Rabu, 09 Juli 2014

Article#316 - Leaving The Majority

Leaving the party in disguise
The way of which they despise
Look for tomorrow, within their pride
Whether they will stand out, or hide
They would like you to compromise
To put your principles aside
When majority's set to be right
Our stories are nonetheless a delight

Here about to leave
Is the one to bear the blame
Outcry of the moaning empty heads
I can't wait for it
Let alone bewilder the stage
Embrace the benign heart of empty eyes
Something to get back 
By the morning
Other part of the script will be done
Light years back
A ride to embark
From this point onward

A simple visualization of Earth's population distribution, as portrayed by
Reddit user valeriepieris. The picture above is taken from another thread
discussing the "circle" (denoted in negative color),
with the sentence being added later.
More explanation here.
I might be one of those guys who used to have that certain debates going on in their heads. Whether I should do something only because everyone else does it, or because everyone thinks it is right, or because it is right. One's words about truth being subjective, is in itself a subjective statement, since of course one may claim such a truth as an absolute one. It should be noted, however, that you can only do such stuff when your principle of affirming it is strong enough.
For the lot, such principle is called "religion". Some others refused to be denominated in any kind of religious entity, mostly the Westerners who had gone through centuries of Dark Age due to over-controlling religious institution. They would prefer simpler names such as "ideals" or "principles".

Long story short, I have long decided to put my perspective out of the majority. There's not many to rely on them; as those so-called wise guys said, the better ones are those who are able to stand out. Those who dare enough to be different, simply because they extricate well enough about that heck they are doing.
Now if thou pay heed unto the majority of those who live on Earth, they will but lead thee astray from the path of God: they follow but other people's conjectures, and they themselves do nothing but guess. (Qur'an 6: 116)
I'm also walking out of the majority's way. Indeed; not completely. Might never be completed? I don't know.
At the very least, I hope I'm continuously progressing.
Lanjutkan baca »

Senin, 07 Juli 2014

Article#315 - Negeri Jungkat-Jungkit

[versi belum komplit]

"Mardis!"
Sebuah tepukan di bahu, dengan suara itu. Mardis tahu betul siapa yang kini berada di belakangnya. Ia berpaling dan menghadap sosok Pak Kardi, guru musiknya di kelas XI ini.
"Ada apa, Pak?"
"Pak Yasa ingin bertemu kamu di kantornya," Pak Kardi menjelaskan singkat.
"Ooh. Sekarang Pak?"
"Pak Yasa sih bilangnya sehabis makan siang. Kamu sudah makan siang?"
"Sudah Pak,"
Pak Kardi merapikan rambut gondrongnya.
"Kalau begitu tunggu saja dulu. Tadi saya lihat Pak Yasa masih ada di kantin. Mungkin jam 1 beliau kembali ke kantornya."
"Baik. Terima kasih Pak Kardi!" sahut Mardis bersemangat.
"Sukses ya, Dis!" sahut Pak Kardi.
Mendengar sahutan pak Kardi itu, Mardis makin yakin, pemanggilan dirinya ke ruangan Pak Yasa adalah untuk membicarakan lomba puisi tingkat provinsi bulan depan.

Dengan langkah yang makin ringan, Mardis melangkah menuju mading OSIS. Salah satu lokasi favoritnya dalam menghabiskan waktu senggang di sela-sela kegiatan sekolahnya. Meskipun kemudian pikirannya tidak juga lepas dari lomba yang, Mardis yakini, akan diikutinya.

....
Pak Yasa, sang kepala sekolah, menatap piring nasi uduk kosong di hadapannya. Pikiran beliau berkecamuk.
Hanya tinggal 29 hari menuju lomba Bulan Bahasa tingkat provinsi. Lomba yang biasanya menjadi ajang pengukuhan nama sekolah pimpinannya sebagai langganan juara. Tetapi, untuk tahun ini, mulai muncul kekhawatiran akan kemungkinan sekolahnya pulang menggondol piala seperti yang sudah-sudah. Jumlah siswa yang mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba ini masih jauh di bawah jumlah yang diharapkan pak Yasa. Kalau terus menunggu para siswa mendaftar, bisa-bisa kita tidak punya cukup waktu untuk mempersiapkan para siswa, batin Pak Yasa.

