, travelling in the thin air is indeed a product of wonder. Some of people might not be able to stand the lingering sense of insecure, being thousands of meters above the ground with nothing to hold onto - especially when the parts of the plane itself are not reliable anymore. Others might feel a bit disturbed with turbulence coming once in a while. But not few hath spoken about the tingling sense of wonder when they realized; they are actually flying within the clouds, among the birds, drawing themselves ever nearer to the dazzling sunshine.

The flying sense one experienced from a flight might be regarded as one of the greatest freedom of the Modern Age, as human beings are now able to set their feet free. Free to release the bond that ties our puny figures to the earth, to lean your back off and wander through the thin air.
Science, freedom, beauty, adventure: what more could you ask of life? Aviation combined all the elements I loved. There was science in each curve of an airfoil, in each angle between strut and wire, in the gap of a spark plug or the color of the exhaust flame. There was freedom in the unlimited horizon, on the open fields where one landed. A pilot was surrounded by beauty of earth and sky. He brushed treetops with the birds, leapt valleys and rivers, explored the cloud canyons he had gazed at as a child. Adventure lay in each puff of wind.

I began to feel that I lived on a higher plane than the skeptics of the ground; one that was richer because of its very association with the element of danger they dreaded, because it was freer of the earth to which they were bound. In flying, I tasted a wine of the gods of which they could know nothing. Who valued life more highly, the aviators who spent it on the art they loved, or these misers who doled it out like pennies through their antlike days? I decided that if I could fly for ten years before I was killed in a crash, it would be a worthwhile trade for an ordinary life time.

— Charles A. Lindbergh, The Spirit of St. Louis
These tiny fraction of people are always aware that they put their life at stake when deciding to take a flight. Not to mention that their lives are actually always at stake — a thought that rarely crosses the mind of the likes who take things for granted.
But why worry? After all, the air up there in the clouds is very pure and fine, bracing and delicious, as Mark Twain narrated. And why shouldn't it be? —it is the same the angels breathe. The same angels as yours and mine. The same angels residing within our disclosed territories.


Henceforth, those puny humans set their foot again on the lovely earth. The sky looks down upon the bright-looking minds, while sunshine pours its might to the glaring sights.
And I haven't been more relieved than ever, this time.

photo credit 1
photo credit 2
Lanjutkan baca »

Minggu, 03 Agustus 2014

Article#325 - Meresapkan Pencapaian

Biarlah bapak pandu sibuk bercerita, tentang negeri yang tak pernah kehabisan pemuda dengan kobar kepemimpinan. Negeri yang pemudanya sibuk memberanikan diri, mendaki dan menjelajah. Walaupun beberapa dari mereka bahkan tak jua menang memimpin dirinya.

Biarlah sang demonstran sibuk mencatat, rekam hipokrasi dan slogan tanpa makna. Tentang jiwa-jiwa sehat, yang mengenali rekan sebangsa sebagai bagian jiwa raganya. Yang menjaga jiwa tetap sehat dengan raga yang prima. Walaupun mungkin ada yang jiwanya rusak duluan.

Biarlah mereka sibuk menggurat, berbagi klaim kelebihan dan label kebanggaan. Tentang nilai tambah, yang senantiasa mereka bubuhkan dalam mejemput impian. Yang mereka juluki capaian prestasi, mendorong menuju capaian lebih lagi. Walaupun mungkin ada yang memakainya untuk tebar ilusi.

Biarlah suatu sosok jiwa sibuk bergulat, membanting lurus niat yang terbengkokkan hasrat. Tentang daftar-daftar kalimat, yang terus gagal terjelmakan menjadi tindakan jelas. Yang ia saksikan lamat-lamat, kata per kata. Bagaimana mereka berkembang, perlahan, mewujud menjadi nyata. Walaupun di balik tintanya tergurat kepalsuan.

Biarlah benang-benang yang terburai memberi testimoni, ketika debu yang mengikis sepatu datang bersaksi. Tentang perjalanan yang menahbiskan kegilaan sebuah niat dan perwujudan, menjemput impian yang tak kesampaian. Yang diguratkan perlahan, untuk terus bertahan. Yang mungkin menandai kali terakhir perjumpaan, di atas gundukan kerikil yang jauh menjulang.





Meresapkan pencapaian dalam sanubari. Bagai orang yang tak menyadari apa yang ia jalani, menatap cakrawala untuk kembali menyadarkan diri.
Menyesap capai dalam jasmani. Bagai sesosok tanpa indera atas raga, terus berjalan selayaknya robot yang dicocok kartu memorinya. Terus melaju dengan kekuatan entah dari mana.

