Rabu, 16 Desember 2015

Article#495 - Mari Kembali

Ada orang yang sibuk mencebur raga pada persimpangan Shibuya
Ada orang yang meluapkan jiwa mengembara Matsushima
Tapi aku ingin ceburkan hidupku menyandingmu
Ceritakan senarai serdadu nurani yang linglung
Hadapi perginya hari yang masih misteri
Dari kerlip berkas mentari di muka danau Kawaguchi

Ada gembok yang meranggas karat di Guru Kinayan
Ada martir menua di selasar jalanan sepi Suriah
Tapi aku ingin alurkan tua hidupku hinggamu
Setelah segala warna dalam perjalanan panjang
Menertawakan dunia beserta diri kita di dalamnya
Menuju akhir dari segala yang tak satu nyatapun semu

Mari kembali, dekap mimpiku
Kita yang bertukar canda, yang pernah bahagia, menghidupiku
Tegaklah menantang masa depan yang orang bilang kelam
Menggapai langit tinggi di balik kabut
Kita tidak merugi karena sesiapa
Kita tidak meninggalkan apa-apa

sumber gambar
Diadaptasi dan dimanipulasi secara serampangan dari puisi karya Soe Hok Gie, 1969.

Hari 7554, meresapi dingin pengembaraan.
Rabu, 16 Desember 2015, 06:48 (UT+9)
38°16'48.49"N, 140°50'54.71"E
Lanjutkan baca »

Minggu, 13 Desember 2015

Article#494 - Pyrocumulus

The ultimate reason behind the generation of this particular post is simple: I was awestruck by the picture of Etna (upper) I found while I was doing my daily activity. (When I said "activity", in reality I refer to my daily schedule of rolling and whatnot on the bed as if there's no tomorrow, but it is not up for discussion here.) Granted, I have been strolling around photos of volcanic eruptions from years to years. But it seems that as time progress, either volcanic eruptions become more photogenic, or daredevil photographers had enough of its time to hone their skills to perfection. Well, technically nothing was perfect, but it seems that this particular photo was more than enough to help Etna build its own monument of volcanological honour.

Ultimately, a single post dedicated to an eruption column would be so blatant that it can be considered a form of worshipping. Therefore, I reckon that it would be a nice gesture to introduce another eruption column—which, albeit is different enough to be distinguishable, is still worthy of its own might. So there it was, Calbuco (lower), which precedes the eruption of Etna by about 7 months.

I didn't manage to find another display-worthy eruption column from this year's eruptions to be put into this exhibition, so I'll leave you guys up with these fellows. Enjoy while it lasts. Gosh, of course I 'm not talking about the eruption.



It has been a while since the last posts bragging about any sort of volcanological expertise in this web log. So, to spice things up, I let a nice chunk of etymological approach to end this post: while many of us will easily draw the lines connecting the term pyrocumulus to the somewhat more infamous pyroclastic flow (which, then again, scientifically is a pyroclastic density current) due to the pyro- prefix, the term simply comes from the bilingual compound of Greek pyro ("fire") and Latin cumulo ("heap" or "pile"; subsequently used to refer to "cloud"). Which translates to "fire cloud", and yeah, it means any kind of fire, not exclusively of volcanic origin.

But they look awesome, though. I won't argue on that.

So see you on the next posts, perhaps.
Cheers!
Lanjutkan baca »

Kamis, 10 Desember 2015

Article#493 - Reparasi


Melangkah dalam ketergesaan, mengambil rehat dalam keterpaksaan.
Ketika kau memutuskan untuk mengambil sebuah tajuk yang teramat umum didengar untuk digunakan mengawali sebuah karya tulisan, barangkali kau akan tergelak dalam sembarang saat, memandangnya sebagai usaha melawak. Usaha melawak untuk membuat orang tertawa mungkin adalah salah satu cara yang terdengar menyedihkan bagi seseorang dalam meraih atensi atau eksistensinya di sebuah komunitas. Tetapi, menilik kenyataan yang terjadi di awal tulisan ini, sebuah situasi yang agaknya lebih menyedihkan—khususnya dari sudut pandang kepenulisan—memang sedang merambahi diri.

Kita bisa saja menghabiskan sekian waktu membual akan perlunya masa reses setelah keaktifan yang sekian lama, demi menjaga kelangsungan kualitas dari karya yang ditelurkan. Tetapi, seringkali ia didapati sebagai kalimat jitu pengelak dari kebuntuan yang sedang dihadapi dalam menjaga ketekunan. Entah makhluk bengal dari mana ketekunan itu, dan kenapa dia perlu mendapat serapahnya di dalam tulisan ini, bukanlah sesuatu yang perlu dibicarakan secara dalam. Tidak ketika ada isu yang lebih besar untuk diredam: isu menjaga harga diri dengan terus memproduksi.
Kita bisa saja berkilah bahwa kita telah terlarut dalam berbagai kegiatan beraneka rupa. Silakan saja deskripsikan dengan terang, bagaimana tiap kerut dinamikanya mengerat sepotong demi sepotong dari waktu berharga yang bisa dihabiskan untuk sekian banyak hal. Kemudian kita sibuk menghabiskan waktu yang tersisa untuk menyalahkan segala macam kesibukan dalam hidup; hal yang jika dipikir, tidaklah layak masuk dalam daftar kegiatan tiap-tiap kita manusia yang jernih akalnya.

Di kemudian cerita, kita mendapati sisa waktu yang terus mengerucut menuju pemberhentian, sebagai pemicu berkobarnya nyala. Kembali memantik secercah sisa semangat yang telah lama pudar sinarnya, terbuai oleh kita yang berdelusi akan ketidakbisaan dalam menguatkan tekad. Membakar segenap alasan, menjadi awal dari robohnya dinding tunakarya yang selama ini kita singgahi, kita permaki, kita sandari sebagai fondasi. Fondasi gila yang menemani diri berfantasi, melenakan diri dari apa-apa yang menjadikan tiap detik berarti.
Tiap-tiap kita menggeber diri terlalu rupa. Hingga membuat jiwa terlupa akan raga.

Maka izinkan tiap-tiap kita untuk mengambil nafas. Menghirup molekul-molekul yang bergelimpangan membetulkan segala macam rusak yang tercipta dari kita yang terlalu memaksa. Memberi jiwa yang terejawantah dari sadar yang mengampu cita.
Menjalankan kembali roda kehidupan dalam warna yang terbarukan.

And all the roads that lead you there were winding
And all the lights that light the way are blinding
There are many things that I would like to say to you
But I don't know how






































Lanjutkan baca »

Sabtu, 05 Desember 2015

Article#492 - Intricacy

They may say that the devil lies in the details, but as soon as a piece of detailed art was done, it pretty much wipe out all the devils away from it, generating awe and astonishment in its wake. That is, if devils are not to be associated with any sort of intricate, mesmerizing detail. That my not be up for discussion here anytime soon though.
So, enjoy.

Disclaimer: This post is in no way intended to host any form of advertisement toward Singapore Airlines or the related parties.





Lanjutkan baca »

Kamis, 03 Desember 2015

Article#491 - Sereniti


Mengerjap sembarang bentang.
Tegap bersandar pantang.
Menjelang.
Apa segala terentang.
Melawan nyana tenang.
Menentang.

Kamis, 3 Desember 2015, 10:13 (UT+9)
38°15'16.94"N, 140°50'27.61"E
Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...