Sepanjang tengah hari itu, pikiran Pak Yasa tak juga lepas dari urusan lomba terkait. Sejak ia membayar nasi uduk pesanannya, berjalan ke gedung sekolah, hingga menyalami beberapa siswa yang berpapasan dengannya. Tetapi di depan ruang kerjanya, sepertinya jawaban untuk kecamuk pikiran Pak Yasa sudah menunggu.
Mardis berdiri memandangi berbagai pengumuman yang ditempel di mading depan ruang Kepala Sekolah. Matanya masih menelusuri jadwal akademik semester ganjil ketika ia mendengar sapaan ramah Pak Yasa.
"Wah, sudah di sini rupanya, Dis. Maaf ya, kamu jadi menunggu."
"Tidak apa, Pak," Mardis mengulurkan tangan menyalami Pak Yasa.
Pak Yasa mengajak Mardis untuk memasuki ruang kerja Kepala Sekolah.

"Mungkin kamu sudah menerka, Dis, kalau tujuan saya memanggilmu ke ruangan ini adalah untuk membicarakan perihal keikutsertaanmu dalam lomba Bulan Bahasa, bulan depan. Seperti yang kami umumkan dulu, dari semua anak yang mengikuti seleksi pekan lalu, akan ada beberapa nama yang dipanggil langsung oleh saya, sebagai Kepala Sekolah. Nama-nama yang dipanggil adalah yang dipertimbangkan menjadi perwakilan sekolah dalam menghadapi lomba bulan depan." ulas Pak Yasa.
 
Mardis masih mendengarkan dengan takzim, berusaha menyembunyikan kegembiraan. Belum waktunya bergembira.
"Sejak kemarin, sudah ada beberapa siswa yang dipanggil, seperi kamu sekarang ini. Tujuan kami memanggil langsung calon peserta lomba, adalah untuk menilai secara langsung kemampuan kalian. Seperti saya yakin kamu pahami, Dis, kita ingin mengirimkan siswa-siswi terbaik kita dalam lomba tersebut."
Mardis mengangguk.
"Sekarang, untuk penilaian dari saya, kamu akan diminta membacakan lagi puisi yang kamu bawakan di seleksi pekan lalu. Kamu sudah siap?" Pak Yasa bertanya.
"Siap, Pak." Mardis menjawab dengan mantap.

Mardis mengambil nafas sejenak. Ia mengambil naskah puisi dari dalam tas. Memulai pembawaan puisinya.

Tersebut sebuah negeri yang katanya impian
Berbalut harapan yang ditaburi imaji
Sebagai surga bagi mereka yang mendambanya
Ya, inilah negeri jungkat-jungkit
Negeri di mana satu pihak bisa merasa paling benar
Dan pihak lain dicapnya bergelimang dosa

Semua pendapat lawan dianggapnya tiada makna
Dianggapnya hanya mencari pembenaran
Lewat seruan sederhana, berkumandang
"Yang tidak bersama kita, merekalah pihak mungkar!"
Padahal jika demikian, apalah bedanya mereka
Dengan kesesatan yang konon mereka coba enyahkan?