Hari 7054, bersama semilir angin yang menggigil.
Dicatutkan dalam deru ketinggian,
Ahad, 3 Agustus 2014, 05:12 (UT+9)
35°21'38.26"N, 138°43'38.52"E

(seluruh gambar diambil dari dokumen pribadi)
Lanjutkan baca »

Kamis, 31 Juli 2014

Article#324 - Lacrime di Giulietta


Menggemari seni rupa? Musik? Bercerita?
Kalau begitu, gabungkan saja semuanya!
...
Mungkin itu yang tercetus di benak trio seniman asal Italia, Lab, ketika mereka memutuskan bekerjasama dengan komposer Matteo Negrin untuk menghasilkan video di atas. Lab, trio yang beranggotakan Luca Cattaneo, Alberto Filippini, dan Alice Ninni tersebut, mengkhususkan keahlian mereka dalam dunia proyek desain web ataupun desain grafis. Sementara Matteo Negrin menginginkan sebuah konsep yang di luar kebiasaan untuk merefleksikan karyanya, Lacrime di Giulietta alias Air Mata Juliet. Maka kemudian mereka berkumpul. Berembuk. Berkecamuk. Berburu nyamuk. (lah) Dan tercetuslah ide "Music painting", yang digambarkan melalui kutipan berikut:
“..We deal with projects about graphic and web design, video and photography. With the composer Matteo Negrin, we decided to make a video for his song‘Lacrime di Giulietta’, experimenting a new technique that we called ‘Music painting’, a sort of music animation, painting notes on a score, telling a story. We wanted to tell a story giving a civic and environmental message, in a soft and kind way.”
Singkat cerita, video di atas direkam dalam waktu 15 jam dalam satu rekaman. Dengan sekian banyak dosis pengeditan, didapatkanlah video yang melaju sesuai dengan ritme lagu yang tersedia.
Video asli bisa kau kunjungi dengan judul MUSIC PAINTING - Glocal Sound - Matteo Negrin. Atau, kalau sedang kurang bersemangat mencari, berikut penulis sertakan jendela menuju video terkait.


***
Hujan tanpa diduga turun, hari ini. 
Hujan yang deras.
Dengan angin yang bertiup ganas, 
Jiwa yang lemah itu mungkin memaknai hujan sebagai jeritan yang menahannya, tetap di tempat.
Terus mengendap di tempat yang nyaman ini, berganti kulit berulang kali, menggerogoti kesalahan dengan tameng lain lagi. 
Tetapi, sentakan halilintar membuat hujan tak perlu repot-repot menyuarakan usahanya.
Bagai hilang akal, ia memandangi pohon yang batangnya melengkung, tetes air yang menyerang tanpa ampun. 
Dan bagai kembali mendapat akal, ia tersentak.
Sudah waktunya jiwa itu menguliti kudapan yang baru.
Yang mungkin akan menahannya bergumul dengan haru ndaru langit biru.
....
Kalau ia mau.

sumber gambar
Lanjutkan baca »

Senin, 28 Juli 2014

Article#323 - Cermatilah

Ada seorang saudagar di Baghdad yang mempunyai sebuah kolam yang airnya terkenal sangat dingin. Konon tidak seorangpun yang tahan berendam di dalamnya berlama-lama, apalagi hingga separuh malam.

Suatu hari, ketika sedang mengamati kolamnya itu, terlintas sebuah ide di benak si saudagar. Ide yang kemudian ia sampaikan lewat sebuah sayembara di depan istana baginda Sultan.
“Siapa yang berani berendam semalam di kolamku, aku beri hadiah sepuluh dirham,” kata saudagar itu. Ajakan tersebut mengundang banyak orang untuk mencobanya. Namun tidak ada yang tahan semalam, paling lama hanya mampu sampai sepertiga malam.

Pada suatu hari datang seorang pengemis kepadanya.
“Maukah kamu berendam di dalam kolamku ini semalam? Jika kamu tahan aku beri hadiah sepuluh dirham,” kata si saudagar.
“Baiklah akan kucoba,” jawab si pengemis. Kemudian dicelupkannya kedua tangan dan kakinya ke dalam kolam, memang air kolam itu dingin sekali. “Boleh juga,” katanya kemudian.
“Kalau begitu nanti malam kamu bisa berendam di situ,” kata si saudagar.

Menanti datangnya malam si pengemis pulang dulu ingin memberi tahu anak istrinya mengenai rencana berendam di kolam itu.

“Istriku,” kata si pengemis sesampainya di rumah. “Bagaimana pendapatmu bila aku berendam semalam di kolam saudagar itu untuk mendapat uang sepuluh dirham? Kalau kamu setuju aku akan mencobanya.”
“Setuju,” jawab si istri, “Moga-moga Tuhan menguatkan badanmu.”

Kemudian pengemis itu kembali ke rumah saudagar. “Nanti malam jam delapan kamu boleh masuk ke kolamku dan boleh keluar jam enam pagi,” kata si saudagar, “Jika tahan akan ku bayar upahmu.”