Di negeri jungkat-jungkit, kebenaran tak terasa maknanya
Tinggallah ia berupa nama yang dipuja-puja
Banyak yang telah muak melihat penistaan di layar kaca
Ketika para elit pejabat beramai menjilati label kebenaran

Sebagaimana anjing mengemis pada tuannya
Demi sepiring kuasa dan segenggam harta
Mereka gadaikan nilai dan prinsip
Demi kursi yang ingin mereka cicip
Mereka akan rela saling tusuk, saling gigit
Persis sekumpulan hyena berebut bangkai politik

Maka masihkah kau mengernyit heran?
Ketika di negeri jungkat-jungkit
Ada pihak yang membubarkan diri dari pesta
Berdiri di luar ruang, mengamati sebelum pergi
Dengan kernyit heran melingkupi ekspresi

Ada mereka yang mengaku peduli akan nasib bangsa
Dengan kutip yang bahkan belum tentu Brecht ucapkan
Mereka keluarkan ejekan buta politik
Sebagai ironi bagi para muka tebal anti kritik

Tentu saja, karena ini negeri jungkat-jungkit
Mereka yang ikut berpesta, merasa memberi peranan
Artinya, yang pergi dari pesta semuanya lepas tangan
Dan tak layak ambil jatah dalam kesuksesan

Bual hampa yang ditelan orang mentah-mentah
Kini berkecambah sebagai adu sumpah serapah
Kericuhan merekah antar dua sisi mata uang
Uang yang membeli logika dan akal sehat
Uang yang terhamburkan tanpa tentu tujuan

Maka, hingga kini di negeri jungkat-jungkit
Belum banyak yang bisa menerima kenyataan
Jangankan sekadar bicara nyelekit
Pilihan hidupnya saja hasil ikut-ikutan

Adu pengidolaan bodoh yang bangga dengan perannya
Ada yang bilang, pendukung mewakili yang didukungnya
Kalimat yang paling nyata mewakili ini semua
Di atas saling jilat, di bawah saling silat
Di atas adu domba, di bawah adu damba

Beginilah kawan, negeri jungkat-jungkit
Berdiri di satu pihak berarti melawan pihak lain
Menentang opini satu sisi berarti menyanjung sisi lain
Bagai pasukan paman Sam, menjajahi ragam negeri
Berburu teroris dengan menebar teror kesana kemari

Menepuk wajah lawan hingga kehitaman
Hitam oleh abu gosong tangan sendiri
Menyanggah fitnah dengan mendustai kenyataan
Mendompleng nama kebenaran untuk ongkang-ongkang kaki
Dengan semua kekonyolan moral di segala arah
Masihkah kau heran, ada yang melangkah pergi?

Mungkin kami meninggalkan arena pesta ini
Tetapi ingat, karena ini negeri jungkat-jungkit
Mana mungkin kami hanya bersantai, duduk manis
Tak perlu menanti lantai berjungkat, atau berjungkit

Menggerak raga sendiri untuk bergerak berubah
Bukan lewat puja-puji figur kinyis-kinyis
Mari, kawal negeri jungkat-jungkit dalam perbaikan
Karena kontribusi tak sesempit celupan jari


sumber gambar
Lanjutkan baca »

Jumat, 04 Juli 2014

Article#314 - Pity The Nation


Pity the nation that is full of beliefs and empty of religion.

Pity the nation that wears a cloth it does not weave
and eats a bread it does not harvest.

Pity the nation that acclaims the bully as hero,
and that deems the glittering conqueror bountiful.

Pity a nation that despises a passion in its dream,
yet submits in its awakening.

Pity the nation that raises not its voice
save when it walks in a funeral,
boasts not except among its ruins,
and will rebel not save when its neck is laid
between the sword and the block.

Pity the nation whose statesman is a fox,
whose philosopher is a juggler,
and whose art is the art of patching and mimicking

Pity the nation that welcomes its new ruler with trumpeting,
and farewells him with hooting,
only to welcome another with trumpeting again.

Pity the nation whose sages are dumb with years
and whose strongmen are yet in the cradle.

Pity the nation divided into fragments,
each fragment deeming itself a nation.


(Khalil Gibran. 1933. Pity The Nation, from the posthumous book The Garden of The Prophet)

photo credit
Lanjutkan baca »

Kamis, 03 Juli 2014

Article#313 - Pagelaran Politik, Dagelan Penuh Rintik

Seantero Nusantara seolah bersorak semarak.
Hari itu, 9 Mei 2014. Sekitar 30 hari setelah dilangsungkannya apa yang konon disebutkan sebagai “pesta demokrasi lima tahunan”, mereka yang ikut terlibat dalam menghitungi jumlah suara akhirnya mengumumkan secara resmi hasil dari “pesta” tersebut.
Hasil yang tak terlalu membuat orang-orang ternganga, sebenarnya. Hasil yang dipublikasikan penghitung suara tak jauh berbeda dengan hasil yang digulirkan oleh para “tukang kepo” pensurvei, hanya dalam hitungan hari sejak “pesta” jilid pertama digulirkan. Sekumpulan orang “tukang kepo” ini sudah siap siaga untuk mendata persebaran suara dalam berbagai sampel di wilayah Indonesia, sehingga hasilnya sudah bisa dinikmati di berbagai media cetak dan media layar kaca dalam waktu singkat.

Puas dengan penyajian data persebaran suara hasil “pesta” jilid awal, jutaan kepala di seluruh penjuru Indonesia justru makin mencandu berita. Mata kepala mereka seolah tak lagi melepaskan perhatian dari berita-berita suguhan media massa. Mulai dari yang paling netral seperti hasil liga sepakbola di negeri seberang lautan, hingga yang paling timpang seperti hasil liga sepakbola punya negeri sendiri. (eh) Berita juga bervariasi dari yang membicarakan berbagai harga barang yang naik, hingga tentu saja, membicarakan petinggi-petinggi “simbol” yang sebelumnya “berlaga” dalam “pesta”. Dengan takzim, jutaan pasang mata menyaksikan, mengamati. Mengamati bagaimana para petinggi saling sikut, saling tubruk, saling membujuk, saling ikut-ikut. Mencari-cari sebuah “tujuan bersama” yang konon menjadi untai retorika butut. Mungkin, sebuah konsekuensi dari sistem yang kusut nan acakadut.

Tak butuh lama untuk menerka, mana saja figur-figur yang akan dijadikan produk unggulan dalam memperebutkan kemenangan dalam “pesta” jilid kedua. Sudah ada dua figur yang dijadikan maskot untuk menggalang suara dari segala arah, bahkan sebelum “pesta” jilid pertama digulirkan. Oleh karenanya, perhatian sebagian orang kemudian beralih ke pergerakan “simbol” sang penguasa bertahan. Pak Beye, sang penguasa, konon berencana menyertakan “simbolnya” untuk ikut serta dalam percaturan produk unggulan dalam negeri di “pesta” jilid kedua. Namun, karena berbagai hal, seperti “simbol” lain yang terus menguumpalkan diri masing-masing ke dua figur yang telah beredar, dan mungkin karena sang penguasa sudah lelah, niatan mengusung “produk tengah” yang sebelumnya gencar pun kemudian diurungkan. (Baru-baru ini kubu Pak Beye merapat ke salah satu kubu.) Akhirnya, pada 1 Juni, disahkanlah kedua pasang figur untuk menjajakan diri, bertarung merebut hati sekian ratus juta orang yang akan menjadi tanggung jawab utama dalam tampuk kepimpinan mereka kelak.

Kini, tujuan bagi kedua kubu pendukung sang figur, sebut saja figur P dan W, adalah memastikan figur yang ia usung tersebut akan mengambil hati banyak orang. Tentu saja, suara dukungan orang-orang akan menguntungkan kubu mereka dalam perputaran “pesta” jilid kedua nanti. Dengan waktu hanya 35 hari, kedua kubu yang telah menyiapkan ahli strategi masing-masing pun memulai perburuan suara.
Jika di negeri Holiwud sana ada “The Hunger Games”, mungkin tak salah jika menjuluki yang berlangsung di Nusantara kali ini, dengan julukan “The Voter Games”.