Setelah sampai waktunya masuklah si pengemis ke dalam kolam, hampir tengah malam ia kedinginan sampai tidak tahan lagi dan ingin keluar, tetapi karena mengharap uang upah sepuluh dirham, ditahannya maksud itu sekuat tenaga. Ia kemudian berdoa kepada Tuhan agar airnya tidak terlalu dingin lagi. Ternyata doanya dikabulkan, ia tidak merasa kedinginan lagi. Kira-kira jam dua pagi anaknya datang menyusul. Ia khawatir jangan-jangan bapaknya mati kedinginan. Hatinya sangat gembira ketika dilihat bapaknya masih hidup. Kemudian ia menyalakan api di tepi kolam dan menunggu sampai pagi.

Siang harinya pengemis itu bangkit dari kolam dan buru-buru menemui si saudagar untuk minta upahnya. Namun saudagar itu menolak membayar, “Aku tidak mau membayar, karena anakmu membuat api di tepi kolam, kamu pasti tidak kedinginan.”
Namun si pengemis tidak mau kalah, “Panas api itu tidak sampai ke badan saya, selain apinya jauh, saya kan berendam di air, masa' api bisa masuk ke dalam air?”
“Aku tetap tidak mau membayar upahmu,” kata saudagar itu ngotot. “Sekarang terserah kamu, mau melapor atau berkelahi denganku, aku tunggu.”

Dengan perasaan gondok pengemis itu pulang ke rumah, “Sudah kedinginan setengah mati, tidak dapat uang lagi,” pikirnya. Ia kemudian mengadukan penipuan itu kepada seorang hakim. Boro-boro pengaduannya didengar, Hakim itu malahan membenarkan sikap sang saudagar. Lantas ia berusaha menemui orang-orang besar lainnya untuk diajak bicara, namun ia tetap disalahkan juga.
“Kemana lagi aku akan mengadukan nasibku ini,” kata si pengemis dengan nada putus asa. “Ya Allah, engkau jugalah yang tahu nasib hamba-Mu ini, mudah-mudahan tiap-tipa orang yang benar engkau menangkan.” Doanya dalam hati.

Ia pun berjalan mengikuti langkah kakinya dengan perasaan yang semakin dongkol. Dengan takdir Allah ia bertemu dengan Abu Nawas di sudut jalan.
“Hai, hamba Allah,” Tanya Abu Nawas, ketika melihat pengemis itu tampak sangat sedih. “mengapa anda kelihatan murung sekali? Padahal udara sedemikian cerah.”
“Memang benar hamba sedang dirundung malang,” kata si pengemis, lantas diceritakan musibah yang menimpa si pengemis sambil mengadukan nasibnya.
“Jangan sedih lagi,” kata Abu Nawas ringan. “Insyaallah aku dapat membantu menyelesaikan masalahmu. Besok datanglah ke rumahku dan lihatlah caraku, niscaya kamu menang dengan izin Allah.”
“Terima kasih banyak, anda bersedia menolongku,” kata si pengemis.

Lantas keduanya berpisah. Abu Nawas tidak pulang ke rumah, melainkan menghadap Baginda Sultan di Istana. “Apa kabar, hai Abu Nawas?” sapa Baginda Sultan begitu melihat batang hidung Abu Nawas. “Ada masalah apa gerangan hari ini?”

“Kabar baik, ya Tuanku Syah Alam,” jawab Abu Nawas. “jika tidak keberatan patik silahkan baginda datang kerumah patik, sebab patik punya hajat.”
“Kapan aku mesti datang ke rumahmu?” tanya baginda Sultan.
“Hari Senin jam tujuh pagi, tuanku,” jawa Abu Nawas.
“Baiklah,” kata Sultan, aku pasti datang ke rumahmu.”
Keluar dari Istana, Abu Nawas segera mendatangi rumah saudagar yang punya kolam, kemudian ke rumah tuan hakim dan pembesar-pembesar lainnya yang pernah dihubungi oleh si pengemis. Kepada mereka Abu Nawas menyampaikan undangan untuk datang kerumahnya Senin depan.

Hari Senin yang ditunggu, sejak jam tujuh pagi rumah Abu Nawas telah penuh dengan tamu yang diundang, termasuk baginda Sultan. Mereka duduk di permadani yang sebelumnya telah digelar oleh tuan rumah sesuai dengan pangkat dan kedudukan masing-masing. Setelah semuanya terkumpul, Abu Nawas mohon kepada sultan untuk pergi kebelakang rumah, ia kemudian menggantung sebuah periuk besar pada sebuah pohon, menjerangnya – menaruh di atas api.