Sebagai figur yang mempertunjukkan dirinya pada publik sebagai kandidat dalam “pesta” jilid kedua, baik figur W ataupun figur P sudah mempersiapkan dirinya menghadapi berbagai macam reaksi dari masyarakat. Reaksi yang kedua figur ini (juga oleh kubu pendukungnya) coba arahkan supaya mendukung dan ikut menyebarluaskan kelebihan sang figur sebagai pemimpin negeri Indonesia yang luas dan beraneka cita rasa.
Sebuah kemewahan era masa kini bernama internet telah terbukti andal dalam menyebarkan rekam jejak kedua figur yang bak bertatahkan perbuatan dan batuan mulia. Dengan dosis kampanye yang bertubi-tubi, perlahan warga mulai merapatkan barisan ke kedua arah. Ada yang merasa figur junjungannya berwibawa dalam bicara, tegas dalam tindakan, dan mampu mengenyahkan wajah-wajah korup dai pemerintahan. (Konon foto si figur pun bagus ketika dijadikan perangkap tikus.) Ada juga yang merasa figur junjungannya merakyat, tidak meninggikan diri, dan beraksi dengan tulus sebagaimana mesin ATM meloloskan fulus.

Sebagaimana bisa diduga, tak butuh lama bagi warga melek internet seantero Indonesia untuk mulai mendapatkan akses menuju liputan berisi catatan-catatan tentang figur. Catatan yang selama ini tak tercakup dalam introduksi kedua figur. Dari pujian paling bernoda gula-gula, hingga cerca bertabur noda-noda, kedua figur seolah punya jatahnya masing-masing. Jatah yang selama ini seolah tersembunyi di balik lipatan naskah rekam jejak mereka yang mentereng.
Bagai anak-anak yang baru menemukan hal baru, dengan semangat mereka memperkenalkan ke seluruh penjuru dunia akan apa saja yang baru saja ditemuinya. Dengan bangga, penuh semangat berbagi pengetahuan. Toh saya tidak menulisnya, hanya membagikan.

sumber
Bagai jamur tumbuh di musim jamur, berbagai jenis tulisan mengenai kedua figur pun beredar luas di seantero dunia maya. Kalau yang dibagikan berita bagus, mungkin tidak masalah. Sayangnya, konon tulisan-tulisan yang disebarkan itu tidak terjamin kualitasnya. Tidak perlu langsung membiarakan kecenderungan isi tulisan yang menjatuhkan satu kubu dan/atau mengangkat kubu lain. Tulisan-tulisan tersebut saja seringkali murni membicarakan opini sang penulis, tidak memberikan penjelasan yang konkret, atau bahkan asal mencatut fakta.
Tulisan-tulisan sejenis ini kemudian dikumpulkan dalam satu kategori, yang kemudian menjadi akrab di telinga jutaan warga Indonesia dengan menghangatnya suasana menjelang “pesta”. Black campaign, atau dalam bahasa Indonesia disebut kampanye hitam. Selama penyampaian tulisan bernada menyerang salah satu kubu dengan tuduhan, label "kampanye hitam" akan senantiasa melekat padanya. Ada juga istilah negative campaign alias kampanye negatif, yang intinya membeberkan kekurangan salah satu figur, tetapi berdasarkan data dan fakta yang ditemukan. Yaa, pada prakteknya sih, banyak yang mengategorikan kedua jenis ini berdasarkan satu hal sederhana: apakah ia suka dengan isi beritanya.