Tunggu punya tunggu, Abu Nawas tidak tampak batang hidungnya, maka Sultan pun memanggil Abu Nawas, “kemana gerangan si Abu Nawas, sudah masakkah nasinya atau belum?” gerutu Sultan.
Rupanya gerutuan Sultan di dengar oleh Abu Nawas, ia pun menjawab, “Tunggulah sebentar lagi, tuanku Syah Alam.”

Baginda pun diam, dan duduk kembali. Namun ketika matahari telah sampai ke ubun-ubun, ternyata Abu Nawas tak juga muncul di hadapan para tamu. Perut baginda yang buncit itu telah keroncongan. “Hai Abu Nawas, bagaimana dengan masakanmu itu? Aku sudah lapar, kata Baginda.
“Sebentar lagi, ya Syah Alam,” sahut tuan rumah.

Baginda masih sabar, ia kemudian duduk kembali, tetapi ketika waktu dzuhur sudah hampir habis tak juga ada hidangan yang keluar. Baginda tak sabar lagi, ia pun menyusul Abu Nawas ke halaman belakang rumah, diikuti tamu-tamu lainnya. Mereka mau tahu apa sesungguhnya yang dikerjakan tuan rumah, ternyata Abu Nawas sedang mengipa-ngipas api di tungkunya.
“Hai Abu Nawas, mengapa kamu membuat api di bawah pohon seperti itu? Tanga baginda Sultan.
Abu Nawas pun bangkit, demi mendengar pernyataan baginda. “Ya tuanku Syah Alam, hamba sedang memasak nasi, sebentar lagi juga masak,” jawabnya.
“Menanak nasi?” tanya baginda, “Mana periuknya?”
“Ada, tuanku,” jawab Abu Nawas sambil mengangkat mukanya ke atas.

“Ada?” tanya beginda keheranan. “Mana?” ia mendongakkan mukanya ke atas mengikuti gerak Abu Nawas, tampak di atas sana sebuah periuk besar bergantung jauh dari tanah.

“Hai, Abu Nawas, sudah gilakah kamu?” tanya Sultan. “Memasak nasi bukan begitu caranya, periuk di atas pohon, apinya di bawah, kamu tunggu sepuluh hari pun beras itu tidak bakalan jadi nasi.”

“Begini, Baginda,” Abu Nawas berusaha menjelaskan perbuatannya. “Ada seorang pengemis berjanji dengan seorang saudagar, pengemis itu disuruh berendam dalam kolam yang airnya sangat dingin dan akan diupah sepuluh dirham jika mampu bertahan satu malam. Si pengemis setuju karena mengharap upah sepuluh dirham dan berhasil melaksanakan janjinya. Tapi si saudagar tidak mau membayar, dengan alasan anak si pengemis membuat api di pinggir kolam.” Lalu semuanya diceritakan kepada Sultan lengkap dengan sikap tuan hakim dan para pembesar yang membenarkan sikap si saudagar. “Itulah sebabnya patik berbuat seperti ini.”

“Boro-boro nasi itu akan matang,” kata Sultan, “Airnya saja tidak bakal panas, karena apinya terlalu jauh.”
“Demikian pula halnya si pengemis,” kata Abu Nawas lagi. “Ia di dalam air dan anaknya membuat api di tanah jauh dari pinggir kolam. Tetapi saudagar itu mengatakan bahwa si pengemis tidak berendam di air karena ada api di pinggir kolam, sehingga air kolam jadi hangat.”

Saudagar itu pucat mukanya. Ia tidak dapat membantah kata-kata Abu Nawas. Begitu pula para pembesar itu, karena memang demikian halnya.

“Sekarang aku ambil keputusan begini,” kata Sultan. “Saudagar itu harus membayar si pengemis seratus dirham dan dihukum selama satu bulan karena telah berbuat salah kepada orang miskin. Hakim dan orang-orang pembesar dihukum empat hari karena berbuat tidak adil dan menyalahkan orang yang benar.”

Saat itu juga si pengemis memperoleh uangnya dari si saudagar. Setelah menyampaikan hormat kepada Sultan dan memberi salam kepada Abu Nawas, ia pun pulang dengan riangnya. Sultan kemudian memerintah mentrinya untuk memenjarakan saudagar dan para pembesar sebelum akhirnya kembali ke Istana dalam keadaan lapar dan dahaga.

Akan halnya Abu Nawas, ia pun sebenarnya perutnya keroncongan dan kehausan.

Sebuah catatan bagi penulis sendiri pada khususnya, dan bagi kita semua pada umumnya. 
~disadur dan diterjemahkan pada Senin, 28 Juli 2014/1 Syawal 1435 H, 06:47 (UT+9), mengisi momen Idul Fitri 1435 H.
Disadur dari salah satu bagian kisah Abu Nawas.

sumber

Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...