sumber
Kosakata yang baru bagi sebagian penikmat media ini pun dengan cepat menjadi istilah populer dalam menyikapi berbagai tulisan yang berseliweran di media-media dunia maya. Cakupannya pun menjadi demikian luas, mulai dari opini yang dituangkan, publikasi media online yang diselewengkan, data-data yang dibelokkan, isu-isu yang dihembuskan.
Maka dimulailah sekian banyak "pertarungan" antar warga. Yang satu mendukung kubu W, satunya mendukung kubu P, saling serang pendapat, ricuh. Ada yang membagikan kampanye hitam, tidak mau mendengarkan nasihat orang lain, ricuh. Ada yang sedemikian ngefans akan salah satu kubu,
dan menutup mata ketika dibeberkan kekurangan sang idola, marah, sebel. Dan entah berapa banyak contoh lagi yang bisa diambil dari seluruh penjuru negeri.
Hingga akhirnya ada pihak yang memutuskan pengedaran karyanya berikut, sebagai perwujudan dari sikap yang tidak menginginkan "pertarungan" di segala arah. Walaupun isinya jadi terasa seperti seseorang yang merindukan mantan. Mantan yang memutuskan hubungan akibat perbedaan pandangan politik.

sumber
Untungnya, dari sekian banyak berita negatif ataupun hitam yang menghiasi panca indera warga, beberapa pihak lain juga memutuskan untuk menggelar lapak bagi sisi lain kampanye: kampanye kreatif. Beberapa pemilik akun YouTube, seperti CameoProject dan Eka Gustiwana, mengunggah berbagai video yang membahas berbagai sisi seputar figur, baik sisi kampanye gelap, ataupun sisi keisengan. Jika kau mengunjungi fanspage resmi masing-masing figur pun, akan kautemui berbagai bentuk kampanye versi kubu masing-masing, sesekali diselingi ilustrasi program kerja yang mereka canangkan. Sebagian pendukung dari masing-masing kubu juga memutuskan untuk menyusun jargon kampanye dalam lagu gubahan masing-masing. (Meskipun aransemen jargon terkait memanfaatkan aransemen lagu yang sudah lebih dulu populer, bahkan sempat menimbulkan permasalahan hak cipta.)

Tetapi, sepanjang pengamatan penulis yang nyaris tidak bersentuhan secara langsung dengan berbagai macam kampanye yang ada, bentuk kampanye yang paling mudah diamati adalah orang-orang yang menempeli foto profilnya di media sosial. Tempelan yang dinamai "twibbon" ini (ada yang tahu asbabun nuzul dari istilah ini?) sebenarnya sudah sejak lama beredar, biasa digunakan sebagai bukti dukungan atas suatu kegiatan/program. Kelebihan twibbon dalam hal ini adalah menandai diri orang yang memasangnya sebagai pendukung dari apa-apa yang ia pasang di foto profilnya. Mereka para tukang kampanye pun dengan senang hati ikut membuat twibbon, dan menyebarluaskannya dengan bantuan jejaring sosial yang demikian padat.

Contoh twibbon yang dipakai dalam kampanye kali ini. sumber
Cara ini terbukti sukses, dengan membanjirnya orang-orang yang menempelkan twibbon ini di foto profilnya masing-masing. Sedikit keliling di akun media sosialmu mungkin akan memberitahukan, seberapa banyak garuda merah atau angka 2 yang beredar di segala arah. (Iya, asas "LUBER" dari "LUBER JURDIL" mungkin sudah berganti makna menjadi "Tumpah".)
Dan tentu saja, orang Indonesia termasuk orang paling kreatif dalam urusan mengakali sesuatu, dari yang tidak (perlu) serius macam kampanye, sampai yang serius macam mengakali celah-celah dalam hukum. Urusan twibbon ini pun tidak lepas dari hal yang diakali oleh otak-otak kreatif negeri.
Berikut beberapa contohnya.

Karena tidak semua orang dengan yakin memilih salah satu kubu.
Dibuat oleh M. Dio Danarianto.
Foto profil Twitter @FadliMH
Foto profil Facebook milik Iskandar Zulkarnain, salah satu Taplok
pada OSKM ITB 2013
Foto profil Twitter @QDJY
Karena 1 ditambah 2 sama dengan 3.
Foto profil laman The Real Suara Rumput Liar
(Jangan protes, yang satu ini diunggah pada 17 Juni lalu)
...dan aku benci... mencantumkan sumber.. (eh)
Saya juga tak paham, kenapa pesepakbola yang satu ini ikut terlibat.
sumber ada di sini
Foto profil Facebook milik Anas Zakaria
Foto profil Facebook milik Umar Hanif Al Faruqy,
dalam rangka 101 tahun Hari Purbakala Indonesia.
Foto profil Twitter @yeahmahasiswa.
Tuh, kuliah empat tahun ajah, yah.
Foto profil Facebook milik Diaz Jubairy
Kampanye bersepeda di sisi kiri jalan.
Foto profil Facebook milik Adam Badra Cahaya.
Oke sip, Jik.
Foto diunggah di laman Tumblr milik Aji Resindra Widya
alias resindraburiza (?)
Foto profil Twitter @victorkamang
Sabar ya Pak. Nyonya Suharti aja berdiri entah udah berapa puluh tahun.
Bagaimana dengan penulis? Jika penulis harus menempatkan posisinya di sini, maka inilah yang akan penulis usung.

Apa maksudnya Berani Beda? Silakan klik laman ini saja.
.....
Waktu menunjukkan tinggal kurang dari sepekan lagi menuju pagelaran "pesta" jilid kedua. Sebagian dari kalian mungkin akan berharap kubu P yang menang, sebagian yang lain akan berharap kubu W yang menang. Harapan muluk penulis beserta banyak yang lain, mungkin adalah harapan supaya hasil dari "pesta" jilid kedua ini bisa diterima oleh semua pihak dengan baik. Dan, ketika kontestan yang terpilih dalam "pesta" menerima mandat untuk menduduki tahta istana, semua atribut pertikaian yang sebelumnya digadang-gadang  hendaknya dilepaskan. Bagi mereka yang memutus ikatan pertemanan, baik di dunia nyata atau media sosial, hendaknya akur kembali. Bagi mereka yang memutuskan hubungan romansa, hendaknya bersatu lagi, atau lebih baik lagi jika disahkan oleh hukum negeri. Dan, tak peduli siapa kawan, siapa lawan dulu di masa kampanye, semoga semua mendukung usaha memperbaiki keadaan. (Maaf klise)

Mungkin saya perlu mengutip kumpulan nasihat berikut.
● Berhentilah menuntut ilmu, karena ilmu tidak bersalah.
● Jangan membalas budi karena belum tentu Budi yang melakukannya.
● Jangan mengarungi lautan, karena karung lebih cocok untuk beras.
● Berhenti juga menimba ilmu, karena ilmu tidak ada di dalam sumur.
● Jangan lupa daratan, karena kalau lupa daratan akan tinggal dimana?
● Jangan ngurusin orang karena belum tentu orang itu pengen kurus.
● Dan janganlah bangga menjadi atasan. Karena di Pasar Baru atasan 10 rb dapat 3

(sumber)
Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat, dan tidak garing seperti kain yang dijemur di beranda.
Salam lemper!

Bonus
Kabar gembira bagi kita semua...?
Perwujudan kedua figur kandidat sebagai Pusheen.
Hasil karya @gunawanrudy

Tidak perlu dijelaskan lagi, ya.
sumber gambar
sumber

(Tulisan ini adalah hasil kerjasama penulis dengan M. Dio Danarianto dan David Orlando Kurniawan)
Lanjutkan baca »

Rabu, 02 Juli 2014

Article#312 - Kutipan Hari Ini

"The trouble with too many people is they believe the realm of truth always lies within their vision."

~a quote cited by some to be attributed to Abraham Lincoln (1809-1865), American politician and also former 16th president of the US. Quoted on Monday, 30th June, 2014, 13:32 (UT+9)

photo credit

Lanjutkan baca »